Bab 32: Jejak Peradaban yang Hilang
Fajar di wilayah tak bertuan membawa cahaya keemasan yang memancar dari puncak Pegunungan Naga Tidur, seolah-olah gunung-gunung itu sendiri terbuat dari emas cair. Lin Ming dan Xiao Lan bangun dari tidur singkat mereka, tubuh terasa kaku karena dingin malam yang menusuk tulang meski mereka telah menggunakan jimat pelindung. Api unggun kecil mereka sudah padam, meninggalkan abu yang langsung diterbangkan angin pagi yang dingin.
“Kudaku terlihat gelisah semalam,” kata Xiao Lan sambil memberinya sisa rumput kering yang mereka bawa. “Sepertinya dia merasakan sesuatu.”
Lin Ming mengangguk, matanya memindai sekeliling. “Wilayah ini tidak seperti tempat lain. Bahkan energinya terasa… waspada.” Dia mencoba mengakses sistem, tetapi responsnya lambat dan terdistorsi.
[Sistem: Lingkungan mengganggu koneksi… mencoba adaptasi…] [Pemindaian terbatas: Terdeteksi jejak energi kuno di arah 320 derajat, jarak perkiraan 3 kilometer.] [Peringatan: Ada makhluk hidup tingkat ancaman tidak dikenal dalam radius 1 kilometer.]
Mereka segera berkemas dan melanjutkan perjalanan. Kaki Pegunungan Naga Tidur lebih curam dari yang terlihat dari kejauhan. Batu-batu besar berserakan, seolah-olah dilemparkan oleh raksasa dalam pertempuran kuno. Vegetasi nyaris tidak ada, hanya lumut kerak berwarna abu-abu kehijauan yang menempel di batu.
Perjalanan pagi itu sulit. Angin kencang bertiup turun dari puncak, membawa butiran es kecil yang mencakar kulit. Mereka harus membungkus wajah dengan kain dan berjalan dengan badan membungkuk. Kuda-kuda mereka melangkah dengan hati-hati, terkadang berhenti dan mendengus gelisah.
“Lihat!” tiba-tiba Xiao Lan menunjuk ke sebuah formasi batu aneh di lereng di atas mereka. “Itu seperti… tangga.”
Lin Ming mengikuti arah tunjukannya. Memang, ada serangkaian batu datar yang tersusun beraturan menuju sebuah celah di tebing. Bukan tangga alami—terlalu rapi, dengan potongan yang sengaja dibentuk.
“Mungkin jejak peradaban kuno yang sistem deteksi,” gumam Lin Ming. “Ayo kita periksa.”
Mereka mendaki menuju formasi batu itu. Saat mendekat, detailnya semakin jelas: tangga batu lebar sekitar dua meter, dengan anak tangga yang sudah aus dimakan waktu tetapi masih bisa dikenali. Di sisi kiri dan kanan, ada tiang-tiang batu pendek yang mungkin dulu memegang pagar atau obor.
“Berapa lama ini di sini?” bisik Xiao Lan, menyentuh salah satu tiang. Batu itu terasa hangat aneh, berbeda dengan batu sekitarnya yang dingin.
“Ribuan tahun, mungkin lebih,” jawab Lin Ming. “Tapi yang aneh, tidak ada lumut atau erosi parah. Sepertinya ada energi yang melindunginya.”
Mereka mulai menaiki tangga. Setiap anak tangga memberi sensasi getaran halus di kaki, seperti energi kuno yang masih tersimpan di dalam batu. Setelah sekitar seratus anak tangga, mereka mencapai celah tebing. Di sana, terpahat di dinding batu, ada relief yang menggambarkan sosok manusia dengan sayap, mengangkat tangan ke langit yang dipenuhi simbol matahari, bulan, dan bintang.
“Manusia bersayap?” Xiao Lan mengerutkan kening. “Aku tidak pernah melihat gambar seperti ini dalam catatan mana pun.”
“Peradaban yang mungkin sudah hilang sebelum sekte-sekte kita berdiri,” kata Lin Ming. Dia mengamati relief lebih dekat. “Lihat pola di sekitar sosok ini—mirip dengan simbol di altar Kultus Iblis Darah, tapi lebih kompleks dan… tidak jahat.”
Memang, ada kemiripan: lingkaran konsentris, garis-garis yang menyebar seperti sinar. Tapi di sini digambarkan dengan harmoni, bukan dengan tetes darah atau simbol kematian.
Dari dalam celah, angin bertiup membawa suara gemuruh rendah. Xiao Lan tiba-tiba memegangi dadanya. “Segel… bereaksi. Seperti ada yang memanggil dari dalam.”
“Kita harus masuk,” putus Lin Ming. Tapi pertama, dia mengikat kuda-kuda mereka di sebuah ceruk terlindung di dekat tangga. “Kalian tunggu di sini. Jika kami tidak kembali dalam dua hari… kalian lepaskan saja, biar kembali ke alam.”
Mereka memasuki celah dengan hati-hati. Awalnya sempit, hanya cukup untuk satu orang berjalan menyamping. Tapi setelah sekitar dua puluh meter, lorong melebar menjadi terowongan tinggi dengan dinding halus yang jelas dipahat dengan alat.
“Penerangannya dari mana?” tanya Xiao Lan. Memang, terowongan itu tidak gelap total. Dari dinding dan langit-langit, batu-batu tertentu memancarkan cahaya keperakan lembut, seperti kunang-kunang yang terjebak dalam batu.
“Batu bulan,” identifikasi Lin Ming. “Catatan kuno menyebutkan batu yang menyerap energi bulan dan memancarkannya selamanya. Tapi dianggap sudah punah.”
Mereka berjalan lebih dalam. Terowongan menurun perlahan, berkelok-kelok. Suhu justru semakin hangat, bertolak belakang dengan dinginnya di luar. Dan suara gemuruh semakin jelas—bukan suara air, tapi seperti… napas?
Setelah berjalan mungkin setengah jam, terowongan terbuka ke sebuah ruang besar yang membuat mereka terpana.
Ruang itu seperti katedral alam bawah tanah, dengan langit-langit setinggi mungkin lima puluh meter yang dipenuhi kristal bercahaya berbagai warna. Di tengah ruangan, ada kolam air jernih yang memancarkan cahaya biru lembut. Tapi yang paling menakjubkan adalah struktur di sekelilingnya—bangunan batu yang runtuh sebagian, dengan pilar-pilar raksasa dan sisa-sisa patung besar.
“Ini… kota bawah tanah?” gumam Xiao Lan tak percaya.
“Lebih seperti kuil atau tempat ritual,” koreksi Lin Ming sambil mendekati salah satu patung yang masih utuh separuhnya. Patung itu menggambarkan sosok yang sama seperti di relief luar—manusia bersayap, tapi dengan detail lebih banyak: pakaian jubah rumit, mahkota dengan simbol matahari, dan di tangannya memegang sebuah bola dengan pola spiral.
“System, analisis,” perintah Lin Ming.
[Sistem: Adaptasi dengan lingkungan meningkat… analisis dimungkinkan.] [Struktur: Perkiraan usia 12.000-15.000 tahun. Teknik konstruksi: Tidak dikenal, melampaui teknologi periode kultivasi diketahui.] [Energi terdeteksi: Sumber energi murni tingkat tinggi di kolam tengah. Juga terdeteksi… pola kesadaran tertidur.]
“Pola kesadaran tertidur?” ulang Lin Ming keras-keras.
“maksudmu ada yang tidur di sini?” tanya Xiao Lan dengan suara bergetar.
Sebelum Lin Ming menjawab, suara muncul—bukan dari mana pun, tapi seperti langsung di dalam kepala mereka. Suara perempuan, lembut namun penuh wibawa, berbahasa kuno tapi anehnya mereka mengerti.
“Pewaris Darah dan Pemegang Warisan… akhirnya kalian datang.”
Lin Ming dan Xiao Lan saling pandang, lalu melihat sekeliling. “Siapa di sana?” tanya Lin Ming.
“aku adalah Penjaga. Penjaga Gerbang Waktu. Tidur panjangku terganggu oleh getaran Darah Abadi dan Warisan Penjaga Bumi.” Suara itu seolah datang dari seluruh ruangan. “Mendekatlah ke Kolam Penglihatan.”
Dengan hati-hati, mereka mendekati kolam air bercahaya. Saat mereka sampai di tepi, air di kolam mulai berputar, membentuk pusaran. Dan di tengah pusaran, gambar muncul: sebuah lembah yang dikelilingi puncak gunung, dengan cahaya aneh berkelap-kelip di tengahnya.
“Jurang Waktu,” bisik Xiao Lan.
“Benar,” sahut suara itu. “Tempat di mana Bumi dan Langit bertemu, di mana Waktu mengalir seperti sungai dengan banyak aliran. Tapi peringatanku: yang mencari Jurang Waktu seringkali menemukan lebih dari yang mereka harapkan.”
“Kami mencari penyembuhan,” kata Lin Ming. “Jiwaku terbelah, dan sebagian terperangkap dalam segel di tubuhnya.” Dia menunjuk Xiao Lan.
“aku merasakannya. Darah Abadi yang dikurung, dan Jiwa Penjaga yang terpecah.” Suara itu terdengar berempati. “Tapi penyembuhan tidak gratis. Segala sesuatu ada harganya.”
“Kami siap membayar harga,” kata Xiao Lan tegas.
“Belum tentu. Harga mungkin lebih dari yang kalian sangka.” Dari kolam, gambar berubah: kini menunjukkan dua jalan—satu terang dan mudah, satu gelap dan berliku. “Dua pilihan. Jalan Terang: aku bisa menyembuhkan jiwa yang terbelah di sini, sekarang. Tapi Darah Abadi harus tetap tersegel selamanya, dan kalian akan kehilangan ingatan tentang satu sama lain.”
“Tidak!” protes Xiao Lan dan Lin Ming hampir bersamaan.
“Jalan Gelap: pergi ke Jurang Waktu, hadapi ujiannya, dan mungkin kalian bisa menyembuhkan segalanya—jiwa, segel, bahkan menguasai Darah Abadi. Tapi risikonya besar. Banyak yang mencoba, sedikit yang berhasil. Dan yang gagal… hilang selamanya.”
Lin Ming menatap dua gambar itu. Jalan Terang tampak mudah: penyembuhan instan, meski dengan harga mengerikan—melupakan Xiao Lan? Itu bukan pilihan. Tapi Jalan Gelap… penuh ketidakpastian.
“Ada yang ketiga?” tanya Lin Ming.
“Kecerdasanmu masih ada, Penjaga Bumi,” kata suara itu seolah tersenyum. “Ya, ada. Jalan Tengah: aku beri kalian peta dan petunjuk ke Jurang Waktu, plus bekal pengetahuan. Tapi tidak ada jaminan. Dan kalian harus memberiku sesuatu sebagai jaminan.”
“Jaminan apa?”
“Sebuah kenangan. Kenangan paling berharga masing-masing. Jika kalian gagal, kenangan itu hilang selamanya. Jika berhasil, kenangan dikembalikan.”
Xiao Lan melihat Lin Ming. “Kenangan paling berharga… itu berat.”
“Tapi lebih baik daripada melupakan satu sama lain selamanya,” balas Lin Ming. Dia menatap kolam. “Kami pilih Jalan Tengah. Ambil kenangan kami sebagai jaminan.”
“Bijaksana.” Dari kolam, dua cahaya keemasan keluar, menyentuh dahi Lin Ming dan Xiao Lan. Mereka merasakan sensasi hangat, lalu suatu kenangan tersedot—Lin Ming teringat saat pertama kali menyadari punya sistem, Xiao Lan teringat saat Lin Ming menyelamatkannya dari pembully tahun-tahun lalu.
Setelah proses selesai, mereka masih ingat kenangan itu, tapi terasa jauh, seperti milik orang lain.
“Sekarang, hadiah untuk kalian.” Dari dasar kolam, dua benda naik: sebuah peta kulit yang tampak tua namun utuh, dan sebuah kristal biru berbentuk tetesan air mata.
“Peta ini akan menuntun kalian ke Jurang Waktu. Kristal ini adalah Kunci Waktu—akan bereaksi saat dekat dengan tujuan. Tapi peringatan: perjalanan akan semakin berbahaya. Dan… ada yang lain yang mencari Jurang Waktu.”
“Siapa?” tanya Xiao Lan.
“Yang Merasa Berhak atas Darah Abadi.” Suara itu semakin lemah, seolah energi habis. “Cepatlah. Dan ingat: di Jurang Waktu, kenyataan tidak seperti di luar. Hukum alam berbeda. Bahkan mungkin kalian melihat versi berbeda dari diri sendiri.”
Dengan pesan terakhir itu, suara menghilang. Cahaya kolam meredup. Ruangan kembali sunyi.
Lin Ming mengambil peta dan kristal. Peta terbuat dari kulit yang tidak dikenal, dengan gambar pegunungan dan lembah, serta simbol-simbol aneh. Tapi anehnya, saat dia melihatnya, dia langsung memahami maksudnya—seperti peta itu berbicara langsung ke pikirannya.
“Kita harus pergi,” kata Lin Ming. “Suara itu bilang ada yang lain mencari Jurang Waktu. Mungkin sisa Kultus Iblis, atau… sesuatu yang lain.”
Mereka meninggalkan ruangan bawah tanah dengan hati-hati. Saat keluar dari terowongan, mereka terkejut melihat cahaya matahari sudah condong—sepertinya mereka di dalam lebih lama dari yang disadari.
“Tapi ini masih siang,” kata Xiao Lan bingung. “Kita masuk sekitar pagi, seharusnya tidak sampai sore.”
“Waktu di dalam mungkin berbeda,” tebak Lin Ming. “Penjaga itu bicara tentang Gerbang Waktu. Mungkin tempat itu memengaruhi aliran waktu.”
Mereka kembali ke tempat kuda ditambatkan. Hewan-hewan itu gelisah, tapi senang melihat mereka kembali. Lin Ming segera memeriksa peta.
“Menurut peta, Jurang Waktu ada di lembah tertutup di balik puncak tertinggi Pegunungan Naga Tidur.” Dia menunjuk ke arah puncak yang tertutup awan. “Tapi rutenya tidak langsung. Kita harus melalui Lembah Bayangan dulu.”
“Lembah Bayangan? Namanya tidak meyakinkan.”
“Tidak ada bagian dari perjalanan ini yang meyakinkan,” sahut Lin Ming sambil memasang pelana kuda. “Tapi kita sudah memilih jalan. Sekarang kita harus menempuhnya.”
Mereka mulai mendaki lagi, kali ini dengan arah lebih jelas. Peta menunjukkan jalur khusus yang menghindari daerah berbahaya—tanda “gambar makhluk bertaring” di beberapa tempat, dan “awan abadi” di tempat lain.
Sore itu, mereka mencapai ketinggian di mana udara sangat tipis. Pernapasan jadi berat, dan kuda-kuda mulai kelelahan. Mereka memutuskan beristirahat di ceruk batu yang terlindung.
Saat duduk makan ransum, Xiao Lan tiba-tiba berkata, “Kakak Lin, kenangan apa yang kau berikan?”
Lin Ming berpikir sejenak. “Kenangan saat aku pertama kali menyadari ada sistem dalam diriku. Saat itu aku hampir mati di jurang, dan tiba-tiba ada suara. Kenangan itu… penting, karena itu awal perjalananku menjadi lebih kuat.” Dia berhenti. “Dan kau?”
“Kenangan saat kau pertama kali menyelamatkaku. Zhang Hu dan yang lain mengerjaiku, dan kau, meski waktu itu lemah, berdiri di depanku.” Xiao Lan tersenyum kecil. “Itu saat aku tahu kau berbeda. Bahkan sebagai pelayan yang dianggap tidak berguna, kau punya keberanian lebih dari murid inti sekalipun.”
Lin Ming memandangnya, dan untuk sesaat, ada kilasan di matanya—seperti ingatan itu mencoba kembali. Tapi kemudian hilang. “Kita akan mengambil kenangan kita kembali,” katanya dengan keyakinan. “Setelah kita berhasil.”
Malam kedua di pegunungan lebih dingin dari sebelumnya. Mereka harus bergantian berjaga, karena suara-suara aneh terdengar di kegelapan—bukan serigala atau hewan biasa, tapi sesuatu yang melengking tinggi, seperti pisau menggesek kaca.
Lin Ming yang berjaga tengah malam melihat cahaya hijau kebiruan lagi, kali ini lebih dekat. Dan sistem memberikan peringatan.
[Peringatan: Makhluk tingkat ancaman D terdeteksi. Tipe: Tidak dikenal. Kemungkinan penjaga alam wilayah ini.] [Rekomendasi: Hindari konfrontasi. Energi host tidak stabil untuk pertempuran tingkat D.]
Lin Ming membangunkan Xiao Lan dengan pelan. “Ada sesuatu di luar. Kita harus diam.”
Mereka mematikan sumber cahaya dan bersembunyi di bagian terdalam ceruk. Dari celah batu, mereka melihat sosok aneh melintas: tinggi sekitar tiga meter, tubuh seperti terbuat dari batu dan es, dengan mata bercahaya biru. Makhluk itu berjalan lambat, memindai sekeliling, lalu melanjutkan perjalanan menuju puncak.
“Penjaga pegunungan,” bisik Xiao Lan. “Legenda mengatakan setiap gunung suci punya penjaga.”
“Kita harus lebih berhati-hati. System bilang itu tingkat D—setara Foundation Establishment. Dalam kondisi sekarang, kita tidak bisa melawan.”
Setelah makhluk itu hilang, mereka tidak bisa tidur lagi. Mereka memutuskan untuk mulai berjalan saat bulan masih tinggi, menggunakan cahayanya untuk melihat jalan.
Perjalanan malam di pegunungan berbahaya, tetapi juga lebih sunyi—makhluk-makhluk aktif siang mungkin tidur. Mereka mengikuti peta dengan cermat, menghindari area bertanda bahaya.
Saat fajar menyingsing, mereka mencapai puncak sebuah bukit yang melihat ke lembah di sebelahnya. Dan apa yang mereka lihat membuat napas mereka tersangkut.
Di bawah, terbentang lembah yang persis seperti gambar di kolam—dikelilingi puncak gunung, dengan cahaya aneh berkelap-kelip di tengahnya. Tapi ada sesuatu yang tidak terduga: di tepi lembah, ada perkemahan. Dan bendera yang berkibar—simbol yang mereka kenal.
“Kultus Iblis Darah,” desis Lin Ming. “Tapi bagaimana? Mereka seharusnya hancur.”
“Kecuali… ada cabang lain. Atau sisa-sisa yang melarikan ke sini.” Xiao Lan wajahnya pucat. “Dan mereka pasti juga mencari Jurang Waktu. Mungkin untuk membangkitkan Dewa Darah sepenuhnya.”
Lin Ming mengamati perkemahan. Ada sekitar dua puluh tenda, dan pergerakan terlihat. “Mereka mungkin sudah di sini beberapa hari. Tapi sepertinya belum berhasil masuk—cahaya di tengah lembah masih berkelap-kelip, tidak stabil.”
“Bagaimana kita melewati mereka?”
“Kita tunggu malam. Dan kita cari jalur alternatif.” Lin Ming memeriksa peta lagi. “Di sini… ada terowongan bawah tanah yang mengarah langsung ke tengah lembah. Pintu masuknya di tebing sebelah kanan.”
Itu berita baik. Tapi berita buruknya: untuk mencapai pintu masuk terowongan, mereka harus menyusuri tebing yang mungkin terlihat dari perkemahan.
“Malam ini,” putus Lin Ming. “Kita tinggalkan kuda di sini, mereka tidak bisa melalui terowongan sempit. Kita lanjutkan dengan berjalan.”
Hari itu mereka bersembunyi dan beristirahat. Lin Ming mencoba memulihkan energi sebaik mungkin, sementara Xiao Lan memeriksa segelnya—semakin dekat dengan Jurang Waktu, semakin aktif segel itu berdenyup, seperti jantung yang berdebar-debar.
Dalam diam, mereka mempersiapkan diri untuk tahap terakhir perjalanan. Jurang Waktu sudah di depan mata, tapi rintangan terbesar mungkin bukan alam atau makhluk, melainkan manusia—atau apa yang tersisa dari mereka—yang sama-sama menginginkan apa yang ada di dalamnya.
Dan di kedalaman jiwa Lin Ming, sesuatu mulai bergerak. Warisan Dewa Bela Diri, yang sempat redup karena kerusakan jiwa, mulai berdenyup lagi, merespons kedekatan dengan tempat di mana bumi dan langit bertemu. Mungkin di sanalah jawaban tidak hanya untuk penyembuhan, tetapi juga untuk takdir sebenarnya dari seorang Penjaga Bumi.