Bab 11: Kota Dosa dan Lelang Bawah Tanah

Ukuran:
Tema:

Gerbang baja raksasa Kota Baja Merah menjulang tinggi membelah langit yang diselimuti awan abu-abu vulkanik. Temboknya yang terbuat dari campuran bijih besi merah dan lelehan magma beku memancarkan hawa panas yang membakar kulit, seolah kota itu sendiri adalah sebuah tungku raksasa yang siap memanggang siapa saja yang memiliki mental lemah. Bau belerang, karat, dan keringat manusia bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer yang menyesakkan napas namun di saat yang sama memompa adrenalin para petualang yang datang mencari peruntungan.

Lin Tian dan Bai Xue berdiri di barisan belakang antrean panjang yang bergerak lambat menuju gerbang. Di sekeliling mereka, pemandangan hukum rimba yang sesungguhnya terpampang nyata. Beberapa meter di sebelah kiri, sekelompok tentara bayaran berwajah codet sedang memukuli seorang pedagang kurus yang mencoba menyelundupkan ramuan palsu. Di sebelah kanan, seorang kultivator berjubah hitam memamerkan keranjang berisi kepala-kepala binatang buas yang masih meneteskan darah. Tidak ada yang peduli. Tidak ada penjaga keamanan yang melerai. Di Kota Baja Merah, simpati adalah mata uang yang tidak laku.

“Lima batu spiritual tingkat rendah per orang! Bayar, atau menyingkir dari jalanku!” teriak seorang penjaga gerbang bertubuh raksasa yang mengenakan zirah berduri. Tangannya yang berbulu lebat memegang sebuah kapak bermata ganda yang kotor oleh kerak darah yang telah mengering.

Ketika tiba giliran mereka, Lin Tian dengan tenang melemparkan sepuluh batu spiritual tingkat rendah—hasil rampasan dari mayat Ku Feng—ke atas meja kayu yang dijaga oleh raksasa itu. Batu-batu itu berdenting nyaring, memancarkan fluktuasi energi alam yang murni.

Penjaga itu menyapu batu-batu tersebut dengan tangannya yang besar, lalu menyipitkan mata menatap Lin Tian yang bertelanjang dada, dan kemudian beralih menatap Bai Xue yang berdiri di belakangnya. Meskipun wajah Saintess itu tertutup cadar putih dan sosoknya dibalut jubah longgar, lekuk tubuhnya yang anggun dan aura sedingin es yang memancar darinya tetap tidak bisa menyembunyikan pesona mutlak yang menggetarkan jiwa pria mana pun.

“Heh, dari mana kau mendapatkan wanita secantik ini, Nak?” Penjaga raksasa itu menyeringai mesum, memperlihatkan giginya yang kuning dan membusuk. Ia menjulurkan tangannya yang kotor, berniat menyentuh bahu Bai Xue. “Apakah dia budak yang ingin kau jual di pasar gelap? Aku bersedia membayar lima ratus batu spiritual untuk—”

KRETAK!

Sebelum jari kotor penjaga itu sempat menyentuh sehelai pun benang dari jubah Bai Xue, Lin Tian telah bergerak. Gerakannya begitu cepat hingga mata para kultivator biasa di antrean itu tidak bisa menangkapnya. Tangan kanan Lin Tian melesat, mencengkeram pergelangan tangan raksasa itu dengan kekuatan jepitan tang baja. Suara tulang yang remuk seketika terdengar nyaring mengalahkan hiruk-pikuk di sekitar gerbang.

“AARRRGGGHHH!” Penjaga raksasa itu menjerit melengking, wajahnya yang garang berubah menjadi topeng kesakitan yang menyedihkan. Lututnya melemas dan ia jatuh berlutut di depan meja kayunya sendiri.

Para penjaga lain yang melihat rekannya diserang langsung menghunus senjata mereka, memancarkan aura Alam Pembentukan Qi tingkat awal. Namun, Lin Tian bahkan tidak menoleh ke arah mereka. Ia mengencangkan cengkeramannya sedikit lagi, membuat raksasa di depannya semakin melolong histeris hingga air matanya keluar. Mata emas Lin Tian menatap penjaga yang berlutut itu dengan tatapan predator yang mematikan.

“Matamu sudah buta, dan mulutmu berbau busuk,” ucap Lin Tian dengan suara datar yang membawa hawa dingin dari neraka terdalam. “Aku sudah membayar tiket masukku. Singkirkan tangan kotormu, atau aku akan mencabut lengan ini dari bahumu dan memaksamu memakannya mentah-mentah. Mengerti?”

Niat membunuh yang murni dan absolut meledak dari tubuh Lin Tian, menyapu seluruh gerbang. Aura itu begitu pekat hingga membuat para penjaga lain membeku di tempat, tidak berani melangkah maju sejengkal pun. Mereka bisa merasakan bahwa pemuda berpenampilan liar ini bukanlah seorang kultivator biasa; ia adalah iblis yang benar-benar akan melakukan apa yang diucapkannya tanpa ragu sedikit pun.

“M-Mengerti! Aku mengerti! Lepaskan aku, Tuan! Maafkan mata anjingku ini!” rintih penjaga raksasa itu dengan putus asa.

Lin Tian mendengus pelan, lalu melepaskan cengkeramannya dan mendorong raksasa itu hingga terjengkang ke belakang. Tanpa membuang waktu atau mempedulikan tatapan ngeri dari ribuan orang di sekitarnya, Lin Tian melangkah melewati gerbang. Bai Xue mengikuti di belakangnya dengan langkah tenang, matanya yang biru memancarkan sedikit riak geli. Di dunia Jianghu, terkadang menunjukkan sedikit taring di awal adalah cara terbaik untuk menghindari ratusan lalat pengganggu di kemudian hari.

Begitu melewati lorong gerbang setebal dua puluh meter, pemandangan Kota Baja Merah seutuhnya terhampar di depan mata mereka. Jalanan utama terbuat dari lempengan batu vulkanik hitam yang dipoles mengkilap. Bangunan-bangunan menjulang tinggi di kiri dan kanan, terbuat dari kayu besi dan batu merah, dihiasi dengan lentera-lentera berdarah yang memancarkan cahaya remang-remang meski hari masih sore.

Jalanan itu padat merayap. Toko-toko di pinggir jalan memamerkan barang dagangan yang tidak akan pernah ditemukan di kota-kota lurus. Ada toko yang memajang toples-toples berisi organ dalam binatang buas beracun yang masih berdenyut, ada pandai besi yang menempa pedang dengan darah manusia sebagai pendinginnya, dan ada pula panggung-panggung kecil di mana budak-budak dari ras manusia setengah siluman dirantai dan dilelang secara terbuka.

“Tempat ini benar-benar mewakili sisi tergelap dari Benua Cakrawala,” komentar Bai Xue pelan, suaranya dikirimkan melalui transmisi Qi langsung ke telinga Lin Tian agar tidak disadap oleh orang lain. Bagi seorang Saintess yang dibesarkan di istana es yang suci dan murni, tempat ini adalah antitesis dari segala hal yang ia ketahui.

“Di tempat yang gelap gulita, tidak ada yang peduli pada bayanganmu,” balas Lin Tian santai. Ia menghirup udara yang berbau belerang itu dengan napas panjang, seolah ia baru saja pulang ke kampung halamannya. “Pelelangan Bintang Darah akan diadakan tiga hari lagi. Kita butuh tempat untuk beristirahat dan mengonsolidasikan kekuatan. Kau tahu penginapan mana yang paling aman di kota ini?”

“Di ujung Jalan Tengkorak Api, ada sebuah tempat bernama Paviliun Anggrek Hitam,” Bai Xue memandu. “Itu adalah penginapan premium yang dikelola langsung oleh cabang Aliansi Kamar Dagang Bawah Tanah. Selama kita membayar mahal, privasi dan keamanan kita dijamin secara mutlak. Bahkan Tuan Kota Baja Merah pun tidak berani membuat keributan di sana.”

Mereka menyusuri jalanan yang ramai selama setengah jam, mengabaikan tatapan-tatapan lapar dan mengintimidasi dari para preman jalanan yang pada akhirnya mengurungkan niat setelah merasakan aura buas yang sengaja sedikit dibocorkan oleh Lin Tian.

Paviliun Anggrek Hitam ternyata adalah sebuah kompleks bangunan megah yang sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya. Dinding luarnya terbuat dari batu giok hitam yang memancarkan aura dingin yang menenangkan, menangkal hawa panas kota vulkanik tersebut. Di pintu masuknya, berdiri dua buah patung singa batu bermata zamrud yang memancarkan fluktuasi formasi pelindung tingkat tinggi.

Lin Tian menyewa sebuah pelataran mandiri (courtyard) kelas atas dengan harga fantastis: lima ratus batu spiritual tingkat rendah per malam. Harga yang bisa membuat bangkrut klan kecil di kota perbatasan. Namun, berkat kekayaan Ku Feng, Lin Tian membayarnya tanpa mengedipkan mata. Pelataran itu sangat luas, dikelilingi oleh taman bambu hitam buatan, memiliki mata air panas alami, dan dilindungi oleh formasi pengedap suara serta penahan deteksi spiritual.

Setelah memastikan Bai Xue beristirahat di kamar utama untuk menstabilkan kondisi meridiannya yang masih rapuh, Lin Tian tidak membuang waktu untuk bersantai. Ia mandi dengan cepat, membersihkan sisa darah dan debu Ngarai Ratapan Angin, lalu mengenakan jubah hitam polos yang ia beli dalam perjalanan menuju paviliun. Jubah itu menyembunyikan otot-otot tembaganya dan membantunya membaur dengan lautan manusia di pasar gelap.

“Aku akan pergi ke balai penilaian Kamar Dagang Bawah Tanah,” kata Lin Tian dari balik pintu kamar Bai Xue. “Inti ganda tingkat empat dan darah esensi dari ular piton itu terlalu berharga untuk dibiarkan menganggur. Aku akan menjual sebagian darah esensinya untuk mendapatkan kualifikasi VIP di pelelangan nanti.”

“Berhati-hatilah,” suara merdu Bai Xue terdengar dari dalam. “Kamar Dagang Bawah Tanah sangat menghormati kekuatan dan kekayaan, tapi mereka juga tidak segan-segan menelan orang bodoh yang menunjukkan harta karun tanpa memiliki taring untuk melindunginya.”

“Jangan khawatir. Jika mereka mencoba menelanku, aku akan merobek perut mereka dari dalam,” jawab Lin Tian dingin. Ia berbalik dan melangkah keluar dari pelataran, menyatu dengan bayang-bayang malam yang mulai turun menyelimuti Kota Baja Merah.

Balai Penilaian Kamar Dagang Bawah Tanah terletak tepat di pusat kota, di sebelah gedung lelang raksasa yang berbentuk seperti kubah setengah lingkaran. Bangunan balai penilaian itu sendiri menyerupai sebuah benteng berlapis emas gelap. Puluhan penjaga berzirah berat yang memancarkan fluktuasi Alam Pembentukan Qi tingkat puncak berpatroli di sekelilingnya, menegaskan bahwa tempat ini bukanlah tempat bermain anak-anak.

Lin Tian melangkah masuk ke dalam lobi yang sangat luas dan mewah. Lantainya terbuat dari marmer putih yang memantulkan cahaya lampu kristal raksasa di langit-langit. Aroma gaharu yang menenangkan menguar di udara, sangat berbeda dengan bau amis darah di luar sana. Beberapa konter penerimaan berjejer rapi, dijaga oleh pelayan-pelayan cantik berpakaian sutra ketat yang melayani para kultivator dengan senyum profesional.

Lin Tian mendekati salah satu konter yang sedang kosong. Seorang pelayan wanita berambut merah menatapnya dengan pandangan menilai. Meskipun Lin Tian mengenakan jubah hitam biasa dan fluktuasi kultivasinya secara teknis hanya berada di Alam Penempaan Tubuh, aura tenang dan tatapan matanya yang sangat dalam membuat pelayan itu tidak berani meremehkannya. Di kota ini, banyak monster tua yang menyamar menjadi pemuda lemah.

“Selamat datang di Balai Penilaian Kamar Dagang Bawah Tanah, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” sapa pelayan itu dengan sopan.

“Aku memiliki barang untuk dinilai, dan aku menginginkan token VIP untuk Pelelangan Bintang Darah tiga hari lagi,” jawab Lin Tian langsung pada intinya.

Pelayan itu tersenyum meminta maaf. “Tuan, untuk mendapatkan kualifikasi penilaian barang tingkat tinggi dan token VIP, nilai estimasi barang Anda harus melebihi batas lima puluh ribu batu spiritual tingkat menengah. Jika barang Anda di bawah nilai tersebut, silakan menuju konter reguler di sebelah kiri.”

Lima puluh ribu batu spiritual tingkat menengah adalah jumlah kekayaan yang bisa membeli sebuah kota kecil beserta seluruh penduduknya. Persyaratan ini sengaja dibuat untuk menyaring rakyat jelata dari barang-barang lelang yang sesungguhnya.

Lin Tian tidak mengatakan apa-apa. Ia membalik telapak tangannya. Cahaya perak berkedip dari cincin spasialnya, dan sebuah botol kaca giok berukuran kecil muncul di genggamannya. Di dalam botol tembus pandang itu, terdapat cairan kental berwarna campuran merah darah dan biru safir yang berputar pelan seperti miniatur galaksi. Suhu udara di sekitar konter itu seketika berfluktuasi secara ekstrem—satu sisi terasa membekukan tulang, sementara sisi lainnya terasa seperti berada di mulut gunung berapi.

Meskipun tertutup rapat, tekanan energi murni dari darah binatang buas tingkat empat puncak tidak bisa sepenuhnya disembunyikan.

Mata pelayan berambut merah itu langsung melebar. Tubuhnya bergetar saat merasakan tekanan spiritual dari botol kecil tersebut. Pengetahuannya sebagai staf kamar dagang cukup untuk menyadari bahwa apa yang ada di tangan pemuda ini bukanlah barang fana biasa.

“T-Tuan… mohon tunggu sebentar. Barang tingkat ini tidak bisa saya tangani,” suaranya sedikit gemetar. Ia segera menekan sebuah kristal komunikasi di mejanya. “Saya akan memanggil Master Penilai Utama kami untuk Anda. Silakan ikuti saya ke ruang VIP.”

Lin Tian mengangguk pelan dan mengikuti pelayan itu menaiki tangga melingkar menuju lantai dua, meninggalkan tatapan iri dan penasaran dari beberapa kultivator di lobi yang sempat merasakan sekilas fluktuasi energi dari botol tersebut.

Ruang VIP di lantai dua memiliki desain tertutup dengan ukiran formasi pengedap suara di setiap dindingnya. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kayu cendana merah. Tak lama setelah Lin Tian duduk, pintu ruangan terbuka, dan seorang pria tua kurus berjubah abu-abu dengan mata sekecil biji kedelai melangkah masuk. Pria tua itu memancarkan aura Alam Bumi tingkat puncak, namun yang lebih menonjol adalah aroma obat-obatan kuat yang menempel di tubuhnya. Ia jelas seorang Alkemis tingkat tinggi sekaligus penilai ahli.

“Saya adalah Master Gu, Kepala Penilai di cabang ini,” pria tua itu memperkenalkan dirinya sambil duduk di seberang Lin Tian. Matanya yang sipit menatap pemuda berjubah hitam itu dengan tajam, mencoba membaca dasar kultivasinya, namun ia hanya menemukan dinding kokoh yang tidak bisa ditembus oleh deteksi spiritualnya. “Gadis di bawah mengatakan Anda membawa sesuatu yang menarik.”

Lin Tian meletakkan botol kaca giok itu ke atas meja dan mendorongnya ke hadapan Master Gu. “Darah esensi dari jantung Ular Piton Kembar Es-Api Bermahkota tingkat empat puncak. Kondisinya sangat segar, belum lewat dari sepuluh hari sejak binatang buas itu mati.”

Mendengar nama binatang buas legendaris tersebut, tangan Master Gu yang sedang membelai jenggotnya seketika terhenti. Ia mengambil botol itu dengan hati-hati seolah sedang memegang bom yang siap meledak. Ia membuka sumbatnya sedikit.

WUUUSSH!

Semburan aura es yang membekukan dan api yang membakar langsung meledak ke wajah Master Gu, membuat rambut dan jenggot pria tua itu berkibar hebat. Ia buru-buru menutupnya kembali, namun matanya kini membelalak lebar, dipenuhi oleh ekstase dan ketidakpercayaan yang fanatik.

“Surga di atas… Ini asli! Benar-benar asli! Kemurniannya seratus persen, tanpa ada tanda-tanda kerusakan energi akibat pertarungan yang terlalu lama!” Suara Master Gu bergetar karena kegembiraan. Sebagai seorang alkemis, darah esensi dari monster tingkat empat puncak dengan dua elemen ekstrem adalah bahan suci yang hanya ada di dalam mimpi. “Binatang buas ini kekuatannya setara dengan ahli Alam Langit tingkat menengah! Bagaimana… bagaimana mungkin Anda bisa mendapatkan darah esensi sedalam ini dari jantungnya?!”

“Bagaimana aku mendapatkannya bukanlah urusan Kamar Dagang Bawah Tanah,” potong Lin Tian dingin. “Yang penting adalah, berapa nilainya, dan apakah ini cukup untuk menukarkan token VIP pelelangan, sekaligus memberiku cukup dana untuk membeli sumber daya tingkat tinggi?”

Master Gu segera mengatur napasnya, mengembalikan ekspresi profesionalnya, meskipun tangannya masih enggan melepaskan botol giok tersebut.

“Maafkan ketidaksopanan saya, Tuan. Anda benar, kami tidak pernah bertanya tentang asal usul barang. Mengenai nilainya…” Master Gu menelan ludah. “Darah esensi dari Ular Piton Kembar tingkat empat puncak ini adalah harta karun penyempurnaan tubuh dan bahan utama Pil Penebusan Yin-Yang. Nilai dasarnya adalah seratus ribu batu spiritual tingkat menengah. Jika dilelang, harganya bisa melonjak hingga dua ratus ribu. Saya dapat langsung membeli setengah dari isi botol ini seharga seratus ribu, dan memberikan Anda Token VIP Platinum, tingkat tertinggi di pelelangan kami.”

Lin Tian mengangguk setuju. Ia memang sengaja hanya membawa sebagian kecil dari darah esensi yang ia kumpulkan. Sisa darah esensi, beserta Inti Ganda yang tak ternilai harganya, masih aman di dalam Mutiara Naga Surgawinya untuk ia gunakan sendiri. Seratus ribu batu spiritual tingkat menengah sudah lebih dari cukup untuk memborong seluruh pasar malam di kota ini.

“Sepakat,” jawab Lin Tian.

Master Gu tersenyum lebar hingga matanya hampir hilang. Transaksi ini akan memberinya komisi yang luar biasa besar dari markas pusat. Ia segera mengeluarkan sebuah token logam berwarna hitam mengkilap dengan ukiran bintang merah berdarah, beserta sebuah cincin spasial berisi seratus ribu batu spiritual tingkat menengah, dan menyerahkannya kepada Lin Tian.

“Dengan Token VIP Platinum ini, Anda akan ditempatkan di ruangan pribadi di lantai teratas saat pelelangan, dan identitas Anda akan dilindungi secara mutlak oleh formasi kami,” jelas Master Gu dengan penuh rasa hormat. “Apakah ada hal lain yang Tuan butuhkan?”

Lin Tian menyimpan barang-barangnya. “Aku butuh informasi. Apakah ada barang lelang yang mengandung esensi elemen Yin ekstrem tingkat tinggi? Atau ramuan spiritual yang mampu memicu terobosan paksa dari Alam Penempaan Tubuh ke Alam Pembentukan Qi dengan kapasitas seratus kali lipat dari kultivator normal?”

Master Gu mengerutkan kening sejenak, merenung. “Untuk elemen Yin ekstrem… kebetulan sekali, pada hari ketiga pelelangan, akan ada sebuah ‘Bunga Teratai Salju Seribu Tahun’ yang baru saja diekskavasi dari Makam Es Abadi di wilayah utara. Itu adalah harta karun tingkat Bumi tingkat tinggi. Banyak tokoh besar yang datang khusus untuk memperebutkan bunga itu. Sedangkan untuk ramuan pemicu terobosan kapasitas ekstrem… ada sebuah ‘Akar Naga Darah’ yang dikabarkan memiliki jejak tipis garis keturunan naga bumi. Namun, memakannya langsung sama dengan bunuh diri bagi kultivator di bawah Alam Langit karena energi liarnya.”

Mata Lin Tian berkilat emas sekilas saat mendengar nama Akar Naga Darah. Benda yang dianggap racun mematikan oleh orang lain adalah makanan ringan yang paling sempurna untuk Mutiara Naga Surgawinya. Dan Bunga Teratai Salju Seribu Tahun itu pasti bisa digunakan oleh Bai Xue untuk menyembuhkan kerusakan pada meridiannya.

“Sempurna. Aku akan hadir tiga hari lagi,” Lin Tian bangkit dari kursinya, bersiap untuk pergi.

Namun, tepat pada saat Lin Tian memutar kenop pintu ruang VIP, pintu itu tiba-tiba ditendang terbuka dari luar dengan tenaga yang sangat brutal. Lin Tian dengan sigap memiringkan tubuhnya, menghindari daun pintu kayu cendana yang hancur berkeping-keping dan menghantam dinding di belakangnya.

“Master Gu! Aku dengar ada seseorang yang menjual darah esensi binatang buas tingkat empat berelemen api! Aku, Yan Kuang, menginginkannya sekarang juga! Sebutkan harganya!”

Sebuah suara arogan dan kasar menggelegar dari lorong di luar. Masuklah seorang pemuda berusia awal dua puluhan, mengenakan jubah sutra merah yang dihiasi bordiran harimau emas. Wajahnya angkuh, hidungnya bangir, dan matanya memancarkan kesombongan yang tak tertandingi. Fluktuasi kultivasinya berada di Alam Pembentukan Qi tingkat menengah, cukup mengesankan untuk usianya. Di belakangnya, dua pengawal tua dengan aura Alam Bumi tingkat awal berdiri mengawasi dengan wajah dingin.

Master Gu langsung mengerutkan kening dalam-dalam. “Tuan Muda Yan, ini adalah ruang VIP. Anda tidak bisa menerobos masuk begitu saja. Dan barang yang Anda sebutkan telah menjadi milik Kamar Dagang Bawah Tanah. Jika Anda menginginkannya, silakan ikut bersaing di pelelangan nanti.”

Yan Kuang adalah putra dari Ketua Geng Darah Besi, salah satu faksi tiran penguasa dunia bawah Kota Baja Merah. Di kota ini, Geng Darah Besi mengontrol separuh dari jalur distribusi budak dan senjata, membuat mereka sangat ditakuti.

“Pelelangan itu buang-buang waktu!” Yan Kuang mendengus kasar. Matanya kemudian tertuju pada Lin Tian yang berdiri di dekat pintu, menghalangi jalannya. Ia merasakan fluktuasi kultivasi Lin Tian yang hanya berada di Alam Penempaan Tubuh Tingkat Kesembilan. Senyum meremehkan langsung terukir di wajahnya.

“Jadi ini semut yang menemukan darah esensi itu?” Yan Kuang melangkah mendekati Lin Tian, menunjuk dada pemuda itu dengan kipas lipatnya. “Hei, gembel. Kau pasti hanya kebetulan menemukan bangkai monster itu di hutan. Kamar dagang pasti memerasmu dengan harga murah. Ambil ini, seribu batu spiritual tingkat menengah, dan serahkan sisa darah esensi yang kau sembunyikan kepadaku. Anggap saja kau sedang membeli perlindungan dari Geng Darah Besi. Ini kesepakatan yang sangat menguntungkan untuk pecundang sepertimu.”

Yan Kuang melemparkan sebuah kantong kecil berisi batu spiritual ke lantai tepat di bawah kaki Lin Tian, seolah sedang memberi makan anjing jalanan.

Master Gu memucat. Ia tahu betul betapa mengerikannya tekanan aura dari botol yang dibawa Lin Tian. Pemuda berjubah hitam ini pasti bukan kultivator biasa. “Tuan Muda Yan, hentikan! Jangan membuat keributan di balai penilaian kami!” tegur Master Gu, mencoba mencegah bencana.

Lin Tian menunduk, menatap kantong batu spiritual di dekat sepatunya, lalu perlahan mengangkat kepalanya. Ekspresinya setenang permukaan danau yang membeku, namun mata emasnya memancarkan niat membunuh yang murni dan tidak disaring. Di Hutan Kematian, di Kota Daun Musim Gugur, dan di Ngarai Ratapan Angin, orang-orang arogan yang menunjuk hidungnya selalu berakhir menjadi tumpukan daging mati.

“Kau menjatuhkan uangmu, anak kecil,” suara Lin Tian sangat pelan, namun mengandung resonansi yang membuat udara di dalam ruangan itu bergetar.

“Kau berani memanggilku apa, dasar cacat?!” Wajah Yan Kuang memerah karena amarah. Sebagai tuan muda tiran, tidak pernah ada yang berani menantangnya di kotanya sendiri. Ia mengangkat tangan kanannya, Qi api berwarna merah meledak menyelimuti telapak tangannya, bersiap untuk menampar wajah Lin Tian hingga hancur. “Aku akan mencabik-cabik mulutmu!”

Tangan yang dilapisi Qi api itu melesat lurus ke pipi Lin Tian. Kedua pengawal Alam Bumi di belakang Yan Kuang hanya menyeringai, tidak berniat menghentikan tuan muda mereka yang sedang mendisiplinkan orang rendahan.

Namun, yang terjadi selanjutnya berlangsung terlalu cepat bahkan untuk ditangkap oleh insting para pengawal tersebut.

Lin Tian tidak mundur selangkah pun. Tangan kirinya melesat ke atas seperti sambaran petir hitam, menangkap pergelangan tangan Yan Kuang dengan presisi mutlak. Qi api yang membakar itu padam seketika saat bersentuhan dengan kulit tangan Lin Tian, seolah disiram oleh air raksa es.

“A-Apa…?!” Mata Yan Kuang membelalak kaget. Ia mencoba menarik tangannya, namun cengkeraman pemuda di depannya terasa seperti rahang naga yang mengunci tulangnya.

“Orang tuamu tidak pernah mengajarimu sopan santun saat berbicara dengan seseorang yang bisa mencabut nyawamu,” bisik Lin Tian dingin.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Yan Kuang untuk membalas, tangan kanan Lin Tian melesat ke depan, mencengkeram wajah tuan muda arogan itu, membungkus seluruh wajahnya dengan telapak tangan besarnya.

BUMMM!

Lin Tian membanting tubuh Yan Kuang ke bawah dengan kekuatan fisik murni yang sangat brutal. Kepala tuan muda itu menghantam lantai marmer ruang VIP hingga menciptakan kawah kecil. Jaring-jaring retakan menjalar ke seluruh penjuru ruangan.

Yan Kuang memuntahkan darah segar dari sela-sela jari Lin Tian yang menutupi wajahnya. Tulang hidung dan rahangnya remuk seketika. Seluruh Qi di tubuhnya buyar akibat benturan gegar otak yang luar biasa hebat. Hanya dengan satu bantingan sederhana menggunakan kekuatan fisik Alam Penempaan Tubuh, seorang jenius Alam Pembentukan Qi tingkat menengah dihancurkan layaknya boneka jerami.

“TUAN MUDA!” Kedua pengawal Alam Bumi itu menjerit histeris saat menyadari apa yang baru saja terjadi. Niat membunuh yang gila meledak dari tubuh mereka. Keduanya langsung menghunus pedang besar mereka, melepaskan aura Alam Bumi yang menekan ruangan itu hingga membuat perabotan kayu cendana hancur berantakan.

“Lepaskan dia, atau kami akan memotongmu menjadi ribuan keping!” raung salah satu pengawal, melesat maju dengan pedang yang diarahkan ke leher Lin Tian.

Lin Tian sama sekali tidak panik. Ia mempertahankan cengkeramannya pada wajah Yan Kuang yang setengah sadar dan memutar tubuh pemuda itu, menggunakan tubuh sang tuan muda sebagai tameng daging.

Kedua pengawal itu terpaksa menghentikan tebasan mereka secara paksa di udara, membiarkan energi pedang mereka membentur dinding hingga ruangan itu hampir runtuh. Mereka tidak berani melukai tuan muda mereka sendiri.

“Mundur,” perintah Lin Tian, suaranya dipenuhi oleh arogansi seorang tiran absolut. Ia mengangkat tubuh Yan Kuang dengan satu tangan seolah sedang mengangkat seekor anak kucing. Mata emasnya menatap tajam ke arah kedua ahli Alam Bumi tersebut, memancarkan dominasi purba yang membuat nyali kedua pria tua itu tanpa sadar menyusut. “Jika kalian berani mengambil satu langkah lagi, aku akan meremukkan tengkorak tuan muda kesayangan kalian ini menjadi bubur.”

Keringat dingin mengucur deras di dahi kedua pengawal itu. Mereka berada di Alam Bumi, memiliki kekuatan yang jauh melampaui pemuda di depan mereka, namun mereka dikunci sepenuhnya oleh kecepatan dan kebrutalan tindakan Lin Tian.

Master Gu, yang sedari tadi berlindung di balik sisa-sisa mejanya, akhirnya angkat bicara dengan suara bergetar namun tegas. “Pengawal Geng Darah Besi, hentikan! Pemuda ini adalah Tamu VIP Platinum Kamar Dagang Bawah Tanah kami! Siapa pun yang berani menyerang Tamu VIP kami di dalam gedung ini, sama saja dengan menyatakan perang terbuka melawan seluruh Aliansi Dagang!”

Mendengar ancaman dari perwakilan Kamar Dagang Bawah Tanah, nyali kedua pengawal itu benar-benar ciut. Geng Darah Besi memang tiran, tapi jika dibandingkan dengan raksasa benua seperti Aliansi Dagang, mereka hanyalah semut lokal.

Melihat musuhnya ragu, Lin Tian mendengus sinis. Ia membuang tubuh Yan Kuang yang berlumuran darah dan merintih kesakitan ke pelukan salah satu pengawal, seolah membuang sekarung sampah busuk.

“Bawa anjing kecil ini pulang dan perbaiki tali kekangnya,” kata Lin Tian sambil membersihkan debu dari jubah hitamnya dengan santai. Ia melangkah melewati kedua pengawal yang mengertakkan gigi karena marah namun tidak berani bergerak itu.

Sebelum keluar dari pintu yang hancur, Lin Tian menoleh sedikit, menatap mereka dengan tatapan mata yang menyala tajam. “Jika Geng Darah Besi kalian merasa tidak terima dengan pelajaran hari ini, silakan temukan aku. Aku tidak keberatan menambahkan beberapa mayat lagi di jalanan kota ini.”

Dengan langkah panjang yang tenang dan mantap, Lin Tian meninggalkan Balai Penilaian, menghilang kembali ke dalam hiruk-pikuk malam Kota Baja Merah. Di belakangnya, ia meninggalkan seorang tuan muda yang cacat, dua pengawal Alam Bumi yang gemetar menahan amarah, dan Master Gu yang menatap kepergiannya dengan campuran rasa ngeri dan kekaguman.

Pria tua itu tahu betul, badai darah yang jauh lebih mengerikan dari sekadar pelelangan akan segera menyapu Kota Baja Merah. Dan pemuda berjubah hitam dengan kekuatan fisik monster itulah yang akan menjadi mata badainya. Malam di kota dosa ini baru saja dimulai.