Bab 1: Pengkhianatan di Bawah Bulan Berdarah dan Kebangkitan Sang Naga

Ukuran:
Tema:

Hujan turun dengan sangat lebat, bagaikan tirai air yang diturunkan dari langit malam yang kelam, seolah-olah para dewa sendiri sedang menangisi tragedi yang terjadi di dunia fana. Petir menyambar dengan ganas, membelah angkasa dan menerangi sebuah pelataran batu yang sepi di bagian belakang kediaman utama Klan Lin. Di atas bebatuan yang dingin dan licin itu, terbaring sesosok tubuh pemuda yang bersimbah darah. Darah merah pekat mengalir dari berbagai luka di tubuhnya, bercampur dengan genangan air hujan, menciptakan aliran kecil yang memerah di atas tanah.

Pemuda itu adalah Lin Tian. Kemarin, ia adalah kebanggaan mutlak Klan Lin, seorang jenius langka yang hanya muncul seratus tahun sekali di Kota Daun Musim Gugur. Di usianya yang baru menginjak tujuh belas tahun, ia telah mencapai puncak Alam Penempaan Tubuh tingkat sembilan dan hanya tinggal selangkah lagi untuk menembus Alam Pembentukan Qi. Masa depannya begitu cerah, dipuja oleh para tetua, dihormati oleh teman-teman sebayanya, dan dipandang sebagai pilar yang akan membawa Klan Lin menuju kejayaan di masa depan. Namun malam ini, ia hanyalah seonggok daging yang menyedihkan, terbuang dan tak berdaya bagaikan anjing liar yang sekarat.

Napas Lin Tian terengah-engah, setiap tarikan napas terasa seperti ribuan jarum yang menusuk paru-parunya. Rasa sakit yang paling mengerikan tidak berasal dari luka-luka luar yang merobek kulit dan dagingnya, melainkan dari bagian bawah perutnya—pusat energinya, Dantian-nya. Tempat yang dulunya menjadi wadah bagi Qi murni yang bergolak penuh tenaga, kini hancur lebur tanpa sisa. Kesembilan meridian utamanya, jalur vital yang mengalirkan energi ke seluruh tubuhnya, telah diputus secara paksa dan brutal. Bagi seorang kultivator di dunia persilatan, Dantian yang hancur dan meridian yang terputus adalah vonis mati yang lebih kejam daripada kematian itu sendiri. Ia telah menjadi seorang cacat, seorang sampah yang bahkan tidak bisa mengumpulkan tenaga untuk mengangkat pedang kayu.

Dalam keremangan malam yang hanya diterangi kilatan petir, mata Lin Tian yang biasanya memancarkan cahaya kecerdasan dan semangat juang yang membara, kini meredup, dipenuhi oleh keputusasaan dan ketidakpercayaan yang mendalam. Ingatannya kembali ditarik secara paksa pada kejadian beberapa jam yang lalu, sebuah memori mengerikan yang mengoyak kewarasannya berkali-kali lipat lebih menyakitkan daripada luka fisiknya.

Tiga jam yang lalu, di paviliun miliknya, aroma dupa yang menenangkan masih menguar di udara. Zhao Meng’er, tunangannya, wanita yang paling ia cintai dan percayai di dunia ini, datang mengunjunginya dengan senyum yang begitu lembut dan memikat. Zhao Meng’er adalah kembang Kota Daun Musim Gugur, dengan wajah yang secantik dewi dan bakat bela diri yang juga tidak bisa diremehkan. Lin Tian telah memberikan segalanya untuk wanita itu. Ia membagi sebagian besar pil kultivasi tingkat tinggi miliknya, memberikan teknik rahasia Klan Lin, bahkan mengorbankan waktu kultivasinya sendiri untuk membimbing Zhao Meng’er. Semua itu dilakukannya demi melihat senyum bahagia di wajah wanita yang ia proyeksikan sebagai pendamping hidupnya hingga akhir hayat.

Malam itu, Zhao Meng’er membawakannya secangkir Teh Teratai Salju, minuman langka yang konon bisa menenangkan pikiran dan memperlancar aliran Qi. Tanpa sedikit pun rasa curiga, dengan hati yang dipenuhi kehangatan cinta, Lin Tian menenggak teh tersebut. Namun, kehangatan itu hanya berlangsung sesaat. Beberapa detik setelah teh itu mengalir melewati tenggorokannya, sebuah rasa dingin yang mematikan tiba-tiba meledak di dalam perutnya. Qi di dalam tubuhnya seketika memberontak, membeku, dan mengunci seluruh pergerakan otot serta aliran energinya. Racun Bubuk Pembeku Tulang—sebuah racun mematikan tanpa warna dan tanpa rasa yang sangat langka di dunia Jianghu.

Saat Lin Tian jatuh berlutut dengan tubuh gemetar, darah hitam menetes dari sudut bibirnya. Ia mendongak, menatap wajah Zhao Meng’er, mengharapkan melihat kepanikan atau tangisan kekhawatiran dari wanita itu. Namun, apa yang dilihatnya menghancurkan dunianya dalam sekejap.

Wajah cantik yang biasanya memancarkan kelembutan itu kini membeku bagaikan es abadi. Mata yang dulunya selalu menatapnya dengan penuh kekaguman, kini memancarkan rasa jijik, arogansi, dan kekejaman yang tak terlukiskan. Zhao Meng’er berdiri menjulang di hadapannya, memandangnya seolah-olah Lin Tian hanyalah serangga menjijikkan yang menempel di sepatunya.

“Mengapa… Meng’er… kenapa?” Suara Lin Tian keluar dengan susah payah, terdengar serak dan putus asa, bercampur dengan darah yang terus menggelegak di tenggorokannya.

Zhao Meng’er melangkah maju, sepatu sutranya yang bersih kontras dengan darah hitam yang mulai menodai lantai paviliun. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman sinis yang membuat darah Lin Tian semakin membeku. “Kenapa, kau bertanya? Lin Tian, kau memang jenius di kota kecil yang sempit ini. Tapi bagiku, kau tak lebih dari sebuah batu pijakan. Seekor katak di dasar sumur yang mengira genangan airnya adalah lautan luas.”

Suara wanita itu mengalun merdu, namun setiap kata-katanya adalah pisau beracun yang menguliti hati Lin Tian. “Bulan lalu, Tetua dari Sekte Pedang Awan telah berkunjung secara rahasia. Mereka melihat bakatku dan memutuskan untuk menerimaku sebagai murid langsung sekte dalam. Sekte Pedang Awan, Lin Tian! Salah satu dari Empat Sekte Lurus penguasa Benua Cakrawala! Apakah kau pikir aku, Zhao Meng’er, wanita yang ditakdirkan untuk terbang ke sembilan langit, akan sudi menghabiskan sisa hidupku membusuk di kota terpencil ini sebagai istri dari seorang tuan muda klan kecil sepertimu?”

Lin Tian melebarkan matanya, rasa sakit di hatinya melampaui efek racun yang menggerogoti organ dalamnya. Ia telah memberikan segalanya, mendukungnya, mencintainya tanpa syarat, namun di mata wanita ini, ia hanyalah batu loncatan yang patut disingkirkan setelah tidak lagi berguna.

“Kau bisa saja… membatalkan pertunangan kita…” bisik Lin Tian, napasnya semakin berat, matanya mulai memerah karena kemarahan yang tak berdaya. “Kau tidak perlu… melakukan ini…”

“Membatalkan pertunangan?” Zhao Meng’er tertawa pelan, tawa yang terdengar sangat merdu sekaligus sangat kejam. “Jika aku hanya membatalkan pertunangan, seorang jenius sepertimu mungkin akan menyimpan dendam. Di masa depan, kau mungkin akan menjadi duri dalam daging bagiku. Aku, Zhao Meng’er, tidak pernah meninggalkan akar masalah saat mencabut rumput liar.”

Mata Zhao Meng’er tiba-tiba memancarkan kilat niat membunuh yang pekat. “Lagipula, akar spiritualmu, Qi bawaan murni yang kau miliki di dalam Dantian-mu itu… sangat berguna bagiku untuk menembus Alam Pembentukan Qi sebelum aku resmi memasuki Sekte Pedang Awan. Anggap saja ini sebagai hadiah perpisahan terakhirmu untuk calon istrimu yang tercinta, Lin Tian.”

Sebelum Lin Tian bisa bereaksi, tangan Zhao Meng’er yang seputih batu giok melesat ke depan dengan kecepatan kilat, diselimuti oleh Qi yang tajam bagaikan pedang. Tangan itu menghantam perut bagian bawah Lin Tian dengan telak.

“AARRGGHHH!”

Jeritan penderitaan yang melengking merobek keheningan malam. Lin Tian merasakan seolah-olah sebuah pedang berapi ditusukkan ke dalam pusat energinya lalu diputar dengan paksa. Zhao Meng’er menggunakan teknik rahasia untuk menyedot habis Qi murni bawaan Lin Tian, sebelum akhirnya dengan kejam menghancurkan Dantian pemuda itu hingga berkeping-keping. Tidak berhenti sampai di situ, dengan beberapa totokan cepat yang mematikan, ia memutus sembilan meridian utama di sekujur tubuh Lin Tian, memastikan bahwa pemuda itu tidak akan pernah bisa berlatih bela diri lagi seumur hidupnya.

Lin Tian ambruk ke lantai, darah segar menyembur dari mulutnya. Kesadarannya memudar, namun ia masih bisa melihat sosok Zhao Meng’er yang berbalik pergi tanpa sedikit pun keraguan, tanpa pernah menoleh ke belakang, membawa pergi seluruh harga diri, masa depan, dan hatinya.

Suara gemuruh petir kembali menyadarkan Lin Tian dari lamunan masa lalunya yang menyiksa. Ia masih terbaring di pelataran batu di tengah badai hujan yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Tubuhnya menggigil hebat, kehilangan panas dengan cepat. Meridiannya yang terputus membuat rasa sakit yang menusuk tulang menjalar ke setiap saraf di tubuhnya setiap kali ia mencoba bergerak. Air hujan yang mengalir di wajahnya mencuci darah, namun tidak bisa mencuci rasa terhina dan kebencian yang kini mengakar kuat di dalam relung jiwanya yang paling dalam.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat dan disengaja terdengar menembus derai hujan. Lin Tian berusaha memutar kepalanya yang terasa seberat timah. Dari balik tirai hujan, tiga sosok berjalan mendekat. Dua di antaranya adalah penjaga elit klan yang memegang lentera tahan badai dan payung besar berlapis minyak. Di bawah payung itu, berjalan seorang pemuda seusia Lin Tian, mengenakan jubah sutra ungu yang mahal. Wajahnya dihiasi dengan senyum arogan dan penuh ejekan. Dia adalah Lin Feng, sepupu Lin Tian, putra dari Tetua Pertama Klan Lin, dan orang yang selalu memandang Lin Tian dengan penuh rasa iri dan dengki selama sepuluh tahun terakhir.

Lin Feng berhenti tepat di dekat kepala Lin Tian. Ia menunduk, menatap sosok yang dulunya selalu berada di atasnya, menatapnya dengan pandangan merendahkan bak seorang kaisar yang melihat seorang pengemis penderita kusta.

“Ck, ck, ck… Lihatlah siapa yang kita miliki di sini,” suara Lin Feng terdengar mengejek, mengalahkan suara hujan yang bising. “Bukankah ini Saudara Sepupu Lin Tian? Sang jenius nomor satu Kota Daun Musim Gugur? Bintang harapan Klan Lin? Mengapa kau berbaring di lumpur seperti babi yang sekarat?”

Lin Tian mengatupkan rahangnya erat-erat, matanya memelototi Lin Feng dengan tatapan membunuh yang tajam, meski tubuhnya tak mampu melakukan apapun. “Lin… Feng…”

Melihat tatapan tajam Lin Tian, senyum Lin Feng seketika menghilang, digantikan oleh raut wajah bengis. Ia mengangkat kaki kanannya dan menginjak wajah Lin Tian dengan keras, menekankan sepatu bot kulitnya ke pipi pemuda itu hingga memaksanya mencium genangan air yang kotor dan bercampur darah.

“Kau masih berani menatapku dengan mata seperti itu, dasar sampah?!” bentak Lin Feng dengan marah, menekan kakinya semakin kuat. “Kau pikir kau masih Tuan Muda Jenius dari klan ini? Bangunlah dari mimpimu! Kabar tentang meridianmu yang terputus dan Dantian-mu yang hancur sudah menyebar ke seluruh petinggi klan. Ayahku, Tetua Pertama, bersama dengan para tetua lainnya telah mengadakan rapat darurat malam ini.”

Lin Feng tertawa terbahak-bahak, suara tawanya dipenuhi dengan kepuasan yang luar biasa. “Mulai detik ini, kau secara resmi dicabut dari posisimu sebagai Tuan Muda Klan Lin! Semua sumber daya kultivasimu, paviliunmu, pelayanmu, semuanya akan dialihkan kepadaku. Klan Lin tidak memelihara sampah yang cacat. Ayahku bahkan menyarankan untuk mengusirmu dari klan malam ini juga, membiarkanmu mati kedinginan di luar gerbang agar tidak merusak reputasi klan kita!”

Mendengar kata-kata itu, hati Lin Tian terasa seperti dihantam palu godam raksasa. Pengkhianatan Zhao Meng’er sudah cukup untuk menghancurkannya, namun kekejaman klannya sendiri, keluarga yang selama ini ia bela dan perjuangkan dengan seluruh keringat dan darahnya, benar-benar menjadi pukulan fatal yang meruntuhkan sisa-sisa kepercayaannya pada dunia. Kemarin ia dipuja, hari ini, saat ia kehilangan nilainya, mereka membuangnya tanpa sedikit pun belas kasihan. Inilah realitas dunia Jianghu. Inilah hukum alam yang sesungguhnya di Benua Cakrawala. Tidak ada keadilan, tidak ada kebaikan budi, yang ada hanyalah kekuatan dan keuntungan mutlak.

“Buang sampah ini ke Hutan Kematian di belakang gunung,” perintah Lin Feng kepada dua penjaga di belakangnya, sambil meludah tepat di samping wajah Lin Tian. “Biarkan anjing liar dan binatang buas yang mengurus sisa hidupnya yang menyedihkan. Aku bahkan tidak sudi mengotori tanganku untuk membunuh seorang cacat.”

Lin Feng berbalik dan berjalan pergi menembus hujan, tawanya yang nyaring terus bergema, menusuk hati Lin Tian berkali-kali.

Dua penjaga itu maju ke depan. Tanpa kelembutan sedikit pun, mereka menyeret Lin Tian yang tak berdaya melewati tanah yang berbatu dan berlumpur. Pakaian Lin Tian robek, kulitnya terkoyak oleh bebatuan tajam di sepanjang jalan, memperparah luka-lukanya. Ia diseret menyusuri jalan setapak yang gelap gulita menuju Hutan Kematian, sebuah area terlarang di belakang gunung Klan Lin yang dikenal sebagai sarang binatang buas tingkat rendah.

Sesampainya di pinggiran hutan yang rimbun dan menyeramkan, kedua penjaga itu mengayunkan tubuh Lin Tian dan melemparnya ke dalam jurang dangkal yang dipenuhi semak berduri. Tubuh Lin Tian menghantam dasar jurang dengan suara berdebuk keras, mematahkan beberapa tulang rusuknya. Ia memuntahkan seteguk darah segar lagi, kesadarannya berada di ambang batas pemadaman total.

“Semoga beruntung di akhirat, mantan Tuan Muda,” cemooh salah satu penjaga sebelum mereka berdua berbalik dan kembali ke kenyamanan kediaman klan, meninggalkan Lin Tian sendirian di tengah kegelapan malam, dikelilingi oleh lolongan serigala liar yang mulai terdengar dari kejauhan.

Dingin. Rasa dingin yang membekukan tulang perlahan merayap dari ujung kaki hingga ke kepalanya. Hujan terus mengguyur tubuhnya yang babak belur. Lin Tian berbaring telentang di tengah semak berduri, menatap langit malam yang kelam tanpa bintang. Napasnya semakin dangkal, detak jantungnya semakin melambat. Apakah ini akhirnya? Mati sebagai seorang yang cacat, dikhianati oleh wanita yang dicintainya, dibuang oleh keluarganya sendiri, dan menjadi santapan anjing liar di hutan terpencil?

“Tidak…” bisik Lin Tian, suaranya sangat pelan, hampir tertelan oleh suara hujan, namun di dalamnya terkandung keteguhan yang mengerikan. “Aku… tidak boleh mati… Aku menolak… untuk mati di tempat seperti ini!”

Matanya yang sebelumnya meredup kini memancarkan cahaya merah yang menakutkan, sebuah tekad untuk bertahan hidup yang lahir dari kedalaman kebencian murni dan rasa haus akan keadilan. Ia harus hidup. Ia harus membalas dendam. Ia akan membuat Zhao Meng’er membayar setiap tetes penderitaan yang ia alami malam ini jutaan kali lipat. Ia akan menginjak-injak Klan Lin yang munafik di bawah kakinya. Ia bersumpah pada langit dan bumi, jika ia bisa selamat dari malam ini, ia akan mengubah dunia persilatan ini, membasuh benua ini dengan sungai darah musuh-musuhnya.

Dengan sisa-sisa tenaga yang entah datang dari mana—sebuah keajaiban yang dipicu oleh tekad murni—Lin Tian mencoba membalikkan tubuhnya. Otot-ototnya menjerit protes, meridiannya yang terputus seolah terbakar api neraka, namun ia mengabaikan semua rasa sakit itu. Ia berhasil berguling, dan dengan susah payah, ia menggunakan kedua lengannya yang patah untuk merangkak. Inci demi inci, ia menyeret tubuhnya melewati lumpur dan duri, meninggalkan jejak darah yang panjang di belakangnya. Tujuannya adalah sebuah gua kecil yang samar-samar terlihat di dasar tebing di dekatnya, tempat untuk sekadar berlindung dari hujan lebat dan angin malam yang mematikan.

Perjalanan sejauh sepuluh meter itu terasa seperti sepuluh ribu mil. Saat ia akhirnya berhasil merangkak masuk ke dalam mulut gua yang gelap dan lembap, seluruh tenaganya terkuras habis. Ia ambruk tertelungkup di atas lantai batu yang dingin. Tubuhnya mengejang hebat sebelum akhirnya diam. Lin Tian terbatuk dengan keras, dan untuk kesekian kalinya malam itu, seteguk darah kental dan gelap—darah esensinya—menyembur dari mulutnya.

Darah itu memercik tepat mengenai dadanya, membasahi sebuah kalung usang berliontin batu hitam yang selalu ia kenakan sejak kecil. Kalung itu adalah satu-satunya peninggalan almarhum ibunya yang meninggal saat ia dilahirkan, sebuah benda misterius yang tidak pernah menunjukkan keistimewaan apa pun selama belasan tahun.

Namun malam ini, saat darah esensi Lin Tian yang bercampur dengan penderitaan tak terbatas, keputusasaan, dan tekad baja menyentuh permukaan batu hitam itu, sebuah keajaiban yang akan menggetarkan seluruh Benua Cakrawala mulai terjadi.

BZZZZZZZZT!

Batu hitam yang kotor dan tampak tidak berharga itu tiba-tiba bergetar hebat. Lapisan luar batu yang keras itu mulai retak, menciptakan jaring-jaring retakan kecil. Dari celah-celah retakan tersebut, memancar cahaya keemasan yang sangat menyilaukan, menerangi seluruh isi gua yang gelap gulita bagaikan matahari mini yang turun ke bumi.

Seketika, hujan deras di luar gua seakan berhenti berdetak sesaat. Angin malam yang melolong tiba-tiba terdiam. Tekanan udara di sekitar pegunungan itu berubah menjadi sangat berat, membuat burung-burung malam berjatuhan dari pohon dan binatang-binatang buas meringkuk ketakutan di sarang mereka.

Lin Tian, yang nyaris kehilangan seluruh kesadarannya, tiba-tiba merasakan sensasi hangat yang luar biasa terpancar dari dadanya. Ia memaksa matanya terbuka sedikit, dan apa yang dilihatnya membuat napasnya terhenti. Batu hitam itu telah hancur sepenuhnya, dan dari dalamnya mengambang sebuah mutiara sebesar mata naga, sebening kristal, dan memancarkan pendar emas yang agung. Di dalam mutiara tersebut, seolah ada bayangan seekor naga emas raksasa yang sedang berenang-renang di dalam lautan awan surgawi.

ROAAAARRRRR!

Sebuah raungan naga purba yang sangat dahsyat dan purba meledak di dalam pikiran Lin Tian, bukan di telinganya, melainkan langsung menghantam kedalaman jiwanya. Raungan itu mengandung dominasi mutlak, otoritas tertinggi yang memandang rendah segala bentuk kehidupan di alam semesta.

Sebelum Lin Tian bisa memahami apa yang sedang terjadi, Mutiara Naga emas itu tiba-tiba melesat secepat kilat, menembus kulit perut Lin Tian tanpa halangan, dan masuk langsung ke posisi Dantian-nya yang hancur lebur.

BUMMM!

Tubuh Lin Tian tersentak dengan keras, melengkung ke atas seperti busur yang ditarik maksimal. Rasa sakit yang sejuta kali lebih mengerikan daripada saat Dantian-nya dihancurkan meledak di dalam dirinya. Rasanya seperti ada lautan magma emas yang mendidih yang ditumpahkan secara paksa ke dalam pembuluh darahnya. Ia membuka mulutnya lebar-lebar untuk menjerit, namun tidak ada suara yang keluar, hanya pendaran cahaya keemasan yang menembus dari balik rongga mulut dan kedua matanya.

Mutiara Naga Surgawi, artefak kuno yang keberadaannya hanya dianggap sebagai mitos penciptaan dunia, kini mulai bekerja. Mutiara itu memposisikan dirinya di pusat Dantian yang hancur, bertindak sebagai Dantian baru yang tak terhancurkan. Energi emas murni yang tak berujung—Qi Naga Surgawi—membanjiri tubuh Lin Tian.

Keajaiban sejati terjadi di detik berikutnya. Energi emas itu mulai memperbaiki kerusakan fatal di tubuh pemuda tersebut. Serpihan-serpihan Dantian lama dilebur dan ditempa kembali menjadi lautan energi yang luasnya tak terhingga. Meridiannya yang terputus dicari, disambung kembali secara kasar namun sempurna, dan diperlebar hingga sepuluh kali lipat dari ukuran aslinya. Meridian yang semula hanya berupa jalur energi rapuh kini dilapisi oleh cahaya emas keemasan, membuatnya sekuat baja ilahi dan lentur bagaikan sutra surgawi. Luka-luka luar di tubuhnya, tulang rusuknya yang patah, dan kulitnya yang terkoyak, menutup dan sembuh dengan kecepatan yang bisa dilihat oleh mata telanjang.

Proses pembentukan ulang ini adalah penyiksaan neraka yang paling absolut, menuntut batas kewarasan manusia yang paling ekstrem. Otak Lin Tian hampir meledak menahan rasa sakit dari peleburan dan penempaan kembali tubuhnya secara paksa. Namun di dalam benaknya, satu-satunya hal yang menahannya agar tidak hancur menjadi kegilaan adalah bayangan wajah Zhao Meng’er yang menatapnya dengan dingin, dan tawa Lin Feng yang merendahkannya. Kemarahan itu menjadi jangkar yang menahan jiwanya tetap utuh selama proses penempaan surgawi tersebut.

Waktu seolah kehilangan maknanya di dalam gua kecil itu. Di luar, fajar perlahan mulai menyingsing, memecah kegelapan malam dengan semburat cahaya pagi. Badai hujan akhirnya mereda, menyisakan udara yang basah dan dingin.

Di dalam gua, pendaran cahaya keemasan perlahan-lahan meredup dan ditarik kembali ke dalam tubuh pemuda yang terbaring di lantai batu.

Lin Tian membuka matanya. Tidak ada lagi keputusasaan, tidak ada lagi rasa sakit yang melemahkan. Yang ada di sepasang mata hitamnya kini adalah kilatan emas misterius yang memancarkan ketajaman bagaikan pedang ilahi yang baru ditarik dari sarungnya. Ia perlahan bangkit berdiri. Tubuhnya yang sebelumnya babak belur kini sempurna tanpa cela sedikit pun. Kulitnya memancarkan kilau sehat bagaikan batu giok terbaik, dan setiap otot di tubuhnya dipenuhi dengan kekuatan eksplosif yang menakutkan, jauh melebihi kondisinya di puncak masa kejayaannya kemarin.

Ia mengepalkan tinjunya. Krek! Udara di dalam genggamannya meledak akibat kompresi tenaga fisik murni yang sangat brutal. Ia menutup matanya dan memeriksa bagian dalam tubuhnya. Di posisi Dantian-nya, sebuah Mutiara Emas berputar dengan tenang, memancarkan Qi purba yang tebal dan perkasa mengalir melalui meridian emasnya tanpa hambatan sedikit pun.

Namun, bukan hanya itu kejutan yang ia dapatkan. Saat kesadarannya menyentuh Mutiara Naga di dalam Dantian-nya, sebuah arus informasi purba dan masif tiba-tiba membanjiri benaknya. Aksara-aksara kuno berwarna emas menyala di dalam ruang kesadarannya, menyusun sebuah kitab teknik kultivasi tertinggi yang belum pernah ada di sejarah Benua Cakrawala.

Lin Tian membacanya dalam hati, suaranya bergetar karena takjub. “Seni Kaisar Naga Surgawi… Teknik penempaan tubuh abadi dan pembentukan Qi absolut… menguasai langit, menundukkan dewa iblis, menembus batasan kematian…

Ia membuka matanya perlahan, menghadap ke arah fajar yang merekah di ufuk timur. Senyum tipis, dingin, dan penuh percaya diri terbentuk di sudut bibirnya.

“Zhao Meng’er… Lin Feng… Klan Lin… Kalian berpikir telah menginjak seekor cacing tanah hingga mati.” Lin Tian berbicara dengan suara yang tenang, namun membawa dominasi yang tak terbantahkan. “Namun hari ini, kalian tidak tahu bahwa kalian baru saja membangunkan seekor naga yang tertidur. Tunggulah aku. Hutang darah ini, akan kubayar tunai, tetes demi tetes.”

Hari itu, pemuda jenius yang naif bernama Lin Tian telah mati. Dari abunya, di bawah panduan Mutiara Naga Surgawi, benih dari sosok Dewa Bela Diri yang kelak akan mengguncangkan sembilan langit dan sepuluh bumi telah resmi dilahirkan. Perjalanannya menuju puncak, yang diwarnai oleh darah, air mata, dan lautan tulang musuh, baru saja dimulai.