Bab 10: Persenjataan dan Rencana

Ukuran:
Tema:

Tiga hari berlalu sejak Lin Ming mencapai Lapis 1 Qi Gathering. Tiga hari yang ia habiskan di gua kecilnya dengan disiplin ketat, mengkonsolidasikan kemajuan dan mempersiapkan diri untuk langkah berikutnya. Mata air energi telah membantunya mengisi ulang energi dengan cepat, dan kini Dantiannya stabil dengan 18/20 unit energi—hampir penuh.

Hari pertama setelah terobosan, Lin Ming fokus pada penguasaan teknik Penguatan Diri Qi. Teknik ini ternyata lebih kompleks dari yang ia kira. Tidak hanya mengalirkan energi ke otot, tetapi juga harus menyelaraskannya dengan sistem saraf dan aliran darah agar tidak menyebabkan kerusakan. Setelah beberapa kali percobaan dan sedikit kesalahan (yang menyebabkan kram otot selama sejam), ia akhirnya bisa meningkatkan kekuatan fisiknya sekitar 40% selama lima detik, atau kecepatan 30% selama tiga detik. Tidak lama, tapi cukup untuk serangan mendadak atau penghindaran kritis.

Hari kedua, ia beralih ke kerajinan. Dengan bahan-bahan dari Scaled Crawler, ia mencoba membuat armor dan senjata. Prosesnya sulit tanpa perkakas yang tepat, tapi dengan ketekunan dan sedikit kreativitas, ia berhasil:

  • Armor dada: Delapan sisik terbesar ia susun di atas lapisan kulit dari kantong penyimpanan, dijahit dengan tendon. Hasilnya kaku dan tidak nyaman, tapi saat ia mencoba menusuknya dengan cakar Scaled Crawler lain, sisik itu menahan tusukan dengan baik.
  • Pelindung lengan dan kaki: Sisik-sisik kecil ia ikatkan di atas kain dari pakaian lamanya yang sudah compang-camping.
  • Senjata: Dua cakar terbesar ia ikatkan pada gagang kayu kuat, membuat semacam tombak pendek atau pedang primitif. Ujung cakar tajam alami, mampu menggores batu.

Setelah selesai, Lin Ming terlihat seperti prajurit primitif dari suku kuno, tapi setidaknya ia lebih terlindungi daripada sebelumnya.

Hari ketiga, waktunya memutuskan tentang Poin Replikasi. Dengan 24.8 poin, ia bisa mereplikasi bakat Pertahanan Sisik Tebal (18 poin) dari Scaled Crawler. Setelah pertimbangan matang, ia memutuskan mengambilnya. Pertahanan ekstra akan sangat berguna jika ia harus menghadapi penjaga pintu atau makhluk tingkat E lainnya.

“System, replikasi bakat Pertahanan Sisik Tebal dengan integrasi stabil,” perintahnya.

[Analisis…] [Bakat Pertahanan Sisik Tebal (E-): 18 Poin + 3.6 Poin (integrasi stabil) = 21.6 Poin.] [Poin Replikasi tersedia: 24.8. Konfirmasi?]

“Lakukan.”

Proses replikasi kali ini lebih intens daripada sebelumnya. Kulit Lin Ming terasa seperti diregangkan, kemudian mengeras. Sensasi gatal luar biasa menyebar di seluruh tubuhnya, seolah-olah sisik tak terlihat sedang terbentuk di bawah kulit. Proses ini berlangsung hampir satu jam, dan ketika selesai, Lin Ming merasa kulitnya lebih tebal dan kenyal. Ia mencoba mencubit sendiri—rasanya seperti mencubit karet tebal.

[Bakat Pertahanan Sisik Tebal (E-) berhasil direplikasi.] [Efek: Ketahanan terhadap serangan fisik meningkat 25%. Ketahanan terhadap elemen tanah meningkat 15%.] [Konsumsi energi pasif: 0.2 unit/jam saat aktif. Dapat dimatikan untuk menghemat energi.] [Poin Replikasi tersisa: 24.8 – 21.6 = 3.2 poin.]

Hanya tersisa 3.2 poin. Lin Ming memutuskan menyimpannya untuk keadaan darurat.

Kini, dengan Lapis 1 Qi Gathering, armor buatan sendiri, dua bakat tingkat E- (Indera Getaran Bumi dan Pertahanan Sisik Tebal), serta teknik Penguatan Diri Qi dan Telapak Guntur, ia merasa lebih siap. Tapi sebelum menuju air terjun, ada satu hal lagi yang ia ingin coba: Monster Core dari Scaled Crawler.

Batu kecil berwarna kuning kecoklatan itu memancarkan energi bumi. Tidak kompatibel dengan elemen gunturnya, tapi mungkin bisa digunakan untuk hal lain. Lin Ming mengeluarkannya, memegangnya di telapak tangan.

“System, adakah cara aman menggunakan Monster Core ini untuk meningkatkan kekuatanku?”

[Analisis Monster Core (Tingkat E- Rendah)…] [Energi bumi murni. Tidak kompatibel dengan elemen guntur host.] [Opsi penggunaan aman:

  1. Sebagai sumber energi untuk formasi (dapat memberikan 20 unit energi).
  2. Sebagai bahan untuk membuat pil atau ramuan (memerlukan pengetahuan dan bahan lain).
  3. Ditukar dengan makhluk lain yang membutuhkan.
  4. Diserap secara perlahan dengan risiko konflik energi (tidak direkomendasikan).]

“Bagaimana jika aku mencoba menyerapnya sangat perlahan, sedikit demi sedikit, dengan pengawasan sistem?”

[Risiko konflik energi tetap ada. Jika host memutuskan, sistem dapat mencoba memfilter energi bumi menjadi energi netral, tetapi efisiensi hanya 30% dan tetap ada risiko 5% kerusakan meridian.]

Tiga puluh persen dari 20 unit = 6 unit energi netral. Cukup untuk mengisi sepertiga Dantiannya. Tapi risiko 5%… Lin Ming mempertimbangkan. Dalam kondisi normal, ia tidak akan mengambil risiko. Tapi jika ia akan menghadapi penjaga pintu, setiap tambahan kekuatan berharga.

“Lakukan. Serap perlahan dengan pengawasan.”

[Memulai penyerapan terkontrol…] [Host, pegang Monster Core dan alirkan energi ke dalam tubuh dengan sangat perlahan.]

Lin Ming duduk bersila, memegang Monster Core di antara kedua telapak tangannya. Ia mulai menarik energi darinya—sedikit saja, seperti menyesap melalui sedotan yang sangat kecil. Energi bumi yang terasa berat dan padat mengalir masuk, berbeda dengan energi guntur yang ringan dan listrik.

Sensasi tidak nyaman segera muncul. Energi bumi ingin menetap di meridian, bergerak lambat, sementara energi guntur di Dantiannya gelisah, seolah menolak kehadiran asing. Lin Ming berusaha tetap tenang, membiarkan sistem memfilter. Ia bisa merasakan energi bumi diubah menjadi sesuatu yang lebih netral sebelum disalurkan ke Dantian.

Proses ini memakan waktu dua jam. Ketika Monster Core akhirnya menjadi batu biasa yang retak dan hancur, Lin Ming telah menyerap sekitar 6 unit energi netral. Dantiannya sekarang penuh: 20/20.

[Tidak ada kerusakan meridian terdeteksi.] [Energi berhasil diserap: 6 unit (netral).] [Reaksi sisa: Dantian host sedikit tidak stabil karena energi campuran. Disarankan untuk melakukan sirkulasi Qi untuk menstabilkan.]

Lin Ming segera melakukan sirkulasi Qi Guntur. Energi netral di Dantiannya perlahan tercampur dan diubah menjadi energi guntur melalui proses pemurnian alami. Setelah sepuluh siklus, Dantiannya stabil kembali, dengan energi murni guntur sebanyak 20 unit.

Kini, ia benar-benar siap.

Pagi hari keempat, Lin Ming memutuskan untuk menuju air terjun. Tapi sebelum itu, ia ingin mengunjungi permukiman Grik. Mungkin ia bisa mendapatkan informasi lebih detail tentang penjaga pintu, atau bahkan bantuan.

Dengan peta di tangan dan Indera Getaran Bumi yang aktif, ia berjalan ke arah barat daya. Perjalanan kali ini lebih cepat karena ia sudah terbiasa dengan medan jurang dan memiliki kemampuan deteksi dini. Ia menghindari beberapa kelompok Scaled Crawler dan satu makhluk besar yang getarannya membuat tanah bergetar—mungkin sesuatu tingkat E atau bahkan E+.

Setelah berjalan sekitar tiga jam, ia mulai melihat tanda-tanda kehidupan: jejak kaki humanoid, sisa-sisa api unggun, bahkan beberapa patung kecil dari batu dan tanah liat yang diletakkan di ceruk-ceruk tebing. Menurut peta, permukiman Grik seharusnya dekat.

Lin Ming mengaktifkan Pertahanan Sisik Tebal (mengkonsumsi 0.2 energi/jam) dan menyiapkan senjata. Ia tidak tahu bagaimana penerimaan mereka. Grik telah berjanji tidak memberitahu, tapi siapa tahu?

Ia tiba di mulut sebuah gua besar yang jelas telah dimodifikasi: ada tiang dari kayu dan batu menyangga langit-langit, lukisan sederhana di dinding, dan sebuah pintu anyaman dari rotan dan kulit. Di depan pintu, dua penghuni jurang berjaga dengan tombak.

Mereka lebih besar dari Grik, dengan otot yang lebih berkembang dan sisik kecil di wajah mereka. Ketika melihat Lin Ming, mereka segera mengangkat tombak, mendesis.

“Berhenti! Manusia!” salah satu dari mereka berkata dalam bahasa yang patah-patah tapi bisa dimengerti. Sistem menerjemahkan dengan cukup baik.

“Aku datang dengan damai,” kata Lin Ming, meletakkan senjatanya di tanah dan mengangkat tangan. “Aku mencari Grik. Dia tahu aku.”

Penjaga itu saling memandang. “Grik? Grik kecil?” Yang satunya mengangguk. “Tunggu.” Ia masuk ke dalam gua, sementara yang lain tetap mengawasi Lin Ming dengan tombak terhunus.

Beberapa menit kemudian, Grik muncul, diikuti oleh penghuni lain yang lebih tua, kulitnya lebih keriput, dengan jubah dari kulit hewan dan tongkat berukir. Grik terlihat gugup tapi senang melihat Lin Ming.

“Lin Ming! Kau datang!” Grik melambai. “Ini sesepuh Kroth.”

Sesepuh Kroth memandang Lin Ming dari ujung kepala sampai kaki, matanya yang kuning tajam menganalisis. “Manusia dari atas. Grik bercerita. Kau tidak menyakitinya.”

“Tidak. Aku hanya ingin informasi dan mungkin bantuan,” jawab Lin Ming sopan.

Kroth mengangguk pelan. “Masuk. Bicara.”

Lin Ming diantar masuk ke dalam permukiman. Gua itu ternyata luas, dengan lorong-lorong yang menuju ke ruang-ruang berbeda. Ada sekitar tiga puluh penghuni terlihat—pria, wanita, anak-anak. Semua memandangnya dengan penasaran, takut, atau bermusuhan. Beberapa anak bersembunyi di balik orang tua mereka.

Mereka sampai di sebuah ruang dengan api unggun kecil, duduk di atas batu datar. Kroth duduk di batu terbesar, Grik di sampingnya, dan Lin Ming dihadapannya.

“Kau ingin apa, manusia?” tanya Kroth langsung.

“Aku ingin pergi ke balik air terjun, ke Ruang Kuno. Tapi Grik bilang ada Penjaga Besar. Aku ingin tahu lebih banyak tentang Penjaga itu, dan apakah ada cara melewatinya.”

Kroth mendesis pelan, seperti menarik napas. “Penjaga Besar… itu makhluk tua. Sudah ada sejak leluhur kami. Melindungi jalan ke Ruang Kuno. Banyak yang mencoba… mati.”

“Apakah ada yang pernah berhasil?”

“Dalam ingatan kami, tidak. Tapi legenda bilang… manusia dulu pernah masuk. Manusia kuat, seperti kau, tapi lebih.” Kroth menatapnya tajam. “Kau manusia kultivasi? Memiliki energi?”

Lin Ming mengangguk. “Aku baru mulai.”

“Penjaga itu juga memiliki energi. Sangat kuat. Tingkat… E? Atas?” Kroth tampak kesulitan menemukan kata.

“Mungkin tingkat D atau lebih,” pikir Lin Ming. Jika tingkat E adalah Scaled Crawler, dan Penjaga digambarkan jauh lebih kuat, mungkin tingkat D atau bahkan C. Itu jauh di atas kemampuannya sekarang.

“Apakah ada cara lain? Jalur rahasia? Atau waktu tertentu ketika Penjaga lemah?”

Grik tiba-tiba berbicara. “Ada cerita… ketika bulan purnama penuh, Penjaga tidur lebih dalam. Tapi tidak pasti.”

Kroth mengangguk. “Bulan purnama… dua malam lagi. Tapi tetap berbahaya.”

Dua malam lagi. Lin Ming mempertimbangkan. Jika Penjaga lebih lemah atau kurang waspada selama bulan purnama, itu kesempatan. Tapi ia masih perlu persiapan ekstra.

“Apakah kalian punya sesuatu yang bisa membantuku? Aku bisa menukar.” Lin Ming mengeluarkan beberapa sisik Scaled Crawler dan satu cakar dari cincin penyimpanannya. Penghuni jurang terlihat terkesan—mereka mungkin menganggap Scaled Crawler sebagai musuh berbahaya.

Kroth memeriksa sisik itu. “Kau membunuh pemburu sisik sendirian?”

“Ya.”

Sesepuh itu memandangnya dengan hormat baru. “Kuat untuk manusia baru.” Ia berpikir sejenak. “Kami punya… tanaman. Membuat tidur. Mungkin bisa digunakan untuk Penjaga, tapi perlu banyak.” Ia memberi isyarat, dan seorang penghuni membawa seikat tanaman berdaun biru kehitaman. “Ini Dreamleaf. Dihancurkan, baunya kuat. Membuat mengantuk. Tapi untuk makhluk sebesar Penjaga… butuh banyak.”

Lin Ming mengambil satu daun, memeriksanya dengan sistem.

[Dreamleaf (Tingkat F)] [Efek: Menghasilkan aroma yang memiliki efek sedatif ringan pada makhluk tingkat F dan E. Efektivitas pada makhluk lebih tinggi berkurang.] [Peringatan: Konsumsi langsung beracun.]

“Berapa banyak yang kalian punya?”

“Kami bisa memberimu setumpuk. Sebagai tukar dengan sisik dan cakar.” Kroth menunjuk barang-barang Lin Ming.

“Deal.” Lin Ming memberikan semua sisik dan cakar cadangan (ia menyimpan beberapa untuk dirinya), dan mendapatkan seikat besar Dreamleaf—sekitar dua puluh tanaman.

“Ada hal lain,” kata Kroth. “Di Ruang Kuno… ada ujian. Bukan hanya Penjaga. Legenda bilang, yang cocok akan diterima, yang tidak… mati. Hati-hati, manusia.”

“Terima kasih atas peringatan dan bantuannya.”

Grik mengangkat tangan. “Aku bisa tunjukkan jalan rahasia dekat air terjun. Jalur kecil, tidak terlihat. Tapi hanya sampai dekat Penjaga.”

Lin Ming memandang Grik, lalu Kroth. “Aku akan berterima kasih.”

Kroth mengangguk. “Grik boleh pergi. Tapi ingat, manusia: jika kau berhasil, jangan lupa kami. Mungkin suatu hari kami butuh bantuan.”

“Jika aku berhasil, aku akan membantu jika bisa.”

Kemudian, Grik memandu Lin Ming keluar dari permukiman melalui jalan belakang. Mereka berjalan selama satu jam, melewati terowongan sempit yang hanya diketahui penghuni jurang. Akhirnya, mereka sampai di mulut gua kecil yang tersembunyi di balik air terjun kecil.

“Dari sini,” bisik Grik, menunjuk ke celah di dinding. “Jalan ini menuju ke gua di belakang air terjun besar. Dekat dengan tempat Penjaga. Tapi hati-hati—banyak makhluk kecil di sini.”

“Terima kasih, Grik. Kau telah membantuku banyak.”

Grik mengangguk, matanya berseri. “Grik ingin lihat manusia berhasil. Selama ini, hanya kematian. Semoga Lin Ming berbeda.”

Setelah Grik pergi, Lin Ming memasuki celah itu. Lorongnya gelap dan basah, dengan suara gemuruh air terjun yang semakin keras. Setelah berjalan sekitar dua ratus meter, ia melihat cahaya di ujung—dan suara gemuruh yang menggelegar.

Dia keluar ke sebuah gua besar di belakang air terjun. Dinding air yang deras jatuh membentuk tirai transparan di mulut gua, memfilter cahaya menjadi warna hijau-biru. Gua ini luas, dengan langit-langit tinggi, dan di tengahnya…

Sebuah platform batu besar, dengan pintu batu kuno berukir simbol-simbol aneh. Pintu itu setinggi sepuluh meter, lebar lima meter, terlihat sangat berat. Dan di depan pintu, berbaring di atas tumpukan batu dan tulang, adalah Penjaga.

Lin Ming menahan napas. Penjaga itu besar—sepanjang lima meter, tinggi dua meter saat berbaring. Bentuknya seperti singa raksasa, tapi dengan kulit bersisik seperti naga, sayap kelelawar yang terlipat, dan ekor seperti kalajengking dengan sengat berduri. Kepalanya memiliki tiga pasang mata tertutup, sedang tidur. Napasnya menimbulkan angin kecil di dalam gua.

[Pemindai: “Manticore Bawah Tanah” atau variasi.] [Tingkat Ancaman: D- (Sangat berbahaya!)] [Peringatan: Host tidak direkomendasikan untuk bertarung. Kemungkinan bertahan hidup: di bawah 1%.] [Bakat yang dapat direplikasi: Berbagai, tetapi biaya sangat tinggi.]

Tingkat D-. Dua tingkat di atas Scaled Crawler. Lin Ming bahkan tidak bisa membayangkan kekuatannya. Tapi Penjaga ini sedang tidur—mungkin memang lebih dalam tidurnya selama bulan purnama, seperti kata legenda.

Dia mengamati sekeliling. Ada tulang-tulang besar dan kecil berserakan—sisa-sisa yang mencoba dan gagal. Beberapa tulang manusia, beberapa makhluk lain. Lin Ming harus sangat berhati-hati.

Dreamleaf yang ia bawa mungkin bisa membantu membuat Penjaga tidur lebih dalam, tapi bagaimana memberikannya? Aromanya harus terhirup. Mungkin ia bisa membakar daun-daun itu di suatu tempat sehingga asapnya terbawa angin ke arah Penjaga.

Tapi pertama, ia perlu memeriksa pintu. Mungkin ada petunjuk atau mekanisme.

Dengan hati-hati, menghindari area yang dipenuhi tulang (berisiko membuat berisik), Lin Ming merayap mendekati pintu batu. Ukirannya rumit: simbol matahari, bulan, bintang, dan sosok manusia dengan tangan terangkat. Di tengah, ada lekukan berbentuk telapak tangan.

Lin Ming mendekatkan tangannya ke lekukan itu. Tidak terjadi apa-apa. Mungkin butuh energi, atau syarat tertentu.

“System, pindai pintu ini.”

[Memindai…] [Pintu Ujian Warisan Dewa Bela Diri (Tingkat Pemula).] [Syarat masuk: Memiliki akar spiritual (terpenuhi), berusia di bawah 25 tahun (terpenuhi), memiliki tekad kuat (diuji).] [Mekanisme: Letakkan telapak tangan pada lekukan dan alirkan energi. Pintu akan menguji kesesuaian.] [Peringatan: Ujian bisa mematikan bagi yang tidak memenuhi syarat.]

Jadi, untuk membuka pintu, ia harus meletakkan tangan dan mengalirkan energi. Tapi itu akan menimbulkan reaksi, mungkin membangunkan Penjaga. Ia perlu menidurkan Penjaga lebih dalam dulu, atau mengalihkan perhatiannya.

Lin Ming mundur, kembali ke tempat persembunyian di balik batu besar. Ia merencanakan. Dua malam lagi bulan purnama. Ia akan menunggu sampai saat itu, menggunakan Dreamleaf, lalu mencoba membuka pintu.

Tapi bagaimana jika Penjaga terbangun? Ia perlu jalur pelarian. Melihat sekeliling, ia melihat beberapa celah kecil di dinding gua—mungkin cukup untuknya masuk, tapi tidak untuk Penjaga yang besar. Itu bisa menjadi tempat berlindung.

Selama dua hari berikutnya, Lin Ming bersembunyi di gua kecil di dekatnya, mengamati pola tidur Penjaga. Ia memperhatikan bahwa setiap dua belas jam, Penjaga bergerak sedikit, mengubah posisi, tapi tidak benar-benar terbangun. Pada malam pertama, bulan hampir purnama, cahaya bulan menembus air terjun, menyinari gua. Penjaga tampak tidur lebih nyenyak—gerakannya berkurang.

Lin Ming menggunakan waktu untuk berlatih dan mempersiapkan. Ia mengisi penuh energinya dengan air energi (masih ada cukup). Ia juga mencoba membuat “bom asap” dari Dreamleaf—membungkus daun-daun itu dalam bungkusan kulit dengan lubang kecil, sehingga jika dibakar, asapnya keluar terkontrol.

Akhirnya, malam bulan purnama tiba. Cahaya bulan penuh menerobos air terjun, membanjiri gua dengan cahaya keperakan. Penjaga berbaring tak bergerak, napasnya dalam dan teratur. Ini kesempatannya.

Lin Ming bergerak. Pertama, ia menempatkan tiga bungkusan Dreamleaf di sekitar Penjaga, di arah angin sepoi-sepoi yang mengalir di gua. Dengan menggunakan korek api primitif (gesekan batu dan bahan kering), ia menyalakan satu bungkusan. Asap kebiruan mulai mengepul, terbawa angin ke arah wajah Penjaga.

Penjaga mengendus, tapi tidak terbangun. Napasnya semakin dalam. Lin Ming menyalakan dua bungkusan lainnya. Asap semakin tebal. Penjaga sekarang benar-benar terlelap—matanya tidak bergerak sama sekali, tubuhnya lunglai.

Waktunya. Lin Ming dengan cepat mendekati pintu. Ia menempelkan telapak tangan kanannya ke lekukan, lalu mulai mengalirkan energinya.

Pintu bereaksi. Simbol-simbol mulai bersinar, cahaya putih terang memancar dari ukiran. Lin Ming merasakan energinya tersedot dengan cepat—5 unit, 10 unit, 15 unit… hampir habis!

Tiba-tiba, Penjaga mendengus keras. Ia terbangun! Mungkin karena cahaya atau perubahan energi. Matanya terbuka, enam bola merah menyala menatap ke arah Lin Ming.

Penjaga mengaum, suaranya mengguncang gua. Ia bangkit, mengibaskan sayapnya. Lin Ming panik, tapi pintu masih menyedot energinya—20 unit, habis! Dantiannya kosong!

Pintu mulai terbuka, bergeser perlahan dengan gemuruh batu. Celah cahaya putih terang memancar dari dalam.

Tapi Penjaga sudah menyerang. Ia melompat, cakar raksasa mengayun ke arah Lin Ming. Lin Ming mengaktifkan Penguatan Diri Qi untuk kecepatan, melompat ke samping. Cakar itu mendarat di tempatnya berdiri tadi, menghancurkan batu.

Lin Ming berlari menuju celah di dinding yang sudah ia identifikasi. Tapi Penjaga lebih cepat. Ekor kalajengkingnya menyambar, sengatnya mengarah ke punggung Lin Ming.

Di saat kritis, Lin Ming melompat ke depan, masuk ke celah sempit. Sengat itu menghantam batu di atas kepalanya, membuat pecahan batu berhamburan. Celah itu terlalu sempit untuk Penjaga, tapi ia mencakar-cakar, berusaha memperlebar.

Lin Ming terus merangkak, masuk lebih dalam. Ia mendengar amukan Penjaga di belakangnya, tapi ia aman untuk sementara.

Tapi masalah lain: pintu warisan telah terbuka, tapi Penjaga menjaga jalan keluar. Dan energi Lin Ming hampir habis. Bagaimana ia bisa mencapai pintu itu sekarang?

Dari dalam celah, ia melihat ke arah pintu. Cahaya putih masih memancar. Warisan Dewa Bela Diri ada di sana, begitu dekat tapi begitu sulit dicapai.

Lin Ming duduk di kegelapan celah batu, bernapas lega. Ia selamat dari serangan Penjaga, tapi terjebak. Ia perlu rencana baru untuk mencapai pintu itu tanpa menjadi makanan Penjaga.

Dan waktu terus berjalan.