Bab 30: Membelah Angin Kematian dan Runtuhnya Gerbang Besi Neraka
Perjalanan udara melintasi perbatasan menuju jantung Benua Cakrawala memakan waktu lima hari lima malam tanpa henti. Berbeda dengan tanah gersang dan keras yang mendominasi wilayah pinggiran, Benua Tengah adalah manifestasi murni dari kemakmuran duniawi dan kekayaan spiritual. Dari atas hamparan awan, Lin Tian dan Bai Xue bisa melihat lanskap yang luar biasa agung: sungai-sungai berair jernih selebar lautan yang membelah hutan-hutan berdaun zamrud, serta barisan pegunungan yang memancarkan kabut Qi alami begitu tebal hingga menyerupai lautan susu.
Setiap inci tanah di bawah mereka bernapas dengan kehidupan spiritual. Sekte-sekte kelas menengah di wilayah ini memiliki fondasi yang setara dengan sekte raksasa di perbatasan. Namun, bagi Lin Tian, kemegahan alam ini tidak lebih dari sekadar meja perjamuan yang belum ia cicipi.
Sambil melesat membelah angin ketinggian, Lin Tian duduk bersila di atas sebuah pedang es raksasa yang diciptakan oleh Bai Xue untuk menghemat staminanya. Di telapak tangannya, ribuan batu spiritual tingkat tinggi dari cincin spasial mendiang Jenderal Ye Tu terus-menerus hancur menjadi debu putih kelabu.
Wussshhh… Energi murni yang setara dengan konsumsi tahunan sebuah sekte kecil disedot habis ke dalam hidung dan pori-pori Lin Tian setiap beberapa menit. Di dalam Dantiannya, Inti Naga Surgawi berputar dengan ritme yang lambat namun sangat berat. Bola emas gelap itu melahap energi tersebut tanpa ampun, memadatkan fondasi Alam Bumi Tingkat Awal miliknya hingga mencapai tingkat soliditas yang tidak bisa digores oleh senjata pusaka apa pun. Kulit tembaganya sesekali memancarkan kilatan cahaya emas, menandakan bahwa sel-sel tubuhnya sedang dirombak ulang untuk menampung kekuatan yang menentang surga tersebut.
“Kepadatan Qi di wilayah ini tiga kali lipat lebih tebal daripada di tempat asalku,” Bai Xue berdiri tegak di ujung depan pedang es, gaun sutra putihnya berkibar anggun menantang hembusan angin. Matanya yang sebiru safir menatap garis cakrawala yang mulai menghitam di kejauhan. “Tidak heran Kekaisaran Naga Hitam mampu mempertahankan hegemoninya secara absolut selama sepuluh ribu tahun. Tanah ini sendiri adalah tungku raksasa yang secara alami melahirkan monster.”
“Tanah yang subur hanya menciptakan domba-domba yang gemuk, Bai Xue,” cibir Lin Tian, membuka matanya perlahan. Kilatan emas di pupilnya seolah membelah udara di depannya, menciptakan riak spasial yang halus. “Mereka terbiasa duduk di puncak rantai makanan, bersembunyi di balik tembok tinggi dan menindas yang lemah tanpa pernah benar-benar diuji oleh pemangsa yang setara. Hari ini, aku akan menunjukkan kepada mereka apa arti dari sebuah kepunahan.”
Sementara itu, puluhan ribu mil di depan mereka, sebuah kengerian yang membekukan jiwa sedang menyelimuti Ibukota Kekaisaran Naga Hitam.
Ibukota itu bukanlah sekadar kota biasa; ia adalah sebuah benteng negara mandiri yang dikelilingi oleh Tembok Obsidian Darah setinggi tiga ratus kaki. Di pusat kota metropolis yang kejam tersebut, Istana Kekaisaran menjulang tinggi menembus awan, memancarkan aura kegelapan yang menekan dada siapa pun yang memandangnya dari kejauhan.
Di dalam Balai Tahta Utama, yang lantainya terbuat dari cermin giok hitam murni, atmosfer terasa lebih mematikan daripada dasar jurang neraka.
Duduk di atas Singgasana Tulang Naga adalah Kaisar Hei Long, penguasa mutlak Benua Cakrawala. Ia adalah pria paruh baya yang wajahnya tertutup oleh topeng logam berbentuk tengkorak naga yang memancarkan pendaran merah menyala di bagian matanya. Auranya tidak meledak-ledak atau mengamuk; sebaliknya, kehadirannya seolah menyedot semua cahaya, suhu, dan suara di dalam ruangan. Ia adalah seorang ahli yang telah menembus batas fana, berdiri kokoh di Alam Nirvana Tingkat Awal. Keberadaannya mendistorsi gravitasi di sekitarnya.
Di bawah anak tangga singgasana, ratusan pejabat militer, jenderal perang, dan tetua istana berlutut dengan dahi menempel ke lantai. Tubuh mereka bergetar hebat, keringat dingin membasahi punggung mereka. Di tengah-tengah mereka, di atas sebuah nampan sutra emas, tergeletak serpihan slip giok jiwa milik Jenderal Ye Tu yang telah hancur total, kehabisan cahayanya.
“Satu armada utama… seratus prajurit Pasukan Pengawal Naga… dan Pilar Kiri Kekaisaranku, Ye Tu,” suara Kaisar Hei Long terdengar lambat, berat, dan bergema ke setiap sudut ruangan. “Hancur menjadi abu. Bukan oleh aliansi gabungan dari sekte ortodoks raksasa, melainkan oleh seorang pemuda dari perbatasan?”
“A-Ampun, Yang Mulia!” Kepala Intelijen Kekaisaran meratap, mengangkat wajahnya sedikit dengan mata yang dipenuhi teror absolut. “Mata-mata kami yang memantau dari kejauhan melalui artefak penglihatan melaporkan bahwa pemuda bernama Lin Tian itu… ia memanifestasikan sesuatu yang mustahil. Ia menguasai Niat Kehancuran! Dan ia tidak sendirian. Saintess dari Sekte Teratai Es bersamanya, dan kekuatannya telah melonjak mencapai Puncak Alam Langit!”
TRANG!
Kaisar Hei Long tidak berteriak. Ia tidak menghunus senjata. Ia hanya mengetukkan satu jarinya yang berlapis zirah ke sandaran tangan singgasana tulang naganya.
Seketika, Kepala Intelijen itu berhenti bernapas. Ruang di sekeliling menteri malang tersebut meliuk dengan sangat kasar. Tubuh sang menteri terkompresi ke dalam oleh tekanan spasial yang tak terlihat, tulang-tulangnya remuk serentak, sebelum akhirnya meledak menjadi kabut darah tanpa suara sedikit pun.
Darah segarnya memercik ke jubah para menteri dan jenderal di sebelahnya, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani berteriak, mengusap wajah mereka, atau bahkan berkedip. Kematian adalah hal yang sangat murah di hadapan sang Kaisar.
“Niat Kehancuran bukanlah hukum alam yang bisa dipegang oleh semut fana di Alam Bumi,” ucap Kaisar Hei Long dingin, menatap kabut darah yang perlahan meresap ke dalam lantai giok. “Bocah itu pasti telah menelan warisan rahasia dari Makam Nirvana yang seharusnya menjadi milikku. Kesombongannya telah membuatnya buta. Ia membunuh anjing penjagaku dan sekarang ia mengira bisa berjalan masuk ke pekaranganku tanpa hukuman.”
Kaisar Hei Long perlahan berdiri. Saat ia bangkit, seluruh balai tahta bergetar seolah dilanda gempa berkekuatan tinggi.
“Perintahkan seluruh pasukan garnisun lapis pertama di luar kota untuk mundur ke balik Tembok Obsidian,” titah sang Kaisar dengan pragmatisme yang kejam dan perhitungan yang dingin. “Buka gerbang Penjara Bawah Tanah. Bawa seratus ribu tahanan pemberontak, tawanan perang, dan budak penambang ke altar empat penjuru ibukota. Kita akan menyambut kedatangannya dengan mengaktifkan Formasi Pembantai Naga Peminum Darah (Blood-Devouring Dragon Slaughtering Array).”
Mendengar nama formasi terlarang itu, para jenderal menahan napas mereka hingga wajah mereka membiru. Formasi itu adalah sihir purba yang membutuhkan pengorbanan darah ratusan ribu nyawa manusia untuk menciptakan sebuah perisai absolut dan domain kutukan. Domain itu akan secara pasif menyedot kultivasi dan vitalitas siapa pun yang berani melangkah masuk ke ibukota tanpa memiliki garis keturunan kekaisaran. Kaisar sama sekali tidak berniat melawan Lin Tian secara adil; ia berniat mengurungnya, menyedot kekuatannya, dan memanen Niat Kehancuran itu hidup-hidup.
“Biarkan dia datang,” Hei Long menyipitkan matanya di balik topeng. “Aku akan mencabut Niat Kehancurannya dari jiwanya secara langsung.”
Kembali ke udara, langit sore mulai diwarnai oleh semburat merah darah saat Lin Tian dan Bai Xue akhirnya tiba di perbatasan terdalam Benua Tengah, tepat sebelum wilayah Ibukota Kekaisaran.
Namun, alih-alih langsung melihat tembok obsidian ibukota, jalan mereka dihalangi oleh sebuah rintangan alam yang mengerikan: sebuah ngarai raksasa yang lebarnya mencapai sepuluh mil, dikenal sebagai Jurang Pemisah Surga. Di atas ngarai yang dasarnya tertutup kegelapan abadi itu, berdiri sebuah benteng raksasa bernama Gerbang Besi Neraka, satu-satunya jalur darat dan udara menuju jantung kekaisaran.
Benteng itu sepenuhnya terbuat dari Paduan Baja Hitam murni, dijaga oleh ratusan ribu prajurit elit garnisun luar. Ribuan meriam kristal anti-udara berjejer rapi di atas temboknya yang lebar, moncong-moncongnya memancarkan pendaran energi yang tidak stabil, mengarah lurus ke langit dan siap menembak jatuh dewa sekalipun yang berani melintas tanpa izin.
Bai Xue menghentikan laju pedang esnya sekitar dua mil dari benteng tersebut. Ia menatap lautan pertahanan militer itu dengan ekspresi sangat serius.
“Gerbang Besi Neraka,” gumam Bai Xue, suaranya sedikit tenggelam oleh deru angin ngarai. “Ini adalah garis pertahanan pertama dan terkuat Benua Tengah sebelum Ibukota. Perisai udara mereka ditenagai langsung oleh urat nadi bumi di bawah ngarai ini. Jika kita memaksa terbang melintas, puluhan ribu meriam itu akan menembakkan api penyucian yang bisa membakar ahli Alam Langit hingga menjadi abu.”
Lin Tian berdiri dari posisi duduknya. Ia melangkah perlahan ke tepi pedang es, menatap benteng baja yang membentang menutupi seluruh cakrawala itu dengan pandangan kosong. Angin kencang meniup jubah hitam dan rambutnya ke belakang, memperlihatkan otot-otot tembaganya yang sempurna.
Ia mengulurkan kedua tangannya ke depan. Seketika, Sarung Tangan Pembelah Bintang bermanifestasi dari ruang Dantiannya, membungkus kedua lengannya dengan logam bersisik merah darah yang memancarkan aura keganasan mutlak tingkat Surga kelas menengah.
“Formasi udara? Meriam penyucian?” Lin Tian tertawa pelan. Tawa itu perlahan membesar, berubah menjadi raungan tiran yang menggetarkan lapisan awan di atas mereka.
Di dalam Dantiannya, Inti Naga Surgawi berputar dengan kecepatan ekstrem. Niat Kehancuran Naga yang sangat mematikan meledak dari dalam pori-porinya, membungkus seluruh tubuhnya dalam aura abu-abu keemasan yang mendistorsi ruang fisik di sekitarnya.
“Aku tidak terbang ribuan mil jauhnya ke sini untuk mencari kunci dari sebuah pintu, Bai Xue,” Lin Tian menoleh, memberikan seringai iblis yang sangat dirindukan oleh medan perang yang berdarah. “Aku datang ke sini untuk mendobraknya hingga rata dengan tanah!”
Tanpa aba-aba atau persiapan sihir pelindung, Lin Tian melompat dari atas pedang es. Ia membiarkan gravitasi dan Qi naganya menariknya jatuh bagaikan komet emas kemerahan, meluncur dengan kecepatan yang memecahkan penghalang suara, langsung menuju titik pusat Gerbang Besi Neraka yang diklaim oleh sejarah tak bisa dihancurkan.
Di atas benteng, sirine peringatan spiritual meledak dengan suara melengking yang memekakkan telinga.
“MUSUH DATANG! DI ATAS! BUKAN PASUKAN… HANYA SATU ORANG! TEMBAKKAN SEMUA MERIAM!” raung Komandan Zang Tu, seorang ahli Alam Bumi Tingkat Puncak yang memimpin benteng tersebut. Wajahnya dipenuhi kepanikan saat melihat radar formasi mereka menangkap fluktuasi energi yang tidak masuk akal.
Ribuan pilar cahaya merah darah ditembakkan secara serentak dari atas tembok. Pilar-pilar energi itu memadatkan suhu yang setara dengan inti magma bumi, menyinari langit sore menjadi lautan api pembantaian. Jaring kematian itu begitu rapat hingga tidak ada celah sebesar jarum pun untuk menghindar.
Namun, di pusat badai proyektil mematikan itu, Lin Tian sama sekali tidak melambat.
Ia menarik kedua lengannya yang terbungkus Sarung Tangan Pembelah Bintang ke belakang. Saat pilar-pilar energi meriam kristal itu berjarak kurang dari sepuluh meter dari wajahnya, Lin Tian melontarkan rentetan pukulan lurus ke depan dengan kecepatan kilat. Ribuan bayangan tinju bermanifestasi di udara, membentuk sebuah dinding pukulan yang menyongsong lautan api tersebut.
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHH!
Tabrakan antara kekuatan fisik murni yang dilapisi Niat Kehancuran melawan ribuan pilar energi kristal tidak menghasilkan ledakan api sekunder. Sebaliknya, fenomena yang membuat mata para komandan di atas benteng hampir melompat keluar dari rongganya terjadi secara instan.
Pilar-pilar api merah darah itu padam.
Begitu energi elemen api mematikan tersebut bersentuhan dengan pusaran tinju Lin Tian, Niat Kehancuran Naga bekerja meniadakan eksistensi energi itu. Lautan api terurai menjadi partikel-partikel debu tak berbahaya, tersapu oleh angin kencang. Lin Tian benar-benar meninju tembus lautan tembakan meriam tanpa sehelai pun ujung rambutnya yang terbakar.
“M-Mustahil! Perisai macam apa itu?! Kenapa tembakan kita menghilang?!” jerit salah seorang perwira artileri, jatuh terduduk di atas meriamnya.
“Itu bukan perisai! Dia menghancurkan energi meriam kita dengan tinjunya!” Zang Tu berteriak histeris. Ia mencabut pedang besarnya. “Fokuskan seluruh sisa energi ke formasi pelindung! Aktifkan Formasi Perisai Penyu Besi! Tahan benturan pendaratannya!”
Ribuan prajurit penyihir formasi di atas tembok segera menggigit ujung lidah mereka, menyemburkan esensi darah ke atas pelat-pelat formasi di bawah kaki mereka. Seketika, sebuah kubah energi raksasa berwarna hitam legam yang dipenuhi ukiran rune cangkang penyu menyelimuti seluruh struktur benteng baja tersebut. Formasi ini diklaim mampu menahan serangan kekuatan penuh dari sepuluh ahli Alam Langit.
Namun, yang turun dari langit bukanlah ahli fana.
Jarak Lin Tian dengan atap kubah formasi penyu hitam itu kini tersisa kurang dari seratus kaki. Ia melipat tubuhnya sejenak di udara, memutar pusat gravitasinya, dan mengarahkan lutut kanannya lurus ke bawah. Seluruh aura Niat Kehancuran Naga dikompresi ke ujung lututnya, mengubahnya menjadi ujung tombak kosmik.
“Cangkang kura-kura yang menyedihkan,” bisik Lin Tian.
BUMMMMMMMMMMMMM!
Lutut Lin Tian menghantam tepat di titik pusat Kubah Formasi Penyu Besi.
Suara benturan itu menghilangkan kemampuan mendengar setiap prajurit dalam radius tiga mil. Selama seperseribu detik, kubah hitam itu melengkung ke dalam. Niat Kehancuran Naga merayap dari lutut Lin Tian, masuk ke dalam jaringan energi kubah tersebut. Rune-rune purba yang menopang formasi itu menjerit, berkedip merah putus asa, lalu memudar menjadi abu.
PRANGGG! KRAAAAK!
Kubah formasi raksasa itu pecah berkeping-keping. Momentum Lin Tian tidak tertahan sama sekali. Ia menerjang menembus pecahan cahaya formasi, dan kedua kakinya akhirnya menghantam pelataran utama dari baja hitam murni di atas Gerbang Besi Neraka.
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH!
Dampak pendaratan fisik ini menghancurkan kewarasan. Pelataran baja setebal sepuluh kaki melesak ke dalam seketika, membentuk kawah selebar seratus meter. Retakan-retakan raksasa menjalar dengan kecepatan peluru, membelah baja dan batuan fondasi di bawahnya.
Gelombang kejut seismik menciptakan ‘tsunami baja’. Lantai di sekitar kawah terangkat ke udara, melempar ribuan prajurit lapis baja, meriam kristal yang beratnya berton-ton, dan menara-menara pengawas ke udara seolah mereka hanyalah daun kering. Ratusan prajurit di titik pendaratan terkompresi dan menguap menjadi kabut darah hanya oleh gaya gravitasi buatan dari tekanan udara yang meledak.
Struktur benteng raksasa yang membentang menutupi Jurang Pemisah Surga itu mengerang kesakitan. Sepertiga dari bagian tengah benteng tersebut runtuh seketika, jatuh ke dalam jurang tak berdasar di bawahnya, membawa serta belasan ribu pasukan garnisun ke kematian.
Debu tebal, asap dari meriam yang meledak, dan kabut darah bercampur menjadi satu. Di dasar kawah baja yang membara, sosok Lin Tian perlahan berdiri tegak.
Jubah hitamnya berkibar liar. Ia menggerakkan lehernya, matanya yang berwarna emas murni menembus asap, menyapu puluhan ribu prajurit elit Kekaisaran Naga Hitam yang kini bergetar hebat.
“Kalian membangun tembok baja yang sangat besar,” suara Lin Tian bergema, dipenuhi penindasan sang kaisar naga. Ia melangkah keluar dari kawah, apinya menerangi wajah para prajurit yang ketakutan. “Tapi kalian lupa membangun nyali yang cukup kuat untuk berdiri di belakangnya.”