Bab 31: Mesin Penggiling Daging dan Eksekusi Pasukan Besi
Debu tebal yang bercampur dengan asap mesiu dan kabut darah perlahan tersapu oleh hembusan angin ngarai yang dingin. Di atas pelataran Gerbang Besi Neraka yang kini terbelah dan hancur, keheningan yang mencekik menggantikan suara raungan meriam. Sisa-sisa prajurit Kekaisaran Naga Hitam, yang sebelumnya dilatih untuk tidak merasakan takut di bawah panji kekaisaran, kini mendapati jiwa mereka bergetar hebat. Mereka menatap monster berwujud manusia yang baru saja menghancurkan formasi terkuat mereka hanya dengan satu serangan fisik.
Komandan Zang Tu, yang sekujur tubuhnya berlumuran darah karena tertimpa puing baja namun selamat berkat kultivasi Puncak Alam Buminya, merangkak keluar dari reruntuhan menara pengawas. Ia menatap Lin Tian dengan mata terbelalak lebar. Harga dirinya sebagai perwira tertinggi kekaisaran memaksanya untuk menekan rasa takut yang melumpuhkan sumsum tulangnya.
“J-JANGAN MUNDUR!” raung Zang Tu, suaranya pecah namun diwarnai oleh keputusasaan mutlak. Ia memungut pedang besarnya yang retak dan mengangkatnya tinggi-tinggi. “Dia hanya satu orang! Dia baru saja menggunakan seluruh kekuatannya untuk menghancurkan formasi penyu kita! Formasi Perisai Besi, maju! Pasukan Tombak Pembelah Awan, kunci pergerakannya! Kita adalah pedang Yang Mulia Kaisar, dan pedang kekaisaran tidak pernah patah!”
Disiplin militer Kekaisaran Naga Hitam memang patut diacungi jempol. Meskipun jiwa mereka menjerit ketakutan, puluhan ribu prajurit dari sayap kiri dan kanan benteng yang masih utuh kembali merapatkan barisan. Ribuan prajurit dengan perisai menara raksasa yang terbuat dari paduan baja berat bergerak serentak, membentuk dinding besi berlapis yang sangat rapat. Di belakang mereka, ribuan prajurit bertombak mengalirkan Qi elemen angin ke senjata mereka, menciptakan dengungan mematikan yang siap mencabik-cabik apa pun yang mendekat.
Mereka bergerak maju dengan ritme yang terkoordinasi, layaknya mesin penggiling daging raksasa yang bersiap mengepung Lin Tian dari segala arah, berniat menenggelamkan pemuda itu dalam lautan logam dan Qi.
Melihat dinding logam yang bergerak ke arahnya, Lin Tian tidak menunjukkan sedikit pun kekhawatiran. Sebaliknya, seringai di wajahnya semakin lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih kontras dengan kegelapan auranya. Pusaran Inti Naga Surgawi di Dantiannya bereaksi terhadap niat membunuh yang diarahkan kepadanya. Inti itu berputar dengan rakus, menantikan perjamuan energi kehidupan yang lezat.
“Mesin penggiling daging?” kekeh Lin Tian pelan, suaranya beresonansi dengan arogansi sang tiran. “Biar kutunjukkan pada kalian, apa yang terjadi ketika daging yang kalian coba giling adalah daging seekor naga.”
Lin Tian menghentakkan kaki kanannya. Alih-alih melompat atau memanggil senjata area luas, ia membuang tubuhnya langsung ke arah dinding perisai baja yang berjarak lima puluh meter di depannya. Kecepatannya memecahkan penghalang suara, menciptakan ledakan sonik yang meremukkan telinga.
BUM!
Lin Tian menghantam barisan pertama dinding perisai menara raksasa itu murni dengan bahu kirinya.
Efek tabrakan itu sama seperti komet yang menghantam barisan kayu lapis. Perisai-perisai baja setebal tiga inci itu melekuk ekstrem hingga patah menjadi dua, menghancurkan tulang dada para prajurit yang memegangnya seketika. Gelombang kejut dari tabrakan bahu Lin Tian membelah barisan pertahanan tersebut, menciptakan lorong darah lurus sepanjang seratus meter ke belakang. Ratusan tubuh prajurit terlempar ke udara dengan zirah yang hancur berkeping-keping, darah mereka memercik seperti hujan badai.
Tanpa memberikan kesempatan sedetik pun bagi musuh untuk menutup celah, Lin Tian mulai mengamuk di tengah lautan manusia tersebut.
Ia tidak menggunakan teknik bela diri ortodoks yang mengandalkan keindahan gerakan. Ini bukan duel di panggung turnamen; ini adalah seni pembantaian murni.
Tangan kanannya yang berlapis Sarung Tangan Pembelah Bintang melesat ke depan, meninju dada seorang perwira elit di depannya. Tinjunya menembus pelat dada baja dan keluar dari punggung sang perwira, mencabut jantungnya yang masih berdetak dalam satu gerakan fluida. Lin Tian kemudian memutar tubuhnya, menggunakan mayat perwira itu sebagai senjata cambuk, menghantamkannya ke kerumunan prajurit tombak di sebelahnya hingga tulang mereka remuk serentak.
CRAT! KRAAAAK! SRAAAT!
Setiap langkah Lin Tian diikuti oleh badai hujan darah. Ia menendang perisai baja hingga melesak ke dalam organ prajurit, merobek leher penyihir formasi dengan jari telanjang yang memancarkan aura naga, dan menggunakan Niat Kehancuran Naga untuk mengubah setiap senjata pusaka yang mencoba menebas punggungnya menjadi debu karat.
Ribuan tusukan tombak Qi menghujani tubuhnya. Namun, Tubuh Sisik Naga Tembaga miliknya yang telah mencapai Kesempurnaan Besar dan disokong oleh Alam Bumi hanya menghasilkan suara trang-trang-trang layaknya kerikil yang dilempar ke dinding benteng. Sesekali, sebuah serangan gabungan dari puluhan perwira berhasil meninggalkan goresan putih di kulitnya, namun goresan itu sembuh dalam hitungan milidetik.
Lin Tian adalah badai kematian yang tidak bisa dihentikan, sebuah entitas bencana yang memanen nyawa dengan tangan kosong. Dalam waktu kurang dari lima menit, lebih dari lima ribu prajurit elit telah ia ubah menjadi tumpukan daging cincang yang mengotori sisa-sisa pelataran baja tersebut.
Namun, dari arah sayap kanan benteng yang masih menyatu dengan tebing jurang curam, lima puluh ribu pasukan bantuan mulai bermanuver. Mereka adalah Pasukan Kavaleri Udara Elang Besi, bersenjatakan panah peledak berat. Mereka mengudara dengan cepat, bersiap untuk menghujani area tersebut dengan tembakan area luas tanpa mempedulikan nyawa kawan mereka yang masih bertarung di bawah.
Sebelum panah pertama sempat dilepaskan dari tali busurnya, suhu udara di atas medan perang merosot tajam secara tidak wajar. Udara yang dipenuhi bau anyir darah tiba-tiba digantikan oleh aroma musim dingin abadi yang menusuk tulang hingga ke sumsum.
“Kalian merusak pemandangan.”
Suara merdu yang sedingin gletser mengalun dari langit. Bai Xue melayang turun, sayap esnya yang membentang lebar memantulkan cahaya matahari sore yang mulai meredup. Gaun putih bersihnya sangat kontras dengan lautan darah dan api di bawahnya. Matanya yang sebiru safir tidak memancarkan emosi apa pun saat ia menatap lima puluh ribu kavaleri udara tersebut.
Sang Ratu Es mengangkat pedangnya yang memancarkan pendaran biru menyilaukan ke arah langit.
“Domain Es Absolut: Pemakaman Gletser Sembilan Lapis!”
Bai Xue menebaskan pedangnya dengan anggun ke arah sayap kanan benteng.
Seketika, gelombang badai salju biru yang sangat masif, dipenuhi oleh bilah-bilah es seukuran pedang panjang, meledak dan menyapu area tersebut. Kecepatannya tidak memberikan waktu bagi para prajurit atau elang raksasa untuk bereaksi.
Begitu gelombang energi es itu menyentuh barisan pertama, fenomena pembekuan instan tingkat molekuler terjadi. Elang-elang raksasa yang sedang mengepakkan sayap mereka membeku di udara secara permanen, jatuh menghantam bumi dan hancur berkeping-keping seperti patung kristal yang rapuh. Puluhan ribu prajurit panah berat membeku dengan posisi busur yang masih ditarik tegang. Darah yang mengalir dari tubuh kawan mereka yang terluka membeku menjadi pilar-pilar merah yang mematikan.
Hanya dalam satu tebasan dari seorang ahli Puncak Alam Langit, seluruh bala bantuan di sayap kanan, yang jumlahnya mencapai lima puluh ribu nyawa, dihentikan secara absolut. Setengah dari benteng itu kini berubah menjadi gunung es biru yang berkilauan di tengah lautan api dan baja yang dihancurkan oleh Lin Tian.
Sinergi antara dominasi fisik brutal Lin Tian di darat dan kendali medan perang jarak jauh absolut milik Bai Xue menciptakan sebuah duet maut yang tidak pernah dibayangkan oleh taktik militer mana pun di Benua Cakrawala.
Di tengah sisa-sisa reruntuhan bagian tengah benteng, Komandan Zang Tu merangkak mundur. Ia telah kehilangan lengan kirinya, yang hancur menjadi kabut darah akibat terkena imbas tendangan nyasar Lin Tian. Pasukannya telah musnah, moral mereka hancur, dan benteng kebanggaan kekaisaran telah terbelah dua.
Ia menatap pemuda berjubah hitam yang kini berjalan perlahan ke arahnya. Tubuh Lin Tian tidak memiliki satu pun luka yang berarti. Darah musuhnya menguap dari permukaan kulitnya akibat panas tubuh fisiknya yang ekstrem.
Lin Tian berdiri di depan Zang Tu, menatap komandan yang malang itu dengan mata yang sepenuhnya kosong dari belas kasihan.
Ia mengangkat tangan kirinya, dan Inti Naga Surgawi di dalam tubuhnya merespons. Sebuah pusaran gravitasi kecil namun luar biasa brutal meledak dari telapak tangannya.
“AAAAAARRRRGGGHHH!”
Sisa-sisa prajurit di sekitar mereka, baik yang masih merintih sekarat maupun yang mencoba melarikan diri, menjerit histeris. Esensi darah, Qi Alam Pembentukan, dan kekuatan spiritual mereka secara paksa disedot keluar dari meridian mereka. Asap merah dan putih berhamburan dari ribuan mayat dan prajurit yang masih hidup, mengalir deras masuk ke dalam telapak tangan Lin Tian layaknya pusaran air.
Pemuda itu memejamkan matanya, membiarkan aliran energi tersebut membanjiri Dantiannya. Pertempuran massal seperti ini adalah ladang panen paling efisien bagi Seni Kaisar Naga Surgawi. Qi yang sempat ia kuras untuk menghancurkan formasi penyu raksasa tadi tidak hanya pulih seketika, tetapi kapasitas energinya terasa semakin padat dan berat.
Zang Tu memuntahkan darah hitam melihat fenomena iblis pemakan jiwa tersebut. Kesombongannya telah sepenuhnya berganti menjadi keputusasaan absolut, namun ia masih memiliki satu rahasia yang ia yakini akan menjadi akhir dari kehidupan pemuda di depannya ini.
“K-Kau… monster pemakan jiwa…” Zang Tu tertawa serak, darah mewarnai gigi-giginya yang patah. “Kau pikir kau menang karena menghancurkan gerbang kami? Kau sangat bodoh… Yang Mulia Kaisar telah membuka Penjara Bawah Tanah Ibukota…”
Lin Tian menunduk, alisnya sedikit terangkat, namun senyum tiraninya tidak memudar. “Oh? Kaisarmu membebaskan para tahanan rendahan untuk melawanku? Betapa putus asanya.”
“Bukan membebaskan mereka… tapi mengorbankan mereka!” Zang Tu terbatuk keras, memuncratkan serpihan paru-parunya. “Seratus ribu nyawa… darah dan jiwa mereka akan digunakan untuk mengaktifkan Formasi Pembantai Naga Peminum Darah di empat penjuru ibukota. Kau tidak akan berjalan masuk ke istana dengan gagah, iblis… kau sedang berjalan masuk ke sebuah domain kutukan yang akan menyedot kultivasimu hingga kering! Semakin banyak Qi yang kau miliki, semakin cepat tubuhmu akan dikeringkan! Kau telah berjalan menuju pemakamanmu sendiri!”
Mendengar ancaman sihir kutukan tingkat kaisar itu, reaksi Lin Tian jauh dari apa yang diharapkan oleh Zang Tu.
Pemuda itu tidak terkejut. Ia tidak marah atau gentar. Tawa yang sangat pelan, rendah, dan dipenuhi oleh kegembiraan buas justru mengalun dari tenggorokannya. Lin Tian mencengkeram wajah Zang Tu dengan tangan kanannya dan mengangkat pria berbaju besi berat itu ke udara hanya dengan satu tangan, seolah pria itu tidak memiliki bobot.
“Formasi Pembantai Naga Peminum Darah?” Lin Tian memiringkan kepalanya, matanya menyala terang menembus bola mata Zang Tu yang dipenuhi teror. “Kaisarmu repot-repot menyiapkan perjamuan darah sebesar itu hanya untukku? Katakan padanya di neraka, aku sangat menantikan hidangan utamanya.”
Tanpa basa-basi lagi, Niat Kehancuran Naga meledak dari telapak tangan Lin Tian. Wajah, kepala, dan seluruh tubuh Komandan Zang Tu hancur menjadi debu kelabu dalam sekejap, menyisakan sebuah cincin spasial yang jatuh ke tanah dan langsung ditangkap oleh sang Tiran.
Bai Xue melayang turun, mendarat dengan ringan di atas sebongkah meriam kristal yang telah membeku menjadi es. Ia memandang ke arah jalan raya lebar yang membentang di balik reruntuhan gerbang benteng ini, jalan lurus yang mengarah tepat ke Ibukota Kekaisaran Naga Hitam yang berjarak sekitar dua ratus mil lagi.
“Formasi pengorbanan darah berskala seratus ribu nyawa,” Bai Xue berbicara, suaranya mengandung nada peringatan yang serius. “Itu adalah sihir terlarang dari era purba. Formasi itu menggunakan energi keputusasaan ratusan ribu kultivator untuk mengunci dan membalikkan hukum alam di dalam suatu wilayah. Zang Tu tidak berbohong, Lin Tian. Jika kita masuk ke sana, pusaran Qi-mu mungkin akan bereaksi negatif dan secara paksa disedot oleh formasi tersebut.”
Lin Tian membalikkan tubuhnya, menatap ke arah garis cakrawala di mana bayangan menara-menara Ibukota Kekaisaran mulai terlihat samar, tertutup oleh awan gelap kemerahan yang sangat tidak wajar.
Ia mengepalkan tangannya, membunyikan buku-buku jarinya dengan keras. Sisa darah musuh menetes dan menguap dari Sarung Tangan Pembelah Bintang.
“Kutukan pengisap darah fana tidak akan pernah bisa mengisap lautan kosmik yang tak berujung, Bai Xue,” Lin Tian mendengus pelan, matanya dipenuhi arogansi sang penakluk absolut. “Kaisar Hei Long ingin bermain dengan darah naga? Maka aku akan memastikan ia tenggelam di dalamnya hingga mati lemas. Ayo. Saatnya kita menendang pintu depan istananya dan duduk di singgasananya yang rapuh itu.”
Dengan satu hentakan kaki yang menghancurkan sisa pijakan bajanya, Lin Tian melesat ke udara, meninggalkan lautan mayat, gunung es abadi, dan benteng yang terbakar di belakangnya. Sang Tiran Naga tidak mengenal kata mundur. Rintangan berupa domain kutukan tingkat kaisar tidak lebih dari sekadar rintangan menyenangkan yang akan segera ia hancurkan dengan kedua tangannya sendiri.
Perang Benua Tengah telah mencapai babak puncaknya, dan tirai darah di Ibukota Kekaisaran Naga Hitam baru saja dibuka.
Apakah Anda ingin saya melanjutkan ke Bab 32 untuk melihat konfrontasi Lin Tian melawan Formasi Pembantai Naga Peminum Darah di jantung Ibukota Kekaisaran?