Bab 50: Hancurnya Roda Samsara dan Padamnya Ketiadaan Kosmik
Kematian Kaisar Penciptaan Matahari, Yang Di, bukanlah sekadar gugurnya sebuah nyawa; itu adalah tercabutnya salah satu pilar penopang realitas. Di seluruh penjuru Benua Langit Tinggi dan triliunan dunia fana di bawahnya, langit mendadak kehilangan kehangatannya. Bintang-bintang di cakrawala berkedip redup seolah menangisi kepergian tuannya, sementara lautan kosmik bergejolak dalam kepanikan yang tak terkendali.
Di dalam sisa-sisa Kuil Keabadian yang kini telah hancur separuhnya, keseimbangan absolut yang telah dipertahankan selama jutaan tahun hancur berkeping-keping.
Lin Tian berdiri melayang di udara, meremukkan sisa partikel cahaya dari Mahkota Api Kosmik. Tubuh Sisik Naga Emas Kosmik-nya memancarkan pendaran abu-abu keemasan yang menelan setiap spektrum warna di sekitarnya. Uap panas yang mengepul dari mulutnya mendistorsi ruang hampa. Mutiara Naga di dalam Dantiannya kini telah bermutasi sepenuhnya menjadi sebuah galaksi miniatur yang berpusat pada Singularity Kehancuran, berdenyut dengan ritme yang melampaui logika alam semesta.
Ia menoleh perlahan. Sepasang pupil emasnya, yang kini berisi pusaran singularitas tak berdasar, menatap lurus ke arah dua entitas tertinggi yang tersisa: Kaisar Ketiadaan Gelap (Yin Mo) dan Kaisar Reinkarnasi Samsara (Lun Hui).
Untuk pertama kalinya sejak mereka dilahirkan dari ketiadaan primordial, kedua Kaisar Dewa itu merasakan sebuah konsep yang selalu mereka berikan kepada makhluk fana, namun tak pernah mereka cicipi sendiri.
Teror fana yang membekukan jiwa.
“Satu sudah lenyap,” suara Lin Tian tidak bergema di udara, melainkan langsung menggores lautan kesadaran kedua kaisar tersebut, membawa rasa sakit fisik yang nyata. Sang Tiran Naga memutar lehernya hingga terdengar suara gemeretak keras yang membelah keheningan. “Siapa selanjutnya? Atau kalian ingin maju berdua agar aku tidak perlu membuang waktu mengunyah dua kali?”
Kaisar Ketiadaan Gelap, Yin Mo, mundur selangkah di udara. Jubahnya yang terbuat dari materi gelap murni bergetar tak menentu. Ia melihat bagaimana Hukum Penciptaan milik Yang Di dipatahkan dengan tangan kosong, dan ia menyadari bahwa lari bukanlah sebuah pilihan. Di hadapan singularitas yang bisa menelan ruang dan waktu, tidak ada satu pun sudut di alam semesta ini yang bisa menyembunyikan mereka.
“Kau… kau bukanlah bagian dari alam semesta ini,” desis Yin Mo, suaranya terdengar seperti jurang yang menganga. “Kau adalah anomali yang dikirim oleh Kehancuran Luar untuk mereset seluruh keberadaan! Lun Hui, kita tidak bisa menahannya! Serang dia dengan seluruh esensi kita!”
Yin Mo tidak menunggu jawaban. Ia membakar seluruh akar otoritasnya, mengorbankan eksistensi abadinya untuk melepaskan serangan yang bahkan dilarang oleh aturan Tiga Kaisar Dewa itu sendiri.
“Hukum Kaisar Dewa: Kehampaan Kosmik – Penelan Segala Wujud!”
Tubuh Yin Mo meledak, bukan hancur, melainkan memuai menjadi lautan materi gelap raksasa yang menelan seluruh Kuil Keabadian. Ini bukan lagi sekadar dimensi ketiadaan; Yin Mo mengubah dirinya sendiri menjadi sebuah rahim kegelapan absolut yang secara agresif mengasimilasi segala bentuk materi, energi, dan konsep. Ia berniat mencerna Lin Tian dengan cara menyatukan sang Tiran ke dalam wujudnya sendiri.
Kegelapan itu menerjang Lin Tian dari segala arah secara bersamaan, tanpa celah, tanpa ruang untuk menghindar. Visibilitas berkurang menjadi nol. Suara lenyap. Bahkan waktu terasa membeku di dalam lautan ketiadaan tersebut.
Namun, di pusat kegelapan yang menekan itu, sepasang mata emas singularitas menyala terang layaknya dua mercusuar kematian.
“Menelan segala wujud?” Suara Lin Tian bergema dari dalam kegelapan, dipenuhi oleh ejekan yang luar biasa arogan. “Kau menyebut ini menelan? Biar kuajari kau bagaimana cara makan yang benar, parasit!”
Lin Tian tidak mencoba menerobos keluar dari lautan materi gelap itu. Sebaliknya, ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan membiarkan kegelapan Yin Mo menempel di sekujur Tubuh Sisik Naga Emas Kosmik-nya.
Di dalam Dantiannya, Singularity Kehancuran berputar ke arah yang berlawanan. Jika sebelumnya singularitas itu menelan energi dari luar, kini ia memancarkan Daya Tarik Kiamat.
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHH!
Alih-alih Yin Mo yang mengasimilasi Lin Tian, lautan materi gelap raksasa itu mulai berputar mengelilingi tubuh pemuda tersebut. Lin Tian mengubah dirinya menjadi pusat pusaran! Materi gelap yang diklaim sebagai ketiadaan absolut itu ditarik secara paksa, dirobek dari kesadaran Yin Mo, dan disedot masuk ke dalam pori-pori kulit Lin Tian layaknya air bah yang mengalir ke dalam palung samudra yang tak berdasar.
“T-TIDAAAK! APA YANG KAU LAKUKAN?! LEPASKAN AKU!”
Jeritan Yin Mo terdengar histeris dari segala arah saat kesadarannya yang tersebar di dalam materi gelap itu secara bertahap dihancurkan dan dikonsumsi. Hukum ketiadaan miliknya sedang ditelan oleh hukum peniadaan yang jauh lebih purba dan brutal.
“Kau adalah bayangan, Yin Mo!” Lin Tian tertawa buas, lengannya bergerak seperti konduktor yang memimpin orkestra kehancuran. “Dan sebuah bayangan akan selalu lenyap saat ia ditelan oleh lubang hitam sejati!”
Hanya dalam waktu lima tarikan napas, lautan materi gelap yang memenuhi Kuil Keabadian itu menyusut drastis. Lin Tian mencengkeram udara di depannya, mengompresi sisa-sisa kesadaran Yin Mo menjadi sebuah bola hitam seukuran kepala manusia. Bola itu bergetar hebat, memancarkan lolongan keputusasaan dari sang Kaisar Ketiadaan Gelap.
Tanpa belas kasihan sedikit pun, Lin Tian menghancurkan bola hitam itu dengan genggaman tangan kanannya.
PRANGGG!
Bola itu pecah, dan sisa energi Kaisar Ketiadaan Gelap mengalir masuk ke dalam lengan Lin Tian. Sarung Tangan Pembelah Bintang-nya kini tidak hanya memancarkan api, tetapi juga diselimuti oleh aura kegelapan absolut yang secara pasif memakan cahaya di sekitarnya.
Dua Kaisar Dewa telah musnah. Tersisa satu.
Kuil Keabadian kini benar-benar telah runtuh. Cermin air kosmik telah mengering, dan pusaran galaksi di atapnya telah berhenti berputar. Di tengah reruntuhan yang melayang di Batas Kekosongan tersebut, Kaisar Reinkarnasi Samsara (Lun Hui) berdiri gemetar.
Pria androgini yang wajahnya selalu memancarkan ketenangan kosmik itu kini terlihat berantakan. Roda gigi emas di matanya berputar liar dan tidak terkendali, mengeluarkan percikan api spiritual. Ia baru saja menyaksikan dua rekan abadinya—entitas yang kekuatannya setara dengan dirinya—dibantai semudah mematahkan ranting kering.
“Kau… kau akan menghancurkan seluruh alam semesta!” Lun Hui menunjuk Lin Tian dengan jari yang bergetar. “Tanpa Penciptaan dan Ketiadaan, siklus kosmik akan runtuh! Semua kehidupan akan membusuk dalam kekacauan! Kau adalah iblis yang sesungguhnya!”
Lin Tian memiringkan kepalanya, matanya yang memancarkan galaksi emas dan kegelapan menatap sang Kaisar Reinkarnasi dengan pandangan merendahkan.
“Siklus kosmik? Keseimbangan?” Lin Tian meludah ke samping, uap emas mendesis saat bersentuhan dengan ruang hampa. “Kalian menyebut peternakan fana kalian sebagai keseimbangan? Kalian membiarkan manusia dan dewa saling membunuh, lalu kalian memanen jiwa mereka melalui roda reinkarnasimu untuk memperpanjang umur kalian sendiri. Jangan berceramah tentang moralitas padaku, Lun Hui. Aku mungkin seorang Tiran, tapi setidaknya aku tidak bersembunyi di balik kata ‘hukum alam’ saat aku membantai musuhku!”
Kata-kata Lin Tian menelanjangi kemunafikan Tiga Kaisar Dewa yang telah disembunyikan selama jutaan tahun.
Sadar bahwa tidak ada ruang untuk negosiasi atau melarikan diri, Lun Hui membuat keputusan terakhirnya. Ia tidak akan membiarkan dirinya ditelan dengan memalukan seperti Yang Di dan Yin Mo. Ia akan menghancurkan Lin Tian pada tingkat konseptual, bahkan jika itu berarti mengorbankan fondasi reinkarnasi alam semesta ini.
“JIKA AKU HARUS MATI, MAKA KAU TIDAK AKAN PERNAH DILAHIRKAN!”
Lun Hui membanting kedua tangannya ke depan. Kulitnya yang mulus seketika menua, rambutnya yang keemasan memutih dan rontok, dan dagingnya mengering. Ia mengorbankan seluruh esensi keabadiannya dalam satu serangan pamungkas yang secara langsung memanggil wujud asli dari otoritasnya.
“Seni Tabu Kaisar Dewa: Pemanggilan Roda Samsara Primordial – Penghapusan Karma!”
BOOOOOOM!
Ruang dan waktu di seluruh Benua Langit Tinggi dan triliunan dunia fana di bawahnya terhenti secara absolut. Di belakang tubuh Lun Hui yang kini terlihat seperti mayat hidup, bermanifestasi sebuah roda gigi raksasa yang ukurannya melampaui jutaan planet. Roda itu terbuat dari emas kosmik murni, diukir dengan triliunan benang karma yang mewakili setiap nyawa yang pernah ada, sedang ada, dan akan ada di alam semesta.
Ini adalah Roda Samsara itu sendiri—mesin penggerak nasib dan waktu.
“Aku akan menggiling benang karmamu! Aku akan menghapus masa lalumu, sehingga masa kinimu tidak pernah ada!” raung Lun Hui dengan sisa-sisa suaranya yang serak.
Roda Samsara Raksasa itu mulai berputar dengan suara derit yang menyayat jiwa. Sebuah benang karma berwarna emas gelap—yang mewakili eksistensi Lin Tian—tertarik secara paksa dari tatanan kosmik, menuju ke tengah-tengah gigi roda tersebut untuk digiling dan dihapus.
Lin Tian merasakan tarikan itu. Bukan tarikan fisik, melainkan tarikan pada memori, masa lalunya di Benua Cakrawala, dan fondasi keberadaannya. Namun, alih-alih panik, sang Tiran Naga justru tertawa lepas. Tawanya begitu keras hingga membuat cangkang ruang hampa di sekitar mereka retak.
“Karma?! Takdir?!” Lin Tian menghentakkan kakinya ke depan. Tubuh Sisik Naga Emas Kosmik-nya meledak dengan cahaya yang seribu kali lebih terang dari Roda Samsara itu sendiri. “Kau pikir benang rapuh itu bisa mengikat naga yang telah menelan langit?!”
Di dalam Dantian Lin Tian, Singularity Kehancuran beresonansi dengan kemarahan sang Tiran. Singularitas itu tidak hanya menolak untuk dihapus; ia secara aktif melawan putaran Roda Samsara.
Lin Tian mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Ia tidak menahan tarikan karma itu. Sebaliknya, ia melesat lurus ke arah roda raksasa yang memegang nasib seluruh alam semesta tersebut.
“Nasibku bukan ditentukan oleh roda rongsokanmu, Lun Hui! NASIBKU DITENTUKAN OLEH TINJUKU!”
Lin Tian menerjang menembus tekanan temporal yang mencoba memudarkan eksistensinya. Urat-urat di dahinya menonjol, dan matanya menyala dengan kegilaan mutlak. Ia memusatkan seluruh Niat Kehancuran Naga, fisik dewa kosmiknya, dan gravitasi singularitasnya ke dalam satu kepalan tangan kanannya.
“Seni Pamungkas Kaisar Naga: Pukulan Pemutus Takdir!”
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH!
Tinju Lin Tian menghantam tepat di pusat Roda Samsara Primordial.
Benturan ini tidak menghasilkan suara di dunia fisik, melainkan sebuah ledakan konseptual di seluruh garis waktu. Selama satu detik yang terasa seperti keabadian, tinju Lin Tian yang sekecil debu kosmik tertahan oleh roda raksasa yang mengatur alam semesta.
Lalu… retakan kecil muncul di permukaan roda emas tersebut.
“M-Mustahil… KAU TIDAK BISA MENGHANCURKAN SIKLUS ALAM SEMESTA!” Lun Hui memekik histeris, memuntahkan darah emas dari paru-parunya yang mengering.
“Aku bukan bagian dari siklusmu!”
Lin Tian menekan tinjunya lebih dalam. Singularity Kehancuran melepaskan seluruh ledakan massanya. Retakan di roda itu menyebar dengan kecepatan kilat, merambat ke seluruh jeruji dan gigi-gigi emasnya.
PRANGGGGGGGGGGGGGGGG!
Roda Samsara Primordial, mesin takdir yang telah berusia triliunan tahun, hancur berkeping-keping!
Ledakan dari hancurnya roda itu mengirimkan gelombang kejut yang me-reset karma miliaran makhluk di alam semesta. Garis nasib terputus, takdir yang tertulis dihancurkan, dan kehendak bebas mutlak dikembalikan ke seluruh penjuru kosmos.
Lun Hui, yang jiwanya terikat secara absolut pada roda tersebut, menerima serangan balik yang mematikan. Tubuhnya hancur layaknya porselen tua yang dijatuhkan dari tebing. Ia jatuh ke belakang, mengambang di kehampaan tanpa daya, matanya yang kehilangan roda gigi kini menatap kosong ke arah langit yang hancur.
Lin Tian, dengan napas yang memburu dan uap emas yang mengepul tebal dari tubuhnya, perlahan melayang turun. Ia menginjak dada Lun Hui yang kini rata dan rapuh.
Sang Tiran Naga menunduk, menatap wajah kaisar terakhir yang pernah mengklaim diri sebagai penguasa nasibnya.
“Siklusmu sudah berakhir, Lun Hui,” ucap Lin Tian dingin, tidak ada sedikit pun belas kasihan di suaranya. “Mulai hari ini, alam semesta ini akan berjalan dalam satu garis lurus. Dan garis itu… berada tepat di bawah telapak kakiku.”
Lin Tian mengulurkan tangannya, mencengkeram wajah Lun Hui, dan dengan satu hentakan Singularity Kehancuran, ia menyedot habis sisa-sisa jiwa dan otoritas reinkarnasi dari tubuh kaisar tersebut. Tubuh Lun Hui berubah menjadi abu perak yang langsung ditelan oleh kegelapan ruang hampa.
Ketiga Kaisar Dewa—Yang Di, Yin Mo, dan Lun Hui—telah musnah.
Tritunggal yang menguasai Inti Kosmik telah dihapus dari eksistensi oleh satu anomali fana dari dunia bawah.
Saat energi dari Kaisar Reinkarnasi menyatu dengan energi Ketiadaan dan Penciptaan di dalam Dantian Lin Tian, sebuah reaksi fusi tingkat kosmik terjadi secara instan. Singularity Kehancuran yang tadinya berwarna abu-abu keemasan kini menyerap seluruh spektrum hukum alam semesta. Ia berhenti berputar liar dan memadat menjadi sebuah inti absolut yang memancarkan ketenangan yang mengerikan.
Lin Tian memejamkan matanya. Ia tidak lagi berada di Alam Dewa Sejati. Ia bahkan tidak berada di Alam Kaisar Dewa.
Dengan menyerap Tiga Kaisar Dewa dan menghancurkan hukum alam semesta, Lin Tian telah menembus sebuah ranah yang belum pernah ada dalam sejarah penciptaan. Ia telah menciptakan alamnya sendiri.
Alam Singularitas Primordial (Primordial Singularity Realm).
Ia bukan lagi sekadar seorang kultivator yang memanfaatkan energi alam semesta; ia adalah sumber energi itu sendiri. Kehendaknya adalah hukum alam. Gravitasinya adalah waktu. Kemarahannya adalah kiamat.
Inti Kosmik di sekitarnya mulai runtuh. Tanpa Tiga Kaisar Dewa sebagai jangkar, ruang hampa ini mulai retak, mengancam akan merobek seluruh Sembilan Domain Surgawi menjadi ketiadaan.
Lin Tian membuka matanya. Sepasang pupilnya kini berbentuk galaksi spiral emas dan hitam yang berputar dengan keagungan mutlak. Ia mengangkat tangan kanannya, melebarkan kelima jarinya, dan secara harfiah menggenggam ruang kosong di sekitarnya.
“Tenang,” titah Lin Tian dengan satu kata.
Hukum absolut yang keluar dari mulutnya secara instan menstabilkan keruntuhan kosmik. Ruang yang retak menyatu kembali, diikat oleh benang-benang energi dari Tubuh Sisik Naga Emas Kosmik-nya. Ia menggantikan posisi Tiga Kaisar Dewa hanya dengan kehadirannya semata. Alam semesta yang tadinya bergejolak dalam kepanikan, kini tunduk dan terdiam di bawah penindasan sang penguasa baru.
Lin Tian melipat tangannya di belakang punggung, menatap lautan bintang yang kini menyinari sisa-sisa reruntuhan Kuil Keabadian. Tidak ada lagi dewa yang menghalanginya. Tidak ada lagi surga yang berani menjatuhkan kesengsaraan padanya.
Sang Tiran Naga memutar tubuhnya, mengarahkan pandangannya kembali ke bawah, menembus Batas Kekosongan Ketiadaan, menatap lurus ke arah Ibukota Kekaisaran Tiran Surgawi tempat Ratu Es-nya sedang menunggu.
“Sudah waktunya pulang,” senyum Lin Tian mengembang, dipenuhi oleh kepuasan seorang penakluk yang telah memakan seluruh dunia. “Kekaisaran baruku sedang menunggunya rajanya.”
Dengan satu hentakan kaki yang membelah ruang dimensi, Lin Tian melesat kembali ke Benua Langit Tinggi. Tirai era para dewa fana telah ditutup selamanya, digantikan oleh fajar abadi di bawah bayang-bayang Kekaisaran Singularitas. Sejarah baru telah diukir murni dengan darah dan kehancuran.