Bab 9: Melangkah ke Dunia Luas dan Jejak Darah Awan Pedang
Angin musim semi bertiup lembut melintasi hamparan padang rumput yang mengelilingi Kota Daun Musim Gugur, membawa serta aroma bunga liar dan tanah basah. Namun, bagi Lin Tian yang baru saja melangkah keluar dari gerbang kota raksasa tersebut, angin itu tidak mampu menyapu bersih aroma anyir darah yang masih menempel imajiner di ujung hidungnya.
Di belakangnya, gerbang kota yang terbuat dari batu bata abu-abu perlahan mengecil seiring langkah kakinya yang mantap. Tidak ada penyesalan di dalam hatinya, tidak ada pula beban moral yang mengganjal. Mematahkan anggota tubuh pamannya sendiri, menghancurkan masa depan sepupunya, dan menyiksa wanita yang pernah mengkhianatinya—semua itu adalah pembayaran tunai atas penderitaan neraka yang ia alami sebulan yang lalu. Hukum Jianghu sangatlah sederhana: kebaikan dibalas dengan setetes air, dan dendam dibalas dengan lautan darah.
Bai Xue berjalan dalam diam, sekitar setengah langkah di sebelah kanan Lin Tian. Cadar putihnya berkibar pelan. Sepasang mata birunya yang indah tidak lepas dari sosok pemuda bertelanjang dada di sampingnya. Ia bisa melihat otot-otot di punggung Lin Tian yang sebelumnya tegang secara bertahap mulai mengendur. Niat membunuh yang begitu pekat hingga mampu membuat burung jatuh dari langit kini telah ditarik kembali ke dalam tubuhnya, tersembunyi rapi di balik sepasang mata emas yang kini kembali menjadi hitam legam.
“Apakah kau merasa puas?” Suara merdu Bai Xue akhirnya memecah keheningan di antara mereka, membaur dengan desiran angin di padang rumput.
Lin Tian tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke depan, ke arah barisan pegunungan yang membentang di ufuk barat, ujung dari wilayah yang dikuasai oleh sekte-sekte kecil.
“Puas?” Lin Tian mengulang kata itu dengan nada datar. “Kepuasan adalah ilusi yang membuat seorang kultivator berhenti melangkah. Apa yang kulakukan hari ini bukanlah pencapaian, melainkan sekadar membersihkan kotoran yang menempel di sepatuku sebelum aku memulai perjalanan yang sesungguhnya. Dendam masa lalu telah lunas. Sekarang, mataku hanya tertuju pada masa depan.”
Jawaban yang sangat dingin dan pragmatis itu membuat Bai Xue tertegun sejenak. Ia mengira pemuda seusia Lin Tian akan dilanda euforia gila setelah menghancurkan musuh-musuhnya atau justru dihantui oleh kekosongan setelah tujuan utamanya tercapai. Namun Lin Tian tidak merasakan keduanya. Ambisinya jauh lebih besar dan lebih mengerikan daripada sekadar membalas dendam pada sebuah klan kecil di kota perbatasan.
“Kau memiliki hati seorang tiran yang lahir secara alami, Lin Tian,” Bai Xue memberikan penilaian yang jujur. “Namun, kau juga harus menyadari bahwa kotoran yang baru saja kau bersihkan itu memiliki ikatan dengan raksasa yang tidak bisa kau remehkan. Mo Jian bukanlah kultivator liar. Dia adalah Penatua Sekte Luar dari Sekte Pedang Awan.”
Bai Xue mempercepat langkahnya sedikit agar sejajar dengan pemuda itu, tatapannya berubah menjadi sangat serius. “Di dalam Sekte Pedang Awan, setiap tetua dan murid inti memiliki ‘Slip Giok Jiwa’ yang disimpan di Aula Kehidupan. Slip itu terhubung dengan esensi jiwa mereka. Saat kau menghancurkan wajah Mo Jian dan membuatnya setengah mati, fluktuasi energinya yang merosot drastis pasti telah memicu peringatan di sektenya. Terlebih lagi, Zhao Meng’er adalah murid yang baru saja diterima. Fakta bahwa utusan mereka dihancurkan di depan umum adalah tamparan keras bagi wajah sekte lurus.”
“Dan apa yang akan mereka lakukan?” tanya Lin Tian, suaranya tetap tenang tanpa riak kepanikan sedikit pun.
“Mereka akan memburumu,” jawab Bai Xue tegas. “Sekte raksasa tidak peduli siapa yang benar atau siapa yang salah. Mereka hanya peduli pada gengsi dan reputasi mereka. Kehilangan muka di kota fana adalah dosa tak terampuni. Mereka akan mengirimkan Pasukan Pengejar Awan—kelompok elite yang terdiri dari para ahli Alam Bumi tingkat menengah hingga puncak. Dan jika kau terus menunjukkan anomali kekuatanmu, mereka mungkin akan mengirimkan Tetua Sekte Dalam yang berada di Alam Langit untuk menangkapmu hidup-hidup dan mengorek rahasia kultivasimu.”
Lin Tian tersenyum sinis. Senyuman itu memancarkan arogansi absolut yang sama seperti saat ia membelah aura pedang Mo Jian. “Biar mereka datang. Hutan Kematian telah mengajariku satu hal: tidak ada pil kultivasi yang lebih baik daripada darah musuh yang kuat. Jika Sekte Pedang Awan ingin mengirimkan elit mereka untuk menjadi batu pijakanku, aku akan menyambut mereka dengan tangan terbuka.”
Melihat keteguhan yang tak tergoyahkan itu, Bai Xue hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. “Kau sangat percaya diri dengan tubuh fisikmu. Memang, Tubuh Sisik Naga Tembaga milikmu—atau apa pun nama seni misterius itu—mampu menahan serangan Alam Bumi tingkat awal. Tapi kau masih tertahan di Alam Penempaan Tubuh Tingkat Kesembilan. Tanpa melangkah ke Alam Pembentukan Qi, kau tidak bisa terbang, kau tidak bisa memanipulasi elemen alam, dan Qi di dalam Dantianmu akan habis jika kau dikeroyok oleh puluhan ahli bela diri.”
Bai Xue menyentuh inti dari kelemahan Lin Tian saat ini. Alam Penempaan Tubuh adalah wadah, sedangkan Alam Pembentukan Qi adalah isinya. Sehebat apa pun wadah itu, jika tidak diisi dengan energi alam yang terstruktur, ia pada akhirnya akan terkuras dalam pertempuran jangka panjang.
Lin Tian mengangguk perlahan, mengakui kebenaran kata-kata sang Saintess. “Kau benar. Aku telah mencapai puncak absolut dari Penempaan Tubuh. Namun, teknik kultivasiku sangat rakus. Untuk membentuk Pusaran Qi pertama di Dantianku dan menembus Alam Pembentukan Qi, aku membutuhkan katalis energi yang luar biasa besar. Inti monster tingkat empat biasa tidak lagi cukup. Aku membutuhkan ramuan spiritual tingkat tinggi atau esensi alam ekstrem.”
“Jika itu yang kau butuhkan, kita tidak bisa terus berjalan tak tentu arah,” Bai Xue menghentikan langkahnya, menatap hamparan jalan tanah di depannya. Ia menarik selembar peta kulit domba dari cincin spasial di jari telunjuknya, membentangkannya di udara. “Mengingat kau sedang diburu oleh Sekte Pedang Awan, dan aku butuh tempat yang aman dari mata-mata Jianghu untuk sementara waktu, hanya ada satu tempat terdekat yang bisa memenuhi kebutuhan kita berdua.”
Jari telunjuk Bai Xue yang seputih giok menunjuk ke sebuah titik merah di peta, berjarak sekitar tiga ratus mil ke arah barat laut dari posisi mereka saat ini.
“Kota Baja Merah,” ucap Bai Xue. “Itu adalah kota netral raksasa yang tidak dikuasai oleh kekaisaran maupun Empat Sekte Lurus. Kota itu dikendalikan oleh Aliansi Kamar Dagang Bawah Tanah. Di sana, hukum rimba berlaku lebih gila daripada di hutan, namun ada satu aturan absolut: tidak ada yang boleh menyelesaikan dendam pribadi di dalam batas kota pelelangan. Sekte Pedang Awan sekalipun harus menahan diri jika tidak ingin memicu perang ekonomi dengan seluruh aliansi dagang.”
Lin Tian menyipitkan matanya, mengamati titik merah di peta tersebut. “Kamar Dagang Bawah Tanah… tempat berkumpulnya para pemburu harta karun, alkemis sesat, dan buronan. Menarik. Jika ada tempat untuk mencari sumber daya ekstrem demi terobosan, di sanalah tempatnya.”
“Tepat,” Bai Xue melipat kembali petanya. “Dalam tujuh hari, akan diadakan Pelelangan Bintang Darah di sana. Itu adalah pelelangan terbesar yang diadakan setiap sepuluh tahun sekali. Segala macam harta karun aneh dari makam kuno dan wilayah terlarang akan dijual. Jika kau beruntung, kau mungkin akan menemukan bahan yang cukup kuat untuk mendorongmu menembus Alam Pembentukan Qi. Dan aku… aku mungkin bisa menemukan ‘Teratai Api Yang Murni’ untuk membantuku menekan Rantai Es Absolut ini lebih lama.”
“Kalau begitu, tujuan kita telah ditetapkan,” Lin Tian kembali melangkah maju. “Kita akan mempercepat perjalanan. Tiga hari, kita harus tiba di Kota Baja Merah.”
Malam turun dengan cepat di alam liar. Bintang-bintang bertaburan di langit malam bagaikan permata yang berserakan di atas permadani beludru hitam. Suara jangkrik dan lolongan serigala dari kejauhan menjadi nyanyian pengantar tidur bagi dunia fana.
Di sebuah lembah kecil yang terlindung oleh tebing batu yang melengkung, nyala api unggun menari-nari memecah kegelapan. Lin Tian duduk bersila dengan mata terpejam, memutar Seni Kaisar Naga Surgawi untuk menyerap sisa-sisa energi alam di sekitarnya. Meskipun tipis, ia tidak pernah menyia-nyiakan satu detik pun untuk memperkuat fondasinya.
Di seberangnya, Bai Xue duduk memeluk lututnya. Gaun putihnya tampak sedikit tipis untuk menahan udara malam pegunungan yang menggigit. Namun, yang membuatnya menggigil bukanlah suhu udara di luar, melainkan hawa dingin ekstrem yang mulai memberontak dari dalam dirinya sendiri.
Sejak ia menggunakan sisa energinya untuk memanipulasi belati es di Hutan Kematian sehari sebelumnya, segel sementara yang ditekan oleh Qi Naga Lin Tian mulai melemah. Rantai Es Absolut, kutukan yang lahir dari inti jiwanya, merasakan bahwa wadahnya sedang dalam kondisi paling rentan, dan mulai meronta untuk menelan seluruh tubuhnya kembali.
Urat-urat halus berwarna biru es mulai terlihat samar di leher jenjang Bai Xue. Bibirnya memucat, dan napasnya mengeluarkan uap putih yang tebal. Ia mencoba menggigit bibir bawahnya, menahan rintihan kesakitan agar tidak mengganggu kultivasi Lin Tian. Harga dirinya sebagai seorang Saintess menolak untuk terlihat lemah dan terus-menerus memohon pertolongan pada pria yang sama.
Namun, Lin Tian, dengan indranya yang telah dipertajam oleh Mutiara Naga, membuka matanya jauh sebelum Bai Xue mengeluarkan suara.
Ia menatap wanita cantik yang sedang bergetar menahan siksaan kutukan itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Lin Tian bangkit berdiri, berjalan memutari api unggun, dan berlutut tepat di belakang punggung Bai Xue.
“Singkap rambutmu,” perintah Lin Tian dengan suara yang datar namun membawa otoritas yang tidak bisa dibantah.
Bai Xue terkejut sejenak. Ia menoleh sedikit, menatap wajah Lin Tian dari sudut matanya. “Aku… aku bisa menahannya malam ini. Kau butuh energimu untuk bersiap menghadapi pengejaran besok.”
“Jangan bodoh. Jika kau mati membeku malam ini, siapa yang akan menjadi pemanduku di Kota Baja Merah?” Lin Tian membalas dengan pragmatis. “Lakukan.”
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa dingin, Bai Xue perlahan menyingkap rambut hitam panjangnya yang sehalus sutra, menyampirkannya ke bahu kiri, mengekspos tengkuk dan punggung atasnya yang seputih pualam. Kulitnya yang mulus kini dinodai oleh jaring-jaring energi es biru yang berdenyut-denyut mengerikan, berusaha menembus keluar dari bawah kulitnya.
Lin Tian mengangkat tangan kanannya. Qi Naga Surgawi yang berwarna emas murni langsung menyelimuti telapak tangannya, memancarkan hawa hangat yang luar biasa agung dan mendominasi. Tanpa keraguan atau kecanggungan, ia menempelkan telapak tangannya tepat di tengah punggung bagian atas Bai Xue, di antara kedua tulang belikatnya.
Ssssssss!
Suara desisan uap kembali terdengar saat dua energi yang paling ekstrem di dunia bertabrakan. Hawa dingin absolut dari Bai Xue mencoba membekukan tangan Lin Tian, sementara Qi Naga Surgawi membakar dan merobek jaringan es tersebut dengan kejam.
Bai Xue tersentak pelan. Sentuhan telapak tangan Lin Tian yang kasar dan kapalan, dikombinasikan dengan energi emas yang membara, mengirimkan aliran listrik aneh yang mengalir langsung ke pusat Dantiannya. Itu adalah sensasi yang sangat intim, melebihi sekadar pertolongan medis. Energi Lin Tian mengalir melalui meridiannya secara paksa, menjelajahi setiap inci tubuhnya, mengusir rasa sakit yang membeku dan menggantikannya dengan kehangatan yang membuat tubuhnya tanpa sadar bersandar sedikit ke belakang, menyentuh dada bidang pemuda itu.
Menyadari posturnya yang terlalu intim, wajah Bai Xue yang pucat seketika merona merah, bahkan menyamai warna api unggun di depan mereka. Ia segera menegakkan tubuhnya kembali.
“Fokuskan pikiranmu,” tegur Lin Tian dari belakang, suaranya tetap sedingin air telaga. Pemuda ini tampaknya memiliki kontrol emosi yang absolut, tidak terpengaruh sedikit pun oleh kecantikan atau keintiman situasi tersebut. “Jangan melawan Qi-ku. Biarkan aku menarik sisa es ini dan menguncinya kembali di inti Dantianmu.”
Bai Xue segera menutup matanya dan memusatkan pikirannya, merasa sedikit malu karena sempat terdistraksi. Selama setengah jam berikutnya, gua itu hening, hanya diisi oleh suara derak kayu bakar dan pernapasan keduanya yang perlahan menjadi selaras. Mutiara Naga di dalam tubuh Lin Tian terus menyerap sebagian kecil dari energi es absolut tersebut, memurnikannya, dan menjadikannya sebagai cadangan energi pasif di dalam meridian Lin Tian, yang perlahan-lahan semakin mempertebal fondasi penempaan tubuhnya.
Ketika Lin Tian akhirnya menarik tangannya, kulit di punggung Bai Xue telah kembali sempurna tanpa noda biru sedikit pun. Kutukan itu berhasil ditekan kembali ke jurang terdalam.
“Terima kasih,” bisik Bai Xue pelan sambil merapikan kembali pakaian dan rambutnya. Ia menoleh menatap Lin Tian yang kembali duduk di seberangnya. Pemuda itu tampak sedikit berkeringat, namun matanya memancarkan vitalitas yang menakutkan. “Kau menyerap kutukanku lagi. Berapa lama tubuhmu bisa menahan energi mematikan itu tanpa meledak?”
“Selama aku belum mati, tubuhku akan menelan segalanya,” jawab Lin Tian sambil mengambil sepotong kayu dan mengaduk api. Ia menatap ke arah bayangan gelap pepohonan di luar lembah. Matanya yang tajam menyipit. “Lebih baik kau beristirahat sepenuhnya malam ini, Bai Xue. Besok, perjalanan kita tidak akan tenang.”
“Kau merasakan sesuatu?” Bai Xue langsung waspada.
“Angin malam membawa bau darah dan niat membunuh yang tertahan. Seseorang telah menemukan jejak kita. Sekte Pedang Awan bergerak lebih cepat dari perkiraanmu.”
Mendengar itu, Bai Xue langsung mengerutkan kening. “Mereka pasti menggunakan Serangga Pelacak Aroma Darah. Saat kau menghajar Mo Jian, darahnya yang menempel di udara atau di pakaianmu telah direkam oleh artefak pelacak. Mereka akan terus mengikuti kita seperti bayangan.”
“Bagus,” Lin Tian tersenyum buas. “Aku sedang butuh peregangan otot sebelum menembus Alam Pembentukan Qi.”
Keesokan harinya, matahari bersinar terik, memanggang bumi yang gersang. Lanskap padang rumput telah berganti menjadi wilayah tebing-tebing batu merah yang tandus dan berdebu. Ini adalah wilayah Ngarai Ratapan Angin, sebuah jalur mematikan yang dipenuhi oleh lorong-lorong batu sempit yang harus dilewati sebelum mencapai wilayah Kota Baja Merah.
Lin Tian dan Bai Xue berjalan menelusuri dasar ngarai yang diapit oleh tebing setinggi ratusan kaki. Suara angin yang berhembus menembus celah bebatuan menciptakan suara siulan yang terdengar seperti tangisan roh penasaran, memberikan nama pada ngarai tersebut.
Tiba-tiba, langkah Lin Tian terhenti. Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Bai Xue melakukan hal yang sama.
Di langit biru tepat di atas ngarai, tiga ekor Elang Mata Merah—binatang buas tingkat dua yang telah dijinakkan—berputar-putar perlahan sambil mengeluarkan pekikan tajam.
“Mereka menemukan kita,” ucap Bai Xue pelan, tangannya diam-diam meraih ke balik lengan bajunya, bersiap untuk memanggil elemen es jika keadaan memaksa.
SWUUUSH! SWUUUSH! SWUUUSH!
Dari atas tebing di sisi kiri dan kanan mereka, lima sosok melompat turun dengan kecepatan mengerikan. Mereka mendarat dengan suara dentuman keras, mengepung Lin Tian dan Bai Xue dalam formasi lingkaran sempurna yang menutup semua jalan keluar.
Mereka mengenakan jubah putih bersih dengan sulaman pedang biru menembus awan di dada mereka—seragam elite dari Sekte Pedang Awan. Kelima orang ini bukanlah murid luar biasa. Masing-masing dari mereka memancarkan aura tajam dari Alam Pembentukan Qi tingkat puncak! Di dunia luar, satu orang dari mereka saja cukup untuk memusnahkan seluruh Klan Lin tanpa berkeringat.
Namun, ancaman sesungguhnya bukan berasal dari kelima murid elite tersebut.
Dari ujung lorong ngarai di depan mereka, udara tiba-tiba bergetar hebat. Seorang pria paruh baya yang mengenakan jubah abu-abu dengan corak perak berjalan keluar dari balik bayangan tebing. Wajahnya keras dan bersudut, dengan bekas luka melintang di mata kirinya. Tangan kanannya bertumpu santai di gagang pedang panjang bersarung hitam di pinggangnya. Fluktuasi Qi yang memancar dari tubuhnya sangat padat, merusak hukum alam di sekitarnya.
Itu adalah aura Alam Bumi tingkat menengah! Jauh lebih kuat dan lebih stabil daripada Mo Jian.
“Diaken Ku Feng dari Balai Penegakan Hukum Sekte Dalam,” bisik Bai Xue, nada suaranya sedikit tegang. “Mereka benar-benar menganggapmu ancaman serius. Ku Feng dikenal sebagai algojo berdarah dingin yang tidak pernah membiarkan targetnya lolos.”
Ku Feng menghentikan langkahnya sekitar sepuluh meter di depan Lin Tian. Mata tunggalnya yang tajam memindai pemuda bertelanjang dada itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, tatapannya dipenuhi dengan rasa jijik dan kemarahan yang tertahan.
“Jadi, kau adalah serangga bernama Lin Tian yang berani merusak wajah Penatua Mo Jian dan menghancurkan masa depan murid baru sekte kami?” suara Ku Feng terdengar serak, bagaikan dua keping baja yang digesekkan. “Hanya seorang semut di Alam Penempaan Tubuh. Penatua Mo pasti sudah pikun karena usia hingga bisa dipermalukan oleh sampah sepertimu.”
“Kalian anjing-anjing dari Sekte Pedang Awan selalu pandai menggonggong sebelum bertarung,” Lin Tian menanggapi dengan nada mengejek, menyilangkan lengannya di depan dada dengan santai. “Apakah majikan kalian di puncak gunung kehabisan tulang untuk diberikan, sehingga kalian harus jauh-jauh mengejarku ke tempat gersang ini?”
Wajah kelima murid elite sekte seketika memerah karena amarah. Di dunia ini, tidak ada yang berani menghina sekte suci mereka dengan kata-kata kotor seperti itu.
“Bocah kurang ajar! Aku akan memotong lidahmu dan memberikannya pada anjing liar!” teriak salah satu murid yang berdiri di belakang Lin Tian. Ia menghunus pedangnya, membungkus bilahnya dengan Qi angin yang tajam, dan langsung menerjang maju, mengincar leher belakang Lin Tian.
Kecepatan murid puncak Alam Pembentukan Qi itu luar biasa, pedangnya melesat bagaikan kilatan cahaya biru.
Namun, Lin Tian tidak berbalik. Seolah memiliki mata di belakang kepalanya, ia hanya memiringkan lehernya sedikit ke kanan.
SYUUUT!
Bilah pedang itu menyambar udara kosong, hanya berjarak satu milimeter dari kulit lehernya. Sebelum murid itu bisa menarik kembali senjatanya yang meleset, Lin Tian memutar tubuhnya dengan kecepatan eksplosif. Tangan kanannya melesat keluar bak pelatuk ular berbisa, mencengkeram wajah murid tersebut dengan telapak tangannya.
“Mati.”
BUM!
Lin Tian membanting wajah murid itu langsung ke tanah berbatu di bawah kakinya dengan kekuatan murni Tubuh Sisik Naga Tembaga. Tanah retak dan hancur berkeping-keping. Kepala murid elite itu meledak seketika seperti semangka yang dihantam godam besi, tewas di tempat tanpa sempat mengeluarkan jeritan sekecil apa pun. Darah segar dan materi otak memercik ke sepatu Lin Tian.
Hanya butuh satu tarikan napas. Satu gerakan kasual untuk membunuh puncak Alam Pembentukan Qi.
Keempat murid lainnya membeku dalam kengerian absolut. Keberanian yang mereka tunjukkan sedetik lalu menguap tak berbekas. Mereka memandang Lin Tian seolah-olah melihat iblis yang merangkak keluar dari mitos kuno.
Mata Diaken Ku Feng menyipit tajam. Kesombongannya langsung tergantikan oleh kewaspadaan tingkat tinggi. “Kekuatan fisik murni yang memecahkan pertahanan Qi pelindung murid puncak… Kau memang bukan sampah biasa. Kau mempraktikkan seni rahasia iblis penempa tubuh!”
“Jika kekuatan yang menghancurkan sekte lurusmu disebut iblis, maka panggil aku raja iblis,” raung Lin Tian.
Ia tidak membuang waktu. Kaki kanannya menginjak pedang milik murid yang baru saja tewas, menendangnya ke udara, lalu menangkap gagang pedang itu. Meskipun ia tidak pernah mempelajari teknik pedang tinggi, di bawah dorongan Qi Naga Surgawi dan kekuatan fisik mutlaknya, setiap tebasan adalah bencana.
“Bunuh dia bersama-sama! Gunakan Formasi Pembelah Awan!” perintah Ku Feng kepada empat murid yang tersisa, sementara ia sendiri menghunus pedang hitamnya. Qi bumi berwarna keperakan meledak dari pedang itu, membelah bebatuan di sekitarnya hanya dengan tekanan auranya.
Keempat murid itu menelan ludah, menekan rasa takut mereka, lalu menyerang secara serentak dari empat arah yang menyilang, menciptakan jaring pedang Qi yang mematikan di udara.
Lin Tian menyeringai buas. Pupil matanya kembali memancarkan kilatan emas yang mendominasi. Qi Naga Surgawi dialirkan ke dalam pedang baja biasa di tangannya. Bilah pedang yang tadinya biasa saja kini memancarkan cahaya emas kemerahan dan mengeluarkan suara dengungan yang menekan jiwa.
Ia tidak mencoba menangkis atau menghindari jaring pedang musuh. Mengandalkan pertahanan mutlak Tubuh Sisik Naga Tembaga, Lin Tian menerjang langsung ke arah jaring pedang tersebut bak banteng gila.
TRANG! TRANG! TRANG! TRANG!
Empat pedang yang dilapisi Qi murni menghantam lengan, dada, dan bahu Lin Tian secara bersamaan. Pakaiannya robek menjadi serpihan, namun mata pedang itu hanya mampu meninggalkan garis putih tipis di kulit tembaganya yang luar biasa keras.
“I-Ini mustahil! Pedangku tidak bisa melukainya!” jerit seorang murid dengan mata terbelalak putus asa.
“Giliranku,” bisik Lin Tian di telinga murid tersebut.
Ia mengayunkan pedangnya yang berlapis Qi Naga secara horizontal dalam satu putaran penuh.
SWUUUSH… CRASS!
Bilah pedang emas itu memotong udara, dan dengan mudah mengiris pinggang keempat murid elite tersebut dalam satu tebasan tunggal yang sangat brutal. Tubuh mereka terpotong menjadi dua bagian, darah menyembur seperti air mancur mewarnai dinding ngarai menjadi merah pekat. Empat nyawa pakar Pembentukan Qi melayang dalam sekejap mata.
Hanya tersisa Diaken Ku Feng. Pria paruh baya itu berdiri mematung, pedang hitamnya bergetar di tangannya. Ia akhirnya memahami bagaimana Penatua Mo Jian bisa kalah telak. Pemuda ini tidak terikat oleh hukum alam kultivasi fana.
“Sekarang, tinggal kau dan aku, Diaken,” Lin Tian memutar pedangnya yang berlumuran darah, melangkah perlahan ke arah Ku Feng. Niat membunuhnya yang pekat mengunci ahli Alam Bumi tersebut sepenuhnya. “Tunjukkan padaku, apakah nyawamu sedikit lebih tangguh daripada anjing tua Mo Jian.”
Pertarungan hidup dan mati di Ngarai Ratapan Angin baru saja akan mencapai puncaknya. Di balik bayang-bayang sekte besar yang memburunya, Lin Tian sekali lagi membuktikan bahwa jalan menuju puncak tidak akan pernah bisa dihentikan oleh siapapun yang berani menghalangi jalurnya. Tiran sejati tidak pernah mundur; mereka memijak tumpukan tulang musuh untuk mendaki singgasana abadi.