Bab 25: Meteor Sang Tiran dan Keputusasaan Empat Sekte
Udara di dalam aula utama Makam Nirvana terasa seperti berada di dalam tungku pandai besi kosmik. Suhu dari danau lahar magma yang mendidih di dasar ruangan menguapkan keringat para kultivator seketika, menggantikannya dengan hawa panas yang membakar paru-paru setiap kali mereka menarik napas. Ledakan teknik bela diri, kilatan pedang, dan raungan energi dari para ahli Alam Langit dan Alam Bumi saling berbenturan, menciptakan simfoni kehancuran yang memekakkan telinga.
Di salah satu sudut platform giok hitam berbentuk piramida, Tetua Mei dari Sekte Teratai Es terengah-engah. Darah segar menetes dari sudut bibirnya, membeku seketika saat bersentuhan dengan aura Yin yang mati-matian ia pertahankan. Gaun putih kebesarannya telah terkoyak di beberapa bagian, mengekspos luka sayatan yang menghitam akibat racun. Di belakangnya, Su Yin, murid kesayangannya yang biasanya selalu tampil angkuh, kini gemetar ketakutan sambil menggenggam pedangnya dengan buku-buku jari yang memutih.
Mereka berdua dikepung oleh tiga sosok berjubah hitam. Ketiganya adalah ahli Alam Langit tingkat awal, pembunuh bayaran profesional yang disewa oleh musuh politik Sekte Teratai Es. Mereka tidak mengeluarkan suara, tidak melontarkan ejekan, hanya bergerak dengan presisi mematikan untuk menguras sisa-sisa energi Tetua Mei.
“Guru… apa yang harus kita lakukan? Formasi Teratai Es kita sudah hancur,” isak Su Yin, matanya dipenuhi oleh keputusasaan saat melihat salah satu pembunuh bayaran itu mengangkat sepasang belati bergerigi yang meneteskan racun korosif.
“Diam dan bersiaplah untuk mati dengan kehormatan sekte kita!” desis Tetua Mei. Meskipun ia tahu ajalnya sudah dekat, kesombongannya menolak untuk memohon ampun. Ia memadatkan sisa-sisa Qi di dalam Dantiannya, bersiap untuk meledakkan intinya sendiri guna membawa ketiga pembunuh itu bersamanya ke alam baka.
Ketiga pembunuh bayaran itu menyadari niat Tetua Mei. Mereka saling bertukar pandang dalam diam, lalu menerjang maju secara serentak dari tiga arah berbeda. Kecepatan mereka membelah udara, bilah-bilah senjata mereka memancarkan niat membunuh yang mengunci setiap inci pergerakan Tetua Mei.
Namun, sebelum senjata-senjata mematikan itu bisa menyentuh kulit sang tetua, sebuah bayangan hitam melesat turun dari langit-langit gua dengan kecepatan yang melampaui meteor.
Tekanan angin dari jatuhnya bayangan itu begitu dahsyat hingga membuat magma di danau bawah bergolak liar, menciptakan ombak lahar setinggi belasan meter.
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHH!
Sosok itu menghantam lantai giok hitam tepat di tengah-tengah kepungan ketiga pembunuh bayaran dan Tetua Mei. Suara benturan yang dihasilkan mengalahkan seluruh suara pertempuran di dalam aula raksasa tersebut. Lempengan batu giok yang diklaim mampu menahan pukulan ahli Alam Langit itu hancur berantakan, menciptakan kawah sedalam tiga meter dan mengirimkan gelombang kejut yang luar biasa masif ke segala arah.
Ketiga pembunuh bayaran Alam Langit itu terhempas mundur sejauh belasan langkah, formasi serangan mereka hancur total. Tetua Mei dan Su Yin juga terdorong ke belakang, harus menancapkan pedang mereka ke lantai untuk tidak terlempar ke dalam danau magma.
Asap debu dan serpihan giok membumbung tinggi menutupi titik pendaratan. Pertempuran di seluruh penjuru aula tiba-tiba terhenti sejenak. Ratusan pasang mata, termasuk Jenderal Kekaisaran Awan Biru dan Biksu Kepala Kuil Bodhi, menoleh ke arah kawah tersebut dengan penuh kewaspadaan. Kehadiran yang baru saja turun ini memancarkan aura dominasi yang luar biasa biadab.
Dari balik kepulan debu yang perlahan menipis karena tertiup hawa panas, siluet seorang pemuda perlahan berdiri tegak.
Jubah hitamnya berkibar ringan, dan kulitnya memancarkan pendaran tembaga dengan kilauan emas kemerahan. Sepasang matanya yang berwarna emas murni menyala di tengah kegelapan, menatap ketiga pembunuh bayaran itu seolah mereka hanyalah serangga yang mengganggu jalannya.
“Siapa kau?!” salah satu pembunuh bayaran itu berseru dengan suara serak, matanya menyipit mencoba membaca kultivasi pemuda tersebut. Saat ia menyadari bahwa fluktuasi Qi pemuda itu hanya berada di puncak Alam Pembentukan Qi, keterkejutan melanda hatinya. Bagaimana mungkin seorang kultivator Pembentukan Qi bisa menciptakan daya hancur sebesar ini murni dari pendaratan fisiknya?!
Lin Tian tidak menjawab. Ia hanya memutar lehernya, membunyikan persendiannya dengan santai.
“Kau menghalangi jalan kami, bocah. Mati!” Pembunuh kedua, yang memegang sabit berantai, kehilangan kesabarannya. Ia tidak peduli siapa pemuda ini. Ia mengayunkan sabitnya, memadatkan Qi Alam Langit beracun ke dalam rantai tersebut, dan melemparnya ke arah leher Lin Tian. Sabit itu melesat seperti ular kobra berbisa yang mematikan.
Di mata Tetua Mei, serangan itu terlalu cepat untuk dihindari oleh siapa pun di bawah Alam Langit. Ia hampir menghela napas panjang, mengira pemuda misterius itu akan mati konyol.
Namun, di mata Lin Tian, sabit itu bergerak dalam tayangan lambat.
Lin Tian tidak mundur. Ia mengulurkan tangan kirinya dengan gerakan yang sangat kasual. Saat mata sabit itu berjarak satu inci dari kulit lehernya, jari-jari Lin Tian menutup, menjepit bilah sabit logam tajam itu di antara telunjuk dan ibu jarinya.
TRAAANG!
Suara logam beradu dengan logam bergema. Pembunuh bayaran itu membelalakkan matanya. Ia mencoba menarik rantainya kembali, namun sabit itu tidak bergerak sedikit pun, seolah telah tertanam ke dalam sebuah gunung besi.
“Racun yang sangat murahan,” komentar Lin Tian datar, melirik cairan hijau yang menetes dari sabit dan mencoba mengikis kulitnya, namun gagal total akibat perlawanan dari Tubuh Sisik Naga Tembaga.
Sebelum pembunuh itu bisa melepaskan gagang rantainya, Lin Tian menarik rantai itu ke arahnya dengan kekuatan puluhan ribu jin. Pembunuh Alam Langit itu terkesiap saat tubuhnya terseret paksa terbang melintasi udara menuju Lin Tian.
Lin Tian mengepalkan tangan kanannya, Qi Naga Surgawi yang berwarna emas murni meledak, membentuk proyeksi kepala naga yang mengaum. Ia melontarkan pukulan lurus ke depan, menyambut tubuh pembunuh yang sedang melayang itu.
BUMMM!
Tinju Lin Tian menghantam dada pembunuh itu dengan telak. Tidak ada perlawanan. Qi Alam Langit milik pembunuh itu hancur seperti kaca murahan. Tulang rusuknya remuk, dan organ dalamnya meledak seketika. Tubuh pembunuh itu terlempar ke belakang dengan kecepatan peluru, menabrak salah satu pilar penopang peti mati perunggu di tengah aula hingga pilar itu retak, dan jatuh ke dalam danau magma. Suara desisan daging yang terbakar terdengar singkat sebelum ia lenyap ditelan lahar.
Satu pukulan kasual untuk membunuh pakar Alam Langit tingkat awal!
Seluruh aula terjerumus ke dalam keheningan yang mencekik. Para ahli dari berbagai faksi melebarkan mata mereka, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan. Membunuh ahli Alam Langit bukanlah sesuatu yang mudah, bahkan bagi sesama Alam Langit sekalipun, namun pemuda ini melakukannya seolah sedang menepuk lalat.
Melihat rekan mereka mati dalam satu detik, dua pembunuh bayaran yang tersisa langsung dilanda teror absolut. Insting profesional mereka hancur. Tanpa perlu berdiskusi, keduanya berbalik arah dan melesat pergi, berniat melarikan diri dari monster berwujud manusia ini.
“Siapa yang mengizinkan kalian pergi?” suara Lin Tian bergema, dingin dan tanpa ampun.
Lin Tian menghentakkan kakinya. Seni Langkah Bayangan Awan yang telah dimutasi dengan kekuatan naga meledak. Riak emas muncul di udara. Tubuh Lin Tian menghilang dari pandangan, meninggalkan suara ledakan sonik di tempatnya berdiri.
Dalam waktu kurang dari kedipan mata, ia muncul tepat di belakang pembunuh kedua yang sedang melayang di udara. Tangan kanannya melesat, mencengkeram kepala pembunuh itu dari belakang. Lin Tian mengalirkan Qi Naganya, dan dengan satu putaran kasar, ia mematahkan leher sang ahli Alam Langit hingga tulang belakangnya menonjol keluar dari kulit. Ia membuang mayat itu ke bawah seolah membuang kain lap kotor.
Pembunuh ketiga yang melihat kematian rekannya langsung menjerit histeris. Ia menggigit lidahnya, membakar esensi darahnya untuk memicu teknik pelarian jarak jauh. Tubuhnya berubah menjadi bayangan darah yang melesat menuju pintu keluar.
Lin Tian tidak mengejarnya. Ia berhenti di udara, berpijak pada riak energi emas. Ia mengangkat tangan kanannya, mengarahkan telunjuknya ke arah pembunuh yang melarikan diri tersebut. Pusaran naga di Dantiannya memompa Qi murni dalam jumlah masif. Cahaya emas berkumpul di ujung jarinya, membentuk sebilah pedang kecil yang bersinar menyilaukan.
“Hancur,” gumam Lin Tian pelan.
Ia menjentikkan jarinya. Pedang Qi emas itu melesat membelah ruang, menciptakan vakum udara di jalurnya. Jarak ratusan meter ditempuh dalam hitungan milidetik.
JLEB!
Pedang emas itu menembus punggung pembunuh ketiga, tepat menembus jantungnya, dan keluar dari dadanya sebelum menghancurkan dinding batu di kejauhan. Pembunuh terakhir itu kehilangan momentumnya, jatuh dari udara, dan mendarat tepat di pinggir danau magma tanpa nyawa.
Tiga pembunuh Alam Langit tingkat awal, yang sebelumnya hampir merenggut nyawa Tetua Mei, dihabisi oleh Lin Tian dalam waktu kurang dari sepuluh tarikan napas.
Lin Tian melayang turun dengan perlahan, mendarat kembali di atas platform giok hitam, tidak jauh dari posisi Tetua Mei dan Su Yin. Ia bahkan tidak sedikit pun terlihat lelah; napasnya stabil, dan auranya kembali tenang, meskipun tekanan penindasan yang ia pancarkan masih membuat udara di sekitarnya terasa berat.
Su Yin mundur beberapa langkah hingga terjatuh dengan posisi duduk, tubuhnya gemetar hebat menatap Lin Tian. Tetua Mei, yang merupakan seorang veteran berpengalaman, juga tidak bisa menyembunyikan keterkejutan di wajahnya. Ia menatap pemuda itu dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Meskipun pemuda ini baru saja menyelamatkan nyawanya, di dunia Jianghu, tidak ada yang namanya pertolongan gratis.
“Siapa kau?” tanya Tetua Mei dengan suara serak, mencengkeram gagang pedangnya erat-erat. “Kekuatan fisik dan Qi-mu… kau jelas bukan berasal dari Kekaisaran Awan Biru. Mengapa kau membantu kami?”
Lin Tian memutar tubuhnya sedikit, menatap wanita tua itu dengan sudut matanya. Seringai merendahkan kembali menghiasi wajahnya.
“Jangan terlalu percaya diri, wanita tua,” jawab Lin Tian dingin. “Jika bukan karena seseorang memintaku untuk memastikan kau tidak mati hari ini, aku akan dengan senang hati membiarkan ketiga tikus itu mencincangmu dan membuang sisa dagingmu ke dalam magma.”
Tetua Mei mengerutkan keningnya. “Seseorang memintamu? Siapa—”
Ucapan Tetua Mei terpotong oleh suara kepakan yang sangat halus. Dari langit-langit gua di tempat Lin Tian turun sebelumnya, sesosok tubuh anggun melayang turun perlahan. Sepasang sayap yang terbuat dari kristal es murni membentang di punggungnya, memancarkan cahaya biru yang indah dan membekukan hawa panas di sekitarnya.
Sosok itu mendarat dengan lembut di samping Lin Tian. Gaun putihnya yang dihiasi bordiran teratai es berkibar pelan. Cadar putih menutupi wajahnya, namun aura suci dan mata birunya yang khas tidak bisa disembunyikan dari siapa pun di Sekte Teratai Es.
Mata Tetua Mei dan Su Yin melebar hingga titik maksimal. Mulut mereka terbuka, tidak mampu mengeluarkan suara.
“B-Bai Xue…?!” Su Yin akhirnya tergagap, suaranya dipenuhi ketidakpercayaan. “T-Tapi… kau menghilang berminggu-minggu yang lalu! Beberapa tetua mengatakan kau pasti sudah mati karena kutukan Rantai Es Absolut itu!”
Bai Xue berdiri dengan tenang di samping Lin Tian. Matanya menatap Tetua Mei dan Su Yin dengan ekspresi datar yang tidak memancarkan kehangatan maupun permusuhan.
“Maaf mengecewakan harapan kalian,” Bai Xue berbicara, suaranya sangat merdu namun sedingin angin musim dingin. “Kutukanku telah tersegel, dan kekuatanku sedang dalam proses pemulihan. Aku masih hidup, dan aku masih Saintess dari Sekte Teratai Es.”
Tetua Mei menelan ludah. Ia bisa merasakan fluktuasi Qi di tubuh Bai Xue. Meskipun belum kembali ke puncak masa kejayaannya, aura itu jelas berada di ambang batas Alam Langit, dan yang lebih menakutkan, ia tidak lagi merasakan hawa kematian dari kutukan yang selama ini melemahkan gadis itu.
Namun, yang membuat Tetua Mei benar-benar merasa kedinginan adalah posisi berdirinya Bai Xue. Sang Saintess suci dari sekte mereka berdiri sangat dekat dengan pemuda iblis yang baru saja membantai tiga ahli Alam Langit, dan sikapnya menunjukkan bahwa ia berada di bawah perlindungan pemuda tersebut.
“Bai Xue… apa artinya ini?” Tetua Mei bertanya, nada suaranya berubah menjadi lebih hati-hati. “Siapa pemuda ini? Dan apa hubungannya denganmu?”
“Dia adalah Lin Tian,” Bai Xue menjawab singkat. “Dan dia adalah alasan mengapa aku masih berdiri di sini hari ini.”
Penyebutan nama “Lin Tian” seolah menjadi mantra kutukan yang membekukan seluruh aula. Di perkemahan luar, rumor tentang Iblis Kota Baja Merah telah menyebar luas. Semua sekte ortodoks telah menerima laporan tentang pemuda berjubah hitam yang kekuatannya tidak masuk akal dan kesadarannya dipenuhi oleh niat membunuh sekte besar.
Di sisi lain platform raksasa tersebut, pertarungan antara para elit dari sekte lain telah berhenti sepenuhnya saat Lin Tian membantai ketiga pembunuh bayaran itu. Kini, mendengar identitas asli pemuda tersebut, suasana berubah drastis. Niat membunuh yang sangat pekat dan terkoordinasi mulai diarahkan dari barisan Sekte Pedang Awan dan Sekte Gunung Emas langsung kepada Lin Tian.
Seorang Tetua Utama dari Sekte Pedang Awan, yang mengenakan jubah kebesaran dengan corak awan emas yang jauh lebih mewah dari Yun Jian, melangkah maju dari barisannya. Auranya meledak, menunjukkan tingkat kekuatan Alam Langit tingkat menengah. Wajahnya merah padam oleh kemarahan yang membakar jiwa.
“LIN TIAN!” raung Tetua Utama itu, suaranya menggetarkan langit-langit makam. “Beraninya kau menampakkan wajah kotormu di hadapan Sekte Pedang Awan! Kau adalah iblis sesat yang telah membantai Diaken Ku Feng dan Penatua Yun Jian! Di mana kau menyembunyikan Penatua Yun Jian?! Dia ditugaskan untuk memburumu!”
Di sisi lain, dari barisan Sekte Gunung Emas, seorang tetua tua dengan janggut putih panjang dan tongkat batu giok raksasa juga maju. Matanya melotot tajam. “Dan di mana Tuan Muda Jin Wu kami?! Kelompoknya ditugaskan menjaga sektor belakang! Kau baru saja masuk dari arah sana, apa yang telah kau lakukan pada mereka, dasar keparat?!”
Dihadapkan pada kemurkaan dari puluhan ahli Alam Langit dan Alam Bumi dari sekte-sekte penguasa benua, Lin Tian sama sekali tidak menunjukkan sedikit pun rasa gentar. Ia bahkan tidak repot-repot memanggil Qi pelindungnya. Ia berdiri tegak, menyilangkan tangannya, dan tertawa sinis.
“Kalian ortodoks anjing selalu saja banyak bertanya tentang orang mati,” Lin Tian menggelengkan kepalanya pelan, seolah sedang berbicara dengan anak kecil yang bodoh.
Lin Tian mengangkat tangan kanannya, membalik telapak tangannya ke atas. Di jari telunjuk dan jari tengahnya, melingkar dua buah cincin spasial yang sangat mewah. Satu memancarkan aura pedang putih kebiruan, dan yang lainnya memancarkan aura elemen angin yang tajam.
“Kalian mencari Yun Jian dan Tuan Muda kalian yang bodoh itu?” Lin Tian menjentikkan kedua cincin itu ke udara, menangkapnya kembali dengan santai, mempermainkan barang peninggalan tersebut tepat di depan mata para elit sekte. “Mereka sangat berisik saat mengemis untuk nyawa mereka. Jadi, aku membungkam mereka untuk selamanya. Anggap saja cincin-cincin ini sebagai suvenir atas kunjunganku ke Hutan Ilusi.”
Pengakuan blak-blakan yang diucapkan dengan nada meremehkan itu bagaikan menyiram minyak tanah ke dalam kobaran api.
“KAU MEMBUNUH TUAN MUDA JIN WU?!” Tetua dari Sekte Gunung Emas memuntahkan darah karena syok dan amarah, tongkatnya menghantam lantai hingga retak. “Sekte Gunung Emas tidak akan pernah berhenti memburumu hingga ke kehidupanmu selanjutnya! Bunuh dia! Cincang tubuhnya menjadi ribuan keping!”
“Sekte Pedang Awan, bersiap membentuk Formasi Pedang Eksekusi Surga! Pemuda ini harus mati hari ini juga!” raung Tetua Utama Sekte Pedang Awan, mencabut pedang pusakanya yang bersinar terang.
Bahkan Jenderal dari Kekaisaran Awan Biru dan para Biksu Kuil Bodhi, yang sebelumnya tidak memiliki dendam langsung dengan Lin Tian, kini menatapnya dengan penuh permusuhan. Pemuda ini terlalu berbahaya. Kekuatannya di luar nalar, kekejamannya tidak memiliki batas, dan kehadirannya di aula ini adalah ancaman langsung bagi mereka semua untuk mendapatkan tiga harta Nirvana yang melayang di atas peti mati perunggu.
Di dunia Jianghu, ketika seorang jenius anomali yang tidak terafiliasi dengan faksi mana pun menunjukkan kekuatan yang bisa mengancam dominasi mereka, pilihan satu-satunya bagi sekte-sekte besar adalah bersatu dan menghancurkannya sebelum ia tumbuh lebih jauh.
Tetua Utama Sekte Pedang Awan menunjuk ke arah Tetua Mei dan Bai Xue. “Sekte Teratai Es! Pemuda iblis ini berdiri di dekat kalian, dan Saintess kalian tampak akrab dengannya! Apakah Sekte Teratai Es berniat melindungi musuh publik dari seluruh faksi ortodoks?!”
Kata-kata itu merupakan jebakan politik yang sangat mematikan. Jika Tetua Mei memihak Lin Tian, Sekte Teratai Es akan dianggap bersekutu dengan aliran sesat dan memicu perang dengan tiga sekte lainnya serta kekaisaran.
Tetua Mei, yang merupakan politikus licik, segera mengukur situasi. Meskipun Lin Tian baru saja menyelamatkannya, menghadapi kemurkaan gabungan dari faksi-faksi terbesar di benua adalah bunuh diri. Terlebih lagi, ia membenci Bai Xue.
“Sekte Teratai Es tidak memiliki hubungan apa pun dengan iblis ini!” teriak Tetua Mei dengan cepat, segera menarik lengan Su Yin dan melompat menjauh dari Lin Tian dan Bai Xue. “Jika Saintess Bai Xue memilih untuk berdiri di sisinya, itu adalah tindakan pribadinya dan merupakan bentuk pengkhianatan terhadap sekte! Kami tidak akan ikut campur dalam eksekusinya!”
Bai Xue menatap kepergian Tetua Mei dengan mata biru yang memancarkan kekecewaan dingin, namun tidak terkejut. Ia sudah lama mengetahui betapa busuknya hati sebagian petinggi sektenya. Ia tetap berdiri kokoh di samping Lin Tian, pedang esnya tergenggam erat. Ia telah membuat keputusannya. Jika ia harus melawan seluruh dunia demi pria yang telah menelan kutukannya dan memberinya nyawa kedua, ia akan melakukannya.
Melihat Bai Xue yang tidak beranjak dari sisinya, sudut bibir Lin Tian melengkung membentuk senyuman tulus yang sangat tipis. Di dunia yang dipenuhi oleh pengkhianatan, loyalitas yang ditunjukkan sang Saintess di hadapan tekanan kematian absolut memiliki nilai yang cukup tinggi di mata sang Tiran Naga.
“Kau yakin ingin berdiri di sini, Bai Xue?” Lin Tian bertanya pelan, matanya tidak lepas dari puluhan ahli Alam Langit dan Alam Bumi yang mulai menyebar membentuk formasi pengepungan raksasa di sekitar mereka. “Begitu pertarungan ini dimulai, kau tidak akan bisa kembali ke istana esmu yang nyaman itu.”
“Tempat di mana aku bisa bernapas tanpa kutukan yang mencekik leherku adalah tempatku yang sesungguhnya,” jawab Bai Xue tenang, memadatkan Qi Yin-nya hingga mengubah udara di sekitar mereka menjadi kristal salju yang melayang. “Lagipula, kau berjanji akan membantuku membersihkan sisa Rantai Es Absolut ini. Aku tidak akan membiarkan dokterku mati di tangan sekumpulan orang munafik.”
“Dokter, eh?” Lin Tian tertawa keras, tawa yang bergema menggetarkan dinding-dinding makam Nirvana, sarat akan arogansi dan dominasi absolut.
Ia melangkah maju, memposisikan dirinya tepat di antara Bai Xue dan kepungan aliansi sekte-sekte ortodoks. Ia mendongak, menatap ketiga gelembung energi yang berisi Pil Nirvana, Gulungan Niat Bela Diri, dan Sarung Tangan Pusaka yang melayang di atas peti mati perunggu di belakangnya.
Mata emasnya kemudian menyapu setiap wajah tetua, jenderal, dan jenius yang menatapnya dengan penuh kebencian.
“Dengar baik-baik, kalian semua semut-semut yang mengklaim diri sebagai penguasa!” Suara Lin Tian kini tidak lagi disembunyikan. Raungan naga purba menyertai setiap suku katanya, memberikan tekanan penindasan hierarki yang membuat lutut para kultivator Alam Bumi bergetar hebat. “Kalian datang ke sini untuk berebut remah-remah yang ditinggalkan oleh orang mati. Kalian saling tikam dari belakang seperti anjing liar kelaparan.”
Lin Tian mengangkat tangan kanannya yang memancarkan pendaran emas menyilaukan, menunjuk langsung ke arah tiga harta karun Nirvana di belakangnya.
“Namun, mulai detik ini, aturan di ruangan ini telah berubah. Tiga harta karun Nirvana ini, beserta segala isinya, adalah milikku.” Lin Tian menurunkan tangannya, mengepalkannya kuat-kuat, dan menatap lautan musuh di depannya dengan seringai paling buas yang pernah ia perlihatkan. “Siapa pun yang berani melangkah maju melewati batas ini, akan kucabut tulang punggungnya dan kujadikan bahan bakar untuk menyalakan kembali danau magma ini. Majulah, jika kalian merasa nyawa kalian terlalu panjang!”
Deklarasi yang sangat arogan dan mutlak itu menghancurkan sisa-sisa kesabaran para petinggi sekte.
“BUNUH IBLIS ITU!” raung Tetua Utama Sekte Pedang Awan.
“HANCURKAN DIA MENJADI DEBU!” teriak Tetua Sekte Gunung Emas.
Seketika, puluhan serangan pamungkas dari ahli Alam Langit tingkat awal dan menengah, dikombinasikan dengan ratusan serangan dari ahli Alam Bumi, diluncurkan secara bersamaan. Langit-langit aula makam seolah runtuh oleh badai Qi beraneka elemen—pedang cahaya, naga tanah, pilar api, dan telapak emas—semuanya mengarah pada satu titik: Lin Tian.
Menghadapi serangan yang bisa menghancurkan sebuah gunung menjadi kawah itu, Lin Tian tidak mundur selangkah pun. Di dalam Dantiannya, Pusaran Naga Surgawi berputar hingga mencapai batas singularitas. Pendaran emas kemerahan meledak dari tubuhnya, membentuk proyeksi ilusi Kaisar Naga yang menutupi dirinya dan Bai Xue.
Ini bukanlah pelarian. Ini adalah awal dari tarian darah sang Tiran Naga untuk mengklaim takhta absolutnya di Benua Cakrawala.