Bab 49: Tritunggal Inti Kosmik dan Runtuhnya Mahkota Matahari

Ukuran:
Tema:

Pernyataan Lin Tian yang menyamakan Tiga Kaisar Dewa—entitas tertinggi yang memegang poros penciptaan dan kehancuran alam semesta—sebagai parasit tua yang terlalu gemuk untuk turun dari takhta mereka, bukan lagi sekadar penghinaan. Itu adalah deklarasi perang terhadap fondasi realitas itu sendiri.

Kuil Keabadian, ruang yang seharusnya tidak tersentuh oleh konsep fana seperti kehancuran atau pelapukan, kini bergetar hebat. Cermin air kosmik di bawah kaki Lin Tian telah retak menjadi ribuan jaring laba-laba, dan pusaran galaksi di langit-langit kuil berputar dengan ritme yang kacau balau, seolah alam semesta sedang mengalami hiperventilasi.

Melihat Hukum Penciptaan dan Hukum Waktu dipatahkan secara paksa oleh pemuda berjubah hitam tersebut, Kaisar Ketiadaan Gelap (Yin Mo) akhirnya angkat bicara. Suaranya tidak memantul di udara, melainkan menyedot seluruh gaung di dalam ruangan tersebut, menciptakan sebuah keheningan yang menyiksa gendang telinga.

“Jika cahaya tidak bisa membakarmu, dan waktu tidak bisa melapukkanmu, itu karena singularitasmu menolak konsep keberadaan mereka,” ucap Yin Mo, perlahan bangkit dari singgasananya yang terbuat dari materi gelap murni. Jubahnya yang menyerupai jurang tanpa dasar berkibar, menelan cahaya dari pusaran galaksi di atas mereka. “Namun, singularitas tetaplah sebuah eksistensi. Dan di hadapanku, semua eksistensi harus kembali ke pangkuan ketiadaan yang sejati.”

Kaisar Yin Mo merentangkan kedua lengannya yang berbentuk bayangan absolut.

“Hukum Kaisar Dewa: Jurang Ketiadaan Primordial – Pemakaman Entropi!”

Ruang di sekitar Lin Tian tiba-tiba menghilang. Bukan rusak atau hancur, melainkan dihapus dari koordinat alam semesta. Kegelapan yang luar biasa pekat, yang tidak memiliki suhu, dimensi, atau arah, menelan sang Tiran Naga hidup-hidup. Ini bukan sihir ilusi. Kaisar Yin Mo secara harfiah telah memindahkan Lin Tian ke dalam konsep “Ketiadaan” (Nothingness) murni yang mendahului penciptaan alam semesta (Big Bang).

Di dalam dimensi ini, materi fisik apa pun, sekeras apa pun, akan terurai menjadi partikel sub-atomik yang tak bermassa, karena hukum fisika tidak berlaku di tempat di mana ruang tidak ada. Tubuh dewa sejati sekalipun akan kehilangan wujudnya dalam seperseribu detik.

Dari luar, di dalam Kuil Keabadian, Lin Tian tampak tertelan oleh sebuah bola hitam raksasa yang tidak memantulkan cahaya apa pun.

Kaisar Penciptaan Matahari (Yang Di) mendengus dingin, cincin apinya berputar kembali dengan tenang. “Hanya kekerasan fisik brute force. Tanpa Otoritas Ilahi, dia tidak memiliki jangkar untuk mempertahankan eksistensinya di dalam Pemakaman Entropi milikmu, Yin Mo.”

“Biarkan dia memudar menjadi konsep yang terlupakan,” tambah Kaisar Reinkarnasi Samsara (Lun Hui), memutar roda giginya kembali ke ritme normal.

Namun, kelegaan para Kaisar Dewa itu hanya bertahan kurang dari tiga tarikan napas.

Bola ketiadaan absolut yang diciptakan oleh Yin Mo tiba-tiba beriak. Permukaannya yang seharusnya mulus dan tanpa bentuk mulai menonjol ke luar, seolah ada sesuatu yang sangat masif sedang meronta dari dalam rahim kegelapan tersebut.

KRETAK… BZZZZZT!

Suara sesuatu yang tidak seharusnya bisa retak, kini retak. Garis-garis cahaya berwarna abu-abu keemasan—warna dari Singularity Kehancuran—mulai membelah bola ketiadaan tersebut dari dalam!

“A-Apa?!” Suara Yin Mo yang selalu datar kini diwarnai oleh riak kepanikan yang tak pernah ada sebelumnya. Ia menyuntikkan seluruh energi materi gelapnya untuk menambal kebocoran tersebut, namun itu sia-sia.

BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHH!

Bola ketiadaan itu meledak dari dalam ke luar! Pecahan kegelapan primordial terlempar ke segala arah, menghantam dinding-dinding Kuil Keabadian hingga menciptakan lubang-lubang yang menembus ke Batas Kekosongan.

Dari pusat ledakan tersebut, Lin Tian melangkah keluar.

Tubuh Sisik Naga Emas Kosmik-nya tidak kehilangan satu sisik pun. Alih-alih terurai, urat-urat galaksi di tubuhnya menyala semakin terang, memancarkan korona emas yang mendominasi kegelapan. Ia menggenggam leher jubahnya, menariknya sedikit untuk merapikan pakaiannya dengan gaya yang luar biasa merendahkan.

“Kalian menyebut itu ketiadaan?” Lin Tian menatap Kaisar Yin Mo dengan seringai predator yang memamerkan deretan gigi putihnya. Tawanya menggema, dipenuhi oleh ejekan kosmik. “Itu hanyalah ruangan gelap yang pengap! Kau tidak mengerti apa itu ketiadaan sejati, Yin Mo. Ketiadaan milikmu adalah ketiadaan karena ketiadaan materi. Tapi singularitasku… adalah ketiadaan karena ia telah memakan dan menghancurkan semua materi! Kehancuranku berdiri di atas hukum entropimu!”

Mendengar deklarasi tersebut, ketiga Kaisar Dewa akhirnya menyadari satu kebenaran yang mengerikan: Anomali di hadapan mereka ini tidak tunduk pada hierarki alam semesta karena ia adalah antitesis dari alam semesta itu sendiri.

Kaisar Reinkarnasi Samsara berdiri dari takhtanya. Diikuti oleh Kaisar Penciptaan Matahari. Untuk pertama kalinya sejak mereka membantai para dewa primordial di era awal penciptaan, Tiga Kaisar Dewa bangkit secara bersamaan untuk menghadapi satu musuh tunggal.

“Kita tidak bisa melawannya dengan hukum tunggal,” ucap Kaisar Reinkarnasi, suaranya kini memancarkan resonansi perang yang membekukan darah. “Sinkronisasi Otoritas Ilahi. Aktifkan Formasi Tritunggal Inti Kosmik. Kita giling singularitasnya dengan siklus penciptaan, ketiadaan, dan reinkarnasi!”

Ketiga Kaisar Dewa melayang dari singgasana mereka, membentuk sebuah segitiga sama sisi yang mengelilingi Lin Tian dari atas udara.

“Formasi Kaisar Dewa: Roda Penggilingan Kosmik Tritunggal!”

Kaisar Penciptaan melepaskan cahaya supernova emas, Kaisar Ketiadaan melepaskan materi gelap absolut, dan Kaisar Reinkarnasi melepaskan hukum siklus perak. Ketiga energi yang mewakili fondasi semesta itu menyatu, menciptakan sebuah roda penggilingan raksasa di udara yang lebarnya mencapai ratusan mil. Roda itu memiliki dua lapis lempengan kosmik—satu berputar searah jarum jam, satu lagi berlawanan arah.

Mereka berniat menjepit Lin Tian di antara kedua lempengan roda kosmik tersebut. Ini adalah formasi hukuman tertinggi, dirancang untuk mereset dan menggiling sebuah galaksi yang memberontak menjadi partikel dasar. Tidak ada entitas yang memiliki massa dan volume bisa lolos dari gaya jepit dan pelintir formasi ini.

Ruang di mana Lin Tian berdiri seketika ditarik ke atas, tepat ke tengah-tengah dua lempengan roda kosmik yang sedang berputar dengan kecepatan cahaya.

KRIIIIIEEEET! BOOOOOM!

Kedua lempengan roda Tritunggal itu menjepit tubuh Lin Tian! Suara gesekan yang dihasilkan tidak menyerupai batu atau logam, melainkan jeritan triliunan bintang yang sedang dihancurkan. Gaya gravitasi dan kompresi di titik jepit itu miliaran kali lipat lebih berat daripada pusat bintang mati mana pun di alam semesta.

“Tamatlah kau, anomali fana! Hancur menjadi debu dan jadilah fondasi bagi era baru kami!” raung Kaisar Penciptaan, menuangkan seluruh esensi mataharinya ke dalam lempengan roda tersebut untuk memastikan fisik Lin Tian benar-benar diuapkan.

Di dalam roda penggilingan kosmik, tekanan yang luar biasa brutal mencoba meremukkan setiap inci dari kulit, tulang, dan jiwa Lin Tian. Gesekan dari Hukum Penciptaan, Ketiadaan, dan Reinkarnasi mencoba memaksanya untuk tunduk pada otoritas tiga kaisar. Percikan api kosmik menyembur ke segala arah, menghancurkan sisa-sisa Kuil Keabadian hingga bangunan suci itu nyaris runtuh sepenuhnya.

Namun, di tengah-tengah jepitan mematikan yang dirancang untuk mereset galaksi tersebut, sebuah suara pelan bergema. Suara itu tidak tenggelam oleh deru formasi, melainkan memotong langsung ke inti jiwa ketiga kaisar.

“Menggilingku? Dengan roda rongsokan ini?”

BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH!

Roda penggilingan kosmik raksasa itu terhenti.

Bukan secara bertahap, melainkan terhenti secara tiba-tiba dan kasar, seolah-olah sebuah balok baja raksasa baru saja diselipkan ke dalam roda giginya.

Mata Tiga Kaisar Dewa membelalak lebar, memancarkan teror murni yang menembus keabadian mereka.

Di tengah-tengah dua lempengan roda kosmik raksasa tersebut, Lin Tian tidak hancur. Ia tidak memanggil perisai energi. Ia tidak menggunakan sihir ruang.

Sang Tiran Naga berdiri dengan kedua kakinya sedikit merenggang, lutut ditekuk. Ia telah mengangkat kedua lengannya yang berlapis sisik emas kosmik dan Sarung Tangan Pembelah Bintang, menahan lempengan roda kosmik atas dengan telapak tangannya, sementara kakinya memijak kuat lempengan roda bawah.

Fisik murninya—otot, tulang, dan urat nadi—menahan kompresi dari tiga hukum tertinggi alam semesta secara harfiah dengan kekuatan angkat beban!

“URAAAAAAAAGGGGHHH!”

Lin Tian meraung, bukan karena kesakitan, melainkan karena gairah tempur yang meluap-luap. Urat-urat nadi emas singularitas menonjol di sekujur leher, lengan, dan dadanya. Singularity Kehancuran di dalam Dantiannya berputar dengan kecepatan yang membuat waktu di sekitarnya berhenti total.

“Kalian pikir… hukum kalian lebih berat dari tulang punggung naga?!”

Lin Tian menekan kakinya, dan dengan daya tolak fisik yang murni, ia mendorong kedua lengannya ke atas dengan tenaga yang melampaui jutaan kali ledakan supernova.

KRAAAAAAK! PRANGGGGGGGGG!

Roda Penggilingan Kosmik Tritunggal, formasi pamungkas Tiga Kaisar Dewa, patah menjadi dua! Lempengan atasnya meledak ke atas, menghancurkan atap Kuil Keabadian sepenuhnya dan melesat menghilang ke dalam kekosongan angkasa, sementara lempengan bawahnya hancur menjadi serpihan cahaya yang berserakan di bawah kaki sang Tiran.

Serangan balik (backlash) dari hancurnya formasi gabungan itu merobek otoritas ilahi ketiga kaisar. Kaisar Penciptaan, Ketiadaan, dan Reinkarnasi memuntahkan cairan esensi kosmik, tubuh abadi mereka terhempas mundur ratusan mil di udara, menabrak sisa-sisa pilar kuil.

Lin Tian tidak memberikan mereka waktu untuk bernapas. Asap emas mengepul dari sekujur tubuhnya, matanya menyala dengan api singularitas yang membakar realitas. Ia telah menguji batas pertahanan mereka, dan kini saatnya memulai fase pembantaian.

“Aku sudah merasakan gigitan kalian. Sekarang, biarkan aku mengajari kalian apa itu rasa sakit yang fana!”

Target pertama Lin Tian adalah yang paling terang dan paling sombong di antara mereka: Kaisar Penciptaan Matahari (Yang Di).

Lin Tian menghentakkan kakinya di atas ruang kosong, mematahkan hukum fisika, dan melesat dengan kecepatan telepati. Ia bermanifestasi tepat di hadapan Yang Di yang baru saja menghentikan laju terhempasnya.

“JANGAN MEREMEHKANKU, SEMUT!” Yang Di meraung, merasa sangat terhina. Tubuh cahayanya memadat, merubah dirinya menjadi wujud raksasa setinggi seratus meter yang seluruhnya terbuat dari plasma matahari murni. Ia mengayunkan tinju raksasanya yang dikelilingi oleh cincin korona korosif lurus ke arah Lin Tian.

Menghadapi tinju plasma raksasa tersebut, Lin Tian tidak menghindar. Ia tidak peduli dengan perbedaan ukuran tubuh. Sang Tiran Naga menarik lengan kanannya jauh ke belakang.

“Cahayamu terlalu menyilaukan. Aku akan memadamkannya!”

“Seni Kehancuran: Pemadam Bintang (Star Extinguisher)!”

Lin Tian melontarkan pukulannya. Titik singularitas sebesar biji kelereng berkumpul di ujung Sarung Tangan Pembelah Bintang-nya, menyerap seluruh cahaya di sekitarnya, lalu meledak ke depan.

BUMMMMMMMMMMMMMMM!

Tinju sekecil manusia itu bertabrakan dengan tinju plasma raksasa milik Yang Di.

Fenomena yang terjadi mengkhianati logika ukuran. Begitu singularitas Lin Tian bersentuhan dengan plasma Yang Di, Hukum Penciptaan di dalam tinju dewa itu langsung diurai. Lengan raksasa Kaisar Penciptaan Matahari itu retak layaknya kaca, lalu hancur berantakan menjadi debu cahaya dari kepalan tangannya, menjalar naik ke lengan bawah, siku, hingga ke bahunya dalam seperseribu detik.

“GAAAAAAARRRGGGHHH!”

Yang Di menjerit histeris. Jeritannya membuat jutaan bintang di alam semesta Benua Langit Tinggi berkedip meredup secara serentak. Ia kehilangan seluruh lengan kanannya, bukan karena terpotong, melainkan karena dihapus dari konsep keberadaannya.

Namun, Lin Tian tidak berhenti di situ. Memanfaatkan momentum pukulannya, ia melesat naik di sepanjang sisa bahu Yang Di yang sedang menguap, dan melompat lurus ke arah wajah dewa raksasa tersebut.

Mahkota api kosmik yang melayang di atas kepala Yang Di—sumber otoritas penciptaannya—memancarkan suhu panas yang berusaha melelehkan Lin Tian sebelum ia mendekat. Namun, Tubuh Sisik Naga Emas Kosmik menolak untuk meleleh.

Lin Tian mendarat tepat di dahi raksasa plasma tersebut. Ia mencengkeram Mahkota Api Kosmik itu dengan kedua tangannya.

“Otoritas Penciptaan ini… kau tidak pantas memakainya!” raung Lin Tian.

“T-TIDAAAK! LEPASKAAN! KAU TIDAK BISA MENYENTUHNYA!” Yang Di meronta dengan sisa lengan kirinya, mencoba menampar Lin Tian seperti nyamuk yang menempel di dahinya.

Namun, Lin Tian memancarkan gravitasi singularitas dari kakinya, memaku dirinya sendiri di dahi dewa tersebut dengan beban yang setara dengan jutaan lubang hitam. Ia mengerahkan seluruh kekuatan fisik Naga Surgawinya, dan dengan satu tarikan raksasa yang kejam…

SRAAAAAAAAT! KRAAAAAAK!

Lin Tian merobek Mahkota Api Kosmik itu langsung dari akar jiwa Kaisar Penciptaan Matahari!

Rasa sakit dari pencabutan akar otoritas itu melampaui batas toleransi dewa. Wujud raksasa Yang Di seketika kehilangan stabilitasnya. Ia mengecil kembali ke ukuran normalnya, memuntahkan cairan plasma yang tak terhitung jumlahnya. Cahaya abadi yang menyelimuti tubuhnya mulai meredup dengan kecepatan yang menakutkan.

Tanpa mahkotanya, Kaisar Penciptaan tidak lebih dari sekadar bintang raksasa yang sedang menunggu waktu untuk meledak dan mati.

Lin Tian tidak membiarkannya meledak. Ia memegang Mahkota Api Kosmik di tangan kirinya, lalu turun dengan cepat dan mencengkeram leher Yang Di yang kini melemah dengan tangan kanannya.

“Cahayamu sudah padam, orang tua,” bisik Lin Tian dingin, menatap mata dewa yang kini dipenuhi oleh teror fana yang belum pernah ia rasakan sejak alam semesta diciptakan.

“Yin Mo! Lun Hui! SELAMATKAN A—”

Kata-kata terakhir Yang Di terputus secara absolut. Mutiara Naga di dalam perut Lin Tian terbuka lebar. Daya hisap dari Singularity Kehancuran menelan sisa-sisa esensi kehidupan, hukum penciptaan, dan jiwa Yang Di melalui telapak tangan Lin Tian.

Tubuh Kaisar Penciptaan Matahari—salah satu dari tiga pilar alam semesta—mengering, meredup, dan akhirnya hancur menjadi serpihan abu kehitaman yang ditiup oleh angin kekosongan, lenyap sepenuhnya.

WUSSSSHHHH…

Di saat Yang Di mati, seluruh Benua Langit Tinggi, Sembilan Domain Surgawi, dan miliaran dunia bawah yang terhubung dengannya seketika mengalami gerhana matahari total. Matahari-matahari di langit meredup serentak. Kematian sang Kaisar Penciptaan mengirimkan riak kesedihan ke seluruh struktur alam semesta, memicu badai kosmik dan gempa bumi di setiap benua fana.

Di Inti Kosmik, di tengah sisa-sisa reruntuhan Kuil Keabadian, Lin Tian berdiri tegak di udara. Ia memegang mahkota api yang kini berkedip lemah di tangan kirinya. Aura emas keabu-abuannya menelan cahaya apa pun yang mencoba mendekatinya. Menyerap esensi seorang Kaisar Dewa membuat lautan bintang di dalam tubuhnya mendidih, mendorong kekuatannya melampaui batasan paradoks.

Ia perlahan menolehkan kepalanya. Pupil singularitasnya menatap lurus ke arah dua sosok kaisar yang tersisa—Kaisar Ketiadaan Gelap (Yin Mo) dan Kaisar Reinkarnasi Samsara (Lun Hui).

Kedua entitas absolut itu kini melayang mundur, mata mereka memancarkan satu emosi yang tidak pernah ada dalam kamus mereka: Ketakutan murni. Salah satu pilar penopang alam semesta mereka baru saja dicabut dan dibunuh semudah membunuh seekor anjing tua.

Lin Tian menyeringai lebar, meremukkan Mahkota Api Kosmik di tangannya menjadi partikel cahaya yang diserap ke dalam Sarung Tangan Pembelah Bintang-nya.

“Satu parasit telah dicabut dari inangnya,” suara Lin Tian menggema di keheningan ruang hampa, membawa vonis kematian yang tak terhindarkan. “Sekarang, tersisa dua parasit. Siapa yang ingin lehernya kupatahkan terlebih dahulu?”