Bab 18: Tarian Bayangan Kematian dan Panen Darah Bumi
Gravitasi seolah kehilangan cengkeramannya pada tubuh Lin Tian saat ia menjatuhkan diri dari dahan pohon raksasa setinggi lima puluh kaki. Ia meluncur turun menembus lautan kabut ungu pekat tanpa menimbulkan riak udara sedikit pun. Jubah hitamnya berkibar meredam suara, mengubahnya menjadi manifestasi fisik dari bayangan kematian itu sendiri. Di bawahnya, dua orang Tetua Alam Bumi tingkat menengah dari Sekte Pedang Awan berjalan dengan sangat hati-hati, pedang mereka terhunus dan memancarkan Qi putih yang berkedip-kedip menahan Miasma Ilusi.
Kedua tetua itu, Tetua Zhao dan Tetua Li, saling memunggungi dalam radius lima langkah. Mata mereka terus bergerak liar, mencoba menembus kabut beracun yang sengaja dipertebal oleh Lin Tian menggunakan kelenjar Serigala Kabut.
“Kabut sialan ini semakin tidak wajar,” gerutu Tetua Zhao, suaranya terdengar tertahan dan sedikit bergetar. Ia mengayunkan pedangnya, melepaskan gelombang Qi untuk menyapu kabut di depannya, namun kabut ungu itu kembali menyatu hanya dalam hitungan detik. “Kompas spiritual kita benar-benar buta. Apakah kau merasakan fluktuasi iblis itu, Li?”
Tidak ada jawaban.
“Li?” Tetua Zhao menoleh sedikit ke belakang, keningnya berkerut tajam. “Jangan bercanda di tempat terkutuk ini. Tetap jaga formasimu!”
Masih tidak ada balasan. Kesunyian yang menjawabnya terasa jauh lebih pekat dan lebih dingin dari sebelumnya. Hati Tetua Zhao seketika mencelos. Keringat dingin sebesar biji jagung meledak dari pori-pori dahinya. Ia memutar tubuhnya sepenuhnya, memadatkan Qi Alam Bumi di sekeliling tubuhnya membentuk perisai bundar yang berpendar terang.
Hanya berjarak tiga langkah di belakangnya, berdiri sesosok pemuda berjubah hitam. Wajah pemuda itu tersembunyi di balik bayangan hutan, namun sepasang matanya menyala dengan kilatan emas murni yang memancarkan kekejaman predator absolut.
Di tangan kanan pemuda itu, Tetua Li tergantung tak bernyawa di udara. Leher tetua malang itu telah dipatahkan dengan sudut yang sangat mengerikan, seolah-olah tulang belakangnya hanyalah ranting kering yang diremukkan oleh jepitan jari baja. Mata Tetua Li melotot ngeri, lidahnya menjulur keluar, dan yang paling mengerikan adalah tubuhnya—tubuh seorang ahli Alam Bumi tingkat menengah—tengah mengering dengan kecepatan yang terlihat oleh mata telanjang, esensi Qi dan darahnya disedot habis ke dalam telapak tangan sang iblis.
“K-KAU…!” Mulut Tetua Zhao terbuka lebar untuk meneriakkan peringatan kepada rombongan lainnya, namun suaranya tercekat di tenggorokan.
Lin Tian tidak memberinya kesempatan. Ia melemparkan mayat Tetua Li yang telah berubah menjadi mumi kering ke arah Tetua Zhao sebagai proyektil. Mayat itu melesat dengan kekuatan ribuan jin, menghantam perisai Qi Tetua Zhao dengan suara dentuman keras yang meretakkan pertahanan tersebut.
Memanfaatkan keterkejutan musuhnya, Lin Tian melesat menembus pecahan perisai Qi. Kecepatannya di Alam Pembentukan Qi tingkat awal, ditambah dengan ledakan tenaga Tubuh Sisik Naga Tembaga, membuatnya tidak bisa ditangkap oleh mata fana.
“Seni Pedang Awan Pembelah—!”
Tetua Zhao mencoba mengayunkan pedangnya dengan sisa-sisa kepanikan, namun tangan kiri Lin Tian lebih dulu menepis bilah pedang baja berkualitas tinggi itu dengan punggung tangannya. Terdengar suara benturan logam yang keras. Pedang itu terpental ke atas, menggetarkan lengan Tetua Zhao hingga mati rasa.
Di detik berikutnya, tangan kanan Lin Tian yang memancarkan pendaran emas menembus pertahanan dada Tetua Zhao, telapak tangannya menghantam tepat di atas jantung pria paruh baya itu. Qi Naga Surgawi yang beringas langsung disuntikkan ke dalam meridian musuh, mengunci seluruh sirkulasi energi Alam Bumi milik Tetua Zhao dan membuat tubuhnya lumpuh seketika.
“Ssst,” desis Lin Tian pelan, jari telunjuk kirinya menempel di bibirnya sendiri yang menyeringai kejam. “Kematian harus dinikmati dalam keheningan.”
Daya hisap mengerikan dari pusaran naga keemasan di Dantian Lin Tian kembali meledak. Tetua Zhao hanya bisa membelalakkan matanya yang dipenuhi oleh teror absolut saat ia merasakan Qi sejati yang telah ia kumpulkan selama empat puluh tahun, beserta esensi darah dan kehidupannya, ditarik keluar secara paksa dari setiap sel tubuhnya. Rasa sakitnya melampaui segala bentuk penyiksaan fisik, namun ia bahkan tidak memiliki tenaga untuk menjerit.
Hanya butuh tujuh tarikan napas. Dua ahli Alam Bumi tingkat menengah dari sekte raksasa lenyap menjadi abu tulang yang jatuh berserakan di atas dedaunan busuk Hutan Ilusi.
Lin Tian menutup matanya sejenak, merasakan aliran energi murni yang luar biasa besar membanjiri meridiannya. Pusaran naga di Dantiannya berputar kegirangan, mencerna energi dari dua ahli Alam Bumi dan mengubahnya menjadi tetesan-tetesan Qi Naga Surgawi cair yang memperluas kapasitas Dantiannya.
“Kualitas energi Alam Bumi tingkat menengah memang tidak mengecewakan,” gumam Lin Tian, menjilat sisa darah yang mengering di sudut bibirnya. “Fondasi Pembentukan Qi tingkat awalku sudah benar-benar solid. Beberapa mangsa lagi, dan aku akan menyentuh ambang tingkat menengah.”
Tanpa membuang waktu, Lin Tian kembali melompat ke atas dahan pohon ungu, tubuhnya menyatu dengan kegelapan dan kabut. Ia bergerak layaknya hantu, berpindah dari satu dahan ke dahan lain, mengikuti getaran energi dari kelompok-kelompok pengejar lainnya.
Di sektor kiri belakang, kepanikan mulai merayapi kelompok dari Sekte Gunung Emas. Mereka terdiri dari tiga tetua Alam Bumi tingkat menengah dan Jin Wu, sang Tuan Muda yang wajahnya masih memar dan dipenuhi oleh dendam.
Kabut ungu di sekitar mereka semakin pekat. Miasma Ilusi, yang telah dicampur dengan darah Serigala Kabut Berwajah Manusia oleh Lin Tian, mulai memanipulasi pikiran mereka.
Jin Wu terus-menerus menoleh ke kiri dan ke kanan, tangannya menggenggam pedang emasnya dengan buku-buku jari yang memutih. Setiap bayangan pohon yang bergoyang terlihat seperti sosok pemuda berjubah hitam yang siap merobek lehernya. Trauma dari kedai kayu itu telah menanamkan benih ketakutan yang mengakar dalam di jiwanya.
“Tetua Han… apakah kalian yakin kita tidak tersesat?” suara Jin Wu bergetar. “Aku tidak mendengar suara dari kelompok Penatua Yun Jian di depan kita. Komunikasi spiritual kita juga terputus!”
Tetua Han, seorang pria tua berkepala plontos yang berada di puncak Alam Bumi tingkat menengah, mengerutkan keningnya dengan sangat dalam. Ia memegang sebuah tongkat batu giok yang terus-menerus memancarkan gelombang elemen tanah untuk menjaga stabilitas mental kelompoknya.
“Tuan Muda, tenanglah. Kabut ini memang formasi ilusi tingkat tinggi. Penatua Yun Jian menyuruh kita menjaga sektor belakang agar iblis itu tidak melarikan diri. Kita hanya perlu mempertahankan formasi dan merapat,” ucap Tetua Han, meskipun di dalam hatinya ia juga merasakan kegelisahan yang sama. Hutan ini terlalu sunyi. Kesunyian yang tidak wajar.
Tiba-tiba, dari arah kabut tebal di sebelah kiri mereka, sebuah bayangan hitam melesat dengan kecepatan kilat, diiringi oleh suara desisan yang mengerikan.
“Awas! Serangan musuh!” teriak salah seorang tetua lainnya, langsung mengayunkan pedangnya dan melepaskan bilah Qi elemen tanah yang membelah kabut.
Bilah Qi itu menghantam bayangan tersebut, membelahnya menjadi dua. Namun, tidak ada erangan kesakitan atau darah yang tumpah. Benda yang terbelah itu jatuh ke tanah dengan suara berdebuk ringan.
Ketiga tetua dan Jin Wu segera mendekat, pedang mereka terhunus siap membunuh. Saat mereka melihat apa yang jatuh di atas tanah, napas mereka serentak tertahan.
Itu bukanlah Lin Tian. Itu adalah setengah potong jubah putih bersulam awan emas yang telah robek-robek dan berlumuran darah kering. Di atas robekan jubah itu, tergeletak sebuah plakat giok identitas milik Tetua Li dari Sekte Pedang Awan.
“I-Ini… plakat identitas Tetua Li!” jerit Jin Wu, mundur beberapa langkah hingga menabrak punggung Tetua Han. Wajahnya yang arogan kini seputih kertas. “Tetua Li adalah Alam Bumi tingkat menengah! Jika plakatnya ada di sini dengan jubah berdarah… d-dia sudah mati! Iblis itu sedang membantai kita dalam kegelapan!”
Teror psikologis yang sengaja dirancang oleh Lin Tian bekerja dengan sangat sempurna. Miasma Ilusi memperkuat rasa takut Jin Wu hingga mencapai puncaknya, membuat Tuan Muda itu hampir kehilangan akal sehatnya. Ia memutar-mutar pedangnya ke udara kosong, menebas bayangan-bayangan halusinasi yang diciptakan oleh pikirannya sendiri.
“Mundur! Kita harus keluar dari hutan terkutuk ini! Aku tidak ingin mati di sini!” teriak Jin Wu histeris, berbalik arah dan bermaksud melarikan diri.
“Tuan Muda, hentikan! Jangan pisahkan diri dari formasi!” Tetua Han berteriak panik, mencoba meraih bahu Jin Wu. Di dalam Miasma Ilusi, terpisah dari kelompok sama saja dengan bunuh diri.
Namun, kepanikan telah menguasai logika Jin Wu. Ia memberontak dari pegangan Tetua Han dan berlari membabi buta menembus kabut ungu.
Di atas kanopi pohon tepat di atas mereka, Lin Tian menatap pemandangan itu dengan mata emas yang menyipit. Seringai kejamnya mengembang. Mangsa yang berlari keluar dari kawanannya adalah santapan paling lezat bagi predator.
“Tetua Sun, Tetua Ma, cepat kejar Tuan Muda! Bawa dia kembali!” perintah Tetua Han dengan marah, menunjuk ke arah hilangnya Jin Wu. Dua tetua lainnya segera mengangguk dan melesat menyusul Jin Wu, meninggalkan Tetua Han sendirian untuk menahan posisi belakang.
Itulah kesalahan fatal yang telah ditunggu-tunggu oleh Lin Tian. Formasi segitiga yang solid telah dipecah menjadi kepingan-kepingan rapuh.
Begitu kedua tetua itu menghilang ditelan kabut, tekanan spiritual yang luar biasa berat turun dari langit, mengunci ruang di sekitar Tetua Han. Pria plontos itu mendongak, matanya terbelalak melihat sosok berjubah hitam meluncur turun bagaikan komet emas kemerahan, menukik tepat ke arah kepalanya.
“Iblis!” raung Tetua Han. Ia menancapkan tongkat batu gioknya ke tanah. Qi elemen tanah memadat secara instan, membentuk pilar-pilar batu tajam yang melesat ke atas dari permukaan tanah, mencoba menusuk sate tubuh Lin Tian yang sedang jatuh. “Seni Hukuman Bumi: Penjara Seribu Tombak!”
Lin Tian tidak mengelak. Ia mengubah posisi tubuhnya di udara, mengarahkan kepalan tinju kanannya yang bersinar keemasan ke bawah. Pusaran naga di Dantiannya meraung, melepaskan kompresi Qi Pembentukan yang telah dicampur dengan kekuatan fisik murni.
“Hancur!”
BLAAAAAARRRRGGGHHH!
Tinju Lin Tian menghantam ujung pilar batu yang paling tajam. Bukannya tertusuk, pukulan Lin Tian yang membawa dominasi Mutiara Naga justru meremukkan pilar batu tersebut menjadi serbuk debu. Gelombang kejut dari pukulannya terus melaju ke bawah, menghancurkan seluruh Penjara Seribu Tombak milik Tetua Han seolah-olah menghancurkan deretan ranting kering.
Bebatuan hancur berhamburan. Tetua Han terpental ke belakang, tongkat gioknya patah menjadi dua, dan darah segar menyembur dari mulutnya. Ia menatap pemuda yang baru saja mendarat dengan mulus di atas tanah yang hancur itu dengan kengerian absolut. Kekuatan serangan itu bukan berasal dari teknik tingkat tinggi, melainkan dari kepadatan energi yang tidak masuk akal.
“Kau… kultivasimu… ini baru Alam Pembentukan Qi tingkat awal! Bagaimana Qi-mu bisa lebih padat dari elemen tanahku?!” erang Tetua Han, mencoba merangkak mundur.
Lin Tian melangkah maju perlahan. “Tanah di bawah kakiku tunduk padaku, bukan sebaliknya.”
Ia mengulurkan tangannya, Qi emas membentuk proyeksi cakar naga raksasa yang langsung mencengkeram seluruh tubuh Tetua Han, mengangkat pria tua itu ke udara. Tanpa membiarkan musuhnya mengucapkan kata-kata terakhir, Lin Tian mengaktifkan daya hisap Mutiara Naga Surgawi. Esensi kehidupan Tetua Han tersedot habis, memperkuat meridian Lin Tian sekali lagi. Mumi kering itu ia buang ke tanah, hancur menjadi debu vulkanik yang berbaur dengan Miasma.
“Tiga Alam Bumi,” gumam Lin Tian, merasakan Qi-nya semakin mendidih. “Sekarang, mari kita urus sisanya.”
Di tempat lain, sekitar setengah mil dari lokasi Tetua Han, Jin Wu berlari dengan napas terengah-engah. Paru-parunya terasa terbakar oleh kabut beracun yang mulai menembus pertahanan aura emasnya. Pikirannya kacau balau, dihantui oleh bayangan Lin Tian yang seolah mengikutinya dari setiap sudut.
“Tuan Muda! Tuan Muda Jin Wu, berhentilah!”
Suara panggilan dari Tetua Sun dan Tetua Ma terdengar dari belakangnya. Jin Wu menoleh dengan panik, melihat dua sosok bayangan berlari mendekat menembus kabut. Rasa lega sesaat membasuh hatinya.
“Tetua Sun! Tetua Ma! Syukurlah kalian menemukanku! Ayo kita segera keluar dari tempat terkutu—”
Perkataan Jin Wu terhenti. Suaranya tercekat di tenggorokan saat kedua sosok itu muncul dari balik kabut. Itu memang Tetua Sun dan Tetua Ma, namun kondisi mereka membuat Jin Wu langsung jatuh berlutut, air mata ketakutan mengalir deras di wajahnya.
Kedua tetua Alam Bumi tingkat menengah itu tidak berlari. Mereka berjalan dengan langkah yang diseret. Wajah mereka pucat pasi seperti mayat, mata mereka putih tanpa pupil, dan di dada mereka masing-masing terdapat lubang menganga yang menembus hingga ke punggung, darah segar terus mengalir membasahi jubah emas mereka.
Yang membuat pemandangan itu sangat surealis dan menakutkan adalah bahwa mereka masih bergerak, dikendalikan oleh sesuatu di belakang mereka.
Dari balik bayang-bayang di belakang kedua mayat hidup itu, sosok Lin Tian melangkah keluar. Kedua tangannya mencengkeram tengkuk mayat Tetua Sun dan Tetua Ma, menggunakan tubuh mereka sebagai boneka penyiksa psikologis. Lin Tian telah membunuh dan menyerap Qi mereka di tengah pengejaran, lalu menggunakan sisa-sisa refleks otot mayat mereka untuk berjalan mendekati Jin Wu.
Lin Tian melepaskan cengkeramannya. Kedua mayat tetua Sekte Gunung Emas itu jatuh berdebuk di depan lutut Jin Wu yang bergetar hebat.
“K-Kau… kau bukan manusia… kau adalah iblis yang bereinkarnasi!” jerit Jin Wu dengan suara yang melengking histeris. Ia merangkak mundur, tidak lagi memiliki keberanian untuk memegang pedangnya. Kesombongannya sebagai Tuan Muda salah satu dari Empat Sekte Lurus telah dihancurkan menjadi debu yang tidak berharga.
Lin Tian melangkah melewati kedua mayat itu, berjalan santai mendekati Jin Wu. Mata emasnya menatap pemuda yang merengek itu dengan kekosongan yang membekukan jiwa.
“Aku memberimu kesempatan di kedai itu, Jin Wu,” suara Lin Tian sangat pelan, namun setiap kata-katanya mengiris kewarasan Jin Wu. “Aku menyuruhmu menyampaikan pesan. Tapi kau memilih untuk kembali dengan membawa pasukan anjing pelacakmu. Di dunia persilatan, kebodohan yang diulang dua kali hanya memiliki satu bayaran.”
“TIDAAAK! KUMOHON! Ayahku… ayahku adalah Ketua Sekte Gunung Emas! Dia adalah ahli Alam Langit tingkat puncak! Jika kau membunuhku, dia akan meratakan seluruh wilayah ini untuk menemukanmu!” Jin Wu menggunakan ancaman terakhirnya, ancaman yang biasanya selalu menyelamatkan nyawanya.
Lin Tian mengangkat kaki kanannya, menempatkan sol sepatunya tepat di atas dada Jin Wu. Ia menekan sedikit saja, dan suara retakan tulang rusuk Jin Wu langsung terdengar. Tuan Muda itu menjerit kesakitan, batuk darah.
“Aku sangat berharap ayahmu datang,” Lin Tian menyeringai kejam. “Karena setelah aku menyerap Qi Alam Langit milik Penatua Yun Jian hari ini, aku akan membutuhkan makanan penutup yang lebih besar.”
Lin Tian mengalirkan Qi Naga Surgawi ke telapak kakinya. Bersamaan dengan itu, niat membunuh yang murni meledak.
“Sampaikan salamku pada dewa kematian.”
CRAT!
Kaki Lin Tian menginjak dada Jin Wu dengan kekuatan penuh, meremukkan tulang rusuk dan jantung pemuda itu secara bersamaan. Jin Wu, Tuan Muda Sekte Gunung Emas yang arogan dan lalim, mati seketika dengan mata terbelalak ngeri di dasar Hutan Ilusi Seribu Wajah, menjadi pupuk bagi pepohonan beracun di tempat itu.
Lin Tian tidak repot-repot menyerap Qi dari Jin Wu. Energi Alam Pembentukan Qi terlalu encer untuk memuaskan nafsu Mutiara Naga Surgawinya saat ini. Ia menendang mayat itu ke samping, lalu mendongak menatap langit hutan yang kelam.
Dari arah depan, sejauh satu mil, sebuah fluktuasi energi yang luar biasa dahsyat meledak bagaikan gunung berapi yang meletus. Kabut ungu yang pekat terkoyak secara paksa oleh pilar pedang Qi berwarna putih bersih yang membubung ke langit. Tekanan spiritual dari Alam Langit tingkat awal menyapu hutan, meratakan pepohonan dalam radius ratusan meter.
“SIAPA YANG BERANI MEMBANTAI TETUAKU DALAM KEGELAPAN?! KELUAR KAU, IBLIS PENgecut!”
Raungan Penatua Yun Jian dari Sekte Pedang Awan bergema hingga menggetarkan bumi. Ia akhirnya menyadari bahwa setengah dari pasukan pengejarnya telah lenyap tanpa suara, jejak spiritual mereka terputus secara mendadak. Amarah dan harga dirinya sebagai pakar Alam Langit telah terluka parah.
Mengetahui bahwa dirinya sedang dipermainkan oleh seorang buronan tingkat rendah, Yun Jian tidak lagi mempedulikan Miasma Ilusi. Ia membakar Qi asalnya, melepaskan Domain Pedang Alam Langit untuk memaksa Lin Tian keluar dari persembunyiannya. Ratusan bilah pedang energi melayang di udara di sekelilingnya, memancarkan niat membunuh yang menembus awan.
Lin Tian merasakan tekanan kuat dari Alam Langit itu menghantam kulitnya. Alih-alih merasa tertekan, darah di dalam pembuluh nadinya justru mendidih karena antusiasme yang gila. Pusaran naga di Dantiannya berputar liar, meraung meminta untuk dilepaskan. Ia telah melahap lima ahli Alam Bumi, dan kekuatan fisiknya telah berada pada kondisi super-puncak, siap untuk menantang hierarki alam semesta.
“Penatua Inti Alam Langit,” Lin Tian menyeringai lebar, mengepalkan kedua tinjunya hingga udara di sekitarnya terdistorsi oleh panas yang menguap dari tubuh tembaganya. “Mari kita lihat, apakah pedang yang membelah awan bisa menembus sisik naga surgawi.”
Tanpa menyembunyikan auranya lagi, Lin Tian melepaskan pilar cahaya keemasan dari tubuhnya. Ia menghentakkan kakinya, melesat ke arah pilar pedang putih tersebut dengan kecepatan meteor. Dua kekuatan penentang langit bersiap untuk saling menghancurkan, dan Hutan Ilusi Seribu Wajah akan menjadi saksi dari pertarungan epik yang akan mengubah konstelasi kekuatan di Benua Cakrawala.
Di tempat persembunyiannya yang terisolasi oleh dinding es, Bai Xue membuka matanya. Ia menatap ke arah dua pilar energi—satu putih bersih, satu emas kemerahan—yang saling berhadapan dari kejauhan. Tangannya mencengkeram erat kelopak Bunga Teratai Salju yang bercahaya.
“Kembalilah hidup-hidup, Lin Tian,” bisik Bai Xue pelan, matanya memancarkan keyakinan yang tak tergoyahkan pada pria yang telah memporak-porandakan akal sehat dunia persilatan itu. Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai.