BAB 14: PERSIAPAN EKSPEDISI

Ukuran:
Tema:

Perjalanan hari pertama relatif tenang. Kereta melaju di jalan yang masih terjaga dengan baik, melewati desa-desa kecil dan hutan. Tapi Kaelan bisa merasakan perubahan—udara semakin dingin, bahkan dengan mantel termal.

Mereka berhenti di malam hari di pos perbatasan kerajaan terakhir. Bangunan batu sederhana dengan perapian besar, dijaga oleh sepuluh prajurit.

Komandan pos, seorang wanita dengan wajah kasar dan mata tajam, menyambut mereka. “[LIVING FORTRESS] seperti kau, Garrick? Sudah lama tidak lihat.”

Garrick menganggak. “Commander Vex. Masih menjaga perbatasan?”

“Selalu.” Vex melihat yang lain. “Dan kau bawa rombongan istimewa. Putri, Archmage apprentice, shadow walker, dan…” Dia menatap Kaelan. “[DESTINY ABSORBER]. Tidak pernah pikir akan lihat satu.”

“Kau tahu tentang aku?” tanya Kaelan.

“Baca laporan.” Vex berbalik. “Masuk. Kita bicara di dalam.”

Di dalam pos, hangat dari perapian. Vex menyajikan sup panas dan roti. “Kau menuju Icepeak?”

“Ya,” jawab Elara. “Kita butuh informasi tentang kondisi terkini.”

“Kondisi?” Vex tertawa pendek. “Kondisinya: neraka beku. Badai semakin kuat setiap hari. Monster es turun dari gunung. Dan… sesuatu yang lain.”

“Something else?” tanya Thorne.

“Suara. Dari dalam gunung. Seperti… mesin besar berjalan. Tapi bukan mesin. Lebih… organik.”

Kaelan mengingat terowongan tambang. Suara jeritan.

“Ada yang coba selidiki?” tanya Garrick.

“Tim scout minggu lalu. Tidak kembali.” Vex wajahnya suram. “Kami kirim tim pencari. Mereka kembali… berubah.”

“Berubah bagaimana?” tanya Lyra Junior.

“Mata kosong. Bicara tentang ‘kesempurnaan’ dan ‘pembebasan’. Seperti kultus.”

Malakar mendapatkan pengikut bahkan di sini, di perbatasan.

“Kita harus berhati-hati,” kata Elara.

“Lebih dari hati-hati.” Vex melihat mereka semua. “Aku sarankan mundur. Tapi kau tidak akan, kan?”

“Tidak bisa,” jawab Elara. “Terlalu banyak dipertaruhkan.”

“Kalau begitu, ambil ini.” Vex memberikan beberapa bola kecil. “[FLARE ICE]. Untuk sinyal darurat. Dan… untuk meledakkan es jika terjebak.”

“Terima kasih,” kata Elara.

Malam itu, mereka tidur di pos. Kaelan berbagi kamar dengan Garrick dan Thorne.

“Kau pikir kita bisa lakukan ini?” tanya Kaelan pada Thorne.

“Kita harus,” jawab Thorne. “Tidak ada pilihan lain.”

“Tapi kemungkinan sukses…”

“Kecil. Tapi bukan nol.” Thorne melihatnya. “Kau kunci, Kaelan. Hanya kau yang bisa lawan Malakar secara langsung. Karena kau bisa menyerap apa yang dia ciptakan.”

“Void energy.”

“Ya. Dan mungkin… energy ritualnya.”

Kaelan tidak yakin. Tapi dia akan mencoba.


Hari kedua, pemandangan berubah drastis. Hutan menghilang, digantikan oleh tundra beku. Kemudian pegunungan es. Dan angin—angin yang bisa merobek kulit.

Kereta melambat, kuda kesulitan. Mereka akhirnya berhenti, beralih ke kereta luncur yang ditarik oleh hewan besar berbulu tebal—seperti bison tapi lebih besar.

“Snowrunners,” kata pengemudi. “Bisa tangani salju dalam.”

Perjalanan dengan kereta luncur berbeda—lebih cepat di salju, tapi lebih berbahaya. Es retak di bawah mereka, kadang-kadang membuka celah dalam.

Di siang hari, mereka melihat sesuatu di kejauhan: bangunan. Atau sisa-sisanya.

“Desa pemburu,” kata pengemudi. “Dulu ramai. Sekarang… kosong.”

“Kosong?” tanya Elara.

“Entah mati, entah pergi. Atau… diambil.”

Diambil. Kata yang mengerikan.

Mereka memutuskan untuk memeriksa. Mungkin ada informasi, atau penyintas.

Desa itu sunyi. Rumah-rumah kayu tertutup salju, beberapa rusak. Tidak ada asap dari cerobong, tidak ada suara.

“Spread out,” kata Garrick. “Tapi tetap dalam sight.”

Kaelan dan Lyra Junior pergi ke rumah terbesar, mungkin balai desa. Pintunya terbuka, tertiup angin.

Di dalam… tidak ada orang. Tapi ada sesuatu: simbol di lantai. Lingkaran dengan garis bercabang, seperti pohon atau… sistem akar.

“Simbol Malakar,” bisik Lyra Junior. “Dia sudah di sini.”

Dan kemudian, mereka mendengar suara. Dari bawah lantai.

“Ada ruang bawah tanah,” kata Kaelan.

Mereka menemukan pintu jebakan di lantai, terbuka. Tangga menurun ke kegelapan.

“Kita harus periksa,” kata Lyra Junior.

“Atau kita bisa pergi,” kata Kaelan, tapi dia tahu mereka harus periksa.

Mereka turun, Lyra Junior membuat bola cahaya. Ruang bawah tanah itu… laboratorium. Meja dengan peralatan aneh, tabung kaca dengan cairan ungu, dan… tubuh.

Bukan tubuh manusia. Sesuatu yang hybrid. Manusia dicampur dengan… es? Atau crystal?

“Eksperimen,” bisik Lyra Junior, mual. “Dia mencoba membuat… sesuatu.”

Lalu salah satu “tubuh” bergerak.

Kaelan melompat mundur, pedang terhunus. Tapi makhluk itu tidak menyerang. Itu… melihat mereka. Dengan mata manusia, di wajah setengah crystal.

“Tolong…” suaranya parau, seperti kaca pecah. “Bebaskan… aku…”

“Kau siapa?” tanya Kaelan.

“Pemburu… desa… dia bawa kami… ubah…”

Malakar. Dia mengambil warga desa untuk eksperimennya.

“Kita harus membunuhnya,” kata Lyra Junior, tapi suaranya ragu.

“Tidak,” kata makhluk itu. “Bersihkan… corruption…”

Purification. Kaelan bisa mencoba. Tapi makhluk ini setengah crystal, setengah manusia. Apakah purification bekerja?

Dia mendekat, menyentuh dahi makhluk itu. Dingin. Sangat dingin.

[CONTACT: HYBRID CORRUPTION]
[COMPOSITION: HUMAN + VOID CRYSTAL + ELEMENTAL ICE]
[PURIFICATION POSSIBILITY: 30%]

Peluang kecil. Tapi dia harus mencoba.

Dia mengaktifkan Purification, mengirim energi putih. Makhluk itu menjerit—suara mengerikan—dan tubuhnya bergetar. Crystal mulai retak, memudar.

[PURIFICATION IN PROGRESS…]
[SUCCESS: 15%… 25%…]

Tapi kemudian, sesuatu terjadi. Crystal yang retak itu mengeluarkan energi—energi void, tapi dicampur dengan sesuatu yang lain. Dan energi itu… mengalir ke Kaelan.

[UNEXPECTED ABSORPTION]
[ENERGY TYPE: VOID-ICE HYBRID]
[EFFECT: UNKNOWN]

Kaelan merasakan dingin yang membakar masuk ke dirinya. Bukan hanya dingin fisik—dingin jiwa. Keputusasaan. Rasa sakit. Dan… keinginan untuk menjadi sempurna, tidak peduli biayanya.

Echo Malakar.

Dia menarik tangan, tapi terlalu terlambat. Energi sudah masuk.

[VOID-ICE ASPECT ACQUIRED]
[EFFECT: RESISTANCE TO COLD +20%]
[SIDE EFFECT: TEMPORARY VOID CORRUPTION 5%]

Void corruption! Dia terkontaminasi!

“Kaelan!” teriak Lyra Junior, melihat perubahan di matanya—sedikit cahaya ungu.

“Aku… baik-baik saja,” kata Kaelan, tapi dia tidak yakin. Dia merasa… berbeda. Dingin. Logis. Seperti emosi berkurang.

Makhluk itu sekarang lebih manusia, tapi masih sekarat. “Terima… kasih…” lalu mati.

Mereka keluar dari ruang bawah tanah, menemukan yang lain sudah berkumpul.

“Ada apa?” tanya Elara, melihat wajah Kaelan.

“Eksperimen Malakar,” jawab Lyra Junior. “Dan Kaelan… dia menyerap sesuatu.”

Semua melihat Kaelan.

“Aku baik-baik saja,” kata Kaelan lagi, tapi bahkan dia tidak percaya.

Elara mendekat, menyentuh dahinya. “[HEART READER]… aku merasakan… dingin. Di jiwamu.”

“Itu akan berlalu,” kata Kaelan, berharap itu benar.

Tapi Thorne melihatnya dengan mata tajam. “Void corruption. Bahkan sedikit berbahaya. Kau harus berhati-hati, Kaelan. Jangan biarkan itu tumbuh.”

Kaelan mengangguk. Dia akan berhati-hati.

Mereka meninggalkan desa, melanjutkan perjalanan. Tapi sekarang, ada ketegangan baru. Kaelan telah terkontaminasi. Dan mereka semua tahu apa artinya: jika corruption tumbuh, dia bisa menjadi seperti Malakar.

Atau lebih buruk.

Malam kedua, mereka berkemah di gua kecil. Kaelan duduk sendirian, mencoba meditasi. Void corruption 5% kecil, tapi dia bisa merasakannya—seperti noda hitam di jiwanya, mencoba menyebar.

Gelang Echo Stabilizer membantu, tapi tidak cukup.

Dia ingat sesuatu: purification bekerja pada orang lain. Bisakah dia memurnikan dirinya sendiri?

Dia mencoba. Menyentuh dadanya sendiri, mengaktifkan purification.

[SELF-PURIFICATION ATTEMPT…]
[SUCCESS: 2%]
[CORRUPTION: 5% → 4.9%]

Bekerja! Tapi lambat, dan menghabiskan MP. Tapi setidaknya ada harapan.

Dia akan memantau corruption-nya. Dan jika tumbuh… dia akan memberitahu yang lain.

Bahkan jika itu berarti mereka harus menghentikannya.

Esok hari, mereka akan mencapai dasar gunung Icepeak. Dan kemudian, pendakian dimulai.

Tapi pertama, mereka harus selamat dari malam di Frozen North.

Dan dengan corruption dalam dirinya, Kaelan tidak yakin apakah dia masih sekutu… atau ancaman.


[END OF CHAPTER 14]
[WORD COUNT: 1,830]
[NEXT: BAB 15 – PERJALANAN KE FROZEN NORTH]