Bab 28: Terobosan Alam Bumi dan Kedatangan Pasukan Naga Hitam
Waktu mengalir tanpa suara di dalam lembah tersembunyi yang dilindungi oleh Formasi Penyembunyi Surga. Di dunia luar, Benua Cakrawala sedang dilanda badai perburuan terbesar dalam satu abad terakhir. Hadiah lima puluh juta batu spiritual tingkat menengah dan posisi prestisius telah mengubah setiap kultivator, pembunuh bayaran, dan prajurit kekaisaran menjadi anjing pelacak yang gila. Hutan, pegunungan, dan kota-kota digeledah. Namun, di balik dinding energi transparan di lembah itu, kedamaian mutlak berkuasa selama tiga bulan penuh.
Tiga bulan adalah waktu yang sangat singkat bagi seorang kultivator tingkat tinggi untuk melakukan meditasi, namun bagi dua anomali yang berada di dalam lembah tersebut, waktu itu lebih dari cukup untuk memicu sebuah evolusi yang akan mengubah takdir benua.
Di tengah danau spiritual yang telah membeku sepenuhnya, kepompong energi berwarna emas dan biru es yang menyelimuti Bai Xue perlahan-lahan mulai meredup. Suara retakan halus terdengar bagaikan denting kristal yang pecah.
KRAAAK… PRANG!
Kepompong itu hancur menjadi debu salju yang berkilauan di bawah sinar matahari. Dari pusaran salju tersebut, Bai Xue perlahan membuka matanya. Sepasang mata safir itu kini tidak lagi memancarkan rasa sakit yang tertahan, melainkan kedalaman yang jernih dan tak tersentuh bak lautan es abadi.
Napas yang ia hembuskan mengubah kelembapan di sekitarnya menjadi kelopak-kelopak bunga teratai es kecil yang melayang di udara. Kutukan Rantai Es Absolut yang selama dua puluh tahun mencekik meridian dan mengancam nyawanya kini tidak lagi menjadi benalu. Berkat khasiat penentang langit dari Pil Nirvana, kutukan itu telah dilebur, ditundukkan, dan diintegrasikan sepenuhnya menjadi bagian dari fondasi kultivasinya.
Aura yang memancar dari tubuhnya tidak lagi berhenti di puncak Alam Bumi. Kekuatannya melonjak melewati Alam Langit tingkat awal, menengah, dan langsung berhenti dengan kokoh di Puncak Alam Langit!
“Kutukan ini… kini menjadi senjataku,” Bai Xue bergumam pelan. Ia mengangkat tangannya yang seputih pualam. Kulitnya kini memancarkan cahaya suci yang menyaingi rembulan. Tanpa perlu merapal mantra, pedang es tipis sepanjang satu meter terbentuk di tangannya, memancarkan hawa dingin yang cukup kuat untuk membekukan jiwa seorang ahli Alam Bumi hanya dengan tebasannya. Ia telah terlahir kembali, bukan hanya sebagai Saintess, melainkan sebagai Ratu Es yang sesungguhnya.
Bai Xue melangkah turun dari teratai esnya. Kaki telanjangnya tidak menyentuh tanah, melainkan melayang satu inci di atas permukaan bebatuan, didukung secara alami oleh elemen angin dan es di udara. Hak istimewa mutlak dari Alam Langit.
Matanya langsung tertuju pada sisi seberang danau, tempat Lin Tian duduk bersila seperti patung dewa kuno.
Pemandangan di sekitar pemuda itu sangat mengerikan. Jari-jari rumput, pepohonan, dan bebatuan dalam radius lima puluh meter dari tubuhnya telah hancur menjadi debu kelabu. Itu adalah efek pasif dari Niat Kehancuran Naga yang sedang ia pelajari dan asimilasikan ke dalam jiwanya. Dua juta batu spiritual tingkat menengah yang ia rampas dari cincin Penatua Yun Jian dan faksi-faksi lainnya kini telah menjadi tumpukan abu putih yang menggunung di sekelilingnya.
Tubuh telanjang dada Lin Tian memancarkan kilau tembaga yang sangat gelap, hampir menyerupai warna logam hitam dari meteorit kosmik, dengan garis-garis nadi yang menyala keemasan berdenyut di bawah kulitnya.
“Dia menyerap energi setara dengan konsumsi sebuah sekte besar selama sepuluh tahun hanya dalam waktu tiga bulan…” Bai Xue menahan napasnya. “Dan dia masih belum menembus penghalangnya.”
Di dalam ruang kesadaran dan Dantian Lin Tian, sebuah perang primordial sedang mendekati akhirnya.
Untuk melangkah dari Alam Pembentukan Qi ke Alam Bumi, seorang kultivator harus menekan pusaran Qi mereka, mengubah wujud gas (aura) menjadi cairan, dan akhirnya memadatkannya menjadi sebuah “Inti Bumi” (Earth Core) yang solid di dalam Dantian. Inti ini akan bertindak sebagai generator abadi yang memungkinkan mereka mewujudkan Qi menjadi benda fisik di dunia nyata.
Namun, bagi Lin Tian, memadatkan Qi Naga Surgawi yang luar biasa mendominasi dan liar adalah tugas yang setara dengan mencoba memampatkan sebuah bintang raksasa ke dalam ukuran sekepal tangan.
“Lebih padat… LEBIH PADAT LAGI!” raung Lin Tian di dalam benaknya.
Pusaran naga emas di Dantiannya telah berubah menjadi lautan magma emas cair. Lin Tian menggunakan Niat Kehancuran Naga yang baru ia kuasai untuk secara paksa menghancurkan sifat liar dari energi tersebut, memaksa cairan itu untuk menggumpal ke tengah. Rasa sakit yang merobek-robek Dantiannya setara dengan ditusuk oleh jutaan jarum baja setiap detiknya, namun Lin Tian mengunci rahangnya dan menolak untuk menyerah.
Setetes demi setetes, cairan emas kemerahan itu mulai mengkristal.
BZZZZZT!
Sebuah getaran kosmik meledak di dalam tubuh Lin Tian. Di pusat Dantiannya, sebuah kristal berbentuk bola yang sepenuhnya terbuat dari emas gelap bermanifestasi. Berbeda dengan Inti Bumi biasa yang bulat mulus, inti milik Lin Tian memiliki ukiran alami berbentuk naga purba yang melingkar, memancarkan cahaya merah darah di matanya.
Ini bukanlah Inti Bumi fana. Ini adalah Inti Naga Surgawi!
Tepat pada detik inti itu terbentuk, energi sisa dari ledakan terobosan tersebut tidak bisa lagi ditampung oleh tubuh Lin Tian.
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHH!
Lin Tian membuka matanya. Sepasang pupil emas murni memancarkan dua pilar cahaya yang melesat menembus langit. Dari tubuhnya, sebuah gelombang kejut energi berwarna emas gelap meletus bagaikan supernova.
Formasi Penyembunyi Surga yang telah melindungi mereka selama tiga bulan berderit keras. Rune-rune yang menopangnya retak dalam sekejap, tak mampu menahan lonjakan kekuatan yang menentang langit itu. Dengan suara pecahan kaca raksasa, kubah formasi itu hancur berkeping-keping.
Pilar aura emas dari tubuh Lin Tian membubung tinggi ke angkasa, merobek awan-awan dalam radius ratusan mil, menciptakan sebuah pusaran langit berwarna emas dan hitam yang berputar liar tepat di atas lembah tersebut. Raungan naga kuno menggema dari dalam pilar itu, menggetarkan setiap makhluk hidup di pegunungan sekitarnya hingga mereka berlutut ketakutan.
Alam Bumi Tingkat Awal!
Namun, fluktuasi aura dan kepadatan energi yang dipancarkan oleh Lin Tian saat ini membuat Bai Xue, yang berada di Puncak Alam Langit, merasakan tekanan instingtual yang berat. Tekanan itu bukan berasal dari alam kultivasi, melainkan dari hierarki eksistensi. Inti naga di dalam tubuh Lin Tian memancarkan kualitas energi yang jauh lebih superior daripada Qi fana mana pun.
Debu perlahan turun. Lin Tian bangkit berdiri. Udara di sekitarnya terdistorsi oleh panas dan beratnya Qi yang ia pancarkan. Tanpa menggunakan Seni Langkah Bayangan Awan atau teknik apa pun, kaki Lin Tian perlahan terangkat dari tanah. Ia melayang!
Di Alam Bumi, memadatkan Qi di udara memungkinkan seseorang untuk berpijak di udara secara terbatas. Namun dengan kepadatan Inti Naga Surgawinya, Lin Tian bisa melawan gravitasi bumi sepenuhnya, sebuah kemampuan yang seharusnya hanya bisa dilakukan oleh ahli Alam Langit.
Pemuda itu mengepalkan tinju kanannya. Udara di genggamannya hancur, menciptakan retakan-retakan hitam spasial yang sangat halus di ruang hampa.
“Jadi ini rasanya memegang dunia di tanganku,” suara Lin Tian terdengar lebih dalam dan menggema. Ia mendongak, merasakan kekuatan Niat Kehancuran Naga yang kini telah menyatu sempurna dengan Tubuh Sisik Naga Tembaga-nya. Ia tidak lagi butuh senjata. Tubuhnya sendiri adalah pusaka tingkat dewa.
“Lin Tian,” Bai Xue melayang mendekat, matanya memancarkan kekaguman sekaligus peringatan yang tajam. “Terobosanmu baru saja menghancurkan formasi penyembunyi. Anomali langit sebesar ini… siapa pun dalam radius seribu mil pasti melihatnya.”
Lin Tian menurunkan pandangannya, menatap langit di atas lembah yang masih bergolak. Seringai buas yang telah tertidur selama tiga bulan kembali merekah di wajahnya.
“Aku tahu,” jawab Lin Tian santai. Ia merentangkan tangannya, membiarkan jubah hitam baru dari cincin spasialnya membungkus bahunya. “Bersembunyi selama tiga bulan membuat tulang-tulangku kaku. Aku sengaja meledakkan formasi itu. Jika kita ingin keluar dari wilayah ini, lebih baik kita panggil taksinya langsung kemari daripada harus mencari mereka.”
Benar saja. Tidak sampai setengah jam setelah anomali langit itu muncul, suara gemuruh menderu dari cakrawala utara. Suara itu bukan berasal dari guntur, melainkan dari mesin Qi raksasa yang membelah udara.
Awan-awan emas sisa terobosan Lin Tian terkoyak secara brutal. Dari balik awan tersebut, muncul tiga buah kapal perang raksasa yang melayang di udara. Kapal-kapal itu terbuat dari kayu besi hitam, dilapisi dengan pelat perunggu, dan layarnya ditenagai oleh formasi angin tingkat tinggi. Di haluan kapal utama, terdapat sebuah patung kepala naga hitam dengan mata merah menyala.
Itu adalah Kapal Perang Udara milik Kekaisaran Naga Hitam! Faksi terkuat dan paling menakutkan di wilayah tengah Benua Cakrawala telah tiba.
Di dek kapal utama, berdiri ratusan prajurit elit yang mengenakan zirah hitam legam, semuanya memancarkan aura Alam Bumi tingkat menengah hingga puncak. Di atas anjungan kapal, duduk di atas sebuah kursi tahta besi, adalah seorang pria paruh baya dengan rambut panjang yang dikepang. Ia mengenakan zirah naga hitam yang memancarkan aura kematian yang mencekik.
Itu adalah Jenderal Ye Tu, salah satu dari Empat Pilar Penegak Kekaisaran Naga Hitam. Fluktuasi Qi-nya tidak berada di Alam Langit biasa, melainkan di Setengah Langkah Menuju Alam Nirvana (Half-Step Nirvana)! Ia adalah monster yang hanya selangkah lagi menyentuh keabadian fana.
Di samping Jenderal Ye Tu, berdiri Tetua Pertama Sekte Pedang Awan dan beberapa petinggi dari Sekte Gunung Emas. Wajah mereka dipenuhi oleh ekstase dan kebencian yang meledak-ledak saat mereka melihat dua sosok yang berdiri di bawah sana.
“Itu dia!” teriak Tetua Pertama Sekte Pedang Awan, menunjuk ke arah Lin Tian dengan jari yang bergetar karena emosi. “Jenderal Ye Tu, iblis itulah yang memegang rahasia kekuatan fisik anomali dan warisan Makam Nirvana! Dia membantai putra dari Ketua Sekte kami!”
Jenderal Ye Tu perlahan bangkit dari tahtanya. Matanya yang sedingin es menyapu lembah yang telah hancur akibat terobosan Lin Tian. Pandangannya tidak terlalu memedulikan Lin Tian yang hanya memancarkan aura Alam Bumi tingkat awal, namun matanya menyipit saat menatap Bai Xue yang berada di Puncak Alam Langit.
“Saintess dari Sekte Teratai Es,” suara Jenderal Ye Tu menggelegar ke bawah, diperkuat oleh formasi kapal perang hingga terdengar seperti deklarasi dewa. “Kekaisaran Naga Hitam telah mengambil alih perburuan ini atas nama keadilan benua. Jika kau menyingkir dari pemuda itu sekarang, aku akan mengabaikan pengkhianatanmu dan tidak akan meratakan Sekte Teratai Es menjadi tanah.”
Di bawah lembah, Bai Xue mendongak menatap armada kapal perang raksasa yang menutupi langit. Angin kencang meniup gaun putihnya. Menghadapi armada Kekaisaran Naga Hitam dan ahli Setengah Langkah Nirvana adalah hal yang tidak pernah ia bayangkan. Namun, hati sang Saintess tidak sedikit pun gentar.
Bai Xue memutar pedang esnya. Hawa dingin absolut meledak dari tubuhnya, membekukan seluruh danau spiritual di bawah kaki mereka menjadi es solid dalam sekejap.
“Keadilan benua?” suara Bai Xue terdengar merdu, namun dipenuhi dengan ejekan yang menembus langit. “Kalian hanyalah sekumpulan hyena kelaparan yang mengenakan jubah kekaisaran. Jika kalian menginginkan nyawanya, kalian harus melewati badai esku terlebih dahulu.”
Jawaban itu membuat para tetua sekte di atas kapal menggertakkan gigi karena marah.
Lin Tian melirik Bai Xue dari sudut matanya, senyum tipis terukir di wajahnya. “Esmu menjadi jauh lebih tajam setelah kau memakan Pil Nirvana itu. Ingin mengujinya?”
“Jangan memerintahku,” Bai Xue membalas dengan sedikit senyuman di balik cadarnya, meskipun matanya tetap fokus pada ancaman di langit. “Sisakan Jenderal itu untukmu. Aku akan membekukan sisa sampah-sampah di kapal itu.”
Di atas kapal utama, Jenderal Ye Tu mendengus dingin. Kesombongan kedua orang di bawah sana telah melewati batas toleransinya.
“Tangkap pemuda itu hidup-hidup. Potong keempat anggota tubuhnya dan cabut Dantiannya. Wanita itu… bunuh di tempat,” perintah Jenderal Ye Tu dengan lambaian tangannya yang beralapis sarung tangan logam.
“LAKSANAKAN!”
Seratus Pasukan Pengawal Naga Hitam, yang semuanya adalah ahli Alam Bumi, melompat terjun bebas dari atas kapal perang raksasa tersebut. Mereka menghunus tombak hitam panjang yang memancarkan Qi elemen kegelapan, bersiap untuk menusuk sate Lin Tian dan Bai Xue dari langit. Formasi terjun mereka menutupi cahaya matahari, menciptakan hujan tombak yang sangat mengerikan.
“Sempurna,” bisik Lin Tian.
Pemuda itu merentangkan kedua tangannya. Di kedua telapak tangannya, Sarung Tangan Pembelah Bintang yang memancarkan pendaran merah darah seketika bermanifestasi. Ia tidak memanggil proyeksi naga emas atau senjata Qi. Ia hanya menggunakan kekuatan absolut dari Inti Naga Surgawi-nya yang baru.
“Naik.”
Lin Tian menghentakkan kakinya ke tanah es, dan tubuhnya melesat ke atas seperti roket yang menembus atmosfer. Di saat yang sama, Bai Xue mengayunkan pedangnya ke atas.
“Domain Es Absolut: Tarian Ribuan Teratai!”
Aura Puncak Alam Langit milik Bai Xue meledak. Suhu di udara merosot hingga ratusan derajat di bawah nol. Badai salju yang sangat pekat muncul dari udara kosong, dan dari dalam badai itu, ribuan bunga teratai es berukuran raksasa mekar dan meluncur ke arah pasukan elit Kekaisaran Naga Hitam yang sedang turun.
Saat para prajurit Alam Bumi itu bersentuhan dengan kelopak teratai es Bai Xue, Qi pelindung mereka langsung membeku. Tombak hitam mereka menjadi rapuh dan pecah berkeping-keping.
“A-Apa ini?! Dinginnya menembus zirah kita!” jerit para prajurit saat es biru mulai merambat dan membekukan tubuh mereka di udara.
Namun, es Bai Xue hanyalah penahan. Algojo sesungguhnya telah tiba di tengah-tengah mereka.
Lin Tian melesat menembus badai es tersebut. Kecepatannya di Alam Bumi tingkat awal telah melampaui kemampuan pelacakan mata para ahli Alam Langit. Ia muncul tepat di tengah formasi seratus prajurit yang sedang panik.
“Seni Kehancuran: Tinju Pemadam Bintang!”
Lin Tian menarik tinju kanannya yang berlapis Sarung Tangan Pembelah Bintang. Niat Kehancuran Naga yang mematikan dilapisi di atas kekuatan fisiknya. Ia memukul udara kosong di tengah-tengah formasi tersebut.
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHH!
Ruang di tempat tinju Lin Tian mendarat seketika retak dan hancur seperti cermin yang pecah. Sebuah gelombang kejut kompresi gravitasi yang diwarnai oleh aura hitam keemasan meledak secara sferis ke segala arah.
Pukulan ini tidak murni gaya fisik; ia membawa Hukum Kehancuran.
Begitu gelombang kejut itu menyapu tubuh seratus prajurit Pasukan Pengawal Naga Hitam yang sedang setengah membeku, zirah baja hitam mereka, kulit, daging, dan tulang mereka… semuanya memudar. Mereka tidak hancur berhamburan darah, melainkan terurai menjadi debu kosmik dalam sekejap mata.
Seratus elit Alam Bumi… lenyap dari eksistensi hanya dalam satu pukulan tunggal di udara!
Di atas geladak kapal perang, Tetua Pertama Sekte Pedang Awan dan para petinggi Sekte Gunung Emas mundur hingga menabrak tiang kapal, mata mereka terbelalak ngeri melihat pasukan terkuat di benua itu dihapus tanpa sisa dalam satu tarikan napas.
“P-Pukulan apa itu…?! Itu bukan kekuatan Qi biasa! Itu… Niat Kehancuran?!” Jenderal Ye Tu, yang sebelumnya selalu tenang, tiba-tiba mencengkeram sandaran tahtanya hingga hancur. Wajahnya dipenuhi oleh syok yang tak tertahankan. Menguasai Niat Kehancuran di Alam Bumi adalah sesuatu yang hanya tercatat dalam mitologi dewa kuno.
Lin Tian melayang di udara, tepat di atas hujan abu dari seratus prajurit yang baru saja ia musnahkan. Ia menengadahkan kepalanya, menatap langsung ke arah Jenderal Ye Tu yang berada di kapal utama. Mata emasnya memancarkan kebrutalan absolut sang kaisar langit.
“Kekaisaran Naga Hitam?” Lin Tian mendengus sinis, suaranya diperkuat oleh Qi Naga Surgawi hingga menggetarkan lambung ketiga kapal perang raksasa tersebut. “Kalian tidak pantas membawa kata ‘Naga’ dalam nama kalian. Hari ini, aku akan menghancurkan armada kayu kalian menjadi kayu bakar, dan mencabut takhta kaisar kalian dari akarnya!”
Tanpa menunggu balasan, Lin Tian kembali melesat ke atas, menembus awan, dan meluncur langsung menuju haluan kapal perang utama. Sang Tiran telah memulai langkah pertamanya untuk menundukkan Benua Cakrawala.