Bab 20: Gerbang Makam Nirvana dan Aliansi Kemunafikan
Hutan Ilusi Seribu Wajah perlahan-lahan mulai kehilangan taringnya seiring dengan langkah Lin Tian dan Bai Xue yang semakin menembus ke bagian terdalam. Miasma ungu pekat yang sebelumnya bisa memanipulasi pikiran dan meracuni darah kultivator fana, kini berangsur-angsur menipis, digantikan oleh kabut abu-abu tipis yang membawa aura kuno dan berat. Udara tidak lagi berbau bunga bangkai yang memuakkan, melainkan dipenuhi oleh aroma tanah tua dan logam berkarat yang telah terkubur selama ribuan tahun.
Sambil berjalan dengan ritme yang santai namun penuh kewaspadaan, Lin Tian membalik telapak tangannya. Sebuah cincin spasial berwarna perak dengan ukiran awan melingkar muncul di atas telapak tangannya. Itu adalah cincin milik mendiang Penatua Yun Jian, ahli Alam Langit dari Sekte Pedang Awan yang baru saja ia ubah menjadi debu vulkanik.
Dengan kultivasinya yang kini telah mencapai Alam Pembentukan Qi tingkat menengah, dan didukung oleh kualitas Qi Naga Surgawi yang luar biasa mendominasi, Lin Tian menembus sisa-sisa segel spiritual pada cincin tersebut semudah merobek selembar jaring laba-laba. Kesadarannya langsung menyelam ke dalam ruang penyimpanan raksasa yang luasnya mencapai ukuran sebuah paviliun besar.
“Tidak heran dia begitu sombong,” gumam Lin Tian, sudut bibirnya melengkung membentuk seringai puas.
Di dalam cincin tersebut, Lin Tian menemukan lautan kekayaan yang jauh melampaui apa yang ia dapatkan dari Yan Tuo sang penguasa bawah tanah. Terdapat lebih dari dua juta batu spiritual tingkat menengah, tersusun rapi membentuk bukit-bukit kecil bercahaya. Ada belasan botol pil spiritual tingkat Bumi kelas atas yang diperuntukkan bagi pemulihan Qi dan penyembuhan luka fatal. Namun, yang paling menarik perhatian Lin Tian bukanlah tumpukan harta benda fana tersebut, melainkan sebuah rak kayu cendana yang menyimpan beberapa gulungan teknik bela diri.
Mata Lin Tian tertuju pada sebuah gulungan giok berwarna hijau zamrud. Ia menariknya keluar dari cincin dan menempelkannya ke dahinya. Aliran informasi seketika membanjiri lautan kesadarannya.
“Seni Langkah Bayangan Awan,” Lin Tian membacakan nama teknik tersebut di dalam hatinya. “Teknik pergerakan tingkat Bumi kelas puncak. Memungkinkan penggunanya untuk memanipulasi elemen angin, meringankan tubuh hingga seringan bulu, dan menciptakan platform udara pijakan sesaat yang memungkinkan seorang kultivator di bawah Alam Langit untuk berjalan di udara untuk waktu yang singkat.”
Ini adalah bagian yang hilang dari gudang persenjataannya! Meskipun Seni Kaisar Naga Surgawi memberikannya kekuatan fisik yang menghancurkan dan fondasi Qi yang tak tertandingi, ingatannya tentang teknik-teknik dewa naga kebanyakan berpusat pada dominasi dan penghancuran absolut. Untuk teknik kelincahan murni dan mobilitas udara sebelum ia benar-benar menembus Alam Langit, gulungan ini adalah anugerah yang datang di saat yang sangat tepat.
Lin Tian memejamkan matanya sambil terus berjalan. Di dalam Dantiannya, Mutiara Naga Surgawi berputar lambat, memancarkan cahaya pencerahan. Otak Lin Tian, yang telah berevolusi bersama dengan tubuhnya, memproses kerumitan Seni Langkah Bayangan Awan dengan kecepatan yang mengerikan. Bagi seorang jenius dari Sekte Pedang Awan, menguasai teknik ini ke tahap dasar membutuhkan waktu bertahun-tahun meditasi di puncak tebing berangin. Namun bagi Lin Tian, esensi teknik itu dikupas tuntas, disederhanakan, dan diintegrasikan dengan Qi naganya hanya dalam waktu kurang dari setengah jam.
“Awan itu rapuh, tapi naga menguasai badai,” bisik Lin Tian. Ia memodifikasi teknik ortodoks tersebut, membuang gerakan-gerakan elegan yang tidak perlu dan menggantinya dengan daya ledak brutal.
Ia mencoba menghentakkan kaki kirinya ke udara kosong. Secara ajaib, sebuah riak emas kemerahan terbentuk tepat di bawah telapak sepatunya, memadat menjadi pijakan yang sekeras batu giok. Ia bisa melangkah di udara! Meskipun ia belum bisa terbang bebas seperti burung—sebuah hak istimewa mutlak milik Alam Langit—kemampuan untuk berpijak di udara terbuka dan mengubah lintasan di tengah lompatan akan membuatnya menjadi pembunuh yang jauh lebih mematikan.
Di sebelahnya, Bai Xue mengamati pencerahan instan pemuda itu dengan tatapan tak percaya yang sudah mulai menjadi kebiasaan. Ia bisa merasakan fluktuasi elemen angin yang ditarik secara paksa dan dipadatkan di bawah kaki Lin Tian.
“Kau baru saja mempelajari teknik pergerakan rahasia Sekte Pedang Awan hanya dengan menatap gulungan gioknya sambil berjalan?” Bai Xue menggelengkan kepalanya pelan, nada suaranya mengandung sedikit rasa frustrasi yang jenaka. “Para tetua penegak hukum di sekte itu akan muntah darah jika mereka melihatmu memodifikasi seni suci mereka menjadi sesuatu yang sebuas ini.”
“Seni bela diri diciptakan untuk membunuh musuh, bukan untuk menari di festival lentera,” jawab Lin Tian pragmatis, menyimpan kembali gulungan giok itu ke dalam cincinnya. “Sekarang aku tidak perlu lagi khawatir jika ahli Alam Langit lainnya mencoba bermain petak umpet di udara bersamaku.”
Beberapa mil kemudian, pepohonan berbatang ungu yang rapat akhirnya terbuka, memperlihatkan sebuah lembah raksasa berbentuk mangkuk terbalik yang terletak di jantung Hutan Seribu Wajah. Pemandangan di depan mereka begitu agung sekaligus dipenuhi oleh penindasan usia yang melampaui ribuan tahun.
Tepat di tengah lembah tersebut, menyatu dengan tebing gunung berbatu hitam yang menjulang membelah awan, terdapat sebuah gerbang perunggu raksasa setinggi seratus kaki. Gerbang itu dipenuhi oleh ukiran kuno yang menceritakan pertempuran antara dewa-dewa dan iblis, serta segel-segel Nirvana yang memancarkan pendaran cahaya kelabu yang menahan waktu. Di sisi kiri dan kanan gerbang, berdiri dua buah patung batu berbentuk kesatria tanpa kepala yang memegang kapak pancung raksasa, seolah menjaga agar apa pun yang ada di dalam makam itu tidak pernah keluar, dan tidak ada yang masuk.
Namun, yang membuat lembah itu terasa begitu sesak bukanlah gerbang kuno tersebut, melainkan ribuan kultivator yang telah mengepung area itu.
Lin Tian dan Bai Xue melompat ringan ke atas dahan sebuah pohon beringin raksasa yang berada di lereng tebing, menggunakan dedaunan lebat dan bayangan untuk menyembunyikan eksistensi mereka. Dari posisi pengintaian yang tinggi ini, mereka bisa melihat dengan jelas konfigurasi kekuatan faksi-faksi yang telah berkumpul.
Di lantai lembah, perkemahan telah diatur berdasarkan hierarki kekuatan yang sangat kaku. Empat faksi utama menempati posisi terdepan, paling dekat dengan gerbang perunggu, memancarkan aura dominasi yang memaksa ribuan kultivator independen dan sekte-sekte kelas dua untuk mundur ke area pinggiran.
“Mereka semua ada di sini,” bisik Bai Xue, matanya yang sebiru safir memindai lautan manusia di bawah sana. “Di sebelah timur, itu adalah barisan Kuil Bodhi. Para biksu berjubah emas itu tidak pernah melewatkan kesempatan untuk ‘menyucikan’ pusaka kuno. Di selatan, Sekte Gunung Emas dengan jubah kebesaran mereka. Di barat, Sekte Pedang Awan. Dan di utara…”
Suara Bai Xue sedikit tertahan saat tatapannya jatuh pada kelompok yang menempati sektor utara. Mereka adalah kelompok kultivator wanita yang mengenakan jubah putih bersih dengan bordiran teratai es biru di punggung mereka. Aura dingin yang mereka pancarkan bahkan membekukan rumput liar di sekitar perkemahan mereka. Itu adalah Sekte Teratai Es.
Lin Tian memfokuskan pandangannya ke arah kelompok Sekte Teratai Es. Di barisan paling depan, duduk di atas sebuah kursi es yang melayang, adalah seorang wanita paruh baya dengan wajah yang keras, sudut bibir yang selalu menurun, dan mata yang memancarkan kekejaman kalkulatif. Auranya berada di Alam Langit tingkat awal, sangat stabil dan dingin. Di sebelahnya berdiri seorang gadis muda yang cantik namun memiliki senyum yang sangat angkuh, menatap ke sekeliling seolah semua orang adalah pelayannya.
“Wanita tua di kursi es itu… kau mengenalnya?” tanya Lin Tian, merasakan sedikit fluktuasi emosi yang tidak stabil dari Bai Xue di sebelahnya.
Bai Xue menarik napas panjang, mencoba menenangkan aura Yin di tubuhnya yang sempat bergejolak. “Itu adalah Tetua Mei. Salah satu dari tiga Tetua Hukuman di Sekte Teratai Es. Dan gadis di sebelahnya adalah Su Yin, murid langsungnya. Tetua Mei adalah faksi yang paling keras menentang keberadaanku sebagai Saintess. Ia selalu berpendapat bahwa kutukanku adalah aib bagi sekte, dan ia secara terbuka mendukung Su Yin untuk menggantikanku jika aku mati sebelum mencapai usia dua puluh lima.”
Mendengar itu, Lin Tian mendengus sinis. “Kemunafikan sekte ortodoks selalu sama di mana-mana. Mereka mengkhotbahkan kemurnian dan kesucian, namun di balik pintu tertutup, mereka saling menikam punggung demi kekuasaan. Jadi, wanita tua itu adalah musuhmu.”
“Bisa dibilang begitu,” Bai Xue mengangguk pelan. “Kehadirannya di sini membuktikan betapa pentingnya Makam Nirvana ini. Tetua Mei tidak akan pernah turun gunung jika tidak ada harta karun yang bisa mengubah konstelasi kekuatan di dalam sekte.”
Lin Tian menggeser pandangannya ke arah perkemahan Sekte Pedang Awan. Di sana, ia tidak melihat Yun Jian, karena pria tua itu telah menjadi abu di bawah kakinya. Namun, ia melihat seorang pemuda yang sangat mencolok berdiri di tengah-tengah formasi pedang. Pemuda itu mengenakan jubah putih perak, memegang kipas bulu bangau, dan memancarkan aura Alam Langit tingkat awal! Seorang pemuda yang usianya mungkin baru dua puluhan, namun telah mencapai Alam Langit!
“Siapa merak sombong dengan kipas bulu itu?” tanya Lin Tian, matanya menyipit menilai kekuatan pemuda tersebut.
“Itu adalah Jian Wushuang,” Bai Xue segera menjawab, nadanya dipenuhi kehati-hatian. “Dia adalah Jenius Nomor Satu dari Sekte Pedang Awan, murid langsung dari Ketua Sekte mereka. Jangan tertipu oleh penampilannya yang elegan, Lin Tian. Dia adalah monster pembunuh yang memadatkan niat pedangnya di usia lima belas tahun. Kekuatannya jauh di atas Penatua Yun Jian, karena ia memiliki Garis Keturunan Pedang Roh bawaan. Di generasiku, dialah yang paling ditakuti.”
“Garis keturunan bawaan, eh?” Seringai Lin Tian kembali melebar. Pusaran naga di dalam perutnya berdegup pelan, mencium aroma esensi darah yang lezat. “Makin tinggi mereka terbang, makin nyaring suara tulang mereka saat patah di atas tanah.”
Di lantai lembah, ketegangan mulai mencapai puncaknya. Seorang jenderal tua dengan zirah naga emas yang mewakili Kekaisaran Awan Biru melangkah maju ke tengah area terbuka di depan gerbang perunggu.
“Para pemimpin sekte yang terhormat!” suara jenderal itu menggelegar, dilapisi oleh Qi yang kuat. “Segel Nirvana pada gerbang ini telah melemah setelah ribuan tahun, namun ia masih membutuhkan serangan gabungan dari para ahli Alam Langit untuk memecahkannya sepenuhnya! Kekaisaran Awan Biru mengusulkan agar kita melakukan gencatan senjata sementara. Kita gabungkan kekuatan untuk membuka gerbang ini. Setelah kita masuk ke dalam makam, semua pusaka dan warisan akan menjadi milik siapa yang paling kuat! Apakah kalian setuju?!”
Jian Wushuang dari Sekte Pedang Awan menutup kipasnya sambil tertawa pelan. “Sekte Pedang Awan setuju. Namun, aku ingin memperjelas satu hal. Balai utama dari makam ini pasti menyimpan pil Nirvana. Jika ada faksi kecil yang berani menyentuhnya, jangan salahkan pedangku jika ia haus darah.”
Tetua Mei dari Sekte Teratai Es mendengus dingin. “Sekte Teratai Es tidak tertarik pada ocehan bocah. Kami akan menyumbangkan tenaga untuk membuka gerbang, tapi kami tidak tunduk pada ancaman siapa pun.”
Tetua dari Sekte Gunung Emas dan Biksu Kepala dari Kuil Bodhi juga memberikan persetujuan mereka. Di permukaan, mereka tampak seperti aliansi yang solid demi tujuan bersama. Namun, semua orang yang memiliki mata bisa melihat percikan permusuhan dan niat membunuh yang tersembunyi di balik senyuman diplomatis mereka. Mereka hanyalah sekumpulan serigala rakus yang setuju untuk mendobrak pintu kandang domba bersama-sama, dengan niat untuk saling menerkam begitu dagingnya terlihat.
“Aliansi kemunafikan,” cibir Lin Tian dari atas dahan pohon. “Mereka bahkan belum melihat harta karunnya, tapi sudah memikirkan cara untuk mengkhianati satu sama lain.”
“Begitulah cara dunia ini bekerja,” balas Bai Xue dengan tenang.
Di bawah sana, persiapan telah selesai. Sembilan orang ahli Alam Langit dari berbagai faksi, termasuk Jian Wushuang, Tetua Mei, Jenderal Kekaisaran, dan para tetua utama lainnya, melayang ke udara. Mereka membentuk formasi setengah lingkaran yang menghadap langsung ke arah gerbang perunggu raksasa.
“Semuanya, serang pada hitungan ketiga!” teriak sang Jenderal Kekaisaran.
“Satu!”
Aura dari sembilan ahli Alam Langit meledak secara serentak. Langit di atas lembah seketika berubah warna. Badai Qi yang sangat masif menyapu lantai lembah, memaksa ribuan kultivator di bawah Alam Langit untuk mundur jauh karena tidak kuat menahan tekanan spiritual yang mencekik tersebut.
“Dua!”
Berbagai macam senjata pusaka dihunus. Pedang cahaya raksasa milik Jian Wushuang membelah awan. Naga air es yang membekukan jiwa terbentuk di belakang Tetua Mei. Proyeksi patung Buddha emas raksasa yang memancarkan cahaya suci dipanggil oleh para biksu dari Kuil Bodhi.
“TIGA! HANCURKAN!”
Sembilan serangan pamungkas yang memiliki daya hancur untuk meratakan sebuah kota metropolitan diluncurkan secara bersamaan. Sembilan pilar cahaya dengan elemen yang berbeda-beda melesat menembus udara dan menghantam langsung ke titik pusat dari segel Nirvana yang menutupi gerbang perunggu tersebut.
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHH!
Suara ledakan yang tercipta membuat dunia seolah kehilangan suaranya selama beberapa detik. Kilatan cahaya putih yang membutakan menelan seluruh lembah. Gelombang kejut yang tak tertahankan merobek tanah, menghancurkan pepohonan di pinggiran lembah menjadi serbuk kayu, dan menciptakan gempa bumi lokal yang menggetarkan barisan pegunungan.
Bahkan Lin Tian dan Bai Xue, yang berada cukup jauh di lereng tebing, harus menggunakan Qi mereka untuk menahan tubuh mereka agar tidak terhempas oleh badai angin yang menggila.
Ketika cahaya putih itu akhirnya meredup dan awan debu perlahan turun, pemandangan di tengah lembah membuat semua orang menahan napas.
Segel Nirvana yang memancarkan pendaran kelabu itu kini dipenuhi oleh jaring-jaring retakan raksasa yang menyala seperti lava. Suara decitan logam purba yang sangat menyayat hati terdengar memekakkan telinga. Gerbang perunggu raksasa setinggi seratus kaki itu perlahan-lahan mulai terbuka, bergeser ke dalam, membelah gunung hitam di belakangnya.
Namun, alih-alih harta karun, hal pertama yang menyambut aliansi manusia itu adalah sebuah ledakan aura kematian yang luar biasa mengerikan.
WUUUSSSHHH!
Gelombang Qi berwarna hitam pekat yang membawa hawa busuk mayat purba menyembur keluar dari celah gerbang yang terbuka. Semburan angin kematian itu menghantam barisan depan para kultivator sekte kelas dua yang terlalu serakah dan berdiri terlalu dekat.
“A-AARGGGHH! Tubuhku!”
Jeritan penderitaan meletus. Puluhan kultivator Alam Pembentukan Qi tingkat rendah yang terkena semburan Qi kematian itu seketika kulitnya melepuh, membusuk, dan daging mereka meleleh dari tulangnya hanya dalam hitungan detik. Mereka jatuh menjadi genangan darah hitam dan tumpukan tulang putih sebelum sempat menyentuh gerbang.
Kepanikan langsung melanda formasi yang tidak teratur tersebut.
“Qi Kematian Nirvana! Mundur! Jangan hirup udaranya!” teriak para tetua, memerintahkan murid-murid mereka untuk mundur dan membentuk perisai formasi.
Hanya para ahli Alam Langit dan elit puncak Alam Bumi yang memiliki kepadatan Qi cukup tebal untuk menahan semburan korosif tersebut yang tetap berdiri tegak.
Jian Wushuang mengibaskan kipas bulunya, menciptakan penghalang angin yang menetralkan Qi Kematian di sekitarnya. “Hanya ujian kecil untuk menyaring sampah yang tidak pantas,” ucapnya dengan tawa dingin. Ia tidak mempedulikan teriakan kematian dari para kultivator lemah di belakangnya. Tanpa menunggu faksi lain, tubuhnya berubah menjadi kilatan pedang perak dan melesat masuk menembus celah gerbang raksasa yang gelap gulita.
“Sekte Teratai Es, maju! Jangan biarkan pedang angkuh itu mengambil semuanya!” perintah Tetua Mei. Ia dan elit sektenya meluncur masuk di atas jalur es yang mereka ciptakan. Segera setelah itu, Kekaisaran Awan Biru, Kuil Bodhi, dan Sekte Gunung Emas berbondong-bondong menyerbu ke dalam, menembus kabut hitam kematian demi keserakahan yang membutakan mata.
Ribuan kultivator independen di belakang mulai mengamuk, saling dorong dan saling membunuh di depan gerbang untuk mendapatkan posisi masuk yang lebih cepat, menciptakan kekacauan dan sungai darah di pintu masuk Makam Kuno.
Di atas pohon beringin, Lin Tian menyaksikan hiruk-pikuk pembantaian itu dengan mata emas yang berkilat tajam. Ia tidak ikut melesat masuk bersama rombongan pertama. Insting predatornya mengatakan bahwa ruang tertutup yang belum dipetakan adalah jebakan terbaik bagi mereka yang terburu-buru.
“Kapan kita akan bergerak?” tanya Bai Xue, yang kini telah menggenggam sebilah pedang es biru kristal di tangan kanannya, auranya sudah sepenuhnya siap untuk pertempuran tingkat tinggi.
“Sekarang. Biarkan mereka yang bodoh membersihkan jebakan-jebakan di garis depan. Kita akan mengikuti dari belakang dan memungut hasil panen,” Lin Tian menyeringai.
Ia berdiri, meregangkan bahunya, dan melompat turun dari dahan pohon, meluncur dengan bantuan Seni Langkah Bayangan Awan yang baru saja ia kuasai. Ia tidak melesat di udara kosong, melainkan menciptakan riak emas tipis di udara, berpijak padanya sedetik, dan melesat lagi, turun ke arah gerbang raksasa bagaikan hantu.
Saat Lin Tian dan Bai Xue mendarat di tanah lapang di depan gerbang, area itu telah menjadi ladang pembantaian. Ratusan mayat bergelimpangan, bukan hanya karena Qi Kematian, tetapi karena saling tusuk antar kultivator yang memperebutkan jalan masuk.
Tepat ketika Lin Tian hendak melangkah melewati ambang gerbang perunggu, sebuah kelompok besar yang terdiri dari belasan murid elit dari Sekte Gunung Emas menghalangi jalan masuk. Mereka telah membentuk barikade, sengaja membunuh kultivator independen mana pun yang mencoba masuk setelah faksi mereka.
“Berhenti di sana, anjing liar!” bentak seorang pemimpin regu berwajah beringas dari Sekte Gunung Emas, pedangnya yang berlapis Qi tanah menunjuk tepat ke wajah Lin Tian. Auranya berada di Alam Pembentukan Qi tingkat puncak. “Sekte Gunung Emas telah memblokade pintu ini! Jika kau ingin masuk, serahkan seluruh cincin spasialmu dan merangkaklah melewati selangkanganku!”
Di belakang pemimpin regu itu, belasan murid lainnya tertawa merendahkan, senjata mereka terhunus, memancarkan niat membunuh yang congkak. Mereka merasa sangat berkuasa menindas kultivator independen setelah melihat faksi utama mereka masuk ke dalam.
Lin Tian tidak menghentikan langkahnya. Ia terus berjalan dengan kecepatan yang sama, wajahnya yang tersembunyi di balik kain kasa topi bambu tidak menunjukkan emosi apa pun.
“Kau tuli?! Kubilang berhent—!”
Sebelum pemimpin regu itu bisa menyelesaikan kalimatnya, Lin Tian menjentikkan pergelangan tangan kanannya.
Tidak ada senjata yang dihunus. Tidak ada teknik raksasa yang dipanggil. Hanya sebuah ledakan Qi Naga Surgawi yang sangat murni dan dipadatkan secara ekstrem, melesat melalui udara kosong.
BUMMM!
Sebuah telapak tangan emas ilusi berukuran sebesar kereta kuda muncul entah dari mana. Telapak tangan itu tidak menebas, melainkan menampar ke depan dengan kekuatan fisik yang setara dengan jatuhnya sebuah gunung besi.
Pemimpin regu yang berada di Alam Pembentukan Qi tingkat puncak itu bahkan tidak sempat mengangkat pedangnya. Telapak tangan emas itu menghantam tubuhnya dan belasan murid di belakangnya secara bersamaan.
KRAAAAK… CRATTT!
Suara tulang yang hancur serentak dan cipratan darah yang memuakkan terdengar nyaring. Pertahanan Qi elemen tanah yang dibanggakan oleh Sekte Gunung Emas hancur layaknya kertas basah. Seluruh kelompok elit yang berjumlah lima belas orang itu terlempar ke udara, tubuh mereka hancur berantakan di tengah jalan, dan menghantam dinding batu perunggu gerbang makam hingga meninggalkan noda darah yang sangat mengerikan.
Mereka semua mati secara instan, berubah menjadi tumpukan pasta daging dan patahan pedang tanpa sempat memejamkan mata.
Sisa ratusan kultivator liar yang sedang bertarung di sekitar mereka seketika menghentikan gerakan mereka. Senjata mereka jatuh ke tanah. Mereka menatap pemuda berjubah hitam bertopi bambu itu dengan mata yang membelalak dipenuhi teror absolut. Mengusap belasan elit sekte besar hanya dengan satu tamparan tangan kosong? Kekuatan macam apa ini?!
Lin Tian melangkah santai melewati tumpukan daging dan darah yang baru saja ia ciptakan, sepatunya tidak menyentuh genangan merah tersebut. Ia bahkan tidak repot-repot memungut cincin spasial mereka, menganggap kekayaan semut-semut itu tidak layak mengotori tangannya.
“Barikade yang sangat rapuh,” komentar Lin Tian dingin, tidak ditujukan pada siapa pun, hanya sebuah fakta yang ia lemparkan ke udara.
Bai Xue berjalan di sisinya, tatapannya menyapu para kultivator yang mematung ketakutan. Ia tahu bahwa aksi brutal Lin Tian barusan bukan sekadar luapan emosi, melainkan sebuah pernyataan. Pemuda ini sedang memberi tahu dunia bahwa ia telah tiba, dan bahwa aturan sekte ortodoks tidak berlaku baginya.
Keduanya melangkah masuk melintasi ambang gerbang perunggu yang sangat tebal. Begitu kaki mereka melewati garis batas tersebut, cahaya dari dunia luar seketika lenyap, ditelan oleh kegelapan abadi yang berkuasa di dalam perut gunung. Udara di dalam makam terasa sangat berat, seolah gravitasi telah dilipatgandakan. Bau kuno, darah yang tumpah, dan Qi yang luar biasa beringas menyambut mereka.
Makam Kuno Alam Nirvana, tempat peristirahatan terakhir seorang dewa fana dan arena pembantaian terbesar bagi para jenius Benua Cakrawala, kini telah kedatangan tiran yang akan menghancurkan seluruh tatanan yang ada di dalamnya. Kegelapan menyelimuti punggung Lin Tian, saat ia melangkah maju menuju lautan darah yang telah lama ia nantikan.