Bab 19: Langit yang Runtuh dan Kesombongan Domain Pedang

Ukuran:
Tema:

Pilar cahaya putih bersih yang membubung ke angkasa dari tubuh Penatua Yun Jian mengoyak Miasma Ilusi yang telah menyelimuti Hutan Seribu Wajah selama ribuan tahun. Udara di sekitarnya tidak lagi terasa lembap atau beracun, melainkan berubah menjadi luar biasa tajam, seolah-olah setiap partikel oksigen telah diubah menjadi mata pisau mikroskopis yang siap mencabik paru-paru siapa pun yang berani bernapas di dekatnya. Itulah teror sejati dari seorang ahli Alam Langit: Domain Pedang.

Di Alam Langit, seorang kultivator tidak lagi meminjam energi dari alam seperti yang dilakukan oleh mereka di Alam Pembentukan Qi atau Alam Bumi. Mereka memaksakan kehendak mereka atas hukum alam itu sendiri, menciptakan sebuah zona kedaulatan absolut dalam radius tertentu di mana kata-kata mereka adalah hukum dan pikiran mereka adalah eksekusi.

Yun Jian melayang dengan anggun sekitar sepuluh meter di atas tanah yang telah hancur berantakan. Jubah putih bersulam awan emasnya berkibar pelan, tidak tersentuh oleh debu atau kotoran. Rambut hitamnya yang mulai memutih di bagian pelipis tersisir rapi, dibingkai oleh wajah aristokrat yang memancarkan kemarahan sedingin gletser. Di sekelilingnya, ratusan bilah pedang transparan yang terbuat dari udara yang dipadatkan melayang dengan formasi melingkar, berdesir mengeluarkan suara dengungan lebah pembunuh yang memekakkan telinga.

Ia sedang menunggu. Deteksi spiritualnya yang kuat telah mengunci sebuah fluktuasi energi asing yang melesat ke arahnya dengan kecepatan meteor. Energi itu berwarna emas kemerahan, beringas, biadab, dan sama sekali tidak memiliki kehalusan dari seni bela diri ortodoks yang ia kenal.

BUMMM!

Sebuah ledakan dahsyat terjadi di tepi area hutan yang telah ia ratakan dengan tekanan auranya. Pepohonan raksasa berbatang ungu yang lebarnya mencapai tiga pelukan orang dewasa hancur berkeping-keping, terlempar ke udara seolah ditabrak oleh banteng baja raksasa. Dari balik kepulan debu kayu dan tanah yang beterbangan, sesosok bayangan berjalan keluar dengan langkah yang mantap dan menggema berat.

Mata Yun Jian menyipit tajam, memindai sosok yang baru saja muncul tersebut. Ia mengharapkan seorang monster tua yang telah hidup ratusan tahun, atau seorang petinggi sekte iblis yang memiliki ilmu sihir tingkat tinggi. Namun, apa yang ia lihat membuat alisnya berkerut dalam-dalam, perpaduan antara keterkejutan dan penghinaan yang luar biasa.

Sosok itu adalah seorang pemuda. Jubah hitamnya robek di banyak tempat, mengekspos tubuh bagian atas yang dipenuhi otot-otot padat memancarkan kilau tembaga gelap. Tidak ada jejak usia tua di wajahnya yang tegas dan tampan, namun sepasang matanya… sepasang mata itu berwarna emas murni yang bersinar terang, memancarkan kedalaman, kekejaman, dan arogansi yang membuat bahkan seorang ahli Alam Langit seperti Yun Jian merasakan hawa dingin merayap di tengkuknya.

“Kau…” Yun Jian berbicara, suaranya diperkuat oleh Qi Alam Langit hingga terdengar seperti guntur yang bergema dari segala penjuru. “Kau adalah iblis yang membantai Diaken Ku Feng dan menghancurkan wajah Penatua Mo Jian? Kau hanyalah seorang bocah! Dan kultivasimu… Alam Pembentukan Qi tingkat awal?! Lelucon macam apa ini?!”

Lin Tian berhenti melangkah saat jaraknya dengan Yun Jian tersisa lima puluh meter. Ia mendongak, menatap pria paruh baya yang melayang angkuh di atasnya. Di hadapan tekanan Domain Pedang yang membuat tanah di bawah kakinya terus-menerus retak, Lin Tian hanya berdiri dengan santai, menyilangkan kedua lengannya di depan dada.

“Lelucon?” Lin Tian tersenyum sinis, memperlihatkan deretan giginya yang putih. “Tanyakan pada selusin anjing pelacakmu dari Sekte Pedang Awan dan Sekte Gunung Emas yang baru saja kucabik-cabik di dalam kabut itu, apakah kematian mereka terasa seperti sebuah lelucon, Penatua Yun Jian.”

Mendengar konfirmasi bahwa seluruh setengah pasukannya telah dibantai oleh pemuda di depannya ini, wajah Yun Jian seketika berubah menjadi sangat mengerikan. Urat-urat halus menonjol di pelipisnya. Harga dirinya sebagai Penatua Inti telah diinjak-injak hingga rata dengan tanah.

“Kau mencari mati dengan cara yang paling menyedihkan, semut kotor,” geram Yun Jian. Niat membunuhnya kini begitu pekat hingga membuat kelembapan di udara mengkristal menjadi butiran es. “Aku tidak peduli artefak iblis apa yang kau gunakan untuk menyembunyikan kultivasi aslimu atau membunuh bawahanku. Di hadapan Alam Langit, semua trik murahanmu tidak lebih dari kertas tipis!”

Yun Jian bahkan tidak repot-repot menghunus pedang giok hijau yang ada di punggungnya. Ia merasa menghunus senjata pusakanya untuk membunuh seorang kultivator Alam Pembentukan Qi adalah sebuah penghinaan. Ia hanya mengangkat jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya, mengarahkannya ke bawah dengan gerakan menebas yang sangat kasual.

“Hancur menjadi debu! Hujan Pedang Awan Penusuk Jiwa!”

Seketika, ratusan bilah pedang transparan yang melayang di sekitar tubuh Yun Jian meluncur turun dengan kecepatan yang jauh melampaui suara. Udara menjerit kesakitan saat pedang-pedang itu merobek ruang. Serangan ini tidak diarahkan pada satu titik, melainkan menutupi seluruh area dalam radius tiga puluh meter di sekitar Lin Tian, menutup setiap celah dan kemungkinan untuk menghindar. Setiap bilah pedang itu mengandung kompresi Qi Alam Langit yang mampu menembus pelat baja setebal sepuluh inci dengan mudah.

Lin Tian tidak mundur. Mata emasnya memindai lintasan ratusan pedang tak kasatmata itu dengan presisi mutlak. Di dalam Dantiannya, pusaran naga keemasan yang baru saja terbentuk dari esensi Akar Naga Darah berputar dengan sangat gila. Qi Naga Surgawi meledak keluar, mengalir ke setiap pembuluh darah, setiap sel, dan setiap pori-pori di tubuhnya.

Tubuh Sisik Naga Tembaga diaktifkan hingga mencapai batas ekstrem. Cahaya tembaga gelap yang menyelimuti kulit Lin Tian kini memancarkan pendaran emas kemerahan, dan ilusi sisik-sisik naga yang sangat rapat muncul menutupi kulitnya seperti zirah perang biologis yang tak bisa dihancurkan.

Lin Tian mengepalkan kedua tinjunya, merendahkan kuda-kudanya, dan melontarkan ratusan pukulan ke udara kosong di atasnya dengan kecepatan yang menciptakan dinding bayangan tinju berwarna emas.

TRANG! TRANG! TRANG! TRAAAAANG!

Suara benturan logam yang luar biasa padat dan memekakkan telinga meletus bertubi-tubi, memicu badai bunga api yang menerangi hutan yang gelap.

Pemandangan yang terjadi selanjutnya membuat mata Yun Jian melebar hingga hampir keluar dari rongganya. Pedang-pedang Qi Alam Langit miliknya yang tajam dan mematikan, saat berbenturan dengan kepalan tangan telanjang pemuda itu, bukannya memotong tulang atau menghancurkan daging, melainkan hancur berkeping-keping menjadi pecahan cahaya putih yang tak berbahaya!

Tinju Lin Tian bergerak bagaikan mesin penghancur yang tidak kenal lelah. Ia tidak hanya menangkis; ia secara aktif memukul hancur setiap pedang energi yang mencoba menembus zona pertahanannya. Kekuatan fisik murni yang dikombinasikan dengan dominasi Qi Naga Surgawi menciptakan sebuah domain pertahanan jarak dekat yang absolut.

Namun, Alam Langit bukanlah Alam Bumi. Ribuan bilah pedang terus berjatuhan tanpa henti, dikendalikan murni oleh pikiran Yun Jian yang menarik energi tak terbatas dari alam sekitarnya.

Beberapa bilah pedang yang lolos dari tangkisan Lin Tian berhasil menghantam bahu, dada, dan paha pemuda itu.

SRAAAK!

Kulit tembaga Lin Tian akhirnya terkoyak. Garis-garis luka memanjang muncul di sekujur tubuhnya, memercikkan darah segar. Namun, yang membuat Yun Jian semakin merasa ngeri adalah warna darah tersebut. Bukannya berwarna merah gelap biasa, darah yang menetes dari luka pemuda itu memancarkan kilau emas kemerahan yang kental, berbau seperti energi purba yang sangat beringas. Dan yang lebih tidak masuk akal, setiap kali kulit pemuda itu terkoyak, otot di baliknya langsung bereaksi, menjepit bilah pedang Qi itu hingga hancur sebelum bisa merusak tulang atau organ dalamnya.

“Kau menyebut ini serangan dari seorang dewa Alam Langit?” Lin Tian tertawa liar di tengah badai pedang yang melukainya. Ia sama sekali tidak mempedulikan rasa sakit yang membakar saraf-sarafnya. Luka-luka itu justru memicu insting predator di dalam garis keturunannya. “Rasanya seperti digigit oleh sekawanan nyamuk ompong!”

“Bocah kurang ajar!” raung Yun Jian, wajah aristokratnya kini memerah karena penghinaan yang tak tertahankan.

Ia menyadari bahwa kekuatan fisik pemuda ini telah mencapai tingkat yang sepenuhnya anomali, mungkin setara dengan monster spiritual tingkat lima. Menghadapinya dengan tebasan Qi jarak jauh biasa hanya akan membuang-buang energi.

Yun Jian akhirnya mengulurkan tangannya ke belakang punggungnya. Ia menggenggam gagang pedang giok hijaunya. Saat pedang itu ditarik dari sarungnya, sebuah raungan angin topan yang sangat dahsyat meledak. Awan-awan di langit malam terbelah, dan cahaya bulan purnama menyinari bilah pedang yang sebening air musim semi itu. Itu adalah Pedang Awan Zamrud, senjata pusaka tingkat Bumi kelas atas milik Sekte Pedang Awan!

“Kau berhasil memaksaku menghunus pedangku. Untuk itu, aku akan memberimu kehormatan mati dengan tubuh terbelah dua tanpa sisa!”

Yun Jian mengangkat Pedang Awan Zamrud ke atas kepalanya. Seluruh Qi di radius sepuluh mil tersedot ke arahnya bagaikan pusaran air raksasa. Angin bertiup kencang, menumbangkan sisa-sisa pepohonan di sekeliling area pertarungan. Energi hijau pekat memadat di ujung pedang Yun Jian, memanjang dan membesar hingga membentuk proyeksi pedang cahaya raksasa sepanjang seratus kaki yang seolah menyangga langit itu sendiri.

Tekanan spiritual dari serangan ini membuat Lin Tian merasa seolah-olah ada sebuah gunung tak terlihat yang dijatuhkan tepat ke atas kedua bahunya. Tulang-tulangnya berderit memprotes. Kakinya ambles sedalam sepuluh sentimeter ke dalam tanah batu vulkanik yang keras. Inilah penindasan absolut dari ahli Alam Langit yang menggunakan senjata pusaka dan teknik pamungkas sekte mereka.

“Seni Pedang Kaisar Awan: Penghakiman Pembelah Surga!”

Yun Jian menebaskan pedang raksasa itu ke bawah. Langit benar-benar seolah runtuh. Udara di jalur tebasan itu terbakar habis, menciptakan ruang hampa udara yang menyedot segala sesuatu di sekitarnya.

Di hadapan kekuatan yang tampak mustahil untuk dihentikan oleh manusia biasa ini, Lin Tian tidak menunjukkan tanda-tanda keputusasaan. Sebaliknya, senyumannya semakin melebar, menjadi seringai buas yang mencerminkan kegilaan mutlak.

“Kau pikir bersembunyi di langit membuatmu menjadi dewa?!” raung Lin Tian, suaranya tumpang tindih dengan raungan naga yang menggema dari kedalaman Dantiannya. “Aku telah menyeret naga keluar dari jurang, dan hari ini, aku akan menyeretmu turun dari langitmu yang palsu!”

Pusaran naga di tubuh Lin Tian berputar dengan kecepatan yang mengancam akan menghancurkan Dantiannya sendiri. Semua Qi Naga Surgawi yang baru saja ia padatkan dari esensi Akar Naga Darah dan lima ahli Alam Bumi meledak keluar secara serentak.

Cahaya emas menyilaukan menelan tubuh Lin Tian. Ia tidak membentuk perisai. Ia tidak berniat untuk bertahan. Di dunia sang Tiran Naga, pertahanan terbaik adalah serangan balasan yang sepuluh ribu kali lebih mematikan.

Lin Tian mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Ia memanggil seluruh Qi yang ada, mengompresnya hingga mencapai titik kepadatan ekstrem. Dalam sekejap, sebuah tombak emas raksasa, jauh lebih solid dan lebih mematikan daripada yang ia gunakan di Kota Baja Merah, terbentuk di genggamannya. Permukaan tombak itu dihiasi oleh ukiran sisik naga mistis, dan ujungnya memancarkan cahaya merah darah yang haus akan nyawa.

Saat proyeksi pedang raksasa Yun Jian berjarak kurang dari sepuluh meter dari kepalanya, Lin Tian menghentakkan kedua kakinya.

KRAAAK… BUMMMMM!

Tanah di bawah kaki Lin Tian hancur total, membentuk kawah selebar tiga puluh meter yang melesak sedalam puluhan kaki. Memanfaatkan gaya tolak dari ledakan fisik yang melampaui logika fana tersebut, Lin Tian melesat ke udara layaknya sebuah misil bertenaga dewa yang melawan gravitasi. Ia tidak bisa terbang seperti kultivator Alam Langit, namun kekuatan lompatannya cukup untuk merobek angkasa.

“HANCUUURRR!”

Lin Tian mengayunkan Tombak Naga Surgawinya dengan kekuatan jutaan jin, menusukkannya lurus ke arah mata pisau proyeksi pedang raksasa Yun Jian yang turun menemuinya di udara.

Dua kekuatan penentang langit, satu dari pilar ortodoks Alam Langit dan satu dari anomali pembentuk tubuh tingkat monster, berbenturan secara frontal di udara malam.

BLAAAAAAAAAAAAARRRRRRRGGGGHHHHHHH!

Ledakan yang tercipta tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Sebuah kubah cahaya berwarna hijau dan emas mengembang dengan kecepatan luar biasa, menelan seluruh langit malam di atas Hutan Ilusi Seribu Wajah. Suara ledakan itu menghilangkan pendengaran semua binatang buas dalam radius puluhan mil, dan gelombang kejutnya meratakan ribuan pohon raksasa, menciptakan tanah lapang instan di tengah hutan yang lebat.

Di pusat benturan tersebut, ruang itu sendiri tampak retak.

Wajah Yun Jian yang semula dipenuhi kesombongan kini diwarnai oleh horor absolut. Pedang pusakanya bergetar hebat di tangannya, hampir terlepas dari genggamannya. Ia bisa merasakan kekuatan balasan yang tidak masuk akal merambat dari ujung proyeksi pedang energinya, menjalar masuk ke lengannya dan merobek jaringan meridiannya.

“B-Bagaimana mungkin… dari mana kekuatan biadab ini berasal?!” jerit Yun Jian dalam hati. Ia menumpahkan seluruh Qi di Dantian Alam Langitnya untuk mempertahankan tebasannya.

Di sisi lain, kondisi Lin Tian jauh dari kata baik. Tekanan dari Penghakiman Pembelah Surga itu sungguh mengerikan. Tubuh Sisik Naga Tembaga miliknya mulai retak secara masif. Darah emas kemerahan menyembur dari pori-pori kulitnya, mewarnai tombak emasnya menjadi merah pekat. Tulang kedua lengannya berderit keras, nyaris patah di bawah tekanan berat tersebut.

Namun, rasa sakit ini… rasa sakit dari tubuh yang hampir hancur ini… adalah katalis yang paling sempurna untuk garis keturunan Naga Surgawi.

Mutiara Naga di dalam perut Lin Tian berdenyut gila, memancarkan perasaan terhina karena ditekan oleh kekuatan fana. Sisa-sisa esensi liar dari Akar Naga Darah yang belum sepenuhnya diserap kini dipaksa melebur sepenuhnya ke dalam sumsum tulang Lin Tian, didorong oleh tekanan hidup dan mati dari pedang Yun Jian.

Seketika, mata Lin Tian menyala seperti sepasang bintang kembar yang meledak.

“TUNDUK PADAKU!” raung Lin Tian dengan segenap sisa tenaganya.

Ia memutar pinggangnya, mengirimkan kekuatan fisik putaran penuh yang disalurkan melalui punggung, bahu, dan lengannya. Ujung tombak emas yang tertahan itu tiba-tiba meledakkan sebuah pusaran energi merah darah.

PRANGGG!

Suara pecahan kaca yang sangat keras bergema. Proyeksi pedang cahaya raksasa milik Yun Jian hancur berkeping-keping di udara!

“TIDAAAK!” Yun Jian menjerit histeris, menyemburkan seteguk darah segar saat teknik pamungkasnya dihancurkan secara paksa. Serangan balik dari kehancuran itu membuat auranya melemah drastis, dan ia terhuyung-huyung di udara, kehilangan keseimbangannya sejenak.

Satu detik kehilangan keseimbangan bagi seorang ahli Alam Langit adalah waktu yang lebih dari cukup bagi sang Tiran Naga.

Memanfaatkan momentum dari hancurnya pedang raksasa itu, Lin Tian membuang tombak Qi emasnya. Tubuhnya masih melesat ke atas, menembus sisa-sisa badai energi yang mengamuk. Sebelum Yun Jian bisa kembali menstabilkan posisinya di udara, tangan Lin Tian yang memancarkan pendaran tembaga berdarah melesat menembus asap dan langsung mencengkeram tenggorokan Penatua Inti Sekte Pedang Awan itu.

“Kena kau, dewa palsu,” bisik Lin Tian, seringai iblisnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah pucat pasi Yun Jian.

“L-Lepaskan… aku…” Yun Jian tersedak, matanya terbelalak ngeri. Ia mencoba memadatkan Qi di sekeliling lehernya untuk melepaskan diri, namun cengkeraman Lin Tian terasa seperti jepitan hidrolik yang tidak bisa digoyahkan. Qi Naga Surgawi yang beringas langsung merambat masuk, mengunci meridian Yun Jian dan melumpuhkan kemampuannya untuk memanipulasi energi alam.

Gravitasi kembali bekerja. Tanpa ada Qi yang menyokongnya, tubuh kedua orang itu mulai jatuh bebas dari ketinggian ratusan kaki di udara.

Lin Tian tidak melepaskan cengkeramannya. Ia memutar tubuh Yun Jian ke bawah, menggunakan tubuh Penatua Alam Langit itu sebagai bantalan daging.

“Kau selalu memandang rendah orang lain dari atas langitmu, Yun Jian,” ucap Lin Tian saat mereka meluncur turun dengan kecepatan mengerikan. “Sekarang, izinkan aku mengenalkanmu pada kerasnya bumi.”

BLAAAAAARRRRGGGHHH!

Keduanya menghantam dasar kawah yang sebelumnya diciptakan oleh lompatan Lin Tian. Suara benturan tubuh Yun Jian yang menghantam tanah batu vulkanik terdengar sangat mengerikan. Tulang punggung, tulang rusuk, dan tengkorak belakang sang Penatua hancur berkeping-keping akibat menanggung seluruh dampak jatuhnya mereka dari langit.

Debu tebal membumbung tinggi, menutupi kawah raksasa tersebut. Selama beberapa tarikan napas, tidak ada suara yang terdengar selain rintihan angin malam yang melewati pepohonan yang tumbang.

Perlahan, kepulan debu itu memudar.

Di dasar kawah, Lin Tian berdiri tegak dengan satu kaki menginjak dada Yun Jian yang melesak ke dalam. Seluruh tubuh Lin Tian dipenuhi oleh luka robek yang dalam, darah emas kemerahan menetes deras dari lengan dan dadanya, menodai tanah berbatu. Ia bernapas dengan berat, dadanya naik turun dengan cepat. Ini adalah pertarungan paling menguras tenaga dan paling berbahaya yang pernah ia alami sejak menembus Alam Pembentukan Qi.

Di bawah kakinya, Yun Jian belum mati. Ketahanan hidup seorang ahli Alam Langit memang sangat tangguh. Namun, kondisinya tidak lebih baik dari sekadar tumpukan daging yang merintih. Mata arogan sang Penatua kini telah memudar, dipenuhi oleh kekosongan, keputusasaan, dan ketidakpercayaan absolut. Ia, seorang pilar dari Empat Sekte Lurus, dikalahkan oleh seorang pemuda yang kultivasinya dua alam di bawahnya.

“Kau… tidak akan… bisa lari…” Yun Jian memuntahkan darah segar yang bercampur dengan serpihan organ dalamnya. Suaranya sangat lemah, bagaikan embusan angin yang sekarat. “Sekte… akan… memusnahkanmu… hingga ke akar-akarmu…”

Lin Tian menunduk, menatap pria tua itu dengan wajah tanpa ekspresi.

“Biarkan mereka mencoba,” jawab Lin Tian dingin. “Tapi kau tidak akan berada di sana untuk melihatnya. Dan omong-omong, terima kasih atas pengiriman energi tepat waktu ini. Pusaran Qi-ku sangat membutuhkan makanan bergizi tinggi.”

Lin Tian mengangkat tangan kanannya, matanya kembali menyala dengan kilatan emas. Mutiara Naga Surgawi, yang seolah merasakan kelezatan hidangan di depannya, berputar liar. Daya hisap yang puluhan kali lipat lebih brutal dari sebelumnya meledak dari telapak tangan Lin Tian, langsung menutupi wajah Yun Jian.

“A-AAAARRRGGGHH!”

Itu adalah jeritan terakhir dari Penatua Yun Jian. Esensi kehidupan, darah murni, dan yang paling penting, fondasi Qi Alam Langit yang telah ia bangun selama ratusan tahun, ditarik keluar secara paksa dari meridiannya. Asap energi berwarna putih kebiruan yang sangat padat mengalir tanpa henti ke dalam telapak tangan Lin Tian.

Sensasi menyerap Qi Alam Langit benar-benar luar biasa. Lin Tian memejamkan matanya, menikmati aliran energi suci yang membanjiri meridiannya. Luka-luka robek di sekujur tubuhnya, yang diakibatkan oleh tebasan pedang raksasa sebelumnya, langsung menutup dan menyembuh dengan kecepatan yang menentang nalar, didorong oleh jumlah energi kehidupan yang masif.

Pusaran naga di dalam Dantian Lin Tian melahap energi itu dengan rakus. Kepadatan pusaran itu meningkat drastis, membesar, dan berputar semakin cepat. Hambatan kecil menuju tingkat menengah dari Alam Pembentukan Qi langsung dijebol tanpa perlawanan.

Bloop!

Suara letupan halus terdengar dari dalam tubuhnya. Alam Pembentukan Qi tingkat menengah!

Hanya butuh waktu beberapa hari sejak ia berada di Kota Baja Merah untuk melompati tahap kultivasi yang biasanya membutuhkan waktu belasan tahun bagi seorang jenius biasa. Semuanya berkat jalur perampasan mutlak dari Seni Kaisar Naga Surgawi.

Ketika Lin Tian akhirnya membuka matanya dan menarik tangannya, tubuh Yun Jian telah hancur menjadi debu putih yang berserakan di dasar kawah, tidak menyisakan apa pun selain Pedang Awan Zamrud yang retak dan sebuah cincin spasial yang mewah.

Lin Tian memungut cincin dan pedang tersebut. Ia membuang pedang yang retak itu karena tidak tertarik menggunakan senjata bekas, namun cincin spasial Penatua Alam Langit ini pastilah menyimpan kekayaan yang tidak kalah dari milik Yan Tuo.

“Sudah selesai,” Lin Tian menghela napas panjang, merenggangkan lehernya hingga berbunyi ‘krek’. Kekuatannya kembali pulih seratus persen, bahkan melampaui kondisi puncaknya sebelumnya.

Ia melompat ringan keluar dari kawah raksasa tersebut, berjalan menyusuri hutan yang hancur untuk kembali ke titik di mana ia meninggalkan Bai Xue.

Ketika ia tiba di bawah pohon ungu yang besar, ia mendapati Bai Xue telah menghilangkan kepompong esnya. Saintess itu berdiri dengan anggun, memancarkan aura Alam Langit yang sangat murni meskipun masih sedikit tidak stabil. Teratai Salju Seribu Tahun telah bekerja dengan sempurna, menyegel kutukannya dan mengembalikan sebagian besar kekuatannya.

Bai Xue menatap Lin Tian yang kembali tanpa pakaian atasan, kulitnya yang tembaga bersih dari luka, dan auranya yang kini berada di Alam Pembentukan Qi tingkat menengah. Ia menatap ke arah kawah raksasa di kejauhan, lalu kembali menatap Lin Tian.

“Kau membunuhnya,” ucap Bai Xue pelan, menggelengkan kepalanya tak percaya. “Seorang Penatua Inti Alam Langit dari Sekte Pedang Awan benar-benar terbunuh oleh seorang pemuda Pembentukan Qi. Jika aku tidak melihat ledakan energi tadi dengan mata kepalaku sendiri, aku akan mengira dunia ini sudah gila.”

“Dunia ini memang gila, Bai Xue,” Lin Tian tersenyum tipis, matanya memancarkan ketajaman yang tak berujung. “Dan aku berencana untuk membuatnya menjadi lebih gila lagi.”

Lin Tian berjalan melewati Bai Xue, memandang lurus ke arah kabut biru yang semakin menipis di kejauhan, menandakan bahwa mereka hampir mencapai jantung dari Hutan Ilusi Seribu Wajah. Di sanalah, Reruntuhan Makam Kuno dari pakar Alam Nirvana berada, menjanjikan harta karun, bahaya, dan lautan darah yang lebih besar.

“Pemanasan sudah selesai,” kata Lin Tian tanpa menoleh, suaranya dipenuhi antisipasi. “Mari kita lihat mainan apa yang disembunyikan oleh monster kuno di dalam makam itu. Dan mari kita sambut sisa anjing pelacak dari sekte-sekte ortodoks yang pasti sudah menungguku di sana.”

Langkah Lin Tian kembali berderap menyusuri kegelapan hutan. Bai Xue menghela napas panjang, tersenyum kecil di balik cadarnya yang tak terlihat, dan segera menyusul langkah sang Tiran Naga menuju episentrum badai berikutnya.