Bab 17: Labirin Kabut Biru dan Jerat Sang Predator

Ukuran:
Tema:

Hutan Ilusi Seribu Wajah tidak menyambut tamunya dengan nyanyian burung atau gemerisik dedaunan yang menenangkan. Sebaliknya, saat langkah pertama Lin Tian dan Bai Xue melewati batas pepohonan berbatang ungu gelap, sebuah keheningan absolut yang mencekik langsung menelan mereka. Kabut biru pekat yang sedari tadi terlihat mengambang di kejauhan kini menyelimuti setiap inci pandangan, membatasi jarak penglihatan hingga kurang dari sepuluh langkah. Udara terasa lembap, dingin, dan membawa aroma manis yang memuakkan, menyerupai wangi bunga bangkai yang mekar di tengah malam.

Pepohonan raksasa di sekeliling mereka memiliki bentuk yang tidak wajar. Akar-akarnya mencuat dari tanah berbatu seperti jari-jari tangan manusia yang sedang meronta kesakitan, sementara guratan pada kulit kayunya secara kebetulan—atau mungkin sengaja—membentuk pola yang menyerupai wajah-wajah manusia yang sedang menjerit tertahan.

Lin Tian berjalan di depan, topi bambunya telah ia lepaskan dan simpan kembali ke dalam cincin spasial. Di tempat yang dipenuhi oleh ilusi dan bahaya tersembunyi ini, ia membutuhkan pandangan yang tidak terhalang. Matanya yang hitam legam kini memancarkan kilatan emas murni secara konstan, menggunakan ketajaman penglihatan Naga Surgawi untuk menembus lapisan kabut biru yang menyesatkan.

Di belakangnya, Bai Xue melangkah dengan sangat hati-hati. Gaun putih dan jubah peraknya memancarkan pendaran cahaya biru pucat. Ia secara aktif mengalirkan energi Yin dari Dantiannya, menciptakan sebuah domain es tipis dalam radius dua meter di sekeliling tubuhnya. Embun beku itu berfungsi sebagai filter, membekukan dan menjatuhkan partikel-partikel kabut beracun sebelum sempat terhirup oleh mereka berdua.

“Kabut ini bukanlah fenomena alam biasa,” Bai Xue memecah keheningan yang menekan, suaranya dikirim melalui transmisi Qi agar tidak memancing makhluk yang mungkin bersembunyi di kegelapan. “Ini adalah Miasma Ilusi. Ia bereaksi terhadap fluktuasi emosi dan Qi dari makhluk hidup. Semakin kuat ketakutan, keserakahan, atau penyesalan di dalam hati seseorang, semakin tebal kabut ini akan mengikat pikiran mereka, menjerumuskan mereka ke dalam labirin mental hingga mereka mati kelaparan atau saling membunuh.”

“Sebuah formasi pembunuhan alami berskala raksasa,” Lin Tian mengangguk pelan, mengulurkan tangannya untuk menyentuh kabut biru tersebut.

Begitu ujung jarinya bersentuhan dengan kabut yang lebih pekat, Lin Tian bisa merasakan sebuah energi asing yang sangat halus mencoba merayap masuk melalui pori-pori kulitnya, mengincar pusat kesadarannya. Energi itu seperti bisikan ribuan iblis yang menjanjikan kekuasaan tanpa batas dan menggoda kelemahan jiwanya. Namun, sebelum energi ilusi itu bisa mencapai otaknya, Mutiara Naga Surgawi di dalam Dantiannya berputar dengan angkuh.

Satu dengungan purba meledak di dalam tubuh Lin Tian. Qi Naga Surgawi yang berwarna emas membakar energi ilusi itu hingga tak bersisa, mengubahnya menjadi untaian asap putih yang keluar dari hidungnya.

“Trik murahan,” Lin Tian mendengus sinis. Seringai arogansinya kembali muncul. “Naga sejati tidak pernah menundukkan kepalanya pada realitas palsu. Kabut ini mungkin bisa membingungkan manusia fana, tapi di hadapanku, ia tidak lebih dari sekadar uap air yang kotor.”

Bai Xue menatap punggung tegap pemuda itu dengan perasaan campur aduk. Ia menyadari bahwa rahasia di balik seni kultivasi Lin Tian jauh lebih menakutkan dari apa yang ia bayangkan. Miasma Ilusi ini diketahui mampu menjebak bahkan ahli Alam Langit sekalipun jika hati mereka tidak murni, namun bagi Lin Tian, ilusi itu dihancurkan secara instan murni oleh arogansi dan dominasi garis keturunannya.

Mereka terus melangkah masuk lebih dalam. Setelah sekitar satu jam perjalanan, tanah yang mereka pijak mulai dipenuhi oleh tulang belulang. Beberapa tulang tampak sudah sangat tua dan lapuk, sementara yang lain masih menyisakan potongan daging yang membusuk dan sisa-sisa pakaian dari berbagai sekte. Ini adalah nisan tanpa nama bagi para kultivator serakah yang mencoba menjarah Makam Kuno namun berakhir menjadi santapan hutan.

Tiba-tiba, langkah Lin Tian terhenti. Telinganya yang sangat peka menangkap sebuah suara yang sangat familier.

“Tian’er… tolong ayah… lepaskan ayah…”

Suara itu terdengar parau, menyayat hati, dan penuh penderitaan. Lin Tian menoleh ke arah kanan. Di balik tirai kabut biru, sebuah bayangan perlahan terbentuk. Sosok itu adalah Lin Kuang, ayahnya yang merupakan Kepala Klan Lin. Pria paruh baya itu tampak terikat pada sebuah pilar kayu yang terbakar, kulitnya melepuh, dan matanya menatap Lin Tian dengan penuh penyesalan.

“Tian’er… ayah salah karena telah mengabaikanmu… ayah salah membiarkan Zhao Meng’er meracunimu… kumohon, selamatkan ayah dari api neraka ini!” bayangan itu meratap, mengulurkan tangan yang hangus ke arah Lin Tian.

Di saat yang sama, dari arah kiri, suara tawa wanita yang sangat merdu namun berbisa mengalun di udara. Kabut menipis, memperlihatkan Zhao Meng’er yang mengenakan gaun pengantin berwarna merah darah. Ia berjalan anggun mendekati Lin Tian, memegang sebuah pil emas yang memancarkan cahaya surgawi.

“Lin Tian, cintaku… lupakan semua dendam itu,” suara Zhao Meng’er mengalun seperti melodi hipnotis. “Aku telah menyadari kesalahanku. Sekte Pedang Awan memberiku pil keabadian ini. Mari kita telan bersama, dan kita akan menjadi sepasang dewa bela diri yang menguasai benua ini. Tidak perlu ada lagi darah yang tumpah.”

Bai Xue yang berdiri di belakang Lin Tian mengerutkan kening. Ia juga bisa melihat proyeksi ilusi tersebut. Miasma di area ini telah mencapai tingkat kepadatan yang luar biasa, mampu memproyeksikan memori terdalam korban menjadi bentuk semi-fisik. Ia bersiap mengalirkan Qi esnya untuk membantu Lin Tian melepaskan diri dari jerat ilusi emosional tersebut. Ia tahu persis bahwa pengkhianatan klan dan tunangannya adalah luka batin paling fatal yang dimiliki pemuda itu.

Namun, reaksi Lin Tian jauh di luar ekspektasi manusia normal mana pun.

Alih-alih terhanyut dalam kemarahan, kesedihan, atau keraguan, Lin Tian justru tertawa terbahak-bahak. Tawanya menggelegar keras, memecah keheningan hutan yang menyeramkan itu, dipenuhi oleh rasa geli yang luar biasa sinis dan mematikan.

“Hutan yang bodoh,” Lin Tian menggelengkan kepalanya perlahan, matanya yang keemasan menatap proyeksi ayahnya dan Zhao Meng’er secara bergantian. “Jika kau ingin menggunakan ilusi untuk menjebakku, setidaknya gunakan sesuatu yang bisa membuatku takut. Air mata penyesalan dari orang tua munafik dan janji manis dari seorang pelacur pengkhianat? Kau hanya membuatku merasa jijik!”

BUMMM!

Lin Tian tidak menggunakan pedang. Ia hanya mengepalkan tinjunya dan melepaskan pukulan lurus ke udara kosong di depannya.

Pusaran Naga di Dantiannya meletupkan Qi keemasan yang luar biasa brutal. Gelombang kejut dari pukulan itu membentuk proyeksi kepala naga emas yang melesat ke depan, merobek Miasma Ilusi dengan paksa. Bayangan Lin Kuang dan Zhao Meng’er seketika hancur berkeping-keping seperti cermin yang pecah dihantam palu godam. Kabut biru dalam radius seratus meter tersapu bersih, mengekspos pemandangan asli hutan yang kelam.

“Di kehidupan ini, tidak ada satu pun ilusi, iblis, atau dewa yang bisa menggunakan masa laluku untuk melukaiku,” raung Lin Tian ke arah langit yang tertutup kanopi ungu. “Kelemahanku telah mati di malam hujan badai itu!”

Bai Xue menatap pemuda itu dengan rasa kagum yang tak bisa disembunyikan. Mentalitas Lin Tian telah ditempa menjadi berlian yang tak tergores. Pemuda ini bukan sekadar bertahan dari masa lalunya, ia telah menginjak-injak masa lalunya sendiri untuk mendaki singgasana keangkuhan.

Namun, sapuan energi dari pukulan Lin Tian tidak hanya menghancurkan ilusi, tetapi juga memicu reaksi berantai dari ekosistem mematikan Hutan Seribu Wajah.

“RRAAARRRGGHH!”

Sebuah raungan buas yang bukan berasal dari ilusi meledak dari balik reruntuhan pepohonan yang tumbang akibat pukulan Lin Tian. Tiga pasang mata berwarna merah menyala muncul dari kegelapan. Tanah bergetar saat tiga ekor binatang buas berukuran raksasa melompat keluar, mendarat dengan berat di depan mereka.

Itu adalah Serigala Kabut Berwajah Manusia. Binatang buas spiritual tingkat tiga puncak yang sangat ditakuti. Tubuh mereka sebesar kerbau dewasa, diselimuti bulu berwarna perak pudar yang terus-menerus mengeluarkan Miasma beracun. Namun, fitur paling mengerikan dari monster ini adalah wajah mereka; bukannya moncong serigala biasa, mereka memiliki struktur tulang wajah yang sangat mirip dengan manusia yang sedang menyeringai gila, lengkap dengan deretan taring setajam silet.

“Mereka tertarik oleh fluktuasi Qi-mu,” Bai Xue memperingatkan, perlahan memadatkan dua bilah pedang es tipis di kedua tangannya. Meskipun ia masih menghindari pertarungan besar, menghadapi binatang buas tingkat tiga bukanlah masalah bagi fondasinya yang telah pulih ke Alam Bumi. “Serigala ini berburu dalam kelompok dan menggunakan ilusi kabut dari bulu mereka untuk mengacaukan koordinasi mangsa. Biarkan aku yang menangani—”

“Tidak perlu,” potong Lin Tian dengan cepat. Ia mengangkat tangannya, mencegah Bai Xue maju. Seringai kejam yang familier kembali menghiasi wajah tampannya. “Sejak menembus Alam Pembentukan Qi, otot-ototku terasa gatal. Ketiga anjing jelek ini datang di waktu yang sangat tepat untuk peregangan.”

Lin Tian tidak menghunus senjata. Ia melangkah maju dengan tangan kosong. Ketiga Serigala Kabut Berwajah Manusia itu merasakan arogansi mangsanya. Merasa diremehkan, serigala yang berada di tengah—sang pemimpin kawanan—melolong panjang. Dari mulutnya, semburan kabut biru pekat yang mengandung racun saraf korosif melesat ke arah Lin Tian bagaikan panah raksasa.

Dua serigala lainnya menggunakan kesempatan dari semburan kabut itu untuk melesat dari sisi kiri dan kanan, kecepatan mereka meninggalkan jejak bayangan buram. Cakar mereka yang memancarkan energi atribut angin siap untuk memotong Lin Tian menjadi tiga bagian.

“Terlalu lambat.”

Di mata emas Lin Tian, pergerakan serangan kombinasi itu terlihat seperti pertunjukan gerakan lambat yang konyol. Ia tidak mundur untuk menghindari kabut beracun tersebut. Sebaliknya, ia mengambil napas dalam-dalam. Mutiara Naga di dalam tubuhnya berputar.

Lin Tian menghembuskan napas dengan kuat.

ROAAAARRRR!

Sebuah raungan naga sungguhan yang bercampur dengan gelombang suara Qi emas meledak dari mulut Lin Tian. Gelombang suara yang membawa arogansi raja binatang buas itu tidak hanya meniup balik kabut beracun tersebut, tetapi juga menghancurkan tanah di sekitarnya.

Pemimpin serigala yang menyemburkan kabut itu langsung terlempar ke belakang, gendang telinganya pecah, dan darah mengalir dari mata, hidung, dan mulut manusianya. Tekanan garis keturunan naga secara langsung menghancurkan mental binatang buas tingkat tiga tersebut.

Serigala di sisi kiri yang hendak mencakar Lin Tian mendadak membeku di udara karena teror instingtual. Itu adalah kesalahan fatal. Tangan kanan Lin Tian yang telah diselimuti oleh Tubuh Sisik Naga Tembaga melesat secepat kilat, mencengkeram rahang atas dan bawah serigala itu saat monster itu masih melayang di udara.

Dengan satu gerakan tarikan yang sangat brutal dan tanpa ampun, Lin Tian mengerahkan kekuatan fisiknya yang mencapai puluhan ribu jin.

CRAAAAK… SRAAAT!

Suara robekan daging dan tulang yang memuakkan terdengar. Lin Tian merobek rahang serigala raksasa itu menjadi dua bagian hingga ke dadanya dalam satu tarikan paksa. Darah panas dan organ dalam langsung menyembur, mewarnai dedaunan di sekitar mereka menjadi merah pekat. Serigala pertama mati dengan cara yang sangat mengenaskan sebelum tubuhnya menyentuh tanah.

Serigala ketiga yang berada di sisi kanan menjadi gila karena rasa takut, namun insting membunuhnya mengambil alih. Ia menggigit lengan kiri Lin Tian dengan taring beracunnya secara telak.

TRANG!

Suara benturan logam bergema saat taring tajam serigala tingkat tiga puncak itu beradu dengan kulit tembaga Lin Tian. Taring-taring itu tidak hanya gagal menembus kulit, beberapa di antaranya justru patah karena tidak kuat menahan kekerasan fisik yang menyaingi baja ilahi tersebut.

Serigala itu melolong kesakitan, mencoba melepaskan gigitannya, namun tangan kiri Lin Tian dengan cepat mencengkeram tengkuk monster itu, menguncinya di tempat.

“Kau berani menggigit naga?” desis Lin Tian.

Tangan kanan Lin Tian mengepal, Qi emas memadat di ujung tinjunya, membentuk proyeksi palu godam energi. Ia menghantamkan tinjunya lurus ke arah punggung serigala tersebut.

BUMMM!

Tulang belakang serigala raksasa itu hancur berkeping-keping akibat pukulan yang membawa kompresi Alam Pembentukan Qi. Tubuh serigala itu ambles ke dalam tanah yang melesak sedalam satu meter, hancur menjadi tumpukan daging yang tidak bisa dikenali lagi.

Tersisa pemimpin serigala yang sedang berusaha bangkit dengan terhuyung-huyung akibat raungan naga sebelumnya. Melihat kedua rekannya dibantai dalam hitungan detik dengan cara yang paling biadab, serigala dengan wajah menyeringai itu tidak lagi menunjukkan seringaian. Wajah manusianya kini menampilkan ekspresi ketakutan yang absolut. Ia membalikkan badan, mencoba melarikan diri dengan menyelam kembali ke dalam kabut biru.

“Tidak ada yang selamat setelah menunjukkan taring padaku,” ucap Lin Tian datar.

Ia mengangkat tangan kanannya. Pusaran naga di Dantiannya menyalurkan Qi murni dalam jumlah besar. Berbeda dengan saat ia berlatih di air terjun, kali ini Lin Tian tidak menahan bentuk energinya. Qi emas melesat dari telapak tangannya, memadat dengan cepat di udara dan membentuk sebilah tombak panjang yang bercahaya keemasan. Tombak itu beresonansi dengan niat membunuh Lin Tian yang mengunci targetnya secara absolut.

Dengan satu lemparan kilat, tombak emas itu meluncur menembus udara, menembus kabut, dan melesat melampaui kecepatan suara.

JLEB!

Tombak itu menancap lurus dari punggung menembus dada pemimpin serigala yang sudah berlari sejauh lima puluh meter, lalu terus melaju dan memaku bangkai monster itu ke batang pohon raksasa. Monster itu tidak sempat mengeluarkan jeritan sebelum mati.

Pertarungan melawan tiga binatang buas tingkat tiga puncak berakhir dalam waktu kurang dari sepuluh kali tarikan napas. Bagi kultivator Alam Pembentukan Qi tingkat awal, ini adalah pencapaian yang mustahil. Namun, bagi Lin Tian, ini hanyalah pemanasan ringan.

Ia berjalan santai menuju mayat-mayat serigala tersebut, mencabut belati berburunya yang baru, dan dengan cekatan membedah dada mereka. Tiga buah Inti Monster berwarna biru kelabu yang memancarkan aura racun dan ilusi ia keluarkan. Energi liar dari inti tingkat tiga ini tidak lagi memberikan dorongan signifikan bagi kultivasinya setelah ia menyerap Akar Naga Darah, namun Seni Kaisar Naga Surgawi tidak pernah menolak nutrisi apa pun.

Lin Tian menelan ketiga inti monster itu bulat-bulat, membiarkan Mutiara Naga menghancurkan dan memurnikannya menjadi tambahan energi pasif untuk mempertebal meridiannya.

Bai Xue berjalan mendekat, gaun putihnya masih tak tersentuh oleh cipratan darah. Ia menatap pemuda buas di depannya yang sedang mengusap noda darah dari rahangnya. Saintess itu mengeluarkan selembar saputangan sutra putih bersulam benang perak dari lengan bajunya, menaburkannya dengan sedikit embun beku murni, dan mengulurkannya kepada Lin Tian.

“Seka wajahmu. Bau darah segar ini akan menarik predator yang lebih besar dari sekadar serigala ilusi,” kata Bai Xue dengan nada lembut, sebuah kontras yang mencolok dengan sisa-sisa pembantaian di sekitar mereka.

Lin Tian sedikit terkejut, namun ia menerima saputangan dingin itu dan menyeka pipinya. Sensasi dingin dari energi Yin milik Bai Xue terasa sangat menyegarkan, meredakan sedikit hawa panas agresif yang selalu mendidih di dalam darahnya setelah bertarung.

“Terima kasih,” balas Lin Tian singkat, mengembalikan saputangan itu yang kini bernoda merah.

Bai Xue tidak membuangnya. Ia melipatnya kembali dan menyimpannya. “Di Alam Pembentukan Qi, kekuatan fisikmu disokong oleh sirkulasi energi yang terus-menerus. Jika kau menghadapi musuh dari Alam Langit, pertarungannya tidak akan sesingkat ini. Mereka bisa terbang dan menyerang dari jarak jauh di luar jangkauan tanganmu.”

“Aku tahu,” Lin Tian mengangguk, matanya menatap ke arah puncak kanopi pepohonan yang gelap. “Itulah sebabnya aku butuh mangsa dari Alam Bumi atau Alam Langit untuk membedah rahasia mereka. Aku butuh teknik terbang atau pergerakan udara.”

Tepat saat Lin Tian mengucapkan kata-kata itu, indra naga surgawinya menangkap fluktuasi energi yang sangat besar dan terkoordinasi. Fluktuasi itu tidak berasal dari binatang buas, melainkan dari sekelompok ahli bela diri manusia yang sedang bergerak maju dengan formasi tempur, menghancurkan Miasma Ilusi dengan paksa menggunakan artefak penyapu kabut.

Jarak mereka sekitar lima mil di belakang, mengikuti jalur hancur yang sengaja ditinggalkan Lin Tian sejak mereka memasuki hutan.

“Pengejar kita,” ucap Lin Tian, seringainya kembali muncul, kali ini lebih dingin. “Mereka bergerak jauh lebih cepat dari yang kuduga. Dan mereka membawa anjing pelacak yang sangat baik.”

Bai Xue segera menutup matanya, memancarkan deteksi spiritualnya yang telah mencapai tingkat puncak Alam Bumi. Wajahnya di balik cadar sedikit menegang.

“Lima aura Alam Bumi tingkat menengah, tiga Alam Bumi tingkat akhir, dan satu… satu fluktuasi yang sangat dalam, menekan elemen alam di sekitarnya. Itu adalah aura Alam Langit tingkat awal,” Bai Xue membuka matanya, menatap Lin Tian dengan serius. “Itu pasti Penatua Inti dari Sekte Pedang Awan. Mereka membawa seluruh kekuatan eksekutor elit mereka. Di belakang mereka, aku juga merasakan rombongan dari Sekte Gunung Emas. Jin Wu pasti langsung melapor pada para pengawalnya setelah kau membiarkannya hidup.”

“Lebih dari selusin ahli Alam Bumi dan satu ahli Alam Langit,” Lin Tian menyilangkan lengannya, otaknya berputar dengan kecepatan kilat, menyusun simulasi pertempuran. Menghadapi barisan pasukan elit ini secara langsung dalam satu waktu adalah kebodohan. Bahkan dengan Tubuh Sisik Naga Tembaga dan pusaran Qi emasnya, ia akan tenggelam dalam hujan serangan senjata Qi sebelum bisa membunuh sang ahli Alam Langit.

“Kita harus menghindar dan masuk lebih dalam ke area Makam Kuno. Di sana, formasi kuno mungkin bisa memisahkan mereka,” saran Bai Xue, tangannya secara instingtual bersiap meraih pergelangan tangan Lin Tian untuk membawanya melayang pergi.

Namun, Lin Tian tetap diam di tempat. Ia memandang berkeliling, mengamati sisa-sisa Miasma Ilusi yang kembali menebal di sekitar mereka, menelan kembali jalan setapak, dan menciptakan labirin alami yang menyesatkan. Tumpukan tulang belulang berserakan, dan hawa dingin kematian sangat kental.

Sebuah ide gila, kejam, dan sangat jenius muncul di benak sang Tiran Naga.

“Menghindar? Melarikan diri?” Lin Tian tertawa pelan. “Tidak, Bai Xue. Itu bukan gayaku. Jika mereka datang bergerombol, maka kita akan memisahkan mereka dan menyembelih mereka satu per satu di dalam kegelapan ini.”

“Kau ingin menjadikan Hutan Ilusi ini sebagai medan perangmu? Mereka memiliki ahli Alam Langit, Lin Tian. Deteksi spiritualnya bisa menembus kabut ini dalam radius satu mil!” bantah Bai Xue, sedikit frustrasi dengan keangkuhan pemuda ini.

“Deteksi spiritual Alam Langit bisa menembus kabut biasa, tapi bagaimana jika kabut ini dipadatkan dan dicampur dengan aura ilusi dari serigala-serigala ini?” Lin Tian menunjuk mayat ketiga serigala yang telah ia bunuh.

Tanpa membuang waktu, Lin Tian menggunakan belatinya, dengan cepat menguliti ketiga serigala tersebut. Ia memotong kelenjar racun dan ilusi yang terletak di pangkal tenggorokan mereka. Dengan kendali Qi Pembentukan tingkat awal miliknya, ia menghancurkan kelenjar-kelenjar itu, mencampurnya dengan darah, dan menguapkannya secara paksa menggunakan panas dari Qi Naga Surgawinya.

Seketika, kabut biru di sekitar mereka bermutasi. Warnanya berubah menjadi ungu gelap, dan kepadatan ilusi serta racun di dalamnya melonjak hingga sepuluh kali lipat. Bau amis darah serigala menutupi aroma manusia mereka.

“Aku akan menggunakan darah dan jubahku yang sobek ini untuk membuat jejak palsu yang mengarah ke sarang Binatang Buas Ilusi tingkat empat yang kudeteksi beberapa mil di sebelah timur,” Lin Tian menjelaskan rencananya dengan cepat, suaranya sangat fokus dan mematikan. “Sementara mereka sibuk menghadapi monster raksasa atau tersesat dalam ilusi ganda ini, aku akan berburu di pinggiran formasi mereka. Kematian di dalam kabut ini tidak akan menghasilkan suara.”

Lin Tian menoleh ke arah Bai Xue, matanya yang tajam menembus cadar wanita itu. “Kau tetaplah di sini. Bekukan ruang kecil di sekitar pohon ini dengan domain Yin-mu agar deteksi mereka terhalang. Jangan keluar sampai aku kembali dengan kepala Penatua Alam Langit itu.”

“Kau memintaku untuk bersembunyi sementara kau melawan pasukan elit dari dua sekte raksasa sendirian?” Nada suara Bai Xue sedikit naik, harga dirinya sebagai Saintess merasa tertantang. “Aku adalah puncak Alam Bumi! Aku bukan beban!”

“Kau bukan beban,” Lin Tian melangkah maju, memegang kedua bahu Bai Xue. Sentuhannya kuat, namun tidak menyakiti. Ia menatap lurus ke dalam mata safir wanita itu. “Kau adalah kunci penyembuhanku. Pertarungan ini akan berdarah, dan aku mungkin akan terluka parah saat menghadapi Alam Langit. Aku butuh kau dalam kondisi puncak untuk menarikku dari ambang kematian jika perhitunganku meleset. Kepercayaan ini lebih berat dari sekadar pedang di medan perang, Bai Xue. Bisakah kau melakukannya?”

Bai Xue tertegun. Di balik arogansi dan kebrutalan absolut yang selalu ditunjukkan Lin Tian, pemuda ini baru saja menunjukkan kepercayaan yang sangat pragmatis dan telanjang kepadanya. Ia menyerahkan punggungnya, satu-satunya titik lemahnya, pada seorang wanita dari sekte ortodoks yang seharusnya menjadi musuh alaminya.

Jantung Bai Xue berdegup kencang. Ia menghela napas pelan, menganggukkan kepalanya dengan tegas.

“Aku mengerti,” jawab Bai Xue, suaranya kembali sedingin es namun dipenuhi oleh determinasi. “Pergilah berburu. Selama masih ada satu tarikan napas di tubuhmu, aku berjanji tidak akan membiarkan dewa kematian mengambilmu.”

“Itu yang ingin kudengar,” Lin Tian tersenyum lebar.

Pemuda itu melepaskan pegangannya. Ia merobek sisa ujung jubahnya yang terkena darah serigala, melemparkannya ke arah timur, dan melesat menembus kabut ungu tebal dengan kecepatan kilat, menghilang tanpa suara layaknya hantu pencabut nyawa. Di belakangnya, Bai Xue segera duduk bersila, energi es memancar dari tubuhnya, membentuk sebuah kepompong kristal es yang menyembunyikan eksistensinya secara total dari dunia luar.


Tiga mil dari posisi tersebut, Pasukan Pengejar Awan dari Sekte Pedang Awan melangkah maju dengan formasi panah.

Di ujung depan formasi, Penatua Inti Yun Jian—seorang pria paruh baya dengan jubah putih bersulam awan emas dan pedang giok hijau di punggungnya—berjalan dengan tangan di belakang punggung. Langkah kakinya bahkan tidak menyentuh tanah, ia melayang sekitar satu jengkal di atas rerumputan busuk, memancarkan aura Alam Langit tingkat awal yang menekan Miasma Ilusi hingga tidak berani mendekatinya.

Di sebelahnya, beberapa tetua Alam Bumi mengarahkan sebuah kompas perunggu yang jarumnya berputar dengan liar karena gangguan magnetik hutan.

“Penatua Yun,” lapor salah satu tetua Alam Bumi tingkat akhir. “Miasma di depan tiba-tiba menebal dan berubah warna menjadi ungu. Kompas pelacak darah kita kehilangan akurasi yang presisi, tapi fluktuasi darah iblis itu mengarah kuat ke sektor timur. Tampaknya ia terluka parah saat bertarung melawan binatang buas.”

Yun Jian mendengus dingin. Matanya memancarkan arogansi dan kebosanan. “Seekor semut kecil dari kota perbatasan, meminjam kekuatan iblis luar untuk membunuh anjing cacat Mo Jian dan Ku Feng, berani membuatku harus turun gunung secara pribadi. Ini adalah penghinaan bagi pedangku.”

Yun Jian memancarkan deteksi spiritualnya. Pikirannya menembus kabut ungu, namun ia segera mengerutkan kening. Kabut ini aneh. Ada energi penolakan yang sangat kuat yang mendistorsi persepsinya, membuatnya hanya bisa memindai bayangan-bayangan kabur dan fluktuasi Qi yang tidak menentu.

“Hati-hati, Penatua,” sahut seorang tetua dari Sekte Gunung Emas yang bergabung dengan rombongan mereka di barisan belakang. Mereka membawa Jin Wu yang wajahnya memar dan masih memendam dendam kesumat. “Iblis itu sangat licik. Kecepatannya tidak wajar. Dia mungkin menggunakan kabut ini untuk menyembunyikan diri.”

“Licik atau tidak, di hadapan kekuatan Alam Langit, semua trik adalah sampah,” balas Yun Jian dengan sombong. “Bagi pasukan menjadi tiga kelompok. Menyisir area dalam formasi jaring. Tetua Gunung Emas, kalian jaga sektor belakang. Jika kalian melihat bayangan hitam, jangan repot-repot bertanya, langsung tebas menjadi berkeping-keping. Aku ingin membawa kepalanya kembali ke sekte sebelum matahari terbenam.”

Perintah itu segera dilaksanakan. Belasan ahli Alam Bumi menyebar, membentuk formasi jaring yang sangat lebar menembus kabut ungu tersebut. Mereka menghunus pedang mereka, melepaskan Qi sejati yang menerangi kegelapan hutan.

Namun, yang tidak mereka ketahui adalah bahwa di atas dahan salah satu pohon ungu raksasa, tersembunyi dengan sempurna oleh dedaunan gelap dan aura Mutiara Naga yang menyembunyikan detak jantungnya, sang Tiran Naga sedang menatap mereka ke bawah dengan sepasang mata emas yang membara.

Lin Tian mengamati formasi yang menyebar itu. Jaring itu kuat di tengah, tapi lemah di pinggiran. Tepat seperti yang ia harapkan dari sekte arogan yang meremehkan musuhnya.

Pandangannya terkunci pada dua tetua Alam Bumi tingkat menengah dari Sekte Pedang Awan yang terpisah paling jauh di sektor kanan belakang, berjalan menembus kabut tebal yang sengaja ia manipulasi sebelumnya.

“Satu per satu,” bisik Lin Tian di dalam hatinya, sebuah seringai algojo yang mengerikan terukir di wajahnya.

Ia menjatuhkan dirinya dari dahan setinggi lima puluh kaki, melesat turun ke dalam lautan kabut beracun itu tanpa mengeluarkan sedikit pun suara angin. Pisau daging telah diasah, dan domba-domba yang gemuk telah masuk ke dalam kandang pemotongan. Perjamuan darah di Hutan Ilusi Seribu Wajah resmi dimulai.