Bab 48: Menembus Batas Surga Tertinggi dan Runtuhnya Gerbang Inti Kosmik

Ukuran:
Tema:

Keheningan yang menyelimuti sisa-sisa medan perang di atas Ibukota Kekaisaran Tiran Surgawi terasa lebih berat daripada gravitasi bintang mati. Delapan matahari buatan yang sebelumnya menerangi langit dengan keangkuhan Sembilan Domain Surgawi kini telah padam selamanya. Armada raksasa yang terdiri dari sepuluh ribu Kapal Perang Kosmik telah menjadi rongsokan besi yang melayang tanpa arah, sementara miliaran prajurit fana telah dikorbankan secara sia-sia oleh dewa-dewa mereka sendiri.

Di tengah lautan keputusasaan tersebut, tersisa satu juta Dewa Sejati dari pasukan Aliansi Perang Suci. Makhluk-makhluk abadi yang biasanya disembah oleh triliunan nyawa fana itu kini menjatuhkan pusaka mereka, melipat lutut mereka di udara, dan bersujud ke arah satu sosok tunggal yang melayang di pusat kehancuran.

Lin Tian menghembuskan napas pelan. Uap berwarna emas kosmik yang keluar dari mulutnya mendistorsi ruang di sekitarnya. Tubuh Sisik Naga Emas Kosmik-nya perlahan meredupkan pendaran galaksinya, menyembunyikan kekuatan absolut yang baru saja memusnahkan delapan Raja Dewa dalam hitungan menit. Di dalam Dantiannya, Singularity Kehancuran telah mencapai tingkat keseimbangan baru yang mengerikan, berdenyut dengan ritme yang selaras dengan detak jantung alam semesta itu sendiri.

Ia memutar lehernya, menatap ke arah jutaan Dewa Sejati yang bersujud menanti vonis eksekusi. Namun, sang Tiran Naga telah kehilangan minat pada mereka. Baginya, mereka tidak lebih dari sekadar debu yang tidak lagi memiliki nutrisi spiritual untuk memuaskan rasa laparnya.

Bai Xue melayang naik, berhenti tepat di sisi kanan Lin Tian. Sayap es peraknya berkilau memantulkan cahaya dari sisa-sisa ledakan kosmik.

“Kau membiarkan mereka hidup?” tanya Bai Xue tenang, matanya yang sedingin safir menyapu lautan dewa yang gemetar ketakutan.

“Membunuh mereka sekarang sama dengan memotong rumput yang sudah layu. Tidak ada tantangannya, tidak ada rasanya,” jawab Lin Tian dengan senyum bosan. Ia membalikkan badannya, menatap Bai Xue lekat-lekat. “Sembilan Domain Surgawi kini tidak memiliki penguasa. Triliunan mil wilayah, ribuan tambang Kristal Asal Ilahi, dan jutaan sekte fana kini kehilangan gembala mereka.”

Lin Tian mengangkat tangannya, menunjuk ke arah sisa-sisa armada dan lautan pasukan yang menyerah.

“Mulai hari ini, kau bukan lagi sekadar Ratu Es. Kau adalah Permaisuri Tunggal dari Benua Langit Tinggi,” titah Lin Tian, suaranya mengandung hukum absolut yang terukir langsung ke dalam ruang dan waktu. Jutaan dewa yang bersujud di kejauhan gemetar mendengar deklarasi tersebut, menyadari bahwa mereka baru saja berganti majikan. “Gunakan sejuta dewa ini sebagai anjing pelacakmu. Sapu bersih Sembilan Domain. Kumpulkan setiap sumber daya, setiap pusaka, dan setiap kitab kuno. Bangun kekaisaran ini sementara aku pergi mengurus pemilik asli dari peternakan ini.”

Bai Xue menundukkan kepalanya sedikit, sebuah gestur penghormatan yang hanya ia berikan kepada pemuda di depannya ini.

“Aku akan memastikan seluruh Benua Langit Tinggi membeku di bawah panjimu saat kau kembali,” ucap Bai Xue. Ia tahu bahwa pertempuran yang akan dihadapi Lin Tian selanjutnya bukanlah sesuatu yang bisa ia ikuti. Alam Kaisar Dewa adalah konsep yang melampaui logika penciptaan, sebuah ranah di mana bahkan hukum Es Ilahi Sembilan Kematian-nya akan hancur menjadi ketiadaan.

“Bagus,” Lin Tian menyeringai lebar. Gairah tempur yang buas kembali menyala di matanya yang berwarna emas kosmik. “Jaga rumah kita dengan baik. Aku akan pergi menendang pintu langit tertinggi.”

Tanpa membuang waktu sedetik pun untuk perpisahan yang cengeng, Lin Tian menghentakkan kakinya ke udara kosong.

BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHH!

Ledakan sonik yang dihasilkan dari tolakan kakinya merobek langit Benua Langit Tinggi. Tubuh Lin Tian melesat lurus ke atas dengan kecepatan yang secara harfiah melampaui kecepatan cahaya. Ia berubah menjadi komet berwarna abu-abu keemasan yang menembus lapisan atmosfer tertinggi benua tersebut.

Hanya dalam beberapa tarikan napas, warna biru dan awan keemasan dari Benua Langit Tinggi tertinggal jauh di bawahnya. Lin Tian memasuki sebuah zona yang ditakuti oleh setiap dewa di alam semesta ini: Batas Kekosongan Ketiadaan (The Void of Nihility).

Ini adalah ruang pembatas raksasa yang memisahkan Sembilan Domain Surgawi dari Inti Kosmik. Di tempat ini, tidak ada udara, tidak ada cahaya, tidak ada gravitasi, dan yang paling mematikan, tidak ada Qi spiritual. Ruang ini dipenuhi oleh badai radiasi kosmik purba dan angin dimensi yang mampu mengikis Percikan Ilahi (Divine Spark) seorang Raja Dewa hingga hancur dalam hitungan jam. Tiga Kaisar Dewa menciptakan zona ini sebagai parit pertahanan absolut agar tidak ada makhluk fana atau dewa rendahan yang berani mengusik tidur abadi mereka.

Namun, bagi Lin Tian, Batas Kekosongan Ketiadaan ini tidak lebih dari sekadar hembusan angin malam yang menyegarkan.

Tubuh Sisik Naga Emas Kosmik-nya bereaksi terhadap radiasi purba tersebut. Sisik-sisiknya menyerap setiap partikel radiasi yang mematikan, mengubahnya menjadi bahan bakar tambahan untuk Singularity Kehancuran di dalam Dantiannya. Ruang hampa yang seharusnya membekukan darah dan mencekik paru-paru sama sekali tidak memengaruhi Lin Tian, karena ia tidak lagi bernapas menggunakan oksigen fana; ia bernapas menggunakan sirkulasi energi alam semesta.

“Parit pertahanan yang sangat pengecut,” cibir Lin Tian saat ia terus melesat naik melintasi kegelapan absolut.

Setelah menembus Batas Kekosongan Ketiadaan selama setengah jam waktu fana, sebuah pemandangan yang melampaui skala imajinasi akhirnya tersingkap di hadapan mata emas sang Tiran.

Di tengah-tengah lautan bintang yang mati, melayang sebuah struktur raksasa yang ukurannya melampaui ratusan planet yang digabungkan menjadi satu. Itu adalah Inti Kosmik, sebuah bola disonansi raksasa yang terbuat dari jalinan hukum alam murni—emas untuk penciptaan, hitam untuk kehancuran, dan perak untuk reinkarnasi. Struktur ini memancarkan cahaya yang menerangi seluruh sudut kegelapan, berdenyut dengan ritme detak jantung alam semesta.

Di bagian paling bawah dari struktur raksasa tersebut, terdapat sebuah gerbang yang terbuat dari perunggu kosmik berkarat. Gerbang itu tingginya mencapai sepuluh ribu mil, dihiasi oleh ukiran miliaran galaksi yang berputar secara nyata di permukaan logamnya.

Ini adalah Gerbang Kejadian (Genesis Gate), pintu masuk satu-satunya menuju kuil abadi tempat Tiga Kaisar Dewa bersemayam.

Namun, gerbang itu tidak dibiarkan tanpa penjagaan. Begitu kehadiran Lin Tian—sebuah anomali yang memancarkan aura singularitas—memasuki radius satu juta mil dari Inti Kosmik, mekanisme pertahanan purba langsung terbangun.

Dua belas patung raksasa yang mengambang di sekitar Gerbang Kejadian mulai bergerak. Mereka adalah Dua Belas Penjaga Rasi Bintang Primordial, golem mekanis yang ditempa langsung dari inti bintang mati oleh Tiga Kaisar Dewa. Masing-masing penjaga memiliki ukuran setara dengan sebuah benua kecil dan memancarkan kekuatan absolut yang setara dengan Alam Raja Dewa Tingkat Puncak.

BZZZZZZT!

Dua belas pasang mata mekanis yang memancarkan laser penghancur bintang mengunci target mereka pada sosok Lin Tian. Mereka tidak memiliki jiwa, tidak memiliki rasa takut, dan tidak bisa diintimidasi. Mereka diprogram hanya untuk satu tujuan: memusnahkan apa pun yang tidak memiliki izin dari kaisar.

“Peringatan. Entitas tanpa otoritas ilahi terdeteksi. Protokol Pemusnahan Kosmik diaktifkan,” suara mekanis yang menggema tanpa medium udara langsung ditransmisikan ke dalam pikiran Lin Tian.

Dua belas penjaga raksasa itu mengangkat senjata mereka secara serentak—pedang meteorit, kapak nebula, dan palu gravitasi. Mereka mengayunkan senjata raksasa itu ke arah Lin Tian, menciptakan riak spasial yang cukup kuat untuk melipat ruang di sekitarnya dan mengunci pergerakan sang Tiran.

Lin Tian menghentikan laju terbangnya. Melayang bagaikan titik debu emas di hadapan dua belas titan kosmik, ia hanya memiringkan kepalanya dengan tatapan penuh kebosanan.

“Kalian membuat patung-patung rongsokan ini untuk menjaga pintu kalian? Tiga Kaisar Dewa benar-benar telah kehilangan kreativitas mereka,” gumam Lin Tian.

Ia tidak repot-repot menghindari tebasan senjata raksasa yang meluncur ke arahnya. Ia hanya mengangkat tangan kanannya, memusatkan Singularity Kehancuran ke dalam satu titik fokus sekecil biji sesawi di ujung jari telunjuknya.

“Menyingkir dari jalanku, rongsokan tua!”

Lin Tian menjentikkan jarinya ke depan.

“Seni Pamungkas Kaisar Naga: Penghapusan Titik Buta Kosmik!”

Sebuah pancaran sinar abu-abu keemasan melesat dari ujung jari Lin Tian. Sinar itu sangat kecil, namun kepadatannya melampaui massa seluruh galaksi yang terlihat. Saat sinar itu bersentuhan dengan senjata raksasa dari Penjaga Rasi Bintang pertama, tidak ada ledakan, tidak ada suara, dan tidak ada kilatan cahaya.

Senjata mekanis yang terbuat dari inti bintang itu, beserta patung raksasa yang memegangnya, seketika terdekonstruksi. Logam purba, energi kosmik, dan program ilahi di dalamnya diurai kembali menjadi partikel-partikel dasar alam semesta dalam waktu kurang dari satu mikrodetik.

Sinar singularitas itu tidak berhenti. Ia menembus patung pertama, bercabang menjadi sebelas sinar lainnya yang mencari target secara otomatis, dan menghantam sebelas penjaga raksasa yang tersisa secara bersamaan.

Hanya dalam satu jentikan jari yang santai, pertahanan terkuat yang dirancang untuk menahan invasi Sembilan Domain Surgawi selama jutaan tahun dihapus dari eksistensi, menyisakan kekosongan absolut tanpa sisa puing sedikit pun.

Lin Tian menurunkan tangannya, meniup ujung jarinya seolah baru saja membersihkan debu dari mejanya. Ia kemudian kembali melesat maju, mengabaikan Gerbang Kejadian yang tertutup rapat.

Bagi sang Tiran, mengetuk adalah sebuah penghinaan.

Lin Tian mengepalkan kedua tangannya. Sarung Tangan Pembelah Bintang memancarkan api singularitas yang membakar realitas. Ia membuang dirinya langsung ke arah gerbang perunggu setinggi sepuluh ribu mil tersebut, menabraknya dengan bahu kanannya secara frontal.

BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH!

Gerbang Kejadian, yang diklaim tak bisa dihancurkan karena terhubung langsung dengan hukum alam semesta, meledak hancur berkeping-keping! Pecahan logam perunggu kosmik seukuran negara terlempar ke dalam, meruntuhkan pilar-pilar pualam di balik gerbang tersebut. Sang Tiran Naga mendobrak masuk ke dalam wilayah paling sakral di alam semesta dengan kebrutalan seorang perampok jalanan.

Di balik gerbang yang hancur, terhampar sebuah ruang yang menentang logika fana. Ini bukan istana biasa; ini adalah Kuil Keabadian (Temple of Eternity). Lantainya terbuat dari cermin air kosmik yang memantulkan seluruh peristiwa di alam semesta secara real-time. Langit-langitnya adalah pusaran galaksi yang berputar lambat, memancarkan cahaya yang tidak pernah redup. Tidak ada waktu yang berjalan di tempat ini; masa lalu, masa kini, dan masa depan ada secara bersamaan.

Di ujung cermin air kosmik tersebut, menjulang tiga singgasana raksasa yang terbuat dari inti hukum alam semesta. Dan di atas ketiga singgasana tersebut, duduk tiga entitas yang kehadirannya membuat seluruh sel di dalam tubuh fana manapun akan meledak karena tidak mampu memproses keagungan mereka.

Mereka adalah Tiga Kaisar Dewa.

Di singgasana sebelah kiri, duduk Kaisar Penciptaan Matahari (Yang Di). Tubuhnya tidak memiliki wujud fisik yang padat; ia adalah manifestasi dari cahaya bintang yang paling murni. Mahkotanya adalah cincin api kosmik yang terus-menerus melahirkan tata surya baru.

Di singgasana sebelah kanan, duduk Kaisar Ketiadaan Gelap (Yin Mo). Tubuhnya adalah kekosongan absolut yang menelan cahaya. Jubahnya terbuat dari materi gelap yang melambangkan akhir dari segala entropi. Ia adalah ketiadaan yang menunggu setelah semua bintang mati.

Dan di singgasana tengah, duduk Kaisar Reinkarnasi Samsara (Lun Hui). Ia berwujud seorang pria androgini yang luar biasa rupawan, dengan sepasang mata yang memutar roda gigi emas tak berujung. Ia memegang timbangan kehidupan dan kematian, mengatur aliran jiwa dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya.

Ketiga eksistensi mutlak itu—yang berada di Alam Kaisar Dewa (Divine Emperor Realm)—membuka mata mereka secara bersamaan saat Lin Tian melangkah masuk dengan santai melintasi pecahan Gerbang Kejadian.

Tidak ada kepanikan, tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Yang ada hanyalah tekanan otoritas yang luar biasa berat, mencoba memaksa Lin Tian untuk bersujud menghancurkan lututnya sendiri.

“Sebuah anomali dari dimensi bawah,” suara Kaisar Penciptaan Matahari bergema, membawa kehangatan yang bisa membakar planet menjadi abu. Suaranya terdengar di dalam kepala Lin Tian, bukan melalui telinganya. “Menolak Percikan Ilahi. Menelan energi Raja Dewa. Dan kini, merusak keseimbangan Kuil Keabadian. Kau adalah cacat produksi dari penciptaan yang harus dihapus.”

Kaisar Ketiadaan Gelap menyambung dengan suara yang menyedot harapan, sedingin ruang hampa. “Bahkan kegelapan pun menolak jiwamu. Kau tidak pantas kembali ke dalam siklus ketiadaan.”

“Hukum semesta telah menetapkan batasmu, manusia fana,” Kaisar Reinkarnasi Samsara berbicara, roda gigi di matanya berputar cepat, mencoba membaca garis nasib Lin Tian, namun ia tidak menemukan apa-apa selain kekosongan yang mengerikan. “Meskipun kau berhasil memadatkan singularitas, kau tidak memiliki Otoritas Ilahi. Di hadapan kami yang merupakan hukum alam itu sendiri, kau hanyalah kerikil yang mencoba menghancurkan gunung.”

Mendengar deklamasi agung yang dipenuhi oleh keangkuhan jutaan tahun tersebut, langkah Lin Tian tidak terhenti sedikit pun. Ia berjalan di atas cermin air kosmik, langkahnya menciptakan riak yang mendistorsi proyeksi alam semesta di bawah kakinya.

Ia berhenti tepat di tengah-tengah kuil, berjarak beberapa mil dari ketiga singgasana tersebut, yang di tempat ini setara dengan jarak tatap muka.

Lin Tian melipat kedua lengannya di depan dada, mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, dan memberikan senyuman tiran yang paling arogan yang pernah disaksikan oleh dinding-dinding kuil suci ini.

“Cacat produksi? Kerikil?” Lin Tian tertawa rendah, sebuah resonansi yang memaksa cermin kosmik di bawah kakinya retak. “Kalian bertiga duduk di sini selama jutaan tahun, menimbun energi murni dari triliunan nyawa, mengurung kultivator fana dalam aturan Percikan Ilahi agar tidak ada yang bisa melampaui kalian. Kalian bukanlah hukum alam. Kalian hanyalah tiga ekor parasit kosmik yang terlalu gemuk untuk turun dari kursi kalian!”

Pernyataan itu adalah penghujatan absolut. Bahkan ruang hampa di dalam kuil itu seketika memerah menahan murka dari Tiga Kaisar Dewa.

“Lancang!”

Kaisar Penciptaan Matahari adalah yang pertama kehilangan kesabarannya yang purba. Ia mengangkat tangan kanannya yang terbuat dari cahaya murni.

“Hukum Kaisar Dewa: Murka Seribu Matahari!”

Seketika, seribu bintang raksasa berskala supernova bermanifestasi di dalam ruang Kuil Keabadian. Panas yang dihasilkan melampaui batas suhu Planck. Seribu matahari itu ditembakkan secara bersamaan, memusatkan seluruh daya hancur kosmiknya ke dalam satu sinar penciptaan yang mengincar langsung keberadaan Lin Tian. Sinar ini tidak hanya membakar fisik, tetapi dirancang untuk menghapus catatan eksistensi seseorang dari masa lalu hingga masa depan.

Namun, di hadapan cahaya yang menyilaukan dan panas yang membakar dimensi tersebut, Lin Tian tidak mundur selangkah pun. Ia tidak menghindar.

Ia membusungkan dadanya, membuka rahangnya lebar-lebar, dan Singularity Kehancuran di dalam Dantiannya meledak dengan daya hisap yang merobek logika.

BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHH!

Sinar yang setara dengan seribu matahari itu menghantam tubuh Lin Tian, namun alih-alih menguapkannya, energi cahaya dan panas yang tak terhingga itu diserap secara paksa ke dalam mulut dan pori-pori kulitnya! Sisik Naga Emas Kosmiknya memancarkan pendaran merah membara sesaat sebelum menetralkan seluruh serangan tersebut kembali ke titik keseimbangan.

Lin Tian menelan serangan pamungkas Kaisar Penciptaan Matahari mentah-mentah, lalu memuntahkan asap emas dari hidungnya.

“Rasanya seperti menelan sup yang terlalu panas, tapi lumayan untuk pemanasan,” kekeh Lin Tian, mengusap lehernya yang sedikit kaku.

Mata cahaya Kaisar Penciptaan terbelalak untuk pertama kalinya dalam sejarah kosmik. Ia tidak bisa memproses bagaimana fisik sebuah entitas tanpa Otoritas Ilahi mampu mengonsumsi Hukum Matahari murni tanpa meledak.

Kaisar Reinkarnasi Samsara menyipitkan mata roda giginya. “Materi fisik dan energinya menolak hukum kita. Jangan serang dia dengan energi murni! Serang konsep keberadaannya!”

Kaisar Reinkarnasi mengangkat timbangan emasnya. Ia menekan roda gigi di matanya hingga memutar mundur putaran waktu.

“Hukum Kaisar Dewa: Dekonstruksi Waktu – Pelapukan Abadi!”

Sebuah domain emas menyelimuti Lin Tian. Di dalam domain ini, waktu dipercepat triliunan kali lipat. Udara, debu, dan energi di sekitarnya seketika membusuk menjadi ketiadaan. Hukum ini dirancang untuk membuat usia fisik dan jiwa Lin Tian menua hingga miliaran tahun dalam satu detik, merubahnya menjadi debu fosil tanpa perlu menyentuhnya.

Namun, Lin Tian hanya berdiri di dalam domain waktu yang mendistorsi itu. Sisik emas kosmiknya tetap berkilau sempurna. Rambut hitamnya tidak memutih sehelai pun.

“Menggunakan waktu untuk melawanku?” Lin Tian menatap Kaisar Reinkarnasi dengan pandangan meremehkan. “Tidakkah kau tahu bahwa di pusat sebuah singularitas… waktu itu tidak ada?!”

Singularity Kehancuran Lin Tian memancarkan gravitasi absolut yang meremukkan konsep waktu di sekitarnya. Domain penuaan milik Kaisar Reinkarnasi hancur berkeping-keping seperti kaca yang dilempar batu bata.

Sang Tiran Naga mengambil satu langkah ke depan. Hentakan kakinya membuat cermin air kosmik di lantai kuil itu pecah sepenuhnya, mengguncang ketiga singgasana raksasa di depannya.

“Kalian sudah memamerkan trik sulap kalian,” ucap Lin Tian, mengepalkan kedua tangannya hingga api singularitas membakar udara di sekitarnya menjadi hitam mutlak. Otot-ototnya membengkak, memancarkan urat-urat galaksi yang berdenyut liar. “Sekarang, izinkan aku menunjukkan kepada kalian apa itu kekuatan yang sesungguhnya. Turunlah dari singgasana kalian, parasit tua, karena hari ini aku akan mematahkan leher alam semesta!”