BAB 27: SOUL DEGENERATION

Ukuran:
Tema:

Kembali ke Archives dengan Collector—yang nama aslinya adalah Elias—menciptakan ketegangan baru. Beberapa anggota Guardian Council tidak setuju membawa “musuh” ke dalam markas.

“Kau yakin ini bijaksana?” tanya Garrick, melihat Elias yang lemah di kursi roda.

“Kita tidak punya pilihan,” jawab Kaelan. “Dia punya informasi tentang void prime. Dan penyakitnya… mungkin terkait dengan corruption-ku.”

Archmage Lyra memeriksa Elias. “[SOUL BINDER – LEGENDARY],” katanya setelah analisis. “Sistem yang memungkinkanmu mengikat jiwa ke benda. Tapi… binding-nya salah. Terbalik.”

“Terbalik?” tanya Elara.

“Daripada mengikat jiwa lain ke benda, dia mengikat jiwanya sendiri ke Sistemnya. Dan Sistemnya… mengikat kembali. Lingkaran setan. Sistem memakan jiwa, jiwa mencoba mempertahankan Sistem.”

Elias mengangguk lemah. “Awalnya… aku ingin membantu orang. Mengikat jiwa mereka yang sekarat ke wadah, memberi mereka kehidupan kedua. Tapi… salah satu binding gagal. Dan terbalik.”

Kaelan memahami. Kecelakaan. Bukan kejahatan.

“Dan void prime?” tanya Vex, yang ikut dalam pemeriksaan.

“Untuk… memutus binding. Tapi void prime terlalu kuat. Malah memperburuk.”

Kaelan merasakan corruption dalam dirinya—masih 10%. Tapi sekarang dia mengerti: void prime dalam dirinya adalah “sisa” dari upaya Elias memutus binding. Seperti benang yang terputus, tapi masih menempel.

“Kita butuh fragmen Ancient One,” kata Kaelan. “Mereka tahu tentang void prime.”

Mereka membawa crystal berisi fragmen ke laboratorium. Tapi bagaimana membangunkannya tanpa kehilangannya?

Vex punya ide. “Neutral primordial energy. Itu canvas kosong. Mungkin bisa digunakan sebagai ‘jembatan’ untuk berkomunikasi tanpa membangunkan sepenuhnya.”

Mereka mencoba. Kaelan mengambil sedikit neutral energy, menyentuhkan ke crystal. Energy menyebar, masuk ke dalam.

Crystal bersinar lemah. Suara fragmen, tapi lemah. “Siapa…?”

“Kami butuh bantuan,” kata Kaelan. “Tentang void prime.”

“Void prime… energi kotor… sebelum pemurnian…”

“Bagaimana menyembuhkannya?”

“Pemurnian… butuh semua fragmen… reunifikasi…”

“Tapi kami hanya punya satu.”

“Temukan… yang lain… atau… cari Source.”

Source? Sumber void prime?

“Di mana Source?” tanya Elias, tiba-tiba tertarik.

“Tempat pertama… di mana kami datang… Gateway…”

Gateway? Ancient Ones datang melalui gateway?

“Di mana gateway itu?” tanya Kaelan.

“Tersembunyi… tapi… ada peta…”

Fragmen memberikan gambar dalam pikiran Kaelan: peta dengan lokasi—di pegunungan terpencil, di perbatasan utara jauh.

“Kita harus pergi ke sana,” kata Kaelan.

“Tapi corruption-mu…” kata Elara.

“Justru karena corruption-ku. Jika Source ada di sana, mungkin ada obat.”

Elias batuk lagi. “Aku… ikut.”

“Kau terlalu lemah,” kata Garrick.

“Tapi aku tahu tentang void prime. Dan… aku punya alasan.”

Mereka berdebat lagi. Akhirnya, Archmage Lyra memutuskan: “Elias ikut. Tapi dengan pengawasan ketat. Dan… dengan device yang akan menonaktifkan Sistemnya jika dia mencoba sesuatu.”

Elias setuju. “Aku tidak akan melukai siapa pun lagi.”

Tim untuk ekspedisi: Kaelan, Elara, Thorne, Vex (karena pengetahuan alchemy), dan Elias (dengan pengawasan). Garrick dan Lyra Junior tetap di Archives.

Persiapan memakan waktu dua hari. Mereka butuh equipment untuk cuaca ekstrem—gateway ada di pegunungan tinggi, lebih tinggi dari Icepeak.

Selama persiapan, Kaelan dan Elias berbicara.

“Kenapa kau jadi Collector?” tanya Kaelan.

“Karena putus asa,” jawab Elias. “Ketika binding terbalik, aku mencari segala cara untuk memperbaiki. Artefak kuno, naskah terlarang, bahkan… eksperimen pada diriku sendiri.”

“Seperti Malakar.”

“Tapi lebih egois. Malakar untuk putrinya. Aku untuk diriku sendiri.”

“Kau menyesal?”

“Setiap hari.” Elias melihat tangannya, yang gemetar. “Aku menyakiti orang. Mengambil artefak mereka. Bahkan… membunuh, tidak langsung.”

Kaelan mengerti. Elias bukan monster—dia manusia yang melakukan hal mengerikan karena sakit dan takut.

“Mungkin setelah ini,” kata Kaelan, “kau bisa menebus. Seperti Malakar.”

“Jika aku bertahan.”

“Kau akan.”

Malam sebelum keberangkatan, Elara menemui Kaelan di kamarnya.

“Kau yakin tentang ini?” tanyanya.

“Tidak. Tapi harus.”

“Corruption-mu… semakin dekat dengan 15%. Device akan menyuntik penenang.”

“Kita berharap menemukan solusi sebelum itu.”

Elara memegang tangannya. “Aku takut kehilanganmu. Seperti… kehilangan dirimu ke corruption.”

“Kau tidak akan. Aku janji.”

Tapi janji itu rapuh. Corruption sudah 11%. Dan suara bisikan semakin persuasif.

“Gateway… kebebasan… kekuatan sejati…”

Kaelan mengabaikannya. Tapi sulit.

Pagi hari, mereka berangkat. Kereta ke utara, lalu kereta luncur, lalu pendakian.

Pegunungan ini berbeda dari Frozen North—lebih tandus, lebih berbahaya. Tidak ada salju, tapi batu tajam dan angin kencang.

Setelah tiga hari pendakian, mereka mencapai lokasi di peta: sebuah lembah tersembunyi. Dan di tengah lembah… struktur batu kuno.

Gateway.

Tapi tidak sendirian.

Ada penjaga. Bukan manusia—makhluk batu, seperti golem, tapi lebih canggih. Dan mereka bergerak, mengelilingi gateway.

“Ancient guardians,” bisik Elias. “Menjaga gateway tetap tertutup.”

“Bagaimana kita lewati?” tanya Thorne.

“Kita tidak melawan,” kata Kaelan. “Kita… berbicara.”

Dia melangkah maju, mengangkat tangan kosong. Guardians berhenti, melihatnya. Mata batu mereka bersinar biru.

Kaelan merasakan energy mereka—kuno, tapi tidak bermusuhan. Hanya… waspada.

Dia menggunakan kemampuan barunya: berkomunikasi melalui energy. Mengirim gambar: fragmen Ancient One, void prime, penyakit.

Guardians diam. Lalu salah satu mendekat, menyentuh dahinya. Dan informasi mengalir: gateway tidak boleh dibuka. Tapi… ada cara lain.

Sebuah pintu kecil di samping gateway terbuka. Bukan gateway utama—tapi ruang kontrol.

Mereka masuk. Di dalam, ruangan dengan panel control kuno, dan… sebuah crystal besar berisi cahaya.

Source void prime.

Tapi juga… sesuatu yang lain.

Seseorang sudah di sini.

Lady Seraphina.

Dan dia memegang sesuatu—sebuah device yang terhubung ke crystal.

“Kalian terlambat,” katanya, tersenyum dingin. “Aku sudah dapat apa yang kuinginkan.”

“Apa yang kau inginkan?” tanya Kaelan.

“Kekuatan. Void prime murni. Untuk… klien baru.”

“Klien siapa?”

“Orang yang mau bayar mahal. Untuk menjadi… seperti dewa.”

Dan device itu mulai menyala. Crystal retak.

Void prime akan dilepaskan.


[END OF CHAPTER 27]
[WORD COUNT: 1,860]
[NEXT: BAB 28 – GATEWAY]