Bab 6: Lonceng Kematian di Panggung Kehormatan
Suara dentuman keras menggema saat kaki Lin Tian menghantam bumi, menciptakan kawah kecil di dasar tebing. Tanah dan bebatuan di sekitarnya retak, menyebarkan debu ke udara. Ia mendarat dari ketinggian ratusan kaki tanpa menggunakan teknik meringankan tubuh sedikit pun, murni mengandalkan ketahanan Tubuh Sisik Naga Tembaga miliknya. Fisiknya kini benar-benar melampaui batas fana, sekeras baja ilahi yang tak tertembus.
Bai Xue mendarat dengan anggun tak jauh di belakangnya, ujung jari kakinya menyentuh tanah seringan kepakan sayap kupu-kupu. Di balik cadar putihnya, sepasang mata biru Saintess itu berkilat penuh minat. Ia bisa merasakan niat membunuh yang begitu pekat memancar dari tubuh Lin Tian, sebuah aura sedingin es yang bahkan membuat udara di sekeliling pemuda itu beriak. Ini bukanlah kemarahan yang meledak-ledak dan buta, melainkan kebencian murni yang telah mengendap, mengeras, dan diasah menjadi bilah pisau yang siap mengiris leher musuh-musuhnya.
“Ayo,” ucap Lin Tian singkat. Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah maju menuju gerbang utama Kota Daun Musim Gugur.
Di depan gerbang batu bata abu-abu yang menjulang tinggi, penjagaan hari ini diperketat dua kali lipat. Perayaan Turnamen Bela Diri Antar Klan menarik ribuan pengunjung dari kota-kota satelit di sekitarnya. Namun, bagi dua penjaga klan yang bertugas di sisi kanan gerbang—dua pria berseragam abu-abu dengan lambang daun musim gugur di dada mereka—hari ini seharusnya menjadi hari yang mudah dan penuh tawa. Mereka sedang bersandar santai di tombak mereka, menghitung koin tembaga hasil suap dari para pedagang yang ingin masuk lebih cepat.
Dua penjaga ini adalah orang yang sama. Orang yang sebulan lalu menyeret tubuh Lin Tian yang sekarat menembus hujan badai, melemparkannya ke dalam jurang berduri di Hutan Kematian, dan meludahinya sebelum pergi.
Tiba-tiba, tawa salah satu penjaga terhenti. Matanya menangkap sesosok bayangan yang berjalan mendekat dari arah jalan setapak yang menghubungkan kota dengan pinggiran Hutan Kematian. Langkah sosok itu tidak cepat, namun setiap pijakannya terasa menggetarkan tanah di bawah kaki mereka.
Pemuda bertelanjang dada itu memiliki rambut hitam yang diikat ke belakang, memamerkan tubuh berotot yang dipenuhi bekas luka liar. Namun, bukan penampilannya yang membuat darah sang penjaga membeku, melainkan wajahnya. Wajah yang sangat familier. Wajah mantan Tuan Muda jenius yang seharusnya sudah menjadi tumpukan tulang belulang di perut binatang buas.
“T-Tunggu… K-Kau melihatnya?” penjaga pertama tergagap, wajahnya pucat pasi, telunjuknya gemetar menunjuk ke arah sosok yang semakin dekat.
Penjaga kedua menoleh dengan malas, “Melihat apa? Orang gila dari hutan—” Kata-katanya tercekat di tenggorokan. Matanya melotot seolah hendak keluar dari rongganya. Tombak di tangannya jatuh bergemerincing ke tanah berbatu. “L-Lin Tian?! Tuan Muda Lin Tian?! Tidak mungkin! Ini pasti hantu! Hantu yang kembali untuk membalas dendam!”
Kepanikan menyergap mereka berdua. Insting mereka menjerit untuk melarikan diri, namun kaki mereka terasa seperti dipaku ke tanah saat sepasang mata bersinar emas yang sangat menakutkan mengunci pandangan mereka. Tekanan spiritual dari kultivator Alam Penempaan Tubuh Tingkat Kesembilan puncak yang telah membantai ratusan binatang buas tingkat tinggi langsung menghancurkan mental kedua penjaga tingkat rendah tersebut.
Lin Tian berhenti tepat lima langkah di depan mereka. Ia tidak mengeluarkan senjata. Ia bahkan tidak repot-repot mengangkat tangannya. Ia hanya menatap mereka dengan kekosongan yang membekukan jiwa.
“Kalian mengingatku,” suara Lin Tian terdengar parau dan dalam, membawa gema dari neraka. “Malam itu, kalian berharap aku beruntung di akhirat. Sayangnya, dewa kematian menolak menerimaku.”
“T-Tuan Muda… a-ampuni kami! Kami hanya menjalankan p-perintah Tuan Muda Lin Feng! Kami tidak punya pilihan!” Penjaga pertama jatuh berlutut, air mata dan ingus bercampur di wajahnya, membenturkan kepalanya ke tanah dengan putus asa. Penjaga kedua langsung mengikuti, meratap dan memohon belas kasihan hingga celananya basah oleh air kencingnya sendiri.
Melihat dua serangga yang memohon nyawa di depannya, Lin Tian hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sama sekali tidak mencapai matanya.
“Aku tidak butuh nyawa kalian yang murah. Kalian bahkan tidak layak mengotori tanganku,” ucap Lin Tian dingin. Tiba-tiba, ia melepaskan secercah kecil Qi Naga Surgawi dan menghentakkan kaki kanannya ke tanah.
BUMMM!
Gelombang kejut yang kasat mata meledak dari titik pijakannya, menyapu tanah bagaikan badai. Gelombang itu menghantam dada kedua penjaga tersebut dengan kekuatan brutal. Terdengar suara tulang rusuk yang patah serentak. Keduanya terlempar ke belakang sejauh sepuluh meter, menabrak tembok kota hingga memuntahkan darah segar sebelum jatuh pingsan, meridian mereka hancur total akibat benturan energi itu. Mereka tidak mati, namun seumur hidup mereka akan lumpuh, merasakan penderitaan yang sama persis dengan yang mereka tertawakan sebulan lalu.
Tanpa menoleh sedikit pun pada tubuh yang tergeletak di tanah, Lin Tian melangkah melewati gerbang. Para penjaga lain dan penduduk yang mengantre membeku dalam ketakutan, tidak berani bernapas, apalagi menghalangi jalan pemuda yang memancarkan aura iblis tersebut. Bai Xue mengikuti di belakangnya dengan langkah tenang, menatap punggung Lin Tian. Pemuda ini kejam, namun memiliki prinsipnya sendiri. Ia membalas setiap hutang dengan takaran yang pas.
Sementara itu, di pusat Kota Daun Musim Gugur, suasana di Alun-Alun Giok sangat bertolak belakang. Sorak-sorai ribuan penonton menggemuruh hingga menggetarkan awan di langit. Di tengah alun-alun, sebuah arena pertarungan raksasa yang terbuat dari batu granit putih berdiri dengan kokoh.
Di sisi utara arena, sebuah tribun kehormatan yang megah didirikan, dilindungi oleh kanopi sutra emas. Di sanalah para penguasa sejati kota ini dan tamu agung mereka duduk. Tuan Kota duduk di tengah, didampingi oleh para tetua utama dari tiga klan terkuat: Klan Lin, Klan Zhao, dan Klan Wang.
Namun, yang menjadi pusat perhatian sejati di tribun tersebut bukanlah Tuan Kota, melainkan seorang pria tua berjubah abu-abu dengan lambang awan menembus pedang di dadanya. Ia adalah Penatua Mo, utusan resmi dari Sekte Pedang Awan. Di dunia fana ini, seorang penatua sekte luar dari Empat Sekte Lurus memiliki otoritas yang bahkan membuat Tuan Kota harus menunduk hormat.
Duduk dengan sangat anggun di sebelah Penatua Mo adalah Zhao Meng’er. Wanita yang pernah menghancurkan Dantian Lin Tian itu kini terlihat lebih cantik dan bersinar dari sebelumnya. Ia mengenakan gaun sutra putih dengan motif awan biru, seragam kebanggaan murid Sekte Pedang Awan. Wajah cantiknya memancarkan arogansi yang dingin dan senyum tipis yang penuh kemenangan. Ia menikmati setiap tatapan kagum dan iri dari puluhan ribu pasang mata di bawah sana. Baginya, Kota Daun Musim Gugur kini hanyalah masa lalu yang sempit; ia adalah burung phoenix yang telah menemukan pijakannya di langit yang lebih tinggi.
“Kau benar-benar tidak mengecewakan, Meng’er,” puji Penatua Mo sambil mengelus jenggot putihnya. Matanya menatap ke arah arena di bawah. “Bakat bawaanmu murni, dan dengan bantuan Qi bawaan tambahan yang kau serap bulan lalu, fondasimu untuk menembus Alam Pembentukan Qi telah sempurna. Setelah turnamen ini selesai, kau akan langsung ikut denganku ke sekte.”
“Ini semua berkat bimbingan Penatua Mo yang bijaksana,” jawab Zhao Meng’er dengan suara lembut yang dibuat-buat, menundukkan kepalanya dengan hormat. Di dalam hatinya, ia tertawa puas. Mengorbankan nyawa seekor anjing peliharaan bernama Lin Tian untuk mendapatkan posisi ini adalah keputusan paling cemerlang yang pernah ia buat seumur hidupnya.
Di sebelah mereka, Tetua Pertama Klan Lin, Lin Zhan—ayah dari Lin Feng—tertawa lebar hingga memperlihatkan giginya. “Penatua Mo terlalu memuji. Klan Zhao dan Klan Lin kami akan selalu menjadi pelayan setia Sekte Pedang Awan. Dan berbicara soal bakat, putraku Lin Feng juga tidak akan mengecewakan Penatua hari ini.”
Di atas arena granit, seorang pemuda berjubah ungu mewah sedang berdiri dengan dada membusung. Itu adalah Lin Feng. Di bawah kakinya, seorang jenius dari Klan Wang terbaring mengerang kesakitan, hidungnya patah dan giginya rontok akibat pukulan telak yang baru saja ia terima.
“Apakah ini kemampuan terbaik dari Klan Wang?!” Lin Feng berteriak lantang ke arah penonton, merentangkan kedua tangannya untuk menyerap sorak-sorai dari anggota Klan Lin. Wajahnya merah karena euforia kemenangan. “Kalian menyebut dia jenius? Di depanku, Lin Feng, dia hanyalah sampah!”
Lin Feng menginjak dada pemuda Klan Wang itu, memaksa lawannya memuntahkan seteguk darah lagi. “Dengar baik-baik, seluruh Kota Daun Musim Gugur! Mulai hari ini, hanya ada satu jenius mutlak di Klan Lin, dan itu adalah aku! Masa lalu di mana kalian memuja si cacat Lin Tian telah berakhir! Klan Lin tidak membutuhkan sampah yang mati mengenaskan di hutan untuk menjadi nomor satu!”
Mendengar nama Lin Tian disebut, beberapa penonton yang dulu mengagumi pemuda itu hanya bisa menundukkan kepala dan menghela napas panjang. Realitas dunia persilatan memang kejam. Pemenang menjadi raja, yang kalah menjadi abu. Tidak peduli seberapa brilian Lin Tian di masa lalu, hari ini ia hanyalah sebuah nama yang digunakan sebagai batu pijakan untuk meninggikan reputasi Lin Feng.
Di tribun kehormatan, Zhao Meng’er mendengus pelan mendengar nama itu. Lin Tian yang malang, batinnya sinis. Bahkan setelah mati, namamu masih berguna untuk membersihkan jalan bagi mereka yang lebih kuat. Itulah satu-satunya nilaimu.
Lin Feng menendang lawannya keluar dari arena, lalu membusungkan dadanya menantang para petarung lain. “Siapa lagi?! Apakah ada yang berani naik ke arena ini dan menantang Tuan Muda Klan Lin?! Jika tidak ada, maka kuota murid sekte tahun ini adalah milikku!”
Suasana menjadi hening sejenak. Lin Feng memang berada di puncak Alam Penempaan Tubuh Tingkat Kesembilan. Ditambah dengan sumber daya klan yang dialihkan kepadanya selama sebulan terakhir, kekuatannya memang sulit ditandingi oleh pemuda seusianya di kota ini.
Tepat ketika wasit turnamen mengangkat tangannya untuk mengumumkan kemenangan Lin Feng, sebuah suara langkah kaki yang sangat berat terdengar dari arah pintu masuk utama alun-alun.
TAP… TAP… TAP…
Suara itu tidak keras, namun entah bagaimana, setiap langkahnya selaras dengan detak jantung puluhan ribu orang di tempat itu. Hawa dingin yang luar biasa mengerikan tiba-tiba menyapu alun-alun, menurunkan suhu udara secara drastis dalam sekejap. Sinar matahari siang yang terik seolah kehilangan kehangatannya. Burung-burung yang terbang di atas arena jatuh bergelimpangan ke tanah, mati karena tekanan aura pembunuh yang tak kasatmata.
Kerumunan penonton yang padat tiba-tiba terbelah dengan sendirinya. Orang-orang saling dorong, mundur dengan wajah pucat pasi dan mata membelalak ketakutan, membuka sebuah jalan lebar lurus menuju arena pertarungan. Mereka merasa seolah-olah sebuah monster purba berwujud manusia baru saja merangkak keluar dari kedalaman neraka dan melangkah ke tengah-tengah mereka.
Dari ujung jalan yang terbuka itu, muncullah sesosok pemuda.
Ia tidak mengenakan jubah sutra yang indah. Ia bertelanjang dada, kulitnya memancarkan warna tembaga gelap yang berkilau di bawah sinar matahari. Bekas-bekas luka cakaran binatang buas menghiasi dadanya bagaikan medali perang. Rambut hitamnya berkibar tertiup angin yang membawa bau anyir darah. Di pinggangnya, tersarung sebilah pedang yang terbuat dari tulang paha monster raksasa. Matanya… sepasang mata emas itu menatap lurus ke depan dengan ketenangan absolut yang membekukan jiwa.
Di belakangnya, seorang wanita bergaun putih dengan wajah tertutup cadar mengikuti dengan langkah tanpa suara, memancarkan aura misterius yang tak tersentuh.
Keheningan mutlak menyelimuti Alun-Alun Giok. Waktu seolah berhenti berdetak. Semua mata terpaku pada sosok pemuda buas tersebut. Butuh beberapa detik bagi otak mereka untuk mengenali wajah di balik aura monster itu. Dan ketika pengenalan itu terjadi, gelombang keterkejutan yang luar biasa meledak bagaikan letusan gunung berapi.
“I-Itu… tidak mungkin…” seorang tetua klan lain bergumam dengan bibir gemetar.
“Lin Tian?! Apakah itu Lin Tian?!”
“Mustahil! Meridiannya telah hancur! Dia dibuang ke Hutan Kematian sebulan yang lalu! Bagaimana mungkin dia masih hidup?!”
Kekacauan meledak di tribun kehormatan. Tuan Kota berdiri dari kursinya. Para tetua Klan Lin membelalakkan mata mereka seolah melihat hantu di siang bolong. Tetua Pertama Lin Zhan, yang beberapa detik lalu tertawa bangga, kini wajahnya membeku; cangkir teh porselen di tangannya terlepas dan hancur berkeping-keping di lantai pualam.
Di samping Penatua Mo, tubuh Zhao Meng’er tersentak hebat. Wajahnya yang arogan dan cantik seketika kehilangan seluruh warna darahnya, berubah menjadi seputih kertas. Tangannya mencengkeram erat sandaran kursinya hingga buku-buku jarinya memutih.
Tidak… Ini tidak mungkin! jerit Zhao Meng’er dalam hati, matanya menatap tak percaya pada sosok yang berjalan mendekat. Aku sendiri yang menghancurkan Dantiannya! Aku merasakan Qi bawaannya mengalir ke tanganku! Aku memutus sembilan meridiannya! Dia seharusnya tidak lebih dari seonggok daging lumpuh! Bagaimana mungkin dia tidak hanya hidup, tapi memiliki aura… menakutkan seperti ini?!
Penatua Mo menyipitkan matanya, merasakan ada sesuatu yang sangat tidak beres. “Meng’er, bukankah kau bilang pemuda itu telah tewas akibat penyakit mendadak?”
Zhao Meng’er tidak bisa menjawab. Tenggorokannya tercekat, seolah ada tangan tak kasatmata yang mencekiknya.
Di atas arena granit, Lin Feng mundur selangkah. Kakinya tiba-tiba terasa lemas. Penampilan Lin Tian saat ini tidak mencerminkan seseorang yang cacat; sebaliknya, aura penindasan yang dipancarkan sepupunya itu membuatnya merasa seperti seekor tikus yang sedang ditatap oleh naga sungguhan.
Namun, kesombongan dan gengsi Lin Feng sebagai “jenius nomor satu” mengalahkan rasa takut instingtualnya. Ia telah berlatih keras siang dan malam. Ia adalah puncak Tingkat Kesembilan! Ia tidak akan membiarkan hantu masa lalu menghancurkan momen kejayaannya!
“Lin Tian!” teriak Lin Feng dengan suara melengking, berusaha menyembunyikan getaran dalam nadanya. Ia menunjuk pemuda yang kini berdiri diam di bawah arena. “Dasar pengemis kotor! Kau berani menunjukkan wajah cacatmu di acara sakral ini?! Kau pikir berdandan seperti orang biadab akan menakutiku?! Penjaga! Tangkap pengkhianat klan ini dan patahkan kakinya!”
Tidak ada satu pun penjaga yang berani bergerak. Tekanan spiritual Lin Tian mengunci seluruh alun-alun, membuat para penjaga tingkat rendah bahkan tidak bisa mengangkat senjata mereka.
Lin Tian tidak memedulikan teriakan Lin Feng. Ia bahkan tidak menatap sepupunya itu. Sebaliknya, ia mengangkat kepalanya, mengarahkan pandangan emasnya yang membekukan langsung ke tribun kehormatan. Tatapannya melompati Tuan Kota, melompati pamannya Lin Zhan, dan berhenti tepat pada sosok wanita bergaun putih biru. Mata emas bertabrakan dengan mata yang dipenuhi kepanikan.
“Zhao Meng’er,” suara Lin Tian tidak keras, namun Qi Naga Surgawi di dalam suaranya membuatnya menggema di telinga setiap orang di alun-alun tersebut seolah-olah ia berbisik tepat di samping mereka. “Sebulan yang lalu, kau berkata bahwa aku hanyalah seekor katak di dasar sumur. Kau berkata bahwa menghancurkanku adalah hal yang pantas untuk ambisimu. Hari ini, aku kembali merangkak dari dasar sumur itu. Dan aku datang untuk menarikmu turun dari langit kepalsuanmu.”
Tubuh Zhao Meng’er bergetar hebat. Kata-kata itu menelanjangi rahasia kotornya di depan puluhan ribu orang. Penatua Mo segera menoleh padanya dengan kening berkerut tajam, mulai menyadari bahwa ada kebusukan yang disembunyikan oleh murid barunya ini.
Lin Zhan, yang tidak bisa menahan penghinaan terhadap klannya dan putranya lebih lama lagi, menggebrak meja hingga hancur. “Lin Tian, dasar anak durhaka! Kau berani memfitnah Nona Zhao dan mengacaukan turnamen?! Feng’er, eksekusi sampah itu sekarang juga! Bersihkan nama klan kita!”
Mendapatkan perintah langsung dari ayahnya, keberanian Lin Feng kembali meledak. Ia melihat bahwa tubuh Lin Tian sama sekali tidak memancarkan fluktuasi Qi yang wajar. Pemuda itu pasti menggunakan semacam trik ilusi atau artefak iblis untuk terlihat kuat!
“Mati kau, dasar cacat!” raung Lin Feng. Ia melompat dari arena setinggi dua meter, menerjang langsung ke arah Lin Tian bagaikan burung elang yang menukik mangsanya. Seluruh Qi di tubuhnya dikerahkan hingga batas maksimal. Kedua telapak tangannya memancarkan cahaya ungu yang menyilaukan, membawa kekuatan yang mampu menghancurkan batu karang.
“Telapak Angin Puyuh Penghancur Tulang!”
Itu adalah teknik bela diri tingkat menengah kebanggaan Klan Lin. Angin kencang berputar di sekitar telapak tangan Lin Feng, menciptakan tekanan mematikan yang diarahkan tepat ke tengkorak Lin Tian. Kerumunan penonton menahan napas, beberapa bahkan menutup mata mereka, tidak sanggup melihat kepala Lin Tian pecah berkeping-keping.
Namun, di mata Lin Tian yang telah terbiasa menghadapi serangan kilat dari binatang buas tingkat empat, pergerakan Lin Feng yang berada di puncak Tingkat Kesembilan itu terasa lambat, kaku, dan penuh dengan celah konyol.
Lin Tian tidak menghindar. Ia tidak mundur. Ia bahkan tidak menggunakan teknik bela diri apa pun. Ia hanya berdiri di sana dengan tenang, membiarkan serangan terkuat Lin Feng mendekati wajahnya.
Tepat saat telapak tangan ungu itu berjarak satu inci dari dahinya, Lin Tian mengangkat tangan kanannya dengan kecepatan yang melampaui batas pandangan manusia biasa.
BAM!
Suara benturan tumpul terdengar, namun bukan suara tengkorak yang hancur. Debu di sekitar mereka tersapu bersih oleh angin serangan Lin Feng. Ketika pandangan kembali jelas, pemandangan yang tersaji membuat seluruh alun-alun terjerumus ke dalam keheningan mutlak yang mencekik.
Tangan kanan Lin Tian yang berwarna tembaga dengan santai mencengkeram pergelangan tangan Lin Feng di udara. Telapak Angin Puyuh Penghancur Tulang yang dibanggakan itu terhenti seketika, seluruh energi ungunya lenyap ditelan kehampaan tanpa meninggalkan bekas goresan sedikit pun di telapak tangan Lin Tian.
Lin Feng tergantung di udara, wajahnya yang merah karena amarah kini berubah menjadi topeng horor absolut. Ia mencoba menarik tangannya, namun cengkeraman Lin Tian terasa seperti jepitan rahang naga baja yang tak tergoyahkan.
“T-Tidak mungkin…” Lin Feng tergagap, keringat dingin membanjiri wajahnya. “Aku berada di puncak Tingkat Kesembilan! Kekuatanku mencapai sembilan ribu jin! B-Bagaimana kau bisa menahannya hanya dengan… dengan…”
“Hanya dengan kekuatan fisik murni?” Lin Tian menyelesaikan kalimat sepupunya dengan nada mengejek. Matanya menatap wajah pucat Lin Feng dengan dingin. “Di mataku, puncak Tingkat Kesembilan milikmu tidak lebih bertenaga dari kepakan sayap lalat yang sedang sekarat.”
Tanpa memberi Lin Feng kesempatan untuk menjerit, jari-jari Lin Tian perlahan mengencang.
KREK!
Suara patahan tulang yang nyaring dan mengerikan memecah kesunyian.
“AARRRGGGHHH!” Jeritan melengking yang menyayat hati meledak dari tenggorokan Lin Feng. Pergelangan tangannya hancur total, tulang-tulangnya remuk menjadi serpihan kecil di bawah kekuatan Tubuh Sisik Naga Tembaga milik Lin Tian.
Namun Lin Tian belum selesai. Ini adalah panggung pembalasan, dan ia adalah sang algojo. Dengan gerakan kasar, ia menarik tubuh Lin Feng ke bawah dan mendaratkan tendangan lututnya langsung ke perut sepupunya tersebut.
BUMMM!
Tulang rusuk Lin Feng hancur berantakan. Namun, target utama Lin Tian bukanlah tulang rusuknya, melainkan titik pusat energinya. Qi Naga Surgawi melesat melalui lutut Lin Tian, menembus perut Lin Feng dengan daya hancur yang sangat brutal, langsung menghantam Dantian pemuda itu.
Sebuah ledakan kecil terjadi di dalam tubuh Lin Feng. Titik kumpul energinya hancur berkeping-keping, persis seperti yang dialami Lin Tian sebulan lalu. Semua Qi bawaan yang telah ia kumpulkan dengan susah payah lenyap seketika, bocor keluar dari tubuhnya bagaikan karung beras yang robek.
Lin Tian melepaskan cengkeramannya. Tubuh Lin Feng jatuh berdebuk ke tanah berbatu seperti seonggok daging tak bertulang. Mulutnya terus-menerus memuntahkan darah bercampur serpihan organ dalam. Matanya menatap kosong ke langit, pikirannya hancur menyadari bahwa ia baru saja dijatuhkan dari surga kesombongannya langsung ke dasar neraka. Ia telah menjadi seorang cacat, tanpa sisa energi sedikit pun.
Hanya butuh satu gerakan. Satu serangan biasa tanpa teknik untuk menghancurkan jenius nomor satu Klan Lin secara total dan absolut.
Di tribun, Lin Zhan menjerit histeris melihat putranya dihancurkan di depan matanya sendiri. “FENG’ER!! KAU IBLIS JAHANAM! AKU AKAN MEMBUNUHMU!”
Aura kuat dari Alam Pembentukan Qi tingkat menengah meledak dari tubuh Tetua Pertama itu. Ia menghunus pedang besarnya, bersiap melompat turun untuk mencincang Lin Tian. Beberapa tetua Klan Lin lainnya juga bangkit dengan senjata terhunus, niat membunuh mereka mengunci pemuda di bawah sana.
Namun, Lin Tian sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Ia menendang tubuh Lin Feng yang pingsan ke samping seolah menyingkirkan karung sampah yang menghalangi jalan. Perlahan, telapak tangannya bergerak ke pinggang, menggenggam gagang pedang tulang beruang yang memancarkan pendaran cahaya tembaga yang mematikan. Matanya yang bersinar keemasan menatap tajam barisan para tetua yang murka di atas tribun kehormatan.
“Turunlah, kalian semua anjing-anjing tua yang munafik,” tantang Lin Tian, suaranya menggelegar mengalahkan suara angin, membawa arogansi seorang raja yang siap membantai ribuan nyawa. Ia mengangkat pedang tulangnya, mengarahkannya lurus ke wajah Lin Zhan dan menembus hingga ke arah Zhao Meng’er yang gemetar hebat di belakangnya. “Hari ini, arena pertarungan anak-anak telah ditutup. Yang tersisa hanyalah panggung darah. Mari kita selesaikan hutang ini, nyawa dibayar nyawa!”
Di belakangnya, Bai Xue memandang sosok punggung yang kokoh itu dengan kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan. Iblis ini benar-benar telah menyatakan perang terhadap seluruh dunia, dan ia berdiri di sana tanpa sedikit pun rasa takut. Turnamen Kota Daun Musim Gugur telah berubah menjadi ladang pembantaian pribadi sang Kaisar Naga Surgawi.