Bab 37: Invasi Istana Awan dan Runtuhnya Kesombongan Dewa
Kota Awan Mengambang adalah keajaiban arsitektur yang tidak mungkin terbayangkan oleh akal sehat penghuni Benua Cakrawala. Jalanan utamanya tidak terbuat dari tanah atau batu biasa, melainkan hamparan kristal giok putih yang memancarkan pendaran Qi suci secara terus-menerus. Bangunan-bangunan pencakar langit di kiri dan kanan jalan melayang tanpa fondasi fisik, ditopang sepenuhnya oleh formasi elemen angin dan gravitasi tingkat dewa. Air terjun spiritual mengalir ke atas, melawan hukum alam, menyebarkan kabut tipis yang jika dihirup oleh seorang manusia fana, akan langsung memperpanjang umurnya hingga ratusan tahun.
Di dunia ini, setiap penduduk biasa—bahkan pedagang kaki lima atau pelayan kedai—memiliki kultivasi setidaknya di Alam Pembentukan Qi atau Alam Bumi. Mereka yang berjalan dengan kepala tegak di jalanan ini rata-rata berada di Alam Langit. Ini adalah surga. Ini adalah dunia para dewa.
Namun hari ini, surga tersebut kedatangan seorang tiran yang berniat mengubah jalanan emas mereka menjadi sungai darah.
Lin Tian melangkah menyusuri jalanan kristal giok tersebut dengan ritme yang lambat dan teratur. Jubah hitamnya yang dihiasi noda darah perak dari para penjaga gerbang berkibar pelan. Ia tidak repot-repot menyembunyikan hawa keberadaannya. Di dalam Dantiannya, lautan galaksi yang menggantikan Inti Bumi-nya berputar, memancarkan tekanan spiritual Alam Langit Tingkat Awal yang telah dimurnikan dengan garis keturunan Naga Surgawi.
Tekanan itu tidak menyebar seperti angin, melainkan menekan ke bawah seperti gunung besi yang tak terlihat.
Setiap kali sepatu bot Lin Tian menghantam kristal giok, jalanan itu retak, mengirimkan gelombang kejut yang membuat para penduduk kota di sekitarnya jatuh berlutut. Mereka memuntahkan darah, organ dalam mereka terguncang oleh resonansi langkah kaki sang Tiran. Mata para kultivator lokal membelalak ngeri melihat pemuda berjubah hitam dan wanita bersayap es yang berjalan di belakangnya.
“S-Siapa mereka?! Kenapa penjaga kota membiarkan monster seperti itu masuk?!” jerit seorang pedagang pil tingkat Surga yang lapaknya baru saja hancur akibat tekanan aura Lin Tian.
“Darah… dia berlumuran darah perak milik Penjaga Gerbang Ascension! Dan di tangannya… itu… itu kipas giok milik Tuan Muda Yun Che!” teriak seorang kultivator Alam Langit yang mengenali sisa-sisa pusaka di tangan Lin Tian.
Berita tentang kematian putra Penguasa Kota menyebar layaknya wabah mematikan di tengah kerumunan. Kepanikan yang melumpuhkan akal sehat segera menggantikan kedamaian kota tersebut. Ribuan penduduk terbang melarikan diri, menjauhi jalur yang sedang dilewati oleh Lin Tian dan Bai Xue, menciptakan sebuah koridor kosong yang mengarah lurus ke pusat kota.
Di pusat Kota Awan Mengambang, menjulang sebuah istana raksasa yang terbuat dari emas putih dan zamrud. Istana itu mengambang di atas sebuah pusaran angin topan raksasa, dilindungi oleh tiga lapis kubah energi yang memancarkan hukum elemen angin dan petir. Itulah Istana Penguasa Kota, pusat kekuasaan mutlak di wilayah pinggiran Domain Angin Suci.
Lin Tian dan Bai Xue tiba di depan jembatan cahaya yang menghubungkan jalanan utama dengan pelataran istana tersebut. Di ujung jembatan, sepuluh ribu Pasukan Badai Ilahi—pasukan elit pribadi Penguasa Kota yang semuanya berada di Alam Nirvana Tingkat Puncak—telah memblokade jalan. Mereka menunggangi monster spiritual Harimau Angin Bersayap yang mengaum ganas, memamerkan taring-taring yang mampu merobek baja.
“Berhenti di sana, iblis pembangkang!” raung Komandan Pasukan Badai Ilahi, seorang pria raksasa yang memegang kapak ganda berlapis petir. “Kalian telah membunuh Tuan Muda Yun Che! Istana ini akan menjadi kuburan kalian! Aktifkan Formasi Pembantai Dewa Seribu Angin!”
Ribuan prajurit itu serentak memukulkan senjata mereka ke perisai. Badai topan raksasa seketika terbentuk di atas jembatan cahaya, memadat menjadi puluhan ribu bilah angin yang masing-masing memiliki ketajaman untuk membelah seorang dewa menjadi dua. Formasi itu ditenagai oleh Qi kosmik Benua Atas, membuatnya seratus kali lipat lebih mematikan daripada formasi angin apa pun yang pernah dihadapi Lin Tian di dunia bawah.
Namun, menghadapi badai pembantaian tingkat dewa tersebut, Lin Tian tidak menghentikan langkahnya. Ia bahkan tidak memanggil Sarung Tangan Pembelah Bintang.
“Kalian menyebut hembusan napas serangga ini sebagai badai?” Lin Tian tertawa rendah, sebuah ejekan murni yang menggetarkan udara.
Mata keemasan Lin Tian menyala terang. Ia merentangkan tangan kanannya ke depan, kelima jarinya terbuka lebar. Niat Kehancuran Naga yang berwarna kelabu keemasan meledak dari lautan bintang di dalam Dantiannya, mengalir deras ke telapak tangannya.
“Jika kalian menyukai angin, maka aku akan memberikan kalian angin kehancuran!”
Lin Tian mengayunkan tangannya dengan gerakan menebas dari kiri ke kanan.
“Seni Kehancuran: Sapuan Ekor Naga Kosmik!”
Sebuah bilah energi berwarna abu-abu keemasan yang panjangnya mencapai seribu kaki melesat keluar dari tangan Lin Tian. Bilah energi itu tidak memancarkan panas atau dingin, melainkan sebuah hukum peniadaan eksistensi yang absolut.
Saat bilah kehancuran itu berbenturan dengan Formasi Pembantai Dewa Seribu Angin, fenomena yang membekukan jiwa kembali terjadi. Badai topan yang mengamuk itu terbelah menjadi dua. Bilah angin dewa yang mencoba menahan serangan Lin Tian langsung terurai menjadi debu kosmik.
Sapuan energi Lin Tian terus melaju tanpa hambatan, memotong melintasi jembatan cahaya dan langsung menghantam barisan sepuluh ribu Pasukan Badai Ilahi.
SRAAAAT… BZZZZZT!
Suara sobekan ruang terdengar memekakkan telinga. Garis kehancuran itu melewati tubuh barisan terdepan, menembus komandan raksasa, dan terus menyapu hingga ke gerbang istana.
Selama sedetik, semuanya tampak membeku. Kemudian, bagian atas tubuh sang Komandan beserta ribuan prajurit dan monster tunggangan mereka perlahan bergeser, lalu jatuh berdebum ke lantai. Zirah dewa mereka, tubuh abadi mereka, dan senjata surgawi mereka dipotong menjadi dua dengan kehalusan tingkat molekuler. Darah perak menyembur seperti air mancur raksasa, membasahi jembatan cahaya hingga berubah warna menjadi merah pekat.
Satu tebasan kasual, dan setengah dari formasi penjaga istana dimusnahkan.
Sisa prajurit yang masih hidup di barisan belakang menjatuhkan senjata mereka, jatuh berlutut dengan wajah pucat pasi. Pikiran mereka tidak mampu memproses kekuatan destruktif yang baru saja mereka saksikan. Seorang pemuda di Alam Langit Tingkat Awal baru saja menghancurkan formasi Alam Dewa Semu hanya dengan lambaian tangan!
“Bai Xue, bersihkan sisa sampah yang menghalangi jalan masuk,” perintah Lin Tian santai, melangkah melewati tumpukan mayat yang terbelah.
Sang Ratu Es mengangguk. Ia tidak membuang waktu. Sayap esnya membentang, dan suhu udara di sekitar pelataran istana merosot tajam.
“Domain Es Ilahi: Kematian Kristal Bisu.”
Gelombang udara beku menyapu sisa-sisa pasukan. Dalam sekejap mata, ribuan prajurit elit yang tersisa membeku menjadi patung-patung es transparan. Bai Xue kemudian menjentikkan jarinya, dan patung-patung itu pecah berkeping-keping, hancur menjadi debu salju yang berhamburan ke dalam pusaran topan di bawah istana. Tidak ada belas kasihan. Di Benua Langit Tinggi, menunjukkan kelemahan berarti mengundang kematian.
Mereka tiba di depan gerbang utama Istana Penguasa Kota yang terbuat dari Logam Emas Astral. Gerbang itu tingginya mencapai tiga ratus kaki, dihiasi oleh ukiran naga angin yang memancarkan pendaran sihir pertahanan tingkat tinggi.
Sebelum Lin Tian sempat mengangkat tangannya untuk mendobrak gerbang itu, pintu logam raksasa tersebut meledak dari dalam ke luar!
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHH!
Pecahan logam seukuran bukit terlempar ke arah Lin Tian dan Bai Xue dengan kecepatan peluru. Lin Tian hanya mendengus, melepaskan gelombang Qi dari tubuhnya yang membelah puing-puing logam itu menjadi dua, membiarkannya meleset melewati mereka.
Dari dalam istana yang kini berlubang menganga, melangkah keluar sesosok pria paruh baya yang memancarkan amarah yang bisa membakar lautan. Ia mengenakan jubah kebesaran berwarna cyan yang dihiasi pola badai petir. Di tangannya tergenggam sebuah tombak trisula yang dialiri oleh petir biru pekat.
Setiap kali pria itu melangkah, ruang di sekitarnya retak dan melengkung, menciptakan miniatur lubang hitam di telapak kakinya. Auranya tidak lagi berada di Alam Langit atau Alam Nirvana. Ini adalah aura ilahi yang sesungguhnya.
Alam Dewa Sejati (True Divine Realm) Tingkat Awal.
Ia adalah Yun Canghai, Penguasa Kota Awan Mengambang dan ayah dari Yun Che.
“SEEEEMUUUUUT!” Raungan Yun Canghai bukan sekadar suara; itu adalah manifestasi dari Hukum Badai tingkat dewa. Suara itu merobek gendang telinga dan mencoba menghancurkan lautan kesadaran Lin Tian.
“Kau berani membunuh putra kesayanganku?! Kau berani menginjakkan kaki kotormu di wilayah kekuasaanku?!” Yun Canghai menatap Lin Tian dengan mata yang memancarkan petir biru. Slip giok jiwa putranya telah hancur beberapa saat yang lalu, dan rasa sakit kehilangan itu mengubah sang penguasa kota menjadi monster yang mengamuk. “Aku tidak peduli dari lubang dimensi mana kau merangkak keluar. Hari ini, aku akan mencabut jiwamu, mengikatnya di puncak pilar petir, dan menyiksamu selama seratus ribu tahun!”
Menghadapi kemurkaan seorang ahli Alam Dewa Sejati—eksistensi yang mampu meratakan seluruh Benua Cakrawala hanya dengan satu kedipan mata—Lin Tian sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar. Seringai tiran di wajahnya justru semakin melebar. Ini adalah ujian yang ia nantikan. Ia ingin tahu sejauh mana batas kekuatan fisik dan Niat Kehancuran Naga-nya saat dihadapkan pada hukum dewa yang sesungguhnya.
“Putramu mati karena dia memiliki mulut yang terlalu besar untuk ukuran kepalanya,” Lin Tian menyilangkan tangannya di depan dada, menatap sang dewa fana dengan arogansi mutlak. “Dan sepertinya penyakit itu menurun dari ayahnya. Seratus ribu tahun? Kau tidak akan hidup lebih dari sepuluh menit dari sekarang.”
“MATI KAU, KEPARAT!”
Yun Canghai tidak membuang waktu untuk berdebat. Ia mengayunkan tombak trisulanya ke arah langit.
“Domain Dewa Sejati: Penjara Badai Petir Ilahi!”
Langit di atas Istana Penguasa Kota seketika berubah menjadi lautan awan hitam yang memutar pusaran petir biru pekat. Ribuan pilar petir raksasa menyambar turun, membentuk sebuah sangkar kosmik yang mengunci area seluas sepuluh mil. Petir ini bukan elemen alam biasa; ini adalah Petir Penghakiman, hukum yang mampu menghancurkan fondasi kultivasi lawan menjadi ketiadaan.
Lin Tian dan Bai Xue terkurung di dalam penjara badai tersebut. Suhu melonjak ekstrem, dan tekanan gravitasi di dalam domain itu meningkat hingga jutaan kali lipat. Bai Xue terpaksa mundur hingga ke tepi domain, menggunakan seluruh kekuatan esnya untuk menciptakan kubah pelindung absolut hanya agar kulitnya tidak terbakar oleh radiasi petir ilahi tersebut.
“Ini adalah wilayah dewa!” Yun Canghai melayang di udara, matanya memancarkan kilatan petir maut. “Di dalam domainku, aku adalah hukum yang absolut! Terbakarlah menjadi abu!”
Yun Canghai mengarahkan trisulanya ke Lin Tian. Ribuan naga petir biru melesat dari awan badai, menukik lurus ke arah pemuda berjubah hitam itu dengan kecepatan cahaya.
Lin Tian mendongak menatap hujan naga petir tersebut. Ia akhirnya menurunkan kedua tangannya. Kilatan emas murni meledak dari matanya.
“Hukum absolut?” Lin Tian mengepalkan kedua tinjunya. Sarung Tangan Pembelah Bintang bermanifestasi, menyala dengan intensitas api kosmik. “Satu-satunya hukum yang absolut di dunia ini adalah siapa yang memiliki tinju paling keras!”
Lin Tian menghentakkan kedua kakinya. Lantai istana yang terbuat dari logam ilahi melesak ke dalam sedalam puluhan meter. Dengan daya tolak yang menghancurkan struktur ruang, Lin Tian melesat ke atas, menantang badai petir dewa secara frontal.
Tubuh Sisik Naga Perak-nya diaktifkan hingga batas ekstrem. Pendaran perak metalik yang menyelimuti kulitnya memancarkan aura primordial. Saat naga-naga petir biru itu menghantam tubuhnya, mereka tidak menembus kulitnya. Ledakan energi dewa meletus bertubi-tubi, menutupi tubuh Lin Tian dalam bola api petir yang menyilaukan.
“Hahahaha! Tubuh Alam Langit yang bodoh! Kau akan diuapkan!” tawa Yun Canghai bergema di dalam badai.
Namun, tawanya tercekik di tenggorokan saat ia melihat sebuah bayangan emas merobek bola api petir tersebut.
Lin Tian menerjang keluar dari ledakan tanpa satu pun luka yang berarti. Sisik perak di kulitnya menyerap sebagian besar elemen petir, sementara sisa energi destruktifnya dimentahkan oleh Niat Kehancuran Naga yang melapisi tubuhnya seperti zirah tak kasatmata.
“Giliranku, dewa palsu!” raung Lin Tian.
Kecepatan Lin Tian merobek hukum ruang di dalam domain tersebut. Ia muncul tepat di hadapan Yun Canghai sebelum penguasa kota itu bisa memanggil perisai anginnya.
Tangan kanan Lin Tian yang terbungkus Sarung Tangan Pembelah Bintang, diselimuti oleh aura kelabu keemasan yang luar biasa pekat, melontarkan pukulan lurus ke arah dada Yun Canghai.
“Seni Kehancuran: Bintang Pemusnah!”
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH!
Tabrakan antara fisik Naga Surgawi dan tubuh Dewa Sejati menciptakan ledakan sonik yang menghilangkan seluruh suara di dalam Domain Badai Petir.
Trisula petir milik Yun Canghai secara instingtual bergerak untuk menangkis pukulan Lin Tian. Namun, saat tinju kehancuran itu menyentuh gagang trisula tingkat dewa tersebut, senjata pusaka itu melengkung parah sebelum akhirnya patah menjadi dua bagian dengan suara retakan yang menyayat hati.
Momentum tinju Lin Tian sama sekali tidak berkurang. Pukulan itu mendarat telak di dada Yun Canghai.
KRAAAAK!
Zirah ilahi yang dikenakan sang penguasa kota hancur menjadi debu. Tulang rusuknya remuk serentak ke dalam, menusuk paru-paru dan jantungnya. Niat Kehancuran Naga merayap ke dalam meridian dewanya, menghancurkan sirkulasi Qi ilahinya bagaikan racun yang mematikan.
“GAAAAAAARRRGGGHHH!”
Jeritan penderitaan yang memilukan meluncur dari mulut sang dewa sejati. Tubuh Yun Canghai terhempas ke belakang, meluncur dengan kecepatan meteor, menghantam dinding utama Istana Penguasa Kota hingga menembus puluhan lapis tembok tebal sebelum akhirnya tertanam di dalam pilar giok raksasa di ruang tahta.
Domain Badai Petir Ilahi bergetar hebat sebelum akhirnya pecah dan memudar seperti cermin yang kehilangan sihirnya. Sinar matahari kembali menyinari pelataran istana yang kini telah hancur lebur.
Lin Tian mendarat perlahan, napasnya sedikit memburu. Menghancurkan Domain Dewa Sejati memang membutuhkan konsumsi energi yang masif, namun lautan bintang di dalam Dantiannya dengan cepat memompa Qi baru untuk memulihkan staminanya.
Ia berjalan dengan ritme pelan melintasi puing-puing istana, menuju ke ruang tahta yang kini telah berlubang menganga. Di sana, Yun Canghai tergelincir turun dari pilar giok, darah biru dewa menetes dari mulut, mata, dan hidungnya. Dada penguasa kota itu melesak parah. Ia berusaha bangkit, namun meridiannya telah terputus oleh Niat Kehancuran.
“K-Kau… mustahil…” Yun Canghai memuntahkan darah, matanya dipenuhi oleh teror yang membekukan kewarasannya. “Alam Langit… tidak mungkin memiliki kekuatan fisik yang bisa menghancurkan tubuh Dewa Sejati… Garis keturunan apa kau ini?!”
Lin Tian berdiri di depan Yun Canghai, menunduk menatap sang penguasa kota dengan pandangan kosong, persis seperti tatapan yang ia berikan pada setiap semut yang pernah ia injak.
“Garis keturunan yang akan mengakhiri eramu,” jawab Lin Tian dingin.
Tanpa ragu sedikit pun, Lin Tian menempelkan telapak tangannya tepat di atas dahi Yun Canghai.
“T-TIDAAAK! HENTIKAN! JIKA KAU MEMBUNUHKU, PENGUASA DOMAIN ANGIN SUCI AKAN MEMBURUMU—”
“Aku sangat menantikannya.”
Mutiara Naga Surgawi meledak dengan daya hisap yang melampaui batas kewarasan. Esensi kehidupan, Qi Dewa Sejati yang luar biasa murni, dan jiwa dewa milik Yun Canghai ditarik paksa dari tubuhnya. Asap energi berwarna biru dan emas mengalir deras ke dalam telapak tangan Lin Tian, menghidupkan lautan bintang di dalam Dantiannya hingga memancarkan cahaya supernova.
Rasa sakit dari pencabutan jiwa dewa membuat Yun Canghai berteriak hingga pita suaranya robek, sebelum akhirnya tubuhnya mengering sepenuhnya dan berubah menjadi tumpukan abu putih yang tertiup angin kehancuran.
Lin Tian memejamkan matanya. Kepadatan energi dari Alam Dewa Sejati adalah bahan bakar kualitas tertinggi yang pernah ia konsumsi. Fluktuasi kultivasinya melonjak liar, menembus batas-batas alam secara paksa.
KRETAK!
Alam Langit Tingkat Menengah!
Peningkatannya tidak berhenti. Energi dewa itu terus mendorongnya.
BUMMM!
Alam Langit Tingkat Puncak!
Hanya dalam satu pertarungan, Lin Tian melompati seluruh tahapan Alam Langit dan berdiri kokoh di puncaknya. Ia membuka matanya, dan sepasang pupil emasnya kini memancarkan aura dewa perang mutlak yang tidak terikat oleh aturan Langit Tinggi.
Ia membungkuk, mengambil cincin spasial berlapis emas murni dari sisa abu Yun Canghai, lalu melangkah menuju singgasana giok raksasa di ujung ruangan yang secara ajaib masih utuh.
Lin Tian duduk di atas Singgasana Penguasa Kota Awan Mengambang. Ia menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke arah langit Benua Atas melalui atap istana yang hancur. Bai Xue berjalan masuk ke dalam ruang tahta, melangkah melewati puing-puing, dan berdiri di samping takhta tersebut.
“Kita telah mengambil alih kota ini,” ucap Bai Xue tenang, pedang esnya menghilang ke dalam tubuhnya. “Tapi kematian seorang Penguasa Kota tidak akan bisa ditutupi. Wilayah Angin Suci akan mengirimkan armada dewa sejati untuk meratakan tempat ini.”
Lin Tian memutar cincin spasial di jarinya, seringai predator terukir di bibirnya.
“Biarkan mereka datang. Istana ini sekarang adalah bentengku. Gunakan harta di dalam cincin ini untuk mengonsolidasikan kekuatanmu, Bai Xue. Kita akan mengubah Kota Awan Mengambang ini menjadi kuburan raksasa bagi siapa pun yang cukup bodoh untuk menantang Tiran Naga.”