Bab 18: Menyusup ke Wilayah Darah
Perjalanan hari kedua membawa tim pengintai semakin dekat dengan Pegunungan Darah Berawan. Pemandangan mulai berubah—tanah yang semula coklat subur berubah menjadi kemerahan, seperti tercampur darah kering. Pepohonan menjadi lebih jarang, dan yang tersisa memiliki bentuk bengkok dengan daun berwarna ungu tua. Udara terasa berat, berbau besi dan sesuatu yang manis namun menusuk.
“Kita sudah memasuki wilayah pengaruh Kultus Iblis,” bisik Liu Feng sambil menghentikan kudanya. “Dari sini, kita harus berjalan kaki. Kuda terlalu mencolok.”
Mereka menyembunyikan kuda di gua kecil yang mereka temukan, meninggalkan makanan dan air cukup untuk beberapa hari. Kemudian melanjutkan dengan berjalan, bergerak dengan hati-hati dan memanfaatkan setiap bentuk perlindungan alam.
Lin Ming mengaktifkan Indera Getaran Bumi dalam intensitas rendah, memantau pergerakan di sekitar. Dia juga sesekali mengaktifkan Penglihatan Malam meski siang hari—untuk mendeteksi anomali energi. Sistemnya terus menganalisis lingkungan.
[Deteksi: Kandungan besi dalam tanah meningkat 300%. Pola energi menunjukkan pengaruh darah dan pengorbanan. Peringatan: Udara mengandung partikel halus yang dapat mempengaruhi pikiran jika terpapar terlalu lama.]
“Pakai masker ini,” kata Hui dari Sekte Sungai Terang, membagikan kain tipis yang telah direndam dalam ramuan khusus. “Ini akan menyaring racun di udara dan melindungi dari pengaruh mental.”
Mereka memakainya. Lin Ming merasakan perbedaan—bau besi yang menyengat berkurang, dan pikiran tetap jernih.
Setelah berjalan beberapa jam, mereka menemukan jejak pertama: tapak kaki manusia dalam formasi patroli, baru beberapa jam lalu. Jumlahnya sekitar enam orang.
“Patroli Kultus Iblis,” kata Liang, salah satu murid Sekte Pedang Awan. “Mereka biasanya berpatroli dalam kelompok enam: satu pemimpin tingkat E, lima pengikut tingkat F+.”
“Kita hindari,” putus Liu Feng. “Bukan tujuan kita untuk bertempur.”
Mereka mengambil rute memutar, naik ke tebing yang lebih tinggi untuk mendapatkan pandangan lebih baik. Dari atas, mereka bisa melihat lembah di antara pegunungan—dan apa yang mereka lihat membuat napas mereka tersendat.
Di lembah itu, tersebar bangunan-bangunan dari batu merah dan kayu gelap. Tidak elegan seperti kompleks sekte, tapi lebih seperti kamp militer dengan struktur fungsional. Di tengah, ada lapangan besar dengan tiang-tiang yang diikat orang—tawanan, mungkin dari desa yang diserang atau sekte kecil. Yang paling mencolok adalah struktur di ujung lembah: sebuah gerbang batu besar setinggi lima belas meter, dihiasi ukiran simbol darah dan tulang. Gerbang itu tampak belum aktif, tetapi energi gelap berkumpul di sekitarnya.
“System, perkirakan jumlah musuh,” perintah Lin Ming dalam hati.
[Analisis visual dari kejauhan…] [Perkiraan jumlah: 200-300 individu dengan tingkat energi bervariasi.] [Struktur dengan energi terkuat: Bangunan tengah (mungkin markas pemimpin), gerbang batu, dan menara pengawas di empat sudut.] [Deteksi tawanan: sekitar 50 orang, energi melemah.]
“Lihat itu,” bisik Yan dari Sekte Gunung Berapi, menunjuk ke area latihan. Di sana, sekelompok kultis sedang berlatih teknik bersama—gerakan mereka serempak, disiplin militer. “Mereka lebih terorganisir dari yang kita kira. Bukan sekumpulan fanatik sembarangan.”
“Dan gerbang itu,” tambah Ruan, murid Sekte Pedang Awan lainnya. “Apa yang mereka coba buka?”
“Legenda Dewa Darah mungkin benar,” gumam Liu Feng. “Kita perlu informasi lebih. Tapi tidak bisa terlalu dekat—menara pengawas memiliki bidang pandang luas.”
Mereka memutuskan untuk menunggu sampai malam. Sambil bersembunyi di ceruk tebing, mereka bergantian berjaga dan beristirahat. Lin Ming mengambil giliran jaga pertama. Saat dia mengamati lembah, dia melihat sesuatu yang menarik: sekelompok kultis membawa kotak-kotak ke sebuah bangunan kecil di sisi gerbang. Kotak itu memancarkan energi spiritual murni—mungkin sumber daya yang dicuri dari sekte-sekte.
“Liu Feng, lihat itu,” bisik Lin Ming saat Liu Feng bergantian jaga. “Mereka menyimpan sumber daya di bangunan itu. Mungkin kita bisa menyusup dan mengambil sampel, atau setidaknya melihat isinya.”
“Terlalu berisiko. Tapi… jika kita bisa mendapatkan bukti konkret tentang sumber daya yang dicuri, itu akan memperkuat aliansi untuk menyerang.”
Mereka berdiskusi dengan tim. Akhirnya, diputuskan: dua orang akan menyusup ke bangunan penyimpanan malam ini—Lin Ming, karena kemampuan sensor dan bertahan hidupnya, dan Tie dari Sect of Iron Will, karena kemampuannya membuka kunci dan diam-diam.
“Tujuan kalian bukan mencuri besar-besaran, tapi mengambil sampel dan mungkin dokumen jika ada,” instruksi Liu Feng. “Kita bertemu kembali di sini sebelum fajar.”
Saat malam tiba dan bulan tertutup awan, Lin Ming dan Tie mulai bergerak. Mereka turun dari tebing dengan tali, bergerak dari bayangan ke bayangan. Tie, meski bertubuh besar, bergerak dengan kecepatan dan keheningan yang mengejutkan.
“Miliki bakat ‘Langkah Senyap’,” bisiknya pada Lin Ming. “Tingkat E. Berguna untuk misi seperti ini.”
Mereka menghindari dua patroli malam dengan bersembunyi di balik batu saat patroli lewat. Kultus Iblis ternyata memiliki sistem keamanan ketat—patroli berjalan dengan pola tetap, dan ada formasi sensor energi sederhana di beberapa area. Tapi Lin Ming dengan Indera Getaran Bumi bisa mendeteksi getaran kaki dari jauh, dan sistemnya membantu menghindari formasi energi.
Mereka tiba di belakang bangunan penyimpanan. Tidak ada penjaga di depan—mungkin mereka terlalu percaya diri dengan patroli. Tapi ada kunci mekanis yang rumit di pintu.
Tie mengeluarkan alat dari sabuknya. “Ini kunci ajaib tingkat E. Bisa membuka sebagian besar kunci mekanis dalam satu menit.” Dia bekerja dengan ahli, dan dalam empat puluh detik, pintu terbuka dengan suara klik halus.
Mereka masuk, menutup pintu. Di dalam, gelap, tapi Lin Ming mengaktifkan Penglihatan Malam. Ruangan itu penuh dengan rak-rak berisi kotak, kantong, dan bahkan sangkar berisi makhluk spiritual kecil yang terlihat lemah.
“Lihat ini,” bisik Tie, membuka salah satu kotak. Isinya: pil Qi Gathering berkualitas, bahan alkimia langka, bahkan beberapa senjata spiritual. “Semua ini dicuri.”
Lin Ming memeriksa dokumen di meja kecil di sudut. Ada daftar pengiriman: “Dari Sekte Pedang Awan: 50 pil, 10 batang logam spiritual. Dari Desa Sungai: 20 tawanan, 5 hewan spiritual. Dari Sekte Bulan Sabit: 30 tanaman obat…” Jadi mereka memang menyerang berbagai tempat.
Dia juga menemukan peta yang menarik—peta yang menunjukkan lokasi gerbang batu dan titik-titik lain di pegunungan. Ada tanda di lima titik mengelilingi gerbang, membentuk pola pentagram.
“System, analisis pola ini.”
[Pola: Pentagram Pengorbanan – digunakan dalam ritual tingkat tinggi untuk membuka portal atau memanggil entitas. Lima titik kemungkinan membutuhkan pengorbanan simultan.]
Lin Ming menggambar cepat peta itu di atas kain. Tiba-tiba, dia mendengar suara langkah di luar. Seseorang mendekat!
Dia memberi isyarat pada Tie. Mereka bersembunyi di balik rak besar. Pintu terbuka, dua kultis masuk, membawa kotak tambahan.
“Lepaskan di sini. Besok ritual terakhir, akhirnya kita akan membuka Gerbang Darah,” kata salah satunya.
“Raja Iblis Muda sudah tidak sabar. Katanya begitu gerbang terbuka, Dewa Darah akan memberi kita kekuatan untuk menguasai semua sekte.”
Mereka meletakkan kotak, lalu pergi, mengunci pintu kembali.
Lin Ming dan Tie menunggu beberapa menit sebelum keluar dari persembunyian. “Kita harus pergi. Besok mereka akan melakukan ritual besar.”
Mereka mengambil sampel kecil pil dan satu dokumen daftar pengiriman, lalu keluar dengan hati-hati. Tie mengunci pintu kembali agar tidak mencurigakan.
Perjalanan kembali lebih menegangkan. Saat mereka hampir mencapai tebing, tiba-tiba ada teriakan di kejauhan. Salah satu patroli menemukan sesuatu—jejak kaki mereka? Lin Ming dan Tie mempercepat langkah, memanjat tali dengan cepat.
Di atas, tim lain sudah cemas. “Apa yang terjadi?” tanya Liu Feng.
“Mereka akan melakukan ritual besar besok,” laporkan Lin Ming. “Dan kita punya bukti pencurian sumber daya.” Dia menunjukkan sampel dan dokumen.
Tapi sebelum mereka bisa merayap kembali ke persembunyian yang lebih aman, suara lonceng alarm berbunyi di markas. Sinar lampu sorot dari menara pengawas mulai menyapu tebing.
“Mereka tahu ada penyusup! Cepat, pergi!”
Mereka berlari, meninggalkan tebing dan masuk ke hutan bengkok. Di belakang, suara pengejaran—puluhan kultis telah dikerahkan untuk mencari mereka.
“Bagi dua kelompok!” perintah Liu Feng. “Aku, Lin Ming, dan Yan ke utara. Liang, Ruan, Hui, Tie ke selatan. Bertemu di titik temu tiga, ingat?”
Mereka berpisah. Lin Ming mengikuti Liu Feng dan Yan, berlari secepat mungkin sambil menghindari cabang-cabang pohon aneh. Di belakang, suara pengejar semakin dekat.
“Kita tidak bisa terus lari,” kata Yan. “Mereka tahu daerah ini lebih baik.”
“Buat jebakan,” usul Lin Ming. “Aku punya ide.”
Dia berhenti sejenak, mengumpulkan energi. Dengan pemahaman Hukum Tanah dan Getaran, dia menciptakan getaran kecil di tanah untuk membuat jejak palsu ke arah lain. Sementara Yan, dengan teknik api, membakar beberapa semak untuk membuat asap tebal sebagai pengaburan.
Taktik itu bekerja—sebagian pengejar teralihkan. Tapi tiga kultis masih mengejar mereka. Kultis-kultis itu tingkat F+ dan satu E-.
“Kita hadapi,” kata Liu Feng. “Tapi cepat dan diam-diam.”
Mereka bersembunyi di balik pohon besar, menunggu kultis mendekat. Saat yang pertama lewat, Yan menyergap dari samping, menutup mulutnya dan menggunakan teknik api terkonsentrasi untuk melumpuhkan. Liu Feng menangani yang kedua dengan teknik tanah yang membelit. Lin Ming menghadapi yang ketiga, kultis tingkat E-.
Kultis itu menggunakan pedang pendek berwarna merah. “Pencuri! Kalian akan jadi persembahan!”
Lin Ming tidak membuang waktu. Dia menggunakan Gelombang Guntur dengan konsumsi energi 5 unit. Kilatan biru disertai gelombang kejut menghantam kultis, melemparkannya ke pohon. Kultis itu pingsan.
“Cepat, ikat dan sembunyikan mereka,” kata Liu Feng.
Mereka mengikat ketiga kultis dan menyembunyikannya di semak tebal. Mungkin akan ditemukan nanti, tapi setidaknya memperlambat pengejaran.
Mereka terus berlari, dan setelah satu jam, mereka yakin telah kehilangan pengejar. Mereka beristirahat di gua kecil yang mereka temukan.
“Kita harus kembali ke titik temu tiga besok pagi,” kata Liu Feng. “Tapi sekarang, kita punya informasi berharga. Ritual besok, gerbang, pola pentagram.”
“Dan kita tahu kekuatan mereka sekitar 200-300 orang, terorganisir,” tambah Yan.
Lin Ming duduk, memulihkan energi. Dalam hati, dia bertanya pada sistem: “Analisis ritual berdasarkan pola pentagram dan informasi yang didapat.”
[Analisis ritual pembukaan gerbang…] [Berdasarkan pola pentagram: membutuhkan lima pengorbanan simultan di lima titik, dengan energi darah dan spiritual terkonsentrasi.] [Waktu: kemungkinan pada tengah hari saat matahari di puncak, atau tengah malam saat energi bulan maksimal.] [Efek: membuka portal ke dimensi/entitas yang disebut ‘Dewa Darah’.] [Peringatan: Jika gerbang terbuka, akan sulit ditutup tanpa pengorbanan yang setara atau teknik khusus.]
“Kita harus menggagalkan ritual itu,” kata Lin Ming. “Tapi kita hanya delapan orang. Butuh bantuan.”
“Kita kembali ke Sekte Pedang Awan secepat mungkin,” putus Liu Feng. “Berita ini harus sampai pada aliansi.”
Mereka beristirahat sebentar, lalu melanjutkan perjalanan malam dengan hati-hati. Menjelang fajar, mereka tiba di titik temu tiga—sebuah air terjun kecil yang tersembunyi. Tim lainnya sudah ada di sana, dengan sedikit luka tetapi selamat.
“Kami dihadang patroli, tapi berhasil mengalahkan mereka tanpa menarik perhatian lebih,” lapor Liang.
“Bagus. Sekarang, kita harus kembali dengan cepat. Kuda kita masih di gua, satu hari perjalanan dari sini.”