Bab 8: Menginjak Kesombongan Awan dan Pengadilan Darah
Kemarahan seorang ahli bela diri Alam Bumi bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh oleh manusia fana. Di Benua Cakrawala, Alam Penempaan Tubuh adalah tahap membangun fondasi fisik, Alam Pembentukan Qi adalah tahap meminjam energi alam, namun ketika seseorang melangkah ke Alam Bumi, ia mulai menguasai energi tersebut. Qi tidak lagi berwujud gas atau aura samar yang mengalir di dalam tubuh, melainkan mengkristal, memadat, dan bisa diwujudkan menjadi senjata pemusnah yang berinteraksi langsung dengan dunia fisik.
Penatua Mo Jian melangkah dari tepi tribun kehormatan. Ia tidak melompat atau jatuh bebas seperti yang dilakukan oleh petarung tingkat rendah. Dengan setiap langkah yang ia ambil di udara kosong, lapisan Qi berwarna putih susu memadat di bawah telapak sepatunya, membentuk pijakan energi sesaat yang menopang tubuhnya. Ia berjalan menuruni tangga udara tak kasatmata menuju arena, jubah abu-abunya berkibar hebat, memancarkan tekanan spiritual yang membuat ribuan penonton di bawah sana merasa seolah-olah bernapas di dalam air lumpur.
“Bocah sombong, wawasanmu sedangkal genangan air setelah hujan,” suara Mo Jian menggema di seluruh penjuru Alun-Alun Giok, dipenuhi dengan arogansi seorang dewa yang menghakimi pendosa. “Kau membunuh beberapa semut di klanmu sendiri dan mengira kau telah menaklukkan langit. Hari ini, aku akan memperlihatkan kepadamu jurang pemisah yang sesungguhnya antara seekor katak di dasar sumur dan naga sejati di sembilan langit!”
Saat kakinya akhirnya menyentuh lantai arena granit yang telah retak, Mo Jian mengangkat tangan kanannya secara perlahan. Udara di sekitarnya bergemuruh. Aliran Qi putih susu dalam jumlah yang sangat masif menyembur keluar dari telapak tangannya, berputar dan memadat dengan kecepatan yang mengerikan. Dalam sekejap mata, energi murni itu telah berubah wujud menjadi sebilah pedang raksasa bercahaya putih sepanjang dua meter. Ujung pedang itu berdesir, memotong udara dengan suara nyaring yang menyayat telinga.
Inilah tanda mutlak dari Alam Bumi: Pembentukan Senjata Qi Sejati! Senjata yang terbentuk dari Qi murni ini jauh lebih tajam dan jauh lebih mematikan daripada senjata baja kualitas tertinggi mana pun di dunia fana.
Di atas tribun, Zhao Meng’er yang masih bersujud menatap punggung Penatua Mo dengan mata berbinar penuh harap. Ketakutannya perlahan memudar, digantikan oleh senyum berbisa yang kejam. Mati… kau pasti mati, Lin Tian! Kesombonganmu telah menyentuh sisik naga Penatua Mo. Sekalipun kau memiliki tubuh sekuat monster purba, kau tidak akan bisa menahan tebasan pedang Qi murni dari ahli Alam Bumi!
Para tetua Klan Lin, termasuk Lin Kuang sang Kepala Klan, juga menghela napas lega. Meskipun klan mereka telah dipermalukan dan menderita kerugian besar, selama Lin Tian sang iblis pemberontak ini dihabisi, mereka masih bisa membangun kembali sisa-sisa klan.
Di tengah arena, Lin Tian berdiri bergeming. Angin kencang yang dihasilkan oleh aura pedang Mo Jian meniup rambut hitamnya ke belakang, memperlihatkan wajahnya yang setajam pahatan es. Mata emasnya tidak memancarkan sedikit pun ketakutan atau keputusasaan. Sebaliknya, kilatan buas dari seorang predator yang menemukan mangsa yang sepadan mulai menyala di kedalaman pupilnya.
“Naga sejati di sembilan langit?” Lin Tian memiringkan kepalanya, senyum sinis yang mengejek dan merendahkan terukir di sudut bibirnya. “Anjing tua, kau bahkan tidak pantas membawa kata ‘naga’ di mulut kotormu itu.”
Mendengar hinaan yang berulang kali dilontarkan, kesabaran Mo Jian putus sepenuhnya. Wajahnya berubah menjadi topeng kemurkaan.
“Mati kau, keparat!”
WUUUSSSHH!
Sosok Mo Jian tiba-tiba menghilang dari pandangan. Ia melesat dengan kecepatan yang jauh melampaui Lin Zhan, meninggalkan jejak bayangan putih di udara. Dalam sepersekon, ia telah muncul tepat di atas Lin Tian, mengayunkan pedang Qi raksasanya secara vertikal ke arah kepala pemuda itu.
“Tebasan Awan Pembelah Gunung!”
Bilah pedang cahaya itu meluncur turun, membawa tekanan berat bagaikan sebuah gunung batu yang dijatuhkan dari langit. Udara di sekitar pedang itu terbelah, menciptakan ruang hampa sesaat yang menyedot debu dan serpihan batu ke arahnya. Ini adalah serangan mematikan yang tidak memberikan ruang untuk menghindar.
Lin Tian mendongak. Di dalam Dantiannya, Mutiara Naga Surgawi berputar dengan sangat gila. Raungan purba yang tak terdengar oleh telinga manusia fana meledak di dalam tubuhnya. Qi Naga Surgawi yang berwarna emas murni membanjiri seluruh meridiannya, memompa kekuatan absolut ke dalam Tubuh Sisik Naga Tembaga miliknya. Kulit Lin Tian seketika memancarkan cahaya tembaga yang sangat pekat, dan jika seseorang melihat lebih dekat, mereka akan menyadari bayangan sisik naga samar terbentuk di bawah permukaan kulitnya.
Ia tidak mundur selangkah pun. Ia mengangkat pedang tulang beruang dengan kedua tangannya, menyilangkannya di atas kepala untuk menyambut tebasan mematikan dari Alam Bumi tersebut.
BLAAARRRGGGHHH!
Ledakan energi yang sangat dahsyat terjadi saat pedang Qi berwujud menghantam pedang tulang beruang tersebut. Gelombang kejut yang menyerupai badai topan menyapu arena, menghancurkan sisa-sisa lempengan batu granit sejauh radius dua puluh meter menjadi debu halus. Penonton di barisan terdepan menjerit ngeri saat mereka terhempas ke belakang oleh angin kencang.
Di pusat ledakan, pijakan Lin Tian ambles sedalam setengah meter ke dalam tanah. Namun, yang membuat Mo Jian melebarkan matanya karena terkejut adalah kenyataan bahwa pedang tulangnya yang rapuh tidak langsung hancur. Qi Naga emas yang melapisi tulang itu menahan ketajaman pedang putihnya dengan keras kepala.
KRETAK… KRAAAK!
Meskipun Qi Naga Surgawi luar biasa kuat, batas fisik dari tulang beruang tingkat tiga memiliki ujungnya. Setelah menahan tekanan selama tiga tarikan napas, pedang tulang itu akhirnya hancur berkeping-keping.
Tanpa penghalang, pedang Qi putih milik Mo Jian terus meluncur turun, menghantam lurus ke bahu kiri Lin Tian.
TRAAANG!
Suara benturan logam yang memekakkan telinga bergema kembali, kali ini jauh lebih keras. Bilah pedang cahaya itu menebas kulit Lin Tian, merobek sedikit lapisan terluarnya dan memercikkan darah segar. Namun, pedang itu berhenti di sana. Pedang yang konon bisa membelah gunung itu gagal memotong tulang selangka pemuda yang berada di Alam Penempaan Tubuh! Ia terjepit oleh otot dan kulit Lin Tian yang sekeras pelat baja ilahi.
Mo Jian menatap luka dangkal di bahu Lin Tian dengan ketidakpercayaan yang absolut. “I-Ini mustahil! Tubuh fisik manusia fana tidak mungkin menahan senjata Qi Sejati! Monster macam apa kau ini?!”
“Apakah kau belum makan siang, anjing tua? Seranganmu bahkan tidak cukup kuat untuk mengusir nyamuk!” raung Lin Tian.
Mengabaikan rasa sakit dan darah yang mengalir di bahunya, Lin Tian menggunakan momen di mana senjata Mo Jian tertahan untuk menyerang balik. Tangan kanannya mengepal kuat, mengompres seluruh Qi Naga Surgawi ke dalam tinjunya. Pendaran tembaga yang menyilaukan meledak dari kepalan tangannya, menyerupai sebuah matahari mini yang menyilaukan.
“Tinju Pemecah Batu!”
Ini adalah teknik dasar tingkat rendah yang sama yang ia gunakan di Hutan Kematian, namun di bawah dorongan kultivasi Tingkat Kesembilan puncak dan Qi Naga yang tak tertandingi, daya hancur teknik ini telah bermutasi menjadi sesuatu yang menentang kehendak surga.
Tinju Lin Tian menghantam lurus ke dada Mo Jian dengan kecepatan meteor.
Mo Jian, sebagai seorang veteran, memiliki refleks yang luar biasa. Menyadari bahaya maut yang mengancam nyawanya, ia dengan paksa melepaskan pedang Qi-nya dan menyilangkan kedua lengannya di depan dada, memadatkan perisai energi Qi putih yang tebal.
BUMMM!
Tinju Lin Tian menghantam perisai energi tersebut. Ruang di sekitar mereka bergetar hebat. Perisai Qi dari ahli Alam Bumi yang diklaim tak tertembus itu retak seperti cangkang telur yang dipukul palu besi, lalu hancur berkeping-keping. Momentum tinju Lin Tian yang tersisa mendarat di lengan Mo Jian.
KRAK!
Mo Jian mengerang kesakitan. Tulang lengan bawahnya retak parah. Tubuhnya terlempar ke belakang bagaikan layang-layang putus, melayang puluhan meter di udara sebelum jatuh berdebuk dan berguling beberapa kali di atas sisa-sisa reruntuhan arena granit.
Kesunyian yang mematikan dan absolut langsung mencekik seluruh Kota Daun Musim Gugur. Jika kehancuran para tetua Klan Lin sebelumnya mengejutkan, maka pemandangan Penatua Mo—seorang ahli pedang Alam Bumi dari Empat Sekte Lurus yang dihormati bagai dewa—terlempar mundur dengan tulang retak oleh seorang pemuda tanpa teknik kultivasi tinggi, benar-benar menghancurkan rasionalitas setiap orang di sana.
Di sudut arena, di balik cadar putihnya, mata Bai Xue berkilat dengan ketakjuban yang mendalam. Ia adalah seorang ahli Alam Langit, dan ia memahami hukum kultivasi lebih baik dari siapa pun di tempat itu.
Tebasan pedang Qi itu seharusnya membelahnya menjadi dua bagian yang rapi, pikir Bai Xue, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat melihat pemandangan epik di depannya. Tapi tubuhnya… fondasi fisiknya terlalu mengerikan. Ia memadatkan esensi kehidupan dan energi purba secara bersamaan ke dalam sel-selnya. Ini bukan lagi sekadar tubuh manusia, ia sedang berevolusi menjadi wujud binatang buas ilahi. Tidak heran ia berani bertindak seangkuh itu. Di dunia ini, kejeniusan mutlak memiliki hak istimewa untuk menindas yang lebih lemah, terlepas dari perbedaan alam kultivasi.
Di seberang arena, Mo Jian bangkit dengan susah payah. Jubah abu-abunya yang elegan kini kotor oleh debu dan sobek di beberapa bagian. Ia meludah, memuntahkan darah segar dari mulutnya. Wajah keriputnya berkerut liar, dipenuhi oleh rasa malu dan kemarahan yang membakar jiwanya. Ditendang mundur oleh seorang semut dari kota terpencil di depan puluhan ribu mata adalah penghinaan yang tidak akan pernah bisa dihapus dari sejarah hidupnya.
“Bagus… sangat bagus, Lin Tian,” suara Mo Jian mendesis seperti ular berbisa, bergetar karena emosi yang tidak stabil. Aura di tubuhnya mulai mendidih, berubah dari putih murni menjadi abu-abu gelap. Ia mulai membakar esensi darahnya sendiri, sebuah teknik terlarang untuk memanggil kekuatan maksimal secara paksa. “Kau telah memaksaku menggunakan kekuatan sejatiku. Aku tidak peduli rahasia iblis apa yang ada di dalam tubuhmu. Hari ini, aku akan mencabut jiwamu, memurnikannya dalam api penyucian, dan memastikan namamu dihapus dari dunia ini!”
Mo Jian merentangkan kedua tangannya. Kali ini, ia tidak membentuk satu pedang. Energi Qi abu-abu yang masif menyembur keluar dari tubuhnya dan naik ke udara, membentuk puluhan, lalu ratusan bilah pedang energi yang melayang di atas kepalanya bagaikan awan badai yang terbuat dari baja. Tekanan spiritual yang menekan alun-alun kini berlipat ganda, membuat langit siang tampak meredup karena padatnya aura pedang tersebut.
“Seni Pedang Penusuk Seribu Awan! Eksekusi Absolut!”
Dengan satu ayunan tangan ke bawah, ratusan pedang energi itu meluncur turun seperti hujan meteor yang mematikan, menargetkan Lin Tian dari segala arah. Tidak ada ruang untuk menghindar. Tidak ada celah untuk melarikan diri. Ini adalah serangan pemusnah massal tingkat area.
Melihat hujan pedang yang menutupi langit, penonton menjerit histeris dan berlarian menjauh, takut terkena dampak radius serangan ahli Alam Bumi tersebut. Di tribun kehormatan, Zhao Meng’er tertawa liar, matanya terbelalak gila. “Hancurlah kau! Hancurlah menjadi debu, Lin Tian!”
Lin Tian berdiri di tengah arena yang telah hancur lebur. Ia menatap ratusan mata pedang kematian yang turun menyongsongnya. Di hadapan kekuatan yang tampak mutlak ini, ia memejamkan matanya sejenak. Ia tidak lagi peduli untuk menyembunyikan kekuatannya. Malam pengkhianatan itu, penderitaan di Hutan Kematian, dan penempaan neraka es-api… semua itu membangunkan sesuatu yang jauh lebih gelap dan lebih purba di dalam dirinya.
Saat Lin Tian membuka matanya kembali, pupil hitamnya telah hilang sepenuhnya, tergantikan oleh cairan emas murni yang bercahaya seperti bintang.
Di dalam Dantiannya, Mutiara Naga Surgawi tidak lagi hanya berputar. Ia berdenyut hebat seolah memiliki detak jantungnya sendiri. Semua Qi emas yang tersimpan di dalamnya meledak keluar secara serentak.
Sebuah pilar cahaya emas yang sangat tebal menembus keluar dari tubuh Lin Tian, membubung tinggi ke langit, menabrak awan-awan dan mengubah langit Kota Daun Musim Gugur menjadi berwarna keemasan. Dari dalam pilar cahaya itu, sebuah raungan naga yang sesungguhnya bergema. Kali ini, raungan itu tidak hanya terdengar di dalam kepala Lin Tian, melainkan meledak di dunia nyata, menggetarkan setiap gendang telinga dan mengoyak jiwa setiap manusia yang mendengarnya.
ROAAAARRRRR!
Aura dominasi yang luar biasa purba, sombong, dan tak tertandingi menyapu bumi. Semua orang di alun-alun, termasuk Tuan Kota, para tetua, dan bahkan Bai Xue, merasakan kaki mereka melemas. Itu adalah tekanan dari makhluk puncak rantai makanan semesta, memaksa mereka untuk berlutut tanpa bisa melawan.
Ratusan pedang energi Qi abu-abu milik Mo Jian yang menghujani Lin Tian seketika membeku di udara saat bersentuhan dengan pilar cahaya emas tersebut. Seolah-olah pedang-pedang itu mengenai dinding berlian kosmik, mereka retak, pecah, dan hancur menjadi titik-titik cahaya tanpa sisa, ditelan oleh otoritas sang naga.
“A-Aura apa ini?! B-Bentuk iblis apa yang merasukimu?!” Mo Jian berteriak ketakutan, lututnya tanpa sadar gemetar hebat. Ia merasa seperti sebutir debu yang berdiri di hadapan matahari. Keyakinannya sebagai ahli bela diri Alam Bumi runtuh seketika.
Lin Tian melangkah keluar dari pilar cahaya emas. Aura di sekujur tubuhnya telah mengembun, membentuk proyeksi bayangan seekor naga emas raksasa yang meliuk-liuk di belakangnya. Sisik tembaga di kulitnya kini terlihat dengan jelas. Ia tidak lagi terlihat seperti manusia, melainkan inkarnasi dewa perang sejati.
“Kau ingin melihat jurang pemisah yang sesungguhnya, anjing tua?” Lin Tian berbicara, suaranya kini tumpang tindih dengan gema naga, berat dan mengguncang langit. “Biar kutunjukkan padamu apa arti dari keputusasaan.”
BUM!
Lin Tian menghilang. Bahkan kecepatan Alam Bumi milik Mo Jian tidak mampu menangkap pergerakannya. Ia menembus ruang, muncul tepat di depan wajah Mo Jian dalam waktu nol koma sekian detik.
Ketakutan mutlak mencekik leher Mo Jian. Ia mencoba mengumpulkan Qi terakhirnya untuk bertahan, namun bayangan naga emas di belakang Lin Tian menatapnya, langsung menyegel aliran Qi di dalam tubuhnya karena teror garis keturunan.
Lin Tian mengayunkan tangan kanannya dengan gerakan santai, seolah mengusir lalat yang mengganggu. Punggung tangannya menghantam sisi wajah Mo Jian.
KRAAAAAAK!
Suara tulang tengkorak dan rahang yang remuk terdengar sangat nyaring. Setengah wajah Mo Jian melesak ke dalam. Gigi-giginya rontok berhamburan ke udara bercampur darah segar. Tubuh pria tua itu berputar di udara seperti gasing yang rusak, terbang melintasi arena dengan kecepatan mengerikan, dan menghantam tepat di tengah-tengah tribun kehormatan, menghancurkan kursi batu giok tempat Tuan Kota duduk beberapa saat sebelumnya.
Mo Jian terkapar di antara reruntuhan kayu dan batu, tidak bergerak. Lengan dan tulang rusuknya hancur. Napasnya hanya tersisa seutas benang halus. Ahli pedang dari Sekte Pedang Awan, sang dewa yang dipuja oleh kota ini, telah dihancurkan hingga tidak menyerupai manusia hanya dengan satu tamparan santai dari seorang pemuda Tingkat Penempaan Tubuh.
Alun-alun giok kembali dilanda kesunyian yang mengerikan, kali ini jauh lebih pekat dan mencekam. Tidak ada yang berani bernapas. Tidak ada yang berani berkedip. Mereka baru saja menyaksikan runtuhnya tatanan dunia yang mereka yakini selama puluhan tahun.
Lin Tian menarik kembali auranya. Bayangan naga emas memudar, dan cahaya di matanya perlahan kembali normal, meskipun kilatan emas tajam masih tersisa di pupilnya. Ia menghela napas panjang, menenangkan darahnya yang bergejolak. Tubuhnya terasa sedikit lelah setelah melepaskan fraksi kekuatan sejati dari Mutiara Naga, namun kepuasan dari dominasi mutlak itu sepadan.
Ia perlahan memutar tubuhnya, mengarahkan pandangannya ke sisa-sisa tribun kehormatan yang hancur berantakan. Mata emasnya yang sedingin es membidik satu sosok yang masih tersisa di sana.
Di sudut reruntuhan tribun, Zhao Meng’er duduk merosot di lantai. Pakaian sutra putih birunya kotor oleh debu dan cipratan darah Mo Jian. Wajahnya yang cantik tak tertandingi kini berubah bentuk karena teror mutlak. Matanya melotot lebar, bibirnya gemetar tak terkendali, dan air mata keputusasaan mengalir deras di pipinya. Dunia yang ia bangun dengan darah dan pengkhianatan baru saja runtuh di depan matanya sendiri.
Ia melihat sosok pemuda bertelanjang dada itu berjalan perlahan ke arahnya. Setiap langkah Lin Tian bergemuruh seperti lonceng kematian yang berdentang di dalam kepalanya.
TAP… TAP… TAP…
Lin Tian menaiki tangga tribun yang hancur. Orang-orang di sekitarnya—para tetua klan lain dan Tuan Kota—merangkak menyingkir, tidak berani berdiri di jalurnya, menyerahkan wanita itu sepenuhnya kepada sang iblis.
Lin Tian berhenti tepat dua langkah di depan Zhao Meng’er. Ia berdiri menjulang di atasnya, memandangnya persis seperti cara wanita itu memandangnya pada malam hujan badai sebulan yang lalu. Bedanya, tidak ada arogansi atau ejekan di wajah Lin Tian; hanya ada kekosongan abadi dari sebuah hukum karma yang tak terhindarkan.
“Tidak… tidak, Lin Tian… kumohon…” Zhao Meng’er merangkak maju, mengabaikan seluruh harga diri dan martabatnya, memeluk pergelangan kaki Lin Tian yang berlumuran darah musuh-musuhnya. Air matanya membasahi kaki pemuda itu. “Aku salah… aku khilaf… pikiranku dibutakan oleh janji-janji Sekte Pedang Awan! Aku mencintaimu, Lin Tian! Kau tahu aku mencintaimu! Kumohon, ampuni nyawaku… aku bersedia menjadi budakmu, pelayanmu, melayanimu seumur hidupku… apapun yang kau inginkan!”
Mendengar permohonan yang begitu memuakkan dari bibir wanita yang sama yang telah meracuninya tanpa ragu, hati Lin Tian bahkan tidak bergetar sedikit pun. Ia melihat wajah cantik yang mendongak menatapnya dengan penuh harap, namun yang ia lihat hanyalah tengkorak busuk yang tersembunyi di balik kulit yang halus.
Lin Tian mengangkat kakinya, menendang dada Zhao Meng’er dengan cukup kuat hingga wanita itu terhempas ke belakang sejauh dua meter, jatuh terlentang menabrak pilar yang retak.
“Cintamu adalah racun, Meng’er,” suara Lin Tian terdengar datar dan tenang, kontras dengan kengerian yang mengelilingi mereka. “Dan aku tidak mengoleksi barang rongsokan yang rusak untuk menjadi pelayanku.”
Zhao Meng’er terbatuk, wajahnya semakin pucat. Ia melihat tangan Lin Tian perlahan terangkat. Cahaya keemasan mulai memancar dari ujung jari pemuda itu, mengembun menjadi energi yang sangat tajam.
“T-Tunggu! Kau tidak bisa membunuhku! Aku adalah murid resmi Sekte Pedang Awan!” Zhao Meng’er menjerit, menggunakan kartu terakhirnya dengan histeris. “Jika kau membunuhku, sekte akan memburumu sampai ke ujung benua! Kau tidak akan pernah bisa tidur dengan tenang! Ayahku, Klan Zhao, juga tidak akan melepaskanmu!”
“Biarkan mereka datang. Jika sekte lurusmu turun dari gunung untuk membelamu, aku akan mendaki gunung itu dan membantai mereka semua, memusnahkan sekte itu dari muka Benua Cakrawala,” jawab Lin Tian dengan nada serius yang mematikan, tidak menganggap ancaman itu sebagai bualan kosong. “Lagipula, aku tidak berencana untuk membunuhmu dengan mudah, Meng’er. Kematian terlalu murah untuk membayar hutangmu.”
Mata Lin Tian menyipit. “Malam itu, kau memutus meridianku dan menghancurkan Dantianku untuk mencuri Qi bawaanku. Kau merampas masa depanku, meninggalkanku sebagai sampah yang cacat. Hukum rimba menuntut mata dibayar mata, darah dibayar darah. Hari ini, aku akan mengambil kembali apa yang kau curi, beserta seluruh masa depanmu.”
Zhao Meng’er melebarkan matanya saat menyadari maksud sebenarnya dari pemuda itu. Ketakutan yang jutaan kali lebih mengerikan daripada kematian menyergap jiwanya. Menjadi cacat di dunia persilatan adalah neraka tanpa dasar.
“TIDAAAAAK! LIN TIAN, KUMOHON—”
Sebelum ia bisa menyelesaikan jeritannya, sosok Lin Tian melesat. Tangan kanan pemuda itu yang memancarkan pendaran naga emas menghantam perut bagian bawah Zhao Meng’er, tepat di titik Dantiannya.
BUMMM!
“AARRRRRRGGGGHHHHH!”
Jeritan penderitaan paling memilukan yang pernah didengar oleh penduduk Kota Daun Musim Gugur merobek udara. Energi emas Lin Tian menembus kulit Zhao Meng’er, membakar dan menghancurkan pusat energinya dengan kejam. Tidak hanya itu, Qi Naga Surgawi yang masuk dengan beringas menyapu ke seluruh tubuhnya, secara paksa merobek dan memutus kesembilan meridian utama milik wanita itu dari dalam.
Darah segar menyembur dari mulut, hidung, dan telinga Zhao Meng’er. Tubuhnya kejang-kejang dengan hebat di lantai batu. Qi murni yang telah ia kumpulkan dengan susah payah, termasuk Qi bawaan milik Lin Tian yang ia curi sebulan lalu, bocor keluar dan lenyap tak berbekas disapu angin siang.
Dalam hitungan detik, wanita cantik yang ditakdirkan untuk terbang ke sembilan langit itu jatuh, hancur menjadi seonggok daging lumpuh tanpa setetes pun energi. Ia mengalami penyiksaan persis seperti yang ia berikan kepada Lin Tian, tanpa kurang sedikit pun.
Lin Tian menarik tangannya. Ia berdiri tegak, memandang tubuh cacat Zhao Meng’er yang tak sadarkan diri di bawah kakinya dengan tatapan hampa. Tidak ada sorak-sorai kemenangan di dalam hatinya, hanya sebuah kelegaan dingin karena satu rantai masa lalunya telah berhasil ia putuskan.
Ia membalikkan badan, melangkah menuruni puing-puing tribun kehormatan, membelakangi para tetua klan dan ribuan orang yang masih mematung dalam teror.
Di tepi arena, Bai Xue masih berdiri dengan tenang. Angin menyibakkan gaun putihnya. Mata biru dari Saintess Sekte Teratai Es itu menatap Lin Tian yang berjalan mendekatinya. Untuk pertama kalinya, sang Saintess menyadari bahwa pemuda yang ia temukan di Hutan Kematian ini bukan sekadar seorang jenius dengan fisik mengerikan. Ia adalah sebuah anomali mematikan yang tidak terikat oleh moralitas, hukum, atau belas kasihan palsu. Ia adalah iblis yang lahir dari penderitaan, yang ditakdirkan untuk mengguncang dan menghancurkan tatanan dunia ini.
“Urusanku di sini sudah selesai,” ucap Lin Tian saat ia berdiri di depan Bai Xue. Tidak ada setetes pun darah yang menempel di tubuhnya, namun aura kematian yang menyelimutinya sudah cukup untuk membuat siapa pun merinding.
Ia memandang ke arah gerbang kota yang terbuka lebar, mengarah ke dunia luar yang tanpa batas. Benua Cakrawala yang luas menantinya, dengan musuh yang lebih besar, intrik yang lebih dalam, dan legenda yang belum terukir.
“Ayo pergi,” kata Lin Tian singkat, suaranya kembali datar seperti biasa.
Tanpa menunggu jawaban, sang algojo yang baru saja menjatuhkan hukumannya berjalan melewati gerbang, meninggalkan Kota Daun Musim Gugur yang akan selama-lamanya mengingat namanya bukan sebagai pahlawan yang gugur, melainkan sebagai sang Tiran Naga yang tak tertandingi.