Bab 16: Hutan Ilusi Seribu Wajah dan Bayangan Sekte Gunung Emas

Ukuran:
Tema:

Dua minggu telah berlalu sejak malam kehancuran Geng Darah Besi di Kota Baja Merah. Badai darah yang diciptakan oleh Lin Tian telah menjadi legenda urban yang diceritakan dengan nada berbisik di setiap kedai minuman dan pasar gelap di wilayah perbatasan. Namun, sang pelaku utama dari tragedi tersebut telah lama meninggalkan jejak debu vulkanik, melangkah jauh menuju jantung Benua Cakrawala.

Di sebuah lembah hijau yang asri, tersembunyi di balik barisan pegunungan yang memisahkan wilayah perbatasan dengan teritori Kekaisaran Awan Biru, suara gemuruh air terjun memecah keheningan alam. Air yang jernih jatuh dari ketinggian ratusan kaki, menghantam bebatuan sungai dan menciptakan kabut tipis yang menyegarkan.

Di bawah air terjun tersebut, Lin Tian berdiri tanpa mengenakan baju atasan. Otot-ototnya yang memancarkan pendaran tembaga gelap berkilau tertimpa sinar matahari yang menembus celah dedaunan. Ia memejamkan mata, membiarkan ribuan ton air menghantam bahu dan punggungnya. Bagi manusia biasa, tekanan air terjun sebesar ini cukup untuk meremukkan tulang punggung, namun bagi Tubuh Sisik Naga Tembaga miliknya, ini tak lebih dari sekadar pijatan ringan.

Di dalam Dantian Lin Tian, pusaran naga keemasan berputar dengan ritme yang stabil dan anggun. Sejak menembus Alam Pembentukan Qi tingkat awal, Lin Tian menyadari bahwa pandangannya terhadap dunia telah berubah secara fundamental. Jika di Alam Penempaan Tubuh ia merasa seperti seekor harimau yang terkurung di dalam sangkar fisiknya sendiri, kini ia merasa sangkar itu telah terbuka. Ia bisa merasakan aliran energi alam—Qi spiritual—yang melayang di udara, mengalir di dalam air, dan berakar di dalam bumi.

“Kendalikan,” terdengar suara merdu yang sedingin angin musim dingin dari tepi sungai.

Bai Xue berdiri dengan anggun di atas sebuah batu giok putih yang menyembul dari permukaan air. Gaun putihnya berkibar pelan. Cadarnya telah dilepas, membiarkan wajahnya yang secantik dewi terpoles oleh cahaya matahari pagi. Selama dua minggu perjalanan ini, berkat Bunga Teratai Salju Seribu Tahun, kulitnya tidak lagi memucat seperti mayat, melainkan memancarkan rona kemerahan yang sehat. Kultivasinya telah stabil di puncak Alam Bumi, dan ia mulai perlahan-lahan merangkak kembali menuju Alam Langit.

“Kekuatan fisikmu dan kualitas Qi nagamu memang tidak tertandingi, Lin Tian. Namun, caramu mengendalikan energi itu terlalu liar dan boros,” Bai Xue mengangkat tangan kanannya. Dengan satu jentikan jari yang sangat santai, sebutir air dari sungai melayang ke udara, lalu seketika membeku menjadi sebuah jarum es yang sangat tipis, sehalus rambut manusia. “Di Alam Pembentukan Qi, kau tidak lagi hanya membanting musuhmu dengan kekuatan otot. Kau harus bisa menjahit kematian mereka dengan presisi.”

Jarum es kecil itu melesat ke depan, menembus sehelai daun kering yang jatuh dari pohon sejauh lima puluh meter, lalu menancap ke batang pohon di belakangnya tanpa menghancurkan daun tersebut.

Lin Tian membuka matanya, menatap jarum es itu dengan penuh minat. “Presisi,” gumamnya.

Pemuda itu mengangkat tangan kanannya. Pusaran emas di Dantiannya bereaksi. Qi naga yang sangat beringas dan mendominasi mengalir ke ujung telunjuknya. Udara di sekitar jarinya seketika terdistorsi. Lin Tian mencoba memadatkan energi itu menjadi sebuah jarum seperti yang dilakukan Bai Xue. Namun, sifat dasar Qi Naga Surgawi adalah penghancuran dan dominasi, bukan kehalusan. Saat ia mencoba menekannya menjadi bentuk yang terlalu kecil, energi itu memberontak.

Bloop!

Alih-alih jarum, sebuah peluru energi emas melesat dari jarinya, menghantam bongkahan batu raksasa di seberang sungai dan meledakkannya menjadi ribuan serpihan kerikil. Suara ledakan itu menggetarkan pepohonan di sekitarnya.

Lin Tian menurunkan tangannya, sedikit mendengus. “Teknik kultivasiku diciptakan untuk menelan langit dan menghancurkan bintang-bintang. Memintanya untuk merajut jarum sama seperti meminta seekor naga purba untuk memetik bunga.”

Bai Xue tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat langka dan mampu membuat jantung pria mana pun berhenti berdetak. Ia melompat ringan dari batu gioknya, melayang di atas permukaan air bagaikan peri, dan mendarat tepat di depan Lin Tian di pinggir sungai.

“Itulah sebabnya kau membutuhkan wawasan dari seni bela diri ortodoks,” Bai Xue mengulurkan tangannya yang seputih salju, menyentuh pelan lengan Lin Tian yang sekeras baja ilahi. Sentuhan itu mengalirkan sedikit energi Yin murni, memberikan sensasi dingin yang menenangkan darah Lin Tian yang selalu mendidih. “Jangan paksa nagamu untuk mengecil. Arahkan auranya. Bayangkan energi itu bukan sebagai sesuatu yang harus kau kurung, melainkan sebagai perpanjangan dari tulang dan dagingmu sendiri.”

Lin Tian menatap mata biru Bai Xue dari jarak yang sangat dekat. Ia bisa mencium aroma teratai musim dingin yang menguar dari tubuh wanita itu. Untuk sesaat, kekejaman dan arogansi absolut yang selalu menyelimuti Lin Tian mereda, digantikan oleh ketenangan yang dalam. Di dunia yang dipenuhi oleh pengkhianatan dan musuh ini, berdiri di samping Saintess yang sedang memandunya dengan tulus memberikan secercah keseimbangan pada jiwanya yang kelam.

Ia kembali mengangkat tangannya, memejamkan mata, dan mengingat sensasi dingin dari sentuhan Bai Xue. Kali ini, ia tidak mencoba menekan Qi Naganya. Ia membiarkannya mengalir, namun memberikan “jalur” niat yang sangat tajam di dalam benaknya.

Cahaya emas berkumpul di ujung telunjuknya. Tidak meledak, tidak bergemuruh. Qi itu memadat dengan sangat sunyi, membentuk sebilah pisau terbang berukuran setengah jengkal yang terbuat dari emas murni yang bercahaya. Pisau Qi itu memancarkan aura ketajaman yang bisa membelah dimensi.

Dengan satu jentikan ringan, pisau emas itu melesat tanpa suara. Ia menembus tepat di tengah-tengah air terjun raksasa di depan mereka. Sesaat, tidak ada yang terjadi. Namun di detik berikutnya, seluruh aliran air terjun yang lebarnya mencapai dua puluh meter itu terbelah menjadi dua bagian yang sangat rapi, menahan air di udara selama tiga tarikan napas sebelum akhirnya runtuh kembali.

“Luar biasa,” Bai Xue berbisik, matanya membelalak takjub. “Kemampuan pemahamanmu… kau menyatukan ketajaman niat pedang dengan sifat dominasi nagamu. Hanya dalam waktu dua minggu, kau telah menguasai presisi tingkat lanjut Alam Pembentukan Qi.”

Lin Tian menurunkan tangannya, seringai puas terukir di wajahnya. “Pembimbing yang baik menghasilkan murid yang baik. Sekarang, simpan pujianmu. Kita harus segera keluar dari lembah ini.”

Lin Tian mengambil jubah hitamnya yang tergantung di dahan pohon dan mengenakannya, menutupi otot-otot tembaganya. Ia kemudian mengeluarkan sebuah topi bambu lebar yang dilengkapi dengan kain kasa hitam pekat dari cincin spasialnya, memakainya untuk menutupi wajahnya secara keseluruhan. Dengan statusnya sebagai buronan bernilai tinggi, berjalan-jalan dengan wajah terbuka di wilayah yang dipenuhi oleh kultivator sekte adalah tindakan bodoh.

Bai Xue juga mengangguk, kembali mengenakan cadar putihnya dan jubah perak gelap yang menutupi gaunnya. “Hutan Ilusi Seribu Wajah seharusnya hanya berjarak beberapa mil dari sini. Ingat, Lin Tian, tempat itu berada di dalam perbatasan Kekaisaran Awan Biru. Kekaisaran memiliki aturan yang ketat, dan sekte-sekte besar yang berkumpul di sana tidak akan sembarangan membuat keributan di siang bolong, tapi di dalam bayang-bayang, hukum rimba tetap berlaku.”

“Aku tidak mencari masalah,” Lin Tian berjalan mendahului menyusuri jalan setapak di hutan. “Tapi jika masalah mencariku, aku akan memastikannya menjadi masalah terakhir yang pernah mereka miliki.”


Menjelang siang, lanskap hijau yang menyegarkan mulai berubah. Pepohonan biasa digantikan oleh pohon-pohon raksasa dengan batang berwarna ungu gelap dan daun yang memancarkan cahaya pendar biru. Kabut tebal yang aneh mulai merayap di atas tanah, menghalangi jarak pandang hingga kurang dari dua puluh meter. Inilah pinggiran dari Hutan Ilusi Seribu Wajah, sebuah zona terlarang kuno yang terkenal dengan formasi ilusi alaminya yang mematikan dan binatang buas spiritual yang mampu meniru wujud manusia.

Tepat di luar batas kabut tebal tersebut, sebuah kota tenda raksasa telah terbentuk secara dadakan. Ratusan tenda mewah yang dihiasi dengan lambang-lambang sekte, paviliun kayu yang dibangun sementara oleh kamar dagang, dan api unggun dari kelompok prajurit bayaran menyebar di area seluas beberapa mil. Ribuan kultivator berlalu-lalang, tawar-menawar pil penawar racun, merekrut anggota kelompok, dan saling bertukar informasi.

Semua ini terjadi karena satu alasan: Makam Kuno dari seorang ahli Alam Nirvana yang terkubur di jantung Hutan Ilusi dikabarkan akan segera membuka segelnya dalam waktu kurang dari sebulan.

Lin Tian dan Bai Xue berjalan menyusuri jalanan tanah di tengah perkemahan dadakan tersebut. Kehadiran mereka tidak terlalu menarik perhatian karena ada banyak kultivator misterius yang mengenakan topi bambu atau jubah bertudung di tempat itu.

“Begitu banyak faksi yang hadir,” bisik Bai Xue, matanya menyapu panji-panji yang berkibar. “Aku melihat lambang Kuil Bodhi, Sekte Pedang Awan, dan bahkan… Sekte Teratai Es. Saudari-saudari seperguruanku ada di sini.”

Langkah Bai Xue sedikit melambat. Lin Tian menoleh dari balik kain kasa hitamnya. “Kau ingin kembali ke sektemu sekarang?”

Bai Xue terdiam sejenak, menatap tenda-tenda berwarna putih bersulam teratai biru di kejauhan. Kemudian, ia menggelengkan kepalanya. “Tidak. Jika aku kembali dalam kondisi meridian yang baru pulih dan masih rentan, intrik di dalam sekte mungkin akan membahayakanku. Ada beberapa tetua yang menginginkan posisiku sebagai Saintess digantikan oleh murid mereka. Aku akan kembali ketika aku telah memulihkan kekuatan Alam Langitku secara penuh. Untuk saat ini, aku lebih aman berada di sisimu.”

Jawaban itu memuaskan Lin Tian. Ia tidak suka jika pemandunya tiba-tiba meninggalkannya sebelum semua kesepakatan mereka selesai.

“Ayo kita cari tempat untuk beristirahat dan mengumpulkan informasi. Kita butuh peta rute yang aman untuk menembus kabut ilusi itu,” kata Lin Tian, mengarahkan langkah mereka menuju sebuah kedai kayu dua lantai yang tampaknya merupakan bangunan semi-permanen terbesar di perkemahan tersebut.

Kedai itu bernama “Kedai Kabut Berdarah”. Saat Lin Tian mendorong pintu kayunya, hiruk-pikuk suara para kultivator yang sedang makan, minum, dan berdebat langsung menghantam telinganya. Bau arak beras yang keras bercampur dengan daging panggang memenuhi udara. Hampir seluruh meja di lantai satu telah penuh.

Lin Tian dan Bai Xue menemukan sebuah meja kecil yang tersisa di sudut ruangan yang agak gelap. Mereka duduk dan memesan sebotol teh spiritual serta beberapa hidangan ringan. Lin Tian tidak membuka topi bambunya, hanya mengangkat sedikit kain kasanya saat menyesap teh.

Sambil duduk dengan tenang, Lin Tian memancarkan pendengaran spiritualnya ke seluruh penjuru ruangan, menyaring percakapan yang tidak berguna dan memfokuskan pada informasi penting. Di Alam Pembentukan Qi, panca indranya jauh lebih tajam daripada sebelumnya.

“…kau dengar berita terbaru dari selatan?” terdengar suara seorang prajurit bayaran berbaju zirah kulit di meja sebelah. “Sekte Pedang Awan sedang mengamuk besar! Mereka baru saja menaikkan nilai buronan untuk ‘Iblis Kota Baja Merah’ menjadi satu juta batu spiritual tingkat menengah!”

“Satu juta?!” teman bicaranya tersedak araknya. “Gila! Itu kekayaan yang bisa membeli nyawa seorang raja! Apa sebenarnya yang dilakukan orang itu?”

“Kudengar dia membantai Diaken Ku Feng, menghancurkan wajah Penatua Mo Jian, dan melenyapkan Geng Darah Besi dalam satu malam. Petinggi Sekte Pedang Awan menganggap ini sebagai tamparan mutlak bagi harga diri mereka. Mereka bahkan telah mengirim Pasukan Pengejar Awan yang dipimpin oleh seorang Penatua Inti Alam Langit untuk menyisir seluruh wilayah perbatasan. Desas-desusnya, pasukan pengejar itu sedang menuju ke hutan ini karena mereka menduga si iblis akan mengincar Makam Kuno.”

Di balik cadarnya, Bai Xue melirik Lin Tian. Sang buronan bernilai satu juta batu spiritual itu hanya duduk dengan tenang, mengunyah kacang panggang tanpa mengubah ritme napasnya sedikit pun.

“Satu juta batu spiritual,” Lin Tian mengirimkan transmisi Qi kepada Bai Xue, nada suaranya mengandung sedikit ejekan. “Ternyata kepalaku cukup berharga. Aku harus mengingat angka itu saat aku menagih ganti rugi pada mereka nanti.”

Sebelum Bai Xue sempat membalas, sebuah keributan meledak di pintu masuk kedai.

Pintu kayu itu ditendang terbuka dengan keras hingga engselnya patah. Sekelompok pemuda dan pemudi yang mengenakan jubah sutra berwarna emas cerah melangkah masuk dengan gaya yang sangat arogan. Di dada kiri jubah mereka, terdapat sulaman sebuah gunung yang memancarkan cahaya keemasan.

“Kosongkan lantai satu ini! Tuan Muda Sekte kami akan menggunakan tempat ini untuk beristirahat!” teriak seorang pemuda berwajah tirus yang tampaknya menjadi pesuruh di kelompok tersebut. Auranya berada di Alam Pembentukan Qi tingkat menengah, cukup kuat untuk menekan sebagian besar prajurit bayaran liar di kedai itu.

Beberapa kultivator yang sedang makan langsung berdiri, wajah mereka memerah karena marah, namun saat melihat lambang di jubah kelompok itu, nyali mereka seketika ciut.

“Itu murid-murid dari Sekte Gunung Emas…” bisik salah satu prajurit bayaran dengan wajah pucat. “Salah satu dari Empat Sekte Lurus yang selevel dengan Sekte Pedang Awan. Tuan Muda mereka, Jin Wu, dikenal sebagai tiran kecil yang tidak kenal ampun. Ayo pergi dari sini sebelum kita kehilangan nyawa.”

Dalam hitungan detik, puluhan kultivator di lantai satu mulai berhamburan keluar dari kedai, tidak ada yang berani menunda langkah mereka. Para pelayan kedai hanya bisa menunduk gemetar, tidak berani meminta bayaran dari kelompok arogan tersebut.

Di tengah evakuasi massal itu, Lin Tian dan Bai Xue tetap duduk di sudut gelap mereka. Lin Tian masih dengan tenang menuangkan teh ke dalam cangkirnya, sementara Bai Xue menatap ke arah jendela, mengabaikan keributan di pintu masuk.

Pemuda berwajah tirus dari Sekte Gunung Emas itu berjalan menyusuri kedai yang mulai kosong, memastikan tidak ada semut yang berani mengganggu Tuan Mudanya. Saat matanya menyapu sudut ruangan, ia melihat dua sosok berjubah yang masih duduk dengan santai.

“Hei! Apa telinga kalian tuli?!” bentak pemuda itu, berjalan mendekati meja Lin Tian dengan langkah yang mengancam. “Sudah kubilang kosongkan tempat ini! Beraninya kalian duduk diam saat Sekte Gunung Emas meminta jalan!”

Lin Tian menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang cangkir teh. Ia tidak mendongak, matanya masih tersembunyi di balik bayangan topi bambunya.

“Kedai ini buka untuk umum,” suara Lin Tian terdengar berat dan datar. “Kami belum selesai dengan teh kami. Jika Tuan Mudamu ingin duduk, dia bisa mencari meja yang kosong. Tempat ini cukup luas untuk menampung beberapa anjing liar.”

Kata-kata kasar itu membuat keheningan di dalam kedai terasa mencekam. Pemuda berwajah tirus itu membelalakkan matanya, seolah tidak percaya ada kultivator liar yang berani menghina sektenya secara langsung.

“Kau mencari mati, keparat!” raung pemuda itu. Qi berwarna emas kecokelatan yang memiliki atribut tanah meledak dari tubuhnya. Ia mengangkat tangan kanannya, memadatkan Qi-nya menjadi sebuah telapak tangan batu raksasa ilusi, dan langsung menghantamkannya ke arah kepala Lin Tian dengan niat untuk membunuhnya di tempat. “Telapak Penghancur Gunung!”

Di saat yang sama, tatapan pemuda itu tanpa sengaja menangkap lekuk tubuh Bai Xue yang duduk di seberang Lin Tian. Meskipun wajahnya tertutup cadar, aura elegan dan mata birunya yang mempesona membuat nafsu bejat langsung merasuki pikiran pemuda tersebut. “Dan wanita ini akan kutahan untuk melayani Tuan Mudaku!” tambahnya dengan tawa mesum.

Mendengar kata-kata itu, cangkir teh di tangan Lin Tian tiba-tiba retak. Niat membunuh yang sebelumnya ia tekan dalam-dalam, kini meledak keluar bagaikan gunung berapi yang meletus. Menyinggungnya adalah satu hal, namun berani menyentuh orang yang berada di bawah perlindungannya adalah sebuah vonis mati yang tak bisa diubah.

Tepat sebelum telapak tangan batu raksasa itu menghancurkan mejanya, Lin Tian bergerak.

Ia tidak berdiri. Ia tidak mengeluarkan pedang. Ia hanya menjentikkan sebatang sumpit bambu yang ada di atas meja dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. Sumpit bambu biasa itu seketika dilapisi oleh Qi Naga Surgawi berwarna emas yang menyilaukan.

SYUUUT!

Sumpit itu melesat menembus udara dengan kecepatan yang melampaui peluru. Telapak tangan batu ilusi yang dibanggakan oleh pemuda dari Sekte Gunung Emas itu ditembus seolah-olah terbuat dari tahu yang lembek.

“AARRRGGGHHH!”

Jeritan melengking merobek udara kedai. Sumpit bambu berlapis Qi naga itu tidak hanya menembus serangan ilusi, tetapi langsung menembus pergelangan tangan kanan pemuda berwajah tirus tersebut, mematahkan tulangnya, dan menancapkan tangannya secara brutal ke pilar kayu jati yang ada di belakangnya.

Pemuda itu tergantung dengan tangan terpaku ke pilar, darah segar mengalir deras dari lukanya, matanya melotot dipenuhi oleh rasa sakit dan kengerian yang tak terlukiskan.

“Kau berbicara terlalu banyak, dan matamu terlalu kotor,” suara Lin Tian bergema di seluruh kedai, dingin dan tanpa ampun. Ia perlahan mengangkat kepalanya, membiarkan sedikit cahaya memperlihatkan rahangnya yang tegas dari balik kain kasa hitam.

Kejadian itu berlangsung begitu cepat sehingga rekan-rekan pemuda itu dari Sekte Gunung Emas baru menyadari apa yang terjadi ketika mendengar jeritannya.

“Beraninya kau melukai saudara seperguruan kami!” Lima murid Sekte Gunung Emas lainnya, yang semuanya berada di Alam Pembentukan Qi tingkat awal dan menengah, langsung menghunus pedang mereka yang memancarkan Qi tanah yang berat. Mereka mengepung meja Lin Tian dengan wajah dipenuhi kemarahan.

Dari arah pintu masuk, seorang pemuda tampan yang mengenakan jubah emas paling mewah melangkah masuk dengan lambat. Wajahnya yang arogan dipenuhi oleh keangkuhan yang memuakkan. Ia adalah Jin Wu, Tuan Muda Sekte Gunung Emas. Kultivasinya telah mencapai puncak Alam Pembentukan Qi, membuatnya sangat ditakuti di kalangan generasi muda.

Jin Wu menatap muridnya yang terpaku di pilar, lalu beralih menatap Lin Tian. Ia menyipitkan matanya. “Kemampuan yang lumayan untuk seorang kultivator liar. Memadatkan Qi ke dalam sebatang sumpit membutuhkan kontrol yang sangat presisi. Namun, memprovokasi Sekte Gunung Emas adalah kesalahan terakhirmu. Potong anggota tubuhnya, tapi biarkan dia hidup. Aku ingin melihat wajahnya saat dia mengemis di bawah kakiku. Dan bawa wanita itu kepadaku tanpa lecet sedikit pun.”

“Sesuai perintah, Tuan Muda!” kelima murid itu berseru serentak.

Mereka menerjang secara bersamaan. Formasi pedang dari Sekte Gunung Emas terkenal dengan pertahanan dan serangannya yang berat. Lima pedang Qi berwarna cokelat keemasan menebas ke arah Lin Tian, menciptakan tekanan yang seolah-olah mengurung ruang di sekitar meja tersebut dengan dinding batu yang tak kasatmata.

Bai Xue tidak bergerak dari tempat duduknya. Ia hanya menatap Lin Tian dengan tenang, sepenuhnya percaya pada kekuatan pemuda yang telah menghancurkan seorang puncak Alam Bumi beberapa minggu yang lalu. Lima murid Alam Pembentukan Qi bagi Lin Tian hanyalah rumput liar yang menunggu untuk ditebas.

Lin Tian menghela napas panjang. Ia menendang kursi kayunya ke belakang dan berdiri tegak.

“Formasi yang lamban,” cemooh Lin Tian.

Pusaran naga di dalam Dantiannya berputar satu kali. Qi Naga Surgawi meledak dari dalam tubuhnya, menghancurkan tekanan pedang tanah yang mengurungnya seketika. Lin Tian melesat ke depan, tubuhnya berubah menjadi bayangan emas yang mengaburkan pandangan.

BUM!

Tinju pertama Lin Tian menghantam pedang murid terdepan. Pedang baja kualitas tinggi itu patah menjadi dua bagian, dan sisa tenaga dari pukulan Lin Tian menghantam dada murid tersebut, menerbangkannya menembus dinding kedai hingga jatuh ke jalanan di luar, muntah darah dan pingsan seketika.

KRAAAK!

Lin Tian memutar tubuhnya, menangkap lengan murid kedua yang mencoba menebasnya dari samping, mematahkan sikunya dengan sangat kasar, lalu menendang lututnya hingga hancur. Murid itu jatuh meratap di lantai.

Dalam waktu kurang dari lima kali tarikan napas, suara patahan tulang dan jeritan rasa sakit mendominasi lantai satu kedai tersebut. Lima elit Sekte Gunung Emas, yang masing-masing bisa menjadi penguasa di kota-kota kecil, dihancurkan oleh Lin Tian tanpa ia harus menggunakan satupun teknik bela diri tingkat tinggi atau senjata Qi. Ia murni menggunakan kecepatan ekstrem, insting predator, dan kekuatan fisik yang telah ditingkatkan oleh Qi Pembentukan tingkat awal miliknya.

Lin Tian berdiri di tengah-tengah lima tubuh yang mengerang di lantai. Ia menepis sedikit debu dari jubah hitamnya, lalu menatap lurus ke arah Jin Wu yang kini mematung di dekat pintu.

Wajah arogan Jin Wu telah berubah menjadi pucat pasi. Ia adalah seorang puncak Alam Pembentukan Qi, tetapi bahkan matanya tidak bisa menangkap pergerakan Lin Tian dengan jelas. Ia menyadari dengan kengerian bahwa pemuda bertopi bambu ini adalah seorang monster yang menyembunyikan taringnya.

“K-Kau… siapa kau sebenarnya?!” Jin Wu mundur selangkah, pedang emas di pinggangnya ditarik dengan tangan yang sedikit gemetar. “Aku adalah Tuan Muda Sekte Gunung Emas! Ayahku adalah Ketua Sekte! Jika kau berani menyentuh sehelai saja rambutku, seluruh Kekaisaran Awan Biru tidak akan memiliki tempat untukmu bersembunyi!”

“Ancaman yang membosankan,” Lin Tian melangkah mendekati Jin Wu dengan perlahan. Aura mematikan yang ia pancarkan membuat udara di sekitar Tuan Muda itu terasa membeku. “Sekte Pedang Awan mengatakan hal yang sama, Geng Darah Besi mengatakan hal yang sama. Dan kau tahu di mana mereka sekarang? Mereka menjadi tumpukan abu di bawah kakiku.”

Mendengar kata-kata itu, mata Jin Wu membelalak. Pikirannya berpacu, menghubungkan titik-titik rumor yang telah menggetarkan seluruh wilayah perbatasan. Jubah hitam, kekuatan tempur yang menantang surga, mengalahkan musuh di atas levelnya, dan kebencian terhadap Sekte Pedang Awan.

“K-Kau… kau adalah Iblis Kota Baja Merah! Buronan bernilai satu juta batu spiritual itu!” jerit Jin Wu dengan histeris, nyalinya hancur sepenuhnya.

Lin Tian berhenti tepat satu langkah di depan Jin Wu. Seringai kejam terukir di wajahnya. “Bingo.”

Lin Tian mengangkat tangannya dengan kecepatan kilat, mencengkeram leher Jin Wu dan mengangkat tubuh pemuda arogan itu ke udara dengan satu tangan. Jin Wu meronta-ronta dengan putus asa, wajahnya membiru, namun Qi emas Lin Tian langsung menyegel meridiannya, membuatnya sama sekali tidak berdaya.

“Dengar baik-baik, serangga,” bisik Lin Tian tepat di wajah Jin Wu. “Satu-satunya alasan aku tidak menghancurkan kepalamu sekarang adalah karena aku butuh anjing pembawa pesan. Kembalilah ke ayahmu, kembalilah ke anjing-anjing dari Sekte Pedang Awan yang sedang memburuku. Beritahu mereka, Lin Tian sedang menunggu mereka di dalam Hutan Ilusi Seribu Wajah. Jika mereka ingin mengambil kepalaku, suruh mereka datang dengan membawa peti mati mereka sendiri.”

Dengan satu ayunan tangan, Lin Tian melempar tubuh Jin Wu menembus pintu kayu yang hancur, membuatnya berguling-guling secara menyedihkan di jalanan berlumpur di depan kedai.

“Dan ingat,” Lin Tian menambahkan dengan suara yang menggema hingga ke luar, “Jangan pernah lagi menatap wanita yang ada di sisiku, atau aku akan memastikan kau tidak akan pernah memiliki mata untuk melihat dunia lagi.”

Lin Tian membalikkan badan, kembali ke meja tempat Bai Xue masih duduk dengan tenang. Ia meletakkan sepotong batu spiritual tingkat rendah di atas meja sebagai pembayaran atas teh yang mereka minum, dan untuk kerusakan kecil yang ia buat.

“Tehnya sudah dingin. Waktunya pergi,” kata Lin Tian.

Bai Xue bangkit, melangkah di samping Lin Tian menuju pintu keluar. Saat mereka melangkah keluar dari kedai yang telah hancur sebagian itu, tidak ada satu pun kultivator di luar yang berani menghalangi jalan mereka. Jin Wu yang masih terbatuk-batuk darah di tanah hanya bisa menatap punggung kedua sosok itu dengan campuran rasa takut yang membakar dan kebencian yang mendalam.

Di luar pinggiran perkemahan, kabut tebal berwarna biru dari Hutan Ilusi Seribu Wajah seolah menyambut mereka, membuka jalan bagi sang Tiran Naga yang melangkah masuk ke dalam zona kematian.

Mulai detik ini, identitas Lin Tian tidak lagi tersembunyi. Ribuan ahli bela diri elit, pembunuh bayaran, dan tetua dari sekte-sekte ortodoks akan segera mengetahui keberadaannya. Hutan yang tenang itu akan segera diubah menjadi arena perburuan paling berdarah dalam sejarah Kekaisaran Awan Biru. Namun bagi Lin Tian, ini bukanlah sebuah pelarian; ini adalah panggung pembantaian yang telah lama ia nantikan.