Bab 14: Kembali ke Dunia Atas
Angin di puncak jurang terasa berbeda—bebas, segar, dan penuh dengan energi langit yang tidak tersaring oleh dinding-dinding batu dalam. Lin Ming berdiri di tepi, memandang ke bawah ke dalam jurang yang telah menjadi rumah sekaligus penjara selama tiga bulan terakhir. Dari ketinggian ini, dasar jurang hanya tampak sebagai kegelapan samar yang ditutupi kabut abadi. Sulit dipercaya bahwa ia bertahan di sana, apalagi keluar dengan kekuatan baru.
“Pemandangan yang mengesankan, bukan?” kata Liu Feng di sampingnya, ikut memandang ke dalam jurang. “Bahkan murid inti sekte kami jarang yang berani turun begitu dalam.”
“Kau beruntung bisa keluar,” tambah Mei Ling yang sedang mengemas peralatan terakhir. “Banyak yang terjatuh ke jurang itu dan tidak pernah kembali.”
Lin Ming mengangguk pelan. Ia tidak bisa memberi tahu mereka betapa dalam transformasinya selama di bawah. Dari pemuda akar patah yang putus asa menjadi praktisi Lapis 2 dengan warisan kuno. Perjalanan itu telah mengubahnya secara fundamental.
Kelompok Sekte Bulan Sabit akhirnya bergerak meninggalkan tepi jurang. Mereka memasuki hutan lebat di kaki pegunungan, mengikuti jalur setapak yang jelas sering digunakan. Udara di sini lebih hangat, dan suara kehidupan—burung, serangga, binatang kecil—terdengar di mana-mana, kontras dengan kesunyian mencekam di dasar jurang.
Sepanjang perjalanan, Lin Ming mengamati sekeliling dengan penuh kewaspadaan. Bukan karena takut pada makhluk hutan—setelah menghadapi Scaled Crawler dan Elang Tebing Besi, hewan hutan biasa tidak mengancam—tapi karena ini adalah pertama kalinya dalam tiga bulan ia berada di antara manusia dan peradaban. Inderanya yang telah terasam di jurang kini menangkap detail-detail kecil: jejak kaki manusia baru-baru ini, sisa-sisa api unggun, bahkan bekas pertempuran kecil di antara pepohonan.
“Kelihatannya ada banyak aktivitas di sini,” komentar Lin Ming sambil menunjuk ke jejak sepatu boot yang berjumlah banyak di tanah.
Liu Feng mengerutkan kening. “Iya. Beberapa minggu terakhir, ketegangan meningkat. Beberapa sekte kecil di wilayah ini diserang di malam hari. Tidak jelas siapa pelakunya—mungkin bandit, mungkin sekte saingan, atau…” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi Lin Ming bisa menebak: atau Kultus Iblis.
Mereka berjalan selama dua hari. Di hari pertama, mereka melewati sebuah desa kecil di pinggir hutan. Penduduk desa mengenal seragam Sekte Bulan Sabit dan menyambut mereka dengan ramah. Di sini, Lin Ming mendengar percakapan tentang “orang asing berkulit pucat” yang terlihat di hutan, dan tentang hewan ternak yang mati dengan darah terkuras habis. Bisikan tentang praktik sesat mulai beredar.
Di malam hari, saat mereka berkemah, Lin Ming duduk bersama kelompok itu di sekitar api. Tao, si pemanah kurus, sedang mengasah mata panahnya. “Kudengar Sekte Pedang Awan juga mengalami masalah,” katanya tanpa menatap siapa pun. “Beberapa murid luarnya ditemukan tewas di hutan belakang sekte. Tubuhnya… kering.”
Lin Ming menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan. “Apa penyebabnya?”
“Tidak ada yang tahu pasti. Beberapa menuduh sekte saingan, beberapa bilang binatang buas, tapi yang aneh…” Tao akhirnya menatap Lin Ming. “Tidak ada bekas gigitan atau luka pertempuran. Hanya… kering seperti buah yang kehilangan semua air.”
Mei Ling menggigil. “Itu mengerikan. Semoga bukan tanda kembalinya Kultus Iblis Darah. Legenda mengatakan mereka bisa menguras energi dan darah manusia untuk kultivasi jahat.”
Liu Feng menghela napas. “Dunia semakin tidak aman. Itu sebabnya sesepuh sekte kita ingin memperkuat pertahanan dan stok pil. Bunga Bulan Jurang yang kita dapatkan akan jadi bahan utama untuk Pil Perlindungan Jiwa.”
Percakapan berlanjut hingga larut. Lin Ming banyak mendengar tetapi sedikit berbicara. Informasi tentang Sekte Pedang Awan membuatnya berpikir. Jika murid luar tewas dengan cara seperti itu, mungkin ada sesuatu yang lebih jahat terjadi daripada sekadar konflik internal. Dan jika Kultus Iblis benar-benar bangkit, seperti yang disebutkan dalam dokumen konteks, maka bahaya besar akan segera datang.
Hari ketiga, mereka akhirnya tiba di Sekte Bulan Sabit. Letaknya di lembah antara tiga gunung kecil, dengan bangunan-bangunan kayu dan batu yang harmonis dengan alam. Tidak seperti Sekte Pedang Awan yang megah dan mengintimidasi, Sekte Bulan Sabit lebih sederhana, dengan taman herbal di mana-mana dan kolam air jernih yang memantulkan langit.
Pintu gerbangnya dihiasi ukiran bulan sabit, dan dua penjaga memberi hormat ketika Liu Feng dan kelompoknya mendekat. “Senior Liu kembali! Dan berhasil!” seru salah satu penjaga.
“Bawa dua bunga. Laporkan pada sesepuh bahwa kita juga membawa tamu—penyintas jurang yang membantu kita.”
Lin Ming dibawa melalui kompleks sekte. Ia melihat murid-murid dengan seragam biru sedang berlatih teknik dasar, beberapa sedang merawat tanaman herbal, yang lain sedang membaca gulungan di bawah paviliun. Suasana damai dan fokus pada pembelajaran, sangat berbeda dengan kompetisi sengit di Sekte Pedang Awan.
Mereka tiba di sebuah aula kayu besar tempat sesepuh sekte menerima mereka. Sesepuh itu adalah seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi, mata bijak, dan aura tenang tapi kuat. Sistem Lin Ming segera menganalisis: Lapis 8 Qi Gathering—tingkat yang jauh di atasnya saat ini.
“Liu Feng, Mei Ling, selamat atas kesuksesan misi,” ujar Sesepuh Lan dengan suara lembut namun jelas. Matanya kemudian beralih ke Lin Ming. “Dan ini tamu yang kalian sebutkan?”
“Lin, Sesepuh,” perkenalkan Liu Feng. “Dia terjebak di dasar jurang selama berbulan-bulan, bertahan sendiri, dan membantu kami melawan Copperback Crawler dan kelelawar penjaga bunga.”
Sesepuh Lan mengamati Lin Ming dengan seksama. Lin Ming bisa merasakan tekanan halus—sebuah pemeriksaan spiritual ringan. Ia tidak melawan, tetapi membiarkan sistemnya menyamarkan aura warisannya dan hanya menunjukkan tingkat Lapis 2 yang stabil dengan akar spiritual Guntur Retak.
“Unik,” gumam Sesepuh Lan. “Akar spiritual dengan afinitas guntur, tapi tampaknya mengalami kerusakan dahulu yang telah diperbaiki dengan cara tidak biasa. Dan tubuhmu… penuh dengan bekas pertempuran yang sudah sembuh.”
“Bertahan di jurang mengharuskan saya beradaptasi, Sesepuh,” jawab Lin Ming sopan.
“Tentu.” Sesepuh Lan tersenyum kecil. “Kau telah membantu murid-muridku, jadi kau adalah tamu terhormat. Kau boleh tinggal di sini sementara, mengakses perpustakaan tingkat dasar, dan berlatih di area umum. Jika kau ingin bergabung sebagai murid luar, kita bisa bicarakan nanti.”
“Terima kasih atas kebaikan Sesepuh. Saya hanya membutuhkan tempat sementara untuk pulih dan mengumpulkan informasi. Saya punya urusan yang harus diselesaikan di tempat lain.”
Sesepuh Lan mengangguk, seolah memahami bahwa setiap orang memiliki rahasia. “Baik. Liu Feng, temani tamu kita ke kamar tamu dan beri tahu aturan dasar.”
Lin Ming ditempatkan di sebuah kamar kecil tapi nyaman di sayap tamu. Jendelanya menghadap ke taman herbal, dan ada meja, kursi, serta tempat tidur yang bersih—kemewahan dibandingkan gua-gua di jurang. Ia juga diberikan dua set pakaian sederhana biru muda (bukan seragam resmi, tapi warna sekte) dan jadwal makan.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian—rasanya aneh mengenakan kain bersih setelah berbulan-bulan memakai kulit hewan dan sisik—Lin Ming memulai eksplorasinya di Sekte Bulan Sabit.
Pertama, ia mengunjungi perpustakaan. Ruangan itu dipenuhi rak kayu berisi gulungan dan buku. Seorang penjaga perpustakaan tua mengizinkannya masuk setelah mengetahui ia tamu sesepuh. “Tingkat dasar saja, jangan sentuh rak bertanda merah,” pesannya.
Lin Ming menghabiskan sisa hari itu membaca. Ia mulai dengan geografi regional—memahami peta wilayah sekte-sekte terdekat, termasuk lokasi Sekte Pedang Awan yang berjarak tiga hari perjalanan dari sini. Kemudian sejarah lokal: tentang konflik masa lalu antara sekte-sekte, tentang munculnya Kultus Iblis seratus tahun yang lalu dan penumpasannya oleh aliansi sekte, dan tentang periode perdamaian yang sekarang tampaknya retak.
Yang menarik, ia menemukan catatan tentang “Dewa Bela Diri”—hanya sebagai legenda kuno tentang manusia yang melampaui batas mortal. Tidak ada detail tentang warisan atau lokasi, hanya cerita moral tentang ketekunan. Tampaknya warisan yang ia dapatkan benar-benar rahasia.
Di antara bacaan, ia juga menemukan teknik dasar alkimia dan formasi—bidang keahlian Sekte Bulan Sabit. Lin Ming mempelajarinya dengan sistem, menambah pemahaman Hukum yang berkaitan dengan elemen-elemen tersebut.
[Pemahaman Hukum Api: Dasar (Baru) dari studi alkimia.] [Pemahaman Hukum Air: Meningkat dari Dasar ke Menengah.] [Sintesis Poin +2 dari pembelajaran.]
Keesokan harinya, Lin Ming mengunjungi area latihan umum. Beberapa murid luar dan murid inti tingkat rendah sedang berlatih. Ia mengamati teknik mereka—kebanyakan bertema air, angin, dan tanah, cocok dengan kecenderungan sekte. Tidak ada yang menggunakan guntur, membuatnya menonjol jika ia menggunakan Telapak Guntur.
Seorang pelatih mendekatinya. “Kau tamu baru? Ingin latihan?”
“Saya hanya mengamati,” jawab Lin Ming.
“Silakan. Jika ingin sparring ringan, beberapa murid luar mungkin bersedia.”
Lin Ming memutuskan untuk mencoba. Ia berpasangan dengan seorang murid luar Lapis 2 bernama Kai, yang menggunakan teknik angin dasar. Pertarungan ringan di area yang ditentukan. Lin Ming membatasi diri—hanya menggunakan gerakan fisik dan sedikit Penguatan Diri Qi, tanpa menampakkan Telapak Guntur atau kemampuan khusus lainnya.
Meski demikian, pengalamannya bertarung hidup-mati di jurang membuatnya unggul. Dalam tiga gerakan, ia sudah bisa mengunci Kai dengan teknik sederhana.
“Hebat!” puji Kai, tidak marah. “Gerakanmu efisien, bukan teknik mewah tapi efektif. Kau pasti banyak pengalaman bertarung.”
“Beberapa,” kata Lin Ming merendah.
Setelah itu, beberapa murid lain ingin mencoba. Lin Ming bertarung dengan lima orang berbeda, menang semuanya tetapi dengan susah payah yang dibuat-buat agar tidak mencurigakan. Dari pertarungan-pertarungan ini, ia belajar variasi teknik dan menambah Sintesis Poin dari pemahaman baru.
Sore harinya, Mei Ling menemuinya di taman. “Sesepuh Lan memanggilmu. Ada sesuatu yang ingin dia tanyakan.”
Lin Ming mengikuti Mei Ling ke aula kecil di belakang kompleks utama. Sesepuh Lan sedang duduk di atas bantal, di depannya ada peta yang terbentang.
“Lin, duduklah,” ujar Sesepuh Lan. “Liu Feng bercerita bahwa kau sangat terampil bertahan di jurang, dan pengamatanmu mungkin tajam. Apa kau melihat tanda-tanda tidak biasa di jurang? Selain makhluk yang biasa ada di sana?”
Lin Ming berpikir. “Ada beberapa makhluk tingkat E dan E+ yang seharusnya jarang berada di kedalaman itu. Juga… ada jejak aktivitas manusia tua, reruntuhan dan ukiran.”
Sesepuh Lan mengangguk serius. “Jejak manusia tua… mungkin terkait dengan legenda. Tapi yang lebih mengkhawatirkan: beberapa hari lalu, patroli kami menemukan jejak di tepi jurang—jejak ritual dengan simbol aneh.” Dia mengeluarkan selembar kertas dengan gambar simbol: lingkaran dengan tetes darah di tengah, dikelilingi oleh tulisan yang tidak dikenal.
Lin Ming tidak mengenali simbol itu, tetapi sistem menganalisis.
[Simbol: Kemungkinan terkait dengan pemujaan darah atau pengorbanan.] [Pola energi: Mirip dengan catatan tentang Kultus Iblis Darah dalam database terbatas.]
“Ini simbol Kultus Iblis Darah, bukan?” tanya Lin Ming.
Sesepuh Lan terkejut. “Kau mengenalinya? Kebanyakan orang tidak tahu.”
“Saya membaca di perpustakaan kemarin.”
“Ah, tentu.” Sesepuh Lan menghela napas. “Iya, ini simbol mereka. Penemuan ini, ditambah laporan dari sekte-sekte lain tentang serangan aneh, menunjukkan bahwa Kultus Iblis Darah bangkit kembali. Dan mereka aktif di sekitar jurang.”
Lin Ming teringat dokumen konteks—Kultus Iblis Darah akan melancarkan invasi. Tampaknya prosesnya sudah dimulai.
“Apakah Sekte Bulan Sabit akan bergabung dengan aliansi sekte untuk menghadapinya?” tanyanya.
“Kita akan rapat dengan perwakilan sekte-sekte lain minggu depan. Termasuk Sekte Pedang Awan.” Sesepuh Lan memandang Lin Ming. “Liu Feng bilang kau punya urusan dengan sekte itu. Jika kau mau, kau bisa ikut dalam delegasi kita sebagai pengamat. Tapi kau harus berhati-hati—jika kau punya musuh di sana, mereka mungkin masih mengingatmu.”
Lin Ming terkejut dengan tawaran itu. Ini kesempatan untuk kembali ke Sekte Pedang Awan dengan perlindungan delegasi resmi. Tapi juga berisiko—jika Zhang Hu dan kawan-kawannya masih ada, mereka akan mengenalinya.
“Boleh saya berpikir dulu, Sesepuh?”
“Tentu. Rapat masih tujuh hari lagi. Sampai saat itu, kau bisa tetap di sini dan berlatih.”
Lin Ming meninggalkan aula dengan pikiran berputar. Kembali ke Sekte Pedang Awan… untuk apa? Membalas dendam pada Zhang Hu? Itu penting, tapi mungkin tidak lagi menjadi prioritas tertinggi. Dunia menghadapi ancaman lebih besar, dan ia memiliki warisan Dewa Bela Diri yang memberinya tanggung jawab lebih.
Tapi tetap, ada urusan yang belum selesai. Dan mungkin, di Sekte Pedang Awan, ia bisa menemukan petunjuk tentang warisan berikutnya atau tentang cara menghadapi Kultus Iblis.
Malam itu, di kamarnya, Lin Ming bermeditasi. Energinya telah penuh di 35/35, dan lapisan Qi-nya solid. Ia merasa sudah dekat dengan terobosan ke Lapis 3. Dengan sumber daya Sekte Bulan Sabit—meski terbatas—ia bisa mempercepat proses.
Dia menggunakan Sistem Sintesis Semesta untuk menganalisis kemajuan kultivasinya. Sistem merekomendasikan untuk menyelaraskan pemahaman hukum yang ia miliki sebelum terobosan, agar fondasi lebih kokoh.
Lin Ming menghabiskan dua hari berikutnya berfokus pada penyelarasan. Ia mempraktikkan Pernapasan Bumi dan Langit, Meditasi Penyatuan, dan juga teknik “Langkah Kesadaran” dari tablet warisan yang meningkatkan kesadaran spasial dan energi.
Pada hari ketiga, saat ia bermeditasi di taman herbal saat fajar, sesuatu terhubung. Pemahamannya tentang Hukum Guntur, Tanah, Air, Api, Angin, dan Getaran tiba-tiba menyatu dalam pemahaman yang lebih besar tentang “Hukum Energi” itu sendiri—bahwa semua elemen adalah manifestasi berbeda dari energi yang sama, dan transformasi di antara mereka mungkin.
[Pemahaman Hukum Energi: Dasar (Baru).] [Sintesis Poin +5.] [Kemajuan kultivasi: Siap untuk terobosan ke Lapis 3.]
Lin Ming segera kembali ke kamarnya, mengunci pintu, dan duduk bersila di lantai. Ia mengambil sisa air emas dari jurang—hanya tinggal sedikit—dan meminumnya. Kemudian ia mulai proses terobosan.
Dibandingkan terobosan ke Lapis 2, kali ini lebih halus karena fondasinya lebih kuat. Energi di Dantiannya berputar, memadat, membentuk lapisan ketiga di atas dua lapisan sebelumnya. Proses ini memakan waktu enam jam, tapi tanpa kesulitan berarti. Warisan Dewa Bela Diri dan pemahaman hukum barunya membuat segalanya lebih lancar.
[Kultivasi meningkat: Lapis 2 → Lapis 3 Qi Gathering.] [Dantian berkembang: Kapasitas maksimum meningkat: 35 → 50 unit.] [Energi saat ini: 20/50.] [Pencapaian: Kemajuan Stabil.] [Hadiah: Sintesis Poin +5, teknik “Perisai Energi Dasar”.]
Lapis 3! Dalam waktu kurang dari sebulan sejak mencapai Lapis 1, ia sudah naik dua tingkat. Kecepatan yang luar biasa, berkat warisan dan pengalaman di jurang. Teknik Perisai Energi Dasar adalah teknik bertahan dengan menciptakan pelindung energi di sekeliling tubuh—sangat berguna.
Setelah terobosan, Lin Ming merasa lebih kuat dari sebelumnya. Ia memperkirakan kini bisa menghadapi makhluk tingkat E+ dengan lebih mudah, dan mungkin bahkan makhluk tingkat D- dengan strategi yang tepat.
Keesokan harinya, Liu Feng menemuinya. “Lin, keputusanmu? Delegasi akan berangkat besok pagi ke Sekte Pedang Awan untuk rapat aliansi.”
Lin Ming telah memutuskan. “Aku akan ikut. Tapi aku perlu menyamar sedikit—mungkin mengubah penampilan atau menggunakan nama samaran.”
Liu Feng mengerti. “Kami bisa memberimu jubah dengan tudung. Dan kau bisa menggunakan nama ‘Ming Lin’—kebalikan dari namamu. Tapi ingat, beberapa murid Sekte Pedang Awan mungkin memiliki teknik pengenalan aura.”
“Risiko yang harus diambil.”
Malam sebelum keberangkatan, Lin Ming memeriksa persiapannya. Senjata dan armor dari bahan jurang ia simpan di cincin penyimpanan—tidak akan digunakan kecuali darurat. Ia juga menyimpan Monster Core angin dan bahan-bahan berharga lainnya. Poin Sintesis-nya kini 28.5, cukup untuk sintesis yang berarti jika diperlukan.
Dia juga mengunjungi perpustakaan sekali lagi, membaca tentang Sekte Pedang Awan terkini. Ternyata, sekte itu mengalami perpecahan internal antara faksi konservatif dan progresif, dan beberapa murid inti mereka telah hilang dalam misi. Ada desas-desus bahwa mereka menyembunyikan sesuatu.
Ketika fajar tiba, delegasi Sekte Bulan Sabit berkumpul di pintu gerbang. Ada lima orang: Sesepuh Lan (sebagai pemimpin), Liu Feng, Mei Ling, seorang elder lain yang ahli formasi, dan Lin Ming (sebagai asisten Liu Feng dengan nama Ming Lin). Mereka akan naik kereta kuda yang ditarik oleh dua kuda spiritual—hewan yang telah dimodifikasi dengan formasi untuk kecepatan dan ketahanan.
Saat kereta mulai bergerak meninggalkan Sekte Bulan Sabit, Lin Ming melihat ke belakang ke lembah damai itu. Tempat ini telah memberinya tempat berlindung sementara dan informasi berharga. Ia berhutang budi.
Tapi sekarang, waktunya kembali ke tempat di mana semuanya bermula. Dengan kekuatan baru, dengan sistem baru, dan dengan pengetahuan tentang ancaman yang lebih besar, Lin Ming akan menghadapi masa lalunya.
Dan mungkin, di tengah rapat aliansi sekte, ia akan menemukan cara untuk tidak hanya membalas dendam pribadi, tetapi juga mempersiapkan diri untuk perang yang akan datang melawan Kultus Iblis Darah. Perjalanan panjang dari dasar jurang telah membawanya ke titik ini, dan perjalanan berikutnya akan menentukan nasibnya—dan mungkin nasib banyak orang lain.