Bab 46: Benturan Kiamat dan Sabit Pembantai Jutaan Dewa
Langit di atas Ibukota Kekaisaran Tiran Surgawi tidak lagi memiliki warna alam. Birunya cakrawala telah sepenuhnya tertelan oleh lautan besi, emas, dan energi kosmik dari miliaran pasukan Aliansi Perang Suci. Di bawah bayang-bayang sepuluh ribu Kapal Perang Kosmik raksasa, bumi Benua Langit Tinggi mengerang, struktur lempeng tektoniknya retak menahan tekanan spiritual dari tiga juta Dewa Sejati dan lima miliar prajurit Alam Langit yang berbaris rapat menyerupai dinding kiamat.
Di udara, delapan matahari buatan yang memancarkan pendaran warna-warni melayang dengan keagungan mutlak. Di dalam masing-masing matahari tersebut, duduk seorang Raja Dewa (Divine King) yang menguasai Sembilan Domain Surgawi. Mereka memandang ke bawah, menatap sebuah kota yang kini dilindungi oleh kubah gletser abadi, dan menatap satu sosok pemuda berjubah hitam yang berdiri angkuh di atas singgasana tulang naga.
“Lin Tian! Inkarnasi iblis dari dunia bawah!”
Suara Penguasa Domain Pedang Ilahi membelah keheningan yang mencekik. Suaranya diperkuat oleh formasi dari ribuan kapal perang, menciptakan gelombang sonik yang secara harfiah meratakan pegunungan di sekitar kota menjadi debu.
“Kau telah membunuh Penguasa Domain Angin Suci dan menghancurkan enam eksekutor dari Inti Kosmik. Dosa-dosamu melampaui konsep penebusan! Atas nama Tiga Kaisar Dewa, kami membawa pemusnahan absolut. Berlututlah, hancurkan singularitas di dalam Dantianmu, dan serahkan jiwamu untuk dibakar selama seratus juta tahun, maka kami akan mengampuni sisa fana di kota ini!”
Titah agung itu menggema, membawa kekuatan hukum alam yang memaksa jutaan penduduk fana di dalam kota jatuh tersungkur, memuntahkan darah karena tidak mampu menahan arogansi dewa.
Namun, di puncak bentengnya, Lin Tian bahkan tidak berkedip. Sang Tiran Naga mengusap telinganya dengan jari kelingkingnya, seolah suara yang bisa meruntuhkan gunung itu hanyalah dengungan nyamuk yang mengganggu.
“Berlutut? Mengampuni?” Lin Tian melepaskan tawanya. Tawa itu dimulai dari kekehan pelan, lalu meledak menjadi raungan yang ditenagai oleh Singularity Kehancuran di dalam tubuhnya.
Gelombang tawa Lin Tian tidak memancarkan cahaya, melainkan sebuah distorsi ruang berwarna abu-abu keemasan yang melesat ke atas, bertabrakan langsung dengan tekanan suara sang Raja Dewa, dan menghancurkannya menjadi ketiadaan seketika!
“Kalian membawa lima miliar semut bersayap dan sepuluh ribu mainan besi rongsokan, lalu berpikir kalian sedang bernegosiasi denganku?” Lin Tian merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Mata emasnya yang kini memutar galaksi singularitas menatap lurus ke arah delapan matahari buatan tersebut. “Aku tidak pernah meminta kalian untuk mengampuni siapa pun. Aku memanggil kalian ke sini untuk menjadi pupuk bagi kekaisaranku! Turunlah kemari dan mati!”
Penghinaan absolut itu memutus sisa kesabaran para Raja Dewa. Delapan matahari buatan itu bergetar hebat karena kemurkaan yang tak tertahankan.
“BUNUH DIA! RATAKAN KOTA ITU HINGGA TIDAK TERSISA SATU BATU PUN!” raung Penguasa Domain Api Penyucian.
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHH!
Perintah itu adalah pemicu bagi kiamat. Sepuluh ribu Kapal Perang Kosmik serentak menembakkan meriam utama mereka. Sepuluh ribu pilar energi penghancur bintang meluncur turun dengan kecepatan cahaya. Pada saat yang bersamaan, lima miliar prajurit Alam Langit melepaskan serangan jarak jauh mereka—hujan panah Qi, tombak petir, bilah angin, dan meteor api yang jumlahnya benar-benar menutupi seluruh ruang visual di langit.
Ini bukanlah serangan untuk membunuh satu orang. Ini adalah serangan yang dirancang untuk menghapus eksistensi lempeng benua itu sendiri.
Menghadapi hujan kematian yang menentang logika itu, Bai Xue melangkah maju. Sang Ratu Es tidak memancarkan rasa takut. Matanya yang sebiru safir memancarkan ketenangan absolut dari Teratai Salju Sembilan Kematian Ilahi. Ia mengangkat pedang esnya tinggi-tinggi, menusukkannya ke udara kosong di atas kepalanya.
“Seni Pamungkas Es Ilahi: Cermin Kosmik Penolak Surga!”
Gelombang udara dingin yang melampaui batas nol mutlak meledak. Kubah gletser yang melindungi kota itu seketika memadat dan berevolusi. Permukaannya berubah menjadi cermin kosmik raksasa yang memantulkan cahaya bintang.
Saat sepuluh ribu pilar meriam dan lima miliar serangan elemen itu menghantam cermin kosmik Bai Xue, fenomena yang membuat triliunan mata membelalak terjadi.
Cermin es itu tidak hancur. Esensi Yin absolut dari Bai Xue menyerap momentum termal dari serangan-serangan tersebut, membekukannya di titik kontak, dan dengan memanfaatkan kelengkungan ruang yang dibantu oleh singularitas Lin Tian di belakangnya, cermin itu memantulkan setengah dari serangan itu kembali ke arah langit!
BOOOOOM! KRAAAAK!
Langit terbakar oleh serangan senjata makan tuan. Ribuan kapal perang di barisan depan yang tidak sempat memunculkan perisai penuh langsung hancur berkeping-keping, terbakar oleh tembakan meriam armada mereka sendiri. Jutaan prajurit Alam Langit yang berada di garis depan menguap menjadi kabut darah, tidak mampu menahan pantulan serangan mematikan tersebut.
Di tengah kekacauan ledakan di udara, Lin Tian tidak tinggal diam menjadi penonton. Ia menghentakkan kaki kanannya, menghancurkan lantai Logam Bintang Gelap di bawahnya, dan melesat ke langit layaknya peluru kendali kosmik berwarna emas gelap.
“Pertahanan yang bagus, Ratu Es!” raung Lin Tian dari udara. “Sekarang giliranku!”
Lin Tian tidak memanggil senjata. Ia tidak menggunakan pedang atau tombak. Ia menukik langsung ke jantung formasi pasukan elit musuh—tiga juta Dewa Sejati yang melayang di bawah delapan Raja Dewa. Tiga juta dewa fana yang mengira mereka adalah entitas tak terkalahkan, kini berhadapan dengan inkarnasi dari kehancuran itu sendiri.
“Hentikan dia! Kunci ruangnya!” teriak ratusan Jenderal Dewa Sejati, menyatukan Hukum Ilahi mereka untuk menciptakan rantai-rantai ruang raksasa yang berusaha mengikat Lin Tian.
Lin Tian hanya mendengus. Di dalam Dantiannya, Singularity Kehancuran berputar liar.
“Ruang adalah mainanku!”
Lin Tian membentangkan Tubuh Sisik Naga Emas Kosmik-nya. Sisik-sisik yang memancarkan cahaya galaksi itu merobek rantai ruang dewa tersebut seolah-olah itu hanyalah benang laba-laba basah. Kecepatan Lin Tian tidak melambat sedikit pun. Ia menabrakkan dirinya langsung ke tengah-tengah formasi padat jutaan Dewa Sejati.
Tabrakan fisiknya saja sudah setara dengan ledakan supernova berskala kecil. Ribuan Dewa Sejati yang berada di titik benturan langsung meledak menjadi kabut darah ilahi tanpa sempat memanggil pusaka pelindung mereka. Zirah dewa tingkat tinggi hancur menjadi serpihan debu sebelum darah mereka memercik ke wajah rekan-rekan mereka.
“BUNUH! GILING DIA MENJADI DAGING CINCANG!”
Sadar bahwa serangan jarak jauh tidak berguna, tiga juta Dewa Sejati itu mengamuk. Mereka mencabut pedang, tombak, kapak, dan palu ilahi mereka, mengerumuni Lin Tian bagaikan sekawanan semut yang mencoba menelan seekor gajah raksasa. Jutaan pusaka dewa menghujani tubuh pemuda berjubah hitam itu.
Namun, pemandangan yang tersingkap berikutnya benar-benar menghancurkan sisa-sisa kewarasan pasukan Aliansi.
TRANG! TRANG! KRAAAAK!
Pusaka-pusaka ilahi yang mampu membelah lautan dan menghancurkan gunung itu membentur kulit Lin Tian dan patah. Tubuh Sisik Naga Emas Kosmik yang disokong oleh gravitasi singularitas membuat kepadatan daging Lin Tian melampaui logam terkeras di alam semesta. Bahkan tanpa perisai Qi, pedang-pedang para dewa itu tumpul dan hancur saat mencoba mengiris lehernya.
“Giliranku,” bisik Lin Tian, suaranya terdengar di telinga jutaan dewa secara bersamaan melalui transmisi niat membunuh absolut.
Lin Tian mengulurkan tangan kanannya yang dibungkus oleh Sarung Tangan Pembelah Bintang. Apinya telah berubah menjadi pusaran abu-abu keemasan yang menelan cahaya. Ia melontarkan sebuah pukulan sederhana ke arah lautan dewa di depannya.
“Seni Kehancuran: Ledakan Horizon Kosmik!”
Sebuah gelombang kejut yang sepenuhnya bisu namun mendistorsi visual ruang meledak dari kepalan tangan Lin Tian. Gelombang itu melebar dengan bentuk corong raksasa yang panjangnya mencapai seratus mil.
Di mana pun gelombang abu-abu keemasan itu lewat, eksistensi dihapus.
Bukan dibakar, bukan dipotong, melainkan ditiadakan. Sepuluh ribu Dewa Sejati yang berada di jalur pukulan itu melihat zirah mereka memudar menjadi debu, diikuti oleh kulit, daging, tulang, dan akhirnya jiwa mereka. Mereka tidak sempat menjerit. Mereka hanya lenyap. Ruang di jalur itu menjadi hitam murni, kekosongan absolut yang menolak untuk diperbaiki oleh hukum alam.
“A-Apa itu?! Sihir macam apa itu?!” jerit dewa-dewa yang tersisa, jatuh ke dalam kepanikan ekstrem. Garis depan mereka baru saja dihapus seolah-olah digambar dengan pensil lalu dihapus oleh tangan tak terlihat.
“Itu bukan sihir. Itu adalah akhir dari dunia kalian!”
Lin Tian tidak berhenti. Ia mengamuk di tengah jutaan dewa tersebut. Ia bergerak dengan kecepatan teleportasi jarak dekat yang mustahil dilacak. Tangan kirinya mencengkeram wajah seorang Jenderal Dewa, meremukkan tengkoraknya hingga otak ilahi menyembur keluar, sementara tangan kanannya merobek dada dewa lain untuk mencabut pusaran energi dari jantungnya.
Ia memungut sebuah tombak emas raksasa yang terjatuh dari seorang komandan yang telah mati. Lin Tian tidak menggunakan tombak itu dengan teknik bela diri yang indah. Ia mengalirkan Niat Kehancuran Naga ke dalam tombak tersebut hingga senjata ilahi itu mengerang dan memancarkan cahaya abu-abu keemasan yang menyilaukan.
Sang Tiran memutar tubuhnya dan mengayunkan tombak raksasa itu dalam ayunan horizontal penu.
SRAAAAAAT!
Bilah angin kehancuran yang berbentuk sabit raksasa sepanjang puluhan mil menyapu formasi musuh. Seratus ribu Dewa Sejati terbelah menjadi dua di bagian pinggang. Darah emas dan perak dari para dewa itu menyembur ke angkasa, menciptakan hujan badai darah kosmik yang mengguyur sisa-sisa pasukan fana di bawahnya. Tombak emas di tangan Lin Tian langsung hancur menjadi debu karat setelah satu ayunan karena tidak mampu menahan tekanan singularitasnya, namun tujuannya telah tercapai.
BAM! CRAT! BOOOM!
Lin Tian adalah mesin pemanen nyawa yang tidak mengenal lelah. Ia meninju, menendang, dan merobek formasi tiga juta dewa itu sendirian. Setiap detik yang berlalu, puluhan ribu dewa kehilangan nyawa mereka. Mayat-mayat tanpa kepala, potongan anggota gerak yang masih memancarkan cahaya ilahi, dan senjata yang patah berjatuhan dari langit layaknya hujan meteor sampah.
Bukan hanya membunuh, Lin Tian juga memakan mereka.
Setiap kali Mutiara Naga di dalam perutnya berdenyut, pusaran lubang hitam kecil tercipta di sekeliling tubuhnya. Esensi jiwa, sisa-sisa hukum elemen, dan darah murni dari ratusan ribu dewa yang baru saja ia bantai disedot masuk ke dalam pori-porinya. Medan perang itu sendiri telah menjadi meja perjamuan prasmanan tanpa akhir baginya. Alih-alih kelelahan, setiap pukulan Lin Tian justru semakin berat, semakin cepat, dan semakin mematikan. Singularitas di dalam tubuhnya bertambah padat seiring dengan setiap jiwa dewa yang ia telan.
Di atas, delapan Raja Dewa yang duduk di dalam matahari buatan mereka menyaksikan pembantaian itu dengan kengerian yang membuat darah mereka membeku.
Mereka telah hidup selama puluhan ribu tahun, namun belum pernah sekali pun mereka melihat pembantaian sepihak dengan skala sebrutal ini. Tiga juta Dewa Sejati, elit dari seluruh Sembilan Domain Surgawi, tidak berdaya menghadapi satu orang pemuda! Pasukan itu tidak sedang bertarung, mereka sedang dipanen layaknya gandum di musim gugur.
“Dia menyerap energi kematian mereka! Dia menggunakan pasukan kita sebagai bahan bakar!” Penguasa Domain Pedang Ilahi berdiri dari takhtanya, matanya terbelalak ngeri. “Jika kita membiarkannya terus menelan Dewa Sejati, singularitasnya akan mencapai massa kritis yang tidak bisa kita sentuh!”
Penguasa Domain Api Penyucian menggeram, auranya meledak. “Tarik sisa pasukan Dewa Sejati! Biarkan prajurit Alam Langit menjadi umpan. Kita berdelapan harus turun tangan secara langsung. Kita akan mengunci pergerakannya, dan menggunakan Senjata Pemusnah Bintang sekarang juga!”
“Gila! Senjata itu akan menghapus seluruh wilayah ini! Pasukan kita sendiri akan ikut musnah!” protes Ratu Domain Kehidupan, wajah cantiknya pucat pasi.
“Apakah kau tidak melihat monster di bawah sana?!” raung Penguasa Domain Guntur. “Jika dia tidak dihentikan, seluruh Benua Langit Tinggi akan dikunyahnya hingga habis! Mengorbankan lima miliar prajurit fana adalah harga yang murah untuk menyelamatkan alam semesta!”
Ketujuh Raja Dewa lainnya terdiam. Mereka tahu Penguasa Domain Guntur benar. Ini bukan lagi soal mempertahankan wilayah atau membalas dendam; ini adalah soal eksistensi alam semesta itu sendiri.
“Sepakat,” ucap Penguasa Domain Pedang Ilahi dengan suara sedingin es. “Keluarkan Senjata Pemusnah Bintang. Aktifkan Protokol Eksekusi Primordial!”
Di udara, terompet mundur yang memekakkan telinga ditiupkan. Sisa-sisa Dewa Sejati yang jumlahnya kini telah berkurang hingga setengahnya dalam waktu kurang dari lima belas menit bergegas melarikan diri menjauhi Lin Tian dengan panik, menginjak-injak formasi prajurit Alam Langit di bawah mereka.
Lin Tian, yang baru saja mencabut kepala seorang jenderal dewa, membiarkan mayat tanpa kepala itu jatuh dari tangannya. Ia tidak mengejar mereka yang lari. Sang Tiran Naga melayang di tengah udara yang kini dipenuhi oleh kabut darah emas, memutar lehernya hingga berbunyi gemeretak keras. Napasnya mengepulkan uap panas yang mendistorsi ruang.
Ia mengangkat kepalanya, menatap delapan matahari buatan yang kini bergerak turun dari langit, memancarkan niat membunuh yang melampaui skala fana. Di tengah-tengah kedelapan Raja Dewa itu, sebuah artefak kosmik raksasa perlahan dikeluarkan dari dimensi saku. Benda itu berbentuk kubus hitam legam yang berukuran sebesar gunung, dipenuhi oleh ukiran rune primordial berwarna merah darah yang berdenyut layaknya jantung iblis yang baru saja dihidupkan.
Itu adalah Senjata Pemusnah Bintang. Pusaka terlarang peninggalan era penciptaan.
“Akhirnya, tikus-tikus besar itu berani keluar dari kandangnya,” Lin Tian menyeringai lebar, mengusap noda darah emas dari sudut bibirnya. Matanya memancarkan kegilaan tempur yang tidak bisa dipadamkan oleh senjata apa pun. “Mari kita lihat, apakah mainan usang kalian itu cukup keras untuk menghancurkan sisikku, atau justru aku yang akan menelannya menjadi inti galaksiku!”