Bab 31: Melangkah ke Kegelapan
Malam itu, langit diselimuti awan tebal, menyembunyikan bulan separuh yang seharusnya menerangi jalan. Cuaca yang buruk justru menjadi berkah bagi Lin Ming dan Xiao Lan—kegelapan yang lebih pekat memudahkan mereka menyusup keluar tanpa terdeteksi. Di dalam kamarnya, Lin Ming mengenakan pakaian perjalanan sederhana berwarna gelap, memeriksa perlengkapan untuk terakhir kalinya. Ransel berisi pil energi, ramuan, peta, dan perlengkapan bertahan hidup. Di pinggang, sebilah pedang pendek pemberian Liu Feng yang terasa ringan namun kokoh di genggamannya.
“Sudah siap?” bisik Xiao Lan yang muncul dari balik tirai kamar. Gadis itu juga mengenakan pakaian gelap, rambutnya diikat rapi ke belakang. Di wajahnya terlihat ketegangan, tetapi tekad di matanya tak tergoyahkan.
Lin Ming mengangguk. “Formasi pengawasan akan memiliki celah selama sepuluh menit saat pergantian penjaga pukul dua dini hari. Itu waktu kita.”
Mereka menunggu dalam keheningan, duduk bersila di lantai, mengatur napas dan menghemat energi. Lin Ming mencoba mengakses sistem untuk analisis terakhir, tetapi respons yang datang terputus-putus.
[Sistem: Stabilitas… fluktuatif.] [Pemindaian lingkungan: Formasi pengawasan aktif… celah terdeteksi dalam 00:12:34.] [Rekomendasi: Gunakan jalur barat daya melalui taman herbal, hindari menara pengawas utara.]
Xiao Lan merasakan gemetar halus di tangannya—bukan karena takut pada perjalanan, tetapi karena takut akan konsekuensi jika mereka gagal. Jika tertangkap, tidak hanya rencana penyembuhan yang gagal, tetapi juga kepercayaan sekte yang telah melindungi mereka mungkin hilang.
“Kakak Lin,” bisiknya, “apakah kita melakukan hal yang benar?”
Lin Ming memandangnya, di mata yang setengah kosong itu muncul kilasan kehangatan. “Aku tidak ingat banyak tentang benar atau salah. Tapi aku tahu kita tidak bisa diam saja menunggu. Jiwa yang terbelah tidak akan sembuh dengan sendirinya. Dan kau… kau tidak boleh hidup selamanya dengan bom waktu dalam dirimu.”
Xiao Lan tersentak. “Bom waktu?”
“Jantung Darah. Segel tidak abadi. Aku bisa merasakannya—bagian jiwaku yang ada di dalam segel itu… pelan-pelan terkikis. Jika habis, segel akan runtuh.”
Ini informasi baru yang mengerikan. Xiao Lan menatapnya. “Kenapa tidak bilang sebelumnya?”
“Karena aku baru menyadarinya kemarin. Saat mencoba menghubungkan dengan sistem, dapat data tentang tingkat degradasi segel.” Lin Ming berdiri, mendekati jendela. “Kita punya waktu, tapi tidak banyak. Mungkin setahun, mungkin kurang.”
Itu mempertegas urgensi perjalanan mereka. Xiao Lan mengangguk, ketegangan di wajahnya berubah menjadi tekad baja. “Kalau begitu, kita harus berhasil.”
Tepat pukul dua, mereka bergerak. Lin Ming memimpin, membuka jendela kamarnya dengan hati-hati. Di luar, hujan gerimis mulai turun, membuat batu dan tanah licin. Tapi itu juga menutupi suara langkah mereka.
Mengikuti petunjuk sistem, mereka menyusur dinding paviliun, lalu merangkak melewati taman herbal. Bau tanah basah dan aroma tanaman obat memenuhi udara. Di kejauhan, cahaya lentera penjaga bergerak perlahan, tetapi tidak mendekat ke arah mereka.
Formasi pengawasan terasa seperti jaring energi tak kasat mata yang membentang di sekeliling area. Lin Ming, dengan sisa kemampuan sistemnya, bisa “melihat” pola jaring itu—ada bagian yang melemah tepat di depan mereka, seperti lubang pada jala.
“Di sini,” bisiknya, menarik Xiao Lan. “Langkah tepat di mana aku melangkah. Jangan sentuh daun itu.”
Mereka bergerak seperti penari dalam gelap, menghindari titik-titik energi formasi. Dalam lima menit, mereka sudah melewati batas formasi, masuk ke area hutan kecil di belakang kompleks pengobatan. Di sini, pengawasan lebih longgar.
Tapi tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat. Lin Ming menarik Xiao Lan bersembunyi di balik pohon besar. Dua penjaga lewat, sedang berbincang.
“…dingin sekali malam ini. Aku dengar di Barat Laut sudah turun salju.”
“Lebih baik di sini daripada tugas patroli perbatasan. Kata elder, ada aktivitas aneh di Barat Laut akhir-akhir ini.”
“Makhluk tua bangun lagi?”
“Mungkin. Atau sisa-sisa kultus mencari tempat baru.”
Setelah penjaga lewat, Lin Ming dan Xiao Lan melanjutkan. Mereka mencapai titik temu yang disepakati—sebuah pohon oak tua dengan batang bercabang tiga. Liu Feng sudah menunggu di sana, dengan tiga kuda yang terikat di pohon.
“Tepat waktu,” kata Liu Feng dengan suara rendah. “Aku khawatir kalian ketahuan.”
“Semua lancar,” jawab Lin Ming. “Ini kudanya?”
“Ya. Yang hitam untukmu, Lin Ming—dia kuat dan cepat. Yang coklat untuk Xiao Lan—lebih kalem tapi tahan lama. Yang abu-abu untuk aku, menemani kalian sampai perbatasan.”
Xiao Lan terkejut. “Kau ikut, Senior Liu?”
“hanya sampai perbatasan wilayah Sekte Bulan Sabit. Setelah itu, kalian sendiri. Aku harus kembali agar tidak dicurigai.” Liu Feng memberikan dua kantong pada mereka. “Ini pasokan tambahan: pil anti-dingin, jimat pelindung cuaca, dan peta yang lebih detail tentang rute awal.”
Lin Ming menerimanya. “Terima kasih, Liu Feng. Ini berarti banyak.”
“Jangan berterima kasih dulu. Perjalanan ke Barat Laut berbahaya. Bahkan aku yang pernah menjelajahinya hanya berani masuk sedikit.” Liu Feng menatap mereka serius. “Dengar, setelah melewati Batu Terbelah, kalian masuk wilayah tak bertuan. Di sana, hukum sekte tidak berlaku. Yang ada hanya hukum terkuat. Dan ada makhluk-makhluk yang tidak peduli dengan kultivasi kalian.”
“Kami akan berhati-hati,” janji Xiao Lan.
Mereka menaiki kuda dan mulai bergerak pelan, menghindari jalan utama. Liu Feng memimpin, mengenal jalan setapak tersembunyi yang digunakan pemburu dan pengumpul herbal. Hujan gerimis berubah menjadi rintik-rintik yang lebih deras, membasahi mereka tetapi juga menyamarkan suara kuku kuda.
Sepanjang perjalanan malam itu, Lin Ming merasakan sesuatu yang aneh—semakin mereka bergerak ke barat laut, semakin “berisik” sistem dalam pikirannya. Bukan suara yang jelas, lebih seperti gemuruh rendah, seperti sesuatu yang memanggil dari kejauhan.
[Sistem: Mendeteksi resonansi dengan fragmentasi jiwa…] [Arah: Barat Laut 15 derajat. Jarak: Tidak dapat ditentukan, diluar jangkauan sensor normal.] [Peringatan: Ada interferensi energi spasial di daerah tujuan.]
“System mendeteksi sesuatu,” bisik Lin Ming pada Xiao Lan yang berkuda di sampingnya. “Sepertinya kita di jalur yang benar.”
Xiao Lan mengangguk, tangan menekan dadanya. “Aku juga merasakan… getaran dari segel. Lemah, tapi berbeda dari biasanya.”
Mereka berkuda sepanjang sisa malam, hanya berhenti sebentar untuk minum dan memberi kuda istirahat. Saat fajar menyingsung, mereka sudah jauh dari Sekte Bulan Sabit, memasuki wilayah perbukitan yang jarang dihuni.
Liu Feng menghentikan kudanya di puncak bukit kecil. Di depan, terbentang lembah luas dengan sungai berkelok, dan di kejauhan, pegunungan tinggi dengan puncak bersalju.
“Di sana,” kata Liu Feng menunjuk ke pegunungan. “Itu Pegunungan Naga Tidur. Batas wilayah aman. Setelah melewati lembah itu, kalian masuk wilayah tak bertuan. Batu Terbelah ada di ujung lembah—dua batu raksasa yang terlihat seperti terbelah oleh pedang raksasa. Itu penanda.”
Lin Ming memandang ke arah yang ditunjuk. Pegunungan itu tampak megah tetapi juga mengancam, dengan awan gelap mengelilingi puncaknya. “Berapa lama sampai ke Batu Terbelah?”
“dengan kecepatan ini, mungkin sampai sore. Tapi hati-hati di lembah—ada suku pengembara kadang berkemah di sana. Mereka tidak terlalu ramah pada orang luar.”
Mereka turun dari bukit, memasuki lembah. Vegetasi berubah—pohon menjadi lebih jarang, digantikan semak-semak berduri dan rerumputan tinggi. Udara terasa lebih dingin, meski matahari sudah terbit.
Sepanjang pagi, mereka tidak bertemu siapa pun. Hanya beberapa binatang kecil yang lari saat mereka lewat. Namun, sekitar tengah hari, Lin Ming tiba-tiba mengangkat tangan tanda berhenti.
“Ada sesuatu,” bisiknya, mata tertuju ke arah semak-semak di sebelah kiri.
Liu Feng mengeluarkan pedangnya. Xiao Lan juga bersiap, tangannya memegang kantong ramuan yang bisa dilempar sebagai pengalih.
Dari semak-semak, muncul sekelompok orang—sekitar delapan orang, berpakaian kulit dan bulu binatang, dengan wajah dicat pola garis-garis putih. Mereka membawa tombak dan busur, mengelilingi ketiga penunggang kuda dengan gerakan terlatih.
“Suku Pengembara,” bisik Liu Feng. “Jangan buat gerakan tiba-tiba. Biarkan aku yang bicara.”
Pemimpin suku, pria berjanggut dengan mata tajam, melangkah maju. “Orang sekte. Apa yang kalian cari di tanah kami?”
Liu Feng mengangguk hormat. “Kami hanya lewat, Tua Besar. Menuju ke Barat Laut untuk urusan pribadi.”
“Barat Laut?” si pemimpin menatap mereka curiga. “Hanya orang bodoh atau orang putus asa yang pergi ke sana. Atau… orang yang mencari sesuatu yang seharusnya tidak dicari.”
Lin Ming merasakan getaran dari sistem. Orang ini tahu sesuatu.
“Kami mencari tempat penyembuhan,” kata Lin Ming tiba-tiba, membuat Liu Feng terkejut. “Tempat di mana bumi dan langit bertemu.”
Mata pemimpin suku menyempit. “Jurang Waktu. Kau mencari mimpi orang gila.”
“Jadi kau tahu tentang itu?” tanya Xiao Lan.
“Setiap anak suku kami tahu legenda itu. Tapi hanya Para Tua yang tahu lokasi pastinya.” Pemimpin itu memandang mereka satu per satu. “Dan tidak ada orang luar yang diizinkan mengetahui rahasia itu.”
Liu Feng mencoba bernegosiasi. “Kami bisa membayar. Pil energi, ramuan, senjata…”
“Kami tidak butuh barang sekte.” Namun, pemimpin itu tiba-tiba menunjuk Xiao Lan. “Tapi dia… dia membawa sesuatu. Sesuatu tua. Berdenyup seperti jantung, tapi bukan jantung.”
Xiao Lan kaku. Jantung Darah? Apakah dia bisa merasakannya?
“Kau salah,” kata Lin Ming, melangkah maju melindungi Xiao Lan. “Dia tidak membawa apa-apa.”
“Jangan berbohong. Darahnya… berbeda. Dan ada bayangan di dadanya.” Pemimpin itu mengangkat tombaknya. “Keluarkan apa yang kau bawa, atau kami akan mengambilnya.”
Situasi memanas. Lin Ming menghitung cepat: delapan petarung, kemungkinan tingkat E hingga E+. Mereka bertiga bisa menang, tapi pertempuran akan menarik perhatian dan menghabiskan energi.
Tapi sebelum terjadi pertempuran, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Dari arah Barat Laut, angin tiba-tiba bertiup kencang, membawa serta suara gemuruh rendah. Dan di langit, awan membentuk pola spiral aneh.
Para suku pengembara melihat ke atas, wajah mereka berubah pucat. “Tanda… Tanda itu kembali!”
Pemimpin suku menatap Lin Ming dan Xiao Lan dengan ekspresi campuran takut dan heran. “Kalian… membawanya kembali. Atau… kalian dipanggil olehnya.”
“Dipanggil oleh siapa?” tanya Lin Ming.
“Yang Tertidur di Jurang Waktu.” Pemimpin itu memberi isyarat pada anak buahnya untuk menurunkan senjata. “Pergilah. Tapi ketahuilah: apa yang kau cari mungkin juga mencarimu. Dan pertemuan itu tidak selalu membawa kebahagiaan.”
Dengan itu, suku pengembara mundur, menghilang kembali ke semak-semak secepat mereka muncul.
Liu Feng menghela napas lega. “Itu hampir saja berakhir buruk. Tapi apa maksudnya ‘Yang Tertidur di Jurang Waktu’?”
Lin Ming melihat ke arah spiral awan yang perlahan menghilang. “Mungkin kita akan segera mengetahuinya.”
Mereka melanjutkan perjalanan dengan lebih waspada. Insiden dengan suku pengembara menjadi pengingat bahwa perjalanan ini tidak akan mudah. Namun, kata-kata terakhir pemimpin suku itu menguatkan keyakinan mereka—Jurang Waktu memang ada, dan sesuatu di sana “tertidur”.
Sore hari, mereka mencapai ujung lembah. Di sana, seperti yang dikatakan Liu Feng, dua batu raksasa berdiri seperti gerbang raksasa, dengan celah di tengahnya yang seolah terbelah oleh sesuatu yang sangat besar. Batu Terbelah.
“Ini batasnya,” kata Liu Feng. “Aku tidak bisa ikut lebih jauh. Peraturan sekte melarang anggota masuk wilayah tak bertuan tanpa izin khusus.”
Lin Ming turun dari kuda, berjalan mendekati Liu Feng. “Terima kasih untuk semuanya. Kau mengambil risiko besar untuk kami.”
“Jangan khawatir tentang aku. Fokuslah pada tujuan kalian.” Liu Feng memberikan Lin Ming sebuah peluit kecil dari tulang. “Jika kalian dalam bahaya besar dan dekat perbatasan, tiup ini. Aku akan berusaha membantu.”
Xiao Lan juga turun, memeluk Liu Feng singkat. “Jaga dirimu, Senior Liu.”
“Kalian juga. Dan… kembalilah dengan selamat. Banyak orang yang peduli pada kalian.”
Setelah perpisahan singkat, Liu Feng berbalik, menaiki kudanya dan mulai kembali ke arah mereka datang. Lin Ming dan Xiao Lan menatapnya hingga hilang dari pandangan, lalu mereka berbalik menghadapi celah antara dua batu raksasa itu.
Di depan, terbentang dataran berbatu yang naik perlahan menuju pegunungan. Udara terasa lebih tipis, lebih dingin. Dan ada keheningan yang tidak wajar—tidak ada suara burung, tidak ada suara serangga, hanya desau angin yang menyapu batu.
“Kakak Lin,” bisik Xiao Lan, “apakah kau merasakannya juga? Seperti… dunia di sini berbeda.”
Lin Ming mengangguk. “Energinya berbeda. Lebih kuno. Lebih liar.” System dalam pikirannya memberikan konfirmasi.
[Analisis lingkungan: Tingkat energi alam 300% lebih tinggi dari wilayah biasa.] [Komposisi energi: Tidak stabil, mengandung elemen ruang-waktu yang abnormal.] [Peringatan: Hukum alam di wilayah ini mungkin berbeda. Efek pada kemampuan host tidak dapat diprediksi.]
Mereka menuntun kuda melewati celah batu. Saat melangkah ke sisi lain, sensasi aneh menyergap—seperti melewati tirai air yang tidak terlihat, dengan sedikit tekanan di telinga. Dan pemandangan yang terlihat agak berbeda—warna lebih tajam, kontras lebih kuat.
“Ini dia,” gumam Lin Ming. “Wilayah tak bertuan.”
Mereka mulai mendaki dataran berbatu. Kaki kuda terkadang terpeleset di batu licin, membuat perjalanan lambat. Namun, mereka tidak punya pilihan selain terus maju. Petunjuk dari sistem masih mengarah ke barat laut, semakin kuat.
Saat matahari mulai terbenam, mereka menemukan gua kecil di sisi bukit untuk bermalam. Lin Ming membuat perapian sederhana sementara Xiao Lan menyiapkan makanan. Malam di wilayah tak bertuan ternyata sangat dingin—lebih dingin dari yang mereka perkirakan. Mereka harus menggunakan jimat pelindung cuaca dari Liu Feng.
“Dari peta, besok kita akan mencapai kaki Pegunungan Naga Tidur,” kata Lin Ming sambil memeriksa peta dengan cahaya api. “Tapi tidak ada rincian setelah itu.”
“Kita ikuti saja petunjuk dari sistem dan… dari segelku,” usul Xiao Lan. “Mereka seperti kompas.”
Malam itu, saat Xiao Lan tertidur kelelahan, Lin Ming berjaga. Dia duduk di mulut gua, memandang bintang-bintang yang terlihat lebih dekat dan lebih terang di sini. Pikirannya berkeliaran—tentang ingatan yang hilang, tentang siapa dirinya sebenarnya, tentang apa yang menanti di ujung perjalanan ini.
Tiba-tiba, system memberikan pesan yang lebih jelas dari biasanya.
[Fragmentasi jiwa terdeteksi: Resonansi meningkat 15%.] [Lokasi perkiraan: 5-7 hari perjalanan ke Barat Laut, di dalam pegunungan.] [Informasi tambahan: Terdeteksi tanda-tanda struktur buatan. Kemungkinan reruntuhan peradaban kuno.]
Reruntuhan peradaban kuno? Mungkin terkait dengan “Yang Tertidur” yang disebut suku pengembara. Lin Ming mencatat informasi ini, lalu kembali mengamati kegelapan di luar.
Di kejauhan, di arah pegunungan, dia melihat cahaya aneh—seperti kilatan hijau kebiruan yang muncul sesaat lalu hilang. Bukan kilat, bukan juga cahaya api. Sesuatu yang lain.
Perjalanan mereka baru saja dimulai, tetapi Lin Ming mulai memahami bahwa apa yang mereka cari bukan sekadar tempat penyembuhan jiwa. Ada rahasia yang lebih besar menanti di Barat Laut, di Jurang Waktu. Dan entah mengapa, dia merasa bahwa rahasia itu terkait tidak hanya dengan dirinya dan Xiao Lan, tetapi dengan sesuatu yang jauh lebih besar—sesuatu yang mungkin mengubah pemahaman mereka tentang dunia, kultivasi, dan bahkan realitas itu sendiri.
Dia menarik napas dalam, udara dingin menusuk paru-paru. Besok, perjalanan berlanjut. Dan apa pun yang menanti, mereka akan menghadapinya bersama.