Bab 11: Jalan Memutar dan Pintu Terbuka
Suara amukan Penjaga berangsur mereda, digantikan oleh geraman rendah yang masih menggetarkan dinding batu celah tempat Lin Ming bersembunyi. Napasnya tersengal-sengal, jantung berdebar kencang, tetapi setidaknya ia masih hidup. Dantiannya hampir kosong—hanya tersisa 1 unit energi dari total 20, habis tersedot oleh pintu warisan. Namun, pintu itu kini terbuka lebar, memancarkan cahaya putih yang memantul di dinding gua, menggoda sekaligus tampak mustahil untuk dicapai.
Lin Ming merangkak lebih dalam ke celah. Ruang sempit ini ternyata lebih panjang dari yang ia kira, meliuk-liuk masuk ke dalam tebing. Dengan cahaya redup dari tubuhnya yang masih memancarkan Produksi Cahaya Alami, ia bisa melihat bahwa celah ini bukan kebetulan alam—ada tanda-tanda pahatan kasar, seperti dibuat oleh tangan seseorang atau sesuatu yang mencoba melarikan diri.
Setelah merangkak sekitar lima belas meter, celah itu membuka ke sebuah ruang kecil, cukup untuknya berduduk. Di dinding, ada goresan-goresan—tulisan! Lin Ming mendekat, mencoba membaca. Bahasa yang digunakan adalah varian Bahasa Jiwa Kuno, sama seperti catatan Magister Thunderhand. Sistem mulai menerjemahkan.
“Jika kau membaca ini, berarti kau juga terjebak. Aku adalah Magister Thunderhand. Aku sampai di sini dengan luka parah setelah pertempuran dengan Penjaga. Tidak punya kekuatan lagi untuk mencapai pintu yang telah kubuka. Di ruang ini, aku menghabiskan hari-hari terakhirku.”
“Tapi aku meninggalkan petunjuk: celah ini berlanjut. Ikuti, dan kau akan sampai di ruangan belakang pintu warisan. Tapi hati-hati—ada jebakan ujian bahkan sebelum masuk. Dan Penjaga… ia tidak pernah benar-benar tidur.”
Lin Ming membaca tulisan itu dengan hati berdebar. Jadi Magister Thunderhand juga pernah sampai di sini, dan menemukan jalan alternatif! Ia melanjutkan membaca.
“Jalan di balik dinding ini membutuhkan energi untuk membuka. Tekan batu dengan simbol tiga lingkaran di sudut kanan ruangan, alirkan energi, dan jalan akan terbuka. Semoga kau lebih beruntung dariku.”
Lin Ming segera mencari batu dengan simbol tiga lingkaran. Di sudut kanan ruangan, tersembunyi di balik tonjolan batu, ia menemukannya—sebuah batu bulat dengan ukiran tiga lingkaran bersinggungan. Ia menekannya, lalu mengalirkan sisa 1 unit energinya.
Batu itu menyala biru, dan sebagian dinding ruangan bergeser dengan suara gemeretak, membuka lorong sempit yang gelap. Lin Ming memasuki lorong itu dengan hati-hati. Lorong ini jelas buatan—dindingnya lebih halus, langit-langitnya merata. Setelah berjalan sekitar tiga puluh meter, ia sampai di sebuah ruangan kecil berbentuk segi delapan. Di tengah ruangan, ada sebuah pedestal dengan bola kristal retak. Di sekeliling dinding, ada relief yang menggambarkan seorang manusia dengan cahaya memancar dari tangannya, melawan berbagai makhluk mengerikan.
Lin Ming mendekati pedestal. Begitu ia mendekat, bola kristal itu menyala lemah, dan suara gemuruh terdengar di kepalanya—bukan suara sebenarnya, tapi komunikasi mental.
“Penerus… apakah kau siap menghadapi Ujian Tekad?” suara itu terdengar tua dan penuh wibawa.
Lin Ming mengangguk, meski tidak yakin apakah entitas itu bisa melihatnya. “Aku siap.”
“Ujian pertama: Hadapi ketakutanmu.”
Ruangan tiba-tiba berubah. Lin Ming tidak lagi berada di ruangan batu, melainkan di halaman Sekte Pedang Awan. Di depannya, berdiri Zhang Hu, Wang Li, dan Zhao Gang—tiga orang yang melemparkannya ke jurang. Mereka tertawa mengejek.
“Lin Ming si akar patah! Masih hidup?” Zhang Hu mendorongnya.
Lin Ming tahu ini ilusi, tapi rasa sakit emosionalnya nyata. Ia mengepalkan tangan. “Ini bukan nyata.”
“Nyata atau tidak, kau tetap sampah!” Zhang Hu menendangnya. Lin Ming jatuh, merasakan sakit yang sama seperti dulu.
Tapi kali ini, berbeda. Lin Ming bangkit, mengabaikan rasa sakit. “Aku bukan lagi orang yang sama.” Ia mengalirkan energi—meski hanya sedikit, tapi cukup untuk memberinya keyakinan. Ia melangkah maju, dan ilusi itu pecah seperti kaca.
Ruangan batu kembali. Suara itu bergema lagi. “Bagus. Ketakutan akan masa lalu telah kau atasi. Ujian kedua: Hadapi kenyataanmu.”
Sekarang, Lin Ming berdiri di tepi jurang yang sama, memandang ke bawah kegelapan. Suara bisikan menggoda: “Loncatlah. Akhiri penderitaanmu. Kau tidak akan pernah menjadi kuat.” Itu suara keraguannya sendiri.
Lin Ming menggeleng. “Aku memilih untuk hidup. Aku memilih untuk menjadi kuat.” Ia berbalik dari tepi jurang, dan pemandangan itu menghilang.
“Ujian ketiga: Hadapi dirimu yang sebenarnya.”
Di depan Lin Ming muncul sebuah cermin besar. Di dalamnya, ia melihat dirinya sendiri, tapi dengan mata merah dan senyuman kejam. “Kita bisa menjadi kuat dengan cara apa pun,” kata bayangannya. “Bunuh semua yang menghalangi. Salin semua kemampuan. Jadilah penguasa dengan menginjak-injak orang lain.”
Lin Ming memandang bayangannya. “Aku ingin menjadi kuat, tapi bukan dengan kehilangan diriku sendiri.” Ia mengulurkan tangan, menyentuh cermin. “Aku akan membalas dendam pada yang pantas, tapi aku tidak akan menjadi monster.”
Cermin itu retak, dan bayangannya menghilang.
Suara bergema lagi, kali ini lebih lembut. “Kau lulus ujian tekad. Masuklah ke ruang warisan. Tapi ingat: warisan ini bukan hadiah, tapi tanggung jawab. Dewa Bela Diri pertama bukanlah yang terkuat, tapi yang paling gigih.”
Dinding di seberang ruangan terbuka, memperlihatkan lorong yang diterangi cahaya keemasan. Lin Ming melangkah masuk. Lorong itu pendek, dan membawanya ke sebuah ruangan yang sama sekali tidak ia duga.
Ruangan itu luas, dengan langit-langit tinggi yang memancarkan cahaya seperti siang hari. Di tengah ruangan, ada sebuah peti batu sederhana. Di sekelilingnya, ada lima patung manusia dalam posisi meditasi, masing-masing memancarkan aura elemen berbeda: api, air, tanah, angin, dan petir.
Tapi yang paling mengejutkan: di samping peti batu, ada sebuah kerangka manusia duduk bersila, masih mengenakan jubah yang sudah lapuk. Di depannya, ada tulisan di lantai.
Lin Ming mendekat. Kerangka itu pasti Magister Thunderhand—ia akhirnya berhasil masuk, tapi terluka terlalu parah dan meninggal di sini. Tulisan di lantai berbunyi: “Aku berhasil masuk, tapi terluka parah. Warisan ini membutuhkan dasar yang kuat, dan tubuhku sudah hancur. Untuk penerus: ambil inti warisan di peti. Tapi peringatan—sistem dalam dirimu akan berubah selamanya.”
Lin Ming membuka peti batu. Di dalamnya, tidak ada harta atau senjata gemerlap. Hanya sebuah bola cahaya putih sebesar kepalan tangan, mengambang di atas bantal sutra yang sudah rapuh. Bola cahaya itu berdenyut dengan irama yang terasa akrab—seperti detak jantung alam semesta.
“System, apa itu?” tanyanya.
[Analisis…] [Objek: Inti Warisan Dewa Bela Diri Pertama – “Jantung Ketekunan”.] [Tingkat: Tidak dapat ditentukan (melampaui skala saat ini).] [Efek: Akan menyatu dengan sistem host, meningkatkan kemampuan dasar dan membuka jalur evolusi baru.] [Peringatan: Integrasi akan mengubah sistem Replikasi Absolut menjadi sistem yang lebih tinggi. Proses mungkin menyakitkan dan memakan waktu.]
Lin Ming tanpa ragu. Ini yang ia cari. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh bola cahaya itu.
Saat jarinya menyentuh permukaannya, bola cahaya itu melebur menjadi aliran cahaya putih yang masuk ke tubuhnya melalui telapak tangan. Lin Ming merasakan panas yang tidak menyakitkan, melainkan hangat seperti kembali ke rumah. Cahaya itu mengalir ke dadanya, lalu ke kepalanya, tempat sistemnya berada.
[Deteksi integrasi warisan tingkat tinggi…] [Sistem Replikasi Absolut mengalami evolusi…] [Memperbarui antarmuka…] [Meningkatkan kapasitas dasar…]
Lin Ming jatuh berlutut, bukan karena sakit, tapi karena banjir informasi yang tiba-tiba memenuhi pikirannya. Ia melihat gambaran sekilas tentang apa itu Dewa Bela Diri—bukan dewa yang lahir kuat, melakin manusia biasa yang melalui ketekunan tak tergoyahkan, mencapai pemahaman mendalam tentang hukum alam, dan akhirnya melampaui batas manusia.
Warisan ini bukan tentang memberikan kekuatan instan, tapi tentang menanamkan benih ketekunan, dan memperbarui sistemnya menjadi alat yang lebih cocok untuk perjalanan panjang.
[Evolusi selesai.] [Sistem Sintesis Semesta diaktifkan.] [Host: Lin Ming] [Tingkat Kultivasi: Lapis 1 Qi Gathering (Stabil)] [Sintesis Poin: 0 (menggantikan Poin Replikasi)] [Fitur baru: Analisis Hukum Dasar, Sintesis Kemampuan, Simulasi Pertempuran.]
Lin Ming membuka mata. Ia masih di ruangan warisan, tapi segalanya terlihat berbeda. Ia bisa melihat aliran energi halus di udara, pola-pola geometris yang membentuk realitas. Sistem barunya lebih… cerdas. Bukan lagi sekadar menyalin, tapi memahami dan menyatukan.
Ia mencoba fitur Analisis Hukum Dasar pada elemen guntur yang ia miliki. Sistem memberikan informasi mendalam tentang sifat guntur: kecepatan, destruksi, transformasi energi, bahkan hubungannya dengan hukum alam yang lebih besar.
Fitur Sintesis Kemampuan memungkinkannya menggabungkan bakat yang sudah ia miliki untuk menciptakan kemampuan baru. Misalnya, menggabungkan Ketahanan Ekstrem dan Pertahanan Sisik Tebal bisa menghasilkan “Pertahanan Adaptif” yang lebih efisien.
Dan Simulasi Pertempuran—ia bisa mensimulasikan pertarungan melawan musuh yang diketahui untuk merencanakan strategi.
Tapi ada perubahan mendasar: Poin Replikasi diganti dengan Sintesis Poin, yang didapatkan bukan dengan membunuh, tapi dengan memahami hukum alam dan menguasai teknik baru. Ini lebih sulit, tapi lebih mendalam.
Lin Ming berdiri, merasa lebih ringan dan lebih terhubung dengan sekelilingnya. Warisan ini telah memberinya fondasi yang lebih kokoh. Ia melihat ke kerangka Magister Thunderhand, lalu memberikan penghormatan dengan membungkuk dalam-dalam. “Terima kasih, senior. Aku akan menggunakan warisan ini dengan baik.”
Ia kemudian memeriksa ruangan. Selain peti warisan, ada beberapa tablet batu berisi teknik dasar yang ditinggalkan Dewa Bela Diri pertama. Teknik-teknik itu sederhana namun mendalam: “Pernapasan Bumi dan Langit”, “Meditasi Penyatuan”, “Langkah Kesadaran”. Teknik-teknik ini tidak ofensif, tapi memperkuat dasar kultivasi.
Lin Ming menyimpan tablet-tablet itu di cincin penyimpanan. Ia juga menemukan sebuah peta bintang di langit-langit—mungkin petunjuk untuk warisan berikutnya, atau tentang dunia yang lebih luas. Tapi untuk sekarang, itu di luar jangkauannya.
Sekarang, pertanyaan: bagaimana keluar dari sini? Pintu masuk telah tertutup setelah ia masuk, dan Penjaga masih menunggu di luar.
Lin Ming memeriksa dinding ruangan dengan sistem baru. Ia menemukan pola energi yang menunjukkan mekanisme transportasi. Tampaknya, ruangan warisan ini memiliki jalan keluar langsung yang menghindari Penjaga—sebuah formasi teleportasi satu arah.
Dengan mengikuti petunjuk sistem, ia mengaktifkan formasi dengan mengalirkan energi ke pola tertentu di lantai. Pola itu menyala, dan Lin Ming merasa ruangan berputar. Saat pandangannya jelas kembali, ia tidak lagi berada di ruangan warisan, tapi di sebuah gua kecil yang asing, dengan cahaya matahari nyata menembus dari celah di atas.
Dia berada di suatu tempat di dinding jurang, jauh lebih tinggi dari dasar, dan yang penting—jauh dari Penjaga dan air terjun. Formasi itu telah memindahkannya ke lokasi baru.
Lin Ming mendekati celah cahaya. Dari sana, ia bisa melihat pemandangan dasar jurang di bawah, dan tebing di seberang. Ia memperkirakan ia sekarang sekitar sepertiga jalan ke atas jurang. Masih jauh dari puncak, tapi setidaknya tidak lagi di dasar.
Sistem memberinya peta mental lokasi baru. Ia berada di sisi selatan jurang, agak jauh dari permukiman Grik. Dan yang menarik, tidak jauh dari sini, ada tanda sumber energi lain—mungkin tanaman spiritual atau mineral.
Lin Ming duduk bersila di mulut gua, merenungkan perjalanannya. Dari akar spiritual patah, hampir mati, membangkitkan sistem, berjuang di dasar jurang, hingga mendapatkan warisan Dewa Bela Diri pertama. Ia telah berubah, baik secara internal maupun eksternal.
Tapi perjalanan belum selesai. Ia masih harus keluar dari jurang ini, kembali ke dunia atas, dan membalas dendam pada mereka yang menghinanya. Dan sekarang, dengan sistem baru dan warisan, ia memiliki alat yang lebih baik.
Pertama-tama, ia perlu meningkatkan kekuatannya. Dengan sistem Sintesis Semesta, ia bisa memahami hukum dasar dan menyintesis kemampuan dengan lebih efisien. Ia juga perlu mencapai Lapis 2, 3, dan seterusnya.
Dari celah gua, Lin Ming melihat ke arah langit di atas jurang. Di sana, di dunia atas, ada Sekte Pedang Awan, Zhang Hu, dan semua orang yang menganggapnya sampah. Mereka tidak tahu bahwa di dasar jurang, seseorang yang mereka anggap mati sedang bersiap untuk kembali dengan kekuatan baru.
Lin Ming tersenyum kecil. “Tunggu saja. Aku akan kembali.”