Bab 17: Pembersihan dan Persiapan

Ukuran:
Tema:

Fajar menyingsing di Sekte Pedang Awan dengan suasana yang jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Udara yang dulu dipenuhi kesombongan dan kepastian kini berubah menjadi campuran kegetiran, kemarahan, dan ketakutan yang tertahan. Lin Ming berdiri di balkon kamarnya, menyaksikan aktivitas pagi yang tidak biasa: patroli yang lebih ketat, kelompok-kelompok murid yang berbisik-bisik dengan wajah muram, serta para elder yang bergegas dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya dengan ekspresi serius.

Semalam, setelah pengungkapan pengkhianatan Elder Kong, Sekte Pedang Awan menggelar rapat darurat hingga larut malam. Hasilnya: dikeluarkannya perintah penangkapan terhadap Elder Kong, Zhang Hu, Zhao Gang, Wang Li, dan sembilan murid inti lainnya yang dicurigai terlibat. Patroli dikirim untuk menyisir setiap sudut kompleks sekte, mencari petunjuk atau persembunyian mereka.

“Tidur nyenyak?” tanya Liu Feng yang mendekati Lin Ming di balkon.

“Cukup,” jawab Lin Ming. Sebenarnya, dia hampir tidak tidur—pikirannya dipenuhi oleh berbagai kemungkinan. Pengungkapan kebenaran membawa kelegaan, tetapi juga membuka pertanyaan baru. Apa yang dilakukan Kultus Iblis sebenarnya? Mengapa mereka menyusup ke Sekte Pedang Awan? Dan yang paling penting: di mana mereka sekarang?

Mei Ling bergabung dengan mereka, membawa nampan berisi sarapan sederhana. “Sesepuh Lan memanggil kita setelah makan. Rapat aliansi sebenarnya akan dimulai hari ini, dengan semua sekte sekarang sepakat tentang ancaman yang dihadapi.”

“Apakah Sekte Pedang Awan masih akan menjadi tuan rumah?” tanya Lin Ming.

“Ya, tapi dengan pengawasan ketat dari sekte lain. Elder Mei akan mewakili sekte mereka, karena Sesepuh Gao… mundur sementara dari posisinya untuk penyelidikan internal.”

Itu masuk akal. Meskipun Sesepuh Gao mungkin tidak terlibat langsung, kelalaiannya dalam menutup-nutupi insiden membuatnya kehilangan kepercayaan.

Setelah sarapan, mereka menuju aula rapat yang sama seperti kemarin. Suasana hari ini jauh lebih suram namun lebih bersatu. Lima sesepuh duduk di tempat mereka, tetapi kali ini Elder Mei duduk di kursi yang sebelumnya ditempati Sesepuh Gao. Di sampingnya, duduk seorang pria tua yang sebelumnya tidak pernah Lin Ming lihat—wajahnya penuh luka lama, mata tajam seperti elang.

“Siapa itu?” bisik Lin Ming pada Liu Feng.

“Elder Chen. Dia adalah kepala pelatih Sekte Pedang Awan, jarang muncul di pertemuan karena lebih suka melatih murid. Tapi kabarnya dia sangat dihormati dan tidak terlibat politik. Kehadirannya menunjukkan bahwa Sekte Pedang Awan serius dengan pembersihan ini.”

Rapat dibuka oleh Sesepuh Lan sebagai mediator. “Saudara-saudara, hari ini kita berkumpul bukan sebagai sekte yang saling curiga, tetapi sebagai sekutu yang menghadapi musuh bersama. Apa yang terjadi semalam adalah bukti nyata bahwa Kultus Iblis Darah tidak hanya aktif, tetapi telah menyusup ke salah satu sekte terkuat kita. Ini peringatan bagi kita semua.”

Elder Mei berbicara berikutnya, suaranya berat tapi tegas. “Sekte Pedang Awan mengakui kesalahan kami dalam mengabaikan tanda-tanda peringatan. Kami akan bekerja sama sepenuhnya dengan aliansi. Saat ini, tim penyelidik kami sedang melacak jejak pengkhianat yang melarikan diri. Dari bukti yang ditemukan di reruntuhan, kami yakin mereka menuju ke markas Kultus Iblis di Pegunungan Darah Berawan, tiga hari perjalanan dari sini.”

Sesepuh Huo dari Sekte Gunung Berapi mengangguk. “Pegunungan Darah Berawan… itu wilayah terlarang sejak seratus tahun lalu setelah Perang Kultus terakhir. Jika mereka benar-benar membangun markas di sana, berarti mereka telah mempersiapkan ini untuk waktu yang lama.”

Diskusi berlanjut tentang kekuatan Kultus Iblis. Berdasarkan catatan sejarah dan informasi terbaru, Kultus Iblis Darah dipimpin oleh seorang yang menyebut diri “Raja Iblis Muda”—sebutan untuk penerus kultus yang bangkit setiap beberapa generasi. Kekuatan mereka berasal dari teknik haram yang menyerap darah dan energi makhluk hidup, mempercepat kultivasi dengan mengorbankan nyawa orang lain.

“Yang mengkhawatirkan,” kata Sesepuh Shui dari Sekte Sungai Terang, “adalah bahwa teknik mereka telah berkembang. Dulu, mereka hanya bisa menyerap darah. Tapi dari korban terbaru, energi spiritual juga dihisap habis. Itu berarti mereka sedang mengembangkan metode untuk tidak hanya memperpanjang hidup, tetapi juga mencapai terobosan kultivasi dengan cara instan.”

Lin Ming, yang duduk di barisan belakang, merasa perlu berbicara. Atas izin Sesepuh Lan, dia berdiri. “Saya telah melihat ritual mereka secara langsung. Mereka tidak hanya menyerap darah dan energi, tetapi juga melakukan sesuatu dengan ‘jiwa’—setidaknya itulah yang disebutkan dalam nyanyian ritual. Mereka berbicara tentang ‘membuka jalan’ dan ‘Dewa Darah’. Mungkin mereka mencoba memanggil sesuatu, atau membuka segel?”

Elder Chen, yang diam sepanjang rapat, tiba-tiba membuka mata. “Dewa Darah… dalam catatan rahasia sekte kami, ada legenda tentang entitas dari luar yang disebut ‘Dewa Darah’ yang pernah mencoba memasuki dunia kita seratus tahun lalu. Dia dikalahkan dan disegel oleh aliansi sekte dengan bantuan Dewa Bela Diri.”

Semua orang terdiam. Jika Kultus Iblis mencoba membebaskan entitas itu, ancamannya jauh lebih besar dari sekte sesat biasa.

“Kita perlu informasi lebih,” kata Sesepuh Jin. “Kita perlu tahu sejauh apa persiapan mereka, berapa banyak anggota, dan apa rencana tepat mereka.”

“Kita juga perlu mempersiapkan pasukan,” tambah Elder Mei. “Perang mungkin tidak bisa dihindari.”

Rapat memutuskan beberapa hal:

  1. Membentuk pasukan pengintai gabungan untuk menyusup ke Pegunungan Darah Berawan.
  2. Setiap sekte mengerahkan pasukan terbaik mereka dan berkumpul di titik pertemuan dalam sepuluh hari.
  3. Berbagi teknik dan sumber daya untuk memperkuat pertahanan.
  4. Mencari informasi tentang cara menghadapi “Dewa Darah” jika legenda itu benar.

Setelah rapat, Lin Ming didekati oleh Elder Mei. “Ming Lin, Sesepuh Lan mengatakan bahwa kau memiliki kemampuan bertahan hidup dan pengamatan luar biasa. Apakah kau bersedia bergabung dengan tim pengintai?”

Lin Ming terkejut. Itu berisiko tinggi—masuk ke markas musuh. Tapi juga kesempatan untuk mengumpulkan informasi dan mungkin menghadapi Zhang Hu dan kawan-kawannya langsung.

“Saya bersedia, Elder. Tapi saya perlu persiapan.”

“Tentu. Tim akan berangkat besok pagi. Anggotanya dari berbagai sekte, termasuk dua dari Sekte Pedang Awan yang terpercaya.”

Sepanjang sisa hari, Lin Ming mempersiapkan diri. Dia mengisi energinya hingga penuh (50/50 unit), memeriksa senjata dan armor, serta menyimpan bahan-bahan penyembuhan. Dia juga menggunakan Sistem Sintesis Semesta untuk menganalisis informasi yang didapat hari ini.

“System, analisis legenda ‘Dewa Darah’ berdasarkan data yang tersedia.”

[Analisis…] [Dari fragmen informasi: Entitas eksternal, kemungkinan terkait dengan hukum darah dan pengorbanan. Tingkat ancaman: Tidak dapat ditentukan (mungkin tingkat C atau lebih tinggi).] [Catatan: Dewa Bela Diri disebutkan sebagai penolong dalam mengalahkannya. Mungkin ada hubungan dengan warisan host.]

Jadi, warisan Dewa Bela Diri yang Lin Ming miliki mungkin khusus efektif melawan entitas seperti Dewa Darah. Itu berita baik, tapi juga berarti tanggung jawab lebih besar.

Sore hari, Lin Ming memutuskan untuk mengunjungi area pelayan sekali lagi. Kali ini, secara terbuka sebagai tamu sekte. Dia ingin memastikan bahwa pelayan-pelayan yang dia selamatkan baik-baik saja, dan mungkin menemukan informasi tambahan.

Area pelayan kini lebih hidup dibandingkan malam sebelumnya. Beberapa pelayan tampak lega, yang lain masih ketakutan. Seorang pelayan setengah baya yang menjadi koordinator mendekatinya.

“Tuan Tamu, terima kasih atas apa yang kalian lakukan semalam. Beberapa dari kami… mereka sudah lama menderita.”

“Bagaimana kondisi mereka yang diselamatkan?” tanya Lin Ming.

“Mereka lemah tetapi hidup. Tabib sekte sedang merawat mereka. Tapi…” pelayan itu menurunkan suaranya, “ada sesuatu yang ingin saya sampaikan. Sebelum insiden semalam, saya melihat Senior Zhang Hu bertemu dengan orang asing di hutan belakang. Orang itu memakai jubah merah, tapi bukan seragam sekte mana pun yang saya kenal.”

“Kapan?”

“Tiga hari yang lalu. Saya kebetulan sedang mencari jamur di hutan. Mereka berbicara tentang ‘gerbang’ dan ‘waktu yang hampir tiba’. Lalu orang asing itu memberikan sesuatu pada Senior Zhang Hu—sebuah kotak hitam kecil.”

Lin Ming mengingat-ingat. Mungkin itu alat atau bahan untuk ritual. “Apakah kau ingat wajah orang asing itu?”

“Tidak jelas, tapi dia memiliki tato di leher—seperti ular yang melingkar.”

Informasi ini penting. Lin Ming berterima kasih pada pelayan itu dan segera melaporkan pada Sesepuh Lan dan Elder Mei. Tato ular melingkar adalah tanda anggota tingkat menengah Kultus Iblis Darah.

“Mereka berencana membuka gerbang,” gumam Elder Mei. “Itu sesuai dengan kekhawatiran kita. Tim pengintaimu harus mencari informasi tentang gerbang ini.”

Malam hari, Lin Ming bermeditasi di kamarnya. Dia mencoba menyatukan semua informasi: Kultus Iblis ingin membuka gerbang untuk memanggil Dewa Darah, menggunakan pengorbanan darah dan energi. Mereka telah menyusup ke Sekte Pedang Awan untuk mendapatkan sumber daya dan mungkin sesuatu yang spesifik—mungkin artefak atau lokasi.

“System, adakah cara untuk meningkatkan kekuatan saya dengan cepat sebelum misi besok?”

[Analisis kondisi host…] [Host saat ini Lapis 3 Qi Gathering dengan fondasi stabil. Peningkatan cepat dapat dilakukan dengan:

  1. Menyerap Monster Core berkualitas lebih tinggi (risiko konflik energi).
  2. Mensintesis kemampuan ofensif baru dari hukum yang sudah dipahami.
  3. Melatih teknik Perisai Energi Dasar hingga mahir untuk pertahanan lebih baik.]

Lin Ming memilih opsi kedua. Dia memiliki 28.5 Sintesis Poin. Dia memutuskan untuk mensintesis kemampuan ofensif baru dengan menggabungkan pemahaman Hukum Guntur dan Hukum Getaran.

“System, sintesiskan Hukum Guntur dan Hukum Getaran untuk kemampuan ofensif.”

[Memulai sintesis…] [Biaya: 15 Sintesis Poin.] [Menganalisis kompatibilitas…] [Guntur: kehancuran, kecepatan, energi listrik.] [Getaran: gelombang, resonansi, penetrasi.] [Sintesis menghasilkan: “Gelombang Guntur” – teknik yang menggabungkan kehancuran listrik dengan gelombang getaran untuk serangan area dan penetrasi pertahanan.] [Kemampuan baru: “Gelombang Guntur” (Tingkat E+). Konsumsi energi: 5-15 unit tergantung kekuatan.]

[Sintesis Poin tersisa: 13.5.]

Kemampuan baru ini berguna untuk pertempuran melawan banyak musuh atau musuh dengan pertahanan fisik kuat. Lin Ming berlatih sebentar di ruang terbatas, menguji dengan konsumsi energi minimal. Efeknya memuaskan—kilatan listrik disertai gelombang kejut yang dapat menghancurkan batu uji dari jarak beberapa meter.

Kemudian, dia berlatih teknik Perisai Energi Dasar hingga mahir. Dengan pemahaman Hukum Energi yang baru, dia bisa membuat perisai lebih efisien, mengurangi konsumsi energi dari 3 unit/menit menjadi 2 unit/menit.

Ketika fajar mendekati, Lin Ming merasa lebih siap. Dia mungkin masih Lapis 3, tetapi dengan kemampuan dan pengalaman bertarung yang melebihi tingkat kultivasinya.

Tim pengintai berkumpul di gerbang utama saat matahari terbit. Ada delapan anggota: Lin Ming (Sekte Bulan Sabit), Liu Feng (Sekte Bulan Sabit), dua murid inti Sekte Pedang Awan (seorang pria bernama Liang dan wanita bernama Ruan), satu dari Sekte Gunung Berapi (pemuda bernama Yan), satu dari Sekte Sungai Terang (wanita bernama Hui), dan satu dari Sect of Iron Will (pria berpostur besar bernama Tie). Semuanya setidaknya Lapis 3, dengan Liu Feng sebagai pemimpin.

“Misi kita,” kata Liu Feng, “adalah menyusup ke Pegunungan Darah Berawan, mengumpulkan informasi tentang markas, kekuatan, dan rencana Kultus Iblis. Bukan untuk bertempur kecuali terpaksa. Jika ketahuan, kita mundur segera. Apakah jelas?”

Semua mengangguk. Mereka berangkat dengan kuda cepat, menuju pegunungan di barat.