Bab 26: Amukan Kaisar Naga dan Kehancuran Aliansi Fana
Ratusan teknik pamungkas dari berbagai elemen—api yang membakar langit, pedang cahaya yang membelah awan, naga tanah yang mengaum dari dasar bumi, hingga telapak Buddha emas yang memancarkan aura penyucian—meluncur secara serentak melintasi udara aula Makam Nirvana yang panas. Ruang di dalam gua raksasa itu seolah hancur berkeping-keping, tidak mampu menahan kompresi energi dari puluhan ahli Alam Langit dan ratusan ahli Alam Bumi yang bersatu demi satu tujuan: melenyapkan Lin Tian dari muka bumi.
Di pusat badai kehancuran yang mengarah kepadanya, Lin Tian tidak bergeser satu inci pun. Ia berdiri tegak, menyilangkan kedua lengannya di depan wajah, sementara kedua kakinya menancap dalam-dalam ke lempengan batu giok hitam.
Pusaran Naga di dalam Dantiannya yang telah mencapai Puncak Pembentukan Qi meledak dengan kecepatan yang melampaui batas kewarasan. Qi Naga Surgawi berwarna emas kemerahan menyembur keluar dari setiap pori-pori kulitnya, membentuk sebuah proyeksi ilusi raksasa di sekeliling tubuhnya dan Bai Xue. Proyeksi itu bukanlah sekadar perisai energi biasa, melainkan wujud separuh badan dari Kaisar Naga purba yang melingkarkan sayap dan cakar emasnya untuk melindungi sang inang.
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHH!
Benturan pertama terjadi saat pilar pedang cahaya raksasa dari Tetua Utama Sekte Pedang Awan menghantam dahi proyeksi naga emas tersebut. Suara ledakan yang dihasilkan mengalahkan raungan magma di danau bawah mereka. Kilatan cahaya putih dan emas yang menyilaukan membutakan mata setiap orang di dalam aula selama beberapa detik.
Gelombang kejut dari benturan itu menyapu lantai platform giok hitam, merobek bongkahan-bongkahan batu sebesar rumah dan melemparkannya ke dalam lautan lahar yang mendidih.
Serangan tidak berhenti di situ. Telapak Buddha emas dari Kuil Bodhi, pilar-pilar batu tajam dari Sekte Gunung Emas, dan ratusan tombak Qi dari prajurit Kekaisaran Awan Biru menghujani kubah naga emas tersebut tanpa henti seperti badai meteor di hari kiamat.
Getaran yang dihasilkan dari serangan gabungan itu membuat tulang-tulang di sekujur tubuh Lin Tian berderit keras. Ilusi naga emasnya mulai berkedip-kedip, retakan-retakan halus muncul di permukaan perisai energinya. Menahan kekuatan destruktif berskala pasukan elit secara frontal benar-benar menguji batas ketahanan Tubuh Sisik Naga Tembaga miliknya yang telah mencapai Kesempurnaan Besar.
Di belakangnya, Bai Xue telah menusukkan pedang esnya ke lantai, mengalirkan seluruh Qi Yin murninya untuk menciptakan jangkar absolut agar mereka tidak terhempas dari platform. Hawa dingin dari tubuh Bai Xue mengalir ke punggung Lin Tian, membantu mendinginkan darah pemuda itu yang mendidih akibat tekanan ekstrem.
“Kalian menyebut ini sebagai kekuatan pemusnah dari aliansi ortodoks?!” Suara tawa Lin Tian tiba-tiba meledak dari balik lautan cahaya yang menghantamnya. Tawa itu menggema liar, penuh dengan ejekan yang merobek harga diri para penyerangnya. “Rasanya seperti sekelompok nyamuk yang mencoba meruntuhkan gunung batu!”
Mendengar provokasi itu, wajah para tetua sekte menjadi ungu karena amarah.
“Jangan berhenti! Dia sedang menggertak! Perisai iblisnya sudah mulai retak! Alirkan seluruh Qi kalian!” raung Tetua Utama Sekte Pedang Awan, membakar esensi darahnya untuk memperbesar pedang cahayanya.
Namun, yang tidak mereka ketahui adalah, Lin Tian sama sekali tidak menggertak. Retakan pada perisai naganya bukan terjadi karena ia tidak mampu menahannya, melainkan karena ia secara paksa mengompresi perisai itu untuk meledakkannya dari dalam!
“Waktunya kalian belajar terbang tanpa sayap,” bisik Lin Tian dingin.
Mata Lin Tian menyala terang. Ia merentangkan kedua lengannya dengan gerakan yang sangat kasar dan brutal. Bersamaan dengan itu, proyeksi naga emas raksasa yang melindunginya mengaum, membuka rahangnya lebar-lebar, dan meledak ke luar!
BUMMMMM!
Sebuah badai gelombang kejut yang murni terbuat dari Qi Naga Surgawi meletus dengan daya tolak yang tidak bisa dihentikan. Ratusan teknik Qi yang sedang menekan perisai tersebut seketika hancur berantakan, terlempar kembali (rebound) ke arah para penggunanya.
Jeritan histeris memenuhi aula. Ratusan kultivator Alam Bumi di barisan depan langsung memuntahkan darah saat teknik mereka sendiri dipantulkan kembali menghantam dada mereka. Puluhan dari mereka terlempar ke udara layaknya daun kering yang tertiup badai topan, melayang tak berdaya sebelum akhirnya jatuh tercebur ke dalam danau lahar yang membara di bawah platform. Suara desisan daging yang terbakar menjadi melodi kematian yang mengerikan.
Bahkan para ahli Alam Langit tingkat awal dan menengah harus terdorong mundur belasan langkah, menggunakan senjata mereka sebagai rem di atas lantai giok untuk menahan dorongan badai tersebut.
Belum sempat mereka mengatur kembali napas dan formasi mereka, sosok bayangan hitam telah melesat dari titik episentrum ledakan.
Lin Tian menggunakan Seni Langkah Bayangan Awan yang telah dimodifikasinya, menciptakan pijakan-pijakan riak emas di udara. Ia melesat dengan kecepatan yang meninggalkan jejak vakum panjang. Target pertamanya bukanlah Sekte Pedang Awan, melainkan barisan para biksu dari Kuil Bodhi yang sedang merapal mantra pelindung di sektor timur.
“Formasi Penunduk Iblis Vajra! Segel dia!” teriak Biksu Kepala Kuil Bodhi, seorang ahli Alam Langit tingkat awal yang tubuhnya memancarkan cahaya emas suci.
Belasan biksu botak berjubah kuning duduk bersila di udara, memutar tasbih kayu mereka dengan kecepatan gila. Aksara-aksara Sanskerta berwarna emas bermanifestasi di udara, membentuk rantai-rantai cahaya yang melesat untuk mengikat kaki dan tangan Lin Tian yang sedang melayang ke arah mereka. Aksara tersebut mengandung energi Yang murni yang diklaim mampu membakar iblis dan aliran sesat dari dalam ke luar.
Rantai-rantai aksara emas itu berhasil melilit pergelangan tangan dan kaki Lin Tian. Namun, saat energi penyucian itu mencoba membakar Qi di tubuh pemuda tersebut, sebuah fenomena yang membuat para biksu itu membelalakkan mata terjadi.
Energi Yang suci dari Kuil Bodhi itu tidak membakar Lin Tian. Sebaliknya, ia diserap dengan sangat rakus! Mutiara Naga di dalam tubuh Lin Tian sama sekali tidak memiliki atribut “iblis” atau “sesat”. Ia adalah inkarnasi dari energi primordial yang paling murni dan paling mendominasi. Energi penyucian fana itu langsung ditelan dan diubah menjadi bahan bakar.
“Kalian ingin menundukkan iblis?” Lin Tian menyeringai lebar, menarik kedua tangannya dengan santai.
TRANG! TRANG!
Rantai-rantai aksara emas itu putus berkeping-keping seolah terbuat dari benang rapuh. Tanpa membuang momentum, Lin Tian menerjang masuk ke tengah-tengah formasi para biksu.
“Tinju Pemecah Batu!”
Ia tidak menggunakan teknik yang rumit. Lin Tian memusatkan kekuatan fisik murninya yang mencapai ratusan ribu jin ke kepalan tangannya. Tinjunya menghantam dada Biksu Kepala yang langsung memanggil Lonceng Pelindung Emas—pertahanan mutlak milik Kuil Bodhi yang diklaim tak bisa ditembus oleh senjata fana.
BLAAARRRGGGHHH!
Suara lonceng yang pecah bergema memekakkan telinga. Lonceng ilusi emas itu hancur menjadi serpihan cahaya, dan tinju Lin Tian terus melaju, menembus dada Biksu Kepala tersebut hingga punggungnya berlubang. Darah segar menyembur mewarnai jubah kuning sang biksu menjadi merah pekat. Biksu itu mati seketika dengan mata melotot, tidak percaya bahwa pertahanan sucinya dihancurkan oleh kekuatan otot murni.
“Biksu Kepala!” jerit para biksu lainnya dengan horor absolut.
Lin Tian tidak memberi mereka waktu untuk berduka. Tubuhnya berputar layaknya gasing berduri, kedua kakinya melancarkan tendangan-tendangan sapuan yang dilapisi Qi Naga Surgawi. Setiap tendangannya mematahkan leher, menghancurkan tulang rusuk, dan meremukkan tengkorak para biksu elit Alam Bumi tersebut. Dalam waktu lima detik, barisan timur dari Kuil Bodhi telah diubah menjadi tumpukan daging dan darah yang tak berbentuk.
“Gila… dia benar-benar monster!” teriak salah seorang jenderal dari Kekaisaran Awan Biru, keringat dingin membanjiri wajahnya yang dipenuhi bekas luka perang. Ia telah memimpin ribuan pasukan di medan pertempuran, namun belum pernah melihat pembantaian sepihak sebrutal ini.
“Sekte Gunung Emas! Gunakan elemen tanah untuk mengunci pergerakannya dari bawah! Jenderal, pimpin prajurit kekaisaran untuk menjepitnya! Sekte Pedang Awan akan mengeksekusinya dari atas!” komando Tetua Utama Sekte Pedang Awan, mencoba mengembalikan koordinasi aliansi yang mulai runtuh.
Lima tetua Sekte Gunung Emas yang tersisa segera menghentakkan tongkat dan pedang mereka ke lantai giok. Qi elemen tanah yang sangat masif memadat.
“Seni Tanah Kuno: Rawa Penelan Jiwa!”
Lantai batu giok padat di bawah kaki Lin Tian yang baru saja menghabisi para biksu seketika berubah wujud menjadi pasir hisap hisap berwarna cokelat keruh yang berputar dengan kekuatan gravitasi yang sangat ekstrem. Pasir hisap itu langsung menelan tubuh Lin Tian hingga sebatas lutut, berusaha menyeretnya ke dalam perut bumi.
Di saat yang sama, puluhan prajurit elit Kekaisaran Awan Biru melesat maju dengan formasi tombak melingkar, mengunci semua arah horizontal, sementara Tetua Utama Sekte Pedang Awan melompat tinggi ke udara, pedang pusakanya memancarkan cahaya sepanjang dua puluh meter, siap membelah Lin Tian yang sedang terperangkap.
Melihat jebakan maut tiga arah yang tertutup rapat, Lin Tian mendengus pelan.
“Trik anak-anak,” geramnya.
Pusaran Naga di Dantiannya berputar ke arah sebaliknya. Qi naga yang sebelumnya difokuskan pada pertahanan luar kini disalurkan sepenuhnya ke dalam aliran darah dan otot-otot kakinya. Kekuatan fisik absolut dari Tubuh Sisik Naga Tembaga meledak.
Lin Tian tidak menggunakan teknik untuk terbang. Ia murni menggunakan kekuatan kakinya untuk menendang dasar dari formasi Rawa Penelan Jiwa itu!
KRAAAAK… BUMMMMM!
Seluruh platform giok berbentuk piramida itu berguncang hebat, seolah-olah dasar dari makam ini baru saja dihantam gempa bumi berskala dewa. Kekuatan tendangan Lin Tian merusak struktur formasi tanah tersebut hingga ke akar Qi-nya. Rawa hisap itu meledak ke atas seperti geyser lumpur, memuntahkan batu dan pasir ke segala arah dengan kecepatan peluru.
Tubuh Lin Tian melesat ke atas dari ledakan lumpur tersebut, membebaskan diri dengan paksa dan langsung menghancurkan formasi tombak prajurit kekaisaran yang hendak menusuknya. Gelombang kejut dari lompatannya mematahkan tombak-tombak baja mereka menjadi serpihan berkarat, menghempaskan puluhan prajurit itu ke belakang.
Di udara, Lin Tian kini berhadapan langsung dengan Tetua Utama Sekte Pedang Awan yang sedang turun dengan pedang cahaya raksasanya.
“Kau terlalu banyak melompat, anjing tua!” raung Lin Tian.
Alih-alih memanggil senjata Qi, mata Lin Tian tertuju pada sesuatu yang berada di kejauhan, melayang tepat di atas peti mati perunggu di pusat aula. Ada tiga gelembung energi di sana, dan salah satunya berisi sepasang sarung tangan tempur berwarna merah darah yang memancarkan aura keganasan tingkat Surga kelas menengah.
Menyadari bahwa menangkis puluhan serangan kelas berat secara terus-menerus dengan tangan kosong akan menguras cadangan Qi-nya sebelum ia sempat mengekstrak warisan Nirvana, Lin Tian mengubah lintasannya di udara.
Ia menggunakan sisa energi pedang dari Tetua Utama Sekte Pedang Awan sebagai tumpuan. Lin Tian menendang sisi datar dari pedang cahaya raksasa tersebut.
TRANG! Pijakan ekstrem itu menyebabkan pedang sang tetua terpental sedikit dari jalurnya, menyelamatkan Lin Tian dari tebasan maut, sekaligus melesatkan tubuh Lin Tian bagaikan anak panah lurus menuju pusat platform giok.
“Dia mengincar pusaka Nirvana! Hentikan dia!” teriak Jenderal Kekaisaran dengan histeris.
Namun, tidak ada yang memiliki kecepatan untuk menyamai Lin Tian yang didorong oleh Langkah Bayangan Awan di udara terbuka. Dalam sekejap mata, ia tiba di atas peti mati perunggu yang dihiasi ukiran sembilan naga. Tangannya melesat menembus gelembung energi ketiga, meraih sepasang sarung tangan tempur yang terbuat dari sisik binatang buas tak dikenal dan benang logam merah menyala.
Begitu sarung tangan itu tersentuh oleh kulitnya, sebuah penolakan dari jiwa pusaka tersebut terjadi. Aura merah darah meledak, mencoba membakar tangan Lin Tian, menganggapnya tidak pantas sebagai tuan.
“Kau hanyalah sebuah alat! Berlututlah di hadapan naga!” geram Lin Tian dengan arogansi mutlak.
Ia memompa Qi Naga Surgawi yang luar biasa buas langsung ke dalam artefak tersebut. Raungan naga kuno menggema dari dalam sarung tangan itu, dan penolakan jiwa pusaka tersebut dihancurkan seketika. Sisik merah pada sarung tangan itu memuai dan menyusut, menyesuaikan ukurannya secara sempurna dengan tangan Lin Tian yang berotot, membungkusnya dari ujung jari hingga ke siku.
Nama dari artefak itu mengalir ke dalam pikirannya. Sarung Tangan Pembelah Bintang. Senjata yang dirancang khusus untuk petarung jarak dekat dengan kekuatan fisik ekstrem.
Lin Tian membalikkan tubuhnya, melayang tepat di atas peti mati kuno, menghadap ke lautan musuh yang kini mematung karena ia telah berhasil mendapatkan pusaka tingkat Surga tersebut.
“Sekarang,” Lin Tian mengepalkan kedua tangannya yang kini terbungkus oleh Sarung Tangan Pembelah Bintang. Suara gemeretak logam beradu dengan logam terdengar sangat mengerikan. Qi emas kemerahan dari Dantiannya mengalir ke dalam sarung tangan itu, membuat permukaannya menyala dengan api merah darah yang haus akan nyawa. “Mari kita lihat, seberapa banyak mayat yang bisa aku tumpuk dengan mainan baru ini.”
Tetua Utama Sekte Pedang Awan yang harga dirinya telah terluka berkali-kali tidak bisa lagi mempertahankan kewarasannya. Ia menggigit ujung lidahnya, menyemburkan esensi darahnya yang sangat banyak ke atas pedang pusakanya. Rambut putihnya berkibar gila, kulitnya mengerut seketika. Ia mengorbankan sisa umur dan potensinya demi meluncurkan teknik terlarang sekte.
“Sekte Pedang Awan tidak akan pernah berlutut pada iblis! Pedang Eksekusi Surga! HANCURKAN!”
Sebuah pedang Qi yang memancarkan pendaran keemasan dan merah darah, berukuran panjang tiga puluh meter, terbentuk membelah udara aula. Ini adalah serangan pemusnah yang bahkan bisa mengancam ahli Alam Langit tingkat puncak. Pedang raksasa itu melesat lurus ke arah Lin Tian, membawa tekanan spiritual yang membuat magma di danau bawah terbelah menjadi dua.
Melihat serangan bunuh diri itu, Lin Tian tidak menghindar. Matanya menyala dengan antusiasme pertarungan yang murni.
Ia menyalurkan seluruh sirkulasi dari Tubuh Sisik Naga Tembaga dan Qi Pembentukan tingkat menengahnya ke tangan kanan. Sarung Tangan Pembelah Bintang beresonansi secara sempurna dengan kekuatan fisiknya, melipatgandakan daya ledak tinjunya hingga mencapai tahap yang tidak bisa diukur oleh angka.
Lin Tian melesat ke depan, melompat menyongsong ujung pedang raksasa itu, dan melontarkan satu pukulan sederhana yang lurus tanpa teknik yang berbelit-belit.
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH!
Saat tinju berlapis sarung tangan merah darah itu bertemu dengan Pedang Eksekusi Surga, waktu di dalam makam itu terasa terhenti. Udara meledak, menciptakan ruang hampa sesaat yang menyedot suara ke dalam kehampaan, sebelum akhirnya ledakan sonik yang maha dahsyat meletus ke segala arah.
Gelombang kejut dari benturan itu menghantam seluruh aula. Pilar-pilar batu penyangga makam retak dan runtuh. Sisa ratusan kultivator yang masih berdiri di platform giok terhempas ke udara bagaikan semut yang tertiup angin topan, banyak dari mereka yang pingsan atau mati di udara akibat tekanan ledakan murni tersebut.
Tepat di pusat benturan, apa yang terjadi menghancurkan seluruh sisa akal sehat faksi ortodoks.
Pedang Eksekusi Surga, teknik pamungkas yang dibayar dengan esensi kehidupan seorang ahli Alam Langit tingkat menengah, retak seperti lapisan es tipis di bawah sinar matahari. Tinju Lin Tian menghancurkan mata pedang itu dari ujung hingga ke gagangnya dalam hitungan detik.
Momentum tinju Lin Tian tidak berhenti di situ. Pemuda itu menembus serpihan cahaya pedang yang hancur, muncul tepat di depan Tetua Utama Sekte Pedang Awan yang sedang memuntahkan darah segar akibat serangan baliknya.
“Pukulan yang terlalu lambat,” bisik Lin Tian di dekat telinga tetua tersebut.
Tinju kanan Lin Tian yang menyala merah darah menghantam dada sang tetua.
Tidak ada jeritan yang terdengar. Pukulan itu sangat brutal, sangat absolut. Kekuatan kompresi dari Sarung Tangan Pembelah Bintang menghancurkan tulang dada, organ dalam, dan punggung Tetua Utama itu secara serentak. Setengah badan bagian atas sang Tetua meledak menjadi kabut darah dan serpihan daging yang berhamburan ke udara. Sisa kakinya yang masih berdiri di udara perlahan jatuh lemas ke tanah.
Pilar terbesar dari Sekte Pedang Awan di dalam ekspedisi ini telah dimusnahkan hanya dengan satu pukulan tunggal.
Keheningan mengerikan langsung mengunci seluruh aula.
Para tetua Sekte Gunung Emas menjatuhkan senjata mereka ke lantai dengan tangan gemetar. Jenderal Kekaisaran Awan Biru, yang seluruh tubuhnya dipenuhi luka akibat gelombang kejut, jatuh terduduk di atas lantai giok, matanya menatap Lin Tian dengan teror yang melumpuhkan jiwa. Mereka akhirnya menyadari satu kebenaran yang tidak bisa dibantah: pemuda berjubah hitam ini bukanlah manusia. Ia adalah inkarnasi dewa perang tiran yang turun ke dunia fana untuk menghukum kesombongan mereka.
Lin Tian mendarat kembali di atas peti mati perunggu dengan langkah yang ringan. Darah musuhnya menguap dari permukaan Sarung Tangan Pembelah Bintang yang memancarkan hawa panas mengerikan. Di bawahnya, lautan mayat dan potongan tubuh dari keempat faksi besar berserakan, sementara sisanya yang masih hidup tidak berani bernapas, apalagi bergerak.
Aliansi yang diklaim sebagai kekuatan terkuat di wilayah itu telah hancur lebur secara total, dikalahkan oleh satu orang.
Lin Tian tidak memedulikan semut-semut yang sudah menyerah itu. Ia memutar tubuhnya, menghadap kembali ke dua gelembung energi yang masih melayang di udara: Pil Nirvana emas dan Gulungan Niat Bela Diri.
Dengan satu jangkauan tangan yang dilapisi aura naga, ia memecahkan kedua gelembung tersebut dan menangkap Pil Nirvana serta gulungan kuno itu ke dalam telapak tangannya. Cahaya surgawi dari pil itu memancarkan aroma kehidupan yang luar biasa pekat, sementara gulungannya memancarkan riak hukum alam yang sangat dalam. Kedua pusaka yang menjadi alasan ribuan nyawa melayang hari ini, kini dengan tenang bersemayam di telapak tangan sang algojo.
Lin Tian melompat turun dari peti mati perunggu, berjalan santai melintasi sisa-sisa platform giok yang telah hancur. Ia berjalan menuju sudut di mana Bai Xue sedari tadi berdiri dengan tenang di balik perlindungan dinding esnya. Wanita itu telah membekukan setiap serangan nyasar atau magma yang mencoba menciprat ke arahnya, namun tidak sekalipun ia ikut campur dalam pembantaian tersebut, tahu betul bahwa Lin Tian tidak membutuhkan bantuan apa pun.
Tetua Mei dan Su Yin, yang sedari tadi berlindung tidak jauh dari posisi Bai Xue, mundur merangkak dengan wajah sepucat mayat saat melihat iblis berlumuran darah itu mendekat ke arah mereka. Namun, mata Lin Tian bahkan tidak melirik kedua wanita itu. Mereka terlalu tidak berharga untuk dibunuh.
Lin Tian berhenti tepat di depan Bai Xue. Ia membalikkan telapak tangan kirinya, memperlihatkan Pil Nirvana yang memancarkan cahaya emas lembut ke arah wajah sang Saintess.
“Pertunjukan kembang apinya sudah selesai,” suara Lin Tian tidak lagi berlapis raungan naga. Nadanya kembali datar, tenang, dan diwarnai sedikit keangkuhan yang santai, seolah ia baru saja kembali dari jalan-jalan pagi di taman. Ia melemparkan Pil Nirvana itu ke arah Bai Xue dengan gerakan santai seperti melempar sebutir kacang.
Bai Xue terkejut, namun dengan refleks ia menangkap pil pusaka tersebut. Fluktuasi energi kehidupan murni dari pil itu seketika menenangkan meridian Yin-nya, seolah merespons auranya.
“Kau… memberikan Pil Nirvana ini padaku?” Mata Bai Xue membelalak tak percaya di balik cadarnya. Di dunia persilatan, ayah dan anak akan saling membunuh demi mendapatkan pil yang mampu menjamin terobosan absolut ke Alam Nirvana ini. Namun Lin Tian justru membuangnya padanya tanpa ragu sedikit pun.
“Kau berutang nyawa dan bimbingan padaku. Agar hutang itu sepadan, aku membutuhkan pion yang kekuatannya tidak mudah dihancurkan oleh anjing liar di jalanan,” Lin Tian mendengus pelan, menatap gulungan Niat Bela Diri di tangan kanannya. “Selain itu, pil yang diracik oleh orang mati tidak akan pernah bisa menandingi kecepatan kultivasi dari pusaran nagaku. Telan pil itu saat kutukanmu sudah benar-benar jinak. Aku akan menggunakan gulungan ini untuk memahami apa yang orang-orang fana sebut sebagai ‘Hukum Alam’.”
Bai Xue memandang pil di tangannya, lalu memandang pemuda berjubah hitam yang kini memunggungi aula yang penuh mayat. Ia menggenggam pil itu erat-erat di dadanya. Kekejaman yang ditunjukkan pemuda ini kepada dunia berbanding terbalik dengan kemurahan hatinya pada mereka yang berada di pihaknya. Di dalam hatinya yang sekeras es, sebuah ikatan yang jauh lebih dalam dari sekadar rasa terima kasih perlahan mulai mengakar, mengikat takdir sang Saintess dengan takdir sang Tiran Naga yang tak terkalahkan.