Bab 15: Kembali ke Sarang Lawan

Ukuran:
Tema:

Kereta kuda spiritual meluncur di jalan berliku menuju pegunungan tempat Sekte Pedang Awan berdiri. Binatang penariknya—dua kuda putih dengan pola bulu berkilauan seperti kristal—bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar untuk hewan biasa, kaki mereka hampir tidak menyentuh tanah berkat formasi kecepatan yang terukir di pelana mereka. Di dalam kereta yang dilapisi kayu langka dan dilengkapi formasi peredam guncangan, lima anggota delegasi Sekte Bulan Sabit duduk dalam keheningan yang penuh pertimbangan.

Lin Ming, yang kini memperkenalkan diri sebagai Ming Lin, duduk dekat jendela, menatap pemandangan yang berlalu. Setiap pohon, setiap batu, setiap belokan jalan terasa familiar namun asing. Tiga bulan bukan waktu yang lama, tapi perjalanan transformasinya membuat segalanya terlihat berbeda. Dulu, sebagai pelayan yang hina, ia hanya melihat jalan ini dari bawah—saat menarik gerobak pasir atau mengangkut barang. Kini, ia duduk di dalam kereta mewah sebagai tamu sebuah sekte.

“Kau terlihat tegang, Ming Lin,” kata Mei Ling yang duduk di seberangnya. “Pertama kali ke Sekte Pedang Awan?”

Lin Ming mengangguk, menjaga suaranya tetap netral. “Ya. Kudengar itu sekte besar dengan banyak aturan ketat.”

Liu Feng, yang duduk di samping Sesepuh Lan, menambahkan, “Mereka memang terkenal disiplin ketat. Tapi belakangan, ada desas-desus tentang disiplin yang kendur. Beberapa murid mereka terlibat dalam insiden memalukan.”

“Insiden apa?” tanya Lin Ming, mencoba tidak terdapat terlalu penasaran.

“Pencurian sumber daya internal, perkelahian antar faksi, bahkan beberapa murid ditemukan tewas dalam keadaan mencurigakan,” jawab Sesepuh Lan tanpa membuka mata, masih dalam keadaan meditasi ringan. “Itu sebabnya rapat aliansi ini penting—kita perlu tahu apakah Sekte Pedang Awan masih bisa diandalkan sebagai sekutu.”

Perjalanan berlangsung sepanjang hari. Mereka berhenti sekali untuk beristirahat dan memberi makan kuda spiritual. Saat itulah Lin Ming melihat sesuatu yang menggelisahkan: di batang pohon tua dekat jalan, ada goresan simbol samar—lingkaran dengan tetes darah. Sama seperti simbol yang ditunjukkan Sesepuh Lan sebelumnya. Ia tidak mengatakan apa-apa, tapi mencatat lokasinya.

Sore hari, mereka akhirnya tiba. Sekte Pedang Awan terhampar di lereng gunung seperti kota kecil dari kayu dan batu. Paviliun-paviliun bertingkat, halaman latihan yang luas, dan patung pedang raksasa di pintu gerbang utama—semuanya masih sama, tapi aura yang memancar berbeda. Dulu terasa megah dan penuh vitalitas, kini terasa seperti baja yang terlalu ditarik, hampir patah.

Kereta mereka dihentikan oleh empat penjaga gerbang berseragam putih dengan pedang di pinggang. “Tunjukkan identitas dan tujuan!”

Liu Feng mengeluarkan segel Sekte Bulan Sabit dan surat undangan. “Delegasi Sekte Bulan Sabit untuk rapat aliansi, diundang oleh Sesepuh Gao.”

Penjaga memeriksa dengan cermat, matanya menyapu setiap anggota delegasi. Saat sampai pada Lin Ming, tatapannya tertahan sejenak. “Dan ini?”

“Asistenku,” kata Liu Feng. “Ming Lin. Dia ahli bertahan hidup dan pengamatan, kami bawa untuk mencatat.”

Penjaga mengangguk, lalu memberi isyarat. Gerbang besar terbuka. Kereta mereka masuk, diiringi dua penjaga yang akan membawa mereka ke paviliun tamu.

Lin Ming mengamati setiap detail. Banyak yang berubah: lebih banyak penjaga berpatroli, wajah-wajah murid tampak tegang, dan ada area-area yang ditutup dengan papan peringatan. Juga, ia melihat beberapa murid inti dengan seragam putih bersih—wajah-wajah yang ia ingat. Beberapa adalah orang yang pernah menghinanya, beberapa acuh tak acuh. Tak satu pun yang mengenalinya; penampilannya telah berubah—rambut lebih panjang, kulit lebih gelap karena paparan elemen, tubuh lebih berotot, dan yang terpenting, aura Lapis 3 Qi Gathering yang stabil. Dulu ia tidak memiliki aura sama sekali.

Mereka diturunkan di paviliun tamu di sisi timur kompleks. Bangunan dua lantai dengan kamar-kamar terpisah untuk setiap tamu. Setelah menempatkan barang, Sesepuh Lan mengumpulkan mereka.

“Rapat resmi dimulai besok pagi. Sisa hari ini kita bebas, tapi jangan pergi jauh tanpa izin. Liu Feng, Mei Ling, kalian bisa mengunjungi kenalan kalian. Ming Lin, kau bisa ikut salah satu dari mereka atau tinggal di sini.”

“Saya akan tinggal di sini dulu, Sesepuh,” jawab Lin Ming. “Ingin mencatat pengamatan awal.”

Setelah yang lain pergi, Lin Ming berdiri di balkon kamarnya, memandang sekte yang dulu menjadi penjaranya. Dari sini, ia bisa melihat area pelayan di kaki gunung—tempat ia pernah tinggal. Juga bisa melihat paviliun pelatihan nomor tiga tempat Zhang Hu dan kawan-kawannya sering mengganggunya.

Dengan hati-hati, ia mengaktifkan Indera Getaran Bumi dalam intensitas rendah. Getaran yang ia terima mengejutkan: ada banyak aktivitas bawah tanah, terowongan-terowongan yang tidak ia ingat ada. Juga, ada sumber getaran tidak alami—seperti mesin atau ritual—di suatu tempat di bawah paviliun utama.

Malam tiba. Lin Ming memutuskan untuk menyelinap keluar. Dengan jubah bertudung dan menggunakan Langkah Angin untuk mengurangi suara, ia keluar dari paviliun tamu dan menyusuri jalan setapak yang sepi.

Tujuannya: gubuk pelayan tempat ia dulu tinggal. Mungkin di sana ia bisa menemukan petunjuk tentang apa yang terjadi padanya setelah “hilang”.

Tapi saat ia mendekati area pelayan, ia melihat sesuatu yang aneh. Area itu sepi—biasanya pada jam ini, pelayan dan murid luar masih sibuk dengan tugas malam. Namun sekarang, hanya beberapa lampu minyak menyala, dan tidak ada suara.

Dengan waspada, ia merayap mendekati gubuknya yang dulu. Gubuk itu masih ada, tapi tampaknya telah ditempati orang lain—ada pakaian berbeda di jemuran. Lin Ming mengintip melalui celah dinding kayu. Di dalam, tiga pelayan muda sedang duduk, wajah mereka pucat.

“Sekali lagi mereka meminta lebih banyak,” bisik salah satu pelayan, suaranya gemetar. “Aku tidak bisa lagi. Aku sudah memberi seminggu sekali.”

“Kalau tidak, kita akan seperti Xiao Li,” kata yang lain. “Ditemukan kering di belakang paviliun.”

Xiao Li? Lin Ming ingat nama itu—seorang pelayan yang baik padanya, sering berbagi makanan ketika ia kelaparan. Xiao Li tewas?

“Katanya itu Kultus Iblis, tapi kenapa dari dalam sekte sendiri?” pelayan ketiga bertanya, suaranya hampir menangis.

“Jangan banyak tanya. Lakukan saja, atau kita mati.”

Lin Ming mengendur. Jadi, ada pemerasan terhadap pelayan. Mereka dipaksa memberi sesuatu—mungkin darah atau energi—dan yang menolak dibunuh. Dan pelakunya dari dalam sekte.

Tiba-tiba, langkah kaki terdengar. Lin Ming segera bersembunyi di balik tumpukan kayu. Dua murid inti berjalan melewati area pelayan. Yang satu ia kenal: itu adalah Zhao Gang, salah satu dari trio yang melemparkannya ke jurang! Zhao Gang sekarang tampak lebih kurus, matanya ada lingkaran hitam, tapi aura energinya lebih kuat—Lapis 4 Qi Gathering? Tidak mungkin meningkat begitu cepat secara alami.

“Sudah dikumpulkan?” tanya Zhao Gang kepada pelayan-pelayan yang kini keluar dari gubuk.

“Ya, Senior Zhao,” jawab salah satu pelayan dengan suara patuh, menyerahkan sebuah kantong kulit kecil.

Zhao Gang mengambilnya, membuka, mengendus isinya. “Kurang. Besok harus lebih. Atau kalian tahu konsekuensinya.”

Mereka pergi. Lin Ming, dengan amarah membara, hampir saja keluar dari persembunyian. Tapi ia mengendalikan diri. Ini bukan saatnya. Ia perlu bukti lebih.

Dia mengikuti Zhao Gang dari kejauhan, menggunakan Penglihatan Malam dan Indera Getaran Bumi untuk melacaknya tanpa terlihat. Zhao Gang dan temannya menuju ke area terlarang di belakang paviliun utama—tempat yang dulu hanya boleh dimasuki sesepuh dan murid inti pilihan.

Di sana, ada sebuah bangunan kecil yang dijaga oleh dua murid inti. Zhao Gang memberikan isyarat, lalu masuk. Lin Ming tidak bisa mendekat lebih jauh—area itu terlalu terbuka. Tapi dari getaran yang ia rasakan, ada sesuatu di bawah bangunan itu. Ruang bawah tanah.

Dia memutuskan untuk kembali ke paviliun tamu. Di tengah jalan, tiba-tiba ada suara dari belakang. “Hei, kau! Siapa kau? Kenapa sendirian di sini malam-malam?”

Lin Ming berbalik. Seorang murid inti dengan pedang terhunus berdiri di sana. Wajahnya tidak familiar, tapi seragamnya menunjukkan ia dari divisi keamanan.

“Saya Ming Lin, dari delegasi Sekte Bulan Sabit,” jawab Lin Ming tenang. “Saya tersesat mencari kamar kecil.”

“Delegasi? Tunjukkan identitasmu.”

Lin Ming mengeluarkan lencana tamu yang diberikan Sekte Pedang Awan. Murid itu memeriksanya, lalu menganggung. “Maaf, Tuan Tamu. Tapi lebih baik kembali ke area tamu. Malam ini tidak aman.”

“Apa yang terjadi?”

“Beberapa insiden. Lebih baik tidak keluar.” Murid itu tidak memberikan detail.

Lin Ming kembali ke paviliun tamu. Sesepuh Lan sudah menunggu di ruang umum, wajahnya serius. “Ming Lin, kemana saja kau?”

“Jalan-jalan, Sesepuh. Ada sesuatu yang tidak beres di sini.”

“Kami tahu.” Sesepuh Lan menunjuk ke Liu Feng dan Mei Ling yang juga sudah kembali. “Kami bertemu dengan kenalan dari sekte lain yang juga datang sebagai delegasi. Ada desas-desus bahwa Sekte Pedang Awan telah disusupi oleh Kultus Iblis Darah. Beberapa murid inti mereka menunjukkan perilaku aneh, dan sumber daya sekte menghilang tanpa jejak.”

“Dan mereka menutupinya,” tambah Liu Feng. “Besok di rapat, kita harus berhati-hati dengan apa yang kita katakan. Beberapa sesepuh Sekte Pedang Awan mungkin sudah terpengaruh atau diancam.”

Lin Ming memutuskan untuk berbagi sebagian pengamatannya. “Saya melihat Zhao Gang, seorang murid inti, memeras pelayan untuk sesuatu dalam kantong kulit. Dan ada aktivitas bawah tanah di area terlarang.”

Sesepuh Lan mengangguk berat. “Kita perlu bukti konkret. Tanpa itu, kita hanya bisa menyampaikan kecurigaan. Tapi berhati-hatilah—jika mereka tahu kita mencurigai, kita bisa dalam bahaya.”

Malam itu, Lin Ming sulit tidur. Pikirannya dipenuhi oleh kemungkinan. Jika Kultus Iblis sudah menyusupi Sekte Pedang Awan, maka kehancuran sekte—seperti yang disebutkan dalam dokumen konteks—bukan hanya dari serangan luar, tapi juga dari dalam. Dan Zhang Hu, Wang Li, Zhao Gang—apakah mereka sekadar korban, atau sukarelawan yang bergabung dengan kultus untuk kekuatan?