Bab 51: Fajar Kekaisaran Singularitas dan Tahta di Atas Segalanya
Runtuhnya Inti Kosmik bukan hanya sekadar berakhirnya sebuah pertempuran; itu adalah akhir dari sebuah zaman. Dengan musnahnya Tiga Kaisar Dewa, jeratan hukum karma dan takdir yang selama jutaan tahun membelenggu Benua Langit Tinggi secara instan terputus. Di seluruh penjuru Sembilan Domain Surgawi, para kultivator merasa seolah-olah beban tak terlihat yang menekan pundak mereka selama ini telah diangkat, namun kebebasan itu datang dengan rasa takut yang jauh lebih mencekam.
Di pusat Benua Langit Tinggi, langit yang tadinya dipenuhi awan darah dan badai kosmik tiba-tiba berubah menjadi tenang—ketenangan yang tidak alami. Sebuah cahaya emas keunguan membelah angkasa, meluncur dari ketinggian Inti Kosmik menuju Kota Awan Mengambang, yang kini telah berevolusi menjadi Ibukota Kekaisaran Tiran Surgawi.
BLAM!
Dampak pendaratan itu tidak menghancurkan daratan, melainkan menciptakan riak gravitasi yang membuat seluruh bangunan di kota tersebut bergetar dalam penghormatan. Di atas balkon benteng tulang naga, Lin Tian berdiri tegak. Penampilannya tidak banyak berubah, namun setiap inci dari sosoknya kini memancarkan aura Alam Singularitas Primordial. Ia tidak lagi memancarkan energi; ia adalah pusat dari semua energi.
Bai Xue, yang selama dua minggu terakhir telah mengonsolidasikan kekuasaannya dan menyapu bersih sisa-sisa pemberontakan di Domain Angin Suci, segera melesat naik. Sang Ratu Es mendarat beberapa langkah di belakang Lin Tian. Matanya yang tajam menatap punggung suaminya, dan untuk pertama kalinya, ia merasa seolah-olah sedang menatap ujung dari alam semesta itu sendiri.
“Kau sudah kembali,” suara Bai Xue tetap tenang, namun ada nada kelegaan yang tersirat. “Tiga Kaisar Dewa?”
Lin Tian berbalik perlahan. Di tangannya, ia memegang tiga bola cahaya kecil yang redup—esensi otoritas Penciptaan, Ketiadaan, dan Reinkarnasi yang telah ia murnikan.
“Mereka sudah tidak ada lagi. Yang tersisa hanyalah puing-puing sejarah,” jawab Lin Tian datar. Ia melemparkan ketiga bola cahaya itu ke arah Bai Xue. “Gunakan ini untuk memperkuat fondasi hukum es milikmu. Benua ini butuh seorang Permaisuri yang mampu membekukan bintang-bintang jika mereka berani tidak patuh.”
Bai Xue menangkap esensi tersebut, merasakan kekuatan yang cukup untuk meruntuhkan realitas di telapak tangannya. Ia mengangguk pelan. “Sembilan Domain telah tunduk. Sejuta dewa sejati yang tersisa dari Aliansi Perang Suci sekarang berlutut di luar tembok kota, menanti kalimat pertama dari mulutmu.”
Lin Tian berjalan menuju tepi balkon, menatap ke bawah. Di sana, sejauh mata memandang, jutaan dewa, jenderal, dan triliunan penduduk fana bersujud dengan dahi menempel ke tanah. Mereka tidak berani bersuara. Kehadiran Lin Tian saat ini jauh lebih menekan daripada gabungan delapan Raja Dewa sebelumnya.
“Bangunlah,” suara Lin Tian beresonansi, bukan melalui telinga mereka, tetapi melalui detak jantung setiap makhluk hidup di benua tersebut.
Jutaan dewa itu perlahan mengangkat kepala mereka, menatap sosok Lin Tian dengan ketakutan dan pemujaan yang fanatik.
“Mulai hari ini, tidak akan ada lagi Sembilan Domain. Tidak ada lagi dewa yang bersembunyi di balik altar,” Lin Tian merentangkan kedua tangannya, dan di belakang punggungnya, ilusi Naga Surgawi Emas bermanifestasi dalam ukuran yang menutupi seluruh langit kota. “Hanya akan ada satu kekaisaran. Satu hukum. Dan satu Tiran. Barangsiapa yang menginginkan kekuatan, carilah di bawah panjiku. Barangsiapa yang menginginkan kehancuran, berdirilah di depanku!”
Raungan naga itu menggetarkan fondasi dunia, menandai dimulainya Era Singularitas.
Lin Tian kembali duduk di atas singgasana tulang naganya, namun kali ini singgasana itu melayang naik, menembus atmosfer, dan berhenti di titik tertinggi di mana ia bisa memandang seluruh cakrawala dunia. Ia menutup matanya sejenak, merasakan aliran energi dari setiap sudut kekaisarannya yang baru.
“Perjalanan dari perbatasan dunia bawah hingga ke puncak tertinggi surga ini…” Lin Tian menyeringai tipis, teringat akan awal perjalanannya yang penuh darah. “Ternyata, hanya butuh waktu yang singkat untuk memakan seluruh tatanan dewa.”
Bai Xue berdiri di samping singgasana, menatap ke arah bintang-bintang yang kini bersinar lebih terang di bawah pemerintahan suaminya. “Apa langkah selanjutnya, Lin Tian? Benua ini sekarang milikmu sepenuhnya.”
Lin Tian membuka matanya, menatap ke arah kegelapan tak berujung di luar batas atmosfer Benua Langit Tinggi. Di sana, di kejauhan yang tak terukur, ia bisa merasakan keberadaan dimensi lain, benua-benua lain yang lebih besar, dan entitas-entitas yang jauh lebih purba daripada Tiga Kaisar Dewa yang baru saja ia bantai.
“Dunia ini hanyalah satu butir debu di lautan kosmik, Bai Xue,” ucap Lin Tian dengan mata yang memancarkan kegilaan tempur yang baru saja terbangun kembali. “Kita telah menaklukkan satu debu. Sekarang, saatnya naga ini terbang menuju lautan yang sesungguhnya. Bersiaplah… karena aku baru saja mulai merasa lapar kembali.”
Singgasana Lin Tian melesat membelah ruang, bukan menuju kota, melainkan menuju perbatasan dimensi yang lebih tinggi. Sang Tiran Naga tidak akan pernah berhenti. Karena baginya, puncak bukanlah tempat untuk beristirahat, melainkan tempat untuk melihat target pembantaian berikutnya.
TAMAT