Bab 7: Darah Membasahi Alun-Alun Giok dan Keputusasaan Klan Lin

Ukuran:
Tema:

Angin siang yang seharusnya membawa kehangatan musim semi kini terasa sedingin hembusan napas dari dunia bawah. Di tengah Alun-Alun Giok yang megah, tantangan Lin Tian yang menggema dan penuh arogansi bagaikan tamparan keras yang mendarat tepat di wajah para petinggi Klan Lin. Ribuan pasang mata menatap dengan napas tertahan, tidak percaya bahwa seorang pemuda buangan yang dulunya cacat berani memprovokasi seluruh tetua klannya secara terbuka di hadapan utusan Sekte Pedang Awan.

“Anak haram tak tahu diuntung! Kau benar-benar mencari mati!” raung Lin Zhan, Tetua Pertama Klan Lin. Wajahnya yang keriput kini memerah karena amarah yang mendidih. Urat-urat di pelipisnya menonjol keluar, berdenyut liar seolah akan pecah. Melihat putra kebanggaannya, Lin Feng, tergeletak di tanah dengan Dantian yang hancur berkeping-keping telah mencabik-cabik seluruh sisa kewarasannya.

SYUUUT!

Lin Zhan melompat dari tribun kehormatan yang tingginya mencapai sepuluh meter. Saat ia berada di udara, aura biru pekat meledak dari tubuhnya. Itu adalah Qi sejati dari seorang ahli bela diri Alam Pembentukan Qi tingkat menengah. Tekanan spiritual yang dibawanya seketika menekan udara di sekitar arena, membuat banyak penonton biasa yang berada di barisan terdepan jatuh terduduk sambil memegangi dada mereka yang sesak. Di Alam Pembentukan Qi, seorang kultivator tidak lagi hanya menggunakan kekuatan otot, melainkan memanipulasi energi alam di sekitarnya untuk menciptakan daya hancur yang mematikan.

Di tangan kanannya, Lin Zhan menghunus sebilah pedang baja berkualitas tinggi yang memancarkan kilau perak dingin. Energi biru menyelimuti bilah pedang tersebut, memperpanjang jangkauan ketajamannya hingga satu meter ke depan.

“Pedang Pembelah Angin Musim Gugur! Teknik pamungkas Klan Lin!” seru salah seorang penonton dengan suara gemetar. “Tetua Pertama benar-benar berniat membunuhnya dalam satu serangan mematikan!”

Melihat ujung pedang yang meluncur turun dari langit menyerupai kilat mematikan ke arah kepalanya, ekspresi Lin Tian tidak berubah sedikit pun. Ia bahkan tidak memindahkan posisi kakinya. Mata emasnya yang dingin hanya menatap pedang yang mendekat itu dengan pandangan meremehkan yang luar biasa.

Di dalam Dantian Lin Tian, Mutiara Naga Surgawi berputar lambat, memompa Qi emas murni ke seluruh jaringan meridiannya. Tubuh Sisik Naga Tembaga bereaksi secara instingtual terhadap ancaman mematikan. Kulit Lin Tian, yang sebelumnya tampak seperti warna tembaga biasa, kini memancarkan pendaran cahaya gelap yang solid, sekeras pelat baja ilahi.

Tepat saat pedang baja berlapis energi biru itu berjarak satu jengkal dari dahi Lin Tian, pemuda itu akhirnya bergerak. Ia tidak menggunakan pedang tulang di pinggangnya. Ia bahkan tidak repot-repot menghindar. Ia mengangkat tangan kanannya yang kosong, mengarahkan telapak tangannya lurus ke atas untuk menyambut mata pedang yang turun.

“Dia gila! Dia mencoba menahan senjata tajam Alam Pembentukan Qi dengan tangan kosong?!” jerit seorang tetua dari klan lain di atas tribun.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya menghancurkan seluruh logika dan akal sehat setiap ahli bela diri yang hadir di alun-alun tersebut.

TRAAANG!

Suara benturan logam yang sangat keras dan memekakkan telinga bergema, memicu percikan api yang terang benderang di udara. Mata pedang baja milik Lin Zhan menghantam telapak tangan telanjang Lin Tian, namun pedang itu sama sekali tidak mampu merobek kulitnya. Alih-alih membelah tangan pemuda itu, pedang tersebut justru tertahan secara mutlak, seolah-olah baru saja menebas balok berlian yang tak bisa dihancurkan.

Gelombang kejut dari benturan itu meledak ke segala arah, menyapu debu dan menghancurkan lempengan batu granit di bawah kaki Lin Tian menjadi serpihan kecil. Namun, sosok Lin Tian berdiri kokoh tak tergoyahkan seperti gunung raksasa yang menancap ke inti bumi.

Mata Lin Zhan membelalak hingga nyaris keluar dari kelopaknya. Kedua lengannya yang memegang gagang pedang bergetar hebat hingga mati rasa. Ia merasa seolah-olah serangan terkuatnya baru saja menghantam dinding tembok kota yang terbuat dari baja padat.

“K-Kekuatan fisik macam apa ini?! I-Ini tidak mungkin!” Lin Zhan tergagap, kepanikan yang luar biasa mulai merayapi hatinya. Energi Qi birunya yang membanggakan hancur berkeping-keping saat bersentuhan dengan aura samar berwarna emas yang melapisi kulit Lin Tian.

Lin Tian mendongak, menatap wajah pucat pamannya dengan senyum sinis yang mengiris hati.

“Hanya ini? Ini adalah kekuatan dari Tetua Pertama yang dengan sombongnya memerintahkan pembuanganku ke Hutan Kematian?” suara Lin Tian terdengar berat, dipenuhi oleh kekecewaan yang mengejek. Jari-jari Lin Tian tiba-tiba menutup, mencengkeram bilah pedang baja itu dengan erat.

KRAAAK!

Dengan satu putaran pergelangan tangan yang sederhana, pedang baja berkualitas tinggi yang ditempa oleh pandai besi terbaik di kota itu patah menjadi dua bagian seolah terbuat dari kaca murahan. Potongan ujung pedang itu jatuh bergemerincing ke tanah.

Sebelum Lin Zhan bisa bereaksi terhadap hancurnya senjata pusakanya, Lin Tian melangkah maju. Kecepatannya melampaui batas pandangan kultivator Alam Pembentukan Qi tingkat menengah. Tangan kiri Lin Tian melesat ke depan, mencengkeram leher Lin Zhan dengan kekuatan cengkeraman rahang naga.

Lin Zhan, seorang tetua klan yang sangat dihormati, kini diangkat ke udara hanya dengan satu tangan, meronta-ronta dengan wajah yang membiru karena kehabisan napas. Kakinya menendang-nendang udara dengan putus asa, tangannya berusaha mencakar lengan Lin Tian, namun kukunya patah saat menggores kulit pemuda yang sekeras tembaga itu.

“Satu bulan yang lalu, saat aku terbaring di pelataran batu dengan meridian yang dihancurkan, kau menyarankan agar aku dibuang ke hutan untuk dimakan anjing liar,” bisik Lin Tian, suaranya sedingin es abadi. “Kau berkata bahwa klan tidak memelihara sampah yang cacat. Sekarang, katakan padaku, Lin Zhan… siapa sampah yang sesungguhnya di antara kita?”

“B-Bunuh… bunuh b-bajingan ini! Selamatkan Tetua Pertama!” Terdengar raungan panik dari arah tribun.

Tiga tetua Klan Lin lainnya, semuanya berada di Alam Pembentukan Qi tingkat awal, melompat turun dari tribun secara bersamaan. Mereka mengeluarkan senjata masing-masing—sebuah tombak, sebuah cambuk berduri, dan sepasang pedang pendek—lalu mengepung Lin Tian dari tiga arah yang berbeda. Formasi mematikan ini dirancang untuk mencabik-cabik musuh yang paling kuat sekalipun.

“Lepaskan Tetua Lin Zhan, dasar iblis!” teriak tetua yang memegang tombak sambil menusukkan senjatanya lurus ke arah jantung punggung Lin Tian. Di saat yang sama, cambuk berduri menyapu ke arah kaki Lin Tian, dan sepasang pedang pendek menebas ke arah lehernya. Serangan gabungan yang sangat terkoordinasi.

Namun Lin Tian bahkan tidak menoleh untuk melihat serangan mematikan yang mengancam nyawanya. Di matanya, pergerakan ketiga tetua itu lamban dan penuh dengan celah konyol.

“Bermain formasi denganku? Kalian terlalu melebih-lebihkan diri kalian sendiri.”

Lin Tian mengeratkan cengkeramannya pada leher Lin Zhan, menggunakan tubuh Tetua Pertama itu sebagai tameng manusia. Ia mengayunkan tubuh Lin Zhan dengan kasar ke arah belakang untuk memblokir tusukan tombak.

CRAT!

“AAARRRGGGH!” Lin Zhan menjerit melengking saat ujung tombak rekannya sendiri menembus bahu kanannya secara brutal. Darah segar menyembur keluar, membasahi wajah tetua pemegang tombak yang kini membeku karena terkejut atas kesalahan fatal yang baru saja ia lakukan.

Memanfaatkan keterkejutan itu, Lin Tian menghentakkan kaki kanannya ke tanah. Gelombang kejut fisik yang sangat masif meledak ke luar. Cambuk berduri yang hendak melilit kakinya terpental ke udara, sementara pemiliknya terdorong mundur hingga memuntahkan darah segar akibat tekanan energi yang luar biasa kuat.

Tanpa membuang sedetik pun, Lin Tian melepaskan cengkeramannya pada leher Lin Zhan yang berlumuran darah, membiarkan tubuh pamannya itu ambruk ke tanah. Sosok Lin Tian tiba-tiba menghilang dari pandangan, meninggalkan bayangan buram (afterimage) di tempatnya berdiri. Kecepatan dari kekuatan kakinya yang telah ditempa oleh Mutiara Naga melampaui segala teknik pergerakan yang diketahui di kota ini.

Ia muncul tepat di hadapan tetua pemegang pedang pendek. Sebelum tetua itu sempat mengedipkan mata, tinju Lin Tian yang memancarkan pendaran tembaga telah mendarat telak di tengah dadanya.

BUMMM!

Sebuah ledakan udara tercipta dari titik benturan. Dada tetua itu melesak ke dalam secara mengerikan. Tulang rusuknya hancur berkeping-keping dan menembus organ dalamnya. Tubuhnya terlempar ke belakang dengan kecepatan peluru meriam, terbang sejauh puluhan meter melintasi alun-alun sebelum akhirnya menabrak pilar batu raksasa penyangga tribun kehormatan.

KRAAAK! BUM!

Pilar batu itu retak dan separuhnya hancur. Tetua tersebut merosot ke tanah sebagai seonggok daging mati, kehilangan nyawanya bahkan sebelum tubuhnya menyentuh lantai alun-alun.

Hanya dalam waktu kurang dari lima kali tarikan napas, formasi gabungan tiga tetua dan satu tetua utama dari Klan Lin telah dihancurkan dengan sangat tragis. Satu mati, satu lumpuh, dan Lin Zhan terbaring mengerang di atas genangan darahnya sendiri dengan bahu berlubang.

Arena yang sebelumnya dipenuhi oleh sorak-sorai euforia kini sunyi senyap bak kuburan. Puluhan ribu penonton membeku, tidak ada satu pun yang berani mengeluarkan suara, takut menarik perhatian dewa kematian yang sedang mengamuk di tengah arena. Bau anyir darah segar mulai memenuhi udara panas, menciptakan suasana horor yang mencekik.

Di pinggir alun-alun, Bai Xue mengamati seluruh kejadian tersebut dengan mata biru yang menyipit di balik cadarnya.

“Kekuatan fisiknya… ini bukan sekadar kekuatan Alam Penempaan Tubuh biasa,” analisis Bai Xue dalam hati. Sebagai Saintess, ia sangat peka terhadap fluktuasi energi. “Setiap pukulannya tidak mengandung teknik bela diri tingkat tinggi, tidak ada manipulasi Qi alam yang rumit. Dia murni menggunakan kekuatan otot, kepadatan tulang, dan kecepatan absolut yang dihasilkan dari fondasi fisiknya. Tubuhnya sendiri telah menjadi senjata pembunuh dewa. Seni kultivasi macam apa yang mampu menelan inti monster tingkat empat dan menempa tubuh manusia menjadi sekuat monster purba seperti ini?”

Di atas tribun kehormatan, kepanikan kini telah bermutasi menjadi keputusasaan mutlak bagi Klan Lin. Kepala Klan Lin, Lin Kuang—seorang pria paruh baya yang merupakan penguasa tertinggi klan dan ayah dari Lin Tian yang telah lama mengabaikan putranya—berdiri dengan lutut gemetar. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras di wajahnya.

“L-Lin Tian… hentikan!” teriak Lin Kuang dengan suara bergetar, mencoba menggunakan otoritasnya sebagai Kepala Klan. “Kau… kau adalah anggota Klan Lin! Bagaimana kau bisa menjadi monster berdarah dingin yang membantai paman dan tetuamu sendiri?! Apakah kau ingin dikutuk oleh leluhur?!”

Mendengar suara yang dulunya ia panggil sebagai ‘Ayah’ itu, Lin Tian perlahan mendongak. Matanya yang keemasan menatap Lin Kuang tanpa sedikit pun emosi manusiawi. Tidak ada cinta, tidak ada rasa hormat, yang ada hanyalah kekosongan abadi.

“Anggota Klan Lin?” Lin Tian mengulangi kata-kata itu sambil tertawa pelan. Tawanya terdengar bergema mengerikan di seluruh alun-alun, membuat bulu kuduk semua orang berdiri. “Di mana Kepala Klan saat tunanganku meracuniku dan menghancurkan Dantianku di dalam paviliun klan kita sendiri? Di mana Kepala Klan saat aku diseret seperti anjing mati dan dibuang ke Hutan Kematian oleh penjaga klan? Di mana ‘keluarga’ yang kau sebutkan itu saat aku harus memakan daging mentah binatang buas dan menelan darahku sendiri hanya untuk bertahan hidup?!”

Lin Tian menunjuk ke arah tribun dengan pedang tulang beruangnya yang baru saja ia hunus. Aura membunuh yang sangat pekat meledak hingga membuat umbul-umbul di sekitar arena robek.

“Klan Lin telah mati bagiku pada malam hujan lebat sebulan yang lalu. Yang berdiri di hadapan kalian saat ini bukanlah anggota klan, melainkan algojo dari neraka yang kembali untuk menagih hutang nyawa kalian!”

“KAU IBLIS!” Tiba-tiba, sebuah suara wanita yang melengking histeris memotong kata-kata Lin Tian.

Itu adalah Zhao Meng’er. Wanita cantik bergaun putih biru itu kini berdiri dari kursinya, menunjuk Lin Tian dengan jari telunjuk yang bergetar hebat. Wajahnya yang arogan kini telah runtuh sepenuhnya, digantikan oleh kepanikan yang luar biasa. Ia menyadari dengan kengerian mutlak bahwa Lin Tian yang sekarang bisa membunuhnya hanya dengan menjentikkan jari. Jika ia tidak bertindak sekarang, ia akan mati hari ini, dan ambisinya untuk terbang ke sembilan langit akan terkubur di kota kecil ini.

Zhao Meng’er menoleh dengan putus asa ke arah pria tua berjubah abu-abu di sampingnya. Ia langsung bersujud, meneteskan air mata buaya yang terlihat sangat menyedihkan.

“Penatua Mo, tolong! Tolong selamatkan kami!” isak Zhao Meng’er dengan suara yang dibuat sehiba mungkin. “Pemuda ini… Lin Tian, dia pasti telah menjual jiwanya kepada kultus iblis! Tidak ada seni bela diri ortodoks yang bisa mengubah seorang manusia yang meridiannya hancur menjadi sekuat ini dalam sebulan. Dia pasti mempraktikkan Seni Darah Sesat, menelan jiwa dan darah bayi atau seniman bela diri lain untuk mendapatkan kekuatan fisiknya! Jika dia dibiarkan hidup, dia akan menjadi ancaman besar bagi Empat Sekte Lurus kita di masa depan! Demi keadilan dunia Jianghu, saya mohon, Penatua Mo, bersihkan kejahatan ini!”

Fitnah keji yang meluncur dari mulut Zhao Meng’er membuat suhu di alun-alun semakin mendingin. Banyak penonton yang mudah dipengaruhi mulai saling berbisik, memandang Lin Tian dengan tatapan curiga dan ngeri. Seni kultivasi iblis sangat ditabukan di Benua Cakrawala. Siapapun yang ketahuan mempraktikkannya akan diburu oleh seluruh aliran lurus hingga ke ujung bumi.

Lin Tian tidak membantah. Ia hanya menatap Zhao Meng’er dengan senyum mengejek. Wanita ini sungguh licik hingga akhir, menggunakan senjata moralitas sekte lurus untuk melindungi nyawanya sendiri.

Mendengar kata-kata ‘seni iblis sesat’, mata Penatua Mo yang sedari tadi menyipit mengamati pertarungan akhirnya terbuka lebar. Ia perlahan bangkit dari tempat duduknya yang mewah. Saat ia berdiri, suara dengungan pedang yang sangat tajam seolah terdengar dari udara kosong di sekitarnya.

Sebuah aura yang jauh, jauh lebih mengerikan daripada gabungan seluruh tetua Klan Lin meledak dari tubuh pria tua itu. Itu adalah aura dari Alam Bumi! Di alam ini, Qi seorang kultivator telah terkondensasi hingga bisa diwujudkan menjadi senjata padat di luar tubuh. Penatua Mo bukan sembarang kultivator; ia adalah seorang ahli pedang veteran dari sekte raksasa.

Tekanan dari Alam Bumi itu turun dari langit bagaikan air terjun raksasa, menimpa seluruh alun-alun. Ribuan penonton langsung terjerembap ke tanah, tidak mampu menahan beban spiritual tersebut. Tanah granit di sekitar arena mulai retak-retak hanya karena tekanan udaranya.

“Bocah,” suara Penatua Mo terdengar datar namun membawa otoritas yang tak terbantahkan, bergema di telinga setiap orang. “Aku tidak peduli dengan urusan dendam klan kecil kalian. Namun, kau telah menyebarkan bau darah yang sangat menyengat di hadapanku. Niat membunuhmu terlalu berat, gayamu bertarung terlalu brutal, sangat persis dengan ciri-ciri aliran sesat yang menjadi musuh bebuyutan Sekte Pedang Awan kami.”

Penatua Mo melangkah maju ke tepi tribun, menatap Lin Tian dari ketinggian bagaikan dewa yang menghakimi manusia fana. “Serahkan dirimu. Biarkan aku menyegel meridianmu dan menyelidiki asal-usul kultivasimu. Jika kau terbukti bersih, aku mungkin akan mempertimbangkan untuk mengampuni nyawamu. Namun jika kau melawan, aku akan mengeksekusimu di tempat ini juga atas nama keadilan.”

Tawaran itu terdengar diplomatis, namun semua orang yang memiliki otak tahu bahwa itu adalah vonis mati yang diperhalus. Menyegel meridian sama saja dengan menyerahkan nyawa sepenuhnya ke tangan musuh, terlebih dengan Zhao Meng’er yang berada di pihak Penatua Mo. Pria tua ini jelas ingin menyingkirkan potensi ancaman ini sebelum ia berkembang lebih jauh, sekaligus menyelidiki rahasia di balik kekuatan instan Lin Tian untuk keuntungannya sendiri.

Di sudut alun-alun, Bai Xue mengepalkan tangannya di balik lengan gaunnya. Alam Bumi tingkat awal, batinnya khawatir. Lin Tian sangat kuat di pertarungan jarak dekat, tapi kekuatan Alam Penempaan Tubuhnya tidak akan bisa menjangkau serangan energi jarak jauh dari seorang ahli Alam Bumi. Haruskah aku membuka segel kutukanku dan membantunya?

Namun, sebelum Bai Xue sempat mengambil keputusan yang membahayakan nyawanya sendiri, tawa Lin Tian kembali memecah keheningan yang mencekam itu.

Kali ini, tawa Lin Tian lebih keras, lebih liar, dan dipenuhi oleh arogansi yang menembus langit. Ia menengadahkan kepalanya, menatap lurus ke arah Penatua Mo, sama sekali tidak terpengaruh oleh tekanan Alam Bumi yang membuat orang lain berlutut. Di dalam tubuhnya, Mutiara Naga Surgawi bereaksi terhadap tekanan eksternal tersebut dengan kemarahan. Seekor naga sejati tidak akan pernah menundukkan kepalanya kepada manusia fana mana pun, apalagi seekor semut di Alam Bumi tingkat awal!

Qi Naga Surgawi berwarna emas murni tiba-tiba meledak dari pori-pori kulit Lin Tian. Alih-alih tertekan, aura emas itu justru melesat ke atas, menabrak dan membelah tekanan spiritual Penatua Mo bagaikan pedang ilahi yang membelah lautan.

“Keadilan? Sekte Pedang Awan?” Lin Tian mengangkat pedang tulangnya dan mengarahkannya lurus ke wajah pria tua tersebut, matanya menyala dengan kilatan pembunuh yang paling buas. “Tiga tahun lalu, sekte lurus kalian diam saja saat bandit gunung membantai desa di luar kota ini. Hari ini, kalian berteriak tentang keadilan hanya untuk menutupi keserakahan kalian mencuri rahasia kultivasiku dan melindungi pelacur pengkhianat di sebelahmu itu!”

Kata-kata Lin Tian bagaikan petir di siang bolong. Memaki seorang penatua sekte raksasa dengan kata-kata sekasar itu adalah tindakan yang sama saja dengan memprovokasi kemurkaan dewa.

Wajah Penatua Mo seketika berubah menjadi sangat gelap dan menakutkan. Niat membunuh yang sedingin es menyelimuti tubuhnya. “Bocah sombong yang tidak tahu luasnya langit dan bumi. Hari ini, aku, Mo Jian, akan mencabik-cabik mulutmu dan menghancurkan setiap tulang di tubuhmu untuk mengajarimu rasa hormat!”

“Berhenti menggonggong dan turunlah, anjing tua!” raung Lin Tian, auranya melonjak hingga ke puncaknya. Tanah di bawah kakinya ambles sedalam setengah meter. “Hari ini, aku akan membuktikan kepada seluruh Benua Cakrawala bahwa yang disebut Alam Bumi yang agung tidak lebih dari gundukan tanah yang akan kuratakan dengan kedua tanganku ini!”