Bab 32: Kubah Darah Keputusasaan dan Perjamuan Sang Tiran
Dua ratus mil membelah langit Benua Tengah bukanlah jarak yang berarti bagi dua eksistensi yang telah menembus batas fana. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam dupa terbakar, bayangan megah Ibukota Kekaisaran Naga Hitam akhirnya menjulang di garis cakrawala. Namun, apa yang menyambut Lin Tian dan Bai Xue bukanlah sebuah kota yang gemerlap oleh peradaban, melainkan sebuah manifestasi neraka dunia yang memuakkan.
Langit di atas ibukota tidak lagi berwarna biru atau dihiasi awan putih. Sebuah kubah raksasa berwarna merah darah yang sangat pekat, berbau anyir dan memancarkan hawa kematian yang menekan jiwa, menyelimuti seluruh area kota sejauh ratusan mil. Awan-awan di atasnya berputar membentuk pusaran raksasa yang meneteskan hujan berwarna merah gelap. Kilat hitam menyambar-nyambar di dalam kubah tersebut, diiringi oleh suara ribuan jiwa yang menjerit, meratap, dan mengutuk alam semesta.
Itu adalah Formasi Pembantai Naga Peminum Darah.
Di empat penjuru ibukota, tepat di luar Tembok Obsidian yang kokoh, empat altar raksasa telah diaktifkan. Di atas altar-altar tersebut, mayat seratus ribu tahanan, pemberontak, dan budak ditumpuk menggunung. Leher mereka telah digorok secara massal, dan darah segar mereka mengalir menuruni ukiran rune purba, mengisi parit raksasa yang mengelilingi tembok ibukota hingga membentuk sungai darah yang mendidih.
Energi keputusasaan, kemarahan, dan rasa sakit dari seratus ribu nyawa yang dicabut secara paksa itu menjadi bahan bakar mutlak bagi formasi kutukan ini.
Lin Tian dan Bai Xue melayang di udara, berjarak sekitar satu mil dari batas luar kubah darah tersebut. Bahkan dari jarak ini, Bai Xue harus mengerutkan keningnya. Sang Ratu Es segera mengayunkan tangannya, memanggil Domain Es Absolut dalam radius sepuluh meter untuk membekukan partikel-partikel darah beracun yang mencoba merayap masuk melalui pori-pori kulitnya.
“Kekejaman yang melampaui batas kewarasan,” Bai Xue berbicara dengan nada dingin, matanya menatap tajam ke arah altar pengorbanan yang masih mengalirkan darah segar. “Kaisar Hei Long benar-benar membantai seratus ribu manusia fana dan kultivator tingkat rendah hanya untuk mengaktifkan perisai ini. Formasi ini tidak hanya memblokir serangan fisik, tetapi setiap inci dari kubah merah itu adalah lintah spiritual. Menyentuhnya berarti menyerahkan Qi, esensi darah, dan umurmu sendiri.”
Lin Tian berdiri tegak di udara, jubah hitamnya berkibar pelan. Matanya yang keemasan menatap kubah darah raksasa itu tanpa ekspresi jijik atau takut. Baginya, moralitas fana adalah konsep yang tidak relevan. Yang ia lihat bukanlah sebuah tragedi, melainkan sebuah bendungan energi raksasa yang sedang menunggu untuk dibobol.
Di dalam kubah, tepat di atas puncak Istana Kekaisaran yang menembus awan darah, sebuah proyeksi ilusi raksasa bermanifestasi. Itu adalah wajah Kaisar Hei Long dengan topeng tengkorak naganya, diproyeksikan ke seluruh penjuru langit ibukota oleh formasi tersebut. Matanya yang merah menyala menatap langsung ke arah Lin Tian yang melayang di luar batas kota.
“Iblis dari perbatasan!” Suara Kaisar Hei Long menggema, diperkuat oleh kutukan darah hingga terdengar seperti geraman iblis dari dimensi bawah. “Kau telah menghancurkan gerbangku dan membantai pasukanku. Tapi di sinilah langkahmu terhenti! Formasi Pembantai Naga Peminum Darah ini adalah wujud dari keputusasaan seratus ribu nyawa. Hukum alam di tempat ini telah dibalikkan. Niat Kehancuranmu tidak akan bisa menghancurkan energi tanpa wujud dari kutukan ini!”
Proyeksi kaisar itu tertawa meremehkan, tawanya menggetarkan udara beracun di sekitarnya. “Jika kau berbalik sekarang, kau akan hidup sebagai anjing pelarian selama sisa umurmu. Tapi jika kau berani melangkah satu inci saja ke dalam jangkauan formasi ini, ia akan mencabik-cabik kultivasimu, mengeringkan darahmu, dan menjadikan jiwamu sebagai bagian dari penderitaan abadi di dalam tembok ini!”
Mendengar deklamasi kaisar yang penuh dengan arogansi dan keyakinan mutlak tersebut, Bai Xue memandang Lin Tian. Ia tahu pemuda ini tidak mengenal kata mundur, namun menghadapi formasi kutukan berskala kota yang ditenagai oleh seratus ribu nyawa adalah sesuatu yang secara teoritis tidak mungkin ditembus oleh kekuatan fisik murni.
“Lin Tian,” Bai Xue memperingatkan dengan nada serius. “Jika kau memukul formasi itu, gaya tolaknya tidak akan berupa ledakan, melainkan sebuah hisapan. Begitu kau menggunakan Qi untuk menyerang, formasi ini akan menggunakannya sebagai jembatan untuk menyedot Inti Bumimu.”
Lin Tian menoleh ke arah Bai Xue, senyuman tipis yang sangat tenang namun luar biasa kejam terukir di bibirnya.
“Kau selalu menggunakan logika manusia untuk mengukur kemampuanku, Bai Xue,” kekeh Lin Tian pelan. Ia mengangkat tangan kanannya yang masih terbungkus Sarung Tangan Pembelah Bintang. “Siapa bilang aku akan memukulnya?”
Tanpa menunggu balasan dari Bai Xue, Lin Tian melesat ke depan. Ia tidak menggunakan Seni Langkah Bayangan Awan untuk berakselerasi dengan gila-gilaan, melainkan melayang perlahan dan santai, seolah sedang berjalan santai di taman belakang istananya sendiri.
Ia melintasi jarak satu mil itu dalam diam, berhenti tepat di depan dinding kubah merah darah yang mendidih. Wajah-wajah ilusi dari jiwa yang tersiksa tampak berteriak tanpa suara di permukaan kubah tersebut, mencoba menggapai sosok Lin Tian dengan tangan-tangan roh yang mengerikan.
Di dalam kota, ratusan ribu prajurit garnisun elit dan para jenderal kekaisaran menahan napas. Mereka menyaksikan iblis berjubah hitam itu dari balik keamanan tembok obsidian mereka. Kaisar Hei Long di atas istana juga menyipitkan matanya di balik topeng, menunggu momen di mana pemuda sombong itu melakukan kesalahan fatal.
Lin Tian tidak menghunus senjata. Ia tidak memadatkan pukulan yang bisa meruntuhkan gunung. Ia hanya mengangkat tangan kanannya yang terbuka, dan dengan gerakan yang sangat kasual, ia menempelkan telapak tangannya langsung ke permukaan kubah darah tersebut.
SSSSSSSSST!
Suara desisan keras seketika meledak. Begitu kulit Lin Tian bersentuhan dengan formasi, kutukan peminum darah itu langsung bekerja. Energi merah pekat dari kubah itu merayap naik ke lengan Lin Tian seperti ribuan lintah raksasa, mencoba menembus Tubuh Sisik Naga Tembaga miliknya untuk menyedot Inti Bumi dan esensi kehidupannya.
“BODOH!” raung Jenderal Tertinggi Kekaisaran dari atas tembok kota, tertawa histeris melihat tindakan bunuh diri Lin Tian. “Dia benar-benar menyentuhnya dengan tangan kosong! Tubuhnya akan mengering dalam sepuluh detik! Yang Mulia Kaisar telah memenangkan perang ini tanpa perlu turun tangan!”
Kaisar Hei Long di singgasananya tersenyum dingin di balik topeng. Prediksinya tepat. Arogansi pemuda itu adalah kelemahan terbesarnya.
Namun, senyuman Hei Long membeku di detik kelima.
Di luar formasi, Lin Tian masih berdiri tegak. Lengan kanannya memang diselimuti oleh sulur-sulur darah yang mencoba menyedot kekuatannya, tetapi kulitnya tidak mengkerut, dan auranya tidak meredup sedikit pun. Sebaliknya, mata emas Lin Tian menyala semakin terang, memancarkan antusiasme seorang tiran yang disuguhi hidangan mewah.
“Kalian mengorbankan seratus ribu nyawa untuk menciptakan sedotan darah sebesar ini?” suara Lin Tian menggema, namun kali ini suaranya tumpang tindih dengan raungan makhluk primordial kuno yang bergema dari dalam Dantiannya. “Niat yang bagus, Hei Long. Tapi kau salah menilai siapa yang menjadi mangsa, dan siapa yang menjadi pemangsa.”
Di dalam Dantian Lin Tian, Inti Naga Surgawi yang berwarna emas gelap tiba-tiba berhenti berputar, lalu berbalik arah dengan kecepatan yang menghancurkan logika.
Seni Kaisar Naga Surgawi bukanlah seni bela diri untuk mencipta atau memelihara. Itu adalah hukum penaklukan absolut. Mutiara naga yang menjadi jantung dari seni ini adalah pusaran lubang hitam yang dirancang untuk menelan seluruh energi alam semesta.
“Kau ingin meminum darahku?” Lin Tian melebarkan kelima jarinya yang menempel di kubah. “Mari kita lihat perut siapa yang lebih besar!”
BLAAAAAAAAAARRRRGGGHHH!
Sebuah pusaran gravitasi emas yang sangat brutal meledak dari telapak tangan Lin Tian.
Fenomena yang terjadi selanjutnya membuat seluruh penghuni Ibukota Naga Hitam merasakan teror yang lebih dingin daripada kematian itu sendiri. Alih-alih menyedot Lin Tian, Formasi Pembantai Naga Peminum Darah—sihir kutukan tingkat kaisar yang tak terkalahkan—mulai beriak, tertarik, dan tersedot balik masuk ke dalam telapak tangan pemuda tersebut!
Energi merah darah yang sangat pekat, yang mengandung esensi kehidupan murni dari seratus ribu kultivator dan rasa sakit mereka, diseret secara paksa membentuk pusaran air raksasa di udara yang berpusat tepat di telapak tangan Lin Tian.
“A-Apa yang terjadi?! Kenapa formasinya menyusut?!” jerit para jenderal di atas tembok, kaki mereka gemetar hebat. Mereka bisa melihat dengan jelas dinding kubah darah itu menipis dengan kecepatan yang kasat mata.
“Mustahil! MUSTAHIL!” Kaisar Hei Long membanting tangan ke singgasananya hingga hancur berkeping-keping. Topengnya tidak bisa lagi menyembunyikan kepanikannya. “Bagaimana mungkin tubuh fana bisa menyerap kutukan pembunuh nyawa tanpa meledak?! Hentikan dia! Potong aliran energinya!”
Namun, tidak ada yang bisa menghentikannya. Kutukan keputusasaan dari seratus ribu jiwa yang seharusnya meracuni akal sehat Lin Tian langsung dihanguskan dan dimurnikan oleh dominasi mutlak dari Qi Naga Surgawi begitu energi itu masuk ke dalam meridiannya. Bagi Inti Naga Surgawi, semua kutukan, racun, atau sihir hanyalah kalori murni yang siap dibakar.
Lin Tian memejamkan matanya, menghembuskan uap merah dari hidungnya. Otot-ototnya membengkak hingga hampir merobek jubah hitamnya. Aliran energi spiritual yang masuk ke dalam tubuhnya begitu masif hingga terasa seperti ia sedang menelan seluruh lautan.
KRETAK! KRETAK!
Tulang-tulang Lin Tian berderak keras. Kepadatan Inti Bumi-nya melonjak secara eksponensial. Hambatan kecil menuju tingkat selanjutnya di Alam Bumi dihancurkan tanpa perlawanan layaknya bendungan kertas yang diterjang tsunami.
Alam Bumi Tingkat Menengah!
Peningkatan kultivasinya tidak berhenti. Energi dari seratus ribu nyawa, meskipun sebagian besar hilang saat pembentukan kutukan, masih menyisakan kekuatan yang sangat besar. Kulit tembaga Lin Tian mulai memancarkan kilau perak yang sangat halus, menandakan bahwa Tubuh Sisik Naga Tembaga miliknya mulai menunjukkan tanda-tanda berevolusi ke tahap berikutnya: Tubuh Sisik Naga Perak.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, kubah raksasa yang menutupi langit Ibukota Kekaisaran Naga Hitam itu benar-benar habis. Lenyap tanpa sisa. Bahkan darah yang menggenang di parit luar kota ikut menguap dan tersedot habis ke dalam Dantian Lin Tian.
Langit kembali terang, memperlihatkan matahari sore yang menyorot tajam ke arah sosok pemuda berjubah hitam yang kini melayang tanpa ada lagi penghalang di depannya.
Lin Tian menurunkan tangannya, mengepalkannya perlahan, dan merasakan ledakan kekuatan baru yang bergelora di setiap sel tubuhnya. Ia telah resmi menapakkan kaki di Alam Bumi Tingkat Menengah dengan fondasi absolut.
Di luar batas kota, Bai Xue membatalkan domain esnya. Matanya yang jernih menatap Lin Tian dengan perasaan takjub yang sudah sulit diungkapkan dengan kata-kata. Pemuda ini tidak hanya menghancurkan hukum kultivasi fana; ia mempermainkannya. Sihir pengorbanan tingkat kaisar tidak lebih dari sekadar minuman berenergi gratis baginya.
Di atas Tembok Obsidian Darah, puluhan ribu prajurit kekaisaran mematung seperti arca batu. Senjata terlepas dari tangan mereka, jatuh berdenting di atas lantai batu. Tembok pertahanan fisik mereka mungkin masih berdiri tegak, namun tembok pertahanan mental mereka telah runtuh sepenuhnya. Mereka menyadari bahwa mereka tidak sedang menghadapi manusia, bukan pula seorang jenius pembangkang, melainkan eksistensi dewa kehancuran yang tidak tunduk pada aturan dunia ini.
Lin Tian membuka matanya, kilatan emas murni memancar, menciptakan tekanan spiritual yang membuat udara di sekitarnya beriak keras. Ia menatap lurus ke arah Istana Kekaisaran yang menjulang di tengah kota, mengunci pandangannya tepat ke arah balkon tertinggi tempat Kaisar Hei Long berdiri dengan tubuh gemetar.
“Terima kasih atas hidangan darahnya, Hei Long,” ucap Lin Tian, suaranya tenang namun memotong udara hingga terdengar jelas di seluruh pelosok ibukota. “Sekarang, aku memiliki energi ekstra yang perlu disalurkan.”
Lin Tian menarik tangan kanannya, mengompresi Niat Kehancuran Naga dan kekuatan fisiknya ke dalam satu titik singularitas di kepalan tinjunya. Sarung Tangan Pembelah Bintang menyala dengan intensitas yang membutakan mata. Ia tidak mengincar kaisar, ia mengincar simbol kekuatan absolut yang melindungi kota ini selama sepuluh milenium.
“Buka pintumu!” raung Lin Tian.
Ia melesat ke depan dengan kecepatan cahaya, dan menghantamkan tinjunya lurus ke arah Tembok Obsidian Darah setinggi tiga ratus kaki yang berada tepat di hadapannya.
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH!
Benturan kali ini tidak ada duanya. Tembok Obsidian yang dirancang untuk menahan gempuran ribuan meriam dan rentetan serangan ahli Alam Nirvana itu meledak layaknya tumpukan biskuit kering. Sebuah lubang selebar setengah mil tercipta dalam sekejap, melontarkan puing-puing batu raksasa seukuran bukit ke arah dalam kota, meratakan seluruh distrik militer yang berada di baliknya.
Debu pekat membumbung tinggi menutupi matahari, menandai runtuhnya pertahanan terakhir Kekaisaran Naga Hitam.
Dari balik asap kehancuran tersebut, Lin Tian melangkah masuk ke dalam jalanan Ibukota Kekaisaran. Tidak ada lagi hambatan. Tidak ada lagi prajurit yang berani maju. Hanya ada sang Tiran Naga yang melangkah dengan tenang menuju takhta yang telah lama menunggunya.
Apakah Anda ingin saya melanjutkan ke Bab 33 untuk melihat konfrontasi akhir antara Lin Tian dan Kaisar Hei Long di dalam istananya yang runtuh?