Bab 27: Niat Kehancuran Purba dan Gema Teror
Aula utama Makam Nirvana kini tidak lebih dari sebuah rumah jagal yang bermandikan cahaya merah dari danau magma yang mendidih. Udara dipenuhi oleh bau daging hangus, darah segar, dan sisa-sisa Qi yang kehilangan tuannya. Para elit dari Empat Sekte Lurus dan Kekaisaran Awan Biru, yang sebelumnya masuk dengan kesombongan seorang penakluk, kini telah tereduksi menjadi segelintir penyintas yang bergetar hebat di sudut-sudut platform giok.
Lin Tian tidak langsung pergi setelah menyerahkan Pil Nirvana kepada Bai Xue. Matanya yang keemasan menyapu medan pertempuran, menatap mayat-mayat para ahli Alam Langit dan Alam Bumi yang bergelimpangan. Di dunia kultivasi, membiarkan harta rampasan teronggok bersama mayat adalah sebuah dosa besar.
Dengan langkah yang pelan dan berirama, pemuda berjubah hitam itu berjalan melintasi platform. Ia berhenti di dekat mayat Jenderal Kekaisaran Awan Biru yang tubuhnya hancur akibat gelombang kejut, memungut cincin spasial berlambang naga emas dari jari pria itu. Ia kemudian melangkah ke arah sisa-sisa Tetua Utama Sekte Pedang Awan, merampas sabuk penyimpanannya, dan melakukan hal yang sama pada Biksu Kepala Kuil Bodhi.
Tidak ada satu pun penyintas yang berani bernapas terlalu keras, apalagi mencoba menghentikan Lin Tian. Mereka menundukkan pandangan mereka, berharap iblis itu mengabaikan keberadaan mereka.
Setelah mengumpulkan belasan cincin spasial tingkat tinggi yang nilainya mungkin setara dengan pendapatan tahunan sebuah kota besar, Lin Tian berhenti tepat di depan Tetua Mei dan Su Yin dari Sekte Teratai Es.
Melihat bayangan Lin Tian jatuh menimpa mereka, Su Yin memekik tertahan dan menutup wajahnya dengan kedua tangan, sementara Tetua Mei menggertakkan giginya, mencoba mempertahankan sisa-sisa martabatnya meskipun lututnya gemetar.
“K-Kau akan membunuh kami sekarang?” suara Tetua Mei terdengar parau dan putus asa.
Lin Tian menatap wanita tua itu dengan pandangan yang benar-benar kosong, seolah ia sedang menatap debu di sepatunya.
“Membunuhmu tidak akan memberiku keuntungan apa pun,” ucap Lin Tian datar. Ia melemparkan sebuah lencana giok retak—milik Tetua Utama Sekte Pedang Awan—ke pangkuan Tetua Mei. “Kalian dibiarkan hidup bukan karena belas kasihan, melainkan karena aku membutuhkan anjing pembawa pesan. Kembalilah ke sekte-sekte ortodoks kalian yang munafik. Katakan pada Ketua Sekte kalian, katakan pada Kaisar Awan Biru, bahwa era di mana mereka memonopoli langit telah berakhir.”
Lin Tian mencondongkan tubuhnya ke depan, aura pembunuhannya yang murni menekan jantung Tetua Mei hingga wanita itu nyaris pingsan. “Katakan pada mereka, Lin Tian dari Kota Daun Musim Gugur telah mengklaim warisan Nirvana. Jika mereka ingin membalas dendam, jika mereka menginginkan harta ini, aku akan menunggu mereka. Tapi pastikan mereka membawa peti mati yang cukup besar untuk mengubur seluruh sekte mereka.”
Tanpa menunggu jawaban dari wanita yang mematung ketakutan itu, Lin Tian membalikkan badan. Ia memberi isyarat pada Bai Xue. “Kita pergi.”
Bai Xue mengangguk pelan. Ia melirik sekilas ke arah Tetua Mei dan Su Yin, tatapannya tidak memancarkan simpati maupun kebencian, hanya sebuah jarak yang sangat jauh, seolah ia telah melepaskan dirinya dari belenggu hierarki sektenya. Bersama sang Tiran Naga, ia melompat ke udara, melesat meninggalkan aula magma tersebut.
Kepergian mereka meninggalkan keheningan yang panjang dan mencekam di dalam Makam Nirvana. Para penyintas akhirnya berani menghembuskan napas yang sedari tadi mereka tahan. Beberapa dari mereka langsung jatuh menangis histeris, menyadari bahwa mereka baru saja selamat dari pertemuan langsung dengan dewa kematian.
Perjalanan keluar dari Hutan Ilusi Seribu Wajah jauh lebih mudah daripada saat mereka masuk. Dengan aura Lin Tian yang telah mencapai Puncak Pembentukan Qi dan kekuatan fisiknya yang melampaui nalar, ditambah fluktuasi Pil Nirvana di tubuh Bai Xue, bahkan Miasma Ilusi pun menyingkir dengan sendirinya seolah memiliki kesadaran untuk tidak menyinggung entitas yang terlalu kuat. Binatang buas spiritual tingkat tinggi bersembunyi di lubang mereka, tidak berani mengeluarkan suara.
Mereka menembus perbatasan Kekaisaran Awan Biru dan menemukan sebuah lembah tersembunyi yang belum tersentuh oleh jejak manusia. Lembah itu dikelilingi oleh tebing-tebing curam dan memiliki sebuah danau spiritual kecil di tengahnya. Air danau itu memancarkan energi alam yang sangat murni, menjadikannya tempat yang ideal untuk kultivasi tertutup.
Lin Tian segera bekerja. Menggunakan ribuan batu spiritual dari hasil rampasannya, ia menyusun sebuah Formasi Penyembunyi Surga berskala besar di sekeliling lembah. Ia mungkin sombong, namun ia tidak bodoh. Menyerap warisan tingkat Nirvana membutuhkan fokus penuh, dan ia tidak ingin ada lalat pengganggu yang mengusik prosesnya.
Setelah formasi itu aktif, membungkus lembah dalam kubah transparan yang menghalangi deteksi spiritual dari luar, Bai Xue melangkah menuju ke tengah danau spiritual. Ia menggunakan energi Yin-nya untuk membekukan permukaan air, menciptakan sebuah teratai es raksasa yang mengapung di tengah danau sebagai tempat duduknya.
“Aku akan mulai menyerap Pil Nirvana ini,” kata Bai Xue, menatap Lin Tian yang berdiri di tepi danau. “Kekuatan obat ini terlalu besar. Aku mungkin membutuhkan waktu satu bulan penuh untuk menetralkan Rantai Es Absolut secara total dan mendorong kultivasiku kembali ke Alam Langit… atau mungkin lebih tinggi. Maukah kau… menjagaku?”
Ada nada kelembutan yang jarang terdengar dari suara sang Saintess.
Lin Tian duduk bersila di atas sebuah batu besar, meletakkan Sarung Tangan Pembelah Bintang di sampingnya. Ia menatap Bai Xue dan mengangguk pelan. “Fokuslah pada kultivasimu. Tidak akan ada satupun daun yang jatuh ke atas teratai esmu selama aku bernapas di sini.”
Mendapat jaminan mutlak dari pria yang kekuatannya telah ia saksikan sendiri, Bai Xue menutup matanya dengan tenang. Ia menelan Pil Nirvana yang memancarkan cahaya emas tersebut. Seketika, pilar cahaya surgawi meledak dari tubuhnya, menembus langit-langit formasi namun tidak bocor ke dunia luar. Kepompong energi kehidupan berwarna emas dan biru es mulai menyelimuti tubuh sang Saintess, menandakan dimulainya proses metamorfosis yang panjang.
Melihat Bai Xue telah memasuki kondisi kultivasi tertutup, Lin Tian mengalihkan perhatiannya pada gulungan perkamen kuno yang ia rebut dari makam.
“Gulungan Niat Bela Diri,” gumam Lin Tian, mengelus permukaan perkamen yang terbuat dari kulit binatang spiritual purba tersebut.
Di Benua Cakrawala, teknik bela diri adalah cara menggunakan Qi, sementara Niat Bela Diri (Martial Intent) adalah pemahaman mutlak tentang hukum alam itu sendiri. Jian Wushuang bisa memotong kekuatan fisik Lin Tian sebelumnya murni karena Niat Pedangnya yang mengandung hukum pemotongan. Untuk melangkah ke Alam Bumi dan memadatkan Qi di luar tubuh secara absolut, seorang kultivator idealnya harus memahami Niat mereka sendiri.
Lin Tian menutup matanya dan mengirimkan kesadarannya ke dalam gulungan tersebut.
BZZZZZT!
Ruang kesadaran Lin Tian seketika berubah. Ia tidak lagi berada di lembah yang tenang, melainkan berdiri mengambang di tengah-tengah kehampaan alam semesta yang perlahan-lahan runtuh. Ia melihat bintang-bintang raksasa meledak menjadi debu, galaksi-galaksi terbelah, dan kehidupan di jutaan dunia layu hanya dalam hitungan detik.
Ini bukanlah sebuah teknik, melainkan sebuah pertunjukan visual dari hukum alam. Suara tanpa wujud dari pakar Alam Nirvana pencipta makam itu menggema di telinganya.
“Semua yang memiliki awal, pasti memiliki akhir. Api akan padam, pedang akan tumpul, dan gunung akan runtuh. Inilah kebenaran absolut dari semesta. Niat Kehancuran (Intent of Annihilation). Pahamilah bahwa untuk menciptakan kekuatan tak terbatas, kau harus menguasai seni mengakhiri segala sesuatu.”
Di dalam kesadaran fana biasa, melihat skala kehancuran kosmik ini akan membuat pikiran mereka hancur berkeping-keping. Terlalu berat, terlalu mutlak.
Namun Lin Tian hanya berdiri dengan tangan disilangkan. Matanya yang keemasan menatap bintang-bintang yang hancur itu dengan tatapan menilai, bukan dengan ketakutan.
“Niat Kehancuran,” Lin Tian berbicara kepada kehampaan tersebut. “Pemahamanmu tentang kehancuran sangat puitis, pakar Nirvana. Kau melihat kehancuran sebagai sebuah akhir yang tak terhindarkan. Sebuah keniscayaan pasif.”
Mutiara Naga Surgawi di dalam Dantian aslinya mulai beresonansi dengan kuat, mengirimkan proyeksi naga emas raksasa ke dalam lautan kesadarannya. Naga itu melingkari tubuh Lin Tian, menatap kehampaan kosmik yang runtuh itu dengan arogansi yang menembus ruang dan waktu.
“Tapi naga tidak menunggu kehancuran datang kepadanya,” lanjut Lin Tian, suaranya kini tumpang tindih dengan raungan naga purba. “Naga adalah pembawa kehancuran itu sendiri. Kehancuran bukanlah akhir; itu adalah alat. Sebuah palu godam untuk menghancurkan mereka yang menghalangi jalanku!”
Lin Tian merentangkan tangannya. Bukannya menyerap Niat Kehancuran dari gulungan itu sebagaimana adanya, ia memaksakan kehendaknya yang buas ke atas pemahaman tersebut. Ia menggunakan aura Seni Kaisar Naga Surgawi untuk mengikat Niat Kehancuran itu, menjinakkannya, dan meleburnya secara paksa ke dalam setiap tetes darah di tubuhnya.
Di dunia nyata, tubuh Lin Tian mulai memancarkan fenomena yang menakutkan.
Bebatuan di sekitarnya tiba-tiba hancur menjadi serbuk pasir tanpa disentuh. Rerumputan di dekat kakinya layu dan berubah menjadi abu hitam dalam sekejap mata. Ruang di sekitar tubuhnya tampak terdistorsi, dipenuhi oleh retakan-retakan hitam yang sangat halus, seolah realitas itu sendiri tidak mampu menahan keberadaannya.
Ia tidak memadatkan Niat Pedang yang tajam, atau Niat Api yang membakar. Lin Tian memadatkan Niat Kehancuran Naga.
Jika Niat Pedang milik Jian Wushuang dirancang untuk memotong, maka Niat Kehancuran milik Lin Tian dirancang untuk meniadakan eksistensi targetnya. Benda apa pun, serangan apa pun, Qi apa pun yang bersentuhan dengan niat ini akan dipaksa untuk kembali ke wujud asalnya: kehampaan.
Lin Tian membuka matanya. Tidak ada ledakan energi yang menyilaukan. Sebaliknya, kilatan di pupil matanya terasa seperti jurang maut tanpa dasar yang menyedot semua cahaya. Ia perlahan mengangkat tangan kanannya dan menunjuk ke arah sebuah bongkahan batu kapur raksasa seukuran rumah di ujung lembah, berjarak sekitar dua ratus meter darinya.
Ia tidak mengalirkan Qi sedikit pun. Ia hanya memfokuskan pikirannya, mengunci batu tersebut dengan Niat Kehancuran Naga-nya.
SREEEET…
Tanpa ada suara ledakan, tanpa ada kilatan serangan, bongkahan batu raksasa itu seketika berderak. Dari dalam intinya, batu itu mulai retak-retak, dan dalam waktu kurang dari dua detik, seluruh strukturnya hancur menjadi debu halus yang tertiup angin, lenyap tanpa menyisakan satu pun kerikil.
Lin Tian menurunkan tangannya, seringai iblis yang sangat puas terukir di wajahnya.
“Jadi ini yang disebut Niat Bela Diri,” gumamnya, mengepalkan tinjunya yang kini memancarkan aura abu-abu keemasan. “Dengan ini, serangan fisikku tidak lagi bisa ditahan oleh perisai Qi fana. Alam Bumi… aku hanya butuh mengumpulkan sedikit lagi energi spiritual untuk memadatkan lautan Dantianku menjadi bentuk padat, dan aku akan melangkah ke Alam Bumi yang sesungguhnya.”
Dengan berbekal harta jutaan batu spiritual, pil tingkat tinggi, Sarung Tangan Pembelah Bintang, dan Niat Kehancuran Naga yang baru ia pelajari, Lin Tian kini duduk bersila untuk mengonsolidasikan kekuatannya, menyelaraskan diri untuk terobosan besar selanjutnya. Bulan demi bulan akan ia habiskan di lembah ini, membangun fondasi yang akan membuat para penguasa benua gemetar.
Sementara Lin Tian dan Bai Xue bersembunyi dalam ketenangan kultivasi mereka, di dunia luar, sebuah tsunami kemarahan sedang meluluhlantakkan fondasi kekuasaan Benua Cakrawala.
Jauh di wilayah timur, di atas Puncak Awan Menyapu Langit, berdiri markas utama dari Sekte Pedang Awan. Istana-istana giok yang megah melayang di atas awan, memancarkan aura kemuliaan ortodoks yang tidak pernah ternoda selama ribuan tahun.
Namun hari ini, awan-awan di sekitar puncak utama itu bergolak hitam, diwarnai oleh petir kemurkaan.
Di dalam Aula Kehidupan—tempat di mana ribuan slip giok jiwa para anggota sekte disimpan—suasana terasa sedingin es. Ketua Sekte Pedang Awan, Jian Kuang, berdiri mematung di depan altar tertinggi. Ia adalah pria paruh baya dengan rambut seputih salju dan mata yang setajam mata pedang. Auranya berada di puncak absolut Alam Langit, dan beberapa orang mengatakan ia telah menyentuh batas setengah langkah menuju Alam Nirvana.
Di depan Jian Kuang, sebuah nampan emas menyajikan pemandangan yang menghancurkan hatinya.
Slip giok jiwa milik Penatua Yun Jian, Tetua Utama, puluhan murid elit, dan yang paling membuatnya terpukul—slip giok jiwa milik putra angkat sekaligus murid kesayangannya, Jian Wushuang—telah hancur berkeping-keping menjadi serbuk tak berharga.
“Wushuang… putraku…” suara Jian Kuang bergetar, tangannya yang terbiasa membelah gunung kini gemetar saat menyentuh serpihan giok tersebut. “Dia memiliki Garis Keturunan Pedang Roh. Dia ditakdirkan untuk memimpin sekte ini menuju era keemasan… Bagaimana dia bisa mati di sebuah makam kuno?!”
Di belakangnya, belasan Tetua Inti berlutut di atas lantai marmer, tidak ada yang berani mengangkat wajah mereka. Keringat dingin membasahi punggung mereka.
“Lapor, Ketua Sekte!” seorang diaken intelijen berlari masuk ke dalam aula, langsung bersujud hingga kepalanya membentur lantai. Suaranya penuh kepanikan. “Berita dari sisa-sisa aliansi Kekaisaran Awan Biru dan Sekte Gunung Emas telah tiba! Ekspedisi Makam Nirvana telah hancur total!”
Jian Kuang memutar tubuhnya, matanya memancarkan cahaya pedang yang memotong udara hingga berdesis. “Siapa? Siapa yang berani membantai elit sekte kita dan membunuh Wushuang?! Apakah itu jebakan dari Kuil Bodhi?! Atau pengkhianatan Kekaisaran?!”
“B-Bukan keduanya, Ketua!” Diaken itu menelan ludah dengan susah payah. “Laporan menyebutkan bahwa pelakunya adalah satu orang. Seorang pemuda berjubah hitam yang kekuatannya menentang hukum langit. Dia… dia adalah buronan yang membunuh Diaken Ku Feng, yang dikenal sebagai Iblis Kota Baja Merah… Lin Tian!”
“Lin Tian…” Jian Kuang mengulangi nama itu, urat-urat di wajahnya menonjol keluar. Ia ingat laporan awal tentang pemuda cacat dari kota kecil yang tiba-tiba mendapatkan kekuatan anomali. Ia mengira pemuda itu hanya kebetulan mendapatkan senjata iblis dan akan mati di tangan Yun Jian. Ia tidak pernah membayangkan bahwa semut itu kini telah tumbuh menjadi monster yang meruntuhkan pilar utama sektenya.
“Laporan juga menyebutkan,” diaken itu melanjutkan dengan suara semakin gemetar, “Iblis Lin Tian itu tidak hanya membantai Tetua Utama kita, tetapi dia juga merampas Pil Nirvana, Gulungan Niat Bela Diri, dan senjata pusaka makam tersebut. Tetua Mei dari Sekte Teratai Es menyampaikan pesan dari iblis itu… dia berkata bahwa era Empat Sekte Lurus telah berakhir, dan jika kita ingin membalas dendam, kita harus menyiapkan peti mati untuk sekte kita sendiri.”
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHH!
Jian Kuang meraung gila. Niat pedangnya yang tak tertandingi meledak secara refleks. Aula Kehidupan yang terbuat dari marmer ilahi hancur berkeping-keping atapnya. Awan-awan di langit terbelah sejauh ratusan mil akibat kemurkaannya.
“KESOMBONGAN YANG MENGHINA SURGA!” Jian Kuang berteriak, matanya merah menyala. “Seorang bocah kampungan berani menantang ribuan tahun warisan Sekte Pedang Awan?! Aku akan mengulitinya hidup-hidup! Aku akan menarik jiwanya dan membakarnya dalam Api Lentera Pedang selama sepuluh ribu tahun!”
Jian Kuang menatap para Tetua Inti yang berlutut ketakutan.
“Kirimkan Perintah Eksekusi Surgawi ke seluruh penjuru Benua Cakrawala!” titah Jian Kuang dengan otoritas mutlak. “Naikkan nilai hadiah kepalanya menjadi lima puluh juta batu spiritual tingkat menengah dan posisi Wakil Ketua Sekte bagi siapa pun yang membawa kepalanya! Tidak peduli aliran lurus, aliran sesat, atau pembunuh bayaran… biarkan seluruh benua memburunya!”
Namun, kemarahan Jian Kuang tidak membutakan akal pragmatisnya. Ia tahu, jika Lin Tian mampu membunuh ahli Alam Langit secara massal dan merampas Pil Nirvana, pemuda itu mungkin akan segera menembus batas yang lebih mengerikan.
“Tetua Pertama,” Jian Kuang menunjuk ke arah seorang pria tua berjanggut panjang. “Hubungi Kekaisaran Naga Hitam.”
Mendengar nama ‘Kekaisaran Naga Hitam’, seluruh tetua di ruangan itu tersentak. Itu adalah faksi raksasa yang kekuasaannya melampaui gabungan Empat Sekte Lurus, penguasa wilayah tengah benua yang memiliki hubungan dengan entitas-entitas tersembunyi yang usianya puluhan ribu tahun. Meminta bantuan mereka sama saja dengan mengundang serigala ke dalam rumah.
“Ketua Sekte… apakah kita harus bertindak sejauh itu? Kekaisaran Naga Hitam tidak pernah bergerak tanpa bayaran yang menguras darah,” bantah Tetua Pertama dengan hati-hati.
“Kita tidak punya pilihan. Bocah iblis itu memegang rahasia kekuatan fisik yang tidak masuk akal dan kini memiliki pusaka Nirvana. Jika dia diberi waktu untuk berkembang, dia benar-benar akan menghancurkan kita,” mata Jian Kuang menyipit memancarkan kelicikan. “Beritahu Kekaisaran Naga Hitam bahwa Lin Tian memiliki darah keturunan purba yang mengancam legitimasi kekaisaran mereka. Biarkan Pasukan Pengawal Naga dari kekaisaran turun tangan. Lin Tian mungkin kuat, tapi dia tidak akan bisa bertahan dari kemurkaan mesin perang terbesar di Benua Cakrawala!”
Perintah telah dijatuhkan. Hari itu, ribuan burung penyampai pesan spiritual beterbangan dari Puncak Awan Menyapu Langit. Berita tentang pembantaian di Makam Nirvana dan harga buronan yang memecahkan rekor sejarah menyebar bagaikan wabah.
Sekte Gunung Emas yang juga kehilangan pewarisnya langsung merespons dengan bergabung dalam aliansi pemburuan absolut. Kuil Bodhi mengirimkan pasukan biksu hukuman mereka, melabeli Lin Tian sebagai inkarnasi iblis dunia bawah. Dan jauh di pusat benua, mata-mata dari Kekaisaran Naga Hitam mulai membuka dokumen investigasi mereka, mengarahkan moncong meriam kekuasaan mereka ke wilayah perbatasan.
Badai yang dihasilkan oleh sang Tiran Naga kini tidak lagi terbatas pada kota atau hutan. Ia telah memicu Perang Skala Benua. Seluruh dunia Jianghu kini bergerak untuk satu tujuan: memusnahkan eksistensi bernama Lin Tian. Namun di balik dinding Formasi Penyembunyi Surga di lembah terpencil, Lin Tian hanya menunggu dalam diam, membiarkan taring naganya tumbuh semakin tajam, bersiap untuk merobek langit yang memburunya.