Bab 5: Pertemuan di Balik Gudang

Ukuran:
Tema:

Fajar di Gunung Bintang Jatuh datang dengan kabut tipis yang menyelimuti puncak-puncak dan suara lonceng baja yang berdentang keras, membangunkan semua murid luar. Ling Feng bangun lebih awal dari yang lain, tubuhnya terasa ringan dan penuh energi setelah berlatih Postur Matahari Tengah Hari diam-diam sepanjang malam. Dia merasakan perbedaan kecil tapi nyata—Dantian-nya sedikit lebih padat, aliran Qi-nya sedikit lebih lancar.

Dia melirik ke arah Zhang Hu yang masih tertidur. Rencananya harus dijalankan hari ini.

Latihan pagi di Lapangan Pusat kembali dipimpin oleh Instruktur Gao. Kali ini, mereka melatih “Tendangan Bintang Jatuh”, variasi dari jurus dasar dengan fokus pada keseimbangan dan kekuatan putaran. Ling Feng kembali berakting—gerakannya cukup baik untuk tidak dicela, tapi tidak cukup menonjol untuk dipuji. Zhang Hu, di sisi lain, bersinar. Fondasi fisiknya yang kuat membuatnya cepat menguasai jurus tendangan, dan Instruktur Gao bahkan memberinya anggukan langka.

Saat istirahat singkat, Ling Feng mendekati Zhang Hu yang sedang minum dari kendi air.
“Zhang Hu,” panggilnya, suara rendah.
Zhang Hu menoleh, ekspresinya netral. “Ada apa?”
“Bisa kita bicara? Sendiri.”
Zhang Hu mengamatinya sejenak, lalu mengangguk. Mereka berjalan menjauh dari kerumunan, ke dekat pagar kayu yang mengelilingi lapangan.
“Apa yang terjadi?” tanya Zhang Hu.
Ling Feng mengambil napas. “Aku dapat ancaman. Atau lebih tepatnya, undangan. Dari seorang senior.” Dia tidak menunjukkan kertasnya, tapi menjelaskan isinya secara singkat. “Mereka ingin bertemu malam ini, di belakang Gudang Peralatan Lama. Sendirian.”
Zhang Hu menyipitkan mata. “Kau pikir itu karena… kejadian di ujian?”
“Kemungkinan besar. Atau mungkin karena aku terlihat seperti sasaran empuk.” Ling Feng menatapnya. “Aku tidak berniat pergi sendirian. Tapi aku juga tidak ingin membuat musuh tanpa tahu siapa mereka atau apa yang mereka inginkan.”
“Dan kau ingin aku ikut?” tebak Zhang Hu.
“Kau kuat. Kau punya pengalaman bertarung. Dan… kita berasal dari tempat yang sama. Mungkin itu berarti sesuatu, mungkin tidak. Tapi aku rasa, menghadapi senior yang bermasalah bersama lebih baik daripada sendirian.”
Zhang Hu terdiam, memikirkan. Ekspresinya berubah, dari netral menjadi sedikit sinis. “Jadi, setelah semua ejekanku dulu, sekarang kau butuh bantuanku?”
“Bukan bantuan,” koreksi Ling Feng. “Kemitraan. Jika mereka mengincarku karena aku ‘istimewa’, besok bisa jadi giliranmu karena kau yang terkuat di antara murid baru. Kita semua sasaran potensial.”
Itu menyentuh sisi pragmatis Zhang Hu. Dia mengangguk perlahan. “Apa rencanamu?”
“Pertama, kita survei lokasi siang hari. Cari tahu medannya. Kedua, kita tidak akan datang ‘sendirian’—kau akan bersembunyi, mengawasi. Jika ini hanya pembicaraan, baik. Jika ada masalah, kau bisa jadi kejutan atau peringatan. Ketiga, kita cari tahu siapa mereka. Identitas penting.”
Zhang Hu mempertimbangkan. “Berisiko. Jika ketahuan, kita bisa dihukum karena melanggar jam malam.”
“Lebih berisiko menghadapi perangkap sendirian,” balas Ling Feng.
Akhirnya, Zhang Hu mengangguk. “Baik. Aku setuju. Tapi bukan untukmu. Untuk diriku sendiri. Aku tidak ingin senior semacam itu berpikir mereka bisa mengganggu murid baru seenaknya.”
Itu cukup bagi Ling Feng. “Terima kasih. Kita bertemu setelah makan malam, sebelum jam malam. Kita akan periksa gudang dulu.”


Siang itu, tugas Ling Feng adalah membersihkan Aula Teknik Dasar. Saat dia menyapu lantai, dia mengamati para murid luar yang lebih senior yang datang untuk berlatih atau meminjam gulungan. Dia mencari wajah kurus dengan mata licik yang dia lihat di kebun obat kemarin. Tidak ada.
Tapi dia melihat sesuatu yang lain. Seorang murid luar senior, mungkin berusia sembilan belas tahun, dengan tubuh kekar dan wajah yang tampak jujur, sedang membantu seorang murid baru yang kesulitan dengan jurus pukulan. Senior itu sabar, menjelaskan dengan jelas. Itu adalah pemandangan yang mengejutkan—tidak semua senior jahat.
Mungkin ada harapan.

Setelah menyelesaikan tugasnya, Ling Feng dan Zhang Hu—dengan alasan ‘mengenal lingkungan’—berjalan-jalan ke area Gudang Peralatan Lama. Gudang itu terletak di pinggir barat kompleks Murid Luar, dekat dengan hutan kecil yang memisahkan area murid luar dengan area murid inti. Bangunannya tua, atap gentingnya ada yang pecah, dikelilingi oleh semak-semak yang tumbuh liar. Di belakangnya, ada lapangan kecil yang tertutup pepohonan, cocok untuk pertemuan rahasia.
Mereka mengamati dari kejauhan. Ada beberapa jalan masuk dan keluar: dari depan gudang, dari samping melalui semak-semak, dan sebuah jalan setapak kecil yang mengarah ke hutan.
“Tempat yang bagus untuk penyergapan,” komentar Zhang Hu suram. “Atau untuk memukuli seseorang tanpa ada yang melihat.”
Ling Feng mengangguk. “Kau akan bersembunyi di mana?”
Zhang Hu menunjuk ke sebuah pohon besar yang rindang di tepi lapangan, dengan dahan rendah yang bisa dipanjat. “Dari sana, aku bisa melihat seluruh area. Jika ada masalah, aku akan buat keributan—lempar batu ke atap gudang atau teriak.”
“Jangan teriak dulu,” kata Ling Feng. “Tunggu sinyalku. Jika aku mengangkat tangan kiriku ke belakang kepala, itu artanya bahaya.”
“Mengangkat tangan kiri ke belakang kepala. Baik.”


Malam tiba dengan cepat. Setelah makan malam dan sebelum lonceng jam malam berbunyi, Ling Feng dan Zhang Hu berpura-pura pergi ke jamban, lalu menyelinap ke arah gudang. Bulan sabit tipis memberikan cahaya minim, membuat bayangan terlihat panjang dan mengancam.
Ling Feng berdiri di tengah lapangan di belakang gudang, sendirian. Angin malam berbisik di daun-daun, membawa hawa dingin pegunungan. Dia berusaha tenang, mengatur napasnya, merasakan kehangatan Matahari Murni Qi di Dantian-nya. Dia siap.
Tidak lama kemudian, dia mendengar langkah kaki. Bukan dari satu arah, tapi dari tiga. Dari balik gudang muncul dua orang, dan dari semak-semak di samping muncul satu lagi. Total tiga senior.
Yang memimpin adalah pria berwajah kurus dengan mata licik yang dilihat Ling Feng di kebun—persis seperti yang dia duga. Dua lainnya: satu bertubuh besar dan pendiam, yang satu lagi bertubuh sedang dengan senyum menjengkelkan di wajahnya.
“Jadi kau datang,” kata si wajah kurus, suaranya mendesis seperti ular. “Baik, baik. Patuh. Namaku Senior Brother Ma. Ini Senior Brother Zhu,” dia menunjuk yang bertubuh besar, “dan Senior Brother Jin.” Yang tersenyum menjengkelkan itu mengangguk.
“Senior Brothers,” sapa Ling Feng, memberi hormat singkat. “Ada yang bisa kubantu?”
Senior Brother Ma tertawa pendek. “Langsung ke intinya, ya? Aku suka itu. Begini, adik junior. Kami perhatikan kamu selama ujian. Cahaya emas yang menarik. Lompatan kekuatan yang cepat. Sangat… tidak biasa.”
“Keberuntungan saja, Senior Brother,” kata Ling Feng rendah hati.
“Keberuntungan?” Senior Brother Jin menyeringai. “Keberuntungan tidak membuat Batu Penguji retak, junior.”
Mereka tahu. Tentu saja mereka tahu. Gosip menyebar cepat.
“Kami penasaran,” lanjut Senior Brother Ma, melangkah mendekat. “Apa rahasiamu? Mungkin kamu menemukan pusaka di hutan? Atau makan pil langka? Atau… punya metode kultivasi khusus?”
Ling Feng merasakan jantungnya berdebar lebih kencang. “Tidak, Senior Brother. Seperti yang kukatakan, hanya keberuntungan. Pengalaman mendekati kematian membuka potensiku.”
Senior Brother Ma menghela napas dramatis. “Sayang. Kamu tidak mau bekerja sama.” Dia memberi isyarat, dan Senior Brother Zhu yang besar melangkah maju, mengepalkan tinjunya yang besar seperti palu. “Kamu lihat, junior, di sini, senior punya… hak istimewa. Kami bisa memastikan hidupmu di sekte ini menyenangkan. Atau sangat menyedihkan. Pilihan ada padamu.”
Ini pemerasan terbuka. “Apa yang kalian inginkan?” tanya Ling Feng, suaranya tetap tenang.
“Pertama, semua Pil Qi bulananmu. Kamu tidak butuh itu, kan? Bakatmu sudah luar biasa,” kata Senior Brother Jin.
“Kedua,” sambung Senior Brother Ma, “kamu akan melaporkan kemajuanmu kepada kami setiap minggu. Detail. Jika kamu menemukan atau belajar sesuatu yang menarik, kami adalah orang pertama yang tahu.”
“Dan ketiga,” kata Senior Brother Zhu dengan suara berat pertama kalinya, “kamu akan jadi ‘teman’ kami. Melakukan tugas-tugas kecil kami, mengawasi murid baru lain untuk kami.”
Mereka ingin menjadikannya budak sekaligus kelinci percobaan. Ling Feng menggigit bibirnya. Dia melihat ke arah pohon tempat Zhang Hu bersembunyi. Tidak ada gerakan.
“Dan jika aku menolak?” tanya Ling Feng.
Senior Brother Ma tersenyum, tapi matanya dingin. “Maka kami akan ‘menguji’ kemampuanmu. Secara intensif. Setiap hari. Sampai kamu tidak bisa lagi berdiri, atau sampai kamu lebih patuh.” Itu ancaman penyiksaan rutin.
Ling Feng menghela napas. Dia tidak punya pilihan. Dia harus menolak. Tapi dia harus melakukannya dengan cara yang tidak membuat mereka langsung menyerang.
“Senior Brothers, aku menghargai… perhatian kalian,” kata Ling Feng, berusaha terdengar diplomatis. “Tapi aku lebih suka fokus pada pelatihanku sendiri. Aku yakin sekte tidak akan menyetujui perilaku semacam ini.”
Senior Brother Ma tertawa keras. “Sekte? Elder sibuk dengan murid inti dan urusan mereka sendiri. Selama kami tidak membunuhmu, tidak ada yang peduli pada seorang murid luar. Ini adalah hukum kami sendiri.”
Saatnya. Ling Feng perlahan mengangkat tangan kirinya, menyentuh belakang kepalanya seolah gatal. Sinyal.
Dari balik pohon, sebuah batu melesat, bukan ke arah mereka, tapi ke atap gudang yang sudah rapuh. Brak! Suara pecahan genting yang keras menggema di keheningan malam.
Ketiga senior itu terkejut, menoleh ke arah sumber suara.
“Siapa di sana?!” teriak Senior Brother Ma.
Ling Feng menggunakan momen itu. Dia tidak lari. Sebaliknya, dia melangkah mundur, mengambil posisi bertahan. “Tampaknya aku tidak sendirian, Senior Brothers. Mungkin lebih baik kita mengakhiri pertemuan ini.”
Senior Brother Ma wajahnya memerah karena marah. “Kau membawa orang? Berani sekali!” Dia memberi isyarat. “Zhu, tangkap dia! Jin, cari yang di balik pohon!”
Senior Brother Zhu yang besar maju dengan langkah berat. Tangannya yang besar meraih ke arah Ling Feng. Ling Feng menghindar, menggunakan gerakan kaki sederhana yang dia latih. Tapi Senior Brother Zhu cepat untuk ukurannya. Tangannya yang lain menyambar, hampir menangkap lengan Ling Feng.
Ling Feng memutuskan untuk tidak menggunakan Matahari Murni Qi secara terbuka. Dia hanya menggunakan kekuatan fisik dan teknik dasar yang dia pelajari. Dia menangkis, memutar, mencoba mencari celah. Tapi perbedaan tingkat kekuatan jelas. Senior Brother Zhu setidaknya ada di tingkat Prajurit Perunggu Lapis 2 atau 3, jauh di atas Ling Feng yang sengaja menahan diri di Prajurit Besi Lapis 4.
Sebuah pukulan berat mendarat di bahu Ling Feng, membuatnya terhuyung mundur, rasa sakit tajam menyebar. Dia jatuh berlutut.
Sementara itu, Senior Brother Jin berlari ke arah pohon. Tapi sebelum dia sampai, Zhang Hu melompat turun dari dahan lain, mendarat di antara semak-semak di sisi lain. “Aku di sini, bodoh!” teriaknya, lalu berlari masuk ke hutan.
Senior Brother Jin mengutuk dan mengejar, tapi Zhang Hu cepat dan mengenal medan gelap lebih baik setelah survei siang hari.
Senior Brother Ma, melihat Ling Feng sudah terjatuh, mendekat dengan senyum kejam. “Kau pikir trik kecilmu akan membantumu? Sekarang, kita akan mulai ‘pengujian’ kita.”
Dia mengulurkan tangannya, jari-jarinya bercahaya redup dengan Qi berwarna abu-abu kotor—teknik menyimpang yang memancarkan aura jahat. “Mari kita lihat seberapa kuat pertahananmu, anak ajaib.”
Ling Feng melihat tangan itu mendekat, merasakan aura berbahaya. Dia tidak bisa berpura-pura lemah lagi. Jika dia membiarkan teknik kotor ini menyentuhnya, konsekuensinya bisa parah.
Di saat kritis itu, sebuah suara keras menggema di keheningan.
BERHENTI!
Suara itu penuh wibawa, menggetarkan udara. Sebuah bayangan mendarat dengan anggun di antara Ling Feng dan Senior Brother Ma. Cahaya bulan menyinari jubah abu-abu dan lambang bintang jatuh di dada. Bukan Instruktur He. Ini adalah seorang wanita berusia sekitar dua puluh lima tahun, dengan wajah cantik tapi keras, mata seperti pedang. Di lambangnya, ada dua garis perak di ekor bintang—seorang Murid Inti.
Senior Brother Ma langsung pucat, tangannya terkulai. “S-Senior Sister Lan! Ini… ini bukan seperti yang terlihat!”
Senior Sister Lan memandangnya dengan tatapan menghina. “Oh? Lalu seperti apa ‘yang terlihat’, Senior Brother Ma? Tiga senior mengintimidasi seorang murid baru di malam hari, melanggar jam malam, dan menggunakan teknik terlarang ‘Jari Pengisap Qi’?” Dia menunjuk ke tangan Ma yang masih bercahaya redup.
Ma segera memadamkan Qi-nya, wajahnya penuh ketakutan. “Kami hanya… menguji dia, Senior Sister! Untuk kebaikannya sendiri!”
“Bisu!” hardik Senior Sister Lan. Suaranya seperti cambuk. “Aku melihat dan mendengar semuanya dari atap gudang. Pemerasan, ancaman, penyerangan. Kalian mempermalukan nama Sekte Bintang Jatuh.”
Dia menoleh ke arah Senior Brother Zhu yang masih berdiri bingung, dan ke arah Senior Brother Jin yang baru saja kembali dari hutan dengan tangan kosong, melihat adegan ini dan langsung membeku.
“Kalian bertiga,” lanjut Senior Sister Lan, suaranya dingin seperti es, “laporkan diri ke Aula Hukuman besok pagi. Jelaskan tindakan kalian kepada Elder Yang. Jika tidak, aku akan melaporkan dengan detail apa yang aku saksikan malam ini. Sekarang, pergi!
Ketiganya tidak berani membantah. Mereka memberi hormat cepat dengan wajah pucat dan ketakutan, lalu kabur ke dalam kegelapan.
Senior Sister Lan kemudian menoleh ke Ling Feng yang masih berlutut. “Kamu. Bangun.”
Ling Feng berdiri dengan susah payah, bahunya masih berdenyut sakit. “Terima kasih, Senior Sister.”
“Jangan berterima kasih dulu,” kata Senior Sister Lan, matanya mengamatinya dengan tajam. “Kamu juga melanggar jam malam. Dan kamu membawa teman.” Dia menoleh ke arah semak-semak di mana Zhang Hu perlahan keluar, wajahnya waspada.
“Kami… kami hanya mempertahankan diri, Senior Sister,” kata Zhang Hu, suaranya tegang.
“Mempertahankan diri dengan sengaja masuk ke dalam perangkap?” tanya Senior Sister Lan, alisnya terangkat. “Bodoh, tapi berani. Setidaknya kalian tidak datang sendirian.” Dia menghela napas. “Dengar. Apa yang terjadi malam ini tidak pernah terjadi. Aku tidak melihat kalian di sini. Kalian tidak melihat aku. Tapi kalian berdua berhutang padaku.”
Ling Feng dan Zhang Hu saling memandang. “Hutang?” tanya Ling Feng.
“Informasi,” jawab Senior Sister Lan. “Aku ingin tahu tentang cahaya emasmu, Ling Feng. Tapi bukan dengan cara seperti tadi. Aku ingin kamu berjanji padaku bahwa jika suatu hari nanti kamu menemukan sesuatu—sesuatu yang penting, sesuatu yang bisa menguntungkan sekte atau setidaknya tidak merugikannya—kamu akan memberitahuku terlebih dahulu. Sebagai imbalan, aku akan memastikan bahwa orang-orang seperti Ma, Zhu, dan Jin tidak mengganggumu lagi. Aku juga akan memberimu beberapa… saran yang berguna.”
Ini tawar-menawar. Bukan pemerasan, tapi pertukaran. Senior Sister Lan jelas lebih halus dan punya tujuan lebih besar.
“Dan aku?” tanya Zhang Hu.
“Kamu adalah saksi. Dan kamu menunjukkan kesetiaan pada sesama murid baru, meski bodoh. Itu langka. Aku akan memastikan namamu tidak masuk daftar masalah. Tapi kamu juga harus diam.”
Ling Feng berpikir cepat. Senior Sister Lan tampaknya tidak bermusuhan. Dia punya wewenang. Dan perlindungannya akan sangat berharga. Tapi berjanji untuk membagikan rahasia warisannya? Itu terlalu berisiko.
“Senior Sister, aku tidak punya rahasia besar,” kata Ling Feng hati-hati. “Tapi aku berjanji, jika aku menemukan sesuatu yang penting bagi sekte, aku akan memberitahumu.” Itu janji yang longgar—’jika’ dan ‘penting bagi sekte’ bisa ditafsirkan banyak cara.
Senior Sister Lan tersenyum tipis, seolah mengerti permainannya. “Cukup adil. Untuk sekarang.” Dia mengulurkan tangan, memberikan dua butir pil kecil berwarna hijau kepada masing-masing mereka. “Ini Pil Penyembuhan Rendah. Untuk bahumu. Jangan sampai Instruktur Gao bertanya besok.”
Ling Feng menerimanya, terkejut. “Terima kasih.”
“Pergilah sekarang. Gunakan jalan samping dekat dinding timur. Jangan ketahuan.” Dia memberi isyarat. “Dan ingat… hati-hati. Bukan hanya senior yang bermasalah yang mengawasimu. Cahaya emasmu menarik banyak perhatian, termasuk dari tempat yang lebih tinggi.”
Dengan kata-kata misterius itu, tubuhnya melayang ringan, dan dia menghilang ke atap gudang, lalu ke kegelapan.
Ling Feng dan Zhang Hu berdiri sejenak, memproses apa yang baru terjadi.
“Jadi… kita selamat?” bisik Zhang Hu.
“Untuk sekarang,” jawab Ling Feng, meremas pil di tangannya. “Tapi dia benar. Kita harus lebih hati-hati.”
Mereka kembali ke asrama dengan diam-diam, menggunakan rute yang disarankan. Tidak ada yang melihat mereka.
Di kamar, saat Li Wei dan Zhao Feng tidur, Ling Feng menelan pilnya. Kehangatan yang menyebar, mengurangi rasa sakit di bahunya. Dia duduk di tempat tidur, memikirkan malam ini.
Dia mendapat musuh: Senior Brother Ma dan kawan-kawannya, yang sekarang pasti membencinya lebih dalam.
Tapi dia juga mendapat… bukan sekutu, tapi kontak yang berguna: Senior Sister Lan, seorang Murid Inti yang berpengaruh.
Dan dia mendapat pelajaran berharga: dunia sekte ini penuh dengan bahaya tersembunyi dan politik kecil. Kekuatan saja tidak cukup. Dia perlu kecerdasan, strategi, dan koneksi.
Dia melihat ke arah Zhang Hu yang juga sedang duduk di tempat tidurnya, merenung. Mungkin, musuh bebuyutan lamanya bisa menjadi… bukan teman, tapi rekan yang bisa diandalkan dalam badai yang akan datang.
Dia mengepalkan tangan, merasakan cincin di jarinya. Perjalanannya baru saja dimulai, dan jalan di depannya lebih berliku dan berbahaya dari yang pernah dia bayangkan. Tapi dia tidak akan mundur. Dia akan menjadi kuat. Cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri, dan mungkin, suatu hari nanti, mengungkap kebenaran di balik warisan Sembilan Matahari dan bayangan-bayangan di mimpinya.
Dia berbaring, memejamkan mata, bertekad untuk berlatih lebih keras, lebih cerdas, dan lebih waspada mulai besok. Pertempuran untuk bertahan hidup di Sekte Bintang Jatuh baru saja dimulai.