Bab 14: Kuali Darah Besi dan Kebangkitan Pusaran Naga
Malam di Kota Baja Merah biasanya diwarnai oleh hiruk-pikuk tanpa akhir, namun saat Lin Tian dan Bai Xue melangkah keluar dari gerbang perunggu raksasa Gedung Pelelangan Bintang Darah, suasana di luar terasa sangat ganjil. Jalanan utama yang beberapa jam lalu sesak oleh ribuan manusia kini kosong melompong. Tidak ada pedagang kaki lima, tidak ada prajurit bayaran yang mabuk, bahkan angin pun seolah enggan berhembus melewati lempengan batu vulkanik hitam yang menjadi alas jalan tersebut.
Keheningan ini bukanlah keheningan yang damai, melainkan ketenangan mematikan sebelum badai menghancurkan segalanya. Udara terasa sangat berat, dipenuhi oleh niat membunuh yang begitu pekat hingga membuat bulu kuduk berdiri. Bau karat dan darah samar-samar tercium dari lorong-lorong gelap di kiri dan kanan jalan.
Bai Xue menghentikan langkahnya tepat di belakang Lin Tian. Di balik cadarnya, mata birunya menyipit tajam. Fluktuasi energi es mulai berputar perlahan di sekitar tubuhnya, menciptakan perisai transparan yang menurunkan suhu udara di sekitarnya.
“Mereka telah mengosongkan seluruh distrik ini,” bisik Bai Xue, suaranya sangat tenang meskipun ia tahu bahaya apa yang menanti. “Hanya faksi penguasa absolut yang memiliki kekuatan untuk mengusir ribuan kultivator liar dari jalanan utama Kota Baja Merah dalam waktu singkat. Geng Darah Besi membawa seluruh pasukan elit mereka.”
Lin Tian tidak menjawab. Ia terus melangkah maju dengan ritme yang konstan dan santai, seolah-olah ia sedang berjalan-jalan di taman bunga kekaisaran. Jubah hitam polosnya berkibar pelan. Tangannya tergantung bebas di sisi tubuhnya, tidak memegang senjata apa pun. Matanya yang gelap memindai kegelapan di depan, bibirnya melengkung membentuk seringai yang sangat tipis namun memancarkan arogansi yang menembus langit.
Sekitar seratus meter dari gerbang pelelangan, di tengah persimpangan jalan yang luas, barikade manusia telah terbentuk.
Ratusan pria berwajah garang yang mengenakan zirah besi berwarna merah gelap berdiri merintangi jalan. Mereka memegang pedang besar, kapak perang, dan tombak berduri yang memantulkan cahaya rembulan yang tertutup awan abu-abu. Fluktuasi Qi yang memancar dari ratusan orang itu bergabung menjadi satu, menciptakan tekanan spiritual gabungan yang bisa membuat seorang kultivator Alam Pembentukan Qi tingkat puncak muntah darah dan jatuh berlutut.
Di barisan paling depan, duduk di atas sebuah kursi besar yang terbuat dari tulang belulang binatang buas, adalah Yan Tuo. Ketua Geng Darah Besi itu tampak seperti raksasa yang turun dari gunung. Otot-ototnya yang menonjol seolah siap merobek jubah tanpa lengannya. Di sebelahnya, ditopang oleh dua pengawal, Yan Kuang yang wajahnya hancur terbalut perban menatap Lin Tian dengan mata yang memancarkan kebencian murni dan kegilaan yang tak tertahankan.
“Itu dia, Ayah! Itu bajingan yang menghancurkan wajahku!” erang Yan Kuang dengan suara sengau yang tidak jelas, air mata kemarahan mengalir dari balik perbannya. “Bunuh dia! Potong kedua kakinya dan biarkan aku menginjak-injak kepalanya!”
Yan Tuo perlahan bangkit dari kursinya. Saat ia berdiri, seluruh anggota Geng Darah Besi serentak menghentakkan senjata mereka ke tanah batu.
BUMMM!
Suara hentakan ratusan senjata itu menggetarkan seluruh bangunan di sekitar persimpangan. Aura dari puncak absolut Alam Bumi meledak dari tubuh Yan Tuo, menyapu jalanan seperti badai topan berdarah. Qi merah pekat menguar dari pori-pori kulitnya, menciptakan ilusi lautan darah di sekelilingnya.
“Bocah berjubah hitam,” suara Yan Tuo menggelegar, sarat dengan kekejaman dan otoritas yang tidak bisa dibantah. “Kau memiliki nyali yang sangat besar untuk melangkah keluar dari zona aman Kamar Dagang Bawah Tanah. Aku, Yan Tuo, telah membantai ribuan orang di kota ini, namun belum pernah aku melihat seekor semut di Alam Penempaan Tubuh yang berani bertindak seangkuh dirimu.”
Lin Tian berhenti melangkah, jaraknya kini hanya sekitar tiga puluh meter dari barisan terdepan Geng Darah Besi. Ia memiringkan kepalanya, menatap raksasa itu dengan pandangan meremehkan yang sama persis seperti yang ia berikan pada Yan Kuang di ruang penilaian.
“Semut?” Lin Tian tertawa pelan, tawa yang terdengar sangat jernih di tengah keheningan mencekam itu. “Banyak anjing tua yang memanggilku semut akhir-akhir ini. Anehnya, mereka semua berakhir dengan tengkorak yang hancur di bawah sepatuku. Aku berasumsi kau datang ke sini untuk menyusul putramu yang cacat itu?”
Wajah Yan Tuo berkedut hebat. Kesombongan pemuda ini benar-benar tidak memiliki batas. Dikelilingi oleh ratusan ahli bela diri dan dihadapkan pada puncak Alam Bumi, ia masih berani melontarkan ejekan tajam.
“Lidahmu sangat tajam, tapi mari kita lihat apakah tubuhmu sekeras mulutmu,” geram Yan Tuo, mencabut sebilah golok raksasa dari punggungnya. Golok itu memancarkan aura pembantaian yang sangat pekat, jelas telah meminum darah kultivator yang tak terhitung jumlahnya. “Serahkan Bunga Teratai Salju, Akar Naga Darah, dan semua batu spiritual di cincinmu. Setelah itu, berlututlah dan patahkan kedua tanganmu sendiri. Jika kau melakukannya, aku mungkin akan memberimu kematian yang cepat tanpa penyiksaan.”
Mendengar tuntutan itu, Bai Xue yang berdiri di belakang Lin Tian mengeratkan genggamannya pada peti es di tangannya. Ia bersiap untuk membuka segel peti itu dan menyerap Bunga Teratai Salju secepat mungkin agar bisa membantu Lin Tian bertarung.
Namun, Lin Tian mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat agar Bai Xue tetap diam.
“Menyerahkan Akar Naga Darah?” Lin Tian mengulangi kata-kata itu. Seringai iblisnya semakin melebar, memperlihatkan gigi-giginya yang putih. “Kau menginginkan akar ini, Yan Tuo? Baiklah. Biar kutunjukkan padamu di mana aku akan menyimpannya.”
Dengan gerakan yang sangat santai, Lin Tian membalikkan telapak tangan kanannya. Kotak besi hitam berukir rune emas yang ia menangkan di pelelangan muncul di genggamannya.
Melihat kotak itu, napas Yan Tuo tertahan. Begitu pula dengan ratusan anggota Geng Darah Besi. Mereka tahu betapa berharganya benda di dalam sana, meskipun benda itu sangat mematikan.
Tanpa sedikit pun keraguan, Lin Tian membuka tutup kotak besi tersebut.
Seketika, aura buas, kuno, dan luar biasa beringas meledak ke udara. Bau darah naga yang sangat pekat menyapu jalanan. Akar Naga Darah yang berwarna merah menyala dan bertekstur seperti sisik reptil itu berdenyut kuat di dalam kotak, memancarkan fluktuasi energi liar yang membuat para kultivator Alam Pembentukan Qi di barisan depan Geng Darah Besi mundur beberapa langkah karena teror instingtual.
“Energi liar yang mengerikan… benda itu memang racun mematikan bagi siapa pun di bawah Alam Langit,” gumam Yan Tuo, matanya memancarkan keserakahan. Ia berencana untuk menyewa alkemis tingkat tinggi guna memurnikan akar itu selama bertahun-tahun untuk membantunya menembus Alam Langit kelak.
Namun, apa yang dilakukan Lin Tian di detik berikutnya membuat mata Yan Tuo, Bai Xue, dan seluruh orang di jalanan itu membelalak hampir keluar dari rongganya.
Lin Tian tidak menyimpan akar itu kembali. Ia tidak menggunakannya sebagai ancaman. Ia mengangkat Akar Naga Darah yang berdenyut itu dengan tangan kanannya, membuka mulutnya lebar-lebar, dan menggigit akar tersebut secara brutal!
KRAAAK!
Suara gigitan yang sangat keras bergema. Akar yang sekeras batu giok merah itu patah di bawah rahang Lin Tian yang telah ditempa oleh Mutiara Naga. Jus berwarna merah darah yang luar biasa kental menyembur keluar dari patahan akar, membasahi bibir dan dagu Lin Tian. Energi naga bumi yang murni, liar, dan mematikan langsung tumpah ke dalam mulut pemuda itu bagaikan lava cair.
Lin Tian mengunyah potongan besar akar tersebut dengan kasar, menelan esensi darah naga itu bulat-bulat, lalu menggigit sisa akarnya lagi hingga habis tak bersisa. Ia menelan harta karun penentang langit itu tepat di depan mata ratusan musuhnya seolah sedang memakan sebuah apel merah yang renyah.
Keheningan mutlak, yang jauh lebih mencekam daripada sebelumnya, jatuh menimpa Kota Baja Merah. Waktu seolah membeku. Mulut Yan Tuo terbuka lebar, golok di tangannya nyaris terjatuh. Otaknya tidak mampu memproses kegilaan absolut yang baru saja ia saksikan.
“D-Dia… dia memakannya?!” jerit seorang komandan Geng Darah Besi dengan suara bergetar. “Dia menelan Akar Naga Darah secara langsung?! Itu bunuh diri! Tubuhnya akan meledak dalam hitungan detik!”
Bai Xue menutup mulutnya dengan sebelah tangan dari balik cadarnya. “Lin Tian! Apa yang kau lakukan?!”
Namun, Lin Tian tidak bisa menjawab. Saat potongan terakhir dari Akar Naga Darah masuk ke dalam perutnya, neraka bocor di dalam tubuhnya.
BUMMM!
Sebuah ledakan energi internal yang sangat dahsyat terjadi di dalam diri Lin Tian. Energi esensi naga bumi yang tertidur selama ribuan tahun di dalam akar tersebut terbangun. Energi merah darah itu mengamuk dengan kebuasan yang tak terlukiskan, berubah menjadi ribuan naga merah ilusi berukuran kecil yang meronta-ronta, berusaha merobek perut, organ dalam, dan meridian Lin Tian dari dalam.
Suhu tubuh Lin Tian melonjak drastis hingga kulitnya berubah menjadi merah menyala seperti besi yang dipanaskan di dalam tungku. Urat-urat di leher, dahi, dan lengannya menonjol keluar, berdenyut mengerikan seolah akan pecah kapan saja. Udara di sekitarnya terdistorsi oleh panas yang menguap dari tubuhnya.
Rasa sakit yang dirasakan Lin Tian saat ini puluhan kali lipat lebih mengerikan daripada saat ia menyerap Inti Ganda Es dan Api. Ini adalah penolakan garis keturunan! Esensi naga liar itu menolak untuk tunduk pada wadah manusia fana dan berniat untuk menghancurkannya.
Namun, Lin Tian tidak menjerit. Ia mengatupkan rahangnya erat-erat, matanya yang telah berubah menjadi emas murni memancarkan tekad tiran yang menolak untuk mati.
“Tunduk… TUNDUK PADAKU!” raung Lin Tian di dalam benaknya.
Di pusat Dantiannya yang hancur dan telah dibentuk ulang, pusaka kuno yang menjadi sumber segala kekuatannya, Mutiara Naga Surgawi, akhirnya menunjukkan taring aslinya. Merasakan invasi dari garis keturunan naga bumi yang rendahan, martabat sang Kaisar Naga Surgawi merasa terhina.
Mutiara emas itu berputar dengan kecepatan yang menentang hukum alam, menciptakan pusaran lubang hitam emas di dalam Dantian Lin Tian. Raungan naga purba yang sarat akan dominasi, arogansi, dan penindasan mutlak meledak, menyapu seluruh meridian.
Qi Naga Surgawi berwarna emas murni melesat keluar, menabrak gelombang energi naga merah darah tersebut.
Pertempuran dua garis keturunan terjadi di dalam tubuh Lin Tian. Namun, itu bukanlah pertempuran yang seimbang. Naga bumi hanyalah penguasa tanah, sedangkan Naga Surgawi adalah kaisar yang menguasai sembilan langit dan sepuluh bumi. Qi emas itu menghancurkan perlawanan energi merah dengan sangat brutal. Ia merobek-robek kebuasan naga bumi, mengupas niat membunuh liar dari tanaman spiritual tersebut, dan menelan esensi murninya secara paksa.
Energi raksasa yang telah dimurnikan itu kini membanjiri meridian emas Lin Tian. Jumlahnya terlalu besar, terlalu masif. Tubuh Lin Tian mengembang sedikit, otot-ototnya membengkak hingga jubah hitam polosnya robek di beberapa bagian, mengekspos kulit tembaganya yang kini memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan.
“Hahaha! Lihatlah! Tubuhnya mulai kelebihan beban!” Yan Tuo tertawa terbahak-bahak, menunjuk ke arah Lin Tian yang mematung dengan urat-urat menonjol. “Dia meledak! Energi liar itu akan menghancurkan meridiannya! Anak bodoh, kau menghancurkan harta karun yang tak ternilai hanya untuk mati konyol!”
Lin Tian perlahan mendongak. Matanya yang keemasan menatap Yan Tuo menembus kabut panas yang menguap dari tubuhnya. Seringai iblis yang melengkung di wajahnya sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang sekarat; sebaliknya, itu adalah senyuman algojo yang baru saja menemukan alat penyiksaannya.
“Meledak?” Suara Lin Tian tidak lagi terdengar seperti manusia. Suaranya berlapis-lapis, menggema berat, berbaur dengan resonansi raungan naga. “Energi ini… terlalu besar untuk dicerna dalam diam. Aku butuh tempat untuk menyalurkannya. Dan kalian semua… adalah karung tinju yang sempurna untuk proses pencernaanku!”
BUMMM!
Lempengan batu vulkanik di bawah kaki Lin Tian hancur menjadi debu seketika. Tubuhnya melesat maju, bukan dengan teknik pergerakan, melainkan murni terdorong oleh ledakan tenaga fisik yang tidak bisa lagi dibendung oleh wadah manusianya. Ia melesat menembus jarak tiga puluh meter itu bagaikan komet emas yang jatuh dari langit, langsung menabrak barisan depan formasi Geng Darah Besi.
“Tahan dia! Bunuh monster itu!” teriak salah seorang komandan geng, mengangkat perisai baja raksasa setinggi tubuh manusia, diiringi oleh puluhan rekannya yang melakukan hal serupa, membentuk dinding baja yang dilapisi Qi pelindung.
Lin Tian tidak menghindar, tidak melambat. Ia bahkan tidak menggunakan teknik bela diri. Ia hanya menarik tinju kanannya ke belakang, yang kini dilapisi oleh pendaran cahaya emas dan merah darah yang saling melilit, lalu menghantamkannya lurus ke depan.
“HANCUR!”
BLAAAAAARRRRGGGHHH!
Suara benturan itu mirip dengan ledakan ribuan ton mesiu. Dinding perisai baja yang dibanggakan oleh Geng Darah Besi hancur berkeping-keping seolah terbuat dari biskuit kering. Tidak hanya perisainya, belasan prajurit Alam Pembentukan Qi tingkat awal yang memegang perisai tersebut langsung meledak menjadi kabut darah. Tulang, daging, dan zirah besi mereka bercampur menjadi satu, terhempas ke belakang oleh gelombang kejut tinju Lin Tian.
Satu pukulan murni untuk melampiaskan luapan energi, dan belasan nyawa menguap begitu saja.
Jeritan kengerian meletus dari kerumunan Geng Darah Besi. Formasi mereka seketika kacau balau. Mereka tidak sedang bertarung melawan manusia, melainkan melawan bencana alam yang berwujud daging dan darah.
Lin Tian tidak berhenti. Setiap detiknya, energi Akar Naga Darah terus membanjiri tubuhnya. Jika ia berhenti bergerak, energi itu akan merobek pembuluh darahnya. Ia harus terus bertarung, membiarkan pertarungan berdarah ini menjadi kuali peleburan untuk menekan dan memampatkan energi tersebut ke dalam Dantiannya.
Ia melompat ke tengah-tengah kerumunan musuh. Kakinya menginjak dada seorang kultivator, meremukkan tulang rusuknya hingga tembus ke tanah, lalu meminjam gaya tolak untuk melesat ke arah lain. Tangannya menebas, menangkap, dan menghancurkan apa pun yang berada di dekatnya.
Setiap pukulan Lin Tian melepaskan gelombang kejut energi campuran emas dan merah. Kepala-kepala terpenggal, anggota tubuh terputus, dan darah menyembur mewarnai jalanan hitam Kota Baja Merah menjadi lautan merah yang mengerikan. Tubuh Sisik Naga Tembaga miliknya telah didorong hingga melampaui batas maksimal. Pedang, golok, dan tombak yang menghantam tubuh telanjangnya hanya menimbulkan suara dentingan logam dan percikan api, tanpa mampu meninggalkan goresan sekecil apa pun di kulitnya.
Di kejauhan, Bai Xue menatap tarian pembantaian itu dengan napas tertahan. Ia segera duduk bersila, meletakkan peti es Bunga Teratai Salju di pangkuannya. Dia mempertaruhkan nyawanya untuk memaksakan terobosan di tengah pertempuran, batin Bai Xue. Aku tidak boleh menjadi bebannya. Aku harus memulihkan sebagian kekuatanku sekarang! Bai Xue membuka peti es itu dan mulai menyerap energi Yin murni dari Teratai Salju, menciptakan dinding es tebal di sekelilingnya untuk melindungi dirinya dari sisa-sisa serangan nyasar.
Di tengah pembantaian yang sedang berlangsung, Yan Tuo gemetar. Bukan karena takut, melainkan karena kemarahan yang membakar kewarasannya. Ratusan anggota elit yang ia bangun selama puluhan tahun dibantai layaknya rumput liar yang disabit oleh seorang petani gila.
“MINGGIR KALIAN SEMUA, DASAR SAMPAH!” raung Yan Tuo, suaranya menghentikan sisa-sisa anggotanya yang masih hidup untuk mundur dengan panik.
Yan Tuo melesat maju. Fluktuasi puncak absolut Alam Bumi meledak sepenuhnya. Qi berwarna darah mengembun di sekitar golok raksasanya, membentuk bilah energi setinggi sepuluh meter yang memancarkan bau kematian yang sangat pekat. Ia melompat ke udara, mengayunkan goloknya lurus ke arah punggung Lin Tian yang sedang mencengkeram leher dua orang musuh.
“Mati kau, iblis! Tebasan Lautan Darah Pemutus Surga!”
Tebasan itu membawa tekanan yang membuat ruang di sekitar Lin Tian seolah membeku, mengunci pergerakan pemuda itu.
Lin Tian membuang kedua mayat di tangannya. Ia tidak memiliki waktu untuk menghindar. Energi dari Akar Naga Darah di dalam tubuhnya baru berhasil ia tekan sebanyak tujuh puluh persen. Ia masih membutuhkan satu tekanan eksternal yang luar biasa masif untuk memampatkan sisa energi itu secara paksa ke titik singularitas di dalam Dantiannya.
Menyadari hal itu, senyum gila mengembang di wajah Lin Tian. Ia berbalik, menghadap tebasan raksasa dari ahli puncak Alam Bumi itu. Alih-alih bertahan, ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, membiarkan dadanya terbuka tanpa pertahanan, menyambut turunnya bilah maut tersebut.
“Datanglah! Tekan aku! HANCURKAN BATASKU!” raung Lin Tian menantang langit.
Mata Yan Tuo membelalak melihat tindakan bunuh diri itu, namun ia justru menambahkan seluruh sisa Qi-nya ke dalam serangan tersebut, berniat membelah Lin Tian menjadi dua.
Namun, di tengah fokus absolut yang mengunci Yan Tuo dan Lin Tian, sebuah anomali mematikan terjadi.
Dari balik bayangan pilar batu di dekat Bai Xue yang sedang bermeditasi, sesosok bayangan hitam yang terbalut perban tiba-tiba memisahkan diri dari kegelapan. Tidak ada fluktuasi Qi, tidak ada suara napas. Itu adalah Gui Ying, pembunuh bayaran bayangan nomor satu Geng Darah Besi.
Gui Ying tidak menargetkan Lin Tian yang sedang sibuk. Insting pembunuhnya mengarah pada celah yang paling rentan: Bai Xue. Jika ia bisa menyandera atau membunuh wanita ini, konsentrasi Lin Tian akan hancur, dan tebasan Yan Tuo akan menyelesaikan sisanya.
Sebilah belati hitam berlumuran racun korosif melesat menembus udara, diarahkan langsung ke tenggorokan Bai Xue yang sedang memejamkan mata di balik dinding esnya yang belum tertutup sempurna.
Meskipun Lin Tian sedang bersiap menerima hantaman mematikan dari Yan Tuo di depannya, indra naga surgawinya yang mencakup seluruh area pertempuran mendeteksi pergerakan anomali tersebut.
“Beraninya kau, tikus got!”
Suara Lin Tian tidak keluar dari mulutnya, melainkan meledak dari dalam jiwanya. Waktu seolah melambat secara ekstrem di mata emas pemuda itu. Ia harus membuat pilihan dalam sepersekon: menahan serangan Yan Tuo, atau membiarkan Bai Xue mati.
Bagi tiran seperti Lin Tian, pilihan itu tidak pernah ada. Ia menginginkan segalanya, dan ia mengendalikan segalanya.
Lin Tian tidak memblokir tebasan golok raksasa Yan Tuo. Sebaliknya, ia menghentakkan kakinya, memutar tubuhnya di udara, dan menendang bilah golok raksasa itu dengan kaki kanannya. Benturan itu tidak cukup untuk menghancurkan serangan Yan Tuo, namun cukup untuk membelokkan arah tebasan itu beberapa derajat sekaligus menggunakan daya tolaknya untuk melesatkan tubuh Lin Tian ke arah Bai Xue dengan kecepatan peluru cahaya.
BUMMM!
Tebasan Yan Tuo meleset dari tubuh Lin Tian, menghantam jalanan batu dan membelah jalan utama Kota Baja Merah sepanjang ratusan meter, menghancurkan belasan bangunan di sekitarnya.
Di saat yang sama, belati beracun Gui Ying hanya berjarak satu sentimeter dari kulit leher Bai Xue. Saintess itu baru saja membuka matanya, menyadari bahaya maut, namun tubuhnya masih terkunci dalam proses penyerapan Teratai Salju. Ia tidak bisa menghindar.
SRAAAK!
Sebuah tangan berwarna tembaga dengan cengkeraman baja mencengkeram pergelangan tangan Gui Ying dari samping, menghentikan belati itu secara absolut tepat di depan leher Bai Xue.
Gui Ying menoleh dengan horor mutlak. Pemuda berjubah hitam itu entah bagaimana telah berpindah sejauh puluhan meter dalam waktu kurang dari kedipan mata, mengabaikan serangan puncak Alam Bumi di belakangnya. Mata emas Lin Tian menatap pembunuh bayaran itu dengan kedalaman jurang neraka.
“Keterampilan bersembunyi yang bagus. Tapi di hadapan mata naga, kau tidak lebih dari seekor lalat yang telanjang,” bisik Lin Tian.
Gui Ying mencoba melepaskan diri, memadatkan Qi Alam Bumi tingkat akhirnya, namun energi naga liar yang mengamuk di tubuh Lin Tian langsung merambat ke tangan Gui Ying.
KRAAAK! Lin Tian tidak sekadar mematahkan pergelangan tangan sang pembunuh. Ia meremasnya hingga lengan Gui Ying hancur menjadi serbuk tulang dan daging. Sebelum Gui Ying sempat menjerit, tangan kiri Lin Tian melesat maju, mencengkeram leher pembunuh bayaran itu, dan mengangkatnya ke udara.
“Jadilah katalis terakhirku,” gumam Lin Tian.
Daya hisap mengerikan dari Seni Kaisar Naga Surgawi meledak. Seluruh Qi murni dan esensi kehidupan Gui Ying disedot habis secara paksa dalam waktu tiga detik. Tubuh pembunuh elit itu mengering menjadi mumi yang mengerikan, lalu hancur menjadi debu abu tertiup angin.
Tambahan esensi murni dari seorang Alam Bumi tingkat akhir ini adalah tetesan air terakhir yang meruntuhkan bendungan.
Energi Akar Naga Darah dan Qi yang diserap dari Gui Ying bertemu dengan kekuatan Mutiara Naga Surgawi di dalam Dantian Lin Tian. Tekanan internal di tubuh pemuda itu mencapai batas singularitas absolut. Tidak ada ruang lagi. Sesuatu harus diciptakan, atau tubuhnya akan benar-benar hancur.
“SEKARANG! BENTUK!” raung Lin Tian, suaranya menggetarkan langit Kota Baja Merah.
Di dalam Dantiannya yang seluas lautan, seluruh energi liar berwarna merah darah, Qi alam berwarna perak, dan Qi naga berwarna emas murni bertabrakan dan mulai berputar. Putaran itu semakin cepat, semakin kecil, dan semakin padat. Tarikan gravitasinya menyedot seluruh sisa energi di dalam meridian Lin Tian, membersihkan jalurnya.
Dalam satu ledakan cahaya internal yang sangat menyilaukan, titik singularitas itu meledak ke dalam.
Sebuah pusaran energi (Qi Vortex) terbentuk secara permanen di pusat Dantiannya. Bagi kultivator biasa, pusaran Qi hanyalah angin puting beliung energi yang tak terlihat. Namun pusaran Qi milik Lin Tian adalah sesuatu yang menentang surga. Pusaran itu berwarna emas murni, memancarkan pendaran merah darah di intinya, dan bentuk putarannya menyerupai seekor naga ilahi yang melingkar, menjaga pusat alam semestanya.
Suara dentuman yang sangat berat menggema dari dalam tubuh Lin Tian, terdengar seperti genderang perang dari surga.
BUM! Gelombang kejut kasat mata meledak dari tubuh Lin Tian, menyapu jalanan dengan kekuatan yang luar biasa buas. Debu, puing-puing, dan bahkan belasan mayat prajurit Geng Darah Besi terhempas sejauh puluhan meter ke udara. Awan vulkanik di langit malam terbelah, seolah menghindar dari penindasan entitas yang baru saja lahir.
Alam Pembentukan Qi tingkat awal!
Lin Tian perlahan melepaskan udara kotor dari paru-parunya. Uap putih pekat keluar dari mulutnya, berbau darah dan kemurnian alam. Ia membuka matanya. Sepasang pupil emas murni itu kini memancarkan aura dewa yang memandang rendah kefanaan. Luka-luka kecil, rasa lelah, dan rasa sakit dari pertempuran sebelumnya lenyap seketika, digantikan oleh vitalitas yang meledak-ledak dan kendali mutlak atas energi alam di sekitarnya.
Ia tidak lagi sekadar wadah fisik yang kuat; ia kini adalah penguasa atas energi tersebut.
Di seberang jalan yang hancur, Yan Tuo bangkit dari posisi berlututnya setelah menahan gelombang kejut terobosan Lin Tian. Ketua geng itu menatap pemuda di depannya dengan ketidakpercayaan yang meremukkan seluruh keyakinan hidupnya.
Aura yang dipancarkan pemuda itu memang baru Alam Pembentukan Qi tingkat awal, namun kedalaman tekanan spiritualnya… jauh melampaui puncak Alam Bumi miliknya. Rasanya seperti berhadapan dengan tembok besi kosmik yang tak mungkin dirobohkan.
“P-Pusaran Qi yang memancarkan paksaan garis keturunan…? Terobosan macam apa ini?! I-Ini mustahil!” bibir Yan Tuo bergetar, golok raksasa di tangannya tiba-tiba terasa sangat berat.
Lin Tian tidak mempedulikan keputusasaan di mata Yan Tuo. Ia mengepalkan telapak tangannya. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya menggunakan kekuatan otot. Ia memanggil Qi dari pusaran naga emasnya, mengalirkannya ke tangannya, dan mencengkeram udara kosong.
Seketika, Qi alam dalam radius seratus meter memadat secara paksa, membentuk sebuah tombak emas raksasa berukuran sepuluh meter yang melayang di atas bahu Lin Tian. Pembentukan senjata Qi sejati! Sesuatu yang seharusnya hanya bisa dilakukan oleh ahli Alam Bumi, kini diwujudkan dengan sangat mudah dan jauh lebih mematikan oleh Lin Tian yang baru saja menginjak Alam Pembentukan Qi.
“Kau menuntut nyawaku, Yan Tuo,” suara Lin Tian menggema di seluruh distrik, berat dan tak terbantahkan. Seringai iblis yang sangat kejam melengkung di wajahnya. “Sekarang, aku memiliki kekuatan untuk mengambil seluruh nyawa di kota ini. Bersiaplah. Kematianmu akan menjadi tumbal pertama bagi pusaran nagaku.”
Di balik dinding esnya yang mulai retak, Bai Xue menatap punggung tegap Lin Tian. Jantung sang Saintess berdegup kencang, sebuah perasaan aman dan kekaguman yang asing menjalar di hatinya. Pemuda ini benar-benar telah melampaui batas fana. Mulai malam ini, legenda sang Tiran Naga Surgawi akan resmi diukir dengan darah dan abu di atas sejarah Benua Cakrawala.