Bab 33: Runtuhnya Langit Hitam dan Eksekusi Sang Kaisar
Debu obsidian yang pekat perlahan turun bagaikan hujan abu vulkanik, menyelimuti jalanan utama Ibukota Kekaisaran Naga Hitam yang dulunya gemerlap. Tembok pertahanan setinggi tiga ratus kaki yang menjadi simbol keabadian kekuasaan fana kini telah berlubang menganga, memperlihatkan langit sore yang memerah seolah ikut berdarah. Di tengah reruntuhan raksasa tersebut, tidak ada lagi suara terompet perang atau teriakan komando. Yang tersisa hanyalah keheningan yang mencekik, diselingi oleh suara langkah kaki yang berat dan teratur.
Tap… Tap… Tap…
Lin Tian melangkah masuk melintasi batas kota yang telah hancur lebur. Jubah hitamnya sama sekali tidak ternoda oleh debu, dilindungi oleh fluktuasi Qi yang memancar dari Inti Naga Surgawi di dalam Dantiannya. Di tangannya, Sarung Tangan Pembelah Bintang masih mengeluarkan uap panas, memancarkan pendaran merah darah yang menerangi jalanan giok hitam yang retak di bawah kakinya.
Di sisinya, Bai Xue melayang dengan keanggunan seorang dewi yang turun ke dunia bawah. Udara dingin yang menguar dari tubuh sang Ratu Es membekukan darah yang menggenang di jalanan, menciptakan jalan setapak kristal merah yang mengerikan.
Jutaan pasang mata dari prajurit garnisun, jenderal, dan rakyat jelata menatap dari balik puing-puing bangunan, lorong-lorong sempit, dan jendela-jendela yang pecah. Mereka melihat monster yang baru saja meminum formasi kutukan berskala kota dan meruntuhkan tembok abadi hanya dengan satu pukulan. Senjata-senjata bertumbangan ke tanah dari tangan para prajurit elit yang gemetar. Semangat juang mesin perang terbesar di Benua Cakrawala telah dimusnahkan secara psikologis. Tidak ada yang berani menghalangi jalan sang Tiran menuju Istana Kekaisaran.
“Mereka sudah patah,” Bai Xue berbicara pelan, matanya menyapu lautan manusia yang berlutut dalam teror di sepanjang jalan. “Sepuluh ribu tahun doktrin kekaisaran hancur dalam waktu kurang dari satu hari.”
“Ketakutan adalah guru yang jauh lebih baik daripada kesetiaan,” jawab Lin Tian dingin, pandangannya terkunci lurus ke arah gerbang Istana Kekaisaran yang berjarak satu mil di depannya. “Kesetiaan bisa dibeli atau dipalsukan, tetapi ketakutan akan kematian yang mutlak akan mengakar hingga ke dalam jiwa.”
Sementara itu, di dalam Balai Tahta Istana Kekaisaran yang megah, Kaisar Hei Long berdiri mematung di depan Singgasana Tulang Naganya. Topeng logam berbentuk tengkorak naga yang menutupi wajahnya tidak bisa menyembunyikan napasnya yang memburu.
Melalui cermin spiritual di tengah ruangan, ia telah menyaksikan segalanya. Ia melihat bagaimana pemuda itu menelan Formasi Pembantai Naga Peminum Darah—sihir terlarang yang ia korbankan seratus ribu nyawa untuk menciptakannya—seolah itu hanyalah secangkir anggur merah. Ia melihat bagaimana tembok obsidian yang diperkuat oleh ribuan lapisan rune pelindung meledak menjadi debu.
“Dia bukan manusia…” gumam salah seorang Menteri Kiri yang tersisa, kakinya gemetar hingga ia jatuh terduduk di lantai. “Yang Mulia… kita harus melarikan diri! Gunakan Formasi Pemindahan Ruang! Selama Yang Mulia masih hidup, Kekaisaran Naga Hitam bisa dibangun kemb—”
CRAT!
Kaisar Hei Long tidak menoleh. Ia hanya mengangkat tangannya, dan ruang di sekitar Menteri Kiri itu terpelintir secara brutal, memotong tubuh menteri itu menjadi potongan-potongan daging yang jatuh berserakan di atas lantai giok.
“Melarikan diri?” Suara Hei Long terdengar sangat parau, dipenuhi oleh kemarahan yang melampaui batas kewarasan. “Aku adalah Kaisar! Aku telah menyentuh batas fana dan memegang hukum Alam Nirvana! Mengapa aku harus lari dari seekor semut di Alam Bumi?!”
Hei Long memutar tubuhnya menghadap para jenderal dan tetua istana yang tersisa. Matanya yang merah menyala dari balik topeng memancarkan kegilaan yang absolut.
“Buka Gudang Senjata Surgawi! Serahkan seluruh cadangan Batu Roh tingkat puncak ke dalam Formasi Pengunci Ruang Istana! Aku tidak peduli jika seluruh kota ini hancur, hari ini, aku akan mengubur bocah iblis itu di bawah kakiku!”
Kaisar Hei Long merentangkan kedua tangannya. Aura Alam Nirvana Tingkat Awal meledak dari dalam tubuhnya secara maksimal. Berbeda dengan Alam Bumi yang hanya memproyeksikan Qi keluar, Alam Nirvana memanipulasi hukum ruang itu sendiri. Atap Balai Tahta yang terbuat dari emas murni hancur berkeping-keping, terdorong oleh pilar energi hitam pekat yang melesat ke angkasa.
Sang Kaisar melayang naik, menembus atap istananya sendiri, dan melayang di udara tepat di atas pelataran utama istana, menyongsong kedatangan Lin Tian.
Langkah Lin Tian terhenti saat ia tiba di alun-alun raksasa di depan tangga Istana Kekaisaran. Di sekeliling alun-alun itu, ribuan Pengawal Bayangan Istana—pasukan paling mematikan dan paling setia milik kaisar—telah berbaris. Namun, Lin Tian tidak memedulikan mereka. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada sosok berjubah naga hitam yang melayang angkuh di atas tangga istana.
“Akhirnya, tikus utama keluar dari lubangnya,” Lin Tian menyeringai lebar, memperlihatkan giginya yang putih.
Di dalam Dantiannya, Inti Naga Surgawi yang baru saja mencapai Alam Bumi Tingkat Menengah berputar dengan ritme yang agresif, merespons tekanan spasial yang dipancarkan oleh ahli Alam Nirvana di atasnya.
Kaisar Hei Long menunduk menatap Lin Tian. Di balik topeng tengkorak naganya, tatapannya dipenuhi oleh niat membunuh yang bisa membekukan lautan.
“Kau memiliki mata yang sangat arogan untuk seseorang yang baru saja melangkah ke Alam Bumi, Lin Tian,” suara Hei Long bergema, menciptakan riak di udara yang mendistorsi pandangan. “Kau mungkin memiliki Niat Kehancuran dan fisik anomali yang memuakkan, tetapi kau sama sekali tidak memahami perbedaan antara kekuatan kasar dan hukum alam semesta. Di hadapan Alam Nirvana, ruang adalah senjataku, dan kau hanyalah tahanan di dalamnya!”
Hei Long tidak menyia-nyiakan waktu dengan teknik perkenalan. Ia langsung menggunakan kartu as tertingginya. Sang Kaisar mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara, memusatkan seluruh fluktuasi Nirvana-nya.
“Domain Kematian Hitam: Penjara Kehampaan Absolut!”
BZZZZZT!
Seketika, cahaya matahari di atas alun-alun istana padam. Sebuah kubah kegelapan yang luar biasa pekat meledak dari tubuh Hei Long, menelan area seluas sepuluh mil dalam sekejap mata. Di dalam domain ini, udara berubah menjadi zat korosif yang membusukkan Qi, dan gravitasi ditarik dari segala arah secara bersamaan, menciptakan tekanan spasial yang cukup untuk meremukkan baja tingkat Surga menjadi setipis kertas.
Ribuan Pengawal Bayangan Istana yang berada di tepi domain menjerit histeris saat tubuh mereka tersentuh oleh kegelapan tersebut. Kulit mereka layu, tulang mereka mengering, dan dalam hitungan detik, mereka berubah menjadi debu tanpa sempat memberikan perlawanan. Kaisar Hei Long dengan kejam mengorbankan pasukan elitnya sendiri hanya untuk memperluas jangkauan domain mautnya.
Di luar batas domain, Bai Xue mundur dengan cepat, pedang esnya menciptakan tiga lapis dinding glasier yang langsung retak saat bergesekan dengan aura pinggiran Domain Kematian Hitam. Matanya memancarkan kekhawatiran yang langka. Ini adalah kekuatan manipulasi ruang murni; sesuatu yang berada di luar jangkauan pertarungan fisik.
Namun, di pusat kegelapan absolut itu, Lin Tian tidak hancur.
Tubuh pemuda itu memancarkan pendaran cahaya tembaga yang mulai diselingi oleh kilatan perak. Pakaiannya telah hancur menjadi debu, namun Tubuh Sisik Naga Tembaga miliknya menolak untuk menyerah pada korosi ruang. Ia berdiri di tengah-tengah tekanan yang mencoba mencabik-cabiknya, otot-ototnya menegang hingga urat-urat nadi emasnya menonjol keluar.
“Ini yang kau sebut sebagai hukum alam semesta?” Suara Lin Tian menggema dari dalam kegelapan, diiringi oleh tawa rendah yang memekakkan telinga. “Ini hanya trik sulap ruang yang menyedihkan!”
Hei Long membelalakkan matanya di balik topeng. Ia merasakan perlawanan yang luar biasa keras dari dalam domainnya. “Mustahil! Bagaimana fisik fana bisa menahan kompresi spasial Nirvana?!”
“Karena fisikku bukanlah fisik fana!” raung Lin Tian.
Lin Tian tidak mencoba menerobos tekanan ruang itu dengan memadatkan Qi pelindung. Sebaliknya, ia menyalurkan seluruh sisa energi dari jutaan batu spiritual dan seratus ribu nyawa yang baru saja ia serap, memompa semuanya langsung ke dalam Inti Naga Surgawi di Dantiannya.
Niat Kehancuran Naga yang mematikan meledak dari pori-pori kulitnya. Ia mengangkat kedua lengannya yang berlapis Sarung Tangan Pembelah Bintang dan mengarahkan tinjunya bukan kepada sang Kaisar, melainkan kepada ruang kosong di sekitarnya.
“Seni Kehancuran: Cakar Perobek Surga!”
Lin Tian mengayunkan kedua tangannya ke arah luar, seolah-olah sedang merobek sebuah tirai raksasa yang tidak terlihat.
CRAAAAK… BLAAAAAARRRRGGGHHH!
Suara kain raksasa yang dirobek paksa terdengar hingga ke seluruh penjuru benua. Niat Kehancuran Naga milik Lin Tian, didorong oleh kekuatan fisik murni Alam Bumi Tingkat Menengah, secara harfiah merobek struktur ruang spasial dari Domain Kematian Hitam tersebut!
Celah-celah emas terang muncul di tengah kegelapan pekat, menghancurkan hukum ruang yang membelenggunya. Domain Nirvana kebanggaan Kaisar Hei Long hancur berkeping-keping seperti cermin hitam yang dipukul godam dewa, menyebarkan pecahan-pecahan energi spasial yang menghancurkan seluruh bangunan sayap depan Istana Kekaisaran menjadi lautan debu.
“AAARRRGGGHH!”
Kaisar Hei Long memuntahkan darah segar dalam jumlah besar. Serangan balik (backlash) dari hancurnya domain spasial pribadinya merobek meridian Nirvana di dalam tubuhnya secara brutal. Tubuhnya terhuyung mundur di udara, matanya dipenuhi oleh horor yang belum pernah ia rasakan selama ratusan tahun.
Hukum Nirvana-nya… telah dipatahkan oleh kekuatan otot dan niat murni!
“Ruangmu sudah hancur, Hei Long. Sekarang giliran tulangmu!”
Lin Tian tidak membuang momentum sedetik pun. Dengan Seni Langkah Bayangan Awan, ia melesat ke atas, membelah udara dengan kecepatan yang meninggalkan ledakan sonik beruntun. Ia muncul tepat di atas Kaisar Hei Long yang masih kehilangan keseimbangan.
Tangan kanan Lin Tian yang menyala dengan api merah darah dari Sarung Tangan Pembelah Bintang terangkat tinggi. Di belakang punggungnya, ilusi Kaisar Naga Emas bermanifestasi sepenuhnya, membuka rahangnya seiring dengan gerakan tinju Lin Tian.
“TIDAAAAAK!” Hei Long menjerit, menyilangkan kedua lengannya untuk memadatkan perisai ruang terakhirnya.
BUMMMMMMM!
Tinju Lin Tian menghantam perisai ruang itu dan menembusnya seolah itu hanyalah selapis kertas basah. Tinjunya mendarat telak tepat di wajah Kaisar Hei Long.
KRAAAAK!
Topeng tengkorak naga yang terbuat dari logam abadi itu hancur berkeping-keping, memperlihatkan wajah asli sang kaisar yang kini penyok secara mengerikan. Hantaman itu begitu kuat hingga tubuh Hei Long meluncur jatuh seperti meteorit yang mati, menghantam alun-alun giok di bawahnya dengan daya hancur yang menciptakan kawah sedalam lima puluh meter.
Istana Kekaisaran bergetar hebat. Pilar-pilar naga penopangnya runtuh, menandakan kejatuhan simbolis dari kekuasaan absolut mereka.
Lin Tian melayang turun dengan perlahan, mendarat tepat di dasar kawah tempat sang Kaisar terbaring.
Kaisar Hei Long belum mati. Vitalitas seorang ahli Alam Nirvana sangatlah mengerikan. Ia terbatuk-batuk, memuntahkan serpihan gigi dan organ dalamnya. Wajahnya hancur, dan matanya yang dulu penuh arogansi kini meredup, digantikan oleh keputusasaan dan ketidakpercayaan. Penguasa dunia fana itu kini merangkak di tanah, mencoba menjauh dari sepatu bot Lin Tian.
Lin Tian berjalan santai mendekatinya. Ia menginjak punggung kaisar yang sekarat itu, memaku pria paruh baya itu ke tanah dengan beban kekuatan fisiknya yang mencapai jutaan jin.
“K-Kau… tidak tahu apa yang kau lakukan…” rintih Hei Long, suaranya terputus-putus oleh darah yang menggenang di tenggorokannya. “Kekaisaran Naga Hitam… kami memiliki pelindung di Benua Langit Tinggi (Upper Realm)… Para dewa sejati tidak akan membiarkan anomali sepertimu hidup…”
Lin Tian menunduk, matanya yang keemasan tidak memancarkan emosi apa pun selain kebosanan seorang tiran yang mendengarkan alasan klise mangsanya.
“Benua Langit Tinggi? Dewa sejati?” Lin Tian tertawa rendah yang sangat dingin. “Bagus. Biarkan mereka datang. Aku sedang berpikir benua ini terlalu kecil untuk memuaskan selera pusaran nagaku. Jika ada dunia yang lebih tinggi, maka aku akan merobek langitnya dan memakan dewa-dewa mereka sebagai hidangan penutup.”
Tanpa memberikan kesempatan bagi Hei Long untuk mengucapkan kata-kata terakhirnya, Lin Tian menempelkan telapak tangannya ke belakang kepala sang kaisar. Mutiara Naga di dalam Dantiannya bereaksi dengan liar, mencium aroma esensi kehidupan tingkat Nirvana yang luar biasa murni.
WUSSSSHHH!
Daya hisap yang melampaui logika meledak. Lin Tian secara paksa mencabut jiwa, esensi darah, dan seluruh pondasi Alam Nirvana milik Kaisar Hei Long. Asap energi berwarna hitam keemasan mengalir deras masuk ke dalam tubuh Lin Tian.
Rasa sakit dari pencabutan esensi itu membuat tubuh kaisar mengejang hebat selama lima detik, sebelum akhirnya mengering sepenuhnya dan hancur menjadi serpihan debu kelabu yang tertiup oleh angin kehancuran.
Kaisar Hei Long, penguasa absolut Benua Cakrawala selama sepuluh ribu tahun, telah tiada. Lenyap tanpa menyisakan sepotong tulang pun.
Lin Tian menutup matanya, merasakan ledakan energi Nirvana yang membanjiri meridiannya. Inti Naga Surgawi-nya membesar, memadat, dan memancarkan cahaya yang semakin menyilaukan. Kepadatan energinya di Alam Bumi Tingkat Menengah kini telah didorong hingga ke batas paling ekstrem, hanya tinggal selangkah lagi menuju Tingkat Puncak.
Ia membuka matanya kembali. Di tepi kawah, Bai Xue melayang turun dengan anggun. Sang Ratu Es memandang sekeliling Istana Kekaisaran yang kini telah berubah menjadi lautan reruntuhan, lalu menatap Lin Tian yang berdiri tegak di pusatnya.
“Selesai,” ucap Bai Xue pelan. “Benua Cakrawala tidak lagi memiliki kaisar.”
Lin Tian membalikkan tubuhnya, menatap ke arah sisa-sisa Singgasana Tulang Naga yang tergeletak miring di antara puing-puing istana. Ia menyeringai tipis, mengibaskan jubah hitamnya yang sedikit robek.
“Kaisar fana memang sudah tidak ada, Bai Xue,” jawab Lin Tian, suaranya membawa resonansi penakluk absolut. “Karena mulai detik ini, satu-satunya hukum yang berlaku di bawah langit ini adalah hukum sang Tiran Naga. Ayo kita bongkar perbendaharaan rahasia istana ini. Aku ingin melihat peninggalan apa yang disembunyikan tikus ini dari Benua Langit Tinggi.”