Bab 39: Jaring Kematian Raksasa dan Runtuhnya Armada Bintang
Seratus Kapal Perang Pembelah Bintang mengambang bagaikan leviathan kosmik yang menutupi matahari di atas Kota Awan Mengambang. Masing-masing kapal raksasa itu terbuat dari Paduan Logam Bintang Gelap yang kebal terhadap serangan ahli Alam Langit mana pun. Di lambung-lambung kapal tersebut, moncong-moncong meriam raksasa yang ditenagai oleh Kristal Asal Ilahi telah menyala, memancarkan pendaran petir biru yang siap membumihanguskan seluruh metropolis di bawahnya.
Tekanan aura gabungan dari lima puluh ribu Pasukan Petir Penghancur Suci dan puluhan jenderal kosmik menciptakan anomali cuaca. Awan-awan tersapu bersih, digantikan oleh jaring-jaring petir yang menyambar liar di langit. Jutaan penduduk Kota Awan Mengambang yang bersembunyi di ruang bawah tanah menangis dalam keputusasaan. Mereka tahu, ketika Armada Penghukum Dewa diturunkan, tidak ada pengadilan atau negosiasi. Hanya ada pemusnahan absolut.
Di anjungan utama kapal bendera (flagship) yang ukurannya tiga kali lipat lebih besar dari kapal lainnya, Panglima Agung Lei Wujie berdiri dengan angkuh. Kapak petir raksasanya bersandar di bahunya. Mata birunya yang menyala menatap lurus ke arah balkon Istana Penguasa Kota yang kini telah hancur, di mana dua sosok kecil berdiri menantang langit.
“Bocah fana!” Suara Lei Wujie diperkuat oleh formasi pengeras suara kapal, menggema ke seluruh penjuru langit dan bumi, meremukkan kaca-kaca jendela di seluruh kota. “Kau pikir membunuh Yun Canghai yang lemah itu menjadikanmu seorang dewa? Kau hanyalah cacing yang secara tidak sengaja merangkak keluar dari tumpukan kotoran Benua Bawah! Hari ini, aku, Panglima Agung Domain Angin Suci, menjatuhkan hukuman pemusnahan atas jiwamu dan seluruh kota pengkhianat ini!”
Di balkon istana, jubah sutra kosmik Lin Tian berkibar liar akibat badai tekanan dari armada di atasnya. Namun, postur tubuhnya santai, bahkan terlihat bosan. Ia bersandar di pagar batu giok yang retak, menopang dagunya dengan satu tangan.
“Pidato yang sangat panjang untuk seseorang yang akan mati dalam lima menit,” gumam Lin Tian pelan, meski suaranya secara ajaib memotong deru badai petir, terdengar jelas di telinga Lei Wujie. “Kalian membawa seratus kapal mainan ini hanya untuk mengantarkan nyawa kalian padaku? Sungguh layanan pesan antar yang luar biasa efisien.”
Mendengar penghinaan kasual tersebut, urat-urat nadi di dahi Lei Wujie menonjol keluar. Kemurkaannya meledak.
“HANCURKAN MEREKA! TEMBAKKAN MERIAM PEMBELAH BINTANG! RATAKAN KOTA INI MENJADI DEBU!” raung Lei Wujie, memberikan komando eksekusi.
Seratus kapal perang raksasa itu berdengung serentak. Moncong-moncong meriam kosmik mereka memadat, dan dalam hitungan detik, seratus pilar energi petir ilahi yang diameternya mencapai ratusan meter ditembakkan secara bersamaan ke arah Kota Awan Mengambang.
Serangan gabungan ini memiliki daya hancur yang cukup untuk menembus lempeng tektonik Benua Langit Tinggi dan memusnahkan sebuah negara kecil tanpa sisa. Hujan kiamat biru itu meluncur turun dengan kecepatan cahaya.
Para jenderal di atas geladak kapal menyeringai kejam, menantikan pemandangan indah dari kota yang menguap menjadi abu. Namun, senyuman mereka membeku sebelum pilar-pilar energi itu sempat menyentuh atap-atap gedung tertinggi.
Lin Tian tidak menghindar. Ia tidak memanggil Sarung Tangan Pembelah Bintang untuk meninju energi itu. Ia hanya menghentakkan kaki kanannya ke lantai balkon istana.
“Bangkitlah, sangkarku.”
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHH!
Seketika, seluruh jalanan kristal giok, pilar-pilar menara, dan fondasi Kota Awan Mengambang menyala dengan cahaya abu-abu keemasan yang membutakan. Inti Formasi Kota yang telah diretas dan ditanami oleh Niat Kehancuran Naga milik Lin Tian bereaksi.
Namun, yang muncul bukanlah kubah perisai pelindung konvensional.
Dari bawah kota, jutaan pilar cahaya yang berbentuk seperti tentakel-tentakel energi raksasa melesat ke atas, menembus langit. Tentakel energi itu terbuat dari esensi formasi kota yang telah dimutasi oleh dominasi mutlak Lin Tian.
Saat seratus pilar tembakan meriam kosmik itu menghantam jaringan tentakel abu-abu keemasan tersebut, tidak ada ledakan yang terjadi. Tentakel-tentakel itu justru melilit energi meriam musuh, meredamnya, dan menggunakan Niat Kehancuran Naga untuk mengurai serangan tingkat ilahi itu menjadi debu kosmik dalam sekejap mata.
“A-Apa yang terjadi?! Formasi pelindung macam apa itu?!” jerit salah satu jenderal di kapal bendera, matanya terbelalak melihat serangan pamungkas armada mereka ditelan mentah-mentah.
“Itu bukan formasi pelindung,” geram Lei Wujie, insting dewa sejatinya tiba-tiba merasakan bahaya yang sangat mematikan. “Dia membalikkan polaritas inti kota! Mundur! Tarik kapal ke atas!”
Namun, perintah itu datang terlambat.
Tentakel-tentakel energi raksasa yang melesat dari kota tidak berhenti di udara. Mereka terus memanjang dengan kecepatan yang melampaui logika, mencengkeram lambung-lambung kapal perang raksasa di udara layaknya gurita kosmik yang menangkap mangsanya.
KRAAAK! SRAAAAAT!
Suara sobekan logam ilahi bergema memekakkan telinga. Paduan logam bintang gelap yang diklaim tak bisa dihancurkan itu melekuk, retak, dan hancur di bawah cengkeraman tentakel formasi kota yang dialiri oleh Niat Kehancuran.
Sepuluh kapal perang di barisan depan langsung diremukkan menjadi bola-bola besi rongsokan. Ribuan prajurit Dewa Sejati yang berada di dalamnya tidak sempat melarikan diri; tubuh mereka terkompresi bersama logam kapal hingga meledak menjadi air terjun darah perak yang mengguyur langit.
Kepanikan absolut melanda armada yang tadinya sombong itu. Formasi mereka hancur berantakan. Kapal-kapal saling bertabrakan saat mereka berusaha bermanuver mundur dengan putus asa, mencoba melepaskan diri dari jangkauan jaring laba-laba kematian yang mengikat mereka dari bawah.
Di atas balkon, Lin Tian tertawa buas. Tangan kanannya terangkat, mengendalikan jutaan tentakel formasi kota layaknya seorang konduktor orkestra kematian.
“Kalian ingin lari setelah mengetuk pintuku? Sangat tidak sopan!” Lin Tian menoleh ke arah Bai Xue yang berdiri di sampingnya dengan pedang es terhunus. “Tutup jalan keluar mereka, Ratu Es.”
Bai Xue tidak menjawab dengan kata-kata. Matanya yang memancarkan cahaya safir menyala terang. Aura Alam Nirvana Tingkat Puncak miliknya, yang kini didukung oleh fondasi Teratai Salju Sembilan Kematian Ilahi, meledak keluar. Suhu udara di seluruh area pertempuran, hingga puluhan mil ke langit, anjlok drastis ke titik nol absolut.
Sang Ratu Es menebaskan pedangnya ke arah langit, membentuk sebuah setengah lingkaran yang sempurna.
“Domain Es Ilahi: Cangkang Kematian Surga!”
Gelombang udara beku yang sangat masif melesat ke atas, melampaui ketinggian armada kapal perang. Udara itu sendiri membeku, menciptakan sebuah kubah es abadi raksasa yang menutupi seluruh armada dari atas, mengurung sembilan puluh kapal perang yang tersisa di dalam sebuah mangkuk terbalik.
BRAAAAK! BRAAAK!
Belasan kapal perang yang mencoba melarikan diri ke atas menabrak kubah es tersebut. Bukannya menghancurkan es itu, lambung kapal mereka justru membeku seketika. Esensi dingin dari Teratai Salju Ilahi merayap masuk ke dalam mesin inti kapal, mematikan seluruh sistem penggerak dan membekukan ribuan prajurit di geladak menjadi patung-patung es yang kaku.
“M-Mustahil… Es macam apa ini?! Meriam kita bahkan tidak bisa melelehkannya!” jerit para prajurit panik. Mereka kini terjebak. Di bawah mereka, tentakel kehancuran Lin Tian terus mencabik-cabik kapal mereka; di atas mereka, langit telah dibekukan secara absolut oleh Bai Xue.
Ini bukan invasi militer. Ini adalah pembantaian massal yang diatur secara sepihak.
Melihat pasukannya dihancurkan layaknya mainan murahan, Panglima Agung Lei Wujie meraung dengan amarah yang merobek kewarasannya. Ia menyadari bahwa pertempuran jarak jauh menggunakan kapal perang sama sekali tidak berguna melawan dua monster anomali ini.
“SEMUA JENDERAL! KELUAR DARI KAPAL! KITA BUNUH MEREKA DALAM PERTARUNGAN JARAK DEKAT!” komando Lei Wujie.
Panglima Agung itu melompat dari anjungan kapal benderanya, tubuh raksasanya memancarkan petir ilahi yang menyilaukan. Diikuti oleh tiga puluh Jenderal Dewa Sejati, mereka menukik ke bawah layaknya meteor-meteor biru, menerjang jaring-jaring energi formasi kota, mengincar langsung sosok Lin Tian di balkon istana.
“Pertarungan jarak dekat?” Seringai Lin Tian semakin lebar hingga ke telinga. Mata emasnya memancarkan gairah pembunuh yang murni. “Akhirnya, makanan penutupnya datang sendiri.”
Lin Tian menghentakkan kakinya dan melesat ke udara, menyongsong turunnya puluhan dewa sejati itu sendirian. Tubuh Sisik Naga Perak-nya bersinar terang, dan Sarung Tangan Pembelah Bintang di kedua tangannya memancarkan api kosmik yang mendidihkan darah.
“MATI KAU, SEMUT!” Lei Wujie mengayunkan kapak petir raksasanya, memadatkan seluruh kekuatan Alam Dewa Sejati Tingkat Menengah-nya ke dalam satu tebasan yang mengunci ruang di sekitar Lin Tian.
“Seni Dewa Sejati: Tebasan Penghakiman Petir Kosmik!”
Tebasan kapak itu merobek ruang, menciptakan celah dimensi hitam yang mengikuti lintasan bilahnya. Tiga puluh jenderal lainnya menyusul dari belakang, memfokuskan serangan tombak dan pedang ilahi mereka untuk memastikan Lin Tian hancur berkeping-keping.
Lin Tian tidak menghindar. Ia bahkan tidak repot-repot menggunakan Seni Langkah Bayangan Awan. Ia menyongsong tebasan kapak yang mematikan itu secara frontal.
Tangan kanannya yang berlapis sarung tangan logam melesat ke atas, menangkap langsung mata kapak petir raksasa milik Lei Wujie!
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHH!
Gelombang kejut dari benturan itu menciptakan cincin ledakan yang meratakan sisa-sisa menara istana di bawah mereka. Petir ilahi milik Lei Wujie mengamuk, mencoba membakar lengan Lin Tian, namun Niat Kehancuran Naga dengan mudah mengikis energi petir tersebut menjadi uap tak berbahaya.
Mata biru Lei Wujie membelalak ngeri. Tebasan pamungkasnya ditahan hanya dengan satu tangan kosong! Dan yang lebih menakutkan, ia tidak bisa menarik kembali kapaknya. Cengkeraman pemuda itu di mata kapak terasa seperti jepitan rahang naga primordial.
“K-Kau… fisik macam apa ini?!” Lei Wujie tergagap, keringat dingin membasahi wajahnya yang kebiruan. Ia menyadari fluktuasi aura Lin Tian. “Alam Langit Tingkat Puncak?! Mustahil fisik Alam Langit bisa menahan senjata pusaka Dewa Sejati!”
“Pengetahuan kalian terlalu dangkal, dan nyawa kalian terlalu murah,” Lin Tian berbisik dingin.
Ia mengeratkan cengkeramannya pada kapak tersebut. Niat Kehancuran Naga meledak dari telapak tangannya.
PRANGGG!
Kapak petir tingkat Ilahi itu hancur berkeping-keping menjadi debu karat di tangan Lin Tian. Sebelum Lei Wujie bisa bereaksi, Lin Tian memutar tubuhnya, menggunakan momentum kehancuran itu untuk melontarkan tendangan lutut yang berlapis sisik perak tepat ke arah dada sang Panglima Agung.
KRAAAK!
Suara tulang rusuk dewa yang patah terdengar renyah. Tubuh raksasa Lei Wujie tertekuk ke dalam, darah biru ilahi menyembur dari mulutnya. Ia terhempas ke atas bagaikan boneka kain, menabrak tiga jenderalnya sendiri yang sedang menukik turun.
“BUNUH DIA! JANGAN BERI DIA RUANG!” teriak para jenderal lainnya yang kini diselimuti kepanikan. Mereka menyerang Lin Tian dari segala arah dengan senjata pusaka yang memancarkan cahaya ilahi.
Lin Tian tertawa keras. Ia melesat menembus formasi para jenderal tersebut seperti peluru meriam kosmik. Ini bukan lagi pertarungan; ini adalah pembantaian sepihak.
BAM! CRAT! SRAAAT!
Tangan kiri Lin Tian meninju dada seorang jenderal hingga berlubang, langsung menghancurkan jantung ilahinya. Tangan kanannya menebas leher jenderal lain, memutuskan kepala dewa itu hanya dengan kekuatan ayunan Sarung Tangan Pembelah Bintang. Ia tidak menggunakan teknik yang indah; ia menggunakan insting brutal sang predator absolut. Setiap pukulan, tendangan, dan robekan dari Niat Kehancuran Naga secara harfiah menghapus keberadaan dewa-dewa fana tersebut dari sejarah.
Dalam waktu kurang dari dua menit, dari tiga puluh jenderal yang menukik dengan penuh kesombongan, dua puluh delapan di antaranya telah menjadi tumpukan daging cincang tak bernyawa yang jatuh menghantam jalanan Kota Awan Mengambang.
Lei Wujie yang terluka parah berhasil menghentikan laju jatuhnya di udara. Ia memegangi dadanya yang melesak, menatap monster berjubah hitam yang kini melayang di tengah hujan darah perak dewa.
Armadanya telah hancur, ditelan oleh formasi kota dan dibekukan oleh Ratu Es. Para jenderalnya telah diubah menjadi abu. Rasa bangga sebagai Panglima Agung Domain Angin Suci telah sepenuhnya lenyap, digantikan oleh teror instingtual yang meruntuhkan akal sehatnya.
“M-Monster… kau bukan dari dunia bawah… kau pasti inkarnasi iblis kosmik kuno…” Lei Wujie memuntahkan darah, melangkah mundur di udara dengan kaki gemetar. Ia membalikkan badan, membuang sisa harga dirinya, dan memacu Qi petirnya untuk melarikan diri, berniat menerobos kubah es di atasnya.
“Melarikan diri?” Suara Lin Tian bergema tepat di belakang telinga Lei Wujie, membuat darah sang Panglima Agung membeku seketika. “Aku belum mengizinkan tamu utamaku untuk pulang.”
Lin Tian mencengkeram rambut badai Lei Wujie dari belakang dan menarik tubuh raksasa itu hingga berhenti secara paksa. Panglima Agung itu meronta putus asa, namun cengkeraman Lin Tian tidak bisa digoyahkan.
“Sampaikan salamku pada dewa-dewamu di kehidupan selanjutnya,” bisik Lin Tian.
Lin Tian menempelkan telapak kirinya di punggung Lei Wujie. Mutiara Naga di dalam Dantiannya yang berbentuk lautan bintang terbuka lebar. Daya hisap yang luar biasa brutal, jutaan kali lebih kuat dari lubang hitam, meledak keluar.
“TIDAAAAAK! PENGUASA DOMAIN TIDAK AKAN MENGAMPUNIMU! KAU AKAN DIBURU OLEH TIGA KAISAR DEWA—!”
Jeritan Lei Wujie terputus secara permanen. Esensi kehidupan, Qi Dewa Sejati Tingkat Menengah, dan jiwa ilahi milik sang Panglima Agung ditarik keluar secara paksa dari meridiannya. Asap energi biru yang sangat tebal dan murni mengalir masuk ke dalam tubuh Lin Tian.
Tubuh Lei Wujie mengering dalam sekejap mata, berubah menjadi mumi keriput yang hancur menjadi debu abu-abu saat Lin Tian melepaskan tangannya.
Lin Tian memejamkan matanya, menikmati lonjakan kekuatan ilahi tingkat menengah yang membanjiri lautan bintang di Dantiannya. Pondasinya di Alam Langit Tingkat Puncak semakin menebal, mencapai tingkat saturasi yang mengerikan. Ia tahu bahwa hanya masalah waktu sebelum ia menendang pintu Alam Dewa Sejati.
Ia membuka matanya kembali, memancarkan kilatan emas yang menyapu sisa-sisa armada yang kini hancur lebur di atas Kota Awan Mengambang. Lebih dari lima puluh ribu pasukan elit Domain Angin Suci telah dihapus, dan jaring kematian yang ia ciptakan kembali tenang, kembali ke dalam inti formasi kota di bawah tanah.
Bai Xue melayang mendekat, mendarat dengan ringan di sisinya. Mata safirnya menatap kehancuran yang mereka ciptakan hanya dalam kurun waktu kurang dari setengah jam.
“Tidak ada yang selamat,” lapor Bai Xue dengan suara tanpa emosi, meski ada kilatan kepuasan di matanya. “Armada ini telah sepenuhnya musnah.”
Lin Tian tersenyum tipis. Ia menatap ke arah pusat Domain Angin Suci, jauh melampaui cakrawala yang kini bersih dari awan badai.
“Mereka telah mengirim jenderal mereka dan gagal. Langkah selanjutnya, sang Penguasa Domain itu sendiri yang harus turun tangan, atau kita yang akan mengetuk pintu istana utamanya,” ucap Lin Tian penuh arogansi. “Ayo kembali, Bai Xue. Kita harus mencerna energi panen hari ini. Perang yang sesungguhnya di Benua Langit Tinggi baru saja dimulai.”