Bab 36: Kota Awan Mengambang dan Runtuhnya Hirarki Dewa

Ukuran:
Tema:

Gerbang raksasa di belakang Anjungan Kenaikan Surgawi terbuka dengan suara dengungan kosmik yang berat, menyingkap pemandangan Benua Langit Tinggi yang sesungguhnya. Di balik gerbang itu, terdapat sebuah jembatan pelangi yang terbuat dari kristal cahaya murni, membentang bermil-mil jauhnya menembus lautan awan emas. Di ujung jembatan tersebut, melayang sebuah metropolis raksasa yang dibangun di atas gugusan pulau-pulau terbang.

Pemandangan itu luar biasa megah. Air terjun berwarna keperakan mengalir ke atas, melawan gravitasi. Kereta-kereta kencana yang ditarik oleh naga-naga banjir (flood dragons) dan singa bersayap melintasi langit. Menara-menara giok memancarkan cahaya yang menyinari seluruh penjuru daratan. Ini adalah Kota Awan Mengambang, pelabuhan pertama bagi para pendatang baru dan pusat perdagangan bebas di wilayah pinggiran Benua Atas.

Lin Tian melangkah menginjak jembatan pelangi tersebut. Jubah hitamnya berkibar tenang. Di Alam Langit Tingkat Awal, ia tidak lagi merasakan tekanan gravitasi Benua Atas yang sebelumnya mencoba meremukkan tulangnya. Sebaliknya, ia merasa seolah-olah ruang itu sendiri membungkuk untuk menyokong langkahnya. Setiap tarikan napasnya menyedot Qi kosmik murni yang langsung diolah oleh lautan bintang di dalam Dantiannya.

“Tempat ini benar-benar berbeda dari dunia kita,” Bai Xue melangkah di sisinya, sayap esnya telah ia tarik kembali ke dalam tubuhnya untuk menghemat energi, meski aura Puncak Alam Langit-nya tetap membuat udara di sekitarnya membeku. “Bahkan naga banjir yang digunakan sebagai hewan penarik kereta di atas sana memiliki kekuatan setara dengan Kaisar Hei Long.”

Lin Tian mendengus sinis, matanya yang keemasan menyapu kemegahan kota di depannya.

“Mereka mungkin memiliki Qi yang lebih padat dan sumber daya yang tak terbatas, Bai Xue. Tapi pada akhirnya, mereka tetaplah makhluk fana yang mengklaim diri sebagai dewa hanya karena mereka lahir di tempat yang lebih tinggi,” jawab Lin Tian dingin. “Ayo kita lihat seberapa keras tulang mereka saat dipatahkan.”

Keduanya melintasi jembatan pelangi itu dengan cepat. Pilar cahaya emas dari terobosan Lin Tian sebelumnya telah menghilang, namun dampaknya jelas telah menyiagakan seluruh kota.

Saat mereka tiba di ujung jembatan, tepat di depan Gerbang Kota Awan Mengambang yang menjulang setinggi seribu kaki, jalan mereka dihalangi.

Ratusan penjaga kota yang mengenakan zirah emas tingkat Surga telah berbaris rapat. Di depan mereka, duduk santai di atas seekor Singgasana Singa Api bersayap tiga, adalah seorang pemuda berambut perak dengan wajah yang luar biasa tampan namun memancarkan keangkuhan yang memuakkan. Auranya berada di Alam Langit Tingkat Puncak. Di Benua Cakrawala, ia akan disembah sebagai dewa mutlak, namun di sini, ia hanyalah seorang komandan gerbang.

Pemuda berambut perak itu memicingkan matanya, mengendus udara dengan ekspresi jijik saat menatap Lin Tian dan Bai Xue.

“Bau tanah kotor dan darah rendahan,” ucap pemuda itu sambil mengibaskan kipas giok di tangannya. “Pilar cahaya tadi… aku mengira ada harta karun surgawi yang lahir di Gerbang Ascension. Ternyata hanya dua ekor semut dari Benua Rendah yang berhasil merangkak naik. Dan melihat darah perak di jubahmu, sepertinya kalian baru saja membunuh anjing-anjing penjaga di anjungan itu.”

Pemuda itu mengalihkan pandangannya pada Bai Xue. Matanya seketika berbinar penuh nafsu dan keserakahan saat ia merasakan fisik Yin murni dari sang Ratu Es.

“Hoo… tapi semut betina ini adalah pengecualian,” pemuda itu tertawa merendahkan. “Fisik Es Murni tingkat dewa! Tangkap pria itu dan cabut tulang punggungnya untuk dijadikan bahan pupuk tanaman spiritualku. Sedangkan wanitanya… bawa ke paviliunku. Malam ini, aku akan menggunakan sari patinya untuk menembus Alam Dewa Sejati (True Divine Realm)!”

Mendengar pelecehan itu, mata biru Bai Xue seketika memancarkan niat membunuh yang membekukan jiwa. Namun, sebelum ia sempat memadatkan pedang esnya, sebuah tawa rendah dan berat bergema di sampingnya.

Lin Tian tidak marah. Ia menengadahkan kepalanya dan tertawa lepas. Tawanya menggetarkan jembatan pelangi di bawah kaki mereka.

“Kau tahu, Bai Xue,” Lin Tian mengusap air mata tawa dari sudut matanya, sebelum tatapannya berubah menjadi tatapan predator mutlak. “Di Benua Rendah, orang-orang sombong biasanya memiliki sedikit kekuatan untuk mendukung omong kosong mereka. Tapi di sini, tampaknya kebodohan berevolusi seiring dengan tingginya tempat ini.”

Pemuda berambut perak itu mengerutkan kening, merasa terhina. “Bunuh sampah ini! Cincang dia menjadi ribuan potong!”

Ratusan penjaga berzirah emas menerjang maju secara serentak. Tombak-tombak mereka memancarkan hukum elemen api dan petir, menciptakan badai energi yang siap menelan Lin Tian.

Lin Tian bahkan tidak repot-repot memanggil Sarung Tangan Pembelah Bintang. Ia hanya berdiri di tempatnya, mengangkat tangan kanannya, dan menjentikkan jarinya.

TAK!

“Seni Kehancuran: Penghapusan Spasial.”

Riak energi berwarna kelabu keemasan menyapu ke depan dengan kecepatan cahaya. Ini bukanlah pukulan fisik, melainkan manipulasi absolut atas ruang yang didorong oleh Niat Kehancuran Naga.

Seketika, ruang di depan Lin Tian hancur seperti cermin yang pecah. Ratusan penjaga Alam Langit yang sedang menerjang itu tiba-tiba berhenti di udara. Garis-garis retakan spasial muncul di tubuh mereka, menembus zirah, daging, dan jiwa mereka. Tanpa ada jeritan atau ledakan, ratusan ahli tingkat dewa itu terurai menjadi debu kosmik dan lenyap ditiup angin.

Satu jentikan jari, dan ratusan dewa fana dihapus dari eksistensi.

Keheningan yang luar biasa mencekam langsung menyelimuti Gerbang Kota Awan Mengambang. Singa Api bersayap tiga yang ditunggangi pemuda berambut perak itu meringkik ketakutan, lututnya gemetar hingga ia jatuh tersungkur ke lantai, menjatuhkan tuannya.

Pemuda berambut perak itu merangkak mundur, wajahnya yang tadi sombong kini pucat pasi layaknya mayat. Kipas gioknya telah hancur. Ia tidak bisa memahami apa yang baru saja ia lihat. Sihir apa yang bisa menghapus ratusan ahli Alam Langit dalam sekejap tanpa fluktuasi Qi yang masif?!

“K-Kau… monster apa kau?!” jerit pemuda itu, mencoba memadatkan Qi Alam Langit Puncaknya untuk melarikan diri.

Lin Tian melangkah maju dengan santai. Kecepatannya terlihat lambat, namun dalam satu langkah, ia telah membelah ruang dan muncul tepat di depan pemuda tersebut. Ia menginjak dada pemuda itu, meremukkan tulang rusuknya hingga terdengar suara retakan yang mengerikan.

“GAHHHH!” Pemuda itu memuntahkan darah segar yang berkilau keemasan.

“Aku adalah pupuk untuk tanaman spiritualmu,” bisik Lin Tian dingin, menatap lurus ke mata pemuda yang ketakutan itu. “Sekarang, aku memiliki beberapa pertanyaan tentang hirarki di surga kecil kalian ini. Jika kau berbohong, aku akan memastikan jiwamu dihancurkan berulang-ulang hingga akhir waktu.”

Lin Tian tidak menunggu jawaban lisan. Ia langsung menancapkan lima jarinya ke dahi pemuda tersebut.

“Seni Kaisar Naga: Pencabutan Memori Surga!”

Daya hisap yang luar biasa brutal dari lautan bintang di dalam Dantian Lin Tian meledak, menarik keluar bukan hanya Qi, melainkan kepingan jiwa dan memori dari pemuda itu. Rasa sakit dari jiwa yang dibongkar paksa membuat pemuda itu mengejang hebat, bola matanya berputar ke atas, dan darah mengalir dari semua lubang di wajahnya.

Dalam hitungan detik, ribuan tahun informasi membanjiri pikiran Lin Tian.

Ia melihat struktur Benua Langit Tinggi. Tempat ini dibagi menjadi Sembilan Wilayah Surgawi (Nine Celestial Domains), masing-masing dikuasai oleh seorang Penguasa Ilahi (Divine Sovereign). Di atas mereka, duduk Tiga Kaisar Dewa Tertinggi yang menguasai Inti Kosmik.

Pemuda di bawah kakinya ini bernama Yun Che, putra dari Penguasa Kota Awan Mengambang, yang merupakan wilayah bawahan dari Domain Angin Suci.

Setelah mendapatkan semua informasi yang ia butuhkan, Lin Tian melepaskan cengkeramannya. Tubuh pemuda itu telah menjadi cangkang kosong tanpa jiwa, mati dengan ekspresi teror permanen.

Lin Tian berdiri tegak, matanya memancarkan kilatan galaksi yang menakutkan. Ia menoleh ke arah Bai Xue yang perlahan berjalan mendekatinya.

“Dunia ini dikuasai oleh Sembilan Penguasa dan Tiga Kaisar Dewa,” ucap Lin Tian, seringai tiraninya kembali mengembang. “Kota ini hanyalah ujung kuku dari wilayah Domain Angin Suci. Sangat luas, sangat kuat, dan sangat kaya akan energi.”

“Sebuah tempat berburu yang sempurna,” Bai Xue menyimpulkan dengan nada dingin, pedang esnya berdenting pelan merespons niat bertarung di udara. “Ke mana kita akan pergi pertama kali?”

Lin Tian menendang mayat pemuda itu ke samping, lalu menatap lurus ke arah pusat Kota Awan Mengambang yang megah, di mana sebuah istana raksasa melayang di atas awan.

“Pemuda ini adalah putra penguasa kota ini. Ayahnya pasti memiliki perbendaharaan yang dipenuhi oleh sumber daya Benua Atas,” Lin Tian mengepalkan tinjunya, memancarkan percikan Niat Kehancuran yang membuat ruang di sekitarnya bergetar. “Kita akan mengambil alih kota ini, menguras semua kekayaannya, dan menggunakan istana mereka sebagai batu pijakan untuk meruntuhkan Sembilan Wilayah Surgawi.”

Sang Tiran Naga melangkah masuk ke dalam Kota Awan Mengambang. Tidak ada lagi sembunyi-sembunyi. Tidak ada lagi penyamaran. Perang penaklukan di Benua Langit Tinggi telah resmi dimulai, dan darah para dewa akan segera mewarnai awan-awan suci ini menjadi merah pekat.