Bab 35: Langkah Kembali ke Masa Lalu
Perkemahan sekte di lembah Jurang Waktu lebih besar dari yang terlihat dari kejauhan. Dua puluh tenda tersusun rapi dengan formasi pertahanan sederhana di sekelilingnya. Bendera Sekte Bulan Sabit dan Sekte Pedang Awan berkibar di tengah perkemahan, dikelilingi oleh bendera-bendera sekte kecil yang bergabung dalam misi pencarian. Tampaknya selama tiga bulan Lin Ming dan Xiao Lan hilang, upaya pencarian telah menarik perhatian banyak pihak.
Sesepuh Lan dan Elder Chen muncul dari tenda terbesar saat Liu Feng membawa Lin Ming dan Xiao Lan masuk. Kedua sesepuh itu terlihat lebih tua dari ingatan Lin Ming—mungkin karena stres dan kekhawatiran selama tiga bulan terakhir.
“Lin Ming! Xiao Lan!” Seru Sesepuh Lan, matanya berkaca-kaca. “Kami hampir putus asa. Setelah kalian masuk ke Gerbang Waktu dan tidak keluar selama berminggu-minggu…”
Elder Chen mengamati mereka dengan mata tajam. “Tetapi kalian berubah. Aura kalian… Lin Ming, jiwamu utuh kembali. Dan Xiao Lan…” Dia berhenti, mengerutkan kening. “Darah Abadi. Tapi tidak terasa mengancam seperti dulu.”
Xiao Lan mengangguk. “Aku belajar mengendalikannya, Elder. Itu bagian dari diriku sekarang, tapi tidak mengendalikanku.”
Mereka dibawa ke tenda utama untuk briefing. Di dalam, peta wilayah terbentang di atas meja, dengan beberapa token ditempatkan di berbagai lokasi. Mei Ling juga ada di sana—dia segera memeluk Xiao Lan dengan erat.
“Aku tidak percaya kalian kembali,” bisik Mei Ling, suaranya gemetar. “Ketika Gerbang Waktu menutup setelah kalian masuk, dan tidak terbuka lagi selama tiga bulan…”
“Waktu di dalam berbeda,” jelaskan Lin Ming. “Bagi kami hanya beberapa jam.”
Dia kemudian menceritakan secara singkat apa yang terjadi di dalam Jurang Waktu—ujian ketakutan, pilihan mereka, penyatuan jiwa, dan penguasaan Darah Abadi oleh Xiao Lan. Dia tidak menyebutkan detail tentang Penjaga Waktu atau sifat sebenarnya dari tempat itu, merasa beberapa hal lebih baik tidak diungkapkan sepenuhnya.
Setelah penjelasan, Sesepuh Lan mengangguk pelan. “Itu menjelaskan perubahan pada kalian. Tapi sekarang kita punya situasi genting.” Dia menunjuk peta, tepat di lokasi Sekte Awan. “Intel kami menunjukkan sisa-sisa Kultus Iblis Darah telah berkumpul kembali di bawah pimpinan baru—seorang yang menyebut dirinya ‘Rasul Darah’. Mereka menargetkan Sekte Awan karena sebuah artefak kuno yang disimpan di sana: ‘Cermin Jiwa Terbelah’.”
Lin Ming mengernyitkan dahi. “Cermin Jiwa Terbelah? Aku tidak pernah mendengar tentang itu selama di Sekte Awan.”
“Itu rahasia tingkat tinggi, hanya diketahui sesepuh dan elder inti,” kata Elder Chen. “Menurut legenda, cermin itu bisa memisahkan jiwa dari tubuh, atau menyatukan jiwa yang terbelah. Kultus mungkin ingin menggunakannya untuk membangkitkan Dewa Darah sepenuhnya—memisahkan fragmentasi jiwa dari artefak dan memindahkannya ke wadah yang lebih cocok.”
Xiao Lan menyentuh dadanya. “Maksudmu… mereka ingin mengambil fragmentasi jiwa Dewa Darah dari dalam diriku?”
“Kemungkinan besar. Atau mereka punya rencana lain.” Sesepuh Lan meletakkan token merah di peta. “Menurut informasi, mereka akan menyerang dalam sembilan hari. Pasukan mereka diperkirakan sekitar dua ratus kultis, ditambah makhluk-makhluk hasil eksperimen darah.”
Lin Ming mempelajari peta. Sekte Awan terletak di dataran rendah antara dua rangkaian pegunungan, dengan sungai besar di sisi timur. Posisi defensif yang baik, tapi jika dikepung dari semua sisi, akan sulit.
“Berapa banyak pasukan yang bisa kita kerahkan?” tanya Lin Ming.
Elder Chen menghela napas. “Tidak banyak. Sekte Bulan Sabit dan Sekte Pedang Awan masih memulihkan diri setelah pertempuran sebelumnya. Kami bisa menyediakan lima puluh petarung berkualitas. Beberapa sekte kecil menawarkan bantuan, total mungkin seratus. Tapi itu masih kurang dari jumlah kultis.”
“Lalu bagaimana kita bisa membantu?” tanya Xiao Lan. “Apakah memberitahu Sekte Awan tentang ancaman ini?”
“Kami sudah mencoba mengirim pesan, tapi tidak ada respons. Kemungkinan mata-mata kultus sudah menyusup dan menyensor komunikasi.” Sesepuh Lan melihat Lin Ming. “Itu sebabnya kami butuh kalian. Lin Ming, kau mengenal Sekte Awan lebih baik dari siapa pun. Dan dengan kemampuan barumu…”
Lin Ming berdiri, berjalan mendekati peta. Ingatannya tentang Sekte Awan kembali sepenuhnya—setiap lorong, setiap bangunan, setiap titik lemah pertahanan. Dia juga ingat perlakuan buruk yang dia terima di sana, penghinaan sebagai pelayan dengan akar spiritual patah. Tapi itu bukan alasan untuk membiarkan sekte itu hancur.
“Kita punya keuntungan: kita tahu mereka akan diserang, sedangkan kultus tidak tahu kita akan datang membantu.” Lin Ming menunjuk beberapa titik di peta. “Pertahanan Sekte Awan terkuat di gerbang utama dan menara utara. Tapi ada celah—saluran pembuangan di sisi selatan yang jarang dijaga. Dan terowongan rahasia dari gudang persediaan ke luar tembok.”
“Kau tahu semua itu?” tanya Liu Feng terkesima.
“Sebagai pelayan, aku tahu bagian-bagian sekte yang tidak diketahui murid biasa.” Lin Ming tersenyum pahit. “Ternyata pengetahuan itu bisa berguna.”
Mereka menghabiskan sisa hari itu merencanakan. Strateginya: pasukan kecil Lin Ming dan kawan-kawan akan menyusup ke Sekte Awan untuk memperingatkan dan membantu pertahanan. Pasukan utama di bawah Sesepuh Lan dan Elder Chen akan menyerang dari luar saat pertempuran mulai, menjepit kultis di antara dua pasukan.
Malam itu, saat yang lain beristirahat, Lin Ming berdiri di tepi perkemahan, memandang bintang. Xiao Lan mendekatinya.
“Kakak Lin, apa kau baik-baik saja? Kembali ke Sekte Awan…”
“Rasanya aneh,” akui Lin Ming. “Aku ingat semua penghinaan, semua pandangan merendahkan. Tapi aku juga ingat hal baik—beberapa pelayan yang baik, guru tua yang diam-diam mengajariku membaca, bahkan adik angkatku yang masih di sana.”
“Adik angkatmu?”
“Ya, seorang anak laki-laki bernama An kecil. Aku mengambilnya di bawah perlindunganku saat dia yatim piatu. Dia pasti sudah remaja sekarang.” Lin Ming tersenyum kecil. “Aku berjanji padanya akan kembali suatu hari nanti sebagai orang kuat. Tapi waktu itu aku hanya pelayan hina yang berangan-angan.”
“Sekarang kau adalah orang kuat,” kata Xiao Lan meletakkan tangan di lengannya. “Dan kau akan menepati janjimu.”
“Tapi bukan itu yang penting. Yang penting adalah menyelamatkan nyawa di sana. Bahkan mereka yang pernah menghinaku tidak pantas mati di tangan kultus.”
Sistem dalam pikirannya berbunyi. [Analisis rencana: Kemungkinan keberhasilan 68%. Faktor kunci: elemen kejutan, pengetahuan medan, dan kemampuan baru host dan rekan.] [Rekomendasi: Latih koordinasi dengan Xiao Lan untuk kombonasi kemampuan baru sebelum berangkat.]
Benar. Mereka punya kemampuan baru yang belum sepenuhnya dikuasai. Lin Ming dengan sistem yang pulih dan pemahaman Hukum Alam yang lebih dalam, Xiao Lan dengan kendali Darah Abadi. Mereka perlu berlatih bersama.
Dua hari berikutnya dihabiskan untuk pelatihan intensif di lembah terpencil dekat perkemahan. Lin Ming menguji fitur baru sistemnya.
“Sistem, sintesis Hukum Guntur dan Hukum Ruang dasar.”
[Memulai sintesis…] [Hukum Guntur (Menengah) + Hukum Ruang (Dasar) = “Sambar Ruang” (Tingkat D).] [Efek: Serangan guntur yang dapat menembus jarak pendek secara instan. Konsumsi energi: 8 unit.] [Sintesis Poin dikonsumsi: 25. Sintesis Poin tersisa: 75.]
Lin Ming menguji teknik baru itu. Dia mengangkat tangan, dan kilat biru muncul, lalu menghilang, dan muncul kembali lima meter di depan, menyambar batu besar hingga retak. Teknik yang berguna untuk serangan mendadak.
Xiao Lan berlatih mengendalikan Darah Abadi. Dia menemukan bisa menggunakan darahnya sendiri (bukan darah orang lain) untuk membuat perisai pelindung atau senjata energi. Darah keemasan spesialnya bercampur dengan energi merah Darah Abadi, menciptakan efek unik.
“Lihat,” katanya pada Lin Ming, mengulurkan tangan. Dari telapaknya, tetesan darah keemasan dengan inti merah membentuk bola yang berputar. “Aku bisa mengontrolnya sepenuhnya. Tidak seperti energi darah kultus yang korup.”
“Kekuatan darah murni,” gumam Lin Ming. “Mungkin inilah yang seharusnya menjadi kemampuan darah spesialmu sejak awal—bukan sebagai umpan, tetapi sebagai pengendali.”
Mereka juga berlatih kombonasi. Lin Ming menggunakan Hukum Tanah untuk membuat dinding pelindung, sementara Xiao Lan melapisinya dengan perisai darah yang bisa menyerap energi serangan. Atau Lin Ming menggunakan Sambar Ruang untuk menyerang dari kejauhan, sementara Xiao Lan menggunakan kemampuan darahnya untuk mengikat musuh di tempat.
Pada hari ketiga, pasukan kecil mereka berkumpul untuk berangkat. Terdiri dari Lin Ming, Xiao Lan, Liu Feng, Mei Ling, dan sepuluh petarung pilihan dari berbagai sekte—total empat belas orang. Cukup kecil untuk menyusup tanpa menarik perhatian, tapi cukup kuat untuk membuat perbedaan.
“Kalian akan berangkat malam ini,” kata Sesepuh Lan dalam briefing terakhir. “Gunakan jalur pegunungan barat, hindari jalan utama. Perjalanan normal memakan waktu enam hari, tapi dengan kecepatan kalian, mungkin empat atau lima.”
Elder Chen memberikan setiap orang jimat pelindung khusus. “Ini akan melindungi dari deteksi energi kultus. Tapi ingat, jimat hanya bertahan sepuluh hari. Kalian harus sampai dan menyelesaikan misi sebelum itu.”
Malam itu, di bawah bulan sabit, mereka berangkat. Tidak dengan kuda kali ini—kuda terlalu mencolok dan sulit dibawa melalui jalur pegunungan terpencil. Mereka akan menggunakan teknik perjalanan cepat kultivator, yang meski lebih melelahkan, lebih tidak terlihat.
Perjalanan hari pertama lancar. Mereka melewati jalur yang sudah dipetakan oleh pengintai sebelumnya. Lin Ming memimpin dengan yakin, sistemnya terus memindai lingkungan untuk bahaya.
Di hari kedua, mereka menghadapi rintangan pertama: sekawanan serigala abu-abu pegunungan yang terpengaruh energi aneh. Binatang itu lebih besar dari biasa, dengan mata merah dan taring bercahaya.
“Terpengaruh energi sisa kultus,” kata Mei Ling setelah memeriksa salah satu yang mereka taklukan. “Tapi bukan buatan—alami terpengaruh.”
“Artinya kultus sudah melalui daerah ini,” simpul Liu Feng. “Mungkin patroli atau pengintai.”
Mereka melanjutkan dengan lebih hati-hati. Di hari ketiga, mereka menemukan bukti lebih jelas: bekas perkemahan kecil dengan sisa api unggun dan simbol darah tergores di batu. Tapi perkemahan itu sudah ditinggalkan setidaknya seminggu.
“System, analisis jejak energi,” perintah Lin Ming.
[Analisis: Sisa energi darah korup. Jumlah individu: 8-10. Tingkat: E hingga E+. Arah pergerakan: Timur, menuju Sekte Awan.] [Perkiraan: Patroli pengintai kultus. Kemungkinan masih di depan.]
Mereka memutuskan mengubah rute sedikit, mengambil jalur lebih utara yang lebih sulit tapi lebih aman. Perjalanan jadi lebih lambat, tapi lebih baik daripada bertemu patroli kultus.
Di hari keempat, Xiao Lan tiba-tiba berhenti, memegangi dadanya. “Ada sesuatu… Darah Abadi bereaksi. Seperti ada yang memanggil.”
“Memanggil?” tanya Lin Ming.
“Fragmentasi jiwa Dewa Darah dalam diriku… merespons sesuatu di depan.” Xiao Lan menutup mata, berkonsentrasi. “Itu… Cermin Jiwa Terbelah. Artefak itu aktif, atau setidaknya, energinya terbangun.”
“Berarti kultus mungkin sudah mulai menyerang lebih awal!” kata Liu Feng khawatir.
“Atau mereka sedang mencoba mengaktifkan cermin dari jarak jauh,” tambah Mei Ling.
Tanpa pilihan, mereka mempercepat langkah. Lin Ming menggunakan sistem untuk memetakan rute tercepat yang masih aman. Mereka mulai menggunakan teknik perjalanan yang lebih cepat, mengorbankan penyamaran demi kecepatan.
Sore hari di hari kelima, mereka mencapai puncak bukit terakhir sebelum dataran tempat Sekte Awan berada. Dari atas, mereka bisa melihat sekte itu di kejauhan—kompleks bangunan dengan tembok tinggi, dikelilingi taman dan ladang. Tapi ada yang tidak beres.
“Asap,” bisik Xiao Lan. “Ada asap dari dalam tembok.”
Lin Ming mengerutkan kening. “Tapi tidak ada tanda pengepungan dari luar. Artinya…”
“Serangan sudah dimulai dari dalam,” selesaikan Liu Feng. “Mata-mata kultus sudah berada di dalam, dan mereka melancarkan serangan mendadak.”
Lin Ming menggunakan penglihatan jauh dengan bantuan energi. Memang, di gerbang utama, tidak ada pasukan penyerang. Tapi dari dalam, terlihat kilatan energi—pertarungan.
“Kita terlambat. Tapi mungkin belum sepenuhnya.” Lin Ming menatap sekte itu. “Kita harus masuk sekarang. Liu Feng, ambil sepuluh orang dan serang dari gerbang timur sebagai pengalih. Aku, Xiao Lan, dan Mei Ling akan menyusup melalui saluran pembuangan selatan.”
“Berbahaya,” kata Liu Feng. “Jika kalian bertiga sendirian…”
“Kita punya kemampuan baru. Dan kita harus mencapai Cermin Jiwa Terbelah sebelum kultus.” Lin Ming melihat Xiao Lan. “Kau siap?”
Xiao Lan mengangguk, wajah penuh tekad. “Aku bisa merasakan lokasi cermin itu. Di menara pusat, lantai bawah tanah.”
“Baik. Liu Feng, beri kami satu jam untuk menyusup, lalu mulai serangan pengalihanmu. Jangan bertempur lama—cukup buat keributan lalu mundur ke hutan timur. Kita akan bertemu di sana setelah misi selesai.”
Mereka berpisah. Liu Feng dan sepuluh petarung lainnya turun bukit menuju timur. Lin Ming, Xiao Lan, dan Mei Ling mengambil rute memutar ke selatan.
Dalam perjalanan turun, Lin Ming merasakan gelombang emosi—ini pertama kalinya dia kembali ke Sekte Awan sejak diusir secara tidak resmi bertahun lalu. Dia ingat setiap batu, setiap pohon. Tempat di mana dia pernah dipukuli oleh murid inti. Tempat di mana dia bersembunyi saat lapar. Tapi juga tempat di mana dia pertama kali merasakan energi kultivasi, meski akar spiritualnya patah.
“Sekarang aku kembali,” gumamnya. “Bukan sebagai pelayan hina, bukan sebagai murid, tapi sebagai sesuatu yang lain.”
Mereka mencapai saluran pembuangan tepat saat matahari mulai terbenam. Saluran itu berupa terowongan batu dengan aliran air kotor yang mengalir ke sungai di luar tembok. Bau tidak sedap menusuk hidung, tapi itu adalah harga yang harus dibayar untuk masuk diam-diam.
“Kita harus berenang,” kata Lin Ming. “Tapi airnya tidak dalam. Ikuti aku.”
Mereka masuk ke air dingin yang hanya setinggi pinggang. Dengan bantuan penerangan energi minimal, mereka berjalan melalui terowongan gelap. Tikus dan serangga berlarian, tapi tidak ada bahaya serius.
Setelah sekitar lima belas menit, mereka mencapai jeruji besi yang menghalangi jalan. Biasanya dikunci, tapi Lin Ming tahu rahasianya—ada batu longgar di dinding kanan yang menyembunyikan kunci cadangan. Setelah bertahun-tahun, batu itu masih di tempat yang sama.
“Dasar pelayan yang baik,” gumam Lin Ming sambil mengambil kunci berkarat.
Dia membuka jeruji, dan mereka masuk ke area gudang bawah tanah Sekte Awan. Di sini, penyimpanan bahan makanan dan barang kebutuhan sehari-hari. Kosong saat ini—mungkin karena semua orang sedang menghadapi serangan.
Dari atas, suara pertempuran terdengar jelas: teriakan, ledakan energi, denting senjata. Pertarungan sedang berkecamuk.
“Menara pusat di seberang pelataran utama,” kata Lin Ming. “Tapi untuk mencapainya, kita harus melewati area pertempuran.”
Xiao Lan menutup mata, berkonsentrasi. “Aku bisa merasakan… banyak energi darah di atas. Kultus sudah menguasai sebagian besar area. Tapi ada sekelompok petarung Sekte Awan yang bertahan di aula utara.”
“Kita harus menghindari pertempuran utama. Ada jalan bawah tanah—terowongan rahasia yang hanya diketahui sesepuh dan… beberapa pelayan senior.” Lin Ming mengarahkan mereka ke sudut gudang, mendorong rak besar. Di belakangnya, ada pintu kayu tersembunyi.
Pintu itu terbuka menuju lorong sempit yang menanjak. Mereka berjalan cepat, dan setelah beberapa menit, tiba di persimpangan bawah tanah.
“Kiri menuju menara pusat,” kata Lin Ming. “Kanan menuju gudang senjata. Lurus menuju ruang bawah tanah sesepuh.”
Tiba-tiba, suara langkah kaki dari arah kanan. Mereka bersembunyi di ceruk gelap. Dua kultis dengan jubah merah lewat, membawa kotak berisi pil dan ramuan yang jelas dijarah dari gudang obat Sekte Awan.
“Kata Rasul, setelah dapat Cermin, kita akan pindah ke fase dua,” kata salah satunya.
“Tapi kenapa harus repot-rep? Sekte ini sudah hampir takluk.”
“Cermin hanya alat. Target sebenarnya adalah…”
Suara mereka menjauh sebelum kalimat selesai. Lin Ming dan yang lain saling memandang.
“Target sebenarnya apa?” bisik Mei Ling.
“Xiao Lan,” jawab Lin Ming. “Atau lebih tepatnya, Darah Abadi dalam dirinya.”
Mereka melanjutkan ke arah menara pusat. Lorong menjadi lebih lebar, dindingnya dihiasi lukisan kuno Sekte Awan—gambar pendiri sekte, diagram teknik pedang, simbol-simbol spiritual.
Lalu mereka tiba di pintu besi berat. Di depannya, dua kultis tingkat E+ berjaga.
“Kita harus mengatasi mereka diam-diam,” bisik Lin Ming.
Xiao Lan mengangguk. Dari tangannya, dua benang darah keemasan tipis merayap keluar, meluncur di lantai seperti ular. Saat mencapai kaki kultis, benang itu melilit pergelangan kaki mereka dan menarik keras. Kedua kultis terjatuh sebelum sempat berteriak, dan Lin Ming dengan cepat melumpuhkan mereka dengan tekanan titik.
“Bagus,” puji Lin Ming.
Mereka membuka pintu besi. Di baliknya, tangga spiral menurun ke ruang bawah tanah menara pusat. Dan dari bawah, cahaya aneh memancar—cahaya keperakan dengan semburat merah.
“Sistem, analisis,” perintah Lin Ming.
[Analisis: Energi artefak tingkat B- terdeteksi. “Cermin Jiwa Terbelah” aktif. Penggunaan saat ini: Mencoba komunikasi dengan entitas jiwa terfragmentasi.] [Peringatan: Ada upaya penarikan fragmentasi jiwa dari jarak jauh.]
“Kultus sedang mencoba mengambil fragmentasi jiwa Dewa Darah dari Xiao Lan!” kata Lin Ming.
Mereka berlari menuruni tangga. Saat mencapai dasar, mereka melihat ruangan luas dengan langit-langit tinggi. Di tengah, di atas altar batu, sebuah cermin oval besar mengambang, memancarkan cahaya. Di depannya, tiga kultis dengan jubah merah lebih gelap—mungkin tingkat D—sedang melakukan ritual. Dan di samping mereka, seorang pria bertubuh tinggi dengan jubah merah dan topeng perak—pastilah “Rasul Darah”.
Tapi yang lebih mengejutkan: di samping altar, beberapa orang Sekte Awan ditahan, termasuk seorang sesepuh tua yang Lin Ming kenal—Sesepuh Wang, yang dulu pernah diam-diam memberinya buku kultivasi dasar. Dan di antara mereka, seorang remaja laki-laki sekitar enam belas tahun—An kecil, adik angkat Lin Ming, sekarang sudah hampir dewasa.
Rasul Darah menoleh saat mereka masuk. “Ah, akhirnya. Pembawa Darah Abadi datang sendiri. Menghemat waktu kami.”
Xiao Lan melangkah maju. “Kau tidak akan mendapatkannya.”
“Sudah terlambat, gadis kecil. Ritual sudah hampir selesai. Cermin sudah terhubung dengan fragmentasi jiwa dalam dirimu. Tinggal menariknya keluar.” Rasul Darah mengangkat tangan, dan cermin bersinar lebih terang.