Bab 15: Penghakiman Tombak Naga dan Runtuhnya Darah Besi

Ukuran:
Tema:

Tombak emas sepanjang sepuluh meter yang melayang di atas bahu Lin Tian bukanlah sekadar ilusi cahaya. Itu adalah manifestasi dari Qi murni yang telah dikompresi hingga mencapai kepadatan yang menyaingi baja ilahi. Udara di sekitar ujung tombak itu berdesir dan terdistorsi, mengeluarkan suara dengungan bernada rendah yang menggetarkan tulang rusuk siapa pun yang mendengarnya. Cahaya keemasan yang memancar darinya menerangi jalanan Kota Baja Merah yang porak-poranda, melemparkan bayangan panjang dan menyeramkan dari sisa-sisa bangunan yang hancur.

Lin Tian baru saja melangkah ke Alam Pembentukan Qi tingkat awal, sebuah tahap di mana kultivator fana baru belajar mengumpulkan energi alam ke dalam Dantian mereka. Secara logika dunia persilatan, memanifestasikan Qi menjadi senjata padat di luar tubuh adalah keahlian mutlak milik ahli Alam Bumi. Namun, pusaran Qi Lin Tian bukanlah pusaran biasa. Itu adalah pusaran naga keemasan yang ditempa dari esensi Akar Naga Darah dan Mutiara Naga Surgawi, memberinya kualitas energi yang jauh melampaui batasan alam kultivasi fana.

Di seberang jalan, Yan Tuo berdiri dengan napas terengah-engah. Matanya yang merah karena amarah kini dipenuhi oleh urat-urat ketakutan yang menjalar. Sebagai penguasa dunia bawah yang telah mencapai puncak absolut Alam Bumi, insting bertahannya menjeritkan satu kata: lari. Tekanan spiritual dari tombak emas di atas pemuda itu terasa seperti eksekusi surgawi yang tidak mungkin ditangkis.

Namun, di belakang Yan Tuo, putranya yang cacat merintih kesakitan, dan puluhan anggota elit Geng Darah Besi yang masih hidup menatapnya dengan sisa-sisa harapan. Jika ia melarikan diri malam ini, reputasi Geng Darah Besi yang dibangun selama puluhan tahun akan hancur menjadi debu, dan ia akan selamanya menjadi bahan tertawaan di Benua Cakrawala.

“Ilusi! Itu pasti hanya ilusi trik iblis!” raung Yan Tuo, menolak kenyataan yang menghancurkan akal sehatnya. Ia menggigit ujung lidahnya hingga berdarah, menggunakan rasa sakit untuk mengusir teror yang mencekik jiwanya. “Aku adalah puncak Alam Bumi! Aku telah menguasai energi alam selama empat puluh tahun! Seekor bocah yang baru saja membentuk pusaran Qi tidak akan pernah bisa melampauiku!”

Yan Tuo memukul dadanya sendiri dengan keras. Suara dentuman yang menyerupai bedug perang bergema. Seketika, esensi darah dari dalam tubuhnya terbakar dengan hebat. Ia menggunakan teknik terlarang sekte bayangan yang mengorbankan dua puluh tahun umur hidupnya untuk memaksa Qi sejati di dalam Dantiannya meledak melampaui batas maksimal.

Aura berwarna darah pekat menyembur dari pori-pori kulit Yan Tuo, membungkus tubuh raksasanya dalam sebuah zirah energi yang sangat tebal, menyerupai cangkang iblis berduri. Golok raksasa di tangannya menyerap sisa-sisa darah yang menggenang di jalanan, membesar hingga membentuk proyeksi golok darah sepanjang lima belas meter. Udara di sekitarnya berubah menjadi merah gelap, memancarkan bau busuk mayat jutaan orang.

“Seni Darah Besi Pamungkas: Eksekusi Dewa Pembantaian!”

Yan Tuo melompat ke udara dengan kekuatan yang menghancurkan lempengan batu vulkanik di bawahnya menjadi kawah sedalam tiga meter. Ia mengayunkan golok darah raksasa itu dengan kedua tangannya, membelah langit malam, dan menebas lurus ke arah kepala Lin Tian. Kekuatan tebasan ini benar-benar telah menyentuh ambang pintu Alam Langit. Jika tebasan ini jatuh di tengah kota biasa, ia akan membelah kota tersebut menjadi dua bagian yang rapi.

Melihat serangan pemusnah yang turun dari langit, anggota Geng Darah Besi yang tersisa bersorak histeris, mengira kemenangan akhirnya berpihak pada ketua mereka.

Namun, di bawah bayang-bayang golok raksasa yang menutupi cahaya bulan itu, Lin Tian bahkan tidak mengedipkan matanya. Seringai dingin dan tanpa belas kasihan terukir di wajahnya.

“Menyentuh ambang Alam Langit?” suara Lin Tian bergema, tenang namun menembus gemuruh angin tebasan. “Bahkan jika dewa dari Alam Langit yang sesungguhnya turun malam ini, aku tetap akan mematahkan lehernya.”

Lin Tian mengangkat tangan kanannya perlahan, jari-jarinya terbuka. Tombak emas raksasa yang melayang di atas bahunya seketika merespons. Ujung tombak itu miring ke atas, mengunci targetnya pada golok darah yang meluncur turun.

“Pergilah. Hancurkan kesombongannya,” perintah Lin Tian singkat. Ia menjentikkan jarinya ke depan.

WUUUSSSHHH!

Tombak emas itu melesat membelah ruang. Kecepatannya melampaui suara, meninggalkan jejak cahaya keemasan yang membutakan mata di udara malam. Itu bukan sekadar lemparan senjata Qi; itu adalah proyektil yang membawa arogansi mutlak sang Kaisar Naga Surgawi.

Di udara, golok darah raksasa milik Yan Tuo bertabrakan langsung dengan ujung tombak emas Lin Tian.

BLAAAAAARRRRGGGHHH!

Sebuah ledakan energi yang jauh lebih dahsyat dari gabungan seluruh pertempuran malam itu meletus di langit Kota Baja Merah. Gelombang kejut berbentuk cincin berwarna merah dan emas menyapu ke segala arah, merobek awan vulkanik di langit dan meratakan sisa-sisa bangunan tiga lantai di sekitar persimpangan jalan hingga rata dengan tanah. Badai debu dan serpihan batu melesat bagaikan peluru ke segala arah.

Orang-orang dari Geng Darah Besi yang sebelumnya bersorak kini menjerit ngeri saat tubuh mereka terhempas sejauh ratusan meter oleh gelombang kejut tersebut. Banyak dari mereka yang organ dalamnya langsung hancur hanya karena terkena imbas benturan dua energi ekstrem itu.

Di pusat benturan di udara, waktu seolah berjalan lambat. Mata Yan Tuo membelalak penuh horor. Golok darah raksasa yang ia bentuk dengan mengorbankan dua puluh tahun umurnya, yang ia yakini mampu membelah gunung, ternyata tidak mampu menghentikan laju tombak emas tersebut lebih dari sedetik.

KRAAAK… PRAAANG!

Suara pecahan kaca raksasa menggema. Proyeksi golok darah milik Yan Tuo retak, lalu hancur berkeping-keping menjadi serpihan cahaya merah yang memudar di udara.

“T-TIDAAAK!” jerit Yan Tuo dengan keputusasaan yang merobek tenggorokan.

Tombak emas itu tidak berhenti. Setelah menghancurkan serangan pamungkas musuhnya, tombak itu terus meluncur lurus ke depan, menghantam tepat di tengah dada Yan Tuo. Zirah darah berduri yang menutupi tubuh sang ketua geng, pertahanan terkuat yang bisa dibanggakan oleh puncak Alam Bumi, berlubang seketika seolah terbuat dari mentega tipis yang ditusuk jarum panas.

CRAT!

“AAARRRGGGHHH!”

Tombak emas raksasa itu menembus dada Yan Tuo, merobek paru-paru dan menghancurkan beberapa tulang rusuknya, namun dengan sengaja menghindari jantungnya. Momentum tombak itu membawa tubuh raksasa Yan Tuo terbang mundur sejauh puluhan meter, melesat melewati sisa-sisa anggotanya yang berhamburan, dan akhirnya memaku pria itu dengan sangat brutal ke sebuah pilar menara pengawas yang terbuat dari baja hitam di ujung jalan.

JLEB!

Tombak Qi emas itu menancap dalam-dalam menembus baja hitam, membiarkan tubuh Yan Tuo tergantung dua meter di atas tanah, memuntahkan darah segar dalam jumlah besar. Tangan dan kakinya menggelepar lemah. Sisa-sisa Qi di dalam Dantiannya bocor tak terkendali melalui luka menganga di dadanya. Pria yang selama puluhan tahun menjadi tiran tak terbantahkan di Kota Baja Merah itu kini telah dipaku bagaikan serangga yang menjadi pajangan.

Kesunyian mematikan kembali menyelimuti jalanan yang telah berubah menjadi reruntuhan apokaliptik tersebut. Bau asap dan darah begitu pekat hingga membuat mual.

Dari balik kepulan debu yang perlahan menipis, sosok Lin Tian berjalan keluar. Jubah hitamnya berkibar ringan, bersih dari noda debu atau darah. Kulit tembaganya memancarkan kilau keemasan yang samar, bukti dari fondasi fisiknya yang kini disempurnakan oleh pusaran Qi naga di Dantiannya. Setiap langkahnya tidak menghasilkan suara, namun auranya menekan jiwa siapa pun yang masih bernapas di tempat itu.

Ia berjalan melewati potongan-potongan tubuh anggota Geng Darah Besi. Beberapa yang masih hidup dan merintih kesakitan langsung menghentikan erangan mereka, berpura-pura mati atau menahan napas saat pemuda iblis itu lewat. Tidak ada lagi yang berani mengangkat senjata. Semangat tempur faksi dunia bawah itu telah dihancurkan hingga ke akar-akarnya.

Lin Tian berhenti tepat di depan pilar baja hitam tempat Yan Tuo tergantung. Ia mendongak, menatap mata sang ketua geng yang kini sayu dan dipenuhi oleh teror murni.

“Kau melihatnya sekarang, Yan Tuo?” ucap Lin Tian datar, matanya yang keemasan tidak memancarkan emosi selain kedinginan absolut. “Jurang pemisah antara kita bukanlah tentang seberapa lama kau telah berkultivasi atau alam apa yang kau capai. Ini tentang kualitas esensi. Energi alam yang kau kumpulkan hanyalah embun fana, sementara Qi yang mengalir di dalam tubuhku adalah lautan kaisar.”

Yan Tuo memuntahkan seteguk darah berbusa. Ia mencoba mengangkat tangannya untuk mencengkeram tombak emas yang menyiksanya, namun tangannya terlalu lemah. “K-Kau… monster… Sekte-sekte besar… tidak akan pernah membiarkan anomali sepertimu… hidup… Mereka akan memburumu… sampai mati…”

“Mereka sudah mencobanya, dan mereka akan terus mencobanya. Aku akan menyambut mereka semua dengan tangan terbuka,” Lin Tian menyeringai tipis, sebuah senyuman yang menjanjikan lebih banyak pertumpahan darah di masa depan. “Sayangnya, kau tidak akan hidup untuk melihat bagaimana aku menghancurkan mereka satu per satu.”

Lin Tian mengangkat tangan kanannya, mengarahkan telapak tangannya ke tubuh Yan Tuo yang sekarat. Ini adalah waktu panen.

Pusaran naga keemasan di dalam Dantian Lin Tian berputar cepat. Daya hisap yang luar biasa brutal dan mendominasi meledak dari telapak tangannya, menutupi tubuh Yan Tuo.

“A-Apa yang kau lakukan… T-TIDAAAK! HENTIKAAAN!” Yan Tuo menjerit histeris dengan sisa tenaga terakhirnya saat ia merasakan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada darahnya sedang ditarik keluar secara paksa.

Esensi kehidupan murni dan sisa-sisa Qi sejati dari seorang kultivator puncak Alam Bumi disedot keluar bagaikan asap tebal yang mengalir ke telapak tangan Lin Tian. Energi itu mengalir masuk melalui meridian Lin Tian, langsung menuju pusaran emas di Dantiannya. Berbeda dengan sebelumnya di mana ia membutuhkan waktu berjam-jam untuk memurnikan energi fana, kini pusaran naganya bertindak seperti penggiling raksasa. Energi fana itu dihancurkan, disaring, dan diubah menjadi setetes Qi Naga Surgawi cair yang murni dalam hitungan detik, memperkokoh fondasi Lin Tian di Alam Pembentukan Qi tingkat awal.

Tubuh raksasa Yan Tuo mengering dengan kecepatan yang mengerikan. Kulitnya keriput, rambut merahnya berubah menjadi abu-abu mati, dan otot-ototnya menyusut hingga menempel pada tulang. Dalam kurang dari sepuluh tarikan napas, tiran Kota Baja Merah itu telah menjadi mumi kering yang kehilangan seluruh esensi kehidupannya.

Lin Tian menjentikkan jarinya. Tombak Qi emas raksasa yang memaku Yan Tuo seketika memudar dan menghilang, mengembalikan energinya ke alam. Tubuh kering Yan Tuo jatuh berdebuk ke tanah dan hancur menjadi serpihan abu tulang yang langsung tertiup angin malam, lenyap tanpa sisa.

Hanya ada satu barang yang tertinggal dari sang ketua geng: sebuah cincin spasial bertahtakan batu delima merah yang berdenting pelan saat jatuh ke jalanan berbatu.

Lin Tian membungkuk dan mengambil cincin itu. Dengan aliran Qi naganya yang mendominasi, ia menghapus tanda jiwa Yan Tuo yang sudah lemah dengan mudah. Ia memindai isinya sejenak, dan alisnya sedikit terangkat.

“Tidak heran dia bisa menjadi penguasa di kota ini,” gumam Lin Tian.

Di dalam cincin itu, tidak kurang dari lima ratus ribu batu spiritual tingkat menengah tersusun rapi membentuk bukit kecil, beserta puluhan gulungan teknik bela diri elemen tanah dan darah, serta berton-ton material penempaan senjata langka. Ini adalah kekayaan akumulasi dari pemerasan, perampokan, dan pasar budak selama puluhan tahun. Kini, seluruh pundi-pundi Geng Darah Besi telah berpindah tangan ke pemuda berjubah hitam tersebut.

Lin Tian memasang cincin itu di jarinya. Ia membalikkan badan, matanya menyapu medan pembantaian di jalan utama tersebut. Di kejauhan, para anggota geng yang masih hidup mulai merangkak mundur, beberapa berlari terbirit-birit sambil membuang senjata mereka, mencoba melarikan diri dari pandangan dewa kematian. Lin Tian tidak mempedulikan teri-teri kecil itu. Namun, pandangannya terkunci pada sebuah titik di dekat sisa-sisa kereta dorong yang hancur.

Di sana, Yan Kuang, tuan muda arogan yang menjadi pemicu seluruh tragedi ini, merangkak di atas tanah yang berlumuran darah. Kedua pengawalnya telah mati terinjak-injak dalam kekacauan tadi. Yan Kuang menyeret tubuhnya yang lumpuh menggunakan kedua tangannya, wajahnya yang penuh perban dipenuhi oleh air mata, ingus, dan kengerian absolut. Ia telah melihat ayahnya yang tak terkalahkan dipaku dan dihisap hingga menjadi debu. Akal sehatnya telah hancur sepenuhnya.

Mendengar langkah kaki Lin Tian yang perlahan mendekat, Yan Kuang berhenti merangkak. Ia berbalik dengan susah payah, berlutut, dan membenturkan kepalanya yang sudah hancur ke tanah berbatu berulang kali hingga darah segar kembali merembes dari perbannya.

“A-Ampuni aku… Tuan… Raja Iblis… Dewa… ampuni aku!” rintih Yan Kuang, suaranya putus asa dan sangat menyedihkan. “Aku sampah! Aku kotoran! Tolong jangan bunuh aku! Geng Darah Besi memiliki banyak harta yang disembunyikan di markas, aku akan membawamu ke sana! Aku akan menjadi budak anjingmu seumur hidup!”

Lin Tian berdiri tegak di depan Yan Kuang yang bersujud. Ia memandang ke bawah, menatap tumpukan daging yang merengek itu dengan kekosongan yang membekukan jiwa. Di dunia Jianghu, arogansi tanpa kekuatan adalah dosa paling mematikan. Dan memohon belas kasihan setelah memicu perang adalah bentuk kehinaan yang paling menjijikkan.

“Kau yang memulai permainan ini, Yan Kuang. Melemparkan koin ke wajahku di ruang penilaian,” ucap Lin Tian datar, suaranya sedingin es di kutub utara. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan kantong kecil berisi seribu batu spiritual tingkat menengah yang dilemparkan Yan Kuang tiga hari yang lalu.

“Aku mengembalikan uangmu.”

Lin Tian menjatuhkan kantong batu spiritual itu. Tepat saat kantong itu menyentuh bagian belakang kepala Yan Kuang yang sedang bersujud, Lin Tian menghentakkan kaki kanannya dengan sedikit dorongan Qi Naga Surgawi.

BUM!

Kepala Yan Kuang hancur berkeping-keping di bawah sol sepatu Lin Tian, bersamaan dengan kantong batu spiritual yang tertanam ke dalam tanah berbatu. Kematian instan tanpa rasa sakit yang berlarut-larut. Tuan muda itu bahkan tidak sempat menyadari bahwa nyawanya telah melayang.

Geng Darah Besi, faksi lalim yang menguasai setengah dari Kota Baja Merah, kini telah kehilangan ketua dan pewarisnya dalam satu malam, dihancurkan hingga rata dengan tanah oleh satu orang pemuda.

Dari balik bayang-bayang pilar yang setengah hancur, Bai Xue berjalan perlahan mendekati Lin Tian. Cadar putihnya sedikit berdebu, namun gaunnya tetap bersih tak ternoda. Aura di sekeliling tubuh Saintess itu telah berubah drastis. Embun beku yang mematikan tidak lagi membahayakan dirinya; sebaliknya, elemen es itu kini berputar dengan jinak dan anggun di telapak tangannya. Bunga Teratai Salju Seribu Tahun telah melakukan keajaibannya. Meskipun kultivasinya belum sepenuhnya pulih ke Alam Langit, ia telah berhasil kembali ke puncak Alam Bumi, dan meridiannya tidak lagi terancam oleh Rantai Es Absolut.

Bai Xue menatap kehancuran di sekeliling mereka. Jalanan utama terbelah, bangunan runtuh, dan darah mengalir seperti sungai kecil memasuki selokan-selokan kota. Pandangannya kemudian beralih ke Lin Tian, pemuda yang menjadi pusat dari seluruh bencana ini.

“Kau benar-benar tidak menyisakan ruang bernapas untuk musuh-musuhmu,” kata Bai Xue pelan, nadanya memancarkan perpaduan antara kekaguman dan kengerian yang tersembunyi. “Pusaran Qi-mu… aku belum pernah melihat energi fana memiliki kualitas penindasan setinggi itu. Kau bahkan memanifestasikan senjata Qi dengan lebih mudah daripada seorang pakar Alam Bumi.”

“Itu baru permulaan,” Lin Tian menatap tangannya sendiri, merasakan energi naga murni yang mengalir dengan lancar di setiap inci meridiannya. “Dengan terobosan ini, aku akhirnya bisa menggunakan setengah dari teknik bela diri sesungguhnya yang ada di dalam ingatan Seni Kaisar Naga Surgawi. Langkah pertamaku di jalan ini telah mantap.”

Lin Tian menoleh ke arah Bai Xue, matanya yang keemasan perlahan memudar kembali menjadi hitam legam yang dalam. “Kutukanmu sudah terkendali?”

Bai Xue mengangguk. “Teratai Salju itu luar biasa murni. Rantai Es Absolut telah membeku di inti Dantianku, membiarkanku menggunakan sebagian besar energi asliku tanpa memicu serangan balik. Aku butuh waktu sekitar satu bulan meditasi intensif di tempat yang kaya akan energi spiritual untuk sepenuhnya menyerap khasiat teratai itu dan kembali ke Alam Langit.”

“Bagus. Itu berarti kau tidak akan membebaniku jika kita harus berlari cepat,” Lin Tian tersenyum tipis. Ia memandang ke arah langit ufuk timur. Di balik awan vulkanik abu-abu, semburat cahaya fajar yang pucat mulai menyingsing, menandakan akhir dari malam panjang yang berdarah itu.

“Kita tidak bisa berlama-lama di sini,” lanjut Lin Tian, suaranya kembali berubah menjadi nada memerintah yang tegas. “Kehancuran sebesar ini pasti akan menarik perhatian penguasa absolut kota ini, dan yang lebih buruk, Sekte Pedang Awan tidak akan buta terhadap kematian Diaken Ku Feng dalam waktu lama. Jika mereka mengirim Penatua Inti dari Alam Langit sekarang, kita masih belum memiliki modal yang cukup untuk menghadapinya secara frontal.”

“Lalu ke mana kita akan pergi?” tanya Bai Xue. “Kembali ke Hutan Kematian?”

“Tidak. Hutan Kematian bagian luar dan dalam sudah tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk menunjang kebutuhan energi pusaran nagaku,” Lin Tian menggelengkan kepalanya. Ia mengingat peta Benua Cakrawala yang pernah ia pelajari di klan lamanya. Matanya menyipit, memandang jauh ke arah timur melampaui batas Kota Baja Merah.

“Kita akan menuju ke perbatasan Kekaisaran Awan Biru,” ucap Lin Tian, menyebutkan wilayah kekuasaan faksi netral terbesar yang berbatasan langsung dengan teritori Empat Sekte Lurus. “Di sana, ada Hutan Ilusi Seribu Wajah dan Reruntuhan Makam Kuno yang sebentar lagi akan terbuka. Di tempat di mana para jenius dari seluruh sekte besar berkumpul untuk berebut pusaka, di sanalah aku akan menemukan lebih banyak mangsa dan batu pijakan untuk melesat ke puncak.”

“Kekaisaran Awan Biru…” Bai Xue bergumam pelan. Tempat itu sangat dekat dengan wilayah kekuasaan sektenya, Sekte Teratai Es. Namun, ia tidak merasa keberatan. Ia tahu bahwa nasibnya kini telah terikat dengan pemuda misterius ini. Di samping sang Tiran Naga, dunia Jianghu terasa jauh lebih luas dan menjanjikan daripada dinding es sektenya yang dingin.

“Ayo berangkat,” perintah Lin Tian.

Tanpa menoleh ke belakang untuk melihat mahakarya pembantaian yang telah ia ciptakan, Lin Tian melesat ke depan, menggunakan teknik pergerakan dasar yang kini didorong oleh Qi Pembentukan Tingkat Awal. Kecepatannya meninggalkan jejak angin yang kencang, menembus gerbang Kota Baja Merah yang ditinggalkan oleh para penjaga yang ketakutan.

Bai Xue segera menyusul, melayang dengan anggun di belakangnya layaknya dewi es yang mengikuti dewa perang.

Hari itu, saat fajar menyinari Kota Baja Merah, penduduk dan faksi-faksi bawah tanah lainnya terbangun oleh pemandangan yang akan terus diceritakan sebagai legenda urban selama ratusan tahun ke depan: Geng Darah Besi yang tak terkalahkan hancur dalam semalam, dan sang pelaku menghilang bak hantu, meninggalkan nama yang akan segera mengguncangkan seluruh hierarki Benua Cakrawala. Sang Tiran telah lahir, dan badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.