Bab 23: Altar Badai Nirvana dan Niat Pedang Sang Jenius
Lorong di balik jembatan rantai berdarah itu terasa seperti tenggorokan monster purba yang terus-menerus menghembuskan napas kematian. Angin Astral tidak lagi melesat dalam bentuk bilah-bilah pisau acak, melainkan mengalir bagaikan sungai deras yang memiliki kesadaran sendiri. Dinding batu pualam hijau di sepanjang lorong ini telah terkikis selama ribuan tahun, menciptakan pola-pola spiral yang sangat halus dan licin hingga tidak ada satu pun pijakan yang aman bagi kultivator biasa. Gravitasi yang menekan tubuh mereka juga semakin tidak stabil; di satu langkah tubuh terasa seringan kapas, di langkah berikutnya beban sepuluh gunung seolah menimpa bahu.
Lin Tian memimpin di depan, mata emasnya menyala terang menembus kegelapan lorong yang hanya diterangi pendaran pelat giok di tangannya. Titik merah pada pelat giok miniatur itu berdenyut semakin cepat, menandakan bahwa pusat dari zona elemen angin ini sudah berada tepat di depan mata.
Sepanjang perjalanan, tubuh Lin Tian secara pasif menyerap sisa-sisa energi Angin Astral yang mencoba memotong kulitnya. Pusaran naga keemasan di Dantiannya bertindak layaknya penyaring kosmik. Setiap kali angin tajam itu menghantam Tubuh Sisik Naga Tembaga, energi liarnya dipecah, diserap melalui pori-pori, dan dilebur ke dalam aliran Qi-nya. Afinitasnya terhadap elemen angin meningkat tajam. Langkahnya menjadi sangat sunyi, tubuhnya bergerak menembus arus udara dengan hambatan nol, menyempurnakan Seni Langkah Bayangan Awan yang baru saja ia curi dari Sekte Pedang Awan menjadi sebuah teknik pergerakan yang jauh lebih buas dan efisien.
Di belakangnya, Bai Xue mengikuti dengan anggun. Pedang es di tangannya sesekali memancarkan cahaya biru untuk membekukan pusaran angin beracun yang mengarah kepadanya. Saintess itu mengamati punggung Lin Tian dengan saksama. Setiap kali pemuda itu melangkah, riak emas samar muncul di udara kosong di bawah telapak sepatunya, memungkinkannya berjalan lurus menembus gravitasi yang kacau balau seolah berjalan di atas tanah datar.
“Pemahaman bela dirinya benar-benar mengerikan,” batin Bai Xue. “Teknik Sekte Pedang Awan itu dirancang untuk menyelaraskan diri dengan angin. Tapi dia… dia tidak menyelaraskan diri. Dia menaklukkan angin itu, memaksanya menjadi pijakan padat untuk menopang berat tubuh fisiknya yang ekstrem. Ini adalah penistaan terhadap seni bela diri ortodoks, namun hasilnya jauh lebih mematikan.”
Beberapa ratus meter kemudian, lorong itu tiba-tiba berakhir. Mereka melangkah keluar dari terowongan batu dan langsung dihadapkan pada sebuah pemandangan yang menggetarkan jiwa.
Di hadapan mereka terhampar sebuah gua bawah tanah raksasa berbentuk kubah yang luasnya mencapai ukuran sebuah kota kecil. Di tengah-tengah gua raksasa itu, tidak ada lantai batu atau tanah. Yang ada hanyalah sebuah jurang tanpa dasar yang dipenuhi oleh pusaran awan hitam dan badai petir berwarna hijau. Dari dasar jurang tersebut, sebuah pilar batu tunggal yang ukurannya sebesar bukit menjulang tinggi ke atas.
Di puncak pilar batu raksasa itu, terdapat sebuah altar berbentuk teratai berdaun delapan yang terbuat dari kristal giok angin murni. Di tengah altar tersebut, melayang sebuah bola energi seukuran kepala manusia yang memancarkan cahaya hijau zamrud yang sangat menyilaukan. Bola energi itu berdenyut seperti jantung, melepaskan riak-riak Angin Astral yang begitu murni dan padat hingga ruang di sekitarnya tampak retak.
“Esensi Badai Nirvana,” bisik Bai Xue, napasnya sedikit tertahan melihat harta karun penentang langit tersebut. “Itu adalah kondensasi murni dari pemahaman elemen angin milik pakar Alam Nirvana yang membangun makam ini. Siapa pun yang berhasil menyerapnya tidak hanya akan mendapatkan peningkatan kultivasi secara masif, tetapi juga akan langsung memahami Hukum Angin tingkat tinggi. Bagi kultivator elemen angin, nilai bola itu setara dengan sebuah kerajaan.”
Namun, bola esensi itu tidak bisa diambil dengan mudah. Sebuah tornado raksasa yang terbuat dari bilah-bilah pedang angin berwarna perak berputar dengan kecepatan gila mengelilingi altar tersebut, bertindak sebagai perisai absolut. Tornado itu merobek segala sesuatu yang mencoba mendekatinya.
Lin Tian tidak langsung melihat ke arah harta karun itu. Perhatiannya langsung tertuju pada sesosok manusia yang sedang melayang di udara, berjarak sekitar dua puluh meter dari tornado perisai tersebut.
Sosok itu adalah seorang pemuda tampan dengan rambut hitam panjang yang diikat rapi ke belakang. Ia mengenakan jubah sutra putih perak yang berkibar anggun tertiup badai. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah kipas bulu bangau putih, sementara tangan kirinya berada di belakang punggung. Auranya sangat tenang, setenang permukaan danau di pagi hari, namun memancarkan fluktuasi Alam Langit tingkat awal yang sangat tajam, jauh melebihi aura mendiang Penatua Yun Jian.
Itu adalah Jian Wushuang, Jenius Nomor Satu Sekte Pedang Awan.
Jian Wushuang sedang menatap tornado perisai itu dengan mata menyipit. Kipas bulu di tangannya sesekali dikibaskan. Setiap kali ia mengibaskan kipas tersebut, puluhan pedang Qi berwarna putih bersih melesat, memotong udara, dan menghantam tornado perisai itu. Ledakan-ledakan kecil terjadi, namun perisai tornado itu segera memulihkan dirinya sendiri. Jian Wushuang sedang mencari titik kelemahan formasi purba itu dengan kesabaran seorang pemburu elit.
Di bawah pilar batu raksasa tersebut, di atas bebatuan yang menonjol dari dinding jurang, tergeletak puluhan mayat kultivator dari berbagai faksi kecil. Mereka tampaknya berhasil mencapai tempat ini lebih dulu, namun dibantai tanpa ampun oleh pedang Jian Wushuang sebelum sempat menyentuh altar.
Kehadiran Lin Tian dan Bai Xue di ujung lorong tidak mungkin luput dari indra tajam seorang ahli Alam Langit.
Jian Wushuang menghentikan serangannya pada tornado perisai. Ia perlahan memutar tubuhnya yang melayang di udara, menatap ke arah pintu masuk lorong. Wajah arogannya yang biasanya memancarkan senyum meremehkan kini menampilkan ekspresi ketertarikan yang dingin. Matanya menyapu sosok Bai Xue sejenak—mengenali aura suci dari Saintess Sekte Teratai Es meskipun wajahnya tertutup cadar—lalu tatapannya terkunci sepenuhnya pada pemuda berjubah hitam bertelanjang dada di sebelah wanita itu.
“Menarik,” suara Jian Wushuang mengalun di udara, memotong suara gemuruh badai dengan sangat jelas. Suaranya terdengar elegan, namun mengandung niat pedang yang membuat kulit terasa perih hanya dengan mendengarnya. “Aku meninggalkan Tetua Feng dan barisan elit di jembatan rantai untuk membersihkan sampah-sampah yang mencoba mengikuti jejakku. Namun, bukan mereka yang datang menyusulku, melainkan kau.”
Jian Wushuang menutup kipas bulunya dengan satu gerakan anggun. “Tubuh fisik yang memancarkan pendaran tembaga, aura Pembentukan Qi tingkat menengah yang luar biasa padat, dan bau darah anggota sekteku yang sangat pekat menguar dari pori-porimu. Kau pasti buronan kecil yang sedang dicari-cari oleh para tetua bodoh itu. Lin Tian, Iblis Kota Baja Merah.”
Lin Tian melangkah keluar dari ujung lorong, berjalan di atas seutas rantai besi raksasa yang membentang menuju pilar altar. Langkah kakinya mantap, mengabaikan angin kencang yang mencoba menjatuhkannya ke dalam jurang.
“Jenius Nomor Satu Sekte Pedang Awan,” balas Lin Tian, suaranya sarat akan ejekan dan dominasi absolut. “Kudengar kau memadatkan niat pedang di usia lima belas tahun. Namun dari apa yang kulihat, kau hanyalah seekor burung merak yang menari-nari di depan sebuah penghalang, tidak mampu memecahkannya bahkan setelah membuang-buang waktu mengusir semut.”
Senyum tipis di wajah Jian Wushuang seketika lenyap. Urat halus berkedut di sudut matanya. Bagi seorang jenius puncak yang selalu dipuja sejak lahir, dihina secara langsung oleh seorang kultivator dengan alam yang lebih rendah adalah penghinaan yang tidak bisa dimaafkan.
“Arogansimu sejalan dengan rumor yang beredar,” Jian Wushuang memancarkan niat membunuh yang murni. Udara di sekitarnya seketika dipenuhi oleh ribuan bilah pedang ilusi yang terbentuk dari Qi alam. “Kau mengalahkan Yun Jian yang sudah tua dan lamban, dan kau mengira kau memiliki kualifikasi untuk berbicara denganku dari level yang sama? Di mataku, Alam Pembentukan Qi tidak lebih dari setitik debu. Aku bahkan tidak perlu menghunus pedangku untuk mengakhiri hidupmu yang menyedihkan.”
Jian Wushuang melirik ke arah Bai Xue. “Dan kau, Saintess Teratai Es. Mengapa angsa putih sepertimu bergaul dengan gagak kotor ini? Berdirilah di pinggir. Setelah aku memotong kepala anjing liar ini untuk kuambil hadiahnya, aku mungkin akan mempertimbangkan untuk berbagi Esensi Badai Nirvana ini dengan sektemu, tentu saja dengan syarat kau bersedia melayaniku malam ini.”
Pelecehan verbal yang sangat arogan dan merendahkan itu membuat suhu udara di sekitar Bai Xue merosot tajam. Bunga es mulai terbentuk di bawah telapak kakinya, matanya memancarkan kemarahan sedingin es abadi.
Namun, sebelum Bai Xue sempat membalas, sebuah tawa yang luar biasa mengerikan meledak dari mulut Lin Tian.
Lin Tian menengadahkan kepalanya dan tertawa lepas. Tawanya begitu keras dan penuh dengan kekejaman hingga menutupi suara gemuruh badai di dalam gua raksasa tersebut. Tawa itu perlahan berhenti, digantikan oleh aura pembantaian yang begitu pekat hingga membuat warna udara di sekitarnya berubah menjadi merah darah.
Mata emas Lin Tian terkunci pada Jian Wushuang. Pusaran naga di dalam Dantiannya meraung gila.
“Kau menginginkan kepalaku? Kau menginginkan wanita yang berdiri di bawah perlindunganku?” Suara Lin Tian kini berlapis-lapis, membawa penindasan sang Kaisar Naga Surgawi. Ia melangkah maju di atas rantai besi. “Turunlah dari langit palsumu itu, Jian Wushuang. Hari ini, aku akan mematahkan seluruh tulang di tubuhmu, mencabut bulu merakmu satu per satu, dan memaksamu menelan niat pedangmu sendiri!”
“Mati kau, sampah!” raung Jian Wushuang, kesabarannya telah habis.
Ia mengibaskan kipas bulunya ke arah Lin Tian dengan gerakan menebas yang sangat kasar.
WUUUSSSHH!
Ratusan bilah pedang Qi berwarna perak melesat dari kipas tersebut. Namun, ini bukanlah serangan Qi biasa. Setiap bilah pedang itu mengandung Niat Pedang (Sword Intent). Niat Pedang adalah perwujudan dari pemahaman tertinggi seorang pendekar; ia tidak hanya memotong tubuh fisik, tetapi memotong jiwa dan ruang itu sendiri. Serangan ini berkali-kali lipat lebih mematikan daripada tebasan raksasa milik Penatua Yun Jian.
Melihat hujan pedang yang mematikan itu meluncur ke arahnya, Lin Tian tidak mundur atau menghindar. Ia tahu bahwa Niat Pedang memiliki kemampuan mengunci target.
“Hanya ini yang bisa kau lakukan?!” raung Lin Tian.
Ia menghentakkan kakinya ke atas rantai besi raksasa. Tubuh Sisik Naga Tembaga diaktifkan hingga mencapai puncak absolut. Ilusi sisik naga berwarna emas kemerahan muncul rapat menutupi kulitnya, memancarkan cahaya yang menyilaukan. Lin Tian mengepalkan kedua tangannya dan melontarkan rentetan pukulan lurus ke depan, menghantam hujan pedang tersebut dengan tinju kosongnya.
TRANG! TRANG! TRANG! BUMMM!
Ledakan energi meletus bertubi-tubi di atas rantai besi tersebut. Kekuatan fisik Lin Tian yang mengandung tekanan kompresi Alam Pembentukan Qi tingkat menengah bertabrakan langsung dengan Niat Pedang milik Jian Wushuang.
Pemandangan yang mengerikan terjadi. Niat Pedang itu memang luar biasa tajam. Meskipun Tubuh Sisik Naga Tembaga Lin Tian telah memakan esensi Akar Naga Darah, bilah-bilah pedang perak itu berhasil merobek ilusi sisik naganya, menyayat daging lengannya, dada, dan bahunya. Darah emas kemerahan menyembur ke udara.
Namun, rasa sakit itu sama sekali tidak menghentikan laju Lin Tian. Sebaliknya, setiap sayatan di tubuhnya membuat seringai di wajahnya semakin lebar dan gila. Regenerasi sel-selnya yang disokong oleh Mutiara Naga bekerja dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Luka yang merobek dagingnya seketika menutup, menyisakan otot yang semakin keras dan kebal terhadap ketajaman energi yang sama.
“Mustahil!” Jian Wushuang melebarkan matanya. Ia melayang mundur di udara, kipasnya terus mengibaskan serangan. “Niat Pedangku seharusnya memotong jiwa dan melumpuhkan meridiannya! Bagaimana bisa tubuh manusianya meregenerasi kerusakan Niat Pedang secepat itu?!”
“Niat Pedangmu terlalu tumpul untuk memotong naga surgawi!”
Lin Tian menerjang menembus badai pedang tersebut. Darah yang menetes dari tubuhnya tidak membuatnya lemah, melainkan mengubahnya menjadi dewa iblis berlumuran darah yang tidak bisa dihentikan. Saat jaraknya dengan Jian Wushuang tersisa kurang dari tiga puluh meter, Lin Tian mengaktifkan Seni Langkah Bayangan Awan yang telah ia mutasikan.
BUM!
Riak emas meledak di udara. Tubuh Lin Tian melesat ke atas, menentang gravitasi sepuluh kali lipat makam tersebut, dan muncul tepat di atas kepala Jian Wushuang. Kecepatannya benar-benar menghancurkan nalar seorang ahli Alam Langit.
Jian Wushuang merasakan ancaman kematian yang absolut. Bulu kuduknya berdiri. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, insting bertahannya menjerit peringatan merah. Ia membuang kipas bulunya dan langsung menghunus pedang perak panjang yang tergantung di pinggangnya—Pedang Awan Penembus Bintang, senjata pusaka tingkat Surga kelas bawah!
“Domain Pedang: Eksekusi Seribu Bintang!”
Jian Wushuang memutar pedangnya ke atas, menciptakan sebuah kubah yang terbuat dari ribuan pedang cahaya yang berputar dengan kecepatan gila, berniat untuk menggiling tubuh Lin Tian yang sedang jatuh ke arahnya.
Namun, Lin Tian sama sekali tidak mempedulikan pertahanan absolut tersebut. Ia menarik tinju kanannya ke belakang. Mutiara Naga di dalam Dantiannya meraung, mengalirkan seluruh Qi Naga Surgawi dan kekuatan fisiknya ke dalam satu titik di kepalan tangannya. Pusaran energi emas kemerahan meledak dari tinjunya, membentuk proyeksi kepala naga raksasa yang membuka rahangnya lebar-lebar.
“HANCURKAN!”
Lin Tian menghantamkan tinjunya lurus ke bawah, meninju tepat di pusat kubah Domain Pedang milik Jian Wushuang.
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHH!
Benturan antara kekuatan fisik yang menentang surga dan Domain Pedang Alam Langit menciptakan ledakan sonik yang meratakan udara di dalam gua raksasa tersebut. Jembatan rantai besi bergoyang hebat dan beberapa ruasnya putus, jatuh ke dasar jurang. Tornado yang melindungi altar di tengah gua bahkan sedikit beriak akibat gelombang kejut yang mengerikan ini.
Di langit, kubah pedang milik Jian Wushuang retak hebat. Niat Pedangnya yang dibanggakan berderak memprotes saat berhadapan dengan arogansi mutlak dari garis keturunan naga. Namun, senjata tingkat Surga di tangan Jian Wushuang bukanlah barang rongsokan. Pedang perak itu menahan tinju Lin Tian, mata pedangnya mengiris buku-buku jari Lin Tian hingga tulangnya terlihat, memercikkan darah emas yang sangat kental.
Keduanya terkunci di udara, saling menekan dengan kekuatan yang menghancurkan ruang di sekitar mereka.
Mata Jian Wushuang memerah karena tekanan Qi yang berbalik menyerang meridiannya. Ia memuntahkan seteguk darah segar, namun ia menatap Lin Tian dengan kegilaan seorang jenius yang harga dirinya terluka parah.
“Kau pikir kekuatan fisik buas ini cukup untuk mengalahkanku?!” raung Jian Wushuang, darah menetes dari sudut bibirnya. “Aku adalah pemilik Garis Keturunan Pedang Roh! Darahku adalah pedang, jiwaku adalah pedang!”
Tiba-tiba, fluktuasi aura Jian Wushuang meledak. Kulitnya memancarkan cahaya perak yang menyilaukan. Alih-alih memadatkan Qi dari luar, energi pedang yang luar biasa tajam meletus langsung dari dalam pembuluh darahnya. Garis Keturunan Pedang Roh miliknya telah diaktifkan sepenuhnya. Kekuatannya melonjak tajam, mendorong Lin Tian ke atas.
Bilah pedang perak itu secara perlahan mulai menembus pertahanan tinju Lin Tian, bersiap membelah lengan pemuda itu menjadi dua.
Merasakan rasa sakit yang menusuk sumsum tulang, Lin Tian tidak mundur. Ia justru tertawa terbahak-bahak. Tawa yang menggema berat dan penuh dengan kebiadaban murni.
“Garis keturunan fana yang menyedihkan!” suara Lin Tian berubah, tumpang tindih dengan gema raungan naga kuno. “Kau ingin beradu garis keturunan denganku?! Kau menantang lautan dengan secangkir air hujan!”
Pusaran naga di dalam Dantian Lin Tian, yang selama ini hanya mengalirkan Qi-nya secara pasif, kini dipicu secara paksa oleh ancaman eksternal yang menembus pertahanan garis keturunannya. Mutiara Naga Surgawi berdenyut dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Setetes darah esensi naga sejati—sisa murni dari Akar Naga Darah yang belum sepenuhnya berasimilasi—tiba-tiba pecah dan menyatu langsung dengan jantung Lin Tian.
Seketika, ledakan energi yang tidak bisa dijelaskan dengan logika fana meletus dari dalam tubuh Lin Tian.
Mata emas Lin Tian memancarkan cahaya yang membutakan. Ilusi sisik naga tembaga di lengannya seketika mengeras, bertransformasi menjadi sisik naga fisik yang nyata, berwarna perak kehitaman dengan garis-garis emas yang membara!
TRAAANGGG!
Pedang tingkat Surga di tangan Jian Wushuang, yang sebelumnya hampir membelah lengan Lin Tian, tiba-tiba terhenti secara absolut. Ketajaman Niat Pedang yang digerakkan oleh Garis Keturunan Pedang Roh itu hancur berkeping-keping saat bersentuhan dengan sisik naga sejati yang baru saja bermanifestasi di lengan Lin Tian.
“A-Apa… benda apa itu…?!” Mata Jian Wushuang terbelalak lebar, kengerian mutlak menghancurkan sisa-sisa kesombongannya. Sisik yang muncul di lengan pemuda itu memancarkan tekanan penindasan hierarki biologis yang membuatnya merasa seperti seekor serangga yang berhadapan dengan tuhan.
“Ini adalah akhir dari kesombonganmu,” bisik Lin Tian dingin.
Lin Tian memutar pergelangan tangannya yang kini bersisik. Dengan satu gerakan santai namun brutal, ia menepis pedang pusaka Jian Wushuang ke samping. Pertahanan Jian Wushuang hancur terbuka lebar.
Tanpa memberikan kesempatan sedetik pun bagi ahli Alam Langit itu untuk merapal teknik lain, tangan kiri Lin Tian melesat maju, menembus perisai Qi perak Jian Wushuang layaknya merobek sarang laba-laba, dan langsung mencengkeram tenggorokan Sang Jenius Nomor Satu itu dengan cengkeraman maut.
CRAT! Kuku-kuku Lin Tian yang kini menyerupai cakar naga menusuk masuk ke dalam leher Jian Wushuang, mengunci sirkulasi darah dan udara secara bersamaan. Tubuh Jian Wushuang kejang-kejang di udara, matanya melotot ngeri, pedang pusakanya terlepas dari genggamannya dan jatuh ke dasar jurang.
Qi Naga Surgawi yang beringas langsung disuntikkan ke dalam tubuh Jian Wushuang, menyegel Dantian Alam Langit miliknya secara absolut. Garis Keturunan Pedang Roh yang dibanggakannya merintih dan padam di bawah penindasan aura Naga Surgawi.
Gravitasi kembali menarik mereka berdua ke bawah. Lin Tian menekan tubuh Jian Wushuang, membawanya meluncur turun ke arah anjungan batu tempat altar itu berada.
BLAAAAAARRRRGGGHHH!
Lin Tian menghantamkan tubuh Jian Wushuang ke atas lantai batu pualam hijau di depan tornado perisai. Lantai itu hancur lebur, menciptakan kawah sedalam dua meter. Tubuh Jian Wushuang memantul, memuntahkan darah segar yang sangat banyak, tulang punggung dan tulang rusuknya hancur berantakan.
Sang jenius puncak yang sebelumnya melayang angkuh di langit, yang merendahkan Lin Tian sebagai semut dan mengancam akan menodai Bai Xue, kini terbaring tak berdaya bagaikan cacing tanah yang diinjak, menatap sepatu bot Lin Tian yang berlumuran darah.
Lin Tian berdiri menjulang di atasnya. Tubuhnya dipenuhi sayatan pedang, namun darah yang mengalir dari luka-lukanya telah berhenti. Sisik naga di lengannya perlahan memudar kembali masuk ke bawah kulitnya, menguras banyak energi mentalnya, namun ekspresi wajahnya tetap sedingin es.
“Di mana arogansimu sekarang, Jenius Nomor Satu?” Lin Tian meletakkan ujung sepatu botnya tepat di atas dada Jian Wushuang yang hancur. “Bukankah kau bilang Alam Pembentukan Qi tidak lebih dari setitik debu? Coba gunakan debu ini untuk menghentikan pendarahanmu.”
“Ugh… k-kau… bukan manusia…” Jian Wushuang terbatuk darah, matanya yang redup menatap Lin Tian dengan teror murni. Harga dirinya telah dihancurkan sehancur-hancurnya. “L-Lepaskan aku… Guru… Ketua Sekte… akan memberimu kekayaan apa pun jika kau membiarkanku hidup…”
“Aku akan mengambil kekayaan sektemu setelah aku membantai mereka semua,” jawab Lin Tian datar.
Ia tidak membuang waktu untuk berbicara lebih banyak dengan orang mati. Lin Tian menunduk, mengangkat tangan kanannya yang masih memancarkan pendaran Qi emas. Pusaran naga di Dantiannya, yang kelaparan setelah menggunakan manifestasi sisik naga sejati, bereaksi dengan liar.
“Tidak ada pengampunan bagi mereka yang berani menyentuh milikku,” Lin Tian melirik sekilas ke arah Bai Xue yang baru saja mendarat di ujung jembatan rantai, lalu kembali menatap Jian Wushuang.
Daya hisap mengerikan dari Mutiara Naga Surgawi meledak.
“T-TIDAAAAAAAAAAAK!”
Jeritan memilukan Jian Wushuang bergema di dalam gua raksasa itu. Esensi kehidupan, Qi Alam Langit yang sangat murni, dan yang terpenting, esensi dari Garis Keturunan Pedang Roh miliknya ditarik keluar secara paksa dari meridiannya. Asap energi perak bercampur merah darah mengalir deras masuk ke telapak tangan Lin Tian.
Rasa sakit dari pencabutan garis keturunan ini jutaan kali lipat lebih mengerikan daripada saat Dantian Lin Tian dihancurkan dulu. Tubuh Jian Wushuang mengering, meliuk-liuk dalam penderitaan yang tak tertahankan selama sepuluh tarikan napas penuh sebelum akhirnya hancur menjadi mumi kering, mati dalam penyesalan yang absolut.
Lin Tian memejamkan matanya. Energi Alam Langit murni dari seorang jenius puncak membanjiri Dantiannya. Pusaran naganya berputar sangat cepat, mencerna esensi tersebut. Hambatan menuju tingkat akhir Alam Pembentukan Qi berguncang hebat, retak, namun masih belum pecah. Ia membutuhkan dorongan terakhir.
Ia membuka matanya, menatap lurus ke arah tornado perak yang masih berputar di tengah altar. Di balik tornado itu, Esensi Badai Nirvana memancarkan cahaya hijau yang menggoda.
“Itu adalah kunciku menuju puncak,” gumam Lin Tian.
Ia menendang debu mayat Jian Wushuang ke samping, mengambil cincin spasial milik jenius itu, dan berjalan mendekati tornado perisai yang mematikan. Pertarungan belum berakhir. Harta karun sejati baru saja menunggunya, dan sang Tiran Naga siap untuk menelan badai itu hidup-hidup.