Bab 3: Pembantaian di Lautan Pohon dan Teratai Es yang Gugur

Ukuran:
Tema:

Waktu mengalir tanpa belas kasihan di dalam Hutan Kematian. Di tempat di mana cahaya matahari jarang menyentuh tanah dan aroma darah bercampur dengan kabut beracun yang menggenang di udara, hukum rimba berlaku dalam bentuknya yang paling murni dan brutal. Bagi penduduk Kota Daun Musim Gugur, satu malam terjebak di dalam hutan ini adalah sebuah kutukan mematikan. Namun bagi Lin Tian, tempat terkutuk ini telah bertransformasi menjadi tungku penyulingan yang menempanya kembali dari seonggok besi rongsokan menjadi sebuah pedang ilahi yang haus darah.

Dua puluh hari telah berlalu sejak malam pengkhianatan yang menghancurkan hidupnya.

Di sebuah area terbuka yang dikelilingi oleh pepohonan raksasa yang tumbang, bau amis darah begitu pekat hingga membuat udara terasa lengket. Tanah yang biasanya tertutup lumut hijau kini diwarnai oleh genangan merah gelap dan potongan-potongan daging yang berserakan. Di tengah-tengah arena pembantaian yang mengerikan itu, berdiri seorang pemuda dengan napas memburu.

Pakaian Lin Tian kini tidak lebih dari sekumpulan kain robek yang diikat asal-asalan untuk menutupi bagian vitalnya. Tubuh bagian atasnya yang telanjang dipenuhi oleh bekas luka cakaran dan gigitan, beberapa di antaranya masih mengeluarkan darah segar. Namun, di balik luka-luka mengerikan itu, otot-ototnya terbentuk dengan sempurna, padat dan liat bagaikan jalinan kabel baja. Saat sinar matahari kebetulan menembus celah dedaunan dan menyinari kulitnya, sebuah pendaran warna tembaga gelap yang sangat samar melintas di permukaan tubuhnya, memberikan kesan bahwa ia tidak terbuat dari daging dan darah manusia, melainkan dari logam kuno yang tak bisa dihancurkan.

Di sekeliling kakinya, tergeletak belasan bangkai Serigala Lapis Besi. Ini adalah kelompok binatang buas tingkat dua yang terkenal dengan kulit mereka yang sekeras pelat baja dan kerja sama tim yang mematikan. Tiga minggu yang lalu, menghadapi satu ekor Serigala Lapis Besi saja akan membuat Lin Tian kesulitan, apalagi harus menghadapi kawanan berjumlah lima belas ekor sekaligus tanpa menggunakan senjata apa pun.

Namun hari ini, ia telah membantai mereka semua hanya dengan menggunakan kedua tangan kosongnya.

Lin Tian berjongkok di samping bangkai serigala terbesar—sang raja kawanan atau serigala alfa. Kepala serigala itu hancur berantakan, tengkoraknya yang konon bisa menahan tebasan pedang baja berkualitas tinggi telah diremukkan oleh satu pukulan telak dari kepalan tangan Lin Tian. Dengan wajah tanpa ekspresi, pemuda itu menusukkan jari-jarinya yang kini sekuat cakar naga ke dalam dada serigala alfa tersebut, merobek daging dan tulang rusuknya, lalu menarik keluar sebuah Inti Monster berwarna abu-abu pekat yang masih berdenyut memancarkan energi.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Lin Tian duduk bersila di tengah genangan darah. Ia mengeluarkan empat belas Inti Monster lainnya yang telah ia kumpulkan dari serigala-serigala bawahannya, meletakkannya dalam formasi melingkar di sekeliling tubuhnya. Ia menutup matanya, menenangkan deru napasnya, dan mulai mengaktifkan Seni Kaisar Naga Surgawi.

Seketika, Mutiara Naga Emas di dalam Dantiannya berputar dengan kecepatan yang mengerikan, menghasilkan suara dengungan purba yang menggetarkan tulang. Daya hisap yang sangat brutal dan mendominasi meledak dari tubuh Lin Tian. Kelima belas Inti Monster Serigala Lapis Besi itu bergetar hebat, lalu secara bersamaan melepaskan aliran energi buas yang menyerupai kabut abu-abu.

Kapasitas penyerapan kultivator biasa memiliki batas yang sangat ketat; menyerap satu inti monster tingkat rendah saja membutuhkan waktu berhari-hari meditasi mendalam untuk menetralisir racun dan niat membunuh di dalamnya. Namun Lin Tian menyedot kelima belas energi beringas itu sekaligus layaknya seekor paus raksasa yang menelan lautan.

Energi abu-abu itu menabrak masuk ke dalam meridian emasnya bagaikan sekawanan kuda liar yang mengamuk. Rasa sakit yang merobek-robek segera menjalar ke seluruh sarafnya, namun wajah Lin Tian hanya berkedut pelan. Selama dua puluh hari terakhir, ia telah menelan ratusan Inti Monster. Ia telah terbiasa dengan rasa sakit dari energi liar yang mengoyak tubuhnya, karena ia tahu, tepat di detik berikutnya, Qi Naga Surgawi akan bangkit dan melahap energi-energi pemberontak itu tanpa ampun.

Benar saja, pendaran emas menyala dari dalam perutnya. Qi naga yang agung menyapu meridiannya, memurnikan energi buas dari serigala-serigala itu menjadi Qi alam murni yang sangat padat. Energi murni ini kemudian dipompa ke otot, tulang, dan organ dalamnya, terus-menerus memperkuat Tubuh Sisik Naga Tembaga miliknya.

Suara letupan tumpul bergema dari dalam dada Lin Tian.

Satu jam kemudian, ia membuka matanya. Sebuah gelombang kejut energi tak kasatmata meledak dari tubuhnya, meniup dedaunan kering dan darah di sekitarnya sejauh beberapa meter.

“Alam Penempaan Tubuh Tingkat Kedelapan,” gumam Lin Tian, suaranya serak namun dipenuhi dengan kepuasan yang mendalam. Ia mengepalkan tinjunya, merasakan kekuatan ledakan yang bersembunyi di setiap inci serat ototnya.

Dalam dua puluh hari, ia tidak hanya merebut kembali kultivasinya yang hilang, tetapi ia juga telah mencapai Tingkat Kedelapan dengan fondasi yang tak terbayangkan kokohnya. Kekuatan fisiknya saat ini berada pada tingkat yang tidak masuk akal. Jika ia harus berhadapan dengan Lin Feng yang berada di Tingkat Kesembilan saat ini, Lin Tian yakin ia bisa menghancurkan kepala sepupunya itu menjadi bubur hanya dengan setengah kekuatan dari satu pukulan.

Namun, Lin Tian segera mengerutkan keningnya. Ia menatap sisa-sisa abu putih dari Inti Monster di sekelilingnya yang telah kehabisan energi.

“Kecepatan peningkatanku mulai melambat secara drastis,” pikirnya. “Di awal, satu Inti Monster tingkat pertama cukup untuk mendorongku menembus Tingkat Kedua. Namun sekarang, lima belas Inti Monster tingkat dua bahkan hampir tidak cukup untuk membantuku menembus Tingkat Kedelapan. Seni Kaisar Naga Surgawi adalah jurang tanpa dasar. Ia membutuhkan kualitas energi yang eksponensial untuk setiap peningkatannya.”

Turnamen Bela Diri Antar Klan di Kota Daun Musim Gugur tinggal sepuluh hari lagi. Lin Tian menatap ke arah pusat Hutan Kematian, tempat di mana pepohonan tampak lebih gelap, lebih purba, dan diselimuti oleh kabut tebal yang tidak pernah pudar. Area luar dan menengah dari hutan ini sudah tidak lagi memberikan tantangan baginya. Binatang buas tingkat satu dan dua tidak memiliki jumlah energi yang cukup pekat untuk membantunya menembus penghalang menuju Tingkat Kesembilan—tingkat puncak dari Alam Penempaan Tubuh.

“Untuk mencapai puncak sebelum turnamen dimulai, aku butuh mangsa yang lebih besar. Aku harus memasuki Area Dalam,” gumamnya dengan nada final.

Area Dalam dari Hutan Kematian adalah zona terlarang absolut. Di sana bersemayam binatang buas demonic tingkat tiga dan bahkan tingkat empat, eksistensi yang kekuatannya setara dengan pakar manusia di Alam Bumi dan Alam Langit. Bagi seorang kultivator Alam Penempaan Tubuh seperti Lin Tian, masuk ke sana sama saja dengan menyetor nyawa kepada dewa kematian secara sukarela.

Namun, mata Lin Tian tidak memancarkan ketakutan sedikit pun. Kematian telah menyapanya belasan kali selama tiga minggu terakhir. Ia telah belajar bahwa potensi terbesar seorang manusia hanya akan meledak ketika ia berdiri tepat di ujung jurang keputusasaan. Dengan pedang tulang berukuran besar yang ia raut dari tulang paha beruang iblis yang ia bunuh beberapa hari lalu, Lin Tian melangkah mantap menembus batas menuju kegelapan Area Dalam.

Setelah berjalan selama hampir setengah hari menembus rimbunnya vegetasi yang semakin mengerikan dan beracun, Lin Tian mulai merasakan perubahan yang drastis pada lingkungan sekitarnya.

Udara yang sebelumnya lembap dan berbau busuk perlahan-lahan berubah menjadi luar biasa dingin. Hawa dingin ini bukan sekadar penurunan suhu biasa, melainkan dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang, membawa energi Yin yang sangat ekstrem. Udara yang ia hembuskan seketika berubah menjadi kabut putih yang tebal. Saat ia melangkah lebih jauh, ia melihat pemandangan yang sama sekali tidak masuk akal di tengah hutan tropis beriklim panas ini: embun beku menutupi dedaunan, batang pohon, dan bebatuan. Area seluas puluhan mil di sekitarnya seolah-olah telah disihir menjadi neraka es abadi.

Langkah Lin Tian melambat. Insting bertarungnya yang tajam memperingatkannya akan bahaya mematikan yang bersembunyi di depan. Mutiara Naga di dalam Dantiannya mulai berdenyut pelan, melepaskan aliran Qi hangat untuk melawan hawa dingin ekstrem yang mencoba membekukan darahnya.

BOOOM!

Tiba-tiba, sebuah ledakan dahsyat yang memekakkan telinga mengguncang bumi di bawah kakinya. Gelombang kejut yang membawa pecahan es setajam pedang dan hembusan api yang menghanguskan menyapu menembus hutan, menumbangkan pepohonan raksasa berusia ratusan tahun bagaikan ranting-ranting rapuh. Lin Tian dengan sigap melompat ke balik sebuah batu karang hitam berukuran besar, menancapkan pedang tulangnya ke tanah untuk menahan tubuhnya agar tidak terhempas oleh badai tenaga dalam yang mengerikan tersebut.

“Fluktuasi energi macam apa ini?!” mata Lin Tian membelalak lebar. Tekanan spiritual yang dibawa oleh angin tersebut begitu berat hingga membuat dada Lin Tian terasa sesak, seolah-olah sebuah gunung batu raksasa baru saja dijatuhkan ke atas bahunya. Ini jelas bukan pertarungan tingkat rendah. Ini adalah bentrokan antara entitas di Alam Langit, atau bahkan lebih tinggi!

Alih-alih melarikan diri menjauh seperti yang akan dilakukan oleh orang waras mana pun, rasa ingin tahu dan insting predator Lin Tian justru mendorongnya untuk mendekat. Menekan auranya hingga ke titik nol mutlak dengan bantuan kendali presisi dari Mutiara Naga, ia merayap tanpa suara dari satu batu ke batu lainnya, bergerak menuju pusat ledakan.

Ketika ia akhirnya mengintip dari balik semak beku di tepi sebuah kawah raksasa yang baru saja terbentuk akibat benturan energi, pemandangan yang tersaji di depan matanya membuat napasnya tertahan.

Di tengah kawah yang separuhnya hangus terbakar oleh magma dan separuhnya lagi membeku oleh gletser es biru, seekor monster purba meliuk-liuk dengan murka. Itu adalah Ular Piton Kembar Es-Api Bermahkota, seekor binatang buas demonic tingkat empat puncak yang melegenda. Panjang tubuhnya melebihi tiga puluh meter, dengan sisik yang memancarkan kilau merah darah di sisi kanan dan biru safir di sisi kiri. Dua kepalanya yang menakutkan mendesis marah; satu kepala menyemburkan lautan api yang bisa melelehkan baja, sementara kepala lainnya memuntahkan badai salju mematikan yang membekukan udara di sekitarnya.

Namun, yang membuat mata Lin Tian benar-benar terpaku bukanlah monster raksasa itu, melainkan sosok mungil yang melayang di udara, bertarung seimbang melawannya.

Itu adalah seorang wanita muda, mungkin usianya hanya satu atau dua tahun lebih tua dari Lin Tian. Ia mengenakan gaun putih sebersih salju yang berkibar anggun tertiup badai energi. Rambut hitam panjangnya yang sehalus sutra tergerai melampaui pinggangnya, kontras dengan kulitnya yang sangat pucat namun memancarkan kecantikan yang tidak tertandingi oleh manusia fana mana pun. Wajahnya bagaikan pahatan batu giok yang diturunkan dari surga—sempurna, tanpa cela, anggun, namun memiliki ekspresi yang luar biasa dingin, sedingin es abadi yang menyelimuti area ini.

Di tangannya, ia menggenggam sebilah pedang ramping berwarna biru es kristal. Setiap kali ia mengayunkan pedangnya, udara di sekitarnya membeku menjadi kelopak-kelopak bunga teratai es yang indah namun mematikan, yang melesat bagaikan badai meteor untuk menangkis semburan api dan es dari Ular Piton raksasa tersebut.

“Bela diri macam apa itu… Ia memanipulasi elemen murni dan melayang di udara tanpa sandaran. Itu adalah ciri khas yang tak terbantahkan dari ahli bela diri Alam Langit!” batin Lin Tian, terkesima oleh keindahan mematikan dan kekuatan absolut yang ditunjukkan oleh wanita itu. Jika Zhao Meng’er yang berada di Alam Pembentukan Qi dianggap jenius di kotanya, maka wanita bergaun putih ini adalah dewi yang turun dari langit kesembilan. Jarak kekuatan antara wanita ini dan Lin Tian saat ini seperti jurang antara semut dan naga sejati.

Pertarungan di depan matanya berlangsung dengan sangat cepat dan merusak. Hutan di sekitar mereka telah rata dengan tanah, berubah menjadi medan perang apokaliptik yang dipenuhi kawah es dan pilar api. Ular Piton raksasa itu mengaum frustrasi; tubuhnya telah dipenuhi oleh luka sayatan pedang yang membeku, membuat pergerakannya semakin lambat.

Wanita bergaun putih itu melihat celah. Mata birunya yang dingin memancarkan kilat mematikan. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke langit. Energi Yin yang luar biasa masif berkumpul di mata pedangnya, menciptakan ilusi sebuah teratai es raksasa berukuran puluhan meter yang mekar di udara di atas kawah.

“Seni Pedang Teratai Suci: Teratai Mekar Pembeku Surga!”

Suara wanita itu terdengar untuk pertama kalinya. Suaranya sangat merdu dan jernih seperti denting kristal yang beradu, namun nadanya sedingin angin musim dingin yang membunuh. Ia mengayunkan pedangnya ke bawah, dan teratai es raksasa itu meluncur turun bagaikan komet putih, mengincar tepat di titik kelemahan di antara persimpangan kedua leher ular piton tersebut.

Ular Piton Kembar itu merasakan ancaman kematian yang mutlak. Kedua kepalanya mengaum secara bersamaan, menembakkan pilar api dan badai es dengan kekuatan penuh untuk menahan jatuhnya teratai es mematikan tersebut.

Benturan kedua kekuatan tingkat puncak itu tak terhindarkan.

CRAAASHHH!

Suara robekan energi bergema. Teratai es milik wanita itu terlalu kuat; aura dinginnya yang ekstrem membelah serangan gabungan ular piton tersebut, terus meluncur ke bawah dan memotong sisik keras sang monster. Pedang ilusi raksasa itu menembus daging dan berhenti hanya beberapa inci dari menghancurkan organ vital jantung ular tersebut. Ular piton itu menjerit menyayat hati, tubuh raksasanya menghantam tanah dengan keras, menggeliat dalam genangan darahnya sendiri yang seketika membeku.

Kemenangan tampaknya telah berada di tangan wanita bergaun putih tersebut. Ia melayang turun, berniat untuk memberikan serangan penyelesaian terakhir untuk membelah tengkorak binatang buas itu dan mengambil Inti Monsternya.

Namun, tepat pada saat kakinya hendak menyentuh permukaan tanah yang membeku, sebuah anomali mengerikan terjadi.

Tubuh wanita itu tiba-tiba tersentak hebat, seolah disambar petir yang tak kasatmata. Pedang es di tangannya terlepas dan jatuh bergemerincing ke bebatuan. Ia memegang dadanya dengan kedua tangan, wajahnya yang seputih giok kini berubah biru pucat yang mengerikan. Urat-urat halus berwarna biru es tiba-tiba menonjol di leher dan pipinya, seakan-akan ada racun es yang meledak dari dalam tubuhnya sendiri.

“Ugh… tidak… jangan sekarang… Rantai Es Absolut…” ia mengerang tertahan. Darah segar berwarna merah gelap yang langsung membeku saat bersentuhan dengan udara menyembur dari mulutnya yang mungil. Auranya yang luar biasa kuat dan mendominasi di Alam Langit tiba-tiba runtuh seketika, mengempis bagaikan balon yang tertusuk jarum, jatuh ke titik nadir di mana ia bahkan tampak lebih lemah dari manusia biasa.

Ia ambruk berlutut di atas salju, gemetar hebat, memeluk tubuhnya sendiri saat hawa dingin dari dalam dirinya berbalik menyerang dan membekukan sirkulasi darah serta meridiannya sendiri. Kutukan yang selama ini ia tekan dengan kultivasinya, telah bereaksi terhadap penggunaan energi Yin yang berlebihan dalam pertarungan tadi, memicu serangan balik yang mematikan.

Di seberang kawah, Ular Piton Kembar Es-Api yang setengah mati menyadari perubahan mendadak pada auranya. Binatang buas tingkat tinggi memiliki kecerdasan yang hampir menyamai manusia. Menyadari musuh bebuyutannya tiba-tiba kehilangan seluruh kekuatannya, mata merah monster itu menyala dengan kebencian dan kebuasan yang membara.

Mengabaikan luka fatal di lehernya, ular piton itu mengerahkan sisa energi kehidupan terakhirnya. Dengan kecepatan yang sangat mengejutkan untuk tubuh sebesar itu, ia meluncur ke depan, membuka rahangnya yang dipenuhi taring beracun selebar mungkin, berniat untuk menelan bulat-bulat wanita rapuh yang kini tak berdaya itu.

Wanita bergaun putih itu mendongak, melihat rahang kematian berbau busuk yang turun ke arahnya. Ia mencoba memanggil sisa-sisa Qi-nya, namun meridiannya telah sepenuhnya terkunci oleh es biru. Mata indahnya memancarkan sedikit keputusasaan, sebuah kepasrahan yang pahit. “Apakah perjalananku berakhir di sini… mati di mulut binatang kotor…” batinnya dengan getir. Ia perlahan menutup matanya, bersiap menerima kematian yang tak terhindarkan.

Dari tempat persembunyiannya, jantung Lin Tian berdegup kencang bak genderang perang. Logika dan akal sehat di dalam kepalanya menjerit menyuruhnya untuk diam. Jarak kekuatannya dengan ular raksasa itu terlampau jauh. Sekalipun ular itu sedang sekarat, sisa tenaganya sudah cukup untuk meremas tubuh Lin Tian menjadi pasta darah hanya dengan satu sabetan ekor. Maju ke depan sama saja dengan bunuh diri. Mengorbankan nyawa demi orang asing yang baru ia lihat adalah kebodohan mutlak di dunia persilatan.

Namun, di dalam Dantiannya, Mutiara Naga Surgawi bereaksi dengan sangat kasar. Mutiara itu bergetar hebat, memancarkan resonansi yang gila terhadap energi es misterius yang dipancarkan oleh wanita tersebut, seolah-olah mutiara itu menemukan bagian yang hilang dari dirinya, atau sebuah harta karun yang mutlak harus dilindungi. Di saat yang sama, hati Lin Tian, yang telah mendingin setelah dikhianati, melihat bayangan seorang gadis yang bertarung sendirian, dihancurkan oleh tubuhnya sendiri—sebuah keputusasaan tak berdaya yang mengingatkannya pada malam di mana Dantiannya dihancurkan di bawah guyuran hujan.

“Persetan dengan akal sehat!” kutuk Lin Tian dalam hati. Matanya memerah, kilatan emas meledak dari pupilnya. Ia tidak akan berdiri diam menonton kelemahan dihancurkan di depannya lagi. Terlebih lagi, Inti Monster tingkat empat yang sekarat itu terlalu berharga untuk dilewatkan.

Tepat sebelum taring ular piton itu menembus gaun putih sang wanita, bumi di bawah kaki Lin Tian meledak. Ia menggunakan seluruh Qi Naga Surgawi di tubuhnya ke otot kakinya. Tubuhnya melesat maju menembus kawah bagaikan anak panah emas yang ditembakkan dari busur raksasa.

“HEAAAARRGH!”

Raungan Lin Tian menggema, memecah kesunyian mematikan di arena itu. Wanita bergaun putih membuka matanya karena terkejut. Di sisa pandangannya yang mengabur, ia melihat sosok pemuda setengah telanjang yang berlumuran darah dan luka, melesat menembus udara dingin dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk kultivator Alam Penempaan Tubuh.

Lin Tian tidak mengarahkan serangannya untuk menahan rahang raksasa itu—itu mustahil. Dengan perhitungan taktis yang setajam silet yang telah ia asah selama berminggu-minggu, ia membidik satu-satunya titik kelemahan absolut monster tersebut: luka menganga di antara kedua leher ular itu, tempat pedang teratai es milik wanita tadi telah merobek sisik dan mengekspos dagingnya yang lunak.

Saat melesat di udara, Lin Tian memusatkan seluruh Qi Naga Surgawi ke tangan kanannya yang menggenggam pedang tulang beruang. Pedang tulang yang kasar itu memancarkan pendaran cahaya emas yang menyilaukan, membawa aura penindasan naga purba yang agung.

Ular Piton Kembar itu merasakan aura naga surgawi tersebut. Darah binatang buasnya yang secara alami tunduk pada penguasa rantai makanan langsung membeku karena teror instingtual. Untuk sepersekian detik yang sangat fatal, pergerakan ular raksasa itu terhenti, rahangnya tertahan di udara.

Sepersekian detik itu adalah batas antara hidup dan mati.

Lin Tian menghantamkan pedang tulangnya dengan kekuatan penuh layaknya sebuah komet emas yang jatuh dari langit, menusuk lurus ke dalam luka menganga di leher ular piton tersebut, mendorong tulangnya dalam-dalam hingga menembus jantung monster itu yang berdetak lemah.

CRAAAAK!

Pedang tulang raksasa itu hancur berkeping-keping karena benturan, namun momentum ledakan dari tinju Lin Tian yang dilapisi Tubuh Sisik Naga Tembaga menghantam langsung ke dalam organ dalam sang monster. Sisa energi es mematikan yang ditinggalkan oleh wanita tadi di sekitar luka tersebut langsung meledak hebat akibat benturan dari Lin Tian, menghancurkan jantung ular itu menjadi debu es dalam seketika.

Ular Piton Kembar Es-Api Bermahkota menggelepar hebat, memuntahkan darah hitam beracun dalam jumlah besar sebelum akhirnya ambruk ke tanah dengan dentuman keras, mati sepenuhnya.

Tubuh Lin Tian terlempar ke belakang akibat gaya tolak dari serangannya sendiri. Ia berguling beberapa meter di atas tanah bersalju, merasakan lengan kanannya mati rasa dan tulang-tulangnya berderit memprotes. Ia memaksa dirinya berlutut, terengah-engah menghirup udara dingin, menatap bangkai raksasa di depannya dengan senyum sinis yang puas. Berjudi dengan nyawa, dan ia menang.

Ketika napasnya mulai teratur, ia mengalihkan pandangannya. Beberapa meter di dekat kepala bangkai ular tersebut, wanita bergaun putih itu terbaring miring di atas salju. Wajahnya semakin pucat pasi, bibirnya membiru, dan kelopak matanya tertutup rapat. Napasnya sangat lemah, seolah-olah helaian benang kehidupannya bisa putus kapan saja ditiup angin. Es biru yang mengerikan mulai merambat dari dadanya, perlahan membekukan leher dan pakaiannya.

Lin Tian bangkit dengan susah payah dan berjalan mendekatinya. Semakin ia dekat, hawa dingin yang memancar dari tubuh wanita itu terasa semakin mematikan, membuat insting bertahannya menjerit-jerit. Namun Mutiara Naga di dalam Dantiannya justru berputar semakin liar, memancarkan gelombang kehangatan yang mendambakan kontak dengan es yang mematikan tersebut.

Ia berlutut di samping wanita yang tak sadarkan diri itu. Melihat wajahnya dari dekat, bahkan Lin Tian yang berhati dingin pun tanpa sadar tertegun sejenak oleh kecantikannya yang di luar batas nalar manusia. Namun, ini bukan waktunya untuk mengagumi keindahan. Jika ia membiarkan es biru itu terus merambat naik ke kepalanya, wanita dengan kekuatan dewa ini akan benar-benar membeku menjadi patung es abadi.

Tanpa ragu, Lin Tian mengulurkan tangannya yang kasar dan masih berlumuran darah macan tutul dan serigala, lalu menempelkannya ke bahu ramping wanita itu. Mutiara Naga Surgawi bereaksi. Cahaya emas meledak dari telapak tangan Lin Tian, mengalir perlahan ke dalam tubuh dingin yang perlahan mulai mati di bawah tangannya, mencoba melawan kutukan es absolut yang mengancam menelan mereka berdua.