Bab 10: Tarian Darah di Ngarai Ratapan Angin dan Gerbang Baja Merah
Ngarai Ratapan Angin menjadi saksi bisu atas sebuah pembantaian yang melanggar segala hukum akal sehat di dunia persilatan. Angin yang berhembus menembus celah tebing batu kemerahan membawa serta bau anyir darah yang sangat pekat, menyapu potongan-potongan tubuh empat murid elite Sekte Pedang Awan yang tergeletak mengenaskan di atas tanah berdebu. Genangan darah meresap ke dalam tanah tandus, menciptakan pola-pola gelap yang mengerikan.
Diaken Ku Feng berdiri mematung. Mata tunggalnya yang biasanya memancarkan kekejaman dan arogansi kini dipenuhi oleh riak kewaspadaan yang luar biasa kental. Sebagai seorang veteran dari Balai Penegakan Hukum, tangannya telah mencabut nyawa ratusan kultivator. Ia pernah menghadapi seniman bela diri aliran sesat yang gila, binatang buas tingkat tinggi yang mengamuk, hingga pembunuh bayaran dari sekte bayangan. Namun, pemandangan di depannya saat ini benar-benar mengoyak kewarasannya.
Seorang pemuda di Alam Penempaan Tubuh Tingkat Kesembilan, memegang sebilah pedang baja biasa hasil rampasan, baru saja membelah empat ahli puncak Alam Pembentukan Qi dalam satu tebasan horizontal yang sederhana. Tidak ada teknik pedang tingkat tinggi. Tidak ada formasi yang rumit. Hanya kecepatan absolut, kekuatan fisik yang tidak masuk akal, dan aura penindasan yang membuat keempat murid itu membeku sesaat sebelum kematian menjemput mereka.
“Kau…” Suara Ku Feng bergetar, pedang hitam di tangannya memancarkan pendaran Qi berwarna perak gelap yang semakin pekat seiring dengan fluktuasi emosinya. “Tubuh fisikmu… pedang Qi murid-muridku bahkan tidak bisa menembus kulitmu. Ini bukan sekadar kekuatan bawaan. Kau telah menemukan warisan kuno tingkat dewa di Hutan Kematian!”
Mata Ku Feng tiba-tiba menyala oleh keserakahan yang buas. Ketakutannya seketika tertutupi oleh ambisi. Jika ia bisa membunuh pemuda ini dan membawa rahasia seni penempaan tubuh tersebut kembali ke sekte, posisinya tidak akan lagi hanya sekadar Diaken. Ia bisa menjadi Penatua Inti, bahkan mungkin dicalonkan sebagai Wakil Ketua Sekte!
“Warisan kuno atau bukan, di hadapan kekuatan Alam Bumi tingkat menengah, kau hanyalah seekor serangga yang sedikit lebih keras dari yang lain!” Ku Feng meraung, auranya meledak.
BUMMM!
Tanah di bawah kaki Ku Feng retak dan melesak. Angin puting beliung kecil yang terbuat dari energi pedang perak gelap terbentuk di sekeliling tubuhnya, mencabik-cabik bebatuan di sekitarnya menjadi debu halus. Ini adalah manifestasi dari Qi Sejati yang telah dimurnikan hingga tingkat menengah—jauh lebih padat, lebih tajam, dan lebih mematikan daripada yang dimiliki oleh Mo Jian.
Lin Tian tidak menjawab bualan pria paruh baya itu. Ia hanya memiringkan kepalanya, memutar pergelangan tangannya yang memegang pedang baja berlumuran darah. Di dalam tubuhnya, Mutiara Naga Surgawi berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Qi emas murni mengalir deras, melapisi kulitnya dengan pendaran tembaga yang semakin gelap dan solid.
SWUUUSH!
Ku Feng mengambil inisiatif menyerang. Ia tidak berani meremehkan Lin Tian dan bertarung jarak dekat seperti yang dilakukan murid-muridnya yang bodoh. Dengan tebasan pedang hitamnya dari jarak sepuluh meter, ia melepaskan tiga bilah bulan sabit raksasa yang terbuat dari Qi perak gelap. Bilah-bilah energi itu melesat membelah udara dengan suara lengkingan yang memekakkan telinga, memotong tanah di bawahnya dan menciptakan parit dalam yang mengarah lurus ke dada Lin Tian.
“Seni Pedang Badai Perak: Tiga Tebasan Pemutus Jiwa!”
Lin Tian menyipitkan mata emasnya. Ia bisa merasakan ketajaman mematikan dari ketiga bilah energi tersebut. Jika ia berada di tingkat kekuatan yang sama saat ia melawan Mo Jian, serangan ini mungkin akan memotong tulang rusuknya. Namun, ia baru saja menyerap Inti Ganda tingkat empat puncak semalam. Tubuh Sisik Naga Tembaga miliknya telah mencapai penguasaan awal.
Alih-alih menghindar, Lin Tian menjejakkan kakinya kuat-kuat, merendahkan kuda-kudanya, dan mengayunkan pedang baja rampasan di tangannya yang telah diselimuti oleh Qi Naga Surgawi yang membara.
“Hancur!” teriak Lin Tian.
TRAAAANG! TRAAANG! BUMMM!
Tebasan pedang baja Lin Tian bertabrakan langsung dengan tiga bilah Qi perak tersebut. Suara ledakan energi yang sangat memekakkan telinga bergema di seluruh penjuru ngarai. Gelombang kejut meruntuhkan sebagian tebing di sisi kanan mereka, menjatuhkan bongkahan batu raksasa ke dasar ngarai.
Lin Tian berhasil menghancurkan ketiga serangan mematikan itu murni dengan kekuatan otot dan tekanan Qi Naganya. Namun, material pedang baja biasa di tangannya tidak mampu menahan benturan energi tingkat tinggi. Dengan suara retakan yang menyedihkan, pedang baja itu hancur berkeping-keping, menyisakan hanya gagangnya di tangan Lin Tian.
Bersamaan dengan hancurnya pedang itu, sebuah garis luka tipis muncul di bahu kanan Lin Tian, merobek kulit tembaganya dan meneteskan beberapa tetes darah segar. Ketajaman Qi Alam Bumi tingkat menengah akhirnya berhasil melukai fisik monsternya, meskipun hanya luka superfisial yang sangat dangkal.
Melihat darah menetes dari tubuh Lin Tian, Ku Feng tertawa liar. “Hahaha! Kau berdarah, bocah! Tubuhmu tidak kebal! Tanpa senjata, kau tidak lebih dari seonggok daging yang menunggu untuk dipotong!”
Di kejauhan, Bai Xue yang menonton dari balik batu besar mengerutkan kening. Ia bersiap untuk merapal teknik esnya jika Lin Tian benar-benar terdesak. Namun, saat ia melihat wajah Lin Tian, kekhawatirannya menguap.
Pemuda itu menatap luka goresan di bahunya, lalu membuang gagang pedang yang rusak ke tanah. Alih-alih panik atau kesakitan, sebuah seringai iblis perlahan terbentuk di wajah tampannya. Senyuman itu memancarkan rasa haus darah yang sangat murni, seolah-olah tetesan darahnya sendiri telah membangkitkan insting predator tertingginya.
“Senjata?” Lin Tian mendengus pelan. Ia mengangkat kedua tangan kosongnya, mengepalkan tinjunya hingga persendiannya berbunyi gemeretak seperti meriam kecil. “Benda rapuh seperti itu hanya menahan potensiku. Senjata sejatiku adalah tubuh ini!”
BUM!
Tanah di tempat Lin Tian berdiri meledak. Pemuda itu melesat maju bagaikan peluru meriam emas, membelah jarak sepuluh meter dalam waktu kurang dari sekejap mata. Kecepatannya meninggalkan jejak vakum di udara yang bergemuruh keras di belakangnya.
Mata Ku Feng membelalak kaget. Ia tidak menyangka pemuda ini akan semakin beringas setelah terluka. “Mati kau!” Ku Feng memusatkan seluruh Qi peraknya ke pedang hitamnya dan menusukkannya lurus ke arah jantung Lin Tian yang menerjang maju, berniat menusuk sate pemuda itu.
Lin Tian tidak memperlambat lajunya sedikit pun. Tepat ketika ujung pedang hitam yang memancarkan Qi mematikan itu berjarak beberapa inci dari dadanya, tubuh Lin Tian meliuk dengan sudut yang sangat tidak wajar, membiarkan mata pedang itu menggores tipis sisi rusuknya. Mengabaikan luka kedua tersebut, Lin Tian telah sepenuhnya masuk ke dalam zona pertahanan jarak dekat Ku Feng.
“Apa?!” Ku Feng menjerit tertahan saat menyadari musuhnya telah berada dalam jarak jangkauan napasnya. Bagi seorang ahli pedang, membiarkan musuh fisik masuk sedekat ini adalah kesalahan fatal.
“Tinju Pemecah Batu!”
Tinju kanan Lin Tian yang bersinar keemasan menghantam dari bawah, mengincar tulang rusuk kiri Ku Feng.
Ku Feng bereaksi dengan insting bertahannya yang telah dilatih puluhan tahun. Ia memadatkan perisai Qi Bumi berlapis tiga di sisi kirinya.
KRAAAK! BUMMM!
Tiga lapis perisai Qi perak itu hancur berantakan bagaikan lembaran kaca yang dipukul palu godam. Tinju Lin Tian menghantam tulang rusuk Ku Feng dengan telak. Terdengar suara tulang patah yang mengerikan, diikuti oleh erangan kesakitan dari sang Diaken. Tubuh Ku Feng terlempar ke samping, memuntahkan seteguk darah segar.
Namun Ku Feng adalah ahli Alam Bumi tingkat menengah; daya tahan tubuhnya tidak selemah Mo Jian. Sambil terlempar di udara, ia memutar tubuhnya, menggunakan momentum tolakan untuk melayangkan tendangan sabit yang diselimuti pedang Qi ke arah leher Lin Tian.
Lin Tian mengangkat lengan kirinya untuk menangkis.
TRANG! Tendangan tajam itu menghantam lengan bertampang tembaga Lin Tian, menciptakan percikan api. Lengan Lin Tian hanya tergores tipis, sementara kaki Ku Feng terasa kebas seolah baru saja menendang gunung besi.
Pertarungan jarak dekat yang sangat brutal pun meletus di dasar ngarai. Kedua sosok itu berubah menjadi bayangan emas dan perak yang saling berbenturan dengan kecepatan kilat. Setiap benturan menghasilkan ledakan sonik yang menghancurkan dinding-dinding tebing. Bebatuan runtuh, debu beterbangan menutupi langit, mengubah Ngarai Ratapan Angin menjadi kuali penghancuran yang mematikan.
Ku Feng semakin lama semakin merasa putus asa. Pedang hitamnya telah menebas lengan, dada, dan punggung Lin Tian puluhan kali, namun sebagian besar tebasannya ditangkis dengan tangan kosong atau hanya meninggalkan luka goresan yang sembuh dengan sendirinya dalam hitungan detik. Regenerasi sel-sel kulit Lin Tian yang didorong oleh Mutiara Naga benar-benar tidak masuk akal. Di sisi lain, setiap pukulan atau tendangan Lin Tian yang mengenai Ku Feng terasa seperti hantaman meteor. Tulang rusuknya telah patah tiga, organ dalamnya bergetar hebat, dan Qi sejati di Dantiannya mulai menunjukkan tanda-tanda kehabisan.
“Monster… dia benar-benar monster yang tak bisa dibunuh!” batin Ku Feng yang kini dipenuhi oleh kengerian absolut. Keringat dingin bercampur darah menutupi wajahnya. Ia menyadari jika pertarungan adu ketahanan ini dilanjutkan, ia akan dipukuli hingga menjadi pasta daging.
Ia harus menyelesaikan ini dengan satu serangan pamungkas.
Dalam sebuah benturan, Ku Feng meminjam gaya tolak untuk melompat mundur sejauh dua puluh meter, menjaga jarak yang aman. Napasnya terengah-engah, matanya memerah karena gila. Ia menggigit ujung lidahnya dan menyemburkan seteguk darah esensinya ke atas bilah pedang hitamnya.
“Bocah iblis! Aku akan membakar sepuluh tahun umurku untuk mengirimmu ke neraka!” raung Ku Feng.
Pedang hitam yang menyerap darah esensi itu tiba-tiba membesar, menciptakan proyeksi pedang raksasa setinggi sepuluh meter yang memancarkan aura hitam pekat bercampur perak. Aura kematian yang luar biasa pekat menyelimuti ngarai. Bebatuan di sekitar Ku Feng meleleh menjadi pasir karena tekanan ekstrem dari serangan terlarang ini.
“Seni Terlarang Sekte Pedang Awan: Pedang Pemusnah Surga!”
Dengan kedua tangan menggenggam pedang aslinya, Ku Feng mengayunkan proyeksi pedang raksasa itu ke arah Lin Tian. Langit di atas ngarai seolah terbelah. Bayangan pedang itu turun dengan kecepatan yang lambat namun membawa otoritas penguncian ruang, membuat Lin Tian tidak memiliki celah sedikit pun untuk menghindar.
Melihat serangan pamungkas yang bisa menghancurkan setengah gunung itu meluncur ke arahnya, Lin Tian tidak mundur selangkah pun. Ia berdiri tegak dengan kaki terbuka sebahu. Ia mengambil napas dalam-dalam, menarik seluruh udara di sekitarnya hingga paru-parunya membusung.
Mata Lin Tian berubah menjadi sepenuhnya emas bercahaya. Di dalam perutnya, Mutiara Naga Surgawi berputar hingga mencapai batas maksimalnya, melepaskan seluruh cadangan Qi Naga yang telah ia kumpulkan. Cahaya emas menyilaukan meledak dari tubuh pemuda itu, menerangi ngarai yang redup bagaikan fajar menyingsing di tengah malam.
Aura naga emas raksasa kembali terbentuk di belakang punggung Lin Tian, kali ini jauh lebih padat, lebih nyata, dan memancarkan tekanan absolut sang kaisar langit.
“Menghancurkan surga?” Lin Tian tersenyum buas, memamerkan gigi-giginya yang putih berkilau. “Di hadapanku, bahkan surga pun harus berlutut!”
Lin Tian menarik tangan kanannya ke belakang. Seluruh proyeksi naga emas itu menyusut dengan cepat dan mengembun, masuk sepenuhnya ke dalam kepalan tangannya. Tinjunya kini memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan hingga tidak bisa ditatap oleh mata telanjang, membawa kekuatan kompresi yang bisa meremukkan ruang.
Saat ujung pedang raksasa berwarna hitam perak itu berjarak satu jengkal dari dahinya, Lin Tian melemparkan pukulannya lurus ke atas, menghantam langsung mata tajam pedang tersebut.
BLAAAARRRRRRRGGGHHH!
Sebuah ledakan cahaya yang membutakan meletus. Suara benturan yang luar biasa keras membuat gendang telinga siapa pun yang mendengarnya hampir pecah. Gelombang kejut yang tercipta meratakan dinding tebing di kedua sisi ngarai sejauh seratus meter, mengubah lanskap lembah itu menjadi tanah datar berbatu dalam sekejap.
Di tengah badai energi yang mengamuk, sebuah pemandangan mengerikan tersaji. Tinju emas Lin Tian tidak hancur oleh pedang raksasa tersebut. Sebaliknya, kekuatan pukulan yang membawa penindasan sang Kaisar Naga Surgawi itu menahan laju pedang raksasa Ku Feng di udara.
Hanya sedetik kemudian, jaring-jaring retakan mulai muncul di ujung pedang Qi perak hitam itu. Retakan tersebut menjalar dengan sangat cepat hingga ke gagangnya.
“T-TIDAAAKKK!” jerit Ku Feng dengan mata membelalak penuh keputusasaan saat melihat serangan pamungkas yang ia bayar dengan esensi kehidupannya sendiri mulai hancur.
PRANG!
Proyeksi pedang raksasa itu meledak menjadi jutaan serpihan cahaya yang memudar di udara. Momentum pukulan Lin Tian tidak terhenti sampai di situ. Pemuda itu menghentakkan kakinya, melesat menembus pecahan cahaya tersebut layaknya panah dewa, dan muncul tepat di hadapan Ku Feng yang kini sama sekali tidak berdaya.
Sebelum sang Diaken bisa memohon ampun, tangan kanan Lin Tian melesat ke depan, menembus perisai Qi terakhir Ku Feng seperti merobek selembar kertas basah, lalu menancap lurus ke tengah dada pria paruh baya itu.
CRAT!
Tubuh Ku Feng menegang kaku. Mata tunggalnya menunduk, menatap dengan tidak percaya pada lengan bertampang tembaga yang kini bersarang di dalam rongga dadanya. Tangan Lin Tian telah mencengkeram jantungnya yang masih berdetak.
“Di kehidupanmu selanjutnya, ingatlah untuk tidak memprovokasi naga yang sedang tidur,” bisik Lin Tian dingin di telinga sang Diaken.
Jari-jari Lin Tian meremas dengan kejam. Jantung Ku Feng hancur menjadi bubur darah. Kehidupan seketika meninggalkan mata pria itu, mengubahnya menjadi mayat yang tak bernyawa.
Lin Tian menarik tangannya keluar secara kasar, membiarkan tubuh Diaken dari Sekte Pedang Awan itu ambruk ke tanah berbatu. Darah segar menetes dari jari-jari Lin Tian, namun matanya tidak memancarkan rasa bersalah sedikit pun. Ia berdiri di tengah reruntuhan ngarai, menginjak mayat ahli Alam Bumi tingkat menengah, menegaskan posisinya sebagai penguasa mutlak dalam pertarungan ini.
Namun, pekerjaan Lin Tian belum selesai. Mayat seorang ahli Alam Bumi adalah harta karun energi yang tidak ternilai harganya bagi Seni Kaisar Naga Surgawi. Qi sejati yang mulai menguap dari tubuh Ku Feng adalah nutrisi murni yang jauh lebih kuat daripada inti monster biasa.
Lin Tian segera duduk bersila tepat di samping mayat Ku Feng. Ia mengabaikan luka-luka gores di tubuhnya yang perlahan menutup dengan sendirinya. Ia menutup matanya dan langsung mengaktifkan Mutiara Naga Surgawi. Daya hisap yang luar biasa brutal meledak dari dalam Dantiannya.
Energi Qi perak yang hendak buyar ke alam liar ditarik secara paksa kembali, mengalir deras melalui pori-pori kulit Lin Tian. Energi Alam Bumi itu sangat padat dan memiliki sifat melawan, namun di hadapan dominasi mutlak Qi Naga Surgawi, perlawanan itu dihancurkan dalam hitungan detik. Energi tersebut dimurnikan, diubah menjadi Qi alam murni yang mengalir bagaikan sungai besar ke dalam meridian Lin Tian, mengisi kekosongan Dantiannya dan memadatkan fondasi penempaan tubuhnya hingga ke titik ekstrem absolut.
Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Lin Tian untuk mengisap mayat Ku Feng hingga kering dari segala energi spiritual. Ia membuka matanya dan menghela napas panjang. Udara yang ia hembuskan melesat seperti anak panah putih yang melubangi batu di depannya.
“Hampir… hanya kurang sedikit dorongan lagi untuk memadatkan pusaran Qi dan menembus Alam Pembentukan Qi,” gumam Lin Tian, mengepalkan tinjunya dengan rasa puas. Pertarungan ini tidak sia-sia.
Bai Xue melangkah keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan mendekat. Gaun putihnya tetap bersih tak ternoda meskipun debu pertempuran bertebaran di mana-mana berkat perlindungan aura esnya. Ia menatap mayat Ku Feng, lalu beralih menatap pemuda buas di depannya dengan tatapan yang rumit.
“Kau benar-benar membunuhnya,” kata Bai Xue pelan. “Seorang Diaken Penegak Hukum dari Sekte Pedang Awan terbunuh di tangan seorang kultivator Alam Penempaan Tubuh. Jika cerita ini sampai ke dunia persilatan, orang-orang akan mengira pendongengnya sudah gila.”
“Sejarah selalu ditulis oleh mereka yang menang,” jawab Lin Tian sambil bangkit berdiri. Ia membungkuk ke arah mayat Ku Feng, melepaskan cincin perak kecil yang melingkar di jari telunjuk sang Diaken. Itu adalah Cincin Spasial, artefak penyimpanan yang sangat berharga yang hanya dimiliki oleh para tetua atau murid sekte berstatus tinggi.
Normalnya, sebuah cincin spasial memiliki tanda jiwa (soul mark) dari pemiliknya. Jika orang lain mencoba membukanya, cincin itu akan meledak atau menghancurkan isinya. Namun Lin Tian tidak peduli dengan aturan tersebut. Ia mengalirkan Qi Naga Surgawi ke dalam cincin itu. Energi emas yang mendominasi itu dengan kasar menghapus sisa-sisa jiwa Ku Feng dalam sekejap, membuat cincin itu menjadi artefak tanpa tuan.
Lin Tian memasukkan kesadarannya ke dalam ruang penyimpanan cincin tersebut. Ruangannya berukuran sekitar sepuluh meter persegi. Di dalamnya terdapat tumpukan pakaian cadangan, beberapa botol pil penyembuh tingkat menengah, pedang cadangan, dan yang paling penting: setumpuk batu berkilau yang memancarkan energi alam yang sangat padat.
“Tiga ribu Batu Spiritual tingkat rendah, dan lima puluh Batu Spiritual tingkat menengah,” Lin Tian tersenyum tipis, mentransfer cincin itu ke jarinya sendiri. “Anjing-anjing dari sekte besar memang sangat kaya. Ini akan menjadi modal yang cukup bagus untuk kita di pelelangan nanti.”
Selain cincin Ku Feng, Lin Tian juga melucuti kantong penyimpanan dari empat mayat murid elit lainnya, mengumpulkan tambahan beberapa ratus batu spiritual dan beberapa ramuan obat. Di dunia Jianghu, merampas harta musuh yang terbunuh adalah hal yang sangat lumrah. Mayat tidak membutuhkan kekayaan.
“Ayo,” Lin Tian mengalihkan pandangannya dari arena pembantaian itu, menatap lurus ke arah barat laut, menembus sisa-sisa debu yang masih melayang di udara. “Bau darah ini akan segera menarik perhatian binatang buas atau mungkin kelompok pengejar lainnya. Kita tidak boleh membuang waktu.”
Keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini, tidak ada lagi gangguan atau pengejaran. Tampaknya, kematian satu tim elit yang dipimpin oleh seorang Diaken telah memberikan pukulan telak yang membuat Sekte Pedang Awan harus mengkonsolidasikan ulang rencana pengejaran mereka, memberi Lin Tian dan Bai Xue ruang untuk bernapas.
Tiga hari perjalanan tanpa henti melewati wilayah gersang berlalu dengan cepat. Lin Tian, dengan staminanya yang tak terbatas, memimpin di depan, sementara Bai Xue dengan teknik pergerakan ringannya yang elegan mengikuti tanpa tertinggal sedikit pun. Sepanjang jalan, mereka hanya berhenti sejenak untuk memakan daging panggang dari binatang buas yang berani menghalangi jalan Lin Tian, yang semuanya berakhir menjadi nutrisi tambahan bagi pemuda tersebut.
Pada sore hari ketiga, lanskap di sekitar mereka mulai mengalami perubahan drastis. Tanah yang sebelumnya berwarna cokelat kemerahan kini berubah menjadi hitam legam seperti bekas terbakar. Udara terasa jauh lebih panas, kering, dan dipenuhi oleh bau belerang yang menyengat serta aroma asap penempaan logam.
Di ujung cakrawala, di balik sebuah kawah gunung berapi raksasa yang telah lama mati, sebuah tembok kota berwarna merah darah menjulang sangat tinggi, menyentuh awan abu-abu di langit. Tembok itu tidak terbuat dari batu bata biasa, melainkan dari campuran bijih besi merah dan baja yang ditempa langsung dari magma bawah tanah.
Itulah Kota Baja Merah, surga bagi para buronan, pasar gelap terbesar di wilayah perbatasan, dan pusat perputaran harta karun gelap di Benua Cakrawala.
Di depan gerbang gerbang baja raksasa yang terbuka lebar, ribuan orang mengantre untuk masuk. Pemandangannya sangat kontras dengan kota-kota lurus seperti Kota Daun Musim Gugur. Di sini, Lin Tian melihat para pemburu monster dengan bekas luka mengerikan, kultivator jubah hitam yang memancarkan aura racun, prajurit bayaran berwajah beringas yang membawa senjata berlumuran darah kering, dan pedagang licik yang dikawal oleh penjaga bersenjata berat.
Para penjaga gerbang Kota Baja Merah mengenakan zirah besi berduri yang menakutkan. Mereka tidak menanyakan identitas atau sekte asal; mereka hanya memungut biaya masuk sebesar lima batu spiritual tingkat rendah per orang. Siapa pun yang memiliki uang, bebas memasuki kota dosa ini.
“Kita telah sampai,” gumam Bai Xue dari balik cadarnya, menatap gerbang raksasa itu dengan sedikit kewaspadaan. Meskipun ia dari sekte lurus, ia tahu bahwa di kota ini, identitasnya sebagai Saintess tidak akan memberikan perlindungan apa pun, bahkan mungkin akan memancing bahaya yang lebih besar jika ketahuan. “Ingat kesepakatan kita, Lin Tian. Jangan memancing masalah yang tidak perlu dengan faksi bawah tanah kota ini. Tujuan kita hanya pelelangan.”
Lin Tian menatap hiruk-pikuk manusia liar di depan gerbang dengan senyum tipis yang penuh antisipasi. Ia bisa merasakan fluktuasi energi dari banyak ahli bela diri kuat yang tersembunyi di kerumunan tersebut. Tempat yang penuh kekacauan dan tanpa hukum ini adalah habitat alami bagi seorang tiran yang sedang membangun jalannya.
“Selama mereka tidak menghalangi langkahku mencari sumber daya,” jawab Lin Tian datar, melangkah maju membelah kerumunan. “Aku tidak akan repot-repot mematahkan leher mereka. Mari kita lihat kejutan apa yang disembunyikan oleh kota ini untuk kita.”