Bab 24: Menelan Badai Nirvana dan Puncak Pembentukan Qi

Ukuran:
Tema:

Tornado raksasa yang terbuat dari ribuan bilah angin perak itu berputar dengan kecepatan yang membelah nalar. Suara gemuruhnya menyerupai ribuan monster yang sedang mengamuk di dalam sangkar baja, menciptakan getaran yang merambat hingga ke tulang sumsum. Di pusat pusaran mematikan tersebut, Esensi Badai Nirvana memancarkan cahaya hijau zamrud yang berdenyut tenang, seolah mengejek siapa pun yang tergoda oleh pesonanya namun tidak memiliki kekuatan untuk menggapainya.

Lin Tian berdiri hanya sepuluh langkah dari dinding luar tornado itu. Angin kencang yang dihasilkan dari putaran tersebut meniup rambut hitamnya ke belakang secara brutal. Darah dari luka-luka sayatan yang ia derita selama pertarungannya melawan Jian Wushuang telah mengering, meninggalkan kerak merah keemasan di atas kulit tembaganya.

Di belakangnya, Bai Xue baru saja mendarat di atas anjungan batu pualam hijau. Mata biru sang Saintess menatap ngeri pada dinding badai perak di depan mereka. Ia bisa merasakan bahwa ini bukanlah sekadar rintangan alam, melainkan sebuah karya seni pembunuhan dari seorang master purba.

“Lin Tian, tunggu,” Bai Xue memperingatkan, melangkah maju namun tetap menjaga jarak aman dari hisapan angin. “Ini adalah Formasi Badai Pemusnah Jiwa. Pakar Alam Nirvana yang membangun makam ini tidak sekadar meletakkan esensinya begitu saja. Tornado ini ditenagai oleh urat nadi bumi di bawah gunung ini. Ia tidak akan pernah kehabisan energi. Bahkan jika kau menggunakan seluruh kekuatan fisikmu, bilah-bilah angin itu akan mencabik-cabikmu sebelum kau bisa menyentuh inti altar. Kau membutuhkan kunci formasi atau pemahaman absolut tentang elemen angin untuk membuka jalurnya.”

Lin Tian tidak menoleh. Matanya yang gelap memantulkan cahaya hijau dari dalam badai. Seringai tipis dan penuh arogansi perlahan terukir di wajahnya.

“Kunci adalah untuk mereka yang datang sebagai tamu dan meminta izin,” suara Lin Tian terdengar datar, namun mampu menembus gemuruh tornado dengan sangat jelas. “Aku datang ke sini sebagai penakluk. Aku tidak pernah meminta.”

Tanpa keraguan sedetik pun, Lin Tian melangkah maju.

“Kau gila!” Bai Xue berseru tertahan, secara refleks mengangkat tangannya untuk memanggil perisai es, mengira Lin Tian akan langsung terlempar kembali dalam bentuk potongan daging.

Namun, sang Tiran Naga telah membuat keputusannya. Saat kaki kanannya menyentuh batas luar tornado tersebut, pusaran naga di dalam Dantiannya meraung dengan kebuasan maksimal. Lin Tian tidak mencoba mencari celah. Ia memadatkan Qi Naga Surgawi ke seluruh permukaan kulitnya, mengaktifkan Tubuh Sisik Naga Tembaga hingga mencapai ambang batas ekstrem yang sebelumnya ia gunakan untuk menghancurkan pedang Jian Wushuang.

Ilusi sisik naga berwarna perak kehitaman dengan garis-garis emas kembali bermunculan, menutupi lengan, dada, dan wajahnya, mengubahnya menjadi wujud manusia setengah naga yang memancarkan dominasi purba.

TRAAAANG! TRANG! TRANG! TRANG!

Suara benturan logam yang sangat rapat dan memekakkan telinga meledak saat tubuh Lin Tian menembus dinding tornado. Jutaan bilah angin astral yang setajam pedang pusaka tingkat Surga menghantam tubuhnya secara bersamaan dari segala arah.

Rasa sakit yang luar biasa menusuk setiap saraf di tubuh Lin Tian. Bilah-bilah angin itu tidak hanya mencoba memotong dagingnya, tetapi juga mengandung energi yang berusaha mengoyak meridian dan jiwanya. Meskipun sisik naganya luar biasa keras, intensitas badai ini berasal dari sisa-sisa kekuatan Alam Nirvana. Perlahan-lahan, celah kecil mulai muncul di antara sisik-sisiknya. Darah emas kemerahan kembali merembes keluar, langsung tersapu oleh angin kencang.

“Tembus!” raung Lin Tian.

Ia tidak mempedulikan luka-lukanya. Otot-otot kakinya membengkak, menancap kuat ke lantai giok altar. Inci demi inci, ia mendorong tubuhnya maju melawan arus badai yang memiliki kekuatan setara dengan dorongan ribuan gajah liar.

Di dalam Dantiannya, Mutiara Naga Surgawi bereaksi terhadap rasa sakit dan tekanan ekstrem ini dengan cara yang paling brutal. Daripada bertahan, pusaran naga itu justru membuka daya hisapnya secara gila-gilaan. Sambil berjalan menembus badai, Lin Tian secara paksa menghirup dan menyerap bilah-bilah Angin Astral murni yang mencoba membunuhnya!

Ia menggunakan rasa sakit sebagai kuali peleburan. Energi angin murni yang masuk ke tubuhnya langsung dihancurkan oleh Qi naga, lalu diasimilasikan ke dalam aliran darahnya. Setiap langkah yang ia ambil membuat pemahamannya terhadap Seni Langkah Bayangan Awan dan elemen angin melonjak ke tingkat yang tidak pernah bisa dicapai oleh Jian Wushuang sekalipun.

Tiga langkah. Lima langkah. Tujuh langkah.

Jalan masuk yang hanya berjarak lima meter itu terasa seperti perjalanan melintasi neraka abadi. Darah Lin Tian membasahi lantai giok, namun segera menguap menjadi kabut merah karena suhu energi yang ekstrem.

Akhirnya, dengan satu dorongan terakhir yang memecahkan bebatuan di bawah kakinya, Lin Tian berhasil menembus dinding badai perak tersebut dan masuk ke dalam mata tornado.

Seketika, keheningan mutlak menyambutnya. Di dalam mata badai, tidak ada angin yang berhembus. Udara terasa hangat dan dipenuhi oleh aroma kehidupan yang luar biasa murni. Di tengah area berdiameter sepuluh meter ini, altar giok berbentuk teratai berdaun delapan berdiri dengan kokoh. Dan di atasnya, Esensi Badai Nirvana memancarkan cahaya zamrud yang menghipnotis.

Lin Tian berdiri dengan napas terengah-engah. Seluruh tubuhnya dipenuhi luka sayatan halus, dan ilusi sisik naganya perlahan memudar karena kehabisan tenaga. Ia tampak seperti seorang iblis yang baru saja merangkak keluar dari jurang siksaan. Namun, matanya menyala dengan kemenangan absolut.

“Pakar Alam Nirvana… kau meninggalkan camilan yang cukup merepotkan,” kekeh Lin Tian sambil berjalan mendekati altar.

Ia mengulurkan tangan kanannya, bersiap untuk meraih bola energi zamrud tersebut.

Namun, tepat saat ujung jarinya menyentuh permukaan cahaya hijau itu, sebuah anomali spiritual terjadi. Bola esensi itu tiba-tiba berdenyut dengan sangat keras. Dari dalam cahaya zamrud tersebut, sebuah proyeksi jiwa transparan melesat keluar dan langsung menembus dahi Lin Tian, masuk ke dalam lautan kesadarannya.

Proyeksi itu berubah bentuk menjadi sesosok bayangan pria tua berjubah hijau yang memancarkan aura dewa yang tak tersentuh. Itu adalah sisa kehendak (remnant will) dari pakar Alam Nirvana yang telah mati ribuan tahun lalu!

“Semut fana yang berani menyentuh warisan suciku!” Suara pria tua itu menggema di dalam lautan kesadaran Lin Tian, membawa tekanan jiwa yang bisa menghancurkan kewarasan kultivator Alam Langit menjadi serpihan debu. “Esensi ini disediakan untuk ahli pedang murni dengan hati yang selaras dengan angin! Kau, dengan tubuh yang berbau darah busuk dan aura yang biadab, tidak pantas menerima mahakaryaku! Hancurlah jiwamu dan jadilah pupuk bagi altar ini!”

Bayangan pria tua itu mengangkat tangannya, mencoba mengendalikan lautan kesadaran Lin Tian dan memadamkan api kehidupan pemuda tersebut dari dalam.

Bagi kultivator mana pun di Benua Cakrawala, diserang secara spiritual oleh sisa kehendak Alam Nirvana adalah vonis mati yang tak bisa dihindari. Kekuatan jiwa mereka berbeda dimensi.

Namun, pakar Nirvana ini telah membuat kesalahan paling fatal dalam eksistensi pasca-kematiannya. Ia telah memasuki ruang kesadaran yang dijaga oleh entitas yang menganggap Alam Nirvana tidak lebih dari debu di bawah cakarnya.

Di dalam lautan kesadaran Lin Tian, sebuah matahari emas raksasa perlahan terbit dari kegelapan.

Matahari itu bukanlah energi biasa, melainkan proyeksi langsung dari Mutiara Naga Surgawi. Dari dalam cahaya emas yang membutakan itu, seekor naga purba yang ukurannya menutupi seluruh dimensi kesadaran menampakkan wujudnya. Mata naga itu, yang masing-masing sebesar gunung, menatap ke arah bayangan pakar Alam Nirvana tersebut dengan penghinaan dan arogansi yang melampaui konsep waktu dan ruang.

ROAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRR!

Raungan naga itu tidak hanya sekadar suara. Itu adalah Hukum Kehancuran Absolut.

Tekanan jiwa dari pakar Alam Nirvana yang sebelumnya bertingkah seperti dewa, seketika membeku. Bayangan pria tua berjubah hijau itu membelalakkan matanya, wajahnya dipenuhi oleh kengerian yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

“E-Entitas macam apa ini?! T-Tidak mungkin! Keberadaan setingkat ini tidak mungkin bersemayam di dalam tubuh manusia fana rendahan—TIDAAAAAAAAAAK!”

Sebelum bayangan itu bisa memohon ampun, cakar naga emas ilusi turun dari langit kesadaran dan langsung menghancurkan sisa kehendak Alam Nirvana itu seperti memecahkan sebuah gelembung sabun. Jiwa pakar purba itu lenyap tanpa sisa, ditelan sepenuhnya oleh dominasi sang Kaisar Naga.

Di dunia nyata, Lin Tian hanya memejamkan matanya selama kurang dari satu detik. Saat ia membuka matanya kembali, kilatan keemasan di pupilnya memancarkan otoritas yang membuat ruang di sekitarnya bergetar.

“Orang mati seharusnya tetap diam,” gumam Lin Tian dingin.

Tanpa ada lagi halangan spiritual, Lin Tian langsung meraup bola Esensi Badai Nirvana itu dengan kedua tangannya. Ia tidak repot-repot menyimpannya ke dalam kotak atau mencoba menyerapnya perlahan melalui meditasi seperti yang dianjurkan oleh semua kitab suci bela diri. Ia menggunakan cara yang paling barbar dan paling efektif.

Lin Tian menekan bola energi zamrud itu langsung ke dada telanjangnya, tepat di atas posisi pusaran naganya.

BLAAR!

Cahaya hijau zamrud meledak, menutupi seluruh tubuh Lin Tian. Mutiara Naga di dalam tubuhnya berputar layaknya penggiling kosmik. Esensi Badai Nirvana, yang mengandung akumulasi energi angin murni selama ribuan tahun, secara paksa ditarik masuk menembus kulit, daging, dan tulang rusuk Lin Tian, mengalir lurus ke dalam Dantiannya.

Sensasinya seperti menelan ribuan badai topan secara bersamaan. Dantian Lin Tian, yang sebelumnya telah diperluas ke tingkat ekstrem oleh esensi Akar Naga Darah dan Qi dari para ahli Alam Bumi, kini diisi secara brutal oleh energi dari dimensi yang lebih tinggi.

Pusaran naga keemasannya melahap energi hijau zamrud tersebut. Warna emas murni di dalam Dantiannya kini memiliki kilauan hijau yang tajam dan dinamis. Meridian di sekujur tubuhnya berdenyut, mengembang, dan memadat berulang kali.

Hambatan menuju tingkat akhir Alam Pembentukan Qi, yang sebelumnya hanya retak, kini hancur berkeping-keping seolah ditabrak oleh palu raksasa.

Bloop!

Alam Pembentukan Qi Tingkat Akhir!

Namun, jumlah energi di dalam Esensi Badai Nirvana itu terlalu masif untuk sekadar berhenti di sana. Peningkatan kekuatan Lin Tian tidak melambat sedikit pun. Energi itu terus membanjiri seluruh sel tubuhnya, membersihkan sumsumnya, dan menggantikan Qi lamanya dengan kualitas energi yang berkali-kali lipat lebih padat.

Luka-luka sayatan di tubuhnya sembuh seketika. Otot-ototnya memancarkan pendaran cahaya yang sangat solid, bukan lagi sekadar tembaga, melainkan tembaga yang ditempa dengan esensi kristal naga. Tubuh Sisik Naga Tembaga miliknya resmi mencapai tahap Kesempurnaan Besar (Great Perfection) dari lapisan pertama. Pada tahap ini, tubuh fisiknya telah kebal terhadap semua serangan energi fana di bawah Alam Langit, dan kecepatannya ketika dibantu oleh elemen angin telah melampaui batasan suara.

Di dalam Dantiannya, gelombang energi terakhir dari esensi Nirvana menghantam dinding pusarannya.

BUMMM!

Sebuah ledakan aura yang sangat kuat meletus dari tubuh Lin Tian, menyapu keluar dan menghancurkan tornado perak yang melindungi altar. Dinding badai yang tak tertembus itu pudar seketika, lenyap ditiup oleh dominasi Qi pemuda yang baru saja lahir kembali tersebut.

Alam Pembentukan Qi Tingkat Puncak!

Hanya butuh satu perjamuan, Lin Tian melompati dua tahap kecil, berdiri dengan kokoh di puncak absolut sebelum Alam Bumi. Kepadatan Qi di dalam Dantiannya kini telah menyamai, atau bahkan melampaui, volume Qi milik seorang pakar Alam Langit tingkat awal.

Debu perlahan turun di tengah keheningan gua bawah tanah yang baru saja kehilangan badai pelindungnya.

Lin Tian berdiri di atas altar giok. Rambut hitamnya berkibar ringan ditiup sisa-sisa angin yang jinak. Kulit tembaganya memancarkan kilau sehat yang menakutkan, bebas dari cacat apa pun. Matanya yang gelap memancarkan ketenangan laut dalam, namun menyembunyikan badai naga yang siap menghancurkan dunia. Ia mengepalkan tangannya. Hanya dengan gerakan kecil itu, udara di telapak tangannya meledak akibat kompresi fisik yang terlalu padat.

“Kekuatan ini…” Lin Tian menghela napas, menghirup udara purba makam. “Terasa sangat memabukkan.”

Dari kejauhan, Bai Xue yang sedari tadi berlindung di balik perisai esnya berjalan mendekat. Langkahnya sedikit ragu. Ia menatap pemuda yang berdiri di atas altar itu seolah menatap dewa perang yang baru saja turun ke bumi. Aura penindasan yang dipancarkan Lin Tian kini bahkan membuat Bai Xue, yang memiliki fondasi Alam Langit, merasakan tekanan instingtual di dalam dadanya.

“Kau menelannya secara utuh, dan tubuhmu tidak hancur,” Bai Xue berhenti beberapa langkah dari altar, matanya menyapu tubuh atletis Lin Tian yang memancarkan pendaran energi. “Esensi tingkat Nirvana… kau benar-benar telah mematahkan setiap hukum kultivasi yang ada di benua ini, Lin Tian.”

Lin Tian menoleh ke arah Bai Xue. Seringai arogannya digantikan oleh ekspresi yang lebih tenang. Ia melompat turun dari altar dengan seringan bulu. Berkat asimilasi elemen angin dari Esensi Badai, gravitasi makam yang sepuluh kali lipat kini tidak lagi memiliki efek padanya. Ia merasa lebih ringan daripada saat ia berada di luar.

“Hukum diciptakan oleh mereka yang lemah untuk membatasi diri mereka sendiri,” jawab Lin Tian. Ia membuka telapak tangannya. Tiga buah kristal giok seukuran ibu jari yang berwarna hijau murni tergeletak di sana.

Kristal-kristal itu adalah Sisa Embun Angin, kristalisasi elemen yang tertinggal di atas altar setelah Esensi utamanya ia serap. Benda ini sangat berharga bagi praktisi elemen angin atau es untuk meningkatkan kelincahan mereka.

Dengan satu jentikan jari, Lin Tian melemparkan ketiga kristal itu ke arah Bai Xue.

Bai Xue menangkapnya dengan refleks. Sensasi dingin dan ringan langsung meresap ke telapak tangannya, menenangkan aura Yin di tubuhnya.

“Kau memberikanku ini?” tanya Bai Xue, sedikit terkejut. Di dunia ini, para kultivator biasanya akan membunuh satu sama lain hanya untuk mendapatkan satu butir kristal semacam itu.

“Anggap saja kompensasi karena kau telah menjadi penonton yang baik dan tidak menggangguku saat aku makan,” ucap Lin Tian santai, melangkah melewati Bai Xue menuju ke sisi belakang altar raksasa tersebut. “Gunakan itu untuk memulihkan mobilitas Alam Langitmu. Kita akan segera memasuki arena di mana kau mungkin perlu terbang untuk menghindari jebakan konyol.”

Bai Xue menatap kristal di tangannya, lalu menatap punggung Lin Tian yang kokoh. Meskipun mulut pemuda ini selalu tajam dan tanpa ampun, tindakannya menunjukkan sebuah proteksi yang aneh. Bai Xue menggenggam kristal itu erat-erat dan menyimpannya di balik lengan bajunya. Sudut bibirnya di balik cadar sedikit melengkung membentuk senyuman tipis yang sangat indah, sayang tidak ada yang bisa melihatnya.

“Lalu, ke mana kita sekarang?” Bai Xue segera menyusul langkah Lin Tian. “Jalur elemen angin ini sudah selesai. Harta utamanya telah kau serap. Namun, ini hanyalah satu dari empat cabang. Makam utama, tempat pil Nirvana dan warisan sesungguhnya berada, pasti masih tersembunyi di bawah kita.”

Lin Tian berhenti di belakang altar giok tersebut. Ia melihat ke bawah, ke dasar altar yang menyatu dengan pilar batu raksasa. Dengan ketajaman mata naganya, ia melihat serangkaian rune kuno yang diukir dengan pola melingkar di atas lantai batu. Pola itu memancarkan Qi elemen tanah yang sangat samar, menandakan sebuah mekanisme yang tersembunyi.

Alih-alih mencari tuas atau kunci, Lin Tian hanya mengangkat kaki kanannya dan menghentakkannya ke tengah pola rune tersebut dengan kekuatan fisik puluhan ribu jin.

BUMMM!

Lantai batu raksasa di sekitar altar bergetar hebat. Jaring-jaring retakan muncul, dan suara roda gigi perunggu raksasa yang berputar dari dalam perut gunung mulai terdengar. Perlahan-lahan, lantai batu di depan Lin Tian terbelah menjadi dua, membuka sebuah lorong tangga melingkar yang mengarah langsung ke dalam kegelapan absolut di bawah pilar batu tersebut.

Hawa panas yang menyengat, kontras dengan angin dingin di atas, berhembus dari dalam tangga itu. Tercium bau darah, belerang, dan aroma obat-obatan kuno yang sangat pekat.

“Jantung makam,” Lin Tian menatap ke bawah anak tangga itu. Matanya memancarkan rasa haus yang belum terpuaskan. Menyerap Esensi Nirvana telah membawanya ke Puncak Pembentukan Qi, namun untuk membentuk Fondasi Bumi (Earth Realm) dan memadatkan Qi di luar tubuh secara permanen, ia membutuhkan katalis yang jauh lebih mengerikan. “Sepertinya semua jalur pada akhirnya bermuara ke dasar lubang yang sama.”

“Mereka semua pasti sudah berkumpul di sana,” Bai Xue berdiri di samping Lin Tian. “Sekte Teratai Es, Kuil Bodhi, Kekaisaran Awan Biru… dan sisa-sisa Tetua dari Sekte Gunung Emas serta Sekte Pedang Awan yang mungkin telah menyadari bahwa Jenius dan rombongan mereka telah musnah.”

“Itu lebih baik. Menghemat waktuku untuk mencari mereka satu per satu,” Lin Tian mendengus pelan. Ia mengambil sebuah jubah hitam baru dari dalam cincin spasialnya dan mengenakannya, menutupi tubuh atletisnya. Ia tidak memakai topi bambunya lagi. Tidak ada gunanya bersembunyi ketika kau datang untuk mendominasi segalanya.

“Mari kita turun, Bai Xue. Sudah waktunya kita memberikan kejutan pada aliansi kemunafikan itu, dan mengklaim apa yang seharusnya menjadi milik naga.”

Dengan langkah yang tenang dan tanpa sedikit pun keraguan, Lin Tian menuruni anak tangga batu yang gelap gulita tersebut. Bai Xue mengikuti di belakangnya, membiarkan pedang esnya memancarkan cahaya biru redup untuk menerangi jalan mereka.

Perjalanan turun itu memakan waktu yang cukup lama. Udara semakin panas dan menekan, seolah mereka sedang berjalan menuju inti bumi. Dinding tangga melingkar ini dipenuhi oleh ukiran mural yang menggambarkan kebangkitan dan kejatuhan pakar Alam Nirvana di masa lalu, sebuah pengingat bahwa sekuat apa pun manusia, waktu akan mengikis segalanya. Kecuali, tentu saja, mereka berhasil mencapai keabadian.

Setelah sekitar tiga puluh menit menuruni ribuan anak tangga, cahaya merah darah mulai terlihat dari ujung terowongan. Suara ledakan energi, dentingan logam yang beradu, dan teriakan amarah manusia mengalun di udara yang panas.

Lin Tian dan Bai Xue mempercepat langkah mereka. Saat mereka keluar dari mulut terowongan, mereka tidak langsung masuk ke dalam arena, melainkan berdiri di sebuah balkon batu tinggi yang menjorok keluar dari dinding gua, memberikan mereka pandangan luas ke seluruh aula utama makam.

Pemandangan di bawah sana benar-benar spektakuler dan dipenuhi oleh kekacauan absolut.

Aula utama Makam Nirvana itu berukuran seluas alun-alun kota. Lantainya terbuat dari lempengan batu vulkanik yang mengambang di atas danau lahar magma yang mendidih. Di tengah-tengah danau magma tersebut, terdapat sebuah platform giok hitam berbentuk piramida terpotong. Di atas platform itulah, sebuah peti mati perunggu raksasa yang dihiasi sembilan naga melingkar terbaring dalam diam.

Tepat di atas peti mati perunggu itu, melayang tiga buah gelembung energi transparan. Di dalam gelembung pertama, terdapat sebuah pil emas yang memancarkan cahaya surgawi—Pil Nirvana. Di gelembung kedua, sebuah gulungan perkamen yang memancarkan Niat Bela Diri tingkat dewa. Dan di gelembung ketiga, sepasang sarung tangan tempur berwarna merah darah yang merupakan senjata pusaka tingkat Surga kelas menengah.

Harta karun penentang langit itu telah membuat semua aliansi faksi ortodoks mengabaikan topeng kemunafikan mereka.

Di bawah sana, perang skala penuh sedang berlangsung. Ratusan mayat dari berbagai sekte telah jatuh ke dalam danau magma, meleleh tanpa menyisakan tulang. Para ahli Alam Langit yang memimpin faksi mereka saling menyerang dengan teknik pamungkas yang menghancurkan lempengan batu tempat mereka berpijak.

Jenderal Kekaisaran Awan Biru sedang beradu tombak raksasa dengan Biksu Kepala Kuil Bodhi. Para Tetua Sekte Gunung Emas yang tersisa, yang wajahnya penuh dengan keputusasaan setelah kehilangan Tuan Muda mereka, mengamuk membabi buta ke arah barisan Sekte Pedang Awan.

Namun, pandangan Bai Xue langsung tertuju pada satu titik di sudut platform giok. Di sana, Tetua Mei dari Sekte Teratai Es bersama murid kesayangannya, Su Yin, sedang terdesak. Mereka dikepung oleh tiga ahli Alam Langit tingkat awal yang mengenakan jubah hitam tanpa lambang—pembunuh bayaran tingkat tinggi yang tampaknya disewa oleh faksi saingan untuk membersihkan Sekte Teratai Es dari persaingan.

Darah menetes dari bibir Tetua Mei, dan naga esnya telah hancur. Su Yin yang angkuh kini bersembunyi di belakang gurunya dengan wajah pucat pasi.

Melihat musuh bebuyutannya di dalam sekte sedang berada di ambang kematian, Bai Xue mengepalkan tangannya. Logikanya mengatakan untuk membiarkan mereka mati, namun hatinya sebagai bagian dari Sekte Teratai Es tidak bisa membiarkan faksi luarlah yang menghancurkan pilar sektenya.

Lin Tian, yang berdiri di sampingnya, melirik Bai Xue. Ia bisa membaca keraguan di mata sang Saintess dengan jelas.

“Kau ingin menyelamatkan wanita tua yang selalu mencoba menyingkirkanmu itu?” tanya Lin Tian datar, nada suaranya netral tanpa penghakiman.

“Dia adalah bagian dari kekuatan sekteku. Jika dia mati di sini oleh pembunuh bayaran faksi lain, posisi Sekte Teratai Es di dunia luar akan melemah,” Bai Xue menjawab, menekan rasa benci pribadinya demi kepentingan yang lebih besar.

Lin Tian mendengus pelan, sebuah senyuman tipis yang mematikan terukir di wajahnya. Ia menyilangkan lengannya, menatap kekacauan di bawah sana seperti dewa yang sedang memandang perkelahian semut.

“Kau terlalu memikirkan sekte yang bahkan tidak peduli padamu, Bai Xue,” Lin Tian mengangkat tangan kanannya. Pusaran naga di tubuhnya yang telah mencapai Puncak Pembentukan Qi mulai memancarkan resonansi yang membuat udara di atas balkon itu bergetar hebat. “Tapi karena kau adalah pemanduku… aku akan mengabulkan keinginanmu. Biar kubersihkan sampah-sampah di bawah sana, dan kita ambil semua mainan mengkilap itu sekaligus.”

Lin Tian melangkah ke ujung balkon. Tanpa repot-repot meneriakkan peringatan atau mengumumkan kedatangannya dengan gaya heroik, sang Tiran Naga menjatuhkan dirinya dari atas balkon setinggi seratus kaki tersebut, meluncur turun lurus ke arah pusat platform giok di tengah danau magma, siap mengubah perang empat sekte itu menjadi panggung pembantaian tunggal miliknya.