Bab 42: Pengeksekusi Surga dan Lahirnya Singgasana Singularity
Langit Benua Langit Tinggi, yang selama jutaan tahun menjadi simbol kemutlakan dan keabadian para dewa, kini melolong dalam penderitaan. Di atas Kota Awan Mengambang, realitas itu sendiri sedang dikoyak oleh dua entitas yang keberadaannya menolak untuk tunduk pada hukum alam yang sama.
Feng Wuchen, Penguasa Domain Angin Suci dan seorang Raja Dewa yang diagungkan, telah membuang seluruh sisa harga dirinya. Wajahnya yang hancur dan berlumuran darah biru ilahi kini berkerut dalam kegilaan yang absolut. Ia membakar esensi jiwanya, mengorbankan ribuan tahun umur dewanya, dan secara paksa menarik energi spiritual dari jutaan urat nadi bumi yang membentang di seluruh wilayah kekuasaannya.
“MATILAH BERSAMA DUNIA INI, ANOMALI KEPARAT!”
Raungan Feng Wuchen merobek pita suaranya sendiri. Di atas kepalanya, sebuah pusaran badai raksasa berwarna cyan pekat memadat dengan kecepatan yang menentang akal sehat. Itu bukan sekadar angin; itu adalah kompresi dari Hukum Pemusnahan Ruang tingkat Raja Dewa. Pusaran itu membesar hingga menutupi cakrawala, menciptakan gravitasi hisap yang mulai mencabut daratan, air terjun mengambang, dan puing-puing kota ke udara, menghancurkannya menjadi partikel sub-atomik seketika.
“Seni Pamungkas Raja Dewa: Kiamat Badai Primordial!”
Bola badai seukuran bulan kecil itu meluncur turun perlahan. Kecepatannya terlihat pelan karena ia menghancurkan setiap lapisan ruang yang dilewatinya, menciptakan jejak lubang hitam yang memanjang di belakangnya. Jika serangan ini menyentuh permukaan Kota Awan Mengambang, ledakannya tidak hanya akan menghapus kota tersebut, tetapi akan meretakkan lempeng tektonik Benua Atas sejauh puluhan ribu mil, membunuh miliaran nyawa fana dan kultivator tanpa pandang bulu.
Di bawah bayang-bayang kiamat tersebut, sang Tiran Naga berdiri melayang tanpa secercah pun rasa gentar di mata keemasannya.
Lin Tian mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Ia tidak lagi memadatkan Qi Alam Langit-nya. Ia membuka gerbang Dantiannya lebar-lebar, melepaskan Singularity Kehancuran yang telah ia tempa secara paksa dari penolakannya terhadap Percikan Ilahi surga.
“Kau mengorbankan duniamu hanya untuk mencoba membunuhku?” Lin Tian tersenyum buas, sebuah lengkungan bibir yang memancarkan kengerian predator puncak sejati. “Kalau begitu, biar kutunjukkan padamu. Di hadapan naga, duniamu bahkan tidak pantas menjadi debu!”
Di belakang punggung Lin Tian, proyeksi Kaisar Naga Surgawi tidak lagi berupa ilusi Qi transparan. Proyeksi itu memadat, sisik-sisiknya memancarkan cahaya galaksi yang berputar, dan matanya menyala dengan api singularitas yang membakar batas-batas dimensi. Raungan naga kosmik itu membungkam suara badai kiamat di atas mereka.
Lin Tian mengepalkan tinjunya. Sarung Tangan Pembelah Bintang mengerang hebat, hampir hancur karena tidak mampu menahan kepadatan energi singularitas yang disalurkan melalui logamnya.
“Hukum alam semesta ini hanyalah belenggu bagi yang lemah. Hancur!”
Lin Tian mengayunkan tinjunya lurus ke atas, menyongsong turunnya bola badai kiamat tersebut.
“Seni Pamungkas Kaisar Naga: Pengeksekusi Surga Kosmik!”
Sebuah pilar cahaya berukuran kecil—tidak lebih tebal dari tubuh seorang manusia—melesat dari tinju Lin Tian. Warnanya adalah perpaduan antara emas murni dan abu-abu ketiadaan yang begitu pekat hingga tampak seperti lubang hitam yang memancarkan cahaya. Pilar itu melesat membelah udara, meninggalkan kekosongan mutlak di jalurnya.
Saat pilar singularitas itu berbenturan dengan bola badai raksasa milik Feng Wuchen, tidak ada ledakan cahaya yang membutakan. Tidak ada gelombang kejut yang meratakan daratan.
Fenomena yang terjadi jauh lebih mengerikan dari sekadar ledakan. Itu adalah sebuah pembungkaman.
Pilar singularitas Lin Tian menembus bola badai kiamat itu layaknya jarum panas yang menusuk balon salju. Begitu energi kehancuran absolut itu berada di pusat badai, ia mulai melahap Hukum Angin Raja Dewa dari dalam ke luar. Bola badai raksasa berwarna cyan itu tiba-tiba berhenti turun. Permukaannya beriak hebat, lalu mengerut, terlipat ke dalam dirinya sendiri, dan disedot habis oleh singularitas kecil di tengahnya dengan kecepatan kilat.
Dalam waktu kurang dari tiga tarikan napas, serangan bunuh diri pamungkas yang bisa mereset sebuah benua itu lenyap. Lenyap tanpa menyisakan embusan angin sekecil apa pun. Langit kembali kosong, menyisakan pilar singularitas Lin Tian yang terus melaju ke atas tanpa kehilangan momentum sedikit pun.
Di atas sana, mata tanpa pupil Feng Wuchen nyaris meledak keluar dari rongganya. Akal sehat dewanya hancur berkeping-keping.
“M-Mustahil… HUKUM ALAM SEMESTA DIMAKAN OLEH TINJU FANA?!”
Raungan keputusasaan sang Raja Dewa adalah suara terakhir yang keluar dari tenggorokannya.
Pilar singularitas kehancuran itu menghantam tubuh Feng Wuchen. Zirah ilahinya, perisai badai terakhirnya, dan fisik dewanya yang telah ditempa selama puluhan ribu tahun tidak memberikan perlawanan yang lebih berarti dari sehelai sutra basah. Pilar cahaya itu menembus dada kiri sang Raja Dewa, menciptakan lubang menganga yang memusnahkan jantung ilahi dan pusaran jiwanya secara instan.
Feng Wuchen mematung di udara. Darah biru mengalir deras dari sudut bibirnya, tubuhnya mulai memudar, berubah menjadi debu bintang yang keabu-abuan dari pinggirannya.
Lin Tian tidak menunggu gravitasi menarik mayat dewa itu ke bawah. Ia melesat ke atas, mencengkeram wajah Feng Wuchen yang sedang mengurai, dan Mutiara Naga Surgawi di dalam Dantiannya meledak dengan daya hisap yang paling brutal dalam sejarah keberadaannya.
“Tidak ada yang tersisa untukmu, bahkan reinkarnasi sekalipun,” bisik Lin Tian dingin ke telinga dewa yang sekarat itu.
Esensi dari seorang Raja Dewa—kumpulan energi spiritual murni yang setara dengan seratus matahari, memori kosmik, dan pemahaman elemen angin abadi—ditarik paksa secara utuh ke dalam telapak tangan Lin Tian. Kepadatan energi ini begitu masif hingga tubuh Feng Wuchen mengering seketika, dan bahkan ruang di sekitarnya runtuh membentuk miniatur lubang cacing sesaat sebelum tertutup kembali.
Begitu seluruh energi Raja Dewa itu memasuki lautan Dantian Lin Tian, sang Tiran Naga memejamkan matanya di tengah angkasa.
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHH!
Tubuh Lin Tian meledak dengan aura emas yang menerangi seluruh Domain Angin Suci. Energi Raja Dewa bertindak sebagai katalis terakhir yang dibutuhkan oleh Singularity Kehancuran di dalam jiwanya. Hambatan menuju Alam Dewa Sejati, yang sebelumnya menolak untuk ditembus, kini dihancurkan secara brutal dari dalam.
Namun, surga Benua Langit Tinggi tidak diam saja melihat aturan absolutnya dilecehkan.
Tiba-tiba, langit di atas Lin Tian berubah menjadi hitam pekat dalam radius puluhan ribu mil. Awan kesengsaraan (Tribulation Cloud) berwarna darah memadat. Di tengah pusaran awan tersebut, sebuah Mata Surgawi raksasa yang terbuat dari petir kosmik merah terbuka. Itu adalah Murka Kehendak Surga. Benua ini menolak keberadaan seseorang yang mencoba menjadi dewa dengan menciptakan singularitas penghancur alih-alih menerima Percikan Ilahi.
Ribuan pilar petir kesengsaraan berwarna merah darah menyambar turun secara serentak, membidik tepat ke arah ubun-ubun Lin Tian, berniat menghapus anomali tersebut sebelum ia sepenuhnya mengonsolidasikan kekuatannya.
Di bawah, Bai Xue mengangkat pedangnya, bersiap membantu. Namun Lin Tian membuka matanya, dan sepasang pupilnya kini tidak hanya berwarna emas, melainkan memutar galaksi abu-abu yang menakutkan.
“Kehendak Surga?” Lin Tian mendongak menatap Mata Surgawi raksasa tersebut. Seringainya membelah wajahnya dalam arogansi penakluk sejati. “Jika kau tidak mau tunduk, maka aku akan menelamnu juga!”
Lin Tian tidak bertahan. Ia menghentakkan kakinya di udara, membelah ruang, dan melesat ke atas menyongsong ribuan petir kesengsaraan itu!
Tubuh Sisik Naga Perak-nya menyala terang. Petir-petir merah darah itu menghantam tubuhnya, namun alih-alih membakar kulitnya, petir-petir itu diserap paksa ke dalam pusaran singularitas di dalam Dantiannya. Lin Tian menerjang menembus awan kesengsaraan, tiba tepat di depan Mata Surgawi raksasa yang mewakili kehendak Benua Atas.
“TUNDUKLAH PADA TIRANMU!”
Lin Tian melontarkan tinju kanannya tepat ke pusat Mata Surgawi tersebut. Niat Kehancuran Naga meledak dengan skala kosmik.
PRANGGGGG!
Suara kaca raksasa yang pecah menggema di seluruh Benua Langit Tinggi. Mata Surgawi yang melambangkan penghakiman mutlak itu retak, meledak menjadi jutaan serpihan petir merah, dan menguap menjadi ketiadaan. Awan kesengsaraan buyar dalam hitungan detik. Sang Tiran Naga baru saja memukul mundur kehendak alam semesta itu sendiri.
Di tengah langit yang kini bersih dan sunyi, Lin Tian melayang dengan keagungan yang tak terbantahkan.
Ia telah resmi melangkah ke Alam Dewa Sejati (True Divine Realm). Namun, karena ia menolak Percikan Ilahi dan menelan murka surga, kekuatannya tidak bisa diukur dengan standar fana. Fondasi energinya adalah Singularity Kehancuran. Hanya dengan berdiri di sana, fluktuasi auranya secara alami menekan seluruh hukum elemen di Kota Awan Mengambang. Ia telah melampaui batasan dewa biasa; ia adalah dewa perang primordial yang berjalan di antara bintang-bintang.
Lin Tian menghela napas panjang, uap emas mengepul dari hidungnya. Ia menunduk menatap tangannya yang mengepal, merasakan kekuatan yang cukup untuk meremukkan sebuah planet kecil hanya dengan tekanan genggamannya.
Ia melayang turun secara perlahan, mendarat kembali di balkon reruntuhan Istana Penguasa Kota.
Bai Xue menghampirinya. Sang Ratu Es, yang auranya kini memancarkan dinginnya Alam Nirvana Tingkat Puncak dengan fondasi ilahi, menatap pemuda di depannya dengan campuran antara penghormatan dan kekaguman. Bahkan dengan peningkatan kekuatannya yang masif, Bai Xue menyadari bahwa jarak antara dirinya dan Lin Tian kini bagaikan bumi dan langit kosmik.
“Kau membunuh seorang Raja Dewa, dan kau menghancurkan Mata Kesengsaraan Surga,” Bai Xue berbicara pelan, pedangnya menghilang menjadi serpihan salju yang menyatu dengan gaunnya. “Sejarah Benua Langit Tinggi tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini.”
Lin Tian berjalan melewati Bai Xue, melangkah menuju tepi balkon yang menjorok ke arah kota yang kini sunyi senyap. Jutaan penduduk fana dan kultivator yang menyaksikan pembantaian surga itu kini berlutut di jalanan-jalanan yang retak, bersujud ke arah istana dengan dahi menempel ke tanah. Mereka tidak berani bergerak, tidak berani bernapas keras. Mereka menyembah penguasa baru mereka yang kekuatannya melampaui dewa yang pernah mereka kenal.
“Sejarah selalu ditulis oleh mereka yang menumpahkan darah paling banyak, Bai Xue,” ucap Lin Tian, matanya menyapu lautan manusia yang bersujud di bawahnya.
Sang Tiran Naga mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah cakrawala Benua Langit Tinggi, mengarahkan pandangannya jauh melampaui Domain Angin Suci, menuju ke pusat alam semesta fana ini.
Sementara itu, di wilayah terdalam dan paling sakral di Benua Langit Tinggi, terletak sebuah tempat yang disebut Inti Kosmik (Cosmic Core). Di tempat ini, ruang dan waktu tidak mengalir dengan normal. Bintang-bintang dilahirkan dan dihancurkan dalam hitungan detik di sekitar sebuah kuil raksasa yang melayang di tengah ketiadaan.
Ini adalah tempat bersemayamnya Tiga Kaisar Dewa (Three Divine Emperors), eksistensi mutlak yang telah memerintah semesta ini sejak Era Primordial, sosok-sosok yang berada di Alam Kaisar Dewa (Divine Emperor Realm).
Di dalam keheningan kuil yang abadi tersebut, tiga pasang mata kuno perlahan terbuka di tengah kegelapan.
Mata pertama memancarkan api matahari yang melelehkan kekosongan. Mata kedua memancarkan kegelapan mutlak yang menelan cahaya. Dan mata ketiga memancarkan roda reinkarnasi emas.
“Sebuah takhta Raja Dewa telah hancur,” suara purba bergema, bergetar dengan frekuensi yang menghentikan rotasi bintang-bintang di sekitar kuil.
“Bukan hanya hancur. Esensinya dihilangkan dari siklus reinkarnasi. Dan Kehendak Surga di Sektor Pinggiran baru saja dipatahkan secara paksa.”
“Seseorang telah menyalakan Singularity Kehancuran. Anomali dari garis keturunan kuno yang seharusnya telah punah.”
Ketiga pasang mata itu menyipit secara bersamaan. Jutaan tahun kedamaian mutlak mereka tiba-tiba diancam oleh sebuah riak kecil yang memiliki potensi untuk menjadi tsunami kosmik.
“Bangunkan Pasukan Eksekutor Primordial. Kirimkan Enam Dewa Kematian Bintang ke Domain Angin Suci. Bawa kepala anomali itu ke hadapan kita, atau bakar seluruh domain tersebut hingga menjadi abu.”
Perintah absolut itu dijatuhkan. Di Benua Langit Tinggi, badai yang sesungguhnya belum mencapai puncaknya. Sang Tiran Naga telah mendeklarasikan perang terbuka terhadap surga, dan kini, para penguasa tertinggi surga tersebut bangkit dari tidur abadi mereka untuk menjawab tantangannya. Perjamuan darah yang sesungguhnya baru saja dimulai.