Bab 38: Harta Rampasan Ilahi dan Bayangan Armada Penghukum Surga

Ukuran:
Tema:

Ruang tahta Istana Penguasa Kota Awan Mengambang, yang beberapa saat lalu merupakan pusat otoritas tertinggi di wilayah pinggiran Domain Angin Suci, kini tak lebih dari sebuah monumen kehancuran. Pilar-pilar giok raksasa yang menopang langit-langit telah patah, ukiran naga angin yang menghiasi dinding hancur menjadi debu, dan singgasana emas astral tempat Lin Tian duduk kini dikelilingi oleh kawah-kawah bekas ledakan petir ilahi.

Namun, di tengah puing-puing kesombongan dewa itu, sang Tiran Naga duduk dengan ketenangan yang absolut.

Lin Tian memutar cincin spasial berlapis emas murni milik Yun Canghai di antara jari-jarinya. Untuk seorang ahli di Alam Dewa Sejati, Yun Canghai memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi; cincin itu dilindungi oleh segel jiwa ilahi tingkat dewa yang akan meledakkan isinya jika dibuka paksa oleh seseorang yang kultivasinya berada di bawah Alam Dewa Sejati.

Sayangnya bagi Yun Canghai, Niat Kehancuran Naga tidak tunduk pada aturan kultivasi.

Lin Tian menyuntikkan seutas Niat Kehancuran berwarna abu-abu keemasan ke dalam cincin tersebut. Segel jiwa ilahi yang rumit itu menjerit pelan sebelum akhirnya terurai menjadi ketiadaan, membuka akses penuh ke dalam perbendaharaan pribadi sang Penguasa Kota.

Kesadaran Lin Tian menyapu isi cincin tersebut, dan bahkan untuk seorang tiran yang baru saja menguras perbendaharaan kekaisaran di Benua Bawah, ia tidak bisa menyembunyikan seringai kepuasannya.

“Benua Langit Tinggi benar-benar tidak mengecewakan,” gumam Lin Tian. Suaranya bergema pelan di ruang tahta yang kosong.

Di dalam dimensi cincin itu, terhampar gunung-gunung Kristal Asal Ilahi (Divine Origin Crystals)—batu energi yang kualitasnya jutaan kali lipat lebih padat daripada batu spiritual tingkat puncak di Benua Cakrawala. Terdapat lebih dari lima puluh juta bongkah kristal tersebut. Selain itu, ada ratusan gulungan teknik bela diri tingkat Ilahi, ribuan botol pil dewa yang memancarkan pendaran cahaya kosmik, dan puluhan senjata pusaka Alam Dewa Sejati.

Yun Canghai pada dasarnya membawa seluruh kekayaan Kota Awan Mengambang di jarinya.

Lin Tian menjentikkan jarinya, menarik keluar sebuah kotak batu giok es yang memancarkan hawa dingin luar biasa ekstrem. Begitu kotak itu muncul di dunia nyata, suhu di dalam ruang tahta anjlok hingga membekukan uap air di udara menjadi serpihan salju abadi. Di dalam kotak transparan itu, bersemayam sebuah bunga teratai yang kelopaknya terbuat dari kristal es murni, memancarkan sembilan lapis lingkaran cahaya.

“Teratai Salju Sembilan Kematian Ilahi,” Bai Xue melangkah mendekat, matanya yang sebiru safir membelalak sedikit melihat keajaiban alam surgawi tersebut. Bahkan napasnya yang dingin terasa bergetar. “Ini adalah harta karun tingkat Dewa Sejati kelas atas. Legenda mengatakan bunga ini hanya tumbuh di pusat badai kosmik setiap sepuluh ribu tahun sekali. Energi Yin di dalamnya cukup untuk membekukan lautan sebuah benua.”

“Dan sekarang, benda ini milikmu,” Lin Tian melemparkan kotak giok itu kepada Bai Xue dengan santai, seolah ia hanya melempar sebongkah batu jalanan. “Garis keturunan esmu dan kultivasi Puncak Alam Langit-mu tidak akan cukup untuk bertahan di pertempuran selanjutnya. Ambil teratai itu, gunakan seluruh Kristal Asal Ilahi berelemen air di dalam cincin ini, dan masuki meditasi tertutup. Ada ruang mata air spiritual di ruang bawah tanah istana ini yang urat nadinya belum hancur.”

Bai Xue menangkap kotak itu dengan kedua tangannya. Ia menatap Lin Tian lekat-lekat. Ia tahu bahwa jika Lin Tian menelan teratai itu, pusaran Mutiara Naga di dalam Dantiannya akan dengan mudah mengonversinya menjadi kekuatan murni. Namun, sang Tiran memilih untuk memberikannya padanya.

“Aku akan mengonsolidasikan kekuatanku dan menembus Alam Nirvana,” ucap Bai Xue tegas, tidak ada keraguan dalam suaranya. “Saat aku keluar dari ruangan itu, pedangku akan cukup dingin untuk memenggal kepala dewa-dewa mereka.”

“Bagus. Jangan biarkan aku menunggu terlalu lama,” Lin Tian tersenyum buas. “Karena tamu-tamu kita dari pusat Domain Angin Suci pasti sudah dalam perjalanan.”

Bai Xue mengangguk, lalu berbalik dan menghilang ke dalam bayang-bayang koridor istana yang mengarah ke ruang bawah tanah, meninggalkan Lin Tian sendirian di ruang tahta.

Setelah Bai Xue pergi, Lin Tian kembali bersandar di singgasananya. Ia memejamkan mata, membiarkan kesadarannya tenggelam ke dalam Dantiannya. Di sana, lautan bintang yang baru saja terbentuk dari hancurnya Inti Bumi berputar dengan keagungan primordial. Proyeksi rasi bintang berbentuk naga meliuk-liuk di atas hamparan kosmik tersebut, mengaum tanpa suara.

Berada di Alam Langit Tingkat Puncak, fisik Lin Tian telah berevolusi secara fundamental. Tubuh Sisik Naga Perak-nya kini terintegrasi langsung dengan hukum ruang. Ia bisa merasakan setiap getaran partikel debu, setiap aliran angin, dan setiap denyut nadi dari jutaan jiwa yang bersembunyi ketakutan di sudut-sudut Kota Awan Mengambang.

Alih-alih langsung menyerap sisa lima puluh juta Kristal Asal Ilahi untuk menembus Alam Dewa Sejati, Lin Tian memilih pendekatan yang jauh lebih mengerikan.

“Menerobos batas dewa membutuhkan lebih dari sekadar tumpukan batu energi. Itu membutuhkan fondasi penaklukan, dan pemahaman absolut tentang kehancuran,” pikir Lin Tian.

Ia melebarkan persepsi jiwanya, menembus jauh ke dalam batuan dasar tempat Istana Penguasa Kota ini melayang. Di kedalaman sana, terdapat Inti Formasi Kota—sebuah jantung mekanis raksasa yang ditenagai oleh urat nadi kosmik Benua Langit Tinggi, dirancang untuk melindungi kota dari invasi luar dan mempertahankan agar kota ini tetap mengambang di udara.

Lin Tian tidak menghancurkan inti formasi itu. Ia meretasnya.

Dari atas singgasananya, Lin Tian mengulurkan tangan kanannya ke bawah. Niat Kehancuran Naga yang mematikan menetes dari ujung jarinya, meresap ke dalam lantai giok, merayap layaknya jutaan benang laba-laba berwarna abu-abu keemasan yang menembus hingga ke jantung formasi kota.

Hukum pertahanan suci yang ditanamkan oleh dewa-dewa kuno di dalam inti formasi itu mencoba melawan, namun di hadapan dominasi mutlak Kaisar Naga Surgawi, mereka dikikis dan diubah bentuknya. Lin Tian membalikkan polaritas formasi tersebut. Alih-alih menjadi perisai yang melindungi kota dari luar, formasi raksasa itu kini diubah menjadi sebuah jebakan pembantaian tertutup yang akan mencabik-cabik siapa pun yang berani melangkah masuk ke dalam radius kota.

“Sebuah sangkar daging untuk dewa-dewa terbang,” senyum Lin Tian melebar saat ia merasakan koneksi absolut antara lautan bintang di Dantiannya dengan seluruh infrastruktur Kota Awan Mengambang. Kota ini tidak lagi sekadar wilayah taklukan; kota ini telah menjadi perpanjangan dari senjatanya.


Sementara Lin Tian mengubah sebuah metropolis ilahi menjadi mesin pembunuh raksasa, ratusan ribu mil jauhnya di pusat daratan, sebuah kepanikan dan kemurkaan yang tak terlukiskan sedang mengguncang Markas Besar Domain Angin Suci.

Istana Angin Suci adalah sebuah struktur kosmik yang mengambang di pusaran badai abadi. Menara-menaranya terbuat dari paduan awan padat dan kristal petir, menjulang tinggi menyentuh batas atmosfer atas. Di tempat ini, para dewa sejati berjalan seperti manusia biasa, dan keangkuhan adalah mata uang utama.

Di dalam Kuil Kehidupan—sebuah ruangan raksasa tempat jutaan slip giok jiwa para penguasa kota, jenderal, dan pejabat domain disimpan—suara ledakan yang sangat nyaring memecah keheningan yang telah berlangsung selama sepuluh ribu tahun.

PRANGGG!

Slip giok jiwa yang berada di barisan tengah, memancarkan ukiran nama “Yun Canghai”, meledak menjadi serbuk halus. Kehilangan cahayanya secara permanen.

Penjaga Kuil, seorang ahli Alam Dewa Sejati Tingkat Awal, terbelalak ngeri. Ia jatuh berlutut, tubuhnya bergetar hebat.

“Penguasa Kota Awan Mengambang… Yun Canghai… telah gugur?!” Penjaga itu memekik tak percaya.

Namun, mimpi buruk itu belum selesai. Tepat di sebelah slip giok Yun Canghai, slip giok milik putranya, Yun Che, juga telah menjadi debu. Lebih buruk lagi, ribuan slip giok sekunder yang mewakili sepuluh ribu Pasukan Badai Ilahi dan para Penjaga Gerbang Ascension juga padam secara bersamaan!

Hanya butuh waktu kurang dari setengah jam sebelum berita kehancuran absolut itu mencapai Aula Penghakiman Surgawi.

Duduk di atas takhta tertinggi Aula Penghakiman adalah Panglima Agung Lei Wujie, tangan kanan dari Penguasa Domain Angin Suci. Ia adalah eksistensi yang sangat menakutkan di Alam Dewa Sejati Tingkat Menengah, seorang raksasa setinggi empat meter dengan kulit berwarna kebiruan yang secara konstan memancarkan kilatan petir. Rambutnya adalah manifestasi dari badai itu sendiri, bergerak liar di sekitar wajahnya yang kejam.

Di bawahnya, ratusan jenderal ilahi berlutut, tidak ada satu pun yang berani bernapas terlalu keras.

“Yun Canghai terbunuh. Sepuluh ribu penjaga gerbang dimusnahkan. Seluruh komando militer Kota Awan Mengambang dihapus dari eksistensi,” suara Lei Wujie bergema seperti guntur yang memecah gunung. “Dan laporan intelijen spasial yang terakhir kali dipancarkan oleh mata formasi kota sebelum diputus secara paksa mengatakan… pelakunya hanyalah dua ekor tikus dari Benua Cakrawala yang baru saja naik melalui Gerbang Ascension?!”

“A-Ampun, Panglima Agung!” seorang Jenderal Intelijen memberanikan diri untuk berbicara, kepalanya tertunduk hingga menyentuh lantai. “Fluktuasi energi yang tercatat sangat anomali. Salah satu dari mereka memancarkan kekuatan fisik murni yang mampu menghancurkan Domain Dewa Sejati milik Yun Canghai dengan tangan kosong! Ia memegang hukum yang bisa meniadakan ruang dan sihir!”

“Omong kosong!” Lei Wujie membanting tinjunya ke sandaran takhtanya, menghancurkan pilar giok di sebelahnya menjadi debu kosmik. “Seorang fana yang baru naik tidak mungkin bisa menghancurkan tubuh Dewa Sejati, sehebat apa pun pusaka yang ia bawa! Yun Canghai pasti tertipu oleh formasi kuno atau diserang saat ia sedang lengah!”

Lei Wujie berdiri, matanya memancarkan niat membunuh yang membuat suhu di dalam aula melonjak drastis. Penghinaan ini bukan sekadar kehilangan satu kota; ini adalah tamparan telak ke wajah Domain Angin Suci. Jika wilayah lain mendengar bahwa salah satu kota pinggiran mereka direbut oleh makhluk dunia bawah, reputasi mereka sebagai penguasa kosmik akan hancur lebur.

“Siapkan Armada Penghukum Dewa!” raung Panglima Agung Lei Wujie, suaranya menembus hingga ke luar aula, menggerakkan ratusan ribu pasukan elit di seluruh markas besar. “Keluarkan seratus Kapal Perang Pembelah Bintang! Kumpulkan lima puluh ribu Pasukan Petir Penghancur Suci! Aku akan memimpin armada ini secara pribadi!”

Ratusan jenderal di aula serentak meninju dada mereka, memberikan hormat militer surgawi.

“Kita tidak akan sekadar membunuh tikus-tikus ini,” seringai kejam terukir di wajah Lei Wujie. “Kita akan mengepung Kota Awan Mengambang. Kita akan menggunakan Cermin Pemanggang Jiwa untuk membakar seluruh kota itu beserta semua warganya menjadi abu! Biarkan ini menjadi peringatan bagi seluruh Benua Langit Tinggi dan dunia bawah, bahwa keagungan Domain Angin Suci tidak bisa diinjak-injak oleh siapa pun!”


Empat hari kemudian.

Di Kota Awan Mengambang, suasana terasa seperti kota mati yang menunggu hari kiamat. Jutaan penduduk bersembunyi di dalam ruang bawah tanah atau formasi pelindung rumah mereka. Tidak ada aktivitas perdagangan, tidak ada kereta terbang yang melintas. Langit di atas kota begitu cerah, namun keheningan yang menyelimuti jalanan-jalanan kristal giok terasa lebih mencekik daripada badai.

Di puncak Istana Penguasa Kota yang hancur, Lin Tian berdiri di ujung balkon yang menjorok ke arah lautan awan. Ia mengenakan jubah hitam barunya yang terbuat dari Sutra Laba-laba Kosmik yang ia temukan di perbendaharaan, menambah kesan elegan dan mematikan pada sosoknya.

Ia memegang secangkir anggur spiritual berusia seribu tahun, mengayunkannya pelan sambil menatap garis cakrawala.

Tiba-tiba, fluktuasi energi dingin yang luar biasa murni meledak dari ruang bawah tanah istana. Suhu di seluruh penjuru kota merosot drastis hingga puluhan derajat di bawah nol. Lapisan es perak mulai merambat menutupi jalanan kristal, membekukan air terjun spiritual yang mengalir ke atas.

Dari balik bayang-bayang reruntuhan, Bai Xue melangkah keluar.

Ia tidak lagi terlihat seperti Saintess fana. Teratai Salju Sembilan Kematian Ilahi telah merombak fondasi tubuhnya secara absolut. Rambut hitamnya kini memancarkan kilau perak kebiruan di ujungnya. Gaun esnya lebih padat dan dihiasi oleh rune-rune ilahi kuno. Sepasang mata safirnya kini tidak hanya dingin, tetapi memancarkan tekanan absolut dari Alam Nirvana Tingkat Puncak. Ia telah melompati sebuah alam besar hanya dalam empat hari, menyerap puluhan ribu kristal ilahi untuk menstabilkan fisiknya.

“Kau terlihat siap membekukan dunia,” Lin Tian tidak menoleh, senyumannya tersirat saat ia menyesap anggur surgawinya.

“Energi di benua ini sangat kotor oleh arogansi, tapi sumber dayanya tidak bisa diremehkan,” Bai Xue melayang, mendarat dengan anggun di samping Lin Tian. Pedang es di tangannya kini memancarkan aura setingkat Pusaka Dewa Sejati. “Aku telah menyentuh batas hukum es ilahi. Kapan armada mereka tiba?”

Seolah alam semesta menjawab pertanyaan sang Ratu Es, langit di ujung cakrawala tiba-tiba menjadi gelap gulita.

Namun, itu bukanlah awan mendung.

Itu adalah bayangan dari seratus Kapal Perang Pembelah Bintang raksasa, masing-masing sepanjang puluhan mil, terbuat dari paduan logam ilahi gelap yang memancarkan kilatan petir biru. Armada itu bergerak dalam formasi segitiga absolut, menutupi matahari, diiringi oleh suara gemuruh mesin kosmik yang menggetarkan batuan fondasi Kota Awan Mengambang.

Tekanan aura dari lima puluh ribu prajurit elit Dewa Sejati dan puluhan jenderal kosmik menyapu ke arah kota bagaikan tsunami kiamat. Di geladak kapal utama yang terbesar, berdiri Panglima Agung Lei Wujie dengan kapak petirnya, memancarkan niat membunuh yang menyelimuti seluruh kota.

“Mereka mengirim satu armada penuh untuk menghancurkan satu kota,” Bai Xue memandang armada yang menggelapkan langit itu dengan mata menyipit. “Penguasa Domain Angin Suci tidak berniat menangkap kita. Mereka berniat memusnahkan kota ini dari peta.”

Lin Tian perlahan menurunkan cangkir anggurnya. Ia membuang cangkir itu ke bawah, membiarkannya pecah berkeping-keping di atas lantai marmer.

Ia merentangkan kedua tangannya. Di udara, formasi raksasa Kota Awan Mengambang yang telah diretasnya beresonansi dengan detak Inti Naga Surgawi-nya. Kota yang tadinya mati, tiba-tiba memancarkan cahaya abu-abu keemasan dari setiap pori-pori jalannya.

“Mereka membawa armada untuk memusnahkan kita,” Lin Tian tertawa, suara tawanya membesar hingga mengalahkan gemuruh armada kosmik yang mendekat. Seringai tiran di wajahnya adalah hal terakhir yang ingin dilihat oleh musuh mana pun sebelum mereka mati. “Sempurna! Aku benci harus mencari mereka satu per satu. Biarkan langit berdarah hari ini, Bai Xue. Mari kita sambut dewa-dewa ini di dalam sangkar daging mereka!”