Bab 40: Evolusi Sang Ratu Es dan Turunnya Penguasa Angin Suci
Puing-puing Kapal Perang Pembelah Bintang yang membeku jatuh berserakan di sekitar perbatasan Kota Awan Mengambang, menciptakan sabuk rongsokan kosmik yang menjadi monumen bisu atas pembantaian hari itu. Jutaan penduduk kota yang bersembunyi di balik formasi bawah tanah mereka perlahan memberanikan diri untuk mengintip ke langit. Apa yang mereka lihat bukanlah armada kekaisaran yang membawa keselamatan, melainkan langit yang bersih dari awan, dihiasi oleh sisa-sisa darah perak dewa yang menguap menjadi kabut tipis.
Mereka menyadari satu kebenaran yang tak terbantahkan: Kota ini tidak lagi berada di bawah yurisdiksi Domain Angin Suci. Kota ini sekarang adalah kerajaan pribadi sang Tiran Naga.
Tanpa memedulikan kepanikan fana di atasnya, Lin Tian dan Bai Xue telah turun jauh ke dasar Istana Penguasa Kota. Di kedalaman sepuluh ribu kaki di bawah tanah, tersembunyi sebuah gua raksasa yang memancarkan cahaya biru pirus yang menenangkan. Ini adalah Mata Air Roh Primal, titik pusat pertemuan urat nadi spiritual bumi yang menyuplai energi ke seluruh formasi kota. Kepadatan Qi kosmik di sini berbentuk cairan kental yang menetes dari stalaktit-stalaktit batu giok murni.
“Tempat ini sempurna,” gumam Bai Xue. Hawa dingin yang secara alami menguar dari tubuhnya langsung membuat permukaan mata air spiritual itu mulai mengkristal.
Ia melangkah ke tengah danau kecil tersebut. Air spiritual tidak membasahi gaunnya, melainkan menopang tubuhnya layaknya lantai kaca. Bai Xue duduk bersila, mengeluarkan kotak giok transparan yang berisi Teratai Salju Sembilan Kematian Ilahi. Saat kotak itu dibuka, suhu di dalam gua raksasa itu merosot melampaui titik nol absolut. Dinding-dinding batu giok retak karena pembekuan ekstrem.
“Aku akan menyerap inti teratai ini. Jika aku gagal mengendalikan energi Yin mutlaknya, tubuhku akan hancur menjadi debu es dan jiwaku akan membeku selamanya,” ucap Bai Xue tenang, menatap Lin Tian yang berdiri di tepi mata air.
Lin Tian menyilangkan tangannya, matanya memancarkan cahaya keemasan yang stabil. “Kau telah selamat dari kutukan Rantai Es sejak kecil, Bai Xue. Bunga kecil itu tidak akan membunuhmu. Ia akan menjadi mahkotamu. Seraplah. Aku akan menjaga pintu ini agar tidak ada serangga yang mengganggumu.”
Mendapat validasi dari satu-satunya eksistensi yang kekuatannya ia hormati, Bai Xue menutup matanya. Ia memetik satu kelopak kristal dari teratai tersebut dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Seketika, badai salju kosmik meledak dari dalam tubuhnya, menelannya dalam sebuah kepompong es biru yang memancarkan rune-rune ilahi kuno. Proses evolusi sang Ratu Es menuju Alam Nirvana telah dimulai.
Melihat Bai Xue telah memasuki meditasi tertutup yang dalam, Lin Tian tidak tinggal diam. Ia duduk bersila di atas sebuah batu giok raksasa di dekat pintu masuk gua.
Pertarungannya melawan Panglima Agung Lei Wujie dan puluhan Jenderal Dewa Sejati telah memberinya panen raya. Di dalam Dantiannya, lautan bintang yang luas bergejolak ganas. Esensi kehidupan dan hukum petir dari tubuh Dewa Sejati Lei Wujie masih memberontak di dalam sana, mencoba menghancurkan Dantian Lin Tian dari dalam.
“Kau sudah mati, tapi Qi-mu masih memiliki arogansi dewa?” kekeh Lin Tian pelan dengan mata terpejam. “Menyusahkan. Biar kukunyah kau sampai halus.”
Lin Tian mengaktifkan Seni Kaisar Naga Surgawi hingga batas maksimum. Proyeksi naga bintang raksasa di dalam lautan Dantiannya mengaum, membuka rahang kosmiknya, dan secara harfiah menelan bola energi petir biru milik Lei Wujie.
BZZZZZT! KRAAAAK!
Suara ledakan tumpul terdengar dari dalam perut Lin Tian. Alih-alih terluka, Niat Kehancuran Naga-nya menggiling hukum petir dewa itu, melucuti kehendak Lei Wujie sepenuhnya, dan mengubahnya menjadi energi murni yang langsung diserap oleh Tubuh Sisik Naga Perak miliknya.
Selama tujuh hari tujuh malam, Lin Tian duduk tak bergerak seperti patung dewa perang kuno. Di sekitarnya, tumpukan jutaan Kristal Asal Ilahi yang ia keluarkan dari cincin spasial Yun Canghai terus-menerus hancur menjadi debu, disedot habis oleh pusaran napasnya.
Kepadatan kultivasinya di Alam Langit Tingkat Puncak mencapai titik jenuh absolut. Ia merasa seperti sebuah balon baja yang terus-menerus diisi oleh lautan lava. Setiap sel di tubuhnya berteriak, setiap meridiannya memancarkan cahaya keemasan yang menembus kulitnya. Ia telah menyentuh langit-langit penghalang menuju Alam Dewa Sejati.
Namun, Lin Tian menyadari sebuah anomali. Ia tidak bisa menerobos.
“Hukum alam di Benua Langit Tinggi ini cacat,” batin Lin Tian, alisnya berkerut. Kesadarannya menyapu alam semesta di sekitarnya.
Untuk menjadi Dewa Sejati, seorang kultivator harus memahami dan menyatu dengan satu Hukum Ilahi (Divine Law) yang diakui oleh kehendak Benua Atas—seperti api, ruang, angin, atau petir. Benua Atas kemudian akan memberikan sebuah ‘Percikan Ilahi’ (Divine Spark) ke dalam jiwa kultivator tersebut.
Tetapi jalan kultivasi Lin Tian adalah Niat Kehancuran Naga. Itu adalah hukum peniadaan eksistensi yang bersifat anarki; hukum yang menolak untuk diatur oleh surga mana pun. Kehendak Benua Langit Tinggi dengan keras menolak untuk memberikan Percikan Ilahi kepada hukum yang bisa menghancurkan benua itu sendiri. Alam semesta ini memboikot terobosannya.
Mata Lin Tian terbuka tiba-tiba. Sepasang pupil emasnya memancarkan kemarahan seorang penguasa sejati.
“Surga ini menolak untuk mengakuiku?” Lin Tian tersenyum buas, sebuah senyuman yang sangat menakutkan hingga membuat ruang di dalam gua itu melengkung ketakutan. “Jika langit menolak memberikan mahkota padaku, maka aku akan merobek kepala langit itu dan menempa mahkotaku sendiri!”
Alih-alih memohon pada hukum alam Benua Atas, Lin Tian membalikkan aliran energinya secara brutal. Ia menggunakan kekuatan fisiknya yang setara dengan jutaan gunung untuk secara paksa menekan energi di dalam Dantiannya, mengompresinya, dan membiarkan Niat Kehancuran Naga membakar energi tersebut hingga memicu fusi nuklir spiritual. Ia tidak akan membentuk Percikan Ilahi; ia akan membentuk Singularity Kehancuran di dalam jiwanya.
Proses ini sangat lambat dan luar biasa menyakitkan, bahkan untuk fisik naganya. Namun, sang Tiran tidak terburu-buru. Ia membiarkan waktu berlalu, mengasah taringnya dalam keheningan.
Sementara itu, di wilayah paling sentral dari Benua Langit Tinggi, kemarahan yang bisa membakar bintang sedang mendidih di dalam Markas Besar Domain Angin Suci.
Istana Angin Suci, yang biasanya dipenuhi oleh simfoni musik surgawi dan tawa para dewa, kini senyap seperti kuburan. Jutaan penjaga dan pelayan berlutut di tanah, dahi mereka menempel ke lantai giok yang bergetar hebat. Badai kosmik raksasa yang mengelilingi istana tersebut mengamuk dengan kecepatan ribuan mil per detik, mencerminkan emosi dari sang penguasa yang duduk di puncak menara tertinggi.
Di dalam Ruang Tahta Angin Surgawi, seorang pria dengan penampilan luar biasa agung namun mengerikan duduk di atas Singgasana Badai Emas. Pria itu memiliki rambut putih panjang yang melayang melawan gravitasi, dan matanya tidak memiliki pupil—hanya pusaran angin badai murni yang menyala-nyala.
Ia adalah Feng Wuchen, Penguasa Domain Angin Suci. Eksistensi yang berada di Alam Raja Dewa (Divine King Realm) Tingkat Awal, satu alam besar di atas Dewa Sejati. Di Benua Langit Tinggi yang dikuasai oleh Sembilan Penguasa, ia adalah salah satu tiran tertinggi.
Di depannya, tergeletak pecahan batu perekam visual yang berhasil diselamatkan dari kepingan kapal bendera Lei Wujie sebelum hancur total. Batu itu telah memproyeksikan ulang detik-detik terakhir pembantaian armadanya. Feng Wuchen menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana seorang pemuda fana merobek kapak petir Lei Wujie dengan tangan kosong dan mencabut jiwanya.
Ratusan jenderal Dewa Sejati tingkat lanjut berlutut di hadapan takhta, tidak ada satu pun yang berani mengucapkan sepatah kata. Mereka semua telah melihat proyeksi iblis itu.
“Satu armada. Seratus kapal. Lima puluh ribu dewa. Tiga puluh Jenderal. Dan tangan kananku, Lei Wujie.” Suara Feng Wuchen tidak menggelegar, namun berbisik seperti angin musim gugur yang membawa kematian. Suara itu langsung memotong ke dalam gendang telinga semua orang di ruangan itu. “Dihancurkan dalam waktu kurang dari setengah jam teh. Oleh dua makhluk dari Benua Bawah.”
“Y-Yang Mulia,” seorang Penasihat Ilahi tertua memberanikan diri berbicara, suaranya bergetar hebat. “Pemuda itu… dia mengendalikan energi kelabu keemasan. Berdasarkan catatan kuno dari Era Primordial, fluktuasi yang bisa menghapus sihir dewa secara instan dan melampaui aturan Benua Atas… itu mirip dengan Hukum Kehancuran Absolut. Jika dia benar-benar menguasainya, mengirim armada lain hanya akan memberi makan iblis tersebut.”
Feng Wuchen menyipitkan mata badainya. Ia perlahan bangkit dari singgasananya. Saat ia berdiri, seluruh Istana Angin Suci mengerang.
“Hukum Kehancuran Absolut?” Feng Wuchen tertawa dingin, tawanya merobek udara di sekitarnya. “Bahkan Tiga Kaisar Dewa di Inti Kosmik tidak berani mengklaim penguasaan penuh atas kehancuran. Pemuda ini hanyalah mutan yang kebetulan mewarisi secuil niat purba. Tapi anomali ini telah menginjak wajahku, menghancurkan armadaku, dan merebut kotaku.”
Sang Penguasa Domain melangkah turun dari tangga takhta. Udara di bawah kakinya memadat menjadi pijakan kaca badai.
“Jika dia mengira mengalahkan Lei Wujie menjadikannya tak terkalahkan, maka aku harus menunjukkan kepadanya perbedaan antara anjing gembala dan pemilik peternakan,” ucap Feng Wuchen. “Aku tidak akan mengirim armada. Aku tidak akan mengirim jenderal. Aku akan pergi ke Kota Awan Mengambang secara pribadi.”
Kata-kata itu membuat ratusan jenderal di aula mengangkat kepala mereka dengan syok absolut. Penguasa Domain, seorang Raja Dewa, turun tangan langsung untuk mengurus sebuah kota pinggiran? Ini belum pernah terjadi dalam puluhan ribu tahun!
“Siapkan Kereta Perang Sembilan Naga Anginku,” titah Feng Wuchen dengan otoritas mutlak. “Dan aktifkan Bilah Penghakiman Pemisah Benua. Aku tidak akan bertarung di jalanan kota yang kotor itu. Aku akan membelah Kota Awan Mengambang itu dari atas langit menjadi dua bagian, dan memastikan makhluk fana itu tahu bahwa di hadapan Raja Dewa, fisik yang keras sekalipun akan terpotong layaknya sehelai rumput!”
Hari kelima belas sejak Lin Tian dan Bai Xue memasuki mata air bawah tanah Kota Awan Mengambang.
Kota itu masih hening, namun ketegangan di udara telah mencapai titik didih. Langit di siang hari tiba-tiba bergeser warna menjadi biru pirus yang luar biasa dingin. Suhu di seluruh benua dalam radius puluhan ribu mil anjlok mendadak. Lautan awan emas di langit Benua Atas membeku dan berjatuhan ke tanah layaknya hujan batu kristal.
Di ruang bawah tanah Istana Penguasa Kota, kepompong es raksasa tempat Bai Xue bersemayam memancarkan retakan cahaya biru yang membutakan.
BOOOOOM!
Kepompong itu meledak. Hawa dingin yang memancar dari ledakan itu bukan lagi es biasa, melainkan Es Ilahi Sembilan Kematian. Bahkan dinding-dinding batu giok murni di gua itu berubah menjadi debu kristal seketika saat tersentuh gelombang udara dingin tersebut.
Dari tengah badai salju kosmik, Bai Xue melangkah keluar.
Ia telah terlahir kembali. Gaunnya kini sepenuhnya terbentuk dari benang-benang es ilahi yang memancarkan pendaran cahaya bulan. Rambutnya telah berubah menjadi perak murni yang bersinar. Sepasang sayap es di punggungnya membesar dua kali lipat, setiap bulu sayapnya setajam pusaka Dewa Sejati. Matanya yang sedingin kosmos memancarkan fluktuasi kekuatan yang luar biasa padat.
Alam Nirvana Tingkat Awal (Di Benua Atas setara dengan Ambang Batas Dewa Sejati). Namun, kualitas esnya kini berada di tingkat Ilahi, membuatnya mampu membekukan eksistensi yang jauh berada di atas tingkat kultivasinya.
Lin Tian membuka matanya perlahan. Pupil emasnya bertemu dengan mata safir sang Ratu Es.
“Kau tampak siap memanen nyawa dewa-dewa yang sombong,” Lin Tian menyeringai, bangkit dari batu gioknya. Meskipun ia belum menembus Alam Dewa Sejati, aura Singularity Kehancuran yang ia padatkan di dalam dirinya memancarkan kengerian yang membuat es abadi Bai Xue pun menjaga jarak dari tubuhnya.
“Teratai itu memberiku lebih dari sekadar Qi. Ia memberiku hukum kemutlakan musim dingin,” ucap Bai Xue tenang. Pedang es di tangannya muncul hanya dengan satu kedipan mata. “Aku mendengar gemuruh dari langit, Lin Tian. Tuan rumah yang sesungguhnya telah tiba.”
Benar saja. Tepat pada saat itu, seluruh Kota Awan Mengambang bergetar hebat. Sebuah bayangan raksasa menutupi matahari sepenuhnya.
Lin Tian dan Bai Xue melesat menembus atap ruang bawah tanah, menghancurkan sisa-sisa lantai istana, dan melayang di udara tepat di atas reruntuhan Kota Awan Mengambang.
Apa yang menanti mereka di langit bukanlah sebuah armada. Itu adalah satu sosok tunggal yang berdiri di atas Kereta Perang yang ditarik oleh sembilan naga badai raksasa. Sosok pria berambut putih itu memancarkan aura yang begitu mengerikan hingga hukum ruang di sekitarnya secara harfiah menangis dan hancur. Langit terbelah menjadi dua warna: biru kemurkaan sang Raja Dewa, dan emas keabu-abuan dari Sang Tiran.
Feng Wuchen, sang Penguasa Domain Angin Suci, menatap lurus ke bawah. Di tangan kanannya, melayang sebuah pedang raksasa yang terbuat dari energi angin badai murni—Bilah Penghakiman Pemisah Benua.
“Dua serangga fana yang melampaui batasnya,” suara Feng Wuchen bukan lagi suara fisik, melainkan telepati yang mengguncang jiwa setiap entitas di kota itu. “Hari ini, langit sendiri yang akan menjadi algojomu.”
Melihat kedatangan ahli Alam Raja Dewa, eksistensi tertinggi yang pernah ia hadapi, Lin Tian tidak mundur selangkah pun. Ia justru merentangkan kedua tangannya, menghirup udara yang dipenuhi niat membunuh itu dalam-dalam, lalu tertawa dengan arogansi kegilaan mutlak.
“Algojo?!” raung Lin Tian, suara emasnya membelah tekanan jiwa sang Raja Dewa. “Kau adalah layanan antar makanan paling mewah yang pernah kuterima! Turunlah kemari, anjing badai, dan biarkan aku melihat apakah daging Raja Dewa terasa sekeras mulut besarnya!”