Bab 12: Badai Darah Besi dan Persiapan Sang Tiran
Malam di Kota Baja Merah tidak pernah benar-benar sunyi. Hiruk-pikuk dari pasar gelap, suara dentingan logam dari pandai besi yang bekerja lembur, dan teriakan mabuk dari para prajurit bayaran berbaur menjadi simfoni kekacauan yang mengalun di udara panas berbau belerang. Namun, di balik tembok tinggi Paviliun Anggrek Hitam, semua kebisingan kotor itu terpotong oleh formasi pengedap suara tingkat tinggi, menyisakan keheningan yang mahal dan menenangkan.
Lin Tian melangkah masuk ke dalam pelataran mandiri yang ia sewa. Langkah kakinya seringan daun yang jatuh, tidak menimbulkan suara sedikit pun di atas jalan setapak berbatu giok. Saat ia membuka pintu geser menuju ruang utama, hembusan udara dingin yang sangat kontras dengan cuaca vulkanik di luar langsung menyapanya.
Di tengah ruangan yang diterangi oleh cahaya lentera temaram, Bai Xue duduk bersila di atas ranjang kayu cendana. Gaun putihnya tergerai anggun, dan lapiran tipis kabut es berwarna biru pucat berputar perlahan mengelilingi tubuhnya. Ia sedang melakukan meditasi mendalam untuk menekan sisa-sisa fluktuasi kutukan Rantai Es Absolut menggunakan metode pernapasan rahasia dari Sekte Teratai Es.
Merasakan kehadiran Lin Tian, kabut es itu perlahan memudar dan terserap kembali ke dalam tubuh sang Saintess. Bai Xue membuka sepasang mata birunya yang sejernih telaga musim dingin. Ia menatap Lin Tian yang masih mengenakan jubah hitam polosnya, lalu pandangannya turun ke tangan pemuda itu.
Lin Tian berjalan mendekati meja teh di tengah ruangan. Dengan satu jentikan jari, ia mengeluarkan sebuah token logam hitam mengkilap berukir bintang merah dan sebuah cincin spasial dari dalam penyimpanannya, melemparkannya ke atas meja. Kedua benda itu bergemerincing pelan.
“Satu Token VIP Platinum, dan seratus ribu batu spiritual tingkat menengah,” ucap Lin Tian dengan nada datar, seolah ia baru saja membeli sayuran di pasar pagi. “Pelelangan Bintang Darah tiga hari lagi akan memiliki Bunga Teratai Salju Seribu Tahun. Aku akan memenangkannya untukmu. Dan ada Akar Naga Darah yang kudengar akan dilelang, itu adalah kunci terobosanku.”
Mata Bai Xue sedikit melebar melihat Token VIP Platinum tersebut. Ia tahu betul betapa sulitnya mendapatkan pengakuan tingkat tertinggi dari Kamar Dagang Bawah Tanah. “Kau menjual darah esensi ular piton itu? Berapa banyak yang kau jual hingga mereka memberimu perlakuan setinggi ini?”
“Hanya sebagian kecil dari setengah botol. Aku menyimpan inti gandanya dan sisa darah esensinya untuk diriku sendiri,” jawab Lin Tian sambil menuangkan secangkir teh hangat untuk dirinya sendiri. Ia menyesapnya perlahan. “Namun, sepertinya aku secara tidak sengaja menginjak ekor penguasa lokal kota ini.”
Alis Bai Xue berkerut tajam. “Apa yang kau lakukan kali ini, Lin Tian? Kau berjanji tidak akan memancing faksi bawah tanah.”
“Seorang idiot arogan berbaju merah menerobos masuk ke ruang penilaian VIP dan mencoba merampokku dengan melemparkan seribu batu spiritual ke wajahku,” Lin Tian mengangkat bahu, ekspresinya sangat tidak peduli. “Dia menyebut dirinya Yan Kuang dari Geng Darah Besi. Aku hanya memberinya sedikit pelajaran tentang tata krama dengan menghancurkan hidung dan giginya ke lantai marmer. Pengawalnya yang berada di Alam Bumi terlalu takut pada Kamar Dagang untuk menyerangku, jadi aku membiarkan mereka membawa pulang anjing cacat itu.”
Mendengar nama Yan Kuang dan Geng Darah Besi, Bai Xue memijat pelipisnya pelan. Kepalanya tiba-tiba terasa berdenyut. Tiran di depannya ini benar-benar tidak tahu arti kata ‘menahan diri’.
“Lin Tian… kau baru saja memukul sarang tawon paling mematikan di Kota Baja Merah,” Bai Xue menghela napas panjang, nada suaranya dipenuhi oleh teguran sekaligus kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. “Geng Darah Besi bukanlah klan kecil seperti di Kota Daun Musim Gugur. Mereka adalah penguasa mutlak dunia hitam di wilayah ini. Ketua geng mereka, Yan Tuo, adalah ayah dari Yan Kuang. Dia adalah seorang monster di puncak absolut Alam Bumi, hanya selangkah lagi dari Alam Langit! Di bawahnya, ada Puluhan ahli Alam Bumi dan ratusan pembunuh bayaran tingkat tinggi.”
“Puncak Alam Bumi?” Lin Tian meletakkan cangkir tehnya. Bukannya merasa takut, kilatan keemasan justru menyala di kedalaman pupilnya, memancarkan rasa lapar seorang predator. “Itu berarti dia memiliki Qi sejati yang jauh lebih padat daripada anjing tua Ku Feng dari Sekte Pedang Awan. Jika dia berani datang mencariku, aku akan dengan senang hati menerima sumbangan energinya.”
“Jangan gegabah! Kau belum menembus Alam Pembentukan Qi!” Bai Xue bangkit berdiri, menatap Lin Tian dengan serius. “Kekuatan fisikmu di Tubuh Sisik Naga Tembaga memang mampu menghancurkan Alam Bumi tingkat menengah, tapi puncak Alam Bumi adalah konsep yang sepenuhnya berbeda. Mereka bisa memadatkan Qi menjadi zirah pelindung yang setebal gunung dan melepaskan serangan area yang bisa menghancurkan satu blok kota. Jika Geng Darah Besi mengeroyokmu dengan formasi tempur mereka, stamina dan Qi di dalam Dantianmu akan habis sebelum kau bisa menyentuh Yan Tuo.”
Lin Tian terdiam sejenak. Ia bukan orang bodoh yang buta oleh kesombongannya sendiri. Analisis Bai Xue sangat akurat. Seni Kaisar Naga Surgawi memang membuatnya tak terkalahkan di tingkat yang sama dan memungkinkannya melompati alam kultivasi, namun perbedaan antara Penempaan Tubuh dan puncak Alam Bumi terlalu jauh secara kualitas energi alam.
“Tiga hari,” gumam Lin Tian. “Kita memiliki waktu tiga hari sebelum pelelangan, dan selama kita berada di dalam penginapan ini, Geng Darah Besi tidak akan berani menyerang secara terbuka karena ini adalah wilayah Kamar Dagang Bawah Tanah. Aku akan menggunakan waktu ini untuk mendorong fondasi fisikku ke batas kemutlakan yang tidak bisa dicapai oleh manusia mana pun.”
Lin Tian menatap Bai Xue dengan tatapan yang sangat tajam dan mendominasi. “Tetaplah di pelataran ini. Gunakan batu spiritual dari cincin ini jika kau butuh sesuatu. Aku akan melakukan kultivasi tertutup. Jangan biarkan siapa pun menggangguku.”
Tanpa menunggu persetujuan sang Saintess, Lin Tian berbalik dan melangkah menuju ruang kultivasi bawah tanah yang disediakan oleh paviliun tersebut. Ruangan itu dibangun dari batu obsidian dan dilapisi oleh susunan formasi pengumpul Qi yang sangat kuat.
Begitu pintu batu setebal dua kaki tertutup di belakangnya, Lin Tian segera melepas jubah hitamnya, membiarkan tubuhnya yang dipenuhi otot tembaga terekspos ke udara dingin ruangan. Ia duduk bersila di tengah-tengah formasi segi delapan. Dengan satu sapuan tangannya, ribuan batu spiritual tingkat menengah meluncur keluar dari cincin spasialnya, bertumpuk mengelilingi tubuhnya menyerupai sebuah gunung kecil yang memancarkan cahaya perak redup.
Batu spiritual tingkat menengah memiliki kepadatan energi seratus kali lipat lebih murni daripada batu tingkat rendah. Bagi kultivator Alam Penempaan Tubuh biasa, menyerap satu batu tingkat menengah saja bisa menyebabkan meridian mereka meledak karena kelebihan kapasitas. Namun bagi Lin Tian, ini hanyalah makanan pembuka.
“Mari kita lihat seberapa jauh wadah naga ini bisa diperluas,” bisik Lin Tian.
Ia memejamkan matanya dan secara brutal memicu Seni Kaisar Naga Surgawi. Di dalam Dantiannya, Mutiara Naga emas berputar dengan kecepatan yang gila, menciptakan suara dengungan purba yang menggetarkan dinding obsidian di sekitarnya.
Sebuah daya hisap yang menyerupai pusaran lubang hitam meledak dari tubuh pemuda itu.
WUSSSHHH!
Gunung batu spiritual tingkat menengah di sekelilingnya seketika bergetar hebat. Energi spiritual berwarna perak pekat ditarik keluar secara paksa dari dalam bebatuan tersebut, membentuk ribuan untaian kabut bercahaya yang melesat masuk ke dalam pori-pori kulit Lin Tian.
Rasa sakit yang familier kembali menyergapnya. Energi yang terlalu padat dan masif itu mencoba mengoyak meridiannya, namun Qi Naga Surgawi yang berwarna emas segera bangkit menyambut invasi tersebut. Qi emas itu menelan, memurnikan, dan mengasimilasi energi perak tersebut dengan kejam, lalu mendistribusikannya ke seluruh sel, otot, tulang, dan sumsum Lin Tian.
Suara letupan tumpul terdengar dari dalam tubuh Lin Tian. Tulang-tulangnya berderak, menjadi lebih padat dan lebih berat dari besi ilahi. Kulit tembaganya mulai memancarkan kilau metalik yang lebih gelap. Jika seseorang melihat lebih dekat, mereka akan melihat garis-garis emas yang sangat halus—serupa dengan rune kuno atau sisik naga mikroskopis—mulai terbentuk di bawah permukaan kulitnya.
Waktu di dalam ruang kultivasi terasa berhenti, namun di dunia luar, sebuah badai kemarahan sedang berkumpul.
Di bagian utara Kota Baja Merah, sebuah benteng raksasa yang dibangun dari tengkorak binatang buas dan baja hitam berdiri menjulang, memancarkan aura teror yang menekan seluruh distrik di sekitarnya. Ini adalah Markas Besar Geng Darah Besi.
Di dalam Aula Pembantaian Utama yang diterangi oleh obor-obor berapi merah, suasana terasa sedingin es. Di atas singgasana besar yang terbuat dari leburan pedang musuh-musuhnya, duduklah Yan Tuo. Ia adalah pria raksasa setinggi dua meter, dengan janggut merah lebat dan otot-otot yang menonjol keluar seperti bongkahan batu bata. Sepasang matanya memancarkan kekejaman yang telah diasah melalui pembantaian ribuan nyawa. Fluktuasi Qi di sekitar tubuhnya sangat tebal hingga udara di aula itu tampak terdistorsi, ciri khas dari seorang ahli di puncak absolut Alam Bumi.
Di lantai aula, tepat di bawah anak tangga singgasana, Yan Kuang terbaring di atas tandu dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Wajah tuan muda itu hancur total, dibalut oleh perban tebal yang terus-menerus merembeskan darah. Hidungnya rata, rahangnya patah, dan ia hanya bisa mengerang kesakitan seperti anjing yang sekarat.
Di samping tandu itu, kedua pengawal Alam Bumi yang sebelumnya menemani Yan Kuang sedang bersujud dengan wajah pucat pasi menempel ke lantai dingin. Keringat sebesar biji jagung mengucur deras dari dahi mereka.
“Kalian berdua adalah elit di Alam Bumi,” suara Yan Tuo terdengar rendah, bergetar karena amarah yang ditahan, bergema di seluruh aula seperti geraman monster purba. “Namun kalian membiarkan seorang bocah ingusan yang bahkan belum menembus Alam Pembentukan Qi menghancurkan wajah putra kandungku di siang bolong, dan kalian membiarkannya pergi hidup-hidup?!”
“A-Ampun, Ketua! Ini bukan salah kami!” ratap salah satu pengawal dengan histeris. “Pemuda itu… kekuatannya tidak masuk akal! Dia menangkap serangan Tuan Muda dengan satu tangan dan langsung menyandera beliau. Terlebih lagi… pemuda itu memiliki Token VIP Platinum dari Kamar Dagang Bawah Tanah! Master Gu dari Balai Penilaian mengancam akan menyatakan perang atas nama Aliansi Dagang jika kami berani menyentuhnya di dalam gedung mereka!”
BUMMM!
Yan Tuo menggebrak sandaran singgasananya. Lengan singgasana yang terbuat dari baja padat itu hancur berkeping-keping menjadi serbuk besi. Gelombang kejut dari amarahnya menyapu aula, menghempaskan puluhan obor dari dinding.
“Kamar Dagang Bawah Tanah?! Mereka pikir hanya karena mereka memiliki dukungan dari luar kota, mereka bisa meremehkan penguasa sejati Kota Baja Merah?!” raung Yan Tuo, berdiri dari singgasananya. Niat membunuh yang murni dan absolut membuat udara di aula itu membeku. “Tidak peduli apakah dia memiliki token VIP dewa sekalipun, tidak ada seorang pun yang melukai putraku yang bisa keluar dari kota ini dengan nyawa utuh!”
Yan Tuo mengalihkan pandangannya ke sudut paling gelap dari aula tersebut. Di sana, bayangan itu tampak hidup dan menggeliat.
“Gui Ying,” panggil Yan Tuo.
Dari dalam bayangan pekat itu, sesosok pria kurus tinggi yang seluruh tubuhnya dibalut perban abu-abu melangkah keluar tanpa suara sedikit pun. Hanya sepasang matanya yang sedingin es yang terlihat. Ia tidak memancarkan fluktuasi Qi apa pun, seolah ia adalah mayat hidup. Namun, semua petinggi Geng Darah Besi tahu bahwa Gui Ying adalah pembunuh bayaran nomor satu mereka, seorang ahli Alam Bumi tingkat akhir yang seni kultivasinya berfokus pada penyembunyian dan pembunuhan instan (assassination).
“Tuan,” suara Gui Ying terdengar serak dan mendesis, mirip dengan ular yang merayap di tanah kering.
“Aku ingin kau melacak bocah berjubah hitam itu,” perintah Yan Tuo dengan kejam. “Cari tahu di mana dia bersembunyi. Aku tahu dia pasti mengincar Pelelangan Bintang Darah. Biarkan dia hidup selama dia berada di dalam area lelang dan penginapan elit untuk menghindari gesekan langsung dengan Kamar Dagang. Namun, tepat pada saat pelelangan berakhir dan dia melangkah keluar dari zona aman… potong anggota tubuhnya satu per satu, segel meridiannya, dan bawa dia ke hadapanku hidup-hidup. Aku akan menyiksanya selama seratus hari di depan putraku sebelum membiarkannya mati!”
“Sesuai perintah Anda,” Gui Ying menunduk sedikit, lalu tubuhnya perlahan melebur kembali ke dalam bayangan lantai, menghilang tanpa meninggalkan jejak atau riak udara sedikit pun.
Yan Tuo kembali menatap kedua pengawal yang masih bersujud ketakutan di bawahnya. Mata ketua geng itu menyipit memancarkan kekejaman. “Adapun kalian berdua… Geng Darah Besi tidak memelihara anjing penjaga yang gagal melindungi tuannya.”
“TIDAAAK! KETUA, AMPU—”
Yan Tuo mengayunkan tangannya dengan santai. Dua bilah energi Qi berwarna merah darah yang luar biasa tajam melesat memotong udara. Dalam sekejap mata, kepala kedua pengawal Alam Bumi itu terlepas dari leher mereka, menggelinding ke lantai aula sementara darah mancur dari leher yang terpotong.
Bagi Yan Tuo, membunuh bawahannya sendiri semudah membalikkan telapak tangan. Dan kematian pemuda bernama Lin Tian kini telah menjadi prioritas mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.
Tiga hari berlalu dalam sekejap bagaikan pasir yang jatuh dari jam pasir.
Selama tiga hari itu, Kota Baja Merah mengalami lonjakan pendatang yang luar biasa. Para elit dari berbagai penjuru benua, termasuk utusan dari klan-klan tersembunyi, pangeran kerajaan tetangga, dan perwakilan sekte-sekte besar, berbondong-bondong memasuki kota. Mereka semua memiliki satu tujuan yang sama: Pelelangan Bintang Darah. Langit di atas kota sesekali diwarnai oleh kilatan cahaya dari kereta terbang yang ditarik oleh binatang buas eksotis, menunjukkan kekayaan dan status para pesertanya.
Di dalam ruang kultivasi bawah tanah Paviliun Anggrek Hitam, Lin Tian akhirnya membuka matanya.
Saat kelopak matanya terbuka, dua sorot cahaya emas murni melesat sejauh tiga meter, menembus kegelapan ruangan sebelum akhirnya memudar. Seluruh tumpukan batu spiritual tingkat menengah di sekelilingnya kini telah berubah menjadi debu abu-abu kusam, kehabisan energi sepenuhnya.
Lin Tian berdiri secara perlahan. Saat otot-ototnya bergerak, suara gemeretak yang terdengar bukan lagi seperti tulang, melainkan seperti dentingan lempengan baja yang bergesekan satu sama lain. Kulit tubuhnya kini sempurna, memancarkan pendaran tembaga yang sangat dalam dan mistis. Bekas luka sekecil apa pun, bahkan dari pertarungan terakhirnya melawan Ku Feng, telah lenyap tanpa sisa.
“Batas mutlak,” gumam Lin Tian, mengepalkan tinjunya dan merasakan kekuatan ledakan yang bersembunyi di setiap selnya. “Aku telah menyentuh dinding tertinggi dari Alam Penempaan Tubuh. Seluruh esensi di tubuhku sudah terkompresi hingga tidak ada satu pun celah tersisa. Dantian baruku sudah siap menjadi wadah yang sempurna. Jika aku menggunakan energi alam biasa, aku bisa menerobos ke Alam Pembentukan Qi kapan saja. Tapi itu tidak cukup. Aku menginginkan pusaran Qi yang tak terkalahkan, fondasi yang bisa menelan segalanya. Aku membutuhkan Akar Naga Darah itu.”
Lin Tian mengambil napas dalam-dalam, menekan seluruh auranya yang meluap-luap kembali ke dalam tubuhnya hingga ia terlihat seperti pemuda biasa yang tidak berbahaya. Ia mengenakan kembali jubah hitam polosnya dan berjalan keluar dari ruang bawah tanah.
Di ruang utama pelataran, Bai Xue sudah bersiap. Ia mengenakan jubah sutra panjang berwarna putih bersih yang menutupi leher hingga pergelangan kakinya. Wajah cantiknya ditutupi oleh cadar putih, dan ia mengenakan jubah luar berwarna perak gelap yang disediakan oleh kamar dagang untuk tamu VIP. Meskipun mencoba menyembunyikan diri, keanggunan natural dari seorang Saintess tetap memancar dari postur dan gerakannya.
“Kau terlihat berbeda,” komentar Bai Xue saat matanya menangkap sosok Lin Tian. Ia tidak bisa merasakan peningkatan kultivasi apa pun dari pemuda itu, yang masih berada di Alam Penempaan Tubuh Tingkat Kesembilan. Namun, instingnya sebagai ahli Alam Langit memperingatkannya bahwa pemuda di depannya ini baru saja mengalami evolusi kualitatif. Ia terasa lebih padat, lebih dalam, dan lebih berbahaya, seolah-olah ia adalah sebuah gunung berapi yang menyembunyikan magma perusak dunia di baliknya.
“Hanya memantapkan sedikit fondasi,” jawab Lin Tian datar. Ia mengambil jubah luar berwarna hitam dengan corak bintang merah—seragam khusus untuk pemegang Token VIP Platinum—lalu memakainya. Ia juga memasang topeng setengah wajah berwarna perak yang menutupi hidung dan matanya, menyembunyikan identitas aslinya. “Sudah waktunya. Ayo kita pergi ke pelelangan.”
Keduanya keluar dari Paviliun Anggrek Hitam saat matahari senja mulai tenggelam, mewarnai langit dengan warna merah darah yang serasi dengan nama kota tersebut.
Jalanan menuju gedung Pelelangan Bintang Darah dijaga sangat ketat oleh ribuan prajurit berzirah dari Kamar Dagang Bawah Tanah. Kerumunan orang biasa hanya bisa berdiri di pinggir jalan, menonton dengan rasa iri saat sosok-sosok berjubah mewah masuk ke dalam antrean jalur khusus.
Saat Lin Tian dan Bai Xue berjalan menyusuri jalan setapak yang diterangi lampion, indra tajam Lin Tian yang diperkuat oleh Seni Kaisar Naga Surgawi langsung menangkap beberapa fluktuasi energi yang tidak wajar. Berbeda dengan tatapan kagum atau iri dari kerumunan, ada niat membunuh yang sangat dingin, tersembunyi, dan terarah tepat pada mereka berdua.
“Kita sedang diawasi,” suara Lin Tian masuk ke telinga Bai Xue melalui transmisi Qi. Nada suaranya sangat santai, seolah ia sedang membicarakan cuaca. “Lima titik di atap gedung sebelah kiri. Tiga di gang gelap sebelah kanan. Dan satu… satu yang sangat menarik mengikuti kita dari bayang-bayang di belakang. Alam Bumi tingkat akhir.”
Di balik cadarnya, mata Bai Xue menyipit. “Itu pasti mata-mata Geng Darah Besi. Aku sudah menduga Yan Tuo tidak akan tinggal diam. Jika ada ahli Alam Bumi tingkat akhir yang melacak kita, itu kemungkinan besar adalah Gui Ying, algojo bayangan mereka. Dia sangat berbahaya, ahli dalam serangan diam-diam.”
Lin Tian tidak memelankan langkahnya sedikit pun. Ia bahkan tidak menoleh ke belakang. Namun, di bawah topeng peraknya, seringai buas melengkung di bibirnya. Ia membiarkan sedikit, hanya sebagian kecil dari tekanan murni Mutiara Naga Surgawinya bocor keluar, dan mengarahkannya lurus ke bayang-bayang di sebuah gang sempit sejauh lima puluh meter di belakangnya.
Di dalam kegelapan gang tersebut, Gui Ying yang sedang menempel pada dinding batu dengan teknik kamuflase sempurna tiba-tiba merasakan jantungnya serasa diremas oleh cakar es raksasa. Keringat dingin seketika meledak di seluruh tubuhnya. Untuk sepersekian detik, ia merasa seolah-olah sebuah mata naga raksasa berwarna emas menatap langsung ke dalam kedalaman jiwanya dari dalam kehampaan, menelanjangi seluruh rahasianya. Teror absolut membuatnya hampir terjatuh dari dinding.
“A-Aura apa itu…?!” batin Gui Ying, napasnya tersengal-sengal. “Pemuda itu… dia tahu aku ada di sini! Mustahil! Teknik penyembunyianku tidak pernah ditembus oleh ahli di bawah Alam Langit!”
Di jalanan, Lin Tian menarik kembali tekanannya. “Biar saja anjing-anjing itu mengikuti,” ucapnya pada Bai Xue. “Pelelangan adalah urusan bisnis. Pertumpahan darah akan kita selesaikan nanti malam setelah aku mendapatkan apa yang aku inginkan.”
Mereka tiba di depan gerbang utama gedung Pelelangan Bintang Darah. Bangunan raksasa berbentuk kubah itu terbuat dari marmer hitam dan emas, memancarkan kemegahan yang menyaingi istana kaisar. Penjaga gerbang yang bertugas memancarkan aura Alam Bumi, memeriksa setiap tamu yang masuk dengan ketelitian mutlak.
Lin Tian melangkah maju tanpa ragu dan melemparkan Token VIP Platinum miliknya.
Penjaga itu menangkap token tersebut, memeriksanya sejenak, dan wajahnya yang semula keras seketika berubah menjadi sangat hormat. Ia langsung membungkuk hingga sudut sembilan puluh derajat.
“Hormat kami kepada Tamu VIP Platinum,” suara penjaga itu terdengar nyaring, menarik perhatian beberapa kultivator di sekitarnya. “Silakan lewat jalur khusus ini. Manajer utama kami akan secara pribadi mengantar Anda ke Ruang Pribadi Nomor Tiga di lantai teratas.”
Tatapan iri, dengki, dan penuh rasa penasaran langsung menghujani punggung Lin Tian dan Bai Xue dari berbagai arah. Di kota dosa ini, di mana kekuatan dan kekayaan adalah segalanya, memegang Token VIP Platinum setara dengan menjadi seorang raja semalam. Berbagai spekulasi liar mulai berbisik di kerumunan tentang siapa sosok berjubah bintang merah dan topeng perak yang misterius tersebut.
Lin Tian tidak mempedulikan mereka. Ia melangkah masuk ke dalam koridor khusus berlapis karpet merah emas, diiringi oleh seorang manajer cantik yang melayaninya dengan sangat tunduk.
Begitu mereka tiba di Ruang Pribadi Nomor Tiga di lantai teratas, pemandangan luar biasa dari dalam kubah pelelangan terhampar di hadapan mereka. Ruangan itu sangat mewah, dilengkapi dengan sofa dari kulit binatang spiritual, buah-buahan eksotis, dan sebuah jendela kaca raksasa satu arah yang mengarah langsung ke panggung utama di lantai dasar. Puluhan ribu kursi di aula utama telah terisi penuh oleh lautan manusia yang bergemuruh. Suasana antisipasi yang sangat kental dan panas menggantung di udara.
Lin Tian duduk di sofa tengah, menyilangkan kakinya dengan santai. Bai Xue duduk di sampingnya, memandang ke arah panggung lelang yang mulai diterangi oleh formasi cahaya magis.
Seorang wanita cantik mengenakan gaun merah ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang mempesona berjalan anggun ke tengah panggung. Ia adalah pelelang utama malam itu. Senyumannya yang memikat seketika membungkam puluhan ribu kultivator yang haus akan harta karun.
“Selamat datang, para penguasa, pahlawan, dan petualang, di Pelelangan Bintang Darah!” Suara merdu wanita itu diperkuat oleh formasi pengeras suara, menggema di setiap sudut kubah. “Malam ini, kami dari Aliansi Kamar Dagang Bawah Tanah, dengan bangga akan menyajikan keajaiban dari alam, harta yang ditinggalkan oleh dewa, dan rahasia yang terkubur waktu. Bersiaplah untuk melepaskan seluruh gairah Anda!”
Tepuk tangan dan sorakan riuh meledak dari kerumunan, memecahkan gendang telinga. Suasana pasar gelap raksasa itu membara.
Lin Tian memiringkan kepalanya sedikit, jari telunjuknya mengetuk sandaran sofa kulit di sampingnya, mengikuti ritme teriakan puluhan ribu orang tersebut. Di bawah topeng peraknya, sepasang matanya yang gelap kini memancarkan api serakah yang lebih menyala daripada semua pemburu di dalam sana.
“Mari kita lihat,” Lin Tian berbisik pada dirinya sendiri, sebuah seringai kecil terukir. “Berapa banyak darah yang harus aku tumpahkan untuk memborong malam ini.”
Pelelangan legendaris di Kota Baja Merah baru saja dimulai, dan sang tiran naga siap mengambil segalanya.